Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

100 hasil
Subjek: gereja
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA SITUS

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Warisan Budaya adalah produk/hasil budaya fisik dari tradisi dan prestasi spiritual dalam bentuk nilai dari masa lalu. Menurut UNESCO, warisan budaya terdiri dari dua bagian yaitu tangible cultural dan intangible cultural. Tangible cultural seperti: monumen, artefak, cagar budaya dan kawasan, intangible cultural seperti: bahasa ritual dan tradisi. Warisan budaya sangat penting untuk dilestarikan, hal ini adalah upaya menjaga sejarah bangsa. Bangunan Situs Gereja Kota Kupang merupakan sebuah bangunan dilindungi oleh Undang-Undang Benda Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010. Dalam penelitian penulis menggunakan metode studi lapangan, dalam memenuhi kebutuhan akan data-data penulisan memilih penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Tujuan penelitian ini untuk membuat deskripsi, gambaran/lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta yang akan diteliti. Saat cendana mulai dikenal sebagai komoditi perdagangan, Kupang telah dikenal oleh bangsa-bangsa asing terutama China. Kristen yang mula-mula hadir di Kupang adalah Kristen Katolik yang dibawa oleh pedagang Portugis. Setelah kehadiran Portugis datang juga Belanda menyebarkan agama Kristen Protestan, Belanda pertama kali memerintah pada tahun 1613 kemudian tahun 1614 Belanda menghadirkan seorang Pdt di Kupang untuk kebutuhan keimanan orang-orang Belanda sendiri. Kehadiran seorang Pdt Belanda membuat raja Kupang ingin mengkristenkan seluruh warga Kupang. Hasil kristenisasi oleh Belanda membuat Kupang memiliki sebuah gedung gereja dengan arsitektur Eropa abad pertengahan yang dinobatkan sebagai situs berdasarkan SK: KM.51/OT.007/MKP/2004. Bangunan gereja situs Kota Kupang masih aktif digunakan sebagai tempah ibadah oleh lembaga GMIT. Bangunan situs tidak hanya mendapatkan pelayanan dari GMIT tetapi oleh pihak pemerintah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (PSAK) NO. 45 PADA KLASIS KUPANG TIMUR

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Standar Akuntansi Keuangan No. 45 (revisi 2011) terdapat standar khusus untuk organisasi nirlaba merupakan salah satu komponen dalam masyarakat yang perannya terasa menjadi penting, tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari kini semakin banyak keterlibatan organisasi nirlaba sehingga transparansi dan kesesuaian dalam pengungkapan pelaporan keuangannya dirasa perlu disajikan dalam prinsip yang diterima umum. belum diketahui juga secara terperinci apakah penerapan standar akuntansi keuangan PSAK No.45 pada gereja-gereja diWilayah Klasis Kupang Timur ini bermanfaat dan meningkatkan dalam pengelolaan pelaporan keuangan agar lebih transparan ataukah justru membuat laporan keuangan menjadi terbengkalai dan tidak transparan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data wawancara, dokumentasi dan observasi. Sampel pada penelitian ini adalah laporan keuangan pada sepuluh (10) gereja diwilayah Klasis Kupang Timur. Hasil dari penelitian in menunjukan bahwa implementasi PSAK No. 45 tentang pelaporan keuangan entitas nirlaba. Dalam proses akuntansi masih banyak gereja yang belum menerapkan akuntansi dengan benar. Sebagian besar gereja hanya melakukan pencatatan keungan dengan menggunakan kas masuk dan kas kas keluar saja. Terdapat 4 gereja yang tidak melakukan pencatatan keuangan sesuai dengan PSAK 45, dan hanya 6 gereja saja yang melakukan pencatatn keuangan sesuai dengan PSAK 45.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Suatu Tinjauan Teologi Sosial Terhadap Indikasi Kekerasan Di Lingkungan Masyarakat Loli Dan Implikasinya Bagi GKS Jemaat Letemalouna, Klasis Lolina

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kekerasan selalu berhubungan erat dengan peristiwa yang mengerikan, menakutkan, meyakitkan, atau juga yang berakhir dengan kematian.Tindakan kekerasan selalu mewarnai segala sendi kehidupan manusia, baik dari segi sosial, politik. Angkah kekerasan juga yang terjadi dalam masyarakat Loli tiap tahun selalu meningkat dengan berbagai macam kekerasan yang paling utama yaitu kekerasan pencurian. Realitas yang terjadi pada saat penulis melakukan penelitian di Jemaat GKS Letemalouna masih banyak jemaat yang terindikasi melakukan kekerasan baik dalam jemaat sendiri dan masyarakat sekitar yaitu lingkungan masyarakat Loli.Yang masih hidup dalam budaya adat istiadat yang masih sangat kental serta juga sangat berpengaruh kekeuasan yang ada dalam masyarakat.Tujuan ini dapat dicapai dengan satu penelitian lapangan dan metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Metode ini dipilih untuk memperoleh data yang akurat dan mengandung kebenaran yang mendalam terhadap kekerasan. Kasus yang dialami masyarakat oleh penguasa. Serta mengetahui sejauh mana pencapain gereja berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis. Dari hasil penelitian gereja belum bisa juga menurunkan angkah kekerasan, dikerenakan kurangnya sumber daya alam dan sarana prasanan. Gereja lahir di dalam realitas dunia, maka gereja tidak dapat mengabaikan tugas panggilannya di dunia. Ini berarti khotbah atau pelayanan nyata yang diberikan gereja boleh sama tetapi punya nilai dorong yang berbeda. Gereja juga perlu sadar terhadap kehidupan sosial yaitu harus terlibat dalam menurunkan angkah kekerasan jadi keterlibatan gereja dalam bidang pelayanan kepada masyarakat dan jemaat perlu secara lebih mendalaman.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN KOSTER DALAM PELAYANAN DI JEMAAT GMIT GETSEMANI BABAU KLASIS KUPANG TIMUR TAHUN PELAYANAN 2022

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan yang ingin dicapai untuk menyusun Skripsi ini adalah: untuk mengetahui sejauh mana Peran Pelayaanan Koster di Jemaat GMIT Getsemani Babau, Klasis Kupang Timur Tahun Pelayanaan 2022. Metode yang digunakan adalah metode Deskriptif kualitatif metode ini bertujuan untuk mengambarkan hal-hal yang belum diketahui secara mendalam oleh penulis yang menjadi respon dan dalam penelitian ini ialah Koster, Pendeta dan Majelis Jemaat Rayon dari hasil penelitian ini yang diketahui yaitu Jenis-jenis tugas Koster, waktu kerja,cara kerja koster, masalah atau kesulitan yang dihadapi koster, cara untuk mengatasi kesulitan atau memecahkan masalah dan serta resiko yang di alami oleh koster. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dapat diuraikan bahwa terlihat dari pelayanan Koster, sangat berperan aktif dalam aktifitas Gereja. Koster menyadari bahwa yang bertugas dalam setiap jenis-jenis tugas yang berperan dalam soal pengurusan pembersihan dalam rumah ibadah dan pekarangan Geraja adalah tugas seorang koster. Bahkan koster sebagian dari tanggungjawab yang harus dijalankan bukan saja tugas-tugas utama koster yang ia jalankan akan tetapi koster juga bertanggung jawab dalam membantu Majelis Jemaat dalam menyampaikan informasi mau pun surat undangan penting untuk pihak yang di tujuh.Dari hasil penelitian tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek-aspek koster sangat memilik peran penting didalam Gereja itu sebabnya koster telah melakukan setiap tugas tanggungjawabnya dengan baik walaupun ada beberapa kesulitan yang dialami dan resiko yang koster alami akan tetapi koster juga mendapata dukungan-dukungan dari Pendeta dan Majelis Jemaat

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perempuan dan Perannya dalam Pelayanan Gereja

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Peran perempuan merupakan suatu prilaku yang dilakukan dan diharapkan berdasarkan dengan status sosial, dengan melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk memenuhi harapan bagi diri sendiri dan harapan bagi orang lain. Peran seorang perempuan dalam jemaat sebatas menjadi seorang diaken dan bekerja didapur. Tugas yang diberikan kepada mereka berdasarkan dengan pemahaman budaya dan sistem sosial yang berkembang dan telah mendarah daging dalam kehidupan jemaat, bahwa perempuan adalah orang yang lemah dan tugas mereka untuk melahirkan anak, mengurus anak dan berada didapur untuk bekerja. Bahkan seorang anak perempuan telah diberikan pemahaman sejak kecil, tentang bagaimana tugas mereka yang berada didapur untuk menyiapkan segala hal untuk semua orang, dan tidak diperbolehkan berada di depan. Hal ini mempengaruhi perempuan ketika diminta untuk terlibat dalam setiap kegiatan, mereka merasa tidak pantas dan tidak kepercayaan diri. Dari masalah yang dipaparkan, maka penulis melakukan penelitian mengenai perempuan dan perannya dalam pelayanan gereja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan jemaat tentang peran perempuan baik dalam gereja maupun masyarakat. Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian bahwa perempuan selalu ditempatkan pada urutan kedua berdasarkan dengan sistem budaya yang sudah ada sejak dahulu. Maka Fakilau ( Mariam Lakapada) menjadi sosok perempuan yang telah mendobrak sistem kebudayaan dengan melakukan pembaharuan dan membuktikan bahwa perempuan juga memiliki nilai yang sama dengan laki-laki yaitu semua setara, sebab Tuhan sendiri tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan dengan melihat pada sistem budayanya dan sistem sosial tetapi Tuhan datang untuk semua orang tanpa terkecuali.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Gereja Dan Anak yang Berduka

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Kedukaan adalah perasaan kehilangan karena sesuatu yang sebelumnya ada sekarang tidak ada lagi. Setiap manusia bisa merasakan kedukaan karena kehilangan benda kesayangan, kehilangan kesempatan, kehilangan kesehatan dan kematian. Kehilangan karena kematian menjadi suatu peristiwa yang membuat seseorang akan kehilangan orang terdekatnya dan menimbulkan rasa duka yang mendalam. Orang yang berduka adalah mereka yang benar-benar mengalami kehilangan, termasuk anak kecil. Yang membedakan kedukaan yang dialami anak kecil dan orang dewasa adalah anak memiliki kapasitas untuk berduka lebih dalam karena mereka tidak mampu mengekspresikan perasaannya secara terbuka. Bertolak dari hal itu, penulis tertarik untuk meneliti tentang kondisi anak yang berduka pada usia 3-10 tahun dan sikap pastoral gereja terhadap anak yang berduka Di Jemaat Alfa Omega Baiyangawang, Klasis Pantar Barat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memilih keluarga yang berduka sebagai sampel untuk mengetahui kondisi anak yang berduka di Jemaat Alfa Omega Baiyangawang. Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa anak mengalami kedukaan sama seperti yang dialami oleh orang dewasa pada umumnya, namun yang membedakan adalah cara anak mengekspresikan perasaan duka yang dialaminya. Oleh karena itu Gereja dan keluarga perlu memiliki perhatian khusus terhadap anak ketika terjadi peristiwa kematian. Dalam hal ini, Gereja dapat menggunakan pendekatan psikoterapi kedukaan dengan model Client Centered yang dapat menolong gereja untuk lebih fokus pada anak. Pendekaan ini menolong gereja agar gereja dapat memiliki ketrampilan mendengar dan sikap empati dalam mendampingi anak yang berduka. Dengan menjadikan pelayanan Yesus yang memperhatikan dan mempedulikan anak-anak sebagai sikap gereja dalam mendampingi anak yang berduka.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Fe Belis dan Dode

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

FE BELIS DAN DODE Novi Tamara Ndun Program Studi Teologi Agama Kristen, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia email. [email protected] Masyarakat suku Rote adalah suatu komunitas masyarakat yang hidup dalam suatu pola atau kebiasaan kemasyarakatan yang ada. Kehidupan mereka juga masih kuat dengan tradisi dan adat istiadat yang dianggap sebagai warisan nenek moyang. Salah satunya adalah tradisi perkawinan adat fe belis dan dode. Tradisi fe belis dan dode merupakan tahapan dari perkawinan adat suku Rote sebagai bagian untuk mendapatkan kembali keseimbangan yang bertujuan untuk melahirkan keharmonisan. Hasil penelitian penulis dilapangan Pertama: tradisi fe belis dan dode adalah adalah acara di mana kedua belah pihak keluarga dipertemukan dalam ikatan kasih yang saling menghargai yang di dalam pelaksanaannya, dengan ketulusan hati kedua belah pihak keluarga saling memberi sesuai dengan kesanggupan mereka untuk menunjukkan penghargaan dan tanda kasih sayang. Kedua: pada mulanya belis berupa hewan dan barang emas sedangkan bawaan/antaran perempuan berupa hewan, barang emas, padi/gabah, perlengkapan tidur, serta sirih, pinang dan tembakau. Namun oleh karena dampak modernisasi yang berdampak pada tingkat kebutuhan, belis telah disederhanakan menjadi ‘tanda terima kasih’ sehingga hanya berupa uang sedangkan bawaan/antaran disesuaikan dengan keinginan pihak keluarga perempuan. Ketiga: adapun ketika ditinjau menggunakan teori pertukaran, tradisi ini memenuhi kaidah pertukaran namun penulis mengkritik satu kaidah yang di mana fe belis dan dode tidak mendatangkan kesenangan bagi pihak laki-laki apalagi jika besaran belis itu besar. Tetapi walaupun begitu, tradisi ini dinilai baik oleh karena memberi nilai-nilai positif yang berguna bagi kehidupan bukan saja ketika dalam pelaksanaannya tetapi berlanjut kepada kehidupan rumah tangga ke depan. Ada nilai keseimbangan dan sikap kasih di dalam tradisi fe belis dan dode. Model antropologis dapat menolong dalam melihat nilai-nilai dalam Injil dan teks serta nilai-nilai dalam tradisi fe belis dan dode. Manusia diciptakan seturut dengan gambar Allah dan dalam kesadaran bahwa Allah lebih dulu mengasihi manusia, maka antara laki-laki dan perempuan adalah setara. Oleh karena itu, keseimbangan antara laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang penting. Dengan kasih yang berasal dari Allah, laki-laki dan perempuan disadarkan bahwa sikap kasih harus ada di dalam kehidupan sebagai keluarga Kristen. Untuk itulah, melalui tradisi fe belis dan dode gereja kembali melihat eksistensinya dalam memelihara persekutuan melalui penegakkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan serta terus menerapkan kasih sebagai suatu tindakan yang aktif dari jemaat. Sehingga keharmonisan baik dalam persekutuan berumah tangga maupun persekutuan bergereja tetap terjaga dengan baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Gereja Melawan Stunting

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Stunting atau yang dikenal dengan istilah pendek merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak balita akibat kekurangan asupan gizi. Sejak tahun 2020-2022 Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kecamatan Oenino, Desa Neke mengalami angka stunting yang fluktuatif. Beberapa anak di antaranya merupakan anak-anak asal Jemaat Bermata Jemaat GMIT Nekamese. Gereja pun berinisiatif dan segera menangani dengan menjalankan berbagai program diakonia untuk menurunkan angka stunting. Penulis melakukan penelitian di Jemaat Bermata Jemaat GMIT Nekamese, Mata Jemaat Imanuel Postenu dengan menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif yang deskriptif. Penulis menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process Product) untuk menganalisa dan mengevaluasi program diakonia. Tujuannya ialah untuk mengetahui sejauh mana pencapaian gereja. Berdasarkan hasil analisis didapati bahwa setiap tahun tindakan gereja berhasil menurunkan angka stunting dalam jemaat. Namun tidak dengan anak-anak lainnya yang bukan anggota jemaat. Gereja belum memberikan pelayanan kepada masyarakat umum dikarenakan keterbatasan sumber daya dan sarana-prasarana yang dibutuhkan. Gereja telah sadar dan peduli terhadap kehidupan sosial, yakni terlibat dalam menangani masalah stunting. Namun dilihat dari arti teologi sosial menurut pemahaman Banawiratma dan Muller maka gereja belum menjangkau semua orang. Sementara kehadiran gereja sebagai sakramen keselamatan, juga mempunyai kepedulian terhadap masyarakat. Gereja perlu melibatkan diri pada penderitaan, pergulatan dan mengupayakan pembebasan bagi manusia sebagai tanda sakramen yang hidup. Seperti halnya para nabi dalam Alkitab Perjanjian Lama , pribadi Yesus dalam Alkitab Perjanjian Baru dan peran para diaken dalam kitab Kisah Para Rasul 6:1-7. Jadi keterlibatan gereja dalam bidang pelayanan diakonia harus inklusif; tidak terbatas pada anggota jemaat, tetapi juga bagi masyarakat dan seisi dunia.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Gereja dan Suanggi

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK GEREJA DAN SUANGGI Dewi Septi Bisilisin Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Indonesia email: [email protected] Pulau Semau dikenal sebagai pulau mistis, dimana masyarakat masih mempercayai suanggi sebagai salah satu hal yang mengontrol kehidupan mereka. Suanggi diartikan sebagai ilmu hitam yang digunakan oleh seseorang yang memiliki rasa iri dengki untuk membunuh atau mencelakai orang lain dengan perantara benda atau dilakukan secara langsung oleh orang yang memiliki ilmu tersebut. Kepercayaan kepada suanggi sangat dipengaruhi oleh agama suku dan tetap ada sampai sekarang, ketika sebagian besar masyarakat Semau beragama Kristen. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan utama yaitu mengapa orang Kristen masih mempercayai adanya suanggi? Dan untuk menjawab hal tersebut, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memilih 24 orang sebagai sampel dari jemaat Bait'el Uitiuhtuan, Klasis Semau. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata jemaat memahami suanggi sebagai ilmu hitam yang dipakai untuk membunuh dan mencelakai orang lain. Selain itu, ada juga yang menggunakan suanggi untuk menyembuhkan orang sakit dan digunakan pula untuk menambah kekayaan. Dalam hal ini jemaat tetap disebut suanggi karena masih menyembah atau percaya kepada yang lain selain Tuhan. Walaupun maksud dan tujuan mereka baik tetap mereka disebut suanggi karena sudah menduakan Tuhan. Sikap gereja saat ini hanya sebatas pemberitaan firman. Gereja perlu memberikan pemahaman yang baik dan benar, sehingga perlu adanya upaya mengupayakan kemelekatan budaya, agama suku dan tradisi itu mendapat warna baru, orang lebih melekat pada gereja dan ajaran gereja. Gereja juga perlu memperkuat ajaran Kristus terutama kepada orang tua supaya memperkuat pemahaman kepercayaan mereka. Seperti halnya orang-orang Farisi sekaligus ahli taurat sedang menguji Yesus dalam Injil Matius 22:37-40, demikian pula gereja perlu membangun relasi antar manusia dengan Allah dan sesamanya. Supaya kedua hukum ini ada dalam satu kesatuan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TATO'NU

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Konsep tato’nu merupakan satu konsep yang telah mempersatukan agama Islam dan Kristen di Desa Aimoi terkhususnya Jemaat GMIT Sei’Eng dan Masjid Attaqwa Wahing, dalam membangun persaudaraaan. Konsep tato'nu mula pertama diperkenalkan oleh Timung Bel sebagai kapal mate atau tamukung (ketua adat) pada saat dilakukan pembagian agama. Konsep ini mengandung kebenaran yang di dalamnya mengisahkan satu keluarga atau turunan dalam masyarakat Desa Aimoli. Oleh karena konsep ini memiliki makna yang sangat dalam saat jemaat maupun jemaah menghadirkannya dalam tindakan kerukunan dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan sejarah terbentuknya budaya kerukunan yang didasarkan pada konsep tato'nu dan untuk mengetahui nilai-nilai teologis dan sejauh mana diimplementasikan dalam membentuk konsep tato'nu sebagai sokok guru bagi kerukunan Jemaat GMIT Sei’Eng dan Jemaah Masjid Ataqwa Wahing, serta merumuskan pokok-pokok teologis sebagai bahan refleksi dari konsep Tatonu yang menjadi dasar kerukunan masyarakat Islam - Kristen Desa Aimoli dan Implikasinya bagi pembangunan jemaat GMIT Sei’Eng. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian ini digunakan untuk mengetahui dan memperoleh nilai dan makna yang mandalam terhadap konsep tato’nu yang dihidupi oleh jemaat GMIT Sei’Eng dan Masjid Attaqwa Wahing. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerukunan ini terbentuk dari pembegian agama yang dilakukan oleh masyarakat desa Aimoli, sampai membentuk konsep tato’nu (satu perut/rahim), yang di dalamnya masyarakat memiliki hubungan darah antara satu dengan yang lain, namun mereka hidup dalam perbedaan agama. Keberagaman ini juga telah dihidupi oleh nabi-nabi terdahulu, seperti Ibrahim (Abraham), Musa, dan Yesus. Di temukan juga bahwa konsep tato’nu memiliki nilai-nilai Kristiani seperti kasih, keadilan dan kebebasan. Nilai-nilai ini merupakan misi yang diberikan Allah kepada Abraham, Musa dan juga Yesus dan sampai kepada Timung Bel yang dirangkum dalam konsep Tatu’nu. Konsep ini dipercaya sebagai misi Allah yang berkelanjutan dan merupakan kehendak dari Allah agar melalui nilai-nilai ini dapat diambil dan dimaknai sebagai sebuah misi yang harus dijalankan masyarakat Aimoli terkhsusunya Jemaat GMIT Sei’Eng dalam melakukan pelayanan, dengan menumbuhkan kasih, keadilan dan kebebasan untuk menciptakan kedamian serta keselamatan di tengah-tengah dunia.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kapasitas Tenaga Pengajar PART Suatu Tinjauan Teologi Terhadap Kapasitas Tenaga Pengajar PART Di Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Maipui, Klasis Alor Tengah Utara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelayanan Anak, Remaja dan Taruna (PART) merupakan salah satu bentuk pelayanan gereja yang strategis dalam menanamkan iman dan membentuk karakter anak sebagai generasi penerus gereja. Namun, dalam realitas pelayanan PART di Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Maipui, Klasis Alor Tengah Utara, masih dijumpai berbagai persoalan yang berkaitan dengan kapasitas pengajaran tenaga pengajar PART. Persoalan tersebut tampak dalam keterbatasan kompetensi pedagogis, penggunaan metode pengajaran yang kurang variatif, minimnya bahan ajar, serta rendahnya dukungan struktural gereja terhadap pembinaan pengajar PART. Kondisi ini berdampak pada rendahnya partisipasi, minat, dan pemahaman iman anak-anak dalam kegiatan PART. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan realitas kapasitas pengajaran tenaga pengajar PART di Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Maipui serta meninjaunya dari perspektif teologi Kristen, khususnya dalam kerangka Pendidikan Agama Kristen (PAK). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan reflektif-teologis. Data diperoleh melalui studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara dengan pendeta, majelis jemaat, pengajar PART, serta orang tua anak PART. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas pengajaran tenaga pengajar PART masih berada pada tingkat yang terbatas, baik dari aspek pedagogis, metodologis, maupun dukungan kelembagaan gereja. Dalam tinjauan teologis, gereja dipahami memiliki tanggung jawab iman untuk membina dan memperlengkapi para pengajar PART sebagai pelayan pendidikan iman anak. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pengajaran PART perlu dipahami sebagai panggilan teologis gereja dalam melaksanakan tugas mendidik generasi iman secara berkelanjutan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAMAT Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Tradisi Mamat di Jemaat GMIT Ebenhaizer Haumolo, Klasis Amanatun Utara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari adanya ketegangan pemahaman di tengah jemaat GMIT Ebenhaizer Haumolo mengenai tradisi mamat (makan sirih pinang). Sebagian jemaat memandang mamat sebagai praktik budaya semata, sedangkan sebagian lainnya mempertanyakan relevansinya bagi kehidupan iman Kristen. Pokok persoalan inilah yang kemudian melahirkan kebutuhan untuk menelaah tradisi mamat secara teologis, khususnya bagaimana tradisi tersebut dapat dipahami an dimaknai dalam terang Injil serta kehidupan bergereja. Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai teologis yang terkandung dalam tradisi mamat serta menjelaskan bagaimana praktik budaya tersebut dapat menjadi sarana membangun keramahtamahan, mempererat persekutuan, memulihkan relasi, membentuk iman generasi muda, dan menghadirkan kesaksian gereja di tengah masyarakat. Tujuan lainnya adalah membantu jemaat melihat bahwa tradisi mamat tidak harus dipertentangkan dengan iman Kristen, melainkan dapat menjadi bagian dari spiritualitas yang membumi dan relevan bagi kehidupan umat. Pendekatan yang digunakan adalah teologi kontekstual dengan metode kualitatif, melalui analisis literatur, pengamatan terhadap praktik mamat dalam kehidupan jemaat, serta refleksi teologis berdasarkan narasi Alkitab dan pemikiran teolog Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menangkap makna teologis tradisi mamat secara menyeluruh, tidak hanya sebagai adat istiadat, tetapi sebagai ruang hidup yang mempengaruhi pembentukan relasi, iman, dan identitas jemaat. Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi mamat mengandung nilai-nilai kristiani yang kuat, seperti penerimaan, kesetaraan, keramahtamahan, rekonsiliasi, pembinaan iman, dan kesaksian gereja. Tradisi ini mampu menjadi ruang perjumpaan yang menghadirkan kasih Allah dan memperkaya spiritualitas jemaat. Dengan demikian, mamat tidak hanya layak dipertahankan sebagai identitas budaya, tetapi juga dapat diintegrasikan sebagai bagian dari praksis iman Kristen yang kontekstual dan membangun kehidupan jemaat secara holistik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENYEMBUHAN TRAUMA” Suatu Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Upaya Gereja Bagi Penyembuhan Trauma Terhadap Anak-Anak Usia 5-12 Tahun Yang Menyaksikan Kekerasan Di GMIT Jemaat Sono Klasis Amanatun Utara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gereja dalam pelayanan pastoral memiliki panggilan untuk melaksanakan tugas penggembalaan dengan merawat, melindungi, memelihara, serta menolong umat sebagai domba-domba Allah. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, gereja tidak terlepas dari berbagai persoalan umat, salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga yang berdampak serius bagi anak-anak sebagai saksi. Pengalaman menyaksikan kekerasan seringkali meninggalkan trauma psikologis yang mengganggu rasa aman dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum lokasi penelitian di Jemaat GMIT Sono, mengkaji upaya gereja dalam penyembuhan trauma anak-anak usia 5–12 tahun yang menyaksikan kekerasan, serta menganalisis upaya tersebut dalam tinjauan teologi pastoral.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan dan studi literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Mata Jemaat Sion Oepuah terdapat anak-anak usia 5–12 tahun yang mengalami trauma psikologis, ditandai dengan gejala ketakutan, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, dan keinginan untuk membalas dendam. Upaya gereja dalam pendampingan trauma masih bersifat umum dan belum menyentuh kebutuhan emosional anak secara khusus. Dalam tinjauan teologi pastoral, gereja dipahami sebagai komunitas penyembuhan (healing community) yang menghadirkan ruang aman bagi umat. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk berperan lebih aktif, terstruktur, dan berkelanjutan dalam pendampingan pastoral guna menolong anak-anak mengalami pemulihan dan keutuhan hidup.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

INJIL DAN BAHASA "Suatu Tinjauan Misiologi Terhadap Penggunaan Bahasa Lokal Dalam Penyebaran Injil di Jemaat GMIT Elim Tulleng, Klasis Alor Tengah Utara.

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji penggunaan dan revitalisasi bahasa lokal dalam pelayanan gereja di Jemaat GMIT Elim Tulleng sebagai bagian dari pelaksanaan misi gereja. Latar belakang penelitian ini muncul dari fenomena menurunnya penggunaan bahasa lokal, khususnya di kalangan generasi muda, akibat dominasi bahasa nasional dan bahasa global dalam pendidikan, media, dan kehidupan sehari-hari. Pergeseran ini tidak hanya memengaruhi aspek budaya, tetapi juga berdampak pada cara jemaat memahami, menghayati, dan meneruskan iman Kristen dalam komunitas mereka. Situasi ini menempatkan gereja pada panggilan untuk menghadirkan Injil secara relevan dengan konteks kehidupan jemaat, sekaligus setia pada ajaran firman Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan, meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta didukung kajian pustaka mengenai teologi misi dan kontekstualisasi Injil. Analisis data dilakukan secara teologis dan misiologis dengan menggunakan kerangka Missio Dei, yang menekankan bahwa misi gereja adalah partisipasi dalam karya Allah yang berlangsung di dunia, dan harus dijalankan secara kontekstual sesuai realitas sosial, budaya, dan bahasa jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa lokal dalam ibadah, pengajaran, doa, dan pelayanan gereja memberikan dampak signifikan terhadap pemahaman dan pengalaman iman jemaat. Bahasa lokal memungkinkan firman Tuhan disampaikan dalam bahasa yang akrab dan mudah dihayati, sehingga iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dialami secara personal, emosional, dan eksistensial. Selain itu, penggunaan bahasa lokal mendorong keterlibatan aktif jemaat dalam kehidupan bergereja, memperkuat rasa memiliki terhadap gereja, dan memperkokoh identitas komunitas iman. Revitalisasi bahasa lokal juga menjadi jembatan antara pesan Kitab Suci dengan pengalaman hidup jemaat, sehingga pewartaan Injil menjadi lebih relevan, bermakna, dan kontekstual. Secara teologis, penelitian ini menegaskan bahwa revitalisasi bahasa lokal merupakan tindakan misiologis yang selaras dengan visi Allah dalam Missio Dei. Landasan biblis seperti peristiwa Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1–13) dan visi Wahyu 7:9 menunjukkan bahwa keberagaman bahasa bukan penghalang, melainkan sarana Allah untuk menyampaikan keselamatan kepada seluruh umat manusia. Dengan demikian, revitalisasi bahasa lokal bukan sekadar upaya pelestarian budaya, tetapi sarana strategis untuk memperdalam iman jemaat, membangun komunitas yang hidup, dan menjamin pewarisan iman antar generasi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENDAMPINGAN PASTORAL BAGI SUAMI YANG DITINGGALKAN ISTRI “Suatu Kajian Teologi Pastoral Terhadap Peran Pendampingan Pastoral Gereja Bagi Suami yang ditinggalkan Istri di Jemaat Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Masalah perceraian dan perpisahan dalam rumah tangga Kristen merupakan realitas pastoral yang semakin kompleks, termasuk fenomena suami yang ditinggalkan oleh istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendampingan pastoral gereja bagi suami yang ditinggalkan oleh istri di Jemaat GMIT Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya (RBD), serta meninjau secara teologis praktik pendampingan pastoral yang telah dilakukan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis-reflektif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan melibatkan pendeta dan rekan majelis jemaat, suami yang ditinggalkan istri, keluarga, serta unsur adat dan pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial-budaya, ekonomi, komunikasi, serta konstruksi maskulinitas patriarkal turut memengaruhi terjadinya perpisahan dan respons suami terhadap pendampingan pastoral gereja. Praktik pendampingan pastoral yang dilakukan gereja selama ini cenderung berfokus pada upaya rekonsiliasi dan penyatuan kembali secara fisik, namun belum sepenuhnya menerapkan fungsi-fungsi pendampingan pastoral secara holistik. Melalui kajian teologi pastoral dengan menggunakan fungsi-fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, penelitian ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menghadirkan pendampingan yang menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara kehidupan suami yang ditinggalkan istri secara menyeluruh. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi teologis dan praktis bagi pengembangan pelayanan pastoral gereja yang lebih kontekstual, inklusif, dan transformatif.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN PASTORAL BAGI PEMUDA Tinjauan Teologi terhadap Peran Gereja bagi Pemuda Burnout di Jemaat GMIT Siloam Battuna, Klasis Amarasi Barat

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan rohani yang dapat dialami oleh pemuda gereja akibat tuntutan pelayanan yang intens serta tekanan pekerjaan dan tanggung jawab kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum Jemaat GMIT Siloam Battuna, mengkaji peran pastoral gereja bagi pemuda yang mengalami burnout, serta menelaah masalah burnout tersebut dari perspektif konseling pastoral. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 103 pemuda yang menjadi responden, terdapat 9 orang pemuda yang mengalami gejala burnout. Gejala tersebut meliputi kelelahan fisik dan emosional, menurunnya semangat dan motivasi dalam pelayanan, kecenderungan menarik diri dari persekutuan, serta gangguan dalam kehidupan sosial dan spiritual. Burnout yang dialami pemuda disebabkan oleh faktor internal, seperti kesulitan mengelola stres dan membagi waktu, serta faktor eksternal, seperti beban pelayanan gereja, tuntutan pekerjaan, dan tekanan ekonomi keluarga. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemuda yang mengalami burnout umumnya belum mendapatkan pendampingan pastoral yang mendalam dan spesifik dari gereja. Analisis pastoral memperlihatkan adanya kesenjangan antara kebutuhan pemuda yang mengalami burnout dengan pelayanan gereja yang tersedia, yang masih bersifat umum. Tinjauan konseling pastoral dan pandangan Alkitab menegaskan bahwa burnout bukanlah kelemahan iman, melainkan kondisi manusiawi yang membutuhkan pemulihan holistik. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk menghadirkan pendampingan pastoral yang empatik, pembinaan spiritual yang seimbang, serta penataan pelayanan yang menghargai keterbatasan manusia demi kesejahteraan pemuda sebagai generasi penerus jemaat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN ORANG TUA TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK GOLDEN AGE : Suatu Tinjauan Pendidikan Agama Kristen Terhadap Peran Orang Tua Bagi Pembentukan Karakter Anak Golden Age (0-6 Tahun) di Jemaat GMIT Batu Karang Nonohonis

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pembentukan karakter anak pada usia Golden Age (0-6 tahun) merupakan tahap yang sangat menentukan bagi perkembangan kepribadian dan iman anak di masa depan. Dalam iman Kristen, orang tua dipahami sebagai pendidik iman pertama dan utama bagi anak. Namun, realitas kehidupan keluarga masa kini menunjukkan adanya berbagai tantangan yang menyebabkan peran orang tua dalam pembentukan karakter anak belum berjalan secara optimal. Berdasarkan konteks tersebut, penelitian ini berfokus pada persoalan bagaimana peran orang tua dalam pembentukan karakter anak Golden Age di Jemaat GMIT Batu Karang Nonohonis, serta bagaimana gereja berperan sebagai mitra keluarga dalam mendukung proses tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peran orang tua dalam pembentukan karakter anak Golden Age berdasarkan perspektif Pendidikan Agama Kristen, mengidentifikasi realitas praktik pengasuhan yang terjadi di jemaat, serta merumuskan refleksi teologis dan implikasi praktis bagi orang tua dan gereja. Penelitian ini juga bertujuan menegaskan kembali pentingnya sinergi antara keluarga dan gereja dalam pembinaan iman dan karakter anak sejak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif-analitis-refleksi. Data diperoleh melalui wawancara dengan orang tua, guru Sekolah Minggu, guru PAUD, dan pengajar program pelayanan anak, serta melalui observasi dan studi kepustakaan yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Kristen. Analisis data dilakukan dengan mengaitkan temuan lapangan dengan landasan teologis Alkitab dan teori Pendidikan Agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua menyadari pentingnya pembentukan karakter anak sejak usia dini, namun keterbatasan waktu, pemahaman yang belum utuh tentang Golden Age, serta kesibukan pekerjaan menyebabkan pembentukan karakter anak belum dilakukan secara konsisten. Gereja telah menjalankan pelayanan anak, tetapi belum sepenuhnya didukung oleh keterlibatan aktif orang tua. Penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan karakter anak Golden Age akan berjalan lebih efektif apabila orang tua menjalankan perannya sebagai pendidik iman utama dan gereja hadir sebagai mitra yang mendampingi keluarga secara berkelanjutan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN PEREMPUAN DALAM GEREJA: "Suatu Kajian Naratif terhadap Teks Kisah Para Rasul 18:24-28 dan Relevansinya bagi Pelayanan Pendeta Perempuan di Jemaat GMIT Hosana Fedok, Klasis Rote Barat".

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Peran perempuan dalam kehidupan dan pelayanan gereja merupakan isu yang terus menjadi bahan refleksi teologis hingga masa kini. Dalam sejarah gereja, kontribusi perempuan sering kali kurang mendapat perhatian yang memadai, terutama dalam konteks kepemimpinan dan pengajaran rohani. Padahal, Alkitab memuat sejumlah narasi yang menunjukkan keterlibatan aktif perempuan dalam pelayanan gereja mula-mula. Salah satu teks yang penting untuk dikaji adalah Kisah Para Rasul 18:24-28, yang menampilkan peran Priskila dalam membimbing Apolos agar memahami ajaran Injil secara lebih utuh. Teks ini memberikan dasar biblis yang kuat untuk melihat perempuan bukan sekadar sebagai pendamping, melainkan sebagai pelayan firman dan pembina iman yang dipercaya Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pesan teologis dari Kisah Para Rasul 18:24-28 melalui pendekatan tafsir naratif, serta menelusuri relevansinya bagi pelayanan pendeta perempuan di Jemaat GMIT Hosana Fedok, Klasis Rote Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yang menekankan analisis naratif terhadap unsur-unsur teks seperti alur cerita, tokoh, latar, dan pesan teologis yang dihasilkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlibatan Priskila dalam pengajaran Apolos menegaskan bahwa otoritas pelayanan dalam gereja tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh panggilan dan perlengkapan dari Allah. Narasi ini memperlihatkan bahwa Allah secara berdaulat memakai perempuan sebagai subjek aktif dalam pelayanan rohani. Temuan ini menjadi sangat relevan dengan konteks Jemaat GMIT Hosana Fedok, di mana pelayanan kependetaan didominasi oleh pendeta perempuan dan telah menjadi bagian alami dari dinamika kehidupan jemaat. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan pendeta perempuan di Jemaat GMIT Hosana Fedok bukanlah penyimpangan dari tatanan gereja, melainkan perwujudan nyata dari prinsip kesetaraan dan kemitraan dalam tubuh Kristus sebagaimana telah dihidupi sejak gereja mula-mula. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya refleksi teologis gereja serta memperkuat pemahaman jemaat tentang peran perempuan dalam pelayanan dan pengajaran iman.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA DIASPORA : DARI GEDUNG KE KEHIDUPAN Suatu Tinjauan Teologis terhadap Pemikiran Y.B. Mangunwijaya tentang Gereja Diaspora dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua, Klasis Kota Kupang Timur.

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kehidupan bergereja di konteks perkotaan kerap dipahami secara sempit sebagai aktivitas yang berpusat pada gedung gereja, liturgi, dan struktur kelembagaan. Cara pandang ini sering kali menutupi realitas sosial yang lebih dalam, khususnya pengalaman kemiskinan struktural yang dialami sebagian anggota jemaat. Penelitian ini berangkat dari persoalan tersebut dengan memfokuskan kajian pada konsep Gereja Diaspora yang dikemukakan oleh Y. B. Mangunwijaya dan implikasinya bagi kehidupan Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua sebagai gereja perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk merefleksikan secara teologis realitas kemiskinan struktural dalam kehidupan jemaat serta menelaah bagaimana pemikiran Gereja Diaspora dapat menjadi kerangka teologis bagi pembaruan pelayanan gereja. Penelitian ini juga bertujuan menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk hadir bukan semata sebagai organisasi religius, melainkan sebagai organisme iman yang hidup, bertumbuh, dan berpihak pada kehidupan umat yang rentan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis dan refleksi teologis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya Y. B. Mangunwijaya, kajian Alkitab, serta analisis kontekstual berdasarkan data sosial dan pekerjaan Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan kritis atas realitas jemaat sebagai “tanda-tanda zaman” yang menantang gereja untuk merefleksikan kembali identitas dan panggilannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan yang dialami sebagian jemaat GMIT Kaisarea merupakan bentuk kemiskinan struktural yang tidak dapat direduksi sebagai persoalan individual. Dalam terang pemikiran Mangunwijaya, kemiskinan tersebut menjadi locus teologis yang menguji kesetiaan iman dan kesaksian gereja. Konsep Gereja Diaspora menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk bergerak dari pemusatan pada gedung menuju kehadiran nyata dalam kehidupan umat. Dengan demikian, GMIT Kaisarea dipahami sebagai “Kebun Anggur Tuhan yang Berbunga,” yakni komunitas iman yang merawat keberagaman, memperjuangkan martabat manusia, dan menghadirkan Injil sebagai daya yang membebaskan di tengah realitas perkotaan yang timpang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SPIRITUALITAS KOTA Suatu Tinjauan Teologi terhadap Pemikiran Spiritualitas Kota Menurut Philip Sheldrake dan Relevansinya bagi GKS Jemaat Manubara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kehidupan perkotaan ditandai oleh dinamika sosial yang kompleks, keberagaman latar belakang manusia, serta tekanan ekonomi dan budaya yang kuat. Realitas ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi juga dapat membentuk spiritualitas umat beriman yang hidup di dalamnya. Skripsi ini mengkaji pemikiran spiritualitas kota menurut Philip Sheldrake dan penulis merefleksikan relevansinya bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang hidup dalam konteks perkotaan di Kota Waingapu. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana kota dapat dipahami sebagai ruang teologis dan spiritual, serta bagaimana pemikiran Sheldrake dapat menolong gereja membangun spiritualitas jemaat di tengah tantangan kehidupan kota.Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pemikiran Philip Sheldrake mengenai spiritualitas kota, untuk menganalisis kota sebagai ruang relasional dan ruang publik teologis, serta untuk menemukan relevansi nilai-nilai spiritualitas kota tersebut bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang didominasi oleh jemaat pendatang dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh dan kajian kepustakaan, yang dilengkapi dengan penelitian lapangan melalui wawancara. Kajian kepustakaan digunakan untuk menelaah pemikiran Sheldrake, sementara data lapangan digunakan untuk memahami realitas konkret kehidupan jemaat Manubara dalam konteks perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Philip Sheldrake, kota bukan sekadar ruang geografis atau material, melainkan ruang relasional yang membentuk identitas, iman, dan spiritualitas manusia. Kota memiliki potensi besar sebagai ruang pembentukan komunitas iman yang inklusif, tetapi juga mengandung risiko individualisme dan keterasingan. Dalam konteks GKS Jemaat Manubara, tekanan ekonomi, kesibukan kerja, dan perbedaan latar belakang sering kali melemahkan relasi antarjemaat yang menjadi bentuk dari praktik spiritualitas. Oleh karena itu, pemikiran Sheldrake relevan untuk menolong gereja memaknai kota sebagai ruang panggilan iman, tempat spiritualitas jemaat bertumbuh melalui relasi, solidaritas, dan kesaksian hidup di tengah kehidupan kota.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail