ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis metode pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam pelayanan Anak, Remaja, dan Taruna (PART) di Jemaat GMIT Imanuel Oepura, dengan fokus pada pengembangan pendidikan Kristiani yang berkeadilan ekologis. Latar belakang penelitian ini adalah persoalan ekologi, khususnya masalah sampah yang menjadi tantangan serius di lingkungan sekitar gereja dan jemaat, serta belum optimalnya keterlibatan gereja dalam upaya pelestarian lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengajaran PART yang digunakan saat ini cenderung masih berpusat pada model ceramah dan tanya jawab, yang belum sepenuhnya menyentuh aspek kesadaran ekologis. Padahal, gereja sebagai representasi kehadiran Allah di tengah dunia seharusnya turut serta menyuarakan keadilan ekologis sejak dini, terutama kepada anak-anak. Metode pengajaran menurut James W. White yang meliputi pengalaman bersama, pembelajaran paralel, kontribusi aktif, dan interaksi timbal balik dinilai relevan dalam membentuk karakter anak yang peduli lingkungan. Refleksi teologis dalam penelitian ini menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah untuk memelihara ciptaan-Nya. Penelitian ini merekomendasikan agar GMIT, khususnya Jemaat Imanuel Oepura, mulai menyusun kurikulum dan metode pengajaran yang kontekstual dan ekologis, serta mengintegrasikan nilai-nilai ekoteologis dalam pendidikan anak. Pendidikan Kristiani tidak hanya membentuk iman, tetapi juga membangun tanggung jawab moral anak terhadap lingkungan sebagai bagian dari panggilan iman Kristiani.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa perempuan sering kehilangan suara dalam struktur masyarakat patriarkal, sebagaimana tergambar dalam kisah Dina dan Sikhem dalam Kejadian 34:1–31. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana narasi ini mencerminkan ketidakadilan terhadap perempuan dan bagaimana gereja dapat merespons realitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan kisah Dina secara naratif dan mengaitkannya dengan kesempatan perempuan untuk bersuara atas ketidakadilan di dalam kehidupan jemaat, khususnya di GMIT Yegar Sahaduta Bello. Metode yang digunakan adalah kritik naratif untuk menelusuri struktur dan pesan teks Alkitab, serta wawancara mendalam untuk mengungkap pengalaman dan tanggapan jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah Dina dapat menjadi dasar teologis dan etis dalam membangun kesadaran gereja terhadap isu kekerasan berbasis gender. Implikasinya, gereja didorong untuk menyediakan ruang aman, pendampingan pastoral, serta pendidikan teologis yang mendukung perempuan agar berani bersuara dan berperan aktif dalam kehidupan iman dan sosial.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efektivitas sistem informasi akuntansi, keadilan kompensasi dan pengendalian internal terhadap kinerja karyawan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data yang diperoleh kuesioner. Populasi yang digunakan adalah pegawai koperasi swasti sari kupang. Teknik pengambil sampel pada penelitian ini menggunakan jenuh sampling. Dengan menggunakan populasi seluruh karyawan dan teknik pengambilan sampel sebanyak 50 responden. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif,uji kualitas data,uji asumsi klasik,analisis regresi linear berganda dan uji hipotesis dengan bantuan SPSS 25. Berdasarkan pengolahan data yang sudah dilakukan, maka bahasan hasil analisis peneltian diperoleh sebagai berikut: (1), berdasarkan hasil dari uji t variabel efektivitas sistem informasi akuntansi diperoleh hasil dengan nilai t hitung 2,286 0,05 yang artinya H0 ditolak. maka efektivitas sistem informasi akuntansi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan (2) berdasarkan uji t variabel keadilan kompensasi diperoleh hasil t hitung 0,319 2,013 dengan nilai signifikan 0,751 >0,05 yang artinya H0 ditolak maka keadilan kompensasi tidak positif berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, pengendalian internal berdasarkan hasil uji t hitung 1,277 nila t tabel 2,013 dengan nilai signifikan 0,208 >0,05 maka hipotesis ditolak tidak berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Kata kunci : Efektivitas Sistem Informasi Akuntansi, Keadilan Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada Ksp Kopdit Swasti Sari Kupang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK TEORI KEADILAN Studi tentang Pemikiran John Rawls dan Implikasinya Bagi Pelayanan Diakonia Di GMIT Marthorika Novelawasty Lilinsa Asbanu Email penulis: [email protected] John Rawls adalah filsuf dari Amerika Serikat yang terkenal pada abad ke-20 di dalam bidang filsafat politik. Hampir sebagian besar filsuf dari seluruh dunia menyepakati bahwa karya-karya ilmiah dari Rawls telah memberikan kontribusi pemikiran yang akan terus diperbincangkan di ranah filsafat. Salah satu karya besar yang menjadikan Rawls terkenal adalah Theory of Justice (Teori Keadilan). Gagasan Rawls dalam teori keadilan memicu perhatian serius dari berbagai kalangan, mulai dari para praktisi ekonomi, pakar hukum, ahli politik, pengamat sosiologi, hingga penggiat teologi. Melalui tulisan ini, akan dibahas secara positif tetapi juga kritis terhadap nilai yang dapat digalih dari pokok pikiran Rawls mengenai teori keadilan. Secara ringkas, Rawls mengatakan bahwa keadilan adalah keutamaan pertama dalam institusi sosial, sebagaimana kebenaran pada sistem pemikiran. Karena itu, prinsip-prinsip keadilan berfungsi sebagai petunjuk dan pengarah untuk menguji dan mengukur bagaimana masyarakat dikelola dan dijalankan. Dalam kerangka pemahaman tersebut maka ketika berbicara tentang keadilan, seseorang pertama-tama harus terlebih dahulu memiliki pemahaman yang jernih tentang syarat-syarat utama terciptanya keadilan; tentang aturan main atau prosedur dan karena terkait erat dengan aturan main. Konsep keadilan ini menjadi relevan dalam konteks pelayanan diakonia di GMIT. Dalam arti lain, pelayanan diakonia sering dinilai tidak tepat sasaran. Karena itu, pemikiran Rawls yang dibahas dalam tulisan ini diharapkan memberi tawaran bagi GMIT untuk menata pelayanan diakonia yang lebih berkeadilan. Memang, sangat disadari dalam tulisan ini bahwa bahwa konteks Rawls berbeda dengan konteks GMIT. Tetapi, perlu juga ditegaskan di sini kalau yang dilihat di sini adalah sistem nilai positif dari pemikiran Rawls yang tentunya tidak bertentangan dengan teologi yang dianut GMIT.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAKSI PENGARUH KEADILAN PROSEDURAL DAN KOMPENSASI FINANSIAL TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA KANTOR DINASLINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN UPT KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN WILAYAH KABUPATEN KUPANG Keadilan Prosedural danKompensasi Finansialmerupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dengan baik oleh setiap penyelenggara suatu lembaga, perusahaan atau organisasi yang mempekerjakan pegawai dengan tuntutan mampu menghasilkan Kinerja yang tentunya harus membawa perubahan lebih baik bagilembaga, perusahaan atau organisasi tersebut. Keadilan Prosedural dan Kompensasi merupakan hal penting yang mendorong pegawai untuk menghasilkan Kinerja yang baik. Penulis melakukan penelitian ini bertitik tolak dari permasalahan yang sering ditemukan dilokasi penelitian yaitu “apakah Keadilan Prosedural dan Kompensasi Finansialberpengaruh terhadap Kinerja Pegawai.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Keadilan Prosedural dan Kompensasi FinansialTerhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor UPT Kesatuaan Pengelolaan Hutan Wilayah Kabupaten Kupang. Konsep penelitian dalam skripsi ini adalah Keadilan Prosedural dan Kompensasi Finansialberpengaruh terhadap Kinerja Pegawai.Menurut Rakhmawati Hijiyanti (2013:87) Keadilan Prosedural adalah keadilan organisasi yang berhubungan dengan prosedur pengambilan keputusan oleh organisasi yang ditunjukkan kepada pegawai, perlakuan adil secara prosedur telah didemonstrasikan dapat meningkatkan kinerja dan kepuasan kerja.Menurut Bangun (2012:254), Kompensasi merupakan salah satu faktor penting dan menjadi perhatian pada banyak organisasi dalam mempertahankan dan menarik sumberdaya manusia yang berkualitas. Menurut Fajar dan Heru (2010:154).Menurut Mangkunegara (2000:67) mengungkapkan kinerja adalah tingkat prestasi kerja atau hasil kerja (output) baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai pegawai persatuan periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Dengan jumlah populasi sebanyak 30 pegawai. Sampel dalam penelitian ini juga adalah sebanyak 30 pegawai. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner pada responden, kemudian data dianalisis mengunakan Analisis Regresi Linear Berganda mengunakan SPSS. Dari hasil penelitian, dalam analisis pendahuluan yang menggunakan analisis deskriptif presentase diketahui bahwa Keadilan Prosedural dan Kompensasi Finansial Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor UPT Kesatuhan Pengelolan Hutan Wilayah Kabupaten Kupang berada dalam kategori rendah. Dalam analisis lanjutan yang mengunakan teknik Analisis Regresi Linear Berganda diketahui bahwa Kompensasi Finansialberpengaruh positif terhadap kinerja pegawai yang di tunjukan dengan nilai signifikan sebesar 0,344 dan nilai koefisien regresi sebesar 0,064 yang berarti semakin tinggi Keadilan Prosedural, semakin tinggi pula kinerja pegawai. Kompensasi jugaberpengaruh positif terhadap kinerja pegawai yang ditunjukan dengan nilai signifikan sebesar 0,000 dan nilai koefisien regresi sebesar 0,676 yang berarti semakin baik Kompensasisemakin tinggi pula kinerja pegawai. Kata Kunci :Keadilan Prosedural, Kompensasi Finansialdan Kinerja Pegawai.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kasus kekerasan pada perempuan, anak, dan perdagangan orang di Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan persoalan sosial yang sudah ada pada tingkat darurat. Akibatnya banyak masyarakat dan jemaat yang sudah menjadi korban. Hal ini membuat banyak lembaga-lembaga masyarakat dan keagamaan terlibat dalam upaya pemberantasan. Rumah Harapan GMIT, yang merupakan shelter atau rumah aman bagi para korban, adalah salah satu lembaga gerejawi yang didirikan GMIT dalam menggumuli ketiga kasus di atas. Kehadiran shelter ini bertujuan untuk membebaskan mereka yang menjadi korban. Apa yang melatar-belakangi terbentuknya pelayanan sosial Rumah Harapan GMIT? Apa yang membedakan Rumah Harapan GMIT dan instansi lain dalam pelayanan sosial? Secara teologis, refleksi apa yang bisa dikembangkan terhadap keterlibatan sosial Rumah Harapan GMIT?
Dalam tulisan ini, penulis pertama-tama mendeskripsikan tentang latar belakang dan sejarah berdirinya Rumah Harapan GMIT. Setelah itu, penulis juga melihat Teori Teologi Sosial Gustavo Gutierrez yang berjuang bagi kesejahteraan kaum miskin dengan menghasilkan sebuah teologi pembebasan (Theology of Liberation) bagi kaum miskin di Amerika Latin. Teologi yang dikembangkan Gutierrez ini menjadi sebuah landasan teori bagi penulis untuk melihat konteks sebagai sumber berteologi, kemudian penulis menggunakan 4 aspek Teologi sosial dari J.B Banawiratma untuk menganalisa konteks dan menemukan tema yang dapat dikembangkan sebagai refleksi kritis terhadap pelayanan sosial yang dilakukan Rumah Harapan GMIT.
Tema yang dimaksud adalah pembebasan. Alkitab mencatat berbagai karya pembebasan, terutama yang dilakukan Allah dalam Perjanjian Lama, yaitu: Pembebasan Allah melalui tradisi Tahun Yobel dan Tahun Sabat, Pembebasan Allah pada masa Pembuangan di Babel, sementara dalam Perjanjian Baru pembebasan itu terjadi melalui karya pelayanan Yesus, para Rasul dan Jemaat Mula-mula. Kepedulian dan keberpihakan kepada kaum yang tertindas dan para korban menjadi pergumulan bersama yang dihadapi dalam konteks Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Amerika Latin dan konteks pelayanan GMIT.
Dalam konteks GMIT pada masa kini, idealnya karya pembebasan Allah hadir melalui Pelayanan Rumah Harapan GMIT. Karya pembebasan Allah bagi bangsa Israel dan umat Perjanjian Baru dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi tindakan pembebasan yang sedang dilakukan oleh GMIT melalui Rumah Harapan GMIT. Sebagaimana karya Allah tersebut sungguh-sungguh membebaskan, demikian juga GMIT dalam pelayanan sosialnya lewat Rumah Harapan harus menunjukan kehadiran dan penyertaan Allah bagi para korban karena ketidakadilan yang dihadapi. Upaya pembebasan seperti yang dilakukan Allah adalah standard dalam pelayanan sosial, sehingga kesaksian GMIT menjadi bukti nyata bahwa Allah selalu ada bagi orang-orang yang membutuhkan keadilan untuk menolong mereka tetap melanjutkan kehidupan.
Kata-kata Kunci : Peran Sosial, Teologi Pembebasan, Rumah Harapan GMIT, keadilan, Pembebasan Allah
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dalam setiap organisasi memiliki cara tersendiri dalam pengelolaan manajemen sumber daya manusia untuk mencapai visi organisasi. Keberhasilan dalam setiap rencana organisasi merupakan satu ukuran tersendiri didalam diri masing masing individu yang ada dalam organisasi, Hal ini akan memberikan konsekuensi bahwa setiap organisasi harus merespon dan menghadapi semua tantangan yang terkait dengan perubahan lingkungan strategis. Agar tercapainya tujuan organisasi yang baik dimasa yang akan datang maka sumber daya manusia memiliki peran yang sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini dikarenakan Sumber Daya manusia mempunyai peran yang sangat penting seperti yang diketahui bahwa kinerja organisasi dipengaruhi dengan kualitas sumber daya manusianya. Kinerja yang baik merupakan hal yang tentunya diinginkan pencapaiannya oleh setiap perusahaan atau organisasi. Oleh sebab itu Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas atau pekerjaanya yaitu sesuai dengan tanggung jawab yang telah diberikan kepadanya dan merupakan hasil kerja yang telah dicapai oleh seseorang sesuai dengan standar yang telah ditentukan, dengan standar tersebut diharapkan kinerja seseorang dalam sebuah organisasi mampu menghasilkan mutu pekerjaan yang baik serta jumlah pekerjaan yang sesuai dengan standar (Siti Hidayah dan Haryani, 2013). Menurut Viethzal (2004: 309) kinerja pegawai adalah suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan seseorang sepatutnya memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Kinerja merupakan pelaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam organisasi. Kinerja pegawai merupakan suatu hal yang sangat penting dalam upaya organisasi untuk mencapai tujuannya. Aspek yang paling mendasar dalam pengelolaan pegawai dalam organisasi adalah berkaitan dengan pengelolaan sikap kearah yang positif, sehingga karakteristik pekerjaan dan keadilan prosedural pegawai dapat mencapai hasil yang positif pula dalam peningkatan kinerja pegawai tersebut. Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai adalah karakteristik pekerjaan. Membahas masalah karakteristik tidak lepas dari membahas rancangan pekerjaan. Menurut Handoko (2012: 155) menjelaskan bahwa karakteristik pekerjaan sangat mempengaruhi kinerja pegawai. Hal ini dikarenakan karakteristik pekerjaan adalah keberadaan suatu pekerjaan dalam organisasi yang disusun mulai dari design pekerjaan yaitu penetapan kegiatan-kegiatan individu atau kelompok karyawan secara organisasi. Selain itu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja pegawai adalah keadilan prosedural. Hal ini dikarenakan Perlakuan adil secara prosedur telah didemonstrasikan dapat meningkatkan kinerja pegawai (Rakhmawati Hijiyanti, 2013). Oleh sebab itu, keadilan dikatakan ada apabila karyawan merasa imbalan yang mereka terima sama dengan apa yang karyawan lain terima dengan kinerja dan pekerjaan yang sama. Menurut Rakmawati Hajiyanti (2013) menyatakan bahwa keadilan prosedural adalah persepsi yang ditujukan oleh karyawan ketika melihat perusahaan dalam menjalankan aturan-aturan yang ada. Dengan demikian, apabila aturan dilaksanakan dengan baik oleh perusahaan maka pegawai merasa diperlakukan secara adil dan sebaliknya. Jadi individu dalam organisasi akan mempersepsikan adanya keadilan prosedural pada saat aturan prosedur yang ada dalam organisasi dapat dilaksanakan dengan baik oleh para pengambil kebijakan. Sebaliknya apabila prosedur tersebut dilanggar maka individu dalam organisasi akan mempersepsikan adanya ketidak-adilan. Oleh karena itu, keputusan dibuat secara konsisten tanpa adanya pengaruh kepentingan pribadi di dalamnya. Penelitian ini dilakukan di Badan Pusat Statistik yaitu Lembaga Pemerintah Non-Kementerian yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Badan Pusat Statistik memiliki visi, misi dan tujuan yang harus dicapai oleh setiap pegawainya. Dalam pencapaian visi, misis dan tujuan maka, dibutukan kinerja dari pegawai. Hal ini perlu dilihat dari sisi karakteristik pekerjaan dan keadilan prosedural agar dapat mencapai hasil maksimal. Sehingga yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan pegawai pada Badan Pusat Statistik Kota Kupang yang berjumlah 30 orang pegawai. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Secara Parsial Terdapat pengaruh karakteristik pekerjaan dan keadilan prosedural terhadap kinerja pegawai pada Badan Pusat Statistik Kota Kupang. Hal ini dibuktikan dengan perolehan persamaan regresi linier berganda .yaitu Y = 4.012 + 0.337X1+ 0.263X2+e . Dari hasil tersebut menunjukan bahwa Koefisien bernilai positif yang artinya bahwa terjadi hubungan positif karakteristik pekerjaan dan Keadilan Prosedural terhadap Kinerja Pegawai. Hal lain dilihat juga dari perolehan uji T (Secara Parsial) dengan nilai signifikan karakteristik pekerjaan sebesar 0.0190,05 dan nilai 2.505>1.703 sehingga dapat disimpulkan bahwa, hasil uji stastistik menunjukan secara parsial Ha diterima dan Ho ditolak atau variabel Karakteristik Pekerjaan (X1) berpengaruh dan signifikan terhadap variabel Kinerja Pegawai (Y). Sedangkan keadilan prosedural memperoleh nilai signifikansebesar 0.0040,05 dan nilai 3.135>1.703 sehingga dapat disimpulkan bahwa, hasil uji stastistik menunjukan secara parsial Ha diterima dan Ho ditolak atau variabel Keadilan Prosedural (X2) berpengaruh dan signifikan terhadap variabel Kinerja Pegawai (Y). Selain dari pada itu perolehan koefisien determinasinya (R2) adalah sebesar 0.557. Sehingga 55.7% variabel kinerja pegawai (Y) dapat dijelaskan oleh variabel karakteristik pekerjaan (X1), dan variabel keadilan prosedural (X2) Sedangkan selisihnya 44.3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak masuk dalam penelitian ini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah memiliki sejarah pembentukan yang sangat panjang yang dimulai dari pemanggilan Abraham. Dalam catatan Kitab Kejadian, Allah mengikat perjanjian-Nya dengan Abraham dan keturunannya dan pewaris yang sah dari perjanjian itu adalah Ishak, anak Abraham dan Sarai. Selanjutnya, janji itu berlanjut kepada Yakub, anak bungsu Ishak dan Ribka, bukan Esau. Melukai perasaan Esau dan ia ingin membunuh adiknya itu. Meskipun Esau dan Yakub telah berdamai, namun konflik berlanjut pada keturunan mereka, yakni Edom dan Israel. Baik bangsa Israel maupun Edom menjalani relasi yang buruk dengan ingin menguasai satu dengan yang lain. Puncak konflik terjadi saat Edom terlibat dalam kehancuran kota kota Yerusalem. Dalam situasi krisis yang dialami penduduk Yehuda akibat kehancuran itu, Allah mengutus Obaja sebagai nabi Yehuda untuk menghibur mereka dan menyatakan keadilan-Nya. Kitab Obaja 1:12-15 berisi penyesalan Obaja yang mendalam atas perilaku kejam Edom yang menghina dan menindas Yehuda pada saat mereka diserang oleh Babel. Allah adalah Yang Mahakuasa, yang berkuasa dan memberikan ganjaran setimpal kepada umatNya juga dunia bangsa-bangsa. Konflik antara saudara tidak unik hanya pada Edom dan Yehuda, sebab hal yang serupa terjadi antara Jemaat GMIT Efrata Oelmasi dengan komunitas masyarakat dari Timor-Timur di Desa Kuimasi, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Pada tahun 2014 pecah satu konflik besar dan proses perdamaian sudah dilakukan, namun sampai sekarang bentrok sering berulang. Situasi yang terlihat damai, ternyata menyimpan “bom waktu” yang sedang menunggu waktu untuk meledak. Stigma pengungsi kepada masyarakat Timor-Timur, gap sosial-ekonomi, dan pembatasan akses terus menjadi bibit permusuhan. Konflik ini tentu dapat terus terjadi tidak segera dikelola dengan baik. Karena itu, Penulis ingin menafsir teks Obaja 1:12-15 dan menemukan kerygma bagi penyelesaian konflik tersebut. Penulis berharap dengan terkelolanya konflik dengan baik maka masyarakat Timor-Timur dapat diterima sebagai sesama saudara dan hidup dalam damai.