Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

102 hasil
Subjek: GMIT
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN SAKSI SESUDAH PERNIKAHAN KUDUS DI JEMAAT GMIT SONHALAN AJAOBAKI KLASIS MOLLO UTARA

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pernikahan merupakan kenyataan yang melibatkan masyarakat luas, baik sanak saudara maupun tetangga dan kenalan. Masyarakat ikut campur dalam urusan pernikahan, karena mereka berkepentingan dalam keutuhan kehidupan keluarga, sebab keluarga adalah sel masyarakat. Tugas saksi adalah membimbing dan mengawasi pasangan nikah untuk tetap berkomitmen dengan janji yang telah mereka ikrarkan dihadapan Tuhan dan JemaatNya, sehingga untuk menjadi saksi harus sesuai dengan ketentuan GMIT. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Peran Saksi Nikah sesudah Pernikahan Kudus Di Jemaat GMIT Sonhalan Ajaobaki? Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui Peran Saksi Nikah Sesudah Pernikahan Kudus di Jemaat GMIT Sonhalan Ajaobaki dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan dipaparkan hasilnya secara deskriptif, informannya adalah orang tua saksi Saksi nikah berjumlah 10 orang dari tahun 2002 sampai sekarang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa, peran saksi nikah di Jemaat Sonhalan Ajaobaki belum berjalan secara optimal, oleh karena kurangnya pemahaman dari saksi nikah tentang tugas dan tanggung jawab serta perannya sebagai orang tua saksi. Kendala lain yang dialami yakni kurangnya komunikasi antara pasangan nikah dengan saksi nikah dikarenakan kesibukan masing-masing sehingga pelaksanaan peran tugas dan tanggung jawab tidak berjalan secara baik. Di lain pihak Gereja kurang berperan dalam memberikan bimbingan dan informasi berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan, sehingga yang terjadi pemilihan saksi pernikahan hanya berdasarkan kenalan, orang yang memiliki posisi atau jabatan yang tinggi di dalam masyarakat tanpa memperhatikan spiritual dan teladan yang baik serta tidak sesuai dengan saksi yang diharapkan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Peran Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Orang tua merupakan guru yang pertama dan terutama dalam rumah. Peran dan tanggung jawab orang tua adalah untuk mendidik anak-anak mengenal pendidikan. Namun, penulis menemukan bahwa orang tua di Jemaat GMIT Kanaan Nunuboko tidak menjalankan perannya dengan baik. Mereka acuh tak acuh untuk mendidik dan mengajarkan hal baik kepada anak-anak. Hal ini disebabkan karena orang tua lebih mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memprioritaskan pendidikan anak. Keluarga secara Kristen harus lebih banyak mendidik anak-anak untuk mengerti bahwa pendidikan sangat penting., karena itu, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif untuk meneliti lebih lanjut tentang peran dan tanggung jawaborang tua terhadap pendidikan anak serta mendapatkan informasi melalui hasil wawancara yang diperoleh di Jemaat GMIT Kanaan Nunuboko Dari penelitian itu, penulis menemukan bahwa ternyata peran orang tua di Jemaat GMIT Kanaan Nunuboko tidak berjalan dengan baik. Karena banyak faktor yang menyebabkan seperti, rendahnya ekonomi, orang tua tidak memprioritaskan pendidikan anak, orang tua tidak memotivasi dan memberi dukungan bagi anak-anak, bahkan orang tua memberi hak dan kebebasan penuh untuk anak sendiri memilih apa yang ia kehendaki tanpa berpikir hal tersebut benar atau salah. Perintah Tuhan untuk memberikan sebuah pengajaran bahwa iman kepada Allah memiliki kaitan yang erat dengan seluruh aspek kehidupan. Orang tua yang percaya dan mengasihi Allah, menggunakan setiap kesempatan untuk mengimplementasiikan pendidikan rohani bagi anak-anak. Ha ini merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan kasih kepada Allah ialah memperdulikan kesejahteraan rohani anak-ana dan berusaha menuntun mereka kepada hubungan yang setia dengan Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perbuatan Sebagai Akta Iman

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Iman adalah keyakinan akan adanya Allah dan percaya dengan sungguh bahwa Allah adalah benar. Iman berkaitan dengan batin seseorang karena itu iman tidak dapat terlihat dengan jelas oleh siapapun kecuali Allah. Sedangkan, perbuatan adalah tindakan, kelakukan atau tingkah laku. Perbuatan seseorang dapat terlihat dengan jelas oleh orang lain. Dewasa ini, kehidupan anggota jemaat GMIT belum menampakkan teladan hidup yang sesuai dengan identitasnya sebagai orang percaya. Menjadi persoalan ialah anggota jemaat GMIT masih keliru terkait hubungan iman dan perbuatan yang dinilai sebagai dua hal yang dapat dipisahkan. Orang yang telah mengaku percaya kepada Allah tidak perlu lagi melakukan perbuatan baik dan sebaliknya. Untuk itu, tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui teologi dan kerygma dari surat Yakobus mengenai iman dan perbuatan dan implikasinya bagi kehidupan praktis jemaat GMIT. Metodologi yang digunakan di antaranya mencakup dua hal yaitu metodologi penulisan dan metodologi penelitian. Metodologi penulisan menggunakan metode deskriptif-analisis-reflektif dengan tujuan mengumpulkan data melalui kajian pustaka yang kemudian memberikan refleksi dan implikasi teologi surat Yakobus. Sedangkan metodologi penelitian menggunakan penelitian kualitatif dan metode studi pustaka dengan memperhatikan literatur yang telah ada untuk mengkaji teologi dan menemukan informasi-informasi serta realitas kehidupan anggota jemaat GMIT. Hasil dari kajian ini menggambarkan bahwa surat Yakobus merupakan salah satu surat yang dapat memberikan jawaban atas persoalan masa kini. Teologi surat Yakobus yang membahas mengenai iman dan perbuatan dapat diaplikasikan dalam kehidupan anggota jemaat GMIT. Oleh karena itu, surat Yakobus dapat memberikan jawaban praktis terkait permasalahan anggota jemaat GMIT. Bagi Yakobus iman yang sejati harus melahirkan perbuatan yang praktis. Iman sebagai kepercayaan kepada Allah harus melahirkan perbuatan baik kepada sesama. Sebagai anggota jemaat GMIT yang hidup di masa kini harus menampilkan iman kepada Allah melalui perbuatan baik kepada sesama seperti dengan cara tidak melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, membunuh, melakukan penipuan, menghindari diri dari penggunaan narkoba dan tindakan tawuran. Selain daripada itu, anggota jemaat GMIT juga tidak boleh kompromi terhadap dosa apalagi menganggap sepele dosa yang dilakukan. Dengan demikian perbuatan baik yang dengan praktis dapat dilakukan oleh anggota jemaat GMIT ialah menolong sesama yang sedang berkesusahan, menjaga mulut dari perkataan yang sia-sia dan bohong, serta menjaga diri dari hawa napsu untuk melakukan dosa seperti melakukan hubungan seks sebelum nikah hingga tidak terjerumus dalam dosa narkotika.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENDIDIKAN DALAM TRADISI YAHUDI "Tafsir Historis-Kritis Terhadap Ulangan 11:18-21 dan Relevansinya Bagi Pendidikan Iman Taruna di Jemaat GMIT Kota Kupang, Klasis Kota Kupang"

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pendidikan Iman Taruna di Jemaat GMIT Kota Kupang kurang terstruktur dan kontekstual. Hal ini dikarenakan pendidikan Iman Taruna yang bersifat monoton, kurang partisipatif dan tidak tersedianya bahan ajar. Oleh karena itu, fokus utama penelitian ini adalah menggali dan merumuskan prinsip pedagogi iman taruna dalam teks Ulangan 11:18-21. Penelitian ini berangkat dari tradisi Deuteronomis yang menegaskan akan pentingnya internalisasi firman, transmisi iman antar generasi, totalitas hidup, kesaksian di ruang publik dan ketaatan kepada Allah. Dengan ini, dapat menghubungkan antara dimensi teologis teks dengan praktik pendidikan iman Taruna di Jemaat GMIT Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif-kualitatif dengan studi pustaka dan analisis Alkitab, serta menghubungkannya dengan strategi pedagogi iman. Temuan utama dari penulisan ini adalah dalam teks Ulangan 11:18-21 ditemukannya lima prinsip penting dalam strategi pedagogi yang kuat dan dapat digunakan sebagai model pendidikan Iman Taruna yang partisipatif, reflektif, kontekstual dan transformatif. Penelitian ini menegaskan kebaruan pada pengembangan pendekatan pedagogis-praktis, yakni menerjemahkan teologis dalam teks Ulangan 11:18-21 ke dalam strategi pedagogis pendidikan Iman Taruna yang kontekstual, partisipatif dan aplikatif. Oleh karena itu, sangat diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi teologis dan pedagogis bagi pengembangan pendidikan iman Taruna di Jemaat Kota Kupang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

NETO’U LIMA “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemahaman Jemaat Mengenai Tradisi Neto’u Lima (Jabat Tangan) untuk mencapai perdamaian dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Koli, Klasis Rote Barat Laut”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tradisi neto’u lima (jabat tangan) merupakan praktik budaya masyarakat Rote yang berfungsi sebagai sarana perdamaian. Tradisi ini tetap dilestarikan oleh Jemaat GMIT Imanuel Koli, Klasis Rote Barat Laut, bahkan setelah kekristenan hadir dan berkembang. Fokus penelitian ini adalah: bagaimana gambaran umum jemaat GMIT Imanuel Koli, bagaimana pemahaman jemaat terhadap tradisi neto’u lima, serta bagaimana refleksi teologis terhadap pemahaman jemaat tentang tradisi neto’u lima dan dapat mengimpilkasikannya bagi pelayanan gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konteks sosial, budaya, dan keagamaan jemaat GMIT Imanuel Koli, mengungkap pemahaman jemaat mengenai tradisi neto’u lima sebagai tanda perdamaian, dan merumuskan refleksi teologis yang menempatkan tradisi ini sebagai bagian dari pelayanan dalam gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan lapangan, melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis-reflektif, sehingga data empiris dapat ditafsirkan dalam kerangka teologis. Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi neto’u lima dipahami jemaat sebagai simbol perdamaian yang menyatukan nilai adat dan iman Kristen. Jabat tangan menjadi tanda niat baik, doa bersama menegaskan dimensi spiritual, dan keterlibatan tokoh adat serta gereja memperkuat legitimasi sosial. Tradisi ini sejalan dengan ajaran Kristus tentang perdamaian bagi semua umat, sehingga dapat dipandang sebagai modal sosial dan teologis yang dapat diimplikasikannya bagi pelayanan dalam gereja juga masyarakat. Tesis penelitian menegaskan bahwa neto’u lima bukan sekadar warisan budaya, melainkan praktik perdamaian yang memperkaya kehidupan jemaat dan memperkuat peran gereja dalam membangun kasih persaudaraan dan perdamaian.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Spiritualitas Generasi Sandwich : Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Spiritualitas Generasi Sandwich dan Implikasinya bagi Jemaat Sesawi Oepura

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini menelaah spiritualitas generasi sandwich di Jemaat GMIT Sesawi Oepura serta implikasinya bagi pelayanan gereja melalui tinjauan teologis. Generasi sandwich dipahami sebagai individu usia produktif yang memikul tanggung jawab ganda secara simultan dan berkelanjutan: menopang orang tua lanjut usia sekaligus anak/adik/kerabat yang belum mandiri, sehingga rentan mengalami tekanan ekonomi, kelelahan fisik, dan beban emosional yang dapat memengaruhi kehidupan iman. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana warga jemaat memaknai pergumulan tersebut sebagai pengalaman spiritual, bukan semata persoalan sosial-ekonomi. Penelitian menggunakan metode kualitatif lapangan dengan teknik wawancara semi-terstruktur dan studi dokumen. Partisipan dipilih secara purposive (usia 25–45 tahun, bekerja, memiliki tanggungan lintas generasi, dan merupakan anggota Jemaat GMIT Sesawi Oepura). Analisis menggunakan kerangka spiritualitas Sandra M. Schneiders yang menekankan integrasi dimensi personal-internal, relasional-komunal, praksis keseharian, dan hermeneutik pemaknaan pengalaman. Hasil menunjukkan bahwa spiritualitas generasi sandwich di jemaat ini cenderung berwujud sebagai “spiritualitas resiliensi”: iman yang bertahan di tengah keterbatasan, tampil dalam kesetiaan menjalankan tanggung jawab, doa yang lahir dari situasi krisis, serta pengharapan akan penyertaan Allah meski disertai keluhan, rasa bersalah, bahkan kemarahan kepada Tuhan. Gereja dipandang membantu melalui ibadah rumah tangga dan diakonia, namun dibutuhkan pendampingan pastoral yang lebih peka terhadap ritme kerja, beban psikospiritual, dan kebutuhan batasan diri. Penelitian ini merekomendasikan penguatan komunitas dukungan, konseling pastoral kontekstual, dan praksis gerejawi yang mengafirmasi pengalaman generasi sandwich sebagai ruang perjumpaan dengan Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ICH UND DU (AKU-ENGKAU) Suatu Tinjauan Teologi Sosial terhadap pemikiran Marthin Buber tentang konsep Ich Und Du dan Implikasinya bagi pencegahan kekerasan di GMIT Imanuel Olalain Klasis Rote Tengah

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi konsep relasi dialogis Ich und Du Martin Buber terhadap konteks kekerasan dalam kehidupan jemaat GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) Imanuel Olalain. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dan konflik relasional masih terjadi dalam kehidupan jemaat, yang menunjukkan adanya krisis dalam kualitas relasi antarmanusia. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan wawancara dan refleksi teologis, penelitian ini menemukan bahwa banyak relasi suami-istri dalam jemaat masih dibangun dalam pola dominatif, hierarkis, dan minim dialog, sehingga lebih menyerupai pola relasi Ich-Es (Aku-Itu) daripada Ich-Du (Aku-Engkau). Selain faktor personal, kekerasan juga dipengaruhi oleh faktor kultural, struktural, dan pemahaman teologis yang belum sepenuhnya menekankan kesetaraan martabat manusia. Iman Kristen yang diakui jemaat sering kali belum terintegrasi dalam praktik relasi sehari-hari, sehingga relasi dengan Tuhan tidak selalu tercermin dalam relasi dengan pasangan. Dalam terang pemikiran Martin Buber, relasi yang sehat hanya mungkin terwujud melalui perjumpaan dialogis yang mengakui keutuhan dan martabat pribadi sebagai subjek, bukan objek. Penelitian ini juga menegaskan bahwa kekerasan merupakan pelanggaran terhadap martabat manusia sebagai gambar Allah (Imago Dei). Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk membangun spiritualitas relasional yang transformatif, memperbarui pola komunikasi, serta menghadirkan struktur persekutuan yang partisipatif dan adil. Konsep Ich-Du menjadi kerangka teologis yang relevan untuk pemulihan relasi, pencegahan kekerasan, dan pembentukan kehidupan jemaat yang lebih dialogis, manusiawi, dan mencerminkan kasih Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STRUKTUR DAN IKLIM ORGANISASI JEMAAT: Suatu Tinjauan Pembangunan Jemaat terhadap Struktur dan Iklim dalam Pelayanan di Jemaat GMIT Dale Sue Kenamoen, Klasis Rote Timur

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari persoalan rendahnya partisipasi jemaat dalam pelayanan di Jemaat GMIT Dale Sue Kenamoen, Klasis Rote Timur, yang berkaitan erat dengan pola relasi dalam struktur organisasi majelis jemaat serta iklim pelayanan yang terbentuk. Dalam konteks sosial pedesaan dengan karakter komunikasi yang terbuka dan keras, muncul dominasi pihak tertentu dalam kepemimpinan, sikap otoriter dalam komunikasi, serta kecenderungan jemaat untuk bersikap pasif dan enggan menyampaikan pendapat dalam forum gerejawi. Situasi ini bertentangan dengan tujuan pembangunan jemaat yang partisipatif dan prinsip penataan organisasi GMIT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konteks sosial-budaya dan organisatoris Jemaat GMIT Dale Sue Kenamoen, menganalisis struktur organisasi serta dampak relasi dalam majelis jemaat terhadap iklim pelayanan dan partisipasi warga jemaat, serta merumuskan refleksi teologis pembangunan jemaat terhadap realitas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap sejumlah informan yang terdiri dari pendeta, majelis jemaat, dan anggota jemaat, serta didukung dengan dokumen gerejawi. Validitas data dibuktikan melalui triangulasi sumber dan analisis tematik berdasarkan tahapan dalam pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur organisasi yang secara formal bersifat partisipatif dalam praktiknya dipengaruhi oleh relasi yang timpang, komunikasi yang keras, serta pemutlakan tipe relasi tertentu sebagaimana dikritisi dalam teori Jan Hendriks. Kondisi ini membentuk iklim pelayanan yang kurang dialogis, menghambat keterlibatan jemaat, serta melemahkan vitalitas pelayanan gereja. Penelitian ini menegaskan bahwa pembangunan jemaat yang sehat menuntut penataan struktur dan iklim pelayanan yang menempatkan jemaat sebagai subjek, mengembangkan kepemimpinan yang kolaboratif, serta membuka ruang partisipasi sebagai wujud karya Allah dalam membangun gereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PRAKTIK PANEN PADI Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Praktik Panen Padi di Manefu Sebagai Wadah Mempererat Persekutuan Jemaat GMIT Imanuel Manefu

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji praktik panen padi di Jemaat GMIT Imanuel Manefu sebagai ruang hidup teologis yang mengintegrasikan tradisi budaya lokal dengan iman Kristen. Praktik panen padi tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas agraris, melainkan sebagai praktik komunal dan spiritual yang berfungsi membentuk identitas, relasi sosial, serta penghayatan iman jemaat secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan praktik panen padi dari masa sebelum Kristen, masa sesudah Kristen, hingga masa kini, sekaligus menganalisis nilai, makna, dan tema teologis yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini juga menelaah implikasi praktik tersebut bagi persekutuan Jemaat GMIT Imanuel Manefu, terutama dalam menghadapi tantangan relasi persaudaraan akibat konflik sosial, seperti perebutan tanah warisan. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, menggunakan wawancara mendalam dan studi pustaka sebagai sumber data utama, kemudian dianalisis melalui kerangka Teologi Kontekstual Model Sintesis karya Stephen B. Bevans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik panen padi di Manefu mengalami transformasi dalam bentuk kerja dan teknis pelaksanaan akibat pengaruh modernisasi yang bisa saja menggeser nilai-nilai inti Kristen yang terkandung dalam praktik tersebut seperti nilai persekutuan, kasih, persaudaraan, gotong royong, dan pemberian diri tanpa pamrih tetap terpelihara. Praktik panen padi dimaknai sebagai ritus syukur kepada Tuhan, peneguh identitas budaya jemaat, sarana penguatan relasi sosial, dan media pembentukan etos kerja yang bertanggung jawab. Refleksi teologis menegaskan bahwa praktik panen padi merupakan wujud teologi hidup yang kontekstual, di mana kerja dipahami sebagai bentuk ibadah, tanah sebagai anugerah Tuhan, dan tindakan berbagi sebagai kesaksian iman. Dalam konteks konflik warisan yang mengancam persatuan jemaat, praktik panen padi berpotensi menjadi ruang rekonsiliatif sekaligus pedagogi iman yang meneguhkan persekutuan sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, pemeliharaan dan pengembangan praktik ini menjadi penting sebagai media pewartaan Injil dan pembentukan spiritualitas komunal jemaat di tengah dinamika sosial dan perubahan zaman

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SINERGI PELAYANAN MELALUI KEMITRAAN GEREJA DENGAN KOMUNITAS PROFESIONAL SINERGI INDONESIA (PROSI) “Tinjauan Pembangunan Jemaat berbasis Appreciative Inquiry di GMIT Hosana Hane, Klasis SoE”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pembangunan jemaat merupakan bagian integral dari panggilan gereja untuk menumbuhkan kehidupan iman yang dewasa, partisipatif, dan kontekstual, namun dalam praktiknya sering kali masih berangkat dari pendekatan yang menekankan persoalan dan kekurangan sehingga potensi jemaat kurang dioptimalkan secara maksimal. Kondisi ini juga tampak dalam kehidupan Jemaat GMIT Hosana Hane yang sesungguhnya memiliki kekayaan potensi sosial, ekonomi, dan budaya, tetapi belum sepenuhnya dikembangkan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini berangkat dari persoalan mengenai bagaimana konteks sosial-ekonomi jemaat melatarbelakangi praktik kemitraan dengan komunitas Prosi, bagaimana praktik kemitraan tersebut dipahami dalam kerangka pembangunan jemaat berbasis Appreciative Inquiry, serta bagaimana kemitraan itu direfleksikan secara teologis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks kehidupan Jemaat GMIT Hosana Hane, menganalisis praktik kemitraan gereja dengan komunitas Prosi sebagai bagian dari pembangunan jemaat berbasis Appreciative Inquiry, serta merefleksikannya secara teologis dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen, yang dianalisis secara deskriptif-analitis dan refleksi teologis berdasarkan teori pembangunan jemaat Jan Hendriks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemitraan antara GMIT Hosana Hane dan komunitas Prosi menjadi sarana pembangunan jemaat yang bersifat partisipatif dan transformatif, di mana pendekatan Appreciative Inquiry menolong jemaat untuk mengenali serta mengembangkan potensi yang telah dimiliki sebagai aset pembangunan, sehingga jemaat semakin diposisikan sebagai subjek yang berdaya dalam membangun kehidupan iman, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENDAMPINGAN PASTORAL BAGI SUAMI YANG DITINGGALKAN ISTRI “Suatu Kajian Teologi Pastoral Terhadap Peran Pendampingan Pastoral Gereja Bagi Suami yang ditinggalkan Istri di Jemaat Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Masalah perceraian dan perpisahan dalam rumah tangga Kristen merupakan realitas pastoral yang semakin kompleks, termasuk fenomena suami yang ditinggalkan oleh istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendampingan pastoral gereja bagi suami yang ditinggalkan oleh istri di Jemaat GMIT Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya (RBD), serta meninjau secara teologis praktik pendampingan pastoral yang telah dilakukan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis-reflektif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan melibatkan pendeta dan rekan majelis jemaat, suami yang ditinggalkan istri, keluarga, serta unsur adat dan pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial-budaya, ekonomi, komunikasi, serta konstruksi maskulinitas patriarkal turut memengaruhi terjadinya perpisahan dan respons suami terhadap pendampingan pastoral gereja. Praktik pendampingan pastoral yang dilakukan gereja selama ini cenderung berfokus pada upaya rekonsiliasi dan penyatuan kembali secara fisik, namun belum sepenuhnya menerapkan fungsi-fungsi pendampingan pastoral secara holistik. Melalui kajian teologi pastoral dengan menggunakan fungsi-fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, penelitian ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menghadirkan pendampingan yang menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara kehidupan suami yang ditinggalkan istri secara menyeluruh. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi teologis dan praktis bagi pengembangan pelayanan pastoral gereja yang lebih kontekstual, inklusif, dan transformatif.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN PASTORAL BAGI PEMUDA Tinjauan Teologi terhadap Peran Gereja bagi Pemuda Burnout di Jemaat GMIT Siloam Battuna, Klasis Amarasi Barat

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan rohani yang dapat dialami oleh pemuda gereja akibat tuntutan pelayanan yang intens serta tekanan pekerjaan dan tanggung jawab kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum Jemaat GMIT Siloam Battuna, mengkaji peran pastoral gereja bagi pemuda yang mengalami burnout, serta menelaah masalah burnout tersebut dari perspektif konseling pastoral. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 103 pemuda yang menjadi responden, terdapat 9 orang pemuda yang mengalami gejala burnout. Gejala tersebut meliputi kelelahan fisik dan emosional, menurunnya semangat dan motivasi dalam pelayanan, kecenderungan menarik diri dari persekutuan, serta gangguan dalam kehidupan sosial dan spiritual. Burnout yang dialami pemuda disebabkan oleh faktor internal, seperti kesulitan mengelola stres dan membagi waktu, serta faktor eksternal, seperti beban pelayanan gereja, tuntutan pekerjaan, dan tekanan ekonomi keluarga. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemuda yang mengalami burnout umumnya belum mendapatkan pendampingan pastoral yang mendalam dan spesifik dari gereja. Analisis pastoral memperlihatkan adanya kesenjangan antara kebutuhan pemuda yang mengalami burnout dengan pelayanan gereja yang tersedia, yang masih bersifat umum. Tinjauan konseling pastoral dan pandangan Alkitab menegaskan bahwa burnout bukanlah kelemahan iman, melainkan kondisi manusiawi yang membutuhkan pemulihan holistik. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk menghadirkan pendampingan pastoral yang empatik, pembinaan spiritual yang seimbang, serta penataan pelayanan yang menghargai keterbatasan manusia demi kesejahteraan pemuda sebagai generasi penerus jemaat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KONSUMERISME DAN HIDUP UGAHARI: Suatu Tinjauan Teologi Terhadap Perilaku Konsumerisme dan Implikasinya Bagi Jemaat Efata Liliba

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perilaku konsumerisme merupakan fenomena sosial yang semakin menguat dalam kehidupan masyarakat modern, termasuk dalam konteks kehidupan bergereja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis perilaku konsumerisme yang terjadi dalam Jemaat GMIT Efata Liliba, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta merefleksikan fenomena tersebut dalam terang ugahari, Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuntitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara dengan warga jemaat serta pelayan gereja, yang kemudian dianalisis secara sosial dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku konsumerisme dalam Jemaat GMIT Efata Liliba tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui interaksi berbagai faktor struktural dan kultural, seperti perkembangan teknologi digital, pengaruh media sosial dan iklan, lingkungan pergaulan, serta kedekatan geografis jemaat dengan pusat-pusat perbelanjaan modern. Konsumerisme tampak dalam pola konsumsi yang berorientasi pada keinginan, tren, dan simbol sosial, sehingga batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi kabur. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya tekanan ekonomi, melemahnya solidaritas sosial, munculnya ketimpangan relasi antarjemaat, serta pergeseran nilai-nilai spiritual seperti kesederhanaan, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesama. Dalam perspektif hidup ugahari, konsumerisme dipahami sebagai persoalan yang menyangkut moral individu, tetapi juga berkaitan dengan sistem ekonomi dan budaya yang populer. Iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari praksis hidup ugahari terhadap ketidakadilan sosial. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk menghadirkan praksis iman yang membebaskan melalui pengembangan kesadaran kritis jemaat, diakonia yang transformatif, serta pembentukan pola hidup berjemaat yang berlandaskan pada nilai-nilai Kerajaan Allah, yaitu keadilan, kesederhanaan, solidaritas, dan kesejahteraan bersama.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Luka Yang Menubuh “Suatu Kajian Teologis Pemikiran Shelly Rambo Mengenai Konsep “Remaining” sebagai Luka Yang Menubuh dan Sumbangsihnya bagi Realitas Kekerasan Seksual di GMIT”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kekerasan seksual merupakan realitas yang terus dihadapi gereja dan menimbulkan luka yang tidak selalu berakhir ketika peristiwa kekerasan berhenti. Dalam konteks ini, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) berhadapan dengan pengalaman trauma para korban yang berlangsung secara berkelanjutan dalam tubuh, ingatan, dan relasi sosial mereka. Skripsi ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran teologi trauma Shelly Rambo, khususnya konsep Remaining, sebagai luka yang menubuh, serta menelaah implikasinya bagi sikap dan pelayanan pastoral GMIT dalam merespons kasus kekerasan seksual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis kontekstual. Sumber data primer berasal dari karya-karya Shelly Rambo, terutama Spirit and Trauma: A Theology of Remaining dan Resurrecting Wounds: Living in the Afterlife of Trauma, sedangkan sumber data sekunder meliputi literatur teologi trauma, dokumen gerejawi GMIT, serta laporan pendampingan Rumah Harapan GMIT pada periode 2020–2024. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, kategorisasi, dan interpretasi teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Remaining menolong gereja untuk memahami trauma sebagai penderitaan yang tidak sepenuhnya selesai, melainkan tetap hadir dan bekerja dalam kehidupan para penyintas. Dalam konteks GMIT, kehadiran Rumah Harapan menunjukkan komitmen pastoral gereja terhadap korban kekerasan seksual. Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa pendekatan pastoral GMIT masih cenderung berfokus pada pemulihan yang cepat dan belum sepenuhnya mengintegrasikan pengakuan atas luka yang menubuh ke dalam sistem pastoral, disiplin gereja, dan spiritualitas jemaat. Oleh karena itu, skripsi ini menegaskan pentingnya pengembangan sikap pastoral yang lebih peka terhadap trauma, yang tidak mengabaikan tubuh yang terluka, ingatan yang rapuh, dan relasi sosial yang retak, serta bersedia tinggal bersama luka sebagai bagian dari kesetiaan iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

REMAJA DI ERA DIGITAL “Suatu Tinjauan Pendidikan Agama Kristen Terhadap Pemahaman Diri Remaja Dalam Mencari Identitas Diri Pada Era Digital dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perkembangan teknologi digital membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan remaja, khususnya dalam proses pencarian identitas diri. Remaja hidup di tengah arus informasi yang cepat, budaya media sosial, dan tuntutan untuk membangun citra diri yang ideal, sehingga sering kali mengalami kebingungan identitas, tekanan psikologis, serta ketergantungan pada pengakuan eksternal. Kondisi ini juga dialami oleh remaja di Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana remaja mencari dan membentuk identitas diri di era digital, serta bagaimana gereja berperan dalam mendampingi proses tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika pencarian identitas diri remaja pada era digital dan merumuskan bagaimana remaja dapat memahami dan mencari identitas diri pada era digital saat ini dengan baik, penelitian ini juga ingin menegaskan peran gereja sebagai komunitas iman yang aman, menerima, dan mendampingi remaja dalam pergumulan hidup mereka, sehingga remaja dapat membangun identitas diri yang berakar pada iman Kristen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskpsi-analisis-reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi. Kajian ini memanfaatkan teori perkembangan remaja, refleksi teologis berdasarkan Alkitab, serta pemikiran Andrew Root tentang pelayanan remaja yang berpusat pada relasi dan pengalaman hidup sebagai ruang perjumpaan dengan Allah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas diri remaja di era digital cenderung rapuh apabila dibangun di atas standar budaya digital seperti popularitas dan citra diri. Oleh karena itu, gereja memiliki peran penting untuk menghadirkan pendidikan agama kristen yang berpusat pada relasi, pendampingan yang setia, dan komunitas yang menerima remaja apa adanya. Bagi Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan, implikasi pendidikan agama Kristen ini menegaskan bahwa gereja perlu menjadi ruang aman yang menolong remaja memahami dan menemukan identitas diri mereka sebagai pribadi yang dikenal, dikasihi, dan dipanggil Allah di tengah tantangan era digital. Kata Kunci: Remaja, Identitas diri, Era digital, Pelayanan Pastoral, GMIT Gunung Sinai Naikolan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TEOLOGI IDENTITAS DI RUANG ASIMILASI : “Suatu Kajian Naratif terhadap Daniel 1:1-21 dan Relevansinya bagi Penguatan Identitas Pemuda GMIT Pniel Oebobo”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Identitas pemuda Kristen di tengah budaya urban saat ini menghadapi tantangan yang kompleks, terutama terkait arus asimilasi budaya digital dan tekanan gaya hidup populer. Fenomena "Babel Modern" ini sering kali memicu krisis identitas, di mana pemuda merasa minder atau malu menunjukkan jati diri imannya karena takut tidak diterima oleh lingkungannya. Bertolak dari realitas tersebut, penelitian ini memfokuskan diri pada analisis teologis terhadap teks Daniel 1:1-21 sebagai upaya menemukan strategi menjaga identitas iman di tengah tekanan budaya luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana narasi Daniel 1:1-21 merepresentasikan tindakan negosiasi budaya yang dilakukan Daniel dan temantemannya di Babel, serta menghadirkan implikasi teologis bagi penguatan identitas Pemuda di Jemaat GMIT Pniel Oebobo. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode tafsir biblis (analisis naratif), yang membaca teks secara utuh untuk menggali pesan kerygma di balik strategi pertahanan iman para pemuda buangan di Babel. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal utama. Pertama, negosiasi budaya Daniel menunjukkan bahwa asimilasi intelektual (pendidikan) tidak harus diikuti dengan asimilasi spiritual (iman), di mana Daniel tetap berprestasi di Babel tanpa mengompromikan prinsip dasarnya. Kedua, strategi "menarik batas" melalui diet rohani menunjukkan pentingnya kedisiplinan diri dan integritas sebagai bentuk kesetiaan yang kreatif kepada Allah. Ketiga, dukungan komunitas kecil (support system) menjadi faktor kunci yang memberikan keberanian bagi pemuda untuk bernegosiasi dengan kekuasaan besar. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa bagi pemuda Pniel Oebobo, menjadi relevan di tengah dunia modern tidak berarti harus kehilangan jati diri Kristen, melainkan tampil dengan kualitas hidup yang lebih unggul melalui hikmat Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SUMPAH ADAT Suatu Tinjauan Teologis terhadap Pemahaman Jemaat tentang Sumpah Adat dan Implikasinya bagi Pelayanan Gereja di Jemaat GMIT Betel Gelanalalu, Klasis Sabu Barat-Raijua

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul: Sumpah Adat dengan sub Judul: Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemahaman Jemaat dan Implikasinya bagi Pelayanan Gereja di Jemaat GMIT Betel Gelanalalu, Klasis Sabu Barat-Raijua yang ditulis oleh Dominggus Bole Lawe, mengarahkan perhatian pada praktik sumpah adat di Hawu Mehara serta bagaimana pemahaman jamaat GMIT Betel Gelanalalu sebagai salah satu basis berteologi dan pelayanan gereja. Penelitian ini bertujuan mendefinisikan, menganalisis dari perspektif teologis, serta memfokuskan pada pemahaman jemaat tentang sumpah adat dan bagaimana pengaruh sumpah adat, yang berdampak pada relasi manusia dalam komunitas masyarakat Hawu Mehara. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologis dari Lesslie Newbigin untuk menganalisis bagaimana praktik sumpah adat mempengaruhi kehidupan dan berdampak negatif terhadap konsep kebersamaan dalam struktur masyarakat, khususnya Jemaat GMIT Betel Gelanalalu. Hasil penilitian membuktikan bahwa sumpah adat memiliki dampak teologis: terjadi krisis iman dan relasi dengan Allah, dampak psikologis: hidup dalam ketakutan dan kecemasan, dampak sosial: ketegangan dan putusnya relasi, dampak keluarga: retaknya ikatan kekeluargaan dan trauma lintas generasi, dampak eklesiologi: melemahnya persekutuan gereja. Berdasarkan beberapa dampak dari sumpah adat ini, perlu memberikan pemahaman baru, serta penegasan bagi anggota jemaat agar tetap dalam iman yang benar kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya otoritas yang berkuasa, bukan terjebak di bawah kuasa kutuk dan ikatan sumpah adat. Alasannya adalah kuasa kutuk, kecemaran segenap umat manusia, termasuk praktik-praktik dalam kebudayaan mana pun Kristus sudah merengkuh, memurnikan lewat pengorbanan-Nya. Dengan demikian, transfomasi secara pemikiran, dan netralisasikan pemahaman yang keliru dalam masyarakat adat perlu diberikan seturut iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI MOLEBINGGA Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Praktik Molebingga Serta Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Getsemani Longgo, Klasis Rote Barat Laut

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tradisi Molebingga adalah warisan kebudayaan masyarakat Rote Dengka yang mempunyai makna mengenai kehidupan sosial. Tradisi Molebingga dipahami sebagai ritual mendinginkan keadaan pasca kematian, yang sering kali membuat jemaat ada dalam kondisi ketegangan identitas yaitu antara patuh terhadap adat dan iman Kristen. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana praktik Molebingga yang terkandung nilai-nilai dan makna dapat dialogkan secara kritis dengan teks Alkitab. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai dan makna dari praktik Molebingga sehingga tidak menimbulkan dualisme iman, tetapi sebuah teologi yang kontekstual bagi jemaat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini memakai analisis yang mendalam sebab lebih mengutamakan situasi yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, pendekatan teologi yang digunakan adalah model dialektis yang dikembangkan oleh Emanuel Gerrit Singgih. Informasi yang didapatkan melalui observasi, studi literatur, dan wawancara dengan tokoh adat dan pemimpin jemaat di GMIT Getsemani Longgo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Molebingga terkandung nilai-nilai dikorelasikan kritis maka ada nilai positif dan nilai negatif. Terdapat nilai luhur dari tradisi Molebingga yaitu upaya memanusiakan manusia dan psikologis melalui simbolisme (mendinginkan). Oleh karena itu, melalui proses dialektika, ditemukan bahwa praktik Molebingga memberikan pemahaman jemaat tentang rasa syukur kepada Tuhan sebagai kesejukan di tengah duka dan perlindungan serta perdamaian hanya dari-Nya. Lalu, teks Alkitab sangat berperan penting dalam memberikan kritik profetis untuk mentransformasikan pemaknaan ritual yang awalnya bersifat legalistik dan penuh ketakutan akan kematian menjadi sebuah perayaan kasih Allah. Penelitian ini, dengan refleksi teologis kritis maka menyimpulkan bahwa tradisi Molebingga di lakukan pemaknaan kembali dalam budaya sebagai peneguhan iman dan solidaritas berupa diakonia penghiburan di Jemaat GMIT Getsemani Longgo, di mana Allah bekerja melalui struktur kekeluargaan suku Rote (Dengka) yaitu To’o yang menyatakan kasih dan keadilan bagi keluarga duka.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TANGGUNG JAWAB KELUARGA DALAM KEHIDUPAN ANAK-CUCU "Tafsir Historis Kritis Terhadap Keluaran 18:1-9 dan Relevansinya Bagi Kehidupan Keluarga di Jemaat GMIT Karmel Fatululi"

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian mengenai tanggung jawab keluarga dalam kehidupan anak-cucu berdasarkan tafsir historis kritis terhadap Keluaran 18:1-9 dan relevansinya bagi kehidupan keluarga di Jemaat GMIT Karmel Fatululi yang ditulis oleh Inge Paulin Tefu, dilatar belakangi oleh realitas sosial-ekonomi kontemporer di mana peran pengasuhan anak sering kali beralih dari orang tua kandung kepada keluarga besar (kakek, nenek, atau kerabat) akibat tuntutan pekerjaan, yang jika tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan pengabaian emosional maupun spiritual anak-cucu. Dampak ini tidak saja membawa pengaruh bagi keluarga itu sendiri melainkan juga bagi tatanan sosial yang lebih luas. Situasi demikian perlu diatasi sejak dini. Untuk itu, kajian ini bertujuan untuk melihat konteks historis serta menemukan pesan teologis dari Keluaran 18:1-9, dan mengkaji relevansinya bagi kehidupan keluarga Kristen khususnya bagi keluarga di Jemaat GMIT Karmel Fatululi. Metode yang digunakan ialah metode studi pustaka dan pendekatan tafsir historis kritis. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa Keluaran 18:1-9 mengandung pesan teologis yang relevan bagi keluarga Kristen di Jemaat GMIT Karmel Fatululi, melalui relasi keluarga yang dibangun oleh Musa dan Yitro memeprlihatkan bahwa keluarga memiliki tanggung jawab penting dalam kehidupan seorang anak-cucu. Pertama, keluarga sebagai ruang pemulihan bagi anak. Kedua, Keluarga menjadi tempat yang aman bagi anak. Ketiga, keluarga sebagai lokus pertama pertumbuhan iman anak. Untuk itu, kajian ini diharapkan dapat mendorong keluarga Kristen di GMIT, khusunya di Jemaat Karmel Fatululi untuk kembali menyadari tanggung jawab mereka dalam kehidupan anak, dan kembali membangun kehidupan keluarga yang harmonis, aman, dan nayaman.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI TUTUS Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Tradisi Tutus dan Maknanya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Oebitina

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini membahas tradisi Tutus sebagai salah satu praktik budaya yang masih dijalankan oleh jemaat GMIT Imanuel Oebitina di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi Tutus tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga diyakini memiliki makna religius yang berkaitan dengan harapan akan berkat, perlindungan, dan kesejahteraan hidup. Dalam praktiknya, tradisi ini kerap menimbulkan ketegangan teologis karena berpotensi melahirkan dualisme iman, yaitu pengakuan kepada Kristus sebagai sumber berkat, namun di saat yang sama masih bergantung pada praktik adat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat GMIT Imanuel Oebitina, menganalisis makna dan pelaksanaan tradisi Tutus dalam perspektif teologi kontekstual, serta merumuskan refleksi teologis, pastoral, dan implikasinya bagi pelayanan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi kontekstual model sintesis Stephen B. Bevans. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, dengan melibatkan anggota jemaat, majelis jemaat, serta tokoh adat. Data dianalisis secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tutus mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, solidaritas sosial, serta penguatan relasi kekeluargaan. Namun, di sisi lain, terdapat kecenderungan pemaknaan religius yang dapat mengaburkan pengakuan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber berkat. Melalui pendekatan sintesis, Injil dan budaya dipahami sebagai dua realitas yang dapat berdialog secara kritis dan konstruktif. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja mengembangkan pendampingan pastoral dan pendidikan iman yang kontekstual, sehingga jemaat mampu memaknai tradisi Tutus secara bijaksana, tetap menghargai budaya lokal, serta setia pada ajaran iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail