ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Persepsi Jemaat Terhadap Manfaat dan Kelemahan Persekutuan Doa Di Jemaat GMIT Bet’el Oesapa Tengah Tahun 2023 Kaka, A .)* Metboki, M.)** Pabala, P.)*** ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan bagaimana persepsi Jemaat terhadap Manfaat dan Kelemahan Persekutuan doa di Jemaat GMIT Bet’el Oesapa Tengah. Dengan tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi jemaat terhadap manfaat dan kelemahan persekutuan doa, Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu penulis menggambarkan persepsi jemaat terhadap Persekutuan Doa ditengah-tengah kehidupan jemaat. Yang menjadi informan dalam penelitian ini ialah seluruh jemaat GMIT Bet’el Oesapa Tengah yang berjumlah 3061 orang. Dalam penentuan jumlah responden penulis menggunakan teknik snowball sampling, yaitu sampai pada titik kejenuhan data, maka penulis dapat mewawancarai jumlah responden yaitu 34 orang.Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah wawancara, yakni penulis melakukan wawancara langsung dengan responden tentang apa yang mereka ketahui dari Persekutuan Doa. Dari data yang terkumpul penulis, melakukan analisis data dengan teknik deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dengan wawancara 34 orang jemaat maka dari hasil wawancara, penulis mengetahui Jemaat memahami arti persekutuan doa sebagai tempat atau wadah bagi orang-orang yang percaya kepada Kristus dengan tujuan untuk berkumpul bersama memuji Tuhan, mendengarkan firman Tuhan, saling mendoakan satu sama lain, dan memberikan kesaksian tentang perbuatan Tuhan yang ajaib dalam kehidupan. Dengan manfaat untuk belajar menafsirkan firman Tuhan dan berdoa. Kelemahan persekutuan doa diantaranya ialah, kesombongan rohani, pelayanan untuk mengejar materi, persepuluhan tidak diberikan kepada Gereja, dalam ibadat kurang melibatkan kehadiran Pendeta dan nyanyian pujian yang digunakan menghilangkan kekhasan GMIT dengan lebih fokus pada nyanyian pop rohani dibandingkan KJ,PKJ dan NKB. Kesimpulannya, Manfaat dari Persekutuan doa adalah untuk menumbuhkan iman setiap anggota jemaat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan melibatkan diri dalam pelayanan bersama orang-orang percaya , untuk saling mendukung dalam iman, kelemahan ialah kesombongan rohani bagi hamba Tuhan yang menerima karunia dari Allah, meremehkan aturan-aturan tata tertib organisasi Gereja, Alkitab dipakai untuk membenarkan pendapat, ajaran atau sikap yang dianut, dan adanya kesalahpahaman dan penyalagunaan karunia-karunia roh. Bagi pihak Gereja agar memberikan pemahaman kepada seluruh anggota jemaat agar turut mengambil bagian dalam ibadat persekutuan doa dengan baik tanpa membuat sesuatu hal baru yang tidak diinginkan oleh gereja. Bagi pihak persekutuan doa terus menjadi berkat bagi sesama dalam hal pengajaran firman Tuhan, saling mendukung dan menguatkan dalam doa dan kesaksian nyata sehingga membawa perubahan hidup bagi orang lain. Bagi pihak jemaat, agar dengan sungguh-sungguh mengikuti palayanan dalam persekutuan doa, yang juga merupakan wadah untuk membimbing jemaat untuk bertumbuh dalam iman yang teguh kepada Tuhan dan lebih lagi dekat kepada Tuhan sebagai juruselamat dalam kehidupan setiap orang percaya Kata kunci : Jemaat, Persekutuan Doa, manfaat dan kelemahan persekutuan doa. * Mahasiswa ** Dosen Pembimbing *** Dosen Pembimbing II
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
INTISARI
Judul Skripsi Penulis adalah : Disparitas Putusan Hakim Dalam Sengketa Akta Pendirian CV. Rumusan masalah yang penulis kaji adalah Mengapa Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung dalam Kasasi menjatuhkan putusan mengabulkan gugatan penggugat sedangkan Pengadilan Tinggi menjatuhkan putusan Menolak Gugatan Penggugat. Tujuan yang ingin Penulis kaji adalah: Untuk Mengetahuhi Alasan Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri dan Mahkamah Agung dalam Kasasi menjatuhkan putusan mengabulkan gugatan penggugat sedangkan Pengadilan Tinggi menjatuhkan putusan Menolak Gugatan Penggugat. Jenis metode Penelitian yang penulis gunakan adalah jenis penelitian Normatif dan sifat penelitian adalah bersifat deskriptif yakni penulis akan memaparkan secara lengkap,rinci,jelas dan sistematis hasil dalam bentuk karya ilmiah Bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum Primer yang terdiri dari Putusan Hakim serta Peraturan perundang-undangan,traktat,kaidah dasar atau norma serta peraturan dasar.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan dimana diperoleh informasi dari putusan pengadilan. Analisis Data yang digunakan adalah menggunakan analisis secara kualitatif yaitu analisis yang bersifat deskriptif .
Berdasarkan Hasil penelitian yang penulis lakukan maka yang menjadi kesimpulan sesuai masalah yang penulis kaji yaitu Alasan Hakim Pengadilan Negeri dan Hakim Mahkamah Agung mengabulkan gugatan penggugat antara lain :
1. Gugatan penggugat sempurna.
2. Hakim Pengadilan Tinggi keliru atau salah dalam menerapkan Hukum.
Penulis menyimpulkan bahwa terdapat alasan-alasan putusan hakim Pengadilan Negeri dan Hakim Mahkamah Agung mengabulkan Gugatan Penggugat Sedangkan Pengadilan Tinggi Menjatuhkan Putusan Gugatan Tidak Dapat Diterima antara lain:
1. Hakim Pengadilan Negeri dan Hakim Mahkamah Agung mengabulkan gugatan penggugat:
a. Gugatan Penggugat Sempurna.
b. Hakim Pengadilan Tinggi keliru atau salah dalam menerapkan Hukum.
2. Hakim Pengadilan Tinggi Menolak Gugatan Penggugat karena :
a. Gugatan Penggugat Cacat Formil.
Kata Kunci : Perbedaan Putusan, Sengketa Akta Pendiriam Persekutuan Komanditer (CV).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelaksanaan ibadah di rumah memang menimbulkan banyak pendapat. Ada yang setuju pada pelaksanaan ibadah rumah dengan alasan bahwa karena pandemik maka ibadah rumah adalah alternatifnya. Tetapi, sedikit juga yang enggan melaksanakan ibadah rumah oleh karena alasan bahwa selama ini ibadah dilakukan bersama, dan karena itu persoalan memimpin ibadah belum fasih mereka lakukan. Berangkat dari paradoks pandangan ini maka tulisan ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana ibadah rumah itu memberi sumbangsih pada pertumbuhan iman jemaat. Untuk bisa menyelesaikan tulisan ini, maka metode yang dipilih untuk dipakai kalah metode kualitatif dengan memadukan antara penelitian pustaka dan penelitian lapangan. Penelitian dimaksudkan untuk mendapatkan data langsung dari jemaat dan setelah itu, data tersebut dielaborasi dengan teori yang dipakai untuk bisa menghasilkan karya tulis ini.
Ibadah merupakan suatu wujud ketaatan orang percaya kepada Allah dan syukur orang percaya atas apa yang ditetapkan sebagai suatu keharusan untuk pertumbuhan rohani dan untuk berbakti kepada Allah, sebagai umat kepunyaan-Nya. Pelaksanaan ibadah di rumah dapat dipahami oleh adanya kegiatan peribadahan yang dilakukan oleh anggota keluarga yang ruang ibadahnya itu dipusatkan di rumah.
Akhirnya, melalui pelaksanaan ibadah di rumah sangat diharapkan agar ibadah tersebut bisa menumbuhkan relasi yang akrab di antara sesama anggota keluarga dan terutama bersama Allah dalam ibadah. Pelaksanaan ibadah rumah juga sebenarnya sudah ada baik pada masa Israel maupun pada masa pelayanannya Yesus dan murid-murid. Teks-teks yang mendukung hal ini bisa dilihat dalam Ulangan 6:6-7 Kejadian 12:8 dan Kisah Para Rasul 2:41-47.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji praktik panen padi di Jemaat GMIT Imanuel Manefu sebagai ruang
hidup teologis yang mengintegrasikan tradisi budaya lokal dengan iman Kristen. Praktik
panen padi tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas agraris, melainkan sebagai praktik
komunal dan spiritual yang berfungsi membentuk identitas, relasi sosial, serta penghayatan
iman jemaat secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
perkembangan praktik panen padi dari masa sebelum Kristen, masa sesudah Kristen, hingga
masa kini, sekaligus menganalisis nilai, makna, dan tema teologis yang terkandung di
dalamnya. Penelitian ini juga menelaah implikasi praktik tersebut bagi persekutuan Jemaat
GMIT Imanuel Manefu, terutama dalam menghadapi tantangan relasi persaudaraan akibat
konflik sosial, seperti perebutan tanah warisan. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif
dengan metode deskriptif-analitis, menggunakan wawancara mendalam dan studi pustaka
sebagai sumber data utama, kemudian dianalisis melalui kerangka Teologi Kontekstual
Model Sintesis karya Stephen B. Bevans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik panen
padi di Manefu mengalami transformasi dalam bentuk kerja dan teknis pelaksanaan akibat
pengaruh modernisasi yang bisa saja menggeser nilai-nilai inti Kristen yang terkandung
dalam praktik tersebut seperti nilai persekutuan, kasih, persaudaraan, gotong royong, dan
pemberian diri tanpa pamrih tetap terpelihara. Praktik panen padi dimaknai sebagai ritus
syukur kepada Tuhan, peneguh identitas budaya jemaat, sarana penguatan relasi sosial, dan
media pembentukan etos kerja yang bertanggung jawab. Refleksi teologis menegaskan bahwa
praktik panen padi merupakan wujud teologi hidup yang kontekstual, di mana kerja dipahami
sebagai bentuk ibadah, tanah sebagai anugerah Tuhan, dan tindakan berbagi sebagai
kesaksian iman. Dalam konteks konflik warisan yang mengancam persatuan jemaat, praktik
panen padi berpotensi menjadi ruang rekonsiliatif sekaligus pedagogi iman yang meneguhkan
persekutuan sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, pemeliharaan dan pengembangan praktik
ini menjadi penting sebagai media pewartaan Injil dan pembentukan spiritualitas komunal
jemaat di tengah dinamika sosial dan perubahan zaman
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan jemaat GMIT Pniel Sikumana yang menghadapi tantangan dalam membangun persekutuan antargenerasi. Pembagian pelayanan ke dalam Unit Pembantu Pelayanan (UPP) dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan kategorial jemaat, namun dalam praktiknya kerap memunculkan jarak relasional, minimnya interaksi lintas generasi, serta kecenderungan pelayanan yang berjalan secara terpisah. Kondisi ini menimbulkan persoalan teologis mengenai sejauh mana gereja sungguh menghidupi koinonia sebagai persekutuan yang mencerminkan identitas gereja sebagai keluarga Allah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman dan pemaknaan warga jemaat GMIT Pniel Sikumana terhadap kehidupan persekutuan antargenerasi, serta merefleksikannya dalam terang teologi gereja sebagai rumah iman (homemaking) guna merumuskan implikasi teologis bagi kehidupan bergereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Metode ini dipilih untuk menaruh perhatian pada pengalaman hidup dan pemaknaan subjek penelitian terhadap realitas persekutuan jemaat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam (in-depth interview), dan studi dokumen terhadap dokumen gereja serta literatur yang relevan. Lokus penelitian adalah Jemaat GMIT Pniel Sikumana, Klasis Kota Kupang Barat. Informan berjumlah delapan orang yang dipilih melalui purposive sampling, terdiri dari pendeta, unsur kategorial jemaat, pengajar PART, dan lansia. Metode penulisan yang digunakan bersifat deskriptif, analitis, dan reflektif, dengan memanfaatkan kerangka teologis homemaking dari Elizabeth Caldwell sebagai alat analisis. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa kehidupan persekutuan jemaat masih menghadapi tantangan relasional antargenerasi, namun sekaligus menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Pendekatan homemaking menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi rumah bersama yang aman, inklusif, dan relasional, di mana setiap generasi hadir sebagai subjek yang saling membangun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa homemaking merupakan pendekatan teologis yang relevan untuk memperkuat koinonia dan memperkaya praksis kehidupan bergereja di GMIT Pniel Sikumana.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertolak dari realitas bahwa persekutuan jemaat sering kali dihadapkan pada persoalan ketidakharmonisan, konflik internal, dan kepentingan pribadi, seperti yang terjadi di Jemaat GMIT Bukit Kasih Baumata Barat. Kondisi ini menunjukkan perlunya pemaknaan kembali atas nilai-nilai persekutuan Kristen yang sejati sebagaimana diajarkan dalam Filipi 2:1-11. Dalam perikop ini, Rasul Paulus menasihatkan jemaat untuk hidup sehati sepikir, dalam kasih, kerendahan hati, dan tidak mementingkan diri sendiri, dengan menjadikan Kristus sebagai teladan utama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami konteks historis dan teologis dari teks Filipi 2:1-11, menggali kerygma yang terkandung di dalamnya, serta merumuskan implikasi teologis dan praktis bagi persekutuan jemaat GMIT Bukit Kasih. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis reflektif dengan pendekatan historis kritis serta studi pustaka yang diperkuat dengan data wawancara lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerygma utama dari Filipi 2:1-11 adalah panggilan kepada jemaat untuk merendahkan hati, menjadikan Kristus teladan utama dalam mewujudkan persekutuan, dan ketaatan dalam Kristus sebagai dasar persekutuan. Implikasi dari kerygma ini menegaskan bahwa persekutuan kristen harus dibangun atas dasar kasih, kerendahan hati, dan kesediaan untuk melayani, bukan atas dasar kepentingan pribadi atau status sosial.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peran Persekutuan Doa Keluarga Mezbah terhadap kehidupan jemaat di GMIT Betesda Kiukenat, dengan fokus pada dampak negatif berupa penolakan terhadap pendeta sebagai Ketua Majelis Jemaat (KMJ). Penelitian ini menggunakan pendekatan “Mix Methods”, yaitu gabungan metode kualitatif dan kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner, observasi partisipatif, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Persekutuan Doa Keluarga Mezbah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan rohani jemaat. Di satu sisi, persekutuan ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan spiritualitas dan kebersamaan jemaat. Namun di sisi lain, muncul pengaruh negatif berupa penolakan terhadap pendeta sebagai KMJ, yang menunjukkan adanya penyimpangan fungsi persekutuan doa dari tujuan utamanya. Refleksi teologis dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelayanan di GMIT Betesda Kiukenat mencerminkan semangat jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul yang hidup dalam doa, kebersamaan, dan kasih. Namun, dalam kerangka gereja Presbiterian Sinodal GMIT, kehadiran pendeta tetap merupakan bagian penting untuk menjaga kemurnian ajaran dan kesinambungan pelayanan. Oleh karena itu, Sinode dan Klasis diharapkan dapat menjadi jembatan pemulih hubungan dan membuka ruang dialog demi memperkuat spiritualitas komunitas dalam semangat gereja yang satu, kudus, am, dan rasuli. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan refleksi bagi GMIT Betesda Kiukenat, agar kehidupan jemaat mula-mula menjadi cermin dan pedoman, khususnya bagi Persekutuan Doa Keluarga Mezbah, supaya kembali pada fungsi semula sebagai sarana pertumbuhan iman. Dengan demikian, persekutuan doa tidak menjadi alat pembentukan kekuasaan, tetapi menjadi wadah yang membangun kesatuan dan ketaatan dalam tubuh Kristus, serta mendorong jemaat menjadi komunitas yang inklusif, terutama dalam menerima pelayanan pendeta sebagai KMJ.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berjudul GEREJA DAN PERSEKUTUAN JEMAAT “Suatu Tinjauan Pastoral terhadap Peran Gereja Laharoi Danalon Menyikapi Persoalan Perpindahan Jemaat dan Implikasinya bagi Persekutuan Mata Jemaat Laharoi Danalon Klasis Rote Timur.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh persoalan perpindahan jemaat yang tidak hanya berdampak pada penurunan keanggotaan, tetapi juga merusak keutuhan persekutuan dan menunjukkan lemahnya peran pastoral gereja. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau peran gereja dalam menyikapi persoalan perpindahan jemaat serta implikasinya bagi kehidupan persekutuan jemaat. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan teologi pastoral dari Howard Clinebell yang menekankan lima fungsi pelayanan pastoral: menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpindahan jemaat di Mata Jemaat Laharoi Danalon disebabkan oleh konflik antara jemaat dan majelis yang tidak ditangani secara pastoral. Gereja tidak hadir secara aktif dalam proses mediasi maupun pemulihan, sehingga relasi jemaat menjadi retak dan persekutuan terganggu. Fungsi-fungsi pastoral belum dijalankan secara maksimal, baik oleh pendeta maupun majelis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pentingnya gereja membangun pelayanan pastoral yang kontekstual dan transformatif. Gereja harus hadir sebagai komunitas yang merangkul dan menyembuhkan, serta aktif menjaga keutuhan tubuh Kristus di tengah konflik dan perubahan zaman.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengangkat tarian Tebe sebagai objek kajian teologi kontekstual dalam kehidupan bergereja Jemaat GMIT Imanuel Maktihan, Klasis Malaka. Di tengah arus modernisasi dan meningkatnya sikap individualisme dalam kehidupan jemaat, tarian Tebe hadir sebagai media budaya lokal yang memiliki daya integratif, memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan persekutuan dalam komunitas Kristen. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif, penelitian ini menggali makna spiritual dan sosial dari tarian Tebe melalui observasi, wawancara, serta studi pustaka dan dokumentasi. Teori teologi kontekstual Stephen B. Bevans menjadi landasan utama dalam menafsirkan hubungan antara budaya lokal dan ekspresi iman Kristen dalam liturgi dan kehidupan bergereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian Tebe tidak hanya merupakan warisan budaya masyarakat Tetun di Malaka, tetapi juga telah diadopsi secara kreatif dalam berbagai bentuk ibadah dan perayaan gerejawi di GMIT Imanuel Maktihan. Gerakan ritmis dan pantun dalam Tebe yang dilakukan dalam formasi lingkaran mencerminkan makna kolektif, solidaritas, serta penghormatan terhadap sejarah dan spiritualitas lokal. Melalui penerapan Tebe dalam kehidupan liturgis, gereja berhasil menjembatani kesenjangan antara ekspresi iman dan konteks budaya masyarakatnya.Tarian Tebe dipahami sebagai respons iman yang kontekstual terhadap krisis persekutuan akibat meningkatnya individualisme dalam jemaat. Dalam praktiknya, Tebe menjadi sarana profetik yang mengembalikan kesadaran umat akan pentingnya relasi sosial yang saling menopang. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa budaya lokal seperti Tebe dapat menjadi wahana penyalur pesan teologis yang transformatif, membentuk spiritualitas yang membumi dan relevan dalam konteks kehidupan bergereja di tengah masyarakat yang terus berubah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi berjudul ―Persekutuan Doa Yang Berdiakonia: Tinjauan Pembangunan Jemaat Terhadap Pelayanan
Diakonia Oleh Persekutuan Doa Efraim Soe Dan Implikasinya Di Jemaat GMIT Efata Soe‖. Masalah yang
digumuli dalam penelitian ini tentang Persekutuan Doa Efraim di Jemaat GMIT Efata Soe yang melakukan
pelayanan diakonia, namun pelayanan ini lebih fokus pada aktivitas karitatif, bersifat spontan dan tanpa
perencanaan yang matang, hanya mampu memenuhi kebutuhan sesaat, sehingga banyak aspek penting dalam
pelayanan diakonia yang belum terjangkau. Tujuan dari penelitian ini yakni penulis hendak mengetahui peran
dan dampak pelayanan diakonia oleh Persekutuan Doa Efraim. Penelitian di Persekutuan Doa Efraim Soe
menggunakan metode penelitian kualitatif dan dokumentasi dengan teknik observasi partisipatif, wawancara
dan dokumentasi. Metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode
penulisannya yakni deskriptif, analisis dan reflektif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelayanan hanya
memfokuskan perhatian pada bantuan barang habis pakai dan tidak menyentuh akar masalah dan juga harapan
terhadap bantuan yang holistik. Hal ini disebabkan oleh pelayanan yang bersifat spontan dan tanpa
perencanaan yang matang. Pelayanan diakonia yang benar adalah pelayanan yang berdasarkan pada kasih
Allah, diakonia perlu dimaknai sebagai pelayanan yang holistik dan mewujudkan pembangunan jemaat sebagai
tujuan pelayanan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan teologi terkait
makna diakonia sebagai wujud pembangunan jemaat serta memberi sumbagsih praktis kepada gereja (anggota
persekutuan doa) dan masyarakat tentang pentingnya peran dan dampak diakonia bagi kehidupan masa kini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesalehan merupakan ketaatan atau kepatuhan dalam menjalankan ibadah, serta kesungguhan dalam menunaikan ajaran agama. Kesalehan mengacu pada sifat atau keadaan seseorang yang menunjukkan ketaatan kepada Tuhan, kejujuran, dan kebaikan moral dalam hidup sehari-hari. Jemaat GMIT Sion Oepura sedang bergumul dengan banyak kemerosotan moral dan berbagai pengaruh modernisme, hal ini menjadi pergumulan gereja untuk mempertahankan eksistensinya. Oleh karena itu, praktik kesalehan sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan gereja masa kini. Tulisan ini memaparkan tentang pentingnya memelihara kesalehan hidup. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui dampak kesalehan hidup yang dilakukan oleh Anggota Persekutuan Doa, kemudian penulis juga hendak mengetahui model kesalehan seperti apa yang dihidupi oleh anggota Persekutuan Doa. Penelitian di Jemaat GMIT Sion Oepura menggunakan metode penelitian kualitatif dan dokumentasi dengan teknik observasi partisipatif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis dan reflekif. Berdasarkan hasil analisis menurut teori Calvin, Penulis menemukan bahwa anggota Persekutuan Doa di Jemaat GMIT Sion Oepura lebih menekankan pada model kesalehan pribadi. Hal ini disebabkan oleh ciri-ciri kesalehan yang dihidupi memiliki kesamaan dengan ciri pietisme yang menekankan spiritualitas pribadi. Selain itu, terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pemahaman anggota Persekutuan Doa. Pemahaman kesalehan yang benar adalah bagaimana memiliki kesalehan sejati, pembaharuan hidup dan penerapan kesalehan sosial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan teologi tentang pemahaman makna kesalehan hidup serta memberi sumbangsih praktis kepada gereja dan masyarakat mengenai pentingnya praktik kesalehan hidup.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Persekutuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan gereja, karena merupakan inti dari gereja itu. Namun dalam kehidupan gereja saat ini sering kali persekutuan dalam gereja diperhadapkan pada persoalan baik itu antar anggota gereja dan pengaruh tantangan globalisasi yang membuat gereja benar-benar harus menemukan pemahaman yang benar tentang dirinya. Jemaat GMIT Syalom Tunggaoen sendiri sedang diperhadapkan pada persoalan persekutuan dalam gereja di mana adanya gereja marga sangat kuat dan mempengaruhi persekutuan jemaat. Gambaran ini menunjukkan bahwa persekutuan yang ada di jemaat Syalom Tunggaoen ini sedang diperhadapkan pada persoalan. Jemaat sendiri membangun gedung gereja model kapal yang tentunya mempunyai sebuah makna teologis yang kemudian akan membuat jemaat memahami dan menemukan pemahaman gereja yang benar dalam persekutuan jemaat. Tujuan penelitian ini yakni untuk menemukan makna teologis dari gereja model kapal kemudian dikaji secara eklesiologis berdasarkan pendekatan model gereja sebagai tubuh Kristus yang dikemukakan oleh Yohanes Calvin dan implikasinya bagi persekutuan jemaat dan gereja masa kini. Penelitian di jemaat GMIT Syalom Tunggaoen menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi partisipatif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisan yang digunakan yakni deskriptif, analisis dan reflektif. Berdasarkan analisis, menurut teori Yohanes Calvin penulis menemukan bahwa makna gereja model kapal di jemaat GMIT Syalom Tunggaoen dengan tiga poin penting yang menjadi refleksi yakni Kristus Sebagai Nakhoda, terdiri dari jemaat yang sedang dalam pelayaran, dan orang-orang percaya yang diselamatkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berfokus pada pemahaman jemaat GMIT Galed Mbadokai tentang Lamatuak. Lamatuak dalam pemahaman jemaat masa kini merupakan bagian integral dari kehidupan spiritual setiap jemaat yang dipercaya sebagai Allah yang memberikan kehidupan bagi setiap jemaat bahkan semua manusia yang hidup di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman jemaat secara teologi feminis tentang Lamatuak untuk menemukan dan menggali pemahaman jemaat mengenai Lamatuak serta memberikan implikasinya bagi persekutuan Jemaat GMIT Galed Mbadokai. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan lapangan dan kepustakaan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan studi literatur dengan 23 informan yang terdiri dari pendeta, majelis jemaat, anggota jemaat dan tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jemaat GMIT Galed Mbadokai mengakui Lamatuak sebagai Allah yang sama di dalam kekristenan, gambaran jemaat tentang Lamatuak dalam budaya dan keagamaan adalah seorang laki-laki dan bukan perempuan, namun jemaat tidak menyadari bahwa dalam pengungkapan mereka ada sisi-sisi feminin Allah yang diungkapkan dalam konsep mereka terhadap Lamatuak. Penilitian ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara konsep yang dianut oleh jemaat dan praktik mereka tentang paham konsep terhadap Lamatuak. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan refleksi teologi feminis tentang bagaimana Lamatuak dapat dipandang sebagai Allah yang setara, juga mengungkapkan bahwa sifat Lamatuak sebagai Allah yang merangkul semua gender dan yang terakhir Lamatuak sebagai konsep Allah yang setara. Implikasi dari temuan ini diharapkan dapat memberi wawasan baru terhadap pemahaman jemaat tentang Lamatuak yang tidak terbatas gender serta memperjuangkan kesetaraan perempuan dalam budaya yang dimunculkan dari konsep kepercayaan yang dianut oleh jemaat yang disebut sebagai Lamatuak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Tokang Tomal
Suatu Tinjauan Studi Perdamaian Terhadap Tradisi Tokang Tomal Sebagai Media Resolusi Konflik Menurut Ralf Dahrendrof dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Elohim Bukapiting, Klasis Alor Timur Laut
[email protected]
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji secara ilmiah terhadap tradisi Tokang Tomal yang ada di jemaat Elohim Bukapiting khususnya desa Bukapiting kabupaten Alor. Tradisi Tokang Tomal merupakan tradisi atau budaya yang diwarisi oleh nenek moyang orang Bukapiting sejak zaman dahulu, dan terus dipelihara oleh Jemaat GMIT Elohim Bukapiting. Tradisi Tokang Tomal dilakukan sebagai penyelesaian masalah dalam jemaat. Kata Tokang Tomal berasal dari bahasa Kamang yaitu Tokang yang berarti baik. Sedangkan Tomal yang artinya enak. Kedua kata ini memilik banyak arti sesuai situasi yang sesuai dengan perilaku dan kondisi tempat.Tokang Tomal merupakan jalan tengah untuk penyelesaian masalah dalam masyarakat dan menjadi media utama dengan mengadirkan tokoh-tokoh adat, pemerintah, keluarga terkait dan pohon pelepas. Tradisi ini akan dikaji dengan menggunakan teori resolusi konflik Ralf dahrendrof yang mengatakan bahwa dalam masyarakat memiliki dua wajah yaitu konflik dan konsensus. Konflik dalam masyarakat tidak bisa dihindari bahkan gereja sebagai miniatur Allahpun tidak bisa menghindari konflik. Hasil dari penelitian ini penulis melihat bahwa jemaat Bukapiting memelihara tradisi Tokang Tomal sebagai salah satu cara mengatasi dan mengantisipasi konflik. melalui tradisi Tokang Tomal membantu penulis untuk mengenal tradisi Tokang Tomal yang memiliki nilai-nilai yang dapat digunakan dalam lingkup bergereja dan bermasyarakat yakni dialog, keterbukaan dan saling menghargai. Perdamaian merupakan suatu keadaan yang telah diprakarsai oleh Allah sendiri, sehingga manusia perlu untuk secara bersama-sama memaknai perdamaian sebagai suatu yang perlu dijaga dan dipelihara dalam kehidupan bersama dengan orang lain maupun dengan sesama ciptaan. konflik hanyalah salah satu alat yang diberikan Allah untuk menguji sejauh mana seseorang dapat menyatakan kasih bagi Allah melalui sesama dan mempertunjukan kuasa Allah atas hidup setiap umatnya. Melalui tradisi Tokang tomal haruslah saling rukun dan mencintai perdamaian, damai yang diberikan sekiranya memberikan ruang bagi kehidupan yang lebih baik dan lebih mempererat solidaritas yang dibangun bersama.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Persekutuan Marga merupakan kumpulan suatu kelompok orang menurut satu garis keturunan dan berasal dari satu rahim. Persekutuan tidak hanya ada dalam lingkup keluarga tetapi juga persekutuan ada dalam lingkup gereja yang mana terdiri dari banyak orang dan berasal dari latar belakang yang berbeda. Jemaat GMIT Fatu Sion Kabuka ada dalam konteks ikatan keluarga yang sangat kuat dalam persekutuan gereja hingga menimbulkan dampak yang postif dalam pelayanan dan juga menimbulkan dampak negatif yaitu terjadi perpecahan. Metode penulisan yang digunakan adalah metode kualitatif, yakni mengumpulkan data-data dengan menggunakan wawancara. Sampel yang digunakan oleh penulis adalah orang-orang yang ada dalam persekutuan jemaat GMIT Fatu Sion Kabuka dan juga yang terlibat langsung dalam sejarah pembentukan Jemaat GMIT Fatu Sion Kabuka. Hasil penelitian yang Penulis temukan adalah kehidupan pelayanan persekutuan jemaat GMIT Fatu Sion Kabuka yang terikat dengan hubungan kekeluargaan sehingga dalam proses persekutuan pelayanan gereja Fatu Sion kabuka terjadi perpecahan tetapi juga pelayanan tertolong dengan baik oleh karena ikatan kekeluargaan yang kuat.
Dalam persekutuan marga di jemaat GMIT Fatu Sion Kabuka dipengaruhi oleh beb erapa faktor yaitu faktor budaya, faktor pendidikan, faktor ekonomi, faktor stratifikansi sosial dan faktor letak tempat yang jauh dari perkotaan.
Ada beberapa nilai-nilai refleksi dari persekutuan marga jemaat GMIT Fatu Sion Kabuka yaitu, sukacita persekutuan Kristen, pengurbanan persekutuan Kristen Dan kemitraan persekutuan Kristen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Gereja adalah orang-orang beriman yang dipanggil dan dikumpulkan. Panggilan itu dilakukan oleh Allah sendiri. Dalam kaitan dengan bersekutu maka gereja adalah persekutuan orang percaya yang diutus untuk mengantar keselamatan Allah kepada seluruh dunia. sebagai persekutuan orang-orang pilihan Allah yang terpanggil tidak hanya menerima warisan yang sama yaitu hidup yang kekal tetapi juga untuk memasuki persekutuan dengan satu Allah dan satu Kristus. Persekutuan sendiri tidak jauh berbeda dengan gereja namun penulis lebih menggunakan kata persekutuan karena kata persekutuan lebih sering dijumpai dalam suatu tempat yang kita kenal dengan jemaat. Pemahaman mengenai persekutuan juga muncul secara beragama. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yang berorientasi pada penelitian lapangan. Penulis berusaha mencari pemahaman tentang persekutuan dari anggota jemaat dan majelis. Pada prinsipnya persekutuan mengandung makna dan prinsip yaitu sebagai, yaitu persekutuan dengan Allah dan persekutuan dengan sesama manusia. Persekutuan terjadi karena adanya tujuan yang sama, rasa kekeluargaan, membentuk pengalaman berorganisasi, wadah untuk beribadah dan tempat membangun relasi. Adapun faktor yang mempengaruhi pemahaman jemaat yakni faktor budaya, kekeluargaan, pendidikan dan pengalaman serta konflik. Dalam penulisan ditemukan beberapa nilai-nilai yang penulis akan paparkan yakni persekutuan sebagai komunitas berbagi, persekutuan sebagai komunitas yang menyembuhkan dan persekutuan sebagai komunitas persahabatan. Implikasi dari tulisan ini adalah bagi pelayanan jemaat dan relasi dengan masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Misi gereja adalah panggilan dari Allah kepada gereja sebagai perpanjangan tangan Allah untuk menghadirkan kerajaan Allah. Gereja adalah Tubuh Kristus, umat Allah dan persekutuan orang percaya. Gereja juga adalah lembaga yang berperan sebagai sarana penginjilan, pengajaran, pendidikan dan pemuridan. Gereja memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menghadirkan kasih Allah dimuka bumi, salah satunya melalui bidang pendidikan. Dalam misinya di dunia, gereja memiliki tugas panggilan dalam bidang pendidikan. Howard G Hendricks mengatakan gereja mesti melakukan pendidikan. Itu bukanlah sebuah pilihan melainkan suatu yang esensial; bukan hanya sekadar karena baik tetapi juga karena ia amat penting. Gereja yang berhenti melayankan pendidikan, ia telah berhenti sebagai sebuah gereja. Terkait dengan masalah yang terjadi di SD GMIT Fami Tulleng, tentang kurangnya tenaga pendidik, sarana-prasarana yang kurang layak, tunjangan bagi guru-guru honorer yang terbatas dan seadanya, maka melalui penelitian yang dilakukan, penulis ingin mengetahui bagaimana peran Mata Jemaat GMIT Getsemani Kolang terkaitdengan keadaan SD GMIT Fami Tulleng. Berdasarkan hasil penelitian, penulisan menemukan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi masalah yang penulis sebutkan di atas. Faktor-faktor tersebut antara lain: Kepedulian jemaat terhadap guru honorer dan kesadaran jemaat akan pentingnya pendidikan pada anak. Metode yang penulis pakai untuk memperoleh informasi mengenai kajian tersebut adalah metode penelitian kualitatif. Metode ini bertujuan untuk menyediakan alat-alat dalam memahami arti yang mendalam berkaitan dengan fenomena yang kompleks dan prosesnya dalam praktek kehidupan sosial. Dalam teks Kisah Para Rasul 2:41-47, kehidupan jemaat mula-mula hidup dalam kebersamaan sebagai bentuk persekutuan keluarga Allah untuk saling menopang dalam setiap permasalahan yang ada.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Masa remaja adalah masa dimana seorang anak mulai mencari identitas dirinya. Remaja yang dalam proses pencarian jati dirinya memerlukan wadah sebuah komunitas untuk dia berbagi cerita akan pen galaman hidupnya. Komunitas yang dimaksud disini bukanlah sebuah komunitas yang hanya sekedar kumpul-kumpul belaka, namun sebuah komunitas yang dapat membangun diri remaja terutama dalam pencarian identitasnya. Jack L. Saymour menyuguhkan komunitas iman sebagai wadah begi jemaat untuk membentuk sebuah komunitas. Komunitas iman ini membantu remaja untuk berbagi cerita tentang pengalaman hidupnya. Peranan guru cukup penting bagi remaja khusunya menumbuhkan karakter Kristus di dalam diri setiap remaja. Guru menjadi seorang fasilitator bagi remaja untuk menghubungkan cerita teks Alkitab disini kemudian direfleksikan dan menghasilkan sebuah tindakan nyata sebagai wujud pelayanan. Pelayanan dilakukan bukan hanya pelayanan di dalam melainkan pelayanan keluar. Gereja Jemaat GMIT Imanuel Oehani merupakan jemaat yang memberikan pelayanan pendidikan agama kristen lewat persekutuan anak dan remaja. Dalam membentuk sebuah persekutuan tentunya diperlukan tenaga pengajar yang memiliki pengetahuan cukup mengenai pendidikan kristiani. Sebagaimana tujuan yang perlu dicapai oleh Jack L. Saymour dalam bidang pendekatan Komunitas Iman. Persekutuan atau koinonia merupakan suatu wadah pembentukan karakter Kristus dalam diri seorang anak. Sebuah persekutuan yang baik tentunya sudah memiliki potensi untuk memberikan dampak yang baik dalam pencarian identitas diri anak terlebih khusus memberikan dampak baik untuk menumbuhkan karakter Kristus dalam diri setiap remaja. Gereja perlu terus mendorong para pemuda untuk menggunakan semua potensi yang ada pada arah yang benar untuk terus melayani Tuhan. Para remaja harus membuktikan kalau mereka telah mengenal Kristus mereka harus berani bersaksi dan dibuktikan dengan tindakan nyata untuk mempengaruhi individu dalam persekutuan remaja tersebut. penulis menekankan supaya setiap remaja harus memiliki dampak ketika mereka telah ada dalam persekutuan remaja, yakni ketika mereka berhasil memberikan kesaksian tentang pengalaman mereka dan berpengaruh pada kehidupan remaja lainnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Upacara Kowa Soisi adalah upacara minta barang yang dilakukan oleh anak laki-laki sulung dalam keluarga kepada Pohon Pelepas (saudara laki-laki dari ibu). “Kowa” artinya barang dan “Soisi” artinya minta, sehingga secara harafiah Kowa Soisi adalah minta barang. Barang yang diminta dalam upacara ini adalah barang yang digunakan dalam kedukaan, seperti selimut atau sarung, ada juga padi dan hewan (berupa babi), beserta benda adat berupa moko. Barang yang diminta dalam dalam upacara ini pada akhirnya akan dihitung sebagai hutang yang harus dibayar. Hal ini yang menimbulkan konflik dan terjadi kerenggangan didalam keluarga. Penulis melakukan penelitin di Jemaat GMIT Sion Alemba, Klasis Alor Tengah Utara dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penulis menggunakan teori Richard Niebuhr yakni, Kristus, Transformator Budaya (Christ the Transformer of Culture) untuk menganalisis masalah yang ada dan memberi arah baru sehingga menghasilkan sesuatu yang baru yang sesuai dengan iman Kristen. Berdasarkan hasil analisis didapati bahwa cara meminta pertolongan, cara membangun dan mempertahankan persekutuan yang ada dapat memberatkan pihak yang pergi meminta barang serta pihak Pohon Pelepas dan tidak relevan dengan keadaan saat ini karena jika dipaksakan malah akan menimbulkan konflik. Sehingga dengan demikian perlu adanya transformasi atau pembaharuan dalam upacara ini. Dalam surat II Korintus, Paulus memberitahukan kepada jemaat di Korintus bahwa, sebagai persekutuan orang percaya, tetap saling menolong walau dalam keadaan susah. Hal ini menekankan pada ketulusan hati saat memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
TARIAN WOLEKA
Margianita Putri Bolu Lero
Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Indonesia
Email: [email protected]
Kebudayaan merupakan bagian dari tradisi yang mencakup keseluruhan hidup masyarakat. Tarian woleka merupakan salah satu unsur budaya dalam masyarakat Sumba Barat Daya, yang masih dilestarikan dan dipelihara dengan, nilai-nilai yang dihidupi sampai saat ini, sebagai sebuah identitas. Gereja dalam pelayanannya, memakai kebudayaaan sebagai bentuk keterbukaan gereja terhadap kebudayaan Sumba, salah satunya yaitu GKS Jemaat Elopada. Dalam gereja tarian ini dipakai sebagai tarian penyambutan bagi pelayan Tuhan saat memasuki ruang ibadah, pada saat hari-hari raya gerejawi (Natal, Kebangkitan, Pentakosta), hari Reformasi, dan Ulang tahun gereja. Dalam kaitannya dengan itu, maka muncul pertanyaan mengenai pelaksanaan tarian woleka dalam budaya Sumba dan juga dalam gereja. Apa pemahaman GKS Jemaat Elopada mengenai tarian woleka. Penulis mengkaji menggunakan metode deskriptif–analitis-reflektif, dengan metode penelitian lapangan melalui observasi dan wawancara serta penelitian studi dokumen yaitu pengumpulan data dari buku-buku dan artikel karya ilmiah untuk mendapatkan konsep dan teori, yang berkaitan dengan penelitian, sehingga dapat mendukung dan memperkuat tulisan ini. Berdasarkan hasil analisis tarian woleka memiliki kaitan dengan pelaksanaan pesta dan ritus adat kepercayaan Marapu. Oleh sebab itu, gereja memiliki peranan penting dalam bersikap kritis terhadap tarian woleka yang juga lahir dari kebudayaan masyarakat Sumba, dengan memberikan pemahaman bahwa tarian woleka dalam kebudayaan dan dalam iman Kristen adalah dua hal yang berbeda. Sehingga perlu untuk memahami tarian woleka secara kebudayaan untuk menemukan makna dan nilai teologis apa yang terdapat dalam tarian tersebut agar dapat sejalan dengan apa yang dikatakan Alkitab terhadap kebudayaan dalam kekristenan. Refleksi teologis dari tulisan ini adalah untuk menemukan makna dan nilai tarian woleka bagi kehidupan bergereja dan jemaat.
Kata Kunci: Tarian woleka, Pesta Woleka, Gereja, Persekutuan, Komunikasi
ABSTRAK
TARIAN WOLEKA
Margianita Putri Bolu Lero
Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Indonesia
Email: [email protected]
Kebudayaan merupakan bagian dari tradisi yang mencakup keseluruhan hidup masyarakat. Tarian woleka merupakan salah satu unsur budaya dalam masyarakat Sumba Barat Daya, yang masih dilestarikan dan dipelihara dengan, nilai-nilai yang dihidupi sampai saat ini, sebagai sebuah identitas. Gereja dalam pelayanannya, memakai kebudayaaan sebagai bentuk keterbukaan gereja terhadap kebudayaan Sumba, salah satunya yaitu GKS Jemaat Elopada. Dalam gereja tarian ini dipakai sebagai tarian penyambutan bagi pelayan Tuhan saat memasuki ruang ibadah, pada saat hari-hari raya gerejawi (Natal, Kebangkitan, Pentakosta), hari Reformasi, dan Ulang tahun gereja. Dalam kaitannya dengan itu, maka muncul pertanyaan mengenai pelaksanaan tarian woleka dalam budaya Sumba dan juga dalam gereja. Apa pemahaman GKS Jemaat Elopada mengenai tarian woleka. Penulis mengkaji menggunakan metode deskriptif–analitis-reflektif, dengan metode penelitian lapangan melalui observasi dan wawancara serta penelitian studi dokumen yaitu pengumpulan data dari buku-buku dan artikel karya ilmiah untuk mendapatkan konsep dan teori, yang berkaitan dengan penelitian, sehingga dapat mendukung dan memperkuat tulisan ini. Berdasarkan hasil analisis tarian woleka memiliki kaitan dengan pelaksanaan pesta dan ritus adat kepercayaan Marapu. Oleh sebab itu, gereja memiliki peranan penting dalam bersikap kritis terhadap tarian woleka yang juga lahir dari kebudayaan masyarakat Sumba, dengan memberikan pemahaman bahwa tarian woleka dalam kebudayaan dan dalam iman Kristen adalah dua hal yang berbeda. Sehingga perlu untuk memahami tarian woleka secara kebudayaan untuk menemukan makna dan nilai teologis apa yang terdapat dalam tarian tersebut agar dapat sejalan dengan apa yang dikatakan Alkitab terhadap kebudayaan dalam kekristenan. Refleksi teologis dari tulisan ini adalah untuk menemukan makna dan nilai tarian woleka bagi kehidupan bergereja dan jemaat.