Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

10 hasil
Subjek: misi gereja
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

TATO'NU

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Konsep tato’nu merupakan satu konsep yang telah mempersatukan agama Islam dan Kristen di Desa Aimoi terkhususnya Jemaat GMIT Sei’Eng dan Masjid Attaqwa Wahing, dalam membangun persaudaraaan. Konsep tato'nu mula pertama diperkenalkan oleh Timung Bel sebagai kapal mate atau tamukung (ketua adat) pada saat dilakukan pembagian agama. Konsep ini mengandung kebenaran yang di dalamnya mengisahkan satu keluarga atau turunan dalam masyarakat Desa Aimoli. Oleh karena konsep ini memiliki makna yang sangat dalam saat jemaat maupun jemaah menghadirkannya dalam tindakan kerukunan dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan sejarah terbentuknya budaya kerukunan yang didasarkan pada konsep tato'nu dan untuk mengetahui nilai-nilai teologis dan sejauh mana diimplementasikan dalam membentuk konsep tato'nu sebagai sokok guru bagi kerukunan Jemaat GMIT Sei’Eng dan Jemaah Masjid Ataqwa Wahing, serta merumuskan pokok-pokok teologis sebagai bahan refleksi dari konsep Tatonu yang menjadi dasar kerukunan masyarakat Islam - Kristen Desa Aimoli dan Implikasinya bagi pembangunan jemaat GMIT Sei’Eng. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian ini digunakan untuk mengetahui dan memperoleh nilai dan makna yang mandalam terhadap konsep tato’nu yang dihidupi oleh jemaat GMIT Sei’Eng dan Masjid Attaqwa Wahing. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerukunan ini terbentuk dari pembegian agama yang dilakukan oleh masyarakat desa Aimoli, sampai membentuk konsep tato’nu (satu perut/rahim), yang di dalamnya masyarakat memiliki hubungan darah antara satu dengan yang lain, namun mereka hidup dalam perbedaan agama. Keberagaman ini juga telah dihidupi oleh nabi-nabi terdahulu, seperti Ibrahim (Abraham), Musa, dan Yesus. Di temukan juga bahwa konsep tato’nu memiliki nilai-nilai Kristiani seperti kasih, keadilan dan kebebasan. Nilai-nilai ini merupakan misi yang diberikan Allah kepada Abraham, Musa dan juga Yesus dan sampai kepada Timung Bel yang dirangkum dalam konsep Tatu’nu. Konsep ini dipercaya sebagai misi Allah yang berkelanjutan dan merupakan kehendak dari Allah agar melalui nilai-nilai ini dapat diambil dan dimaknai sebagai sebuah misi yang harus dijalankan masyarakat Aimoli terkhsusunya Jemaat GMIT Sei’Eng dalam melakukan pelayanan, dengan menumbuhkan kasih, keadilan dan kebebasan untuk menciptakan kedamian serta keselamatan di tengah-tengah dunia.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

INJIL DAN BAHASA "Suatu Tinjauan Misiologi Terhadap Penggunaan Bahasa Lokal Dalam Penyebaran Injil di Jemaat GMIT Elim Tulleng, Klasis Alor Tengah Utara.

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji penggunaan dan revitalisasi bahasa lokal dalam pelayanan gereja di Jemaat GMIT Elim Tulleng sebagai bagian dari pelaksanaan misi gereja. Latar belakang penelitian ini muncul dari fenomena menurunnya penggunaan bahasa lokal, khususnya di kalangan generasi muda, akibat dominasi bahasa nasional dan bahasa global dalam pendidikan, media, dan kehidupan sehari-hari. Pergeseran ini tidak hanya memengaruhi aspek budaya, tetapi juga berdampak pada cara jemaat memahami, menghayati, dan meneruskan iman Kristen dalam komunitas mereka. Situasi ini menempatkan gereja pada panggilan untuk menghadirkan Injil secara relevan dengan konteks kehidupan jemaat, sekaligus setia pada ajaran firman Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan, meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta didukung kajian pustaka mengenai teologi misi dan kontekstualisasi Injil. Analisis data dilakukan secara teologis dan misiologis dengan menggunakan kerangka Missio Dei, yang menekankan bahwa misi gereja adalah partisipasi dalam karya Allah yang berlangsung di dunia, dan harus dijalankan secara kontekstual sesuai realitas sosial, budaya, dan bahasa jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa lokal dalam ibadah, pengajaran, doa, dan pelayanan gereja memberikan dampak signifikan terhadap pemahaman dan pengalaman iman jemaat. Bahasa lokal memungkinkan firman Tuhan disampaikan dalam bahasa yang akrab dan mudah dihayati, sehingga iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dialami secara personal, emosional, dan eksistensial. Selain itu, penggunaan bahasa lokal mendorong keterlibatan aktif jemaat dalam kehidupan bergereja, memperkuat rasa memiliki terhadap gereja, dan memperkokoh identitas komunitas iman. Revitalisasi bahasa lokal juga menjadi jembatan antara pesan Kitab Suci dengan pengalaman hidup jemaat, sehingga pewartaan Injil menjadi lebih relevan, bermakna, dan kontekstual. Secara teologis, penelitian ini menegaskan bahwa revitalisasi bahasa lokal merupakan tindakan misiologis yang selaras dengan visi Allah dalam Missio Dei. Landasan biblis seperti peristiwa Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1–13) dan visi Wahyu 7:9 menunjukkan bahwa keberagaman bahasa bukan penghalang, melainkan sarana Allah untuk menyampaikan keselamatan kepada seluruh umat manusia. Dengan demikian, revitalisasi bahasa lokal bukan sekadar upaya pelestarian budaya, tetapi sarana strategis untuk memperdalam iman jemaat, membangun komunitas yang hidup, dan menjamin pewarisan iman antar generasi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MISI GEREJA BAGI KAUM LANJUT USIA “Suatu Tinjauan Misiologi Dengan Pendekatan Model Komunikasi Menurut Theo Sundermeier Terhadap Pelayanan Gereja Bagi Kaum Lanjut Usia (60 Tahun Ke Atas) Di Jemaat GMIT Getsemani Tarus Timur “

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Lansia merupakan kelompok usia yang semakin bertumbuh secara jumlah dalam masyarakat dan jemaat gereja masa kini. Namun, tidak jarang mereka terpinggirkan dalam program pelayanan gereja karena dianggap kurang produktif atau tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Dalam konteks ini, gereja dipanggil untuk merefleksikan kembali misi dan panggilannya terhadap kelompok usia ini, bukan hanya sebagai bentuk pelayanan sosial, tetapi sebagai bagian dari partisipasi mereka dalam kehidupan iman dan komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana misi gereja bagi lansia dapat dilaksanakan secara kontekstual melalui pendekatan model komunikasi misi menurut Theo Sundermeier. Theo Sundermeier, seorang teolog dan missiolog asal Jerman, menawarkan pendekatan komunikasi misioner yang menekankan pada aspek dialog, relasionalitas, kehadiran bersama, dan saling memahami sebagai landasan dalam menjalin hubungan dengan konteks dan budaya setempat. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan wawancara mendalam terhadap pelayan gereja dan lansia di jemaat GMIT Getsemani Tarus Timur, penelitian ini menemukan bahwa adanya masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi, kondisi kesehatan lansia yang membutuhkan perhatian, keadaan lingkungan dan sosial budaya, kondisi psikologis lansia dan penetapan program pelayanan serta anggaran pendapatan dan belanja yang seimbang, adalah realitas pelayanan bagi lansia yang memerlukan penangan serius. Dari fakta ini penulis melihat, model komunikasi Sundermeier sangat relevan untuk diterapkan dalam pelayanan kepada lansia. Pendekatan ini mendorong gereja untuk tidak hanya "berbicara kepada" lansia, tetapi "berdialog dengan" mereka, menghargai pengalaman hidup, spiritualitas, dan kebijaksanaan yang mereka miliki. Lansia tidak lagi diposisikan sebagai objek pelayanan semata, melainkan sebagai subjek iman yang memiliki kontribusi aktif dalam kehidupan bergereja. Oleh karena itu, misi gereja bagi lansia perlu dirancang secara partisipatif, kontekstual, dan berlandaskan pada komunikasi yang empatik dan inklusif. Dengan demikian, gereja dapat benar-benar menjadi ruang yang merangkul, memperhatikan, dan memberdayakan lansia sebagai bagian dari umat Allah yang utuh dan bermakna.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENDIDIKAN PEREMPUAN DALAM BINGKAI PEMBERDAYAAN "Kajian Misiologi Terhadap Program Skol Bife Di Jemaat Imanuel Postenu Nekamese, Klasis Amanuban Tengah Utara"

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Misi yang inklusif sangat penting untuk mengatasi kesenjangan dan masalah yang ada. Misi ini mencakup orang miskin dan orang kaya, orang yang tertindas dan yang menindas, orang berdosa dan orang benar. Peran gereja tidak hanya berfokus pada kebutuhan rohani, tetapi juga pada kebutuhan jasmani, seperti kemiskinan, kekurangan gizi, dan kurangnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Konsep pemberdayaan melibatkan adanya pemberian kekuatan dan otoritas kepada mereka untuk mengembangkan potensi mereka dan menjadi mandiri. Peran gereja adalah memberdayakan mereka yang lemah, miskin, dan tertindas, dan bukan membiarkan sistem patriarki membuat mereka termarjinalkan. Metode yang akan dipakai oleh penulis adalah pendekatan kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang konteks Jemaat Nekamese dan pelaksanaan program Skol Bife serta perspektif misiologi tentang pemberdayaan, dan merumuskan refleksi teologis misiologis berdasarkan perspektif misiologi tentang pemberdayaan berdasarkan pelaksanaan program Skol Bife di jemaat Nekamese Imanuel Postenu, Klasis Amanuban Tengah Utara; Program Skol Bife yang diprakarsai oleh Jemaat Imanuel Postenu Nekamese telah memberikan kontribusi signifikan dalam mentransformasi pemahaman dan peran gereja dalam budaya patriarki. Program ini telah memberdayakan perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan, mempromosikan kesetaraan gender, dan menangani masalah sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga dan diskriminasi. Melalui program ini, gereja telah menjadi katalisator perubahan sosial, mempromosikan nilai-nilai keluarga, dan tanggung jawab sosial. Program ini telah menunjukkan bahwa gereja dapat memainkan peran penting dalam mengatasi masalah sosial keadilan, dan kesetaraan. Pada akhirnya, program Skol Bife adalah bukti kekuatan misi inklusif dalam mengubah individu, komunitas, dan masyarakat secara keseluruhan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MISI GEREJA DAN PELAYANAN KESEHATAN: Suatu Tinjauan Misiologis Terhadap Kehadiran Pos Pelayanan Kesehatan di Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua dan Implikasinya bagi Pengembangan Pelayanan Kesehatan Gereja

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pelayanan kesehatan di Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua melalui pendekatan misi integral, dengan fokus pada upaya gereja dalam meningkatkan kualitas kesehatan jemaat dan masyarakat sekitar. Gereja memiliki peran penting dalam misi Allah yang holistik, yang mencakup pelayanan fisik, rohani, dan sosial. Misi integral, menurut René Padilla, menyatakan bahwa penginjilan dan aksi sosial tidak dapat dipisahkan dan harus dijalankan secara bersamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang mempelajari fenomena di lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan pendeta, majelis jemaat, anggota jemaat, dan UPP Kesehatan di Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua. Penelitian ini menemukan bahwa Pos Pelayanan Kesehatan yang sudah berjalan sejak tahun 2000 memberikan dampak positif bagi jemaat, meskipun masih ada tantangan dalam pelaksanaannya, seperti kurangnya fasilitas dan keterbatasan dana. Pelayanan kesehatan yang dilakukan gereja dalam bentuk preventif, kuratif, dan rehabilitatif dapat meningkatkan kualitas hidup jemaat jika dikelola secara lebih terintegrasi. Pada akhirnya, pelayanan kesehatan gereja perlu dikembangkan secara holistik, dengan memperhatikan aspek fisik, sosial, dan rohani, serta didukung dengan sumber daya yang memadai untuk menjawab kebutuhan jemaat dan masyarakat sekitar.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

LILIFUK Suatu Tinjauan Teologis terhadap Kearifan Lokal Lilifuk dan Sumbangsinya bagi Misi Gereja di Jemaat GMIT Lahairoi Kuanheun

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kearifan Lokal merupakan pandangan hidup, ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang terwujud dalam aktivitas masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah guna pemenuhan kebutuhan mereka. kearifan lokal lilifuk adalah proses memanen ikan di dalam satu tempat (kolam) yang telah dipelihara dan dilakukan bersama-sama dengan menggunakan alat tangkap ikan secara tradisional (sorok) setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali. Menghadapi realitas lilifuk dan sikap masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, muncul permasalahan terkait sikap masyarakat terhadap unsur-unsur lingkungan hidup seperti tanah, air, hutan, laut, dan udara yang semakin memburuk pada zaman ini. GMIT, dalam konteks ini, dipanggil untuk menjaga dan merawat alam semesta sebagai ciptaan Allah yang diciptakan-Nya baik bahkan sangat baik. Tujuan penelitian yakni ingin melihat eksistensi GMIT perlu mengembangkan pemikiran teologis yang kontekstual mengenai lingkungan, yang menjadi dasar bagi perhatian jemaat dan masyarakat. Penelitian dilakukan di jemaat GMIT Lahairoi Kuanheum dengan metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi partisipasif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis dan reflektif. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa terdapat hubungan manusia dengan alam bertolak dari kearifan lokal lilifuk yakni terdapat hubungan manusia di atas alam. Hal ini dipengaruhi oleh adanya faktor pemahaman dan faktor adat istiadat. Refleksi teologis yang diperoleh dari hasil analisis yakni laut sebagai sumber kehidupan, berdamai dengan lingkungan dan gereja serta pemerintah merupakan kawan sekerja Allah. benar adanya, bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang diciptakan dengan tugas dan tanggung jawabnya sendiri.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN MAJELIS JEMAAT DALAM URUSAN SENGKETA TANAH

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PERAN MAJELIS JEMAAT DALAM URUSAN SENGKETA TANAH ”Suatu Tinjauan Teologis tentang Peran Majelis Jemaat dalam Urusan Sengketa Tanah di Jemaat GMIT Ora Et Labora Kolbano Klasis Amanuban Tengah Selatan” Henki Aristo Paut email: [email protected] Jemaat GMIT Ora et Labora Kolbano berdiri pada tanggal 1 Januari 1912. Latar belakang berdirinya jemaat ini adalah keadaan jemaat yang masih sangat kental dengan kepercayaan terhadap tempat-tempat dan beda-beda yang memiliki kekuatan gaib dan juga arwah-arwah dari para leluhur. Orang-orang yang memiliki kepercayaan seperti ini biasanya dikenal dengan istilah atoni halaik (orang kafir). Pada saat injil mulai dibawa masuk ke dalam kalangan jemaat. Usif dan juga tua-tua masyarakat menolak akan hal tersebut karena Injil dilihat sebagai hal yang tabuh dan sebuah ancaman bagi keyakinan dan kepercayaan orang-orang halaik. Budaya yang berkembang dalam kalangan masyarakat pada waktu itu adalah setiap usaha dan kerja yang dilakukan selalu berhubungan dengan alam. Bagi mereka alam mengabulkan setiap doa melalui arwah-arwah moyang mereka. Jemaat GMIT Ora et Labora Kolbano berdiri di tengah-tengah jemaat dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda dan dengan watak yang berbeda pula. Dari perbedaan inilah kehadiran Injil atau gereja mempersatukan semua jemaat dalam satu persekutuan sebagai keluarga Allah. Sering kali ada persoalan-persoalan atau konflik-konflik yang timbul dalam kalangan jemaat dan memiliki potensi merusak relasi dalam sebuah persekutuan. Konflik-konflik individu maupun konflik-konflik yang sering kali melibatkan kelompok-kelompok memiliki potensi yang sangat besar terhadap renggangya relasi dalam sebuah persekutuan bahkan bisa mengakibatkan perpecahan dalam suatu persekutuan. Masalah mengenai perampasan tanah atau sengketa tanah memiliki dampak yang sangat besar terhadap renggangya relasi dalam suatu persekutan bahkan dapat mengakibatkan perpecahan dalam suatu persekutuan. Persoalan-persoalan seperti ini dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab seperti tuntutan ekonomi, bahkan faktor sosial dan politik dan juga budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat. Berdasarkan realita yang ada gereja seolah tidak mendapatkan ruang untuk terlibat secara langsung dalam setiap proses penyelesaian permasalahan tanah yang sering dihadapi di dalam jemaat. Gereja sebagai suatu persekutan yang tumbuh dan selalu berhadapan dengan berbagai macam konflik atau persoalan dalam jemaat memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menyelesaikan persoalan atau konflik tersebut. Gereja tidak dapat menghindarkan diri dari konflik, melainkan gereja harus selalu hadir dalam setiap proses penanganan atau penyelesaian konflik yang terjadi. Pada tahap inilah misi gereja itu harus tampak dan melalui kehadiran gereja, jemaat dapat merasakan syalom Allah. Konflik atau persoalan yang terjadi harus dapat dikelola dengan tepat karena jika tidak diselesaikan dengan tepat maka akan melahirkan konflik baru yang akan berdampak pada persekutuan sebagai keluarga Allah. .

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Gereja dan Sekolah

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Misi gereja adalah panggilan dari Allah kepada gereja sebagai perpanjangan tangan Allah untuk menghadirkan kerajaan Allah. Gereja adalah Tubuh Kristus, umat Allah dan persekutuan orang percaya. Gereja juga adalah lembaga yang berperan sebagai sarana penginjilan, pengajaran, pendidikan dan pemuridan. Gereja memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menghadirkan kasih Allah dimuka bumi, salah satunya melalui bidang pendidikan. Dalam misinya di dunia, gereja memiliki tugas panggilan dalam bidang pendidikan. Howard G Hendricks mengatakan gereja mesti melakukan pendidikan. Itu bukanlah sebuah pilihan melainkan suatu yang esensial; bukan hanya sekadar karena baik tetapi juga karena ia amat penting. Gereja yang berhenti melayankan pendidikan, ia telah berhenti sebagai sebuah gereja. Terkait dengan masalah yang terjadi di SD GMIT Fami Tulleng, tentang kurangnya tenaga pendidik, sarana-prasarana yang kurang layak, tunjangan bagi guru-guru honorer yang terbatas dan seadanya, maka melalui penelitian yang dilakukan, penulis ingin mengetahui bagaimana peran Mata Jemaat GMIT Getsemani Kolang terkaitdengan keadaan SD GMIT Fami Tulleng. Berdasarkan hasil penelitian, penulisan menemukan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi masalah yang penulis sebutkan di atas. Faktor-faktor tersebut antara lain: Kepedulian jemaat terhadap guru honorer dan kesadaran jemaat akan pentingnya pendidikan pada anak. Metode yang penulis pakai untuk memperoleh informasi mengenai kajian tersebut adalah metode penelitian kualitatif. Metode ini bertujuan untuk menyediakan alat-alat dalam memahami arti yang mendalam berkaitan dengan fenomena yang kompleks dan prosesnya dalam praktek kehidupan sosial. Dalam teks Kisah Para Rasul 2:41-47, kehidupan jemaat mula-mula hidup dalam kebersamaan sebagai bentuk persekutuan keluarga Allah untuk saling menopang dalam setiap permasalahan yang ada.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA DAN SAMPAH

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sampah merupakan salah satu krisis lingkungan hidup yang menjadi permasalahan hingga saat ini. Akibat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk, tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya maka bertambah pula sampah yang dihasilkan. Sampah dibuang sembarangan dan  sering ditemukan di berbagai tempat seperti jalann, pusat pertokoan, sarana milik pemerintah dan lain sebagainya. Salah satu sarana milik pemerintah yang mengelola dan mengolah sampah adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pada TPA terdapat banyak sampah dengan jenis dan karakteristik berbeda. Jika sampah-sampah ini tidak ditanggulangi secara serius, maka akan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan di sekitarnya. Untuk menjawab permasalahan dampak buruk sampah bagi lingkungan maka hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama, termasuk pihak gereja, Gereja khususnya GMIT terpanggil secara aktif untuk melibatkan diri dan memiliki kepekaan dalam usaha peduli terhadap lingkungan hidup dan masalah-masalahnya di dalamnya. Dalam mengkaji masalah ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dalam bentuk studi lapangan. Jemaat GMIT Efata Batukapur memiliki tanggung jawab yang lebih  untuk terlibat dalam upaya menjaga lingkungan hidup. Konteks dan keadaan lingkungan Jemaat GMIT Efata Batukapur diperhadapkan dengan masalah krisis lingkungan akibat sampah di TPA Alak yang telah memiliki dampak buruk terhadap kehidupan, baik terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya. Dalam mewujudkan tanggung jawab gereja terhadap lingkungan hidup, maka gereja perlu memiliki misi pelayanan yang bergerak di bidang ekologi. Penulis melihat misi pelayanan Jemaat GMIT Efata Batukapur belum menjawab permasalahan yang sedang terjadi. Maka penulis menawarkan perspektif ekotelogi yang berjudul ecomissiology menurut Ross Langmead. Penulis memilih perspektif ini dengan alasan, perspektif ekoteologi Ross Langmead menggunakan unsur misi yang berfokus pada lingkungan hidup. Tidak hanya teori mengenai ekoteologi, tetapi praktik ekoteologi disampaikan melalui pendekatan ekomisiologi. Hal ini menjadi relevan dengan permasalahan yang diangkat penulis tentang peranan misi gereja yang bergerak pada lingkungan hidup dengan dasar Teologi Ekologis. Penulis memilih teks-teks Alkitab baik dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai landasan Alkitabiah dan kemudian membuat refleksi teologis terhadap masalah yang terjadi. Misi gereja terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui pelayanan-pelayanan yang difokuskan pada krisis lingkungan yang sedang terjadi. Gereja ada di dalam realitas dunia, maka gereja tidak dapat mengabaikan tugas panggilannya di dunia, termasuk terlibat untuk memelihara dan menjaga lingkungan hidup sebagai suatu kesatuan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TATO'NU

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Konsep tato’nu merupakan satu konsep yang telah mempersatukan agama Islam dan Kristen di Desa Aimoi terkhususnya Jemaat GMIT Sei’Eng dan Masjid Attaqwa Wahing, dalam membangun persaudaraaan. Konsep tato'nu mula pertama diperkenalkan oleh Timung Bel sebagai kapal mate atau tamukung (ketua adat) pada saat dilakukan pembagian agama. Konsep ini mengandung kebenaran yang di dalamnya mengisahkan satu keluarga atau turunan dalam masyarakat Desa Aimoli. Oleh karena konsep ini memiliki makna yang sangat dalam saat jemaat maupun jemaah menghadirkannya dalam tindakan kerukunan dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan sejarah terbentuknya budaya kerukunan yang didasarkan pada konsep tato'nu dan untuk mengetahui nilai-nilai teologis dan sejauh mana diimplementasikan dalam membentuk konsep tato'nu sebagai sokok guru bagi kerukunan Jemaat GMIT Sei’Eng dan Jemaah Masjid Ataqwa Wahing, serta merumuskan pokok-pokok teologis sebagai bahan refleksi dari konsep Tatonu yang menjadi dasar kerukunan masyarakat Islam - Kristen Desa Aimoli dan Implikasinya bagi pembangunan jemaat GMIT Sei’Eng. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian ini digunakan untuk mengetahui dan memperoleh nilai dan makna yang mandalam terhadap konsep tato’nu yang dihidupi oleh jemaat GMIT Sei’Eng dan Masjid Attaqwa Wahing. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerukunan ini terbentuk dari pembegian agama yang dilakukan oleh masyarakat desa Aimoli, sampai membentuk konsep tato’nu (satu perut/rahim), yang di dalamnya masyarakat memiliki hubungan darah antara satu dengan yang lain, namun mereka hidup dalam perbedaan agama. Keberagaman ini juga telah dihidupi oleh nabi-nabi terdahulu, seperti Ibrahim (Abraham), Musa, dan Yesus. Di temukan juga bahwa konsep tato’nu memiliki nilai-nilai Kristiani seperti kasih, keadilan dan kebebasan. Nilai-nilai ini merupakan misi yang diberikan Allah kepada Abraham, Musa dan juga Yesus dan sampai kepada Timung Bel yang dirangkum dalam konsep Tatu’nu. Konsep ini dipercaya sebagai misi Allah yang berkelanjutan dan merupakan kehendak dari Allah agar melalui nilai-nilai ini dapat diambil dan dimaknai sebagai sebuah misi yang harus dijalankan masyarakat Aimoli terkhsusunya Jemaat GMIT Sei’Eng dalam melakukan pelayanan, dengan menumbuhkan kasih, keadilan dan kebebasan untuk menciptakan kedamian serta keselamatan di tengah-tengah dunia.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail