Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Kekerasan Seksual
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Luka Yang Menubuh “Suatu Kajian Teologis Pemikiran Shelly Rambo Mengenai Konsep “Remaining” sebagai Luka Yang Menubuh dan Sumbangsihnya bagi Realitas Kekerasan Seksual di GMIT”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kekerasan seksual merupakan realitas yang terus dihadapi gereja dan menimbulkan luka yang tidak selalu berakhir ketika peristiwa kekerasan berhenti. Dalam konteks ini, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) berhadapan dengan pengalaman trauma para korban yang berlangsung secara berkelanjutan dalam tubuh, ingatan, dan relasi sosial mereka. Skripsi ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran teologi trauma Shelly Rambo, khususnya konsep Remaining, sebagai luka yang menubuh, serta menelaah implikasinya bagi sikap dan pelayanan pastoral GMIT dalam merespons kasus kekerasan seksual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis kontekstual. Sumber data primer berasal dari karya-karya Shelly Rambo, terutama Spirit and Trauma: A Theology of Remaining dan Resurrecting Wounds: Living in the Afterlife of Trauma, sedangkan sumber data sekunder meliputi literatur teologi trauma, dokumen gerejawi GMIT, serta laporan pendampingan Rumah Harapan GMIT pada periode 2020–2024. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, kategorisasi, dan interpretasi teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Remaining menolong gereja untuk memahami trauma sebagai penderitaan yang tidak sepenuhnya selesai, melainkan tetap hadir dan bekerja dalam kehidupan para penyintas. Dalam konteks GMIT, kehadiran Rumah Harapan menunjukkan komitmen pastoral gereja terhadap korban kekerasan seksual. Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa pendekatan pastoral GMIT masih cenderung berfokus pada pemulihan yang cepat dan belum sepenuhnya mengintegrasikan pengakuan atas luka yang menubuh ke dalam sistem pastoral, disiplin gereja, dan spiritualitas jemaat. Oleh karena itu, skripsi ini menegaskan pentingnya pengembangan sikap pastoral yang lebih peka terhadap trauma, yang tidak mengabaikan tubuh yang terluka, ingatan yang rapuh, dan relasi sosial yang retak, serta bersedia tinggal bersama luka sebagai bagian dari kesetiaan iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MENDENGARKAN RINTIHAN PEREMPUAN “Suatu Tafsir Feminis Menurut Elisabet Schüssier Fiorenza terhadap II Samuel 13:1-22 dan Implikasi Bagi Kekerasan Seksual Di Jemaat Sonhalan Usapimnasi Klasis Molo Timur”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini mengkaji tentang kekerasan seksual berdasarkan kitab 2 Samuel 13:1-22 , dengan tujuan untuk memahami gambaran konteks kisah perkosaan Tamar, Menerapkan metode tafsir feminis dan memberikan refleksi dan sumbangan bagi perempuan yang mengalami kekerasan seksual di jemaat GMIT Sonhalan Usapimnasi. Metode yang digunakan adalah metode tafsir feminis Elisabet Schüssier Fiorenza yaitu : hermeneutika dominasi dan lokasi sosial, hermeneutika kecurigaan, dan hermeneutika transformasi. Hasil tafsiran menunjukkan tiga kerygma utama yaitu: 1) Kekerasan Seksual Bertentangan dengan Kehendak Tuhan, 2) Membangun Hubungan di atas dasar Ketulusan, 3) Menjalin Kehidupan dengan penuh Kewaspadaan. Dari kerygma teologi yang didapatkan ini, dapat menjadi sumbangan implikasi bagi jemaaat GMIT Sonhalan Usapimnasi dalam menjaga kewaspadaan diri dan menjalin hubungan dengan dasar cinta. Kisah ini, dapat menjadi inspirasi bagi gereja-gereja dalam menyikapi kasus-kasus kekerasan seksual. Gereja sebagai lembaga persekutuan juga harus dapat lebih terbuka dalam memberi perhatian bagi korban kekerasan seksual. Karena kesadaran akan banyaknya kasus kekesaran seksual saja tidak cukup , namun lebih jauh perlu adanya tindakan untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan. Perempuan-perempuan korban kekerasan seksual tidak boleh menutup diri, merasa tidak berharga, merasa berdosa dan menanggung kepahitannya sendiri. Karena sejatinya, Allah berpihak bagi orang-orang yang tertindas.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERANAN PUSAT PENEGEMBAGAN ANAK (PPA) DALAM PENANGGULANGAN MASALAH KEKERASAN SEKSUAL “Suatu tinjauan Teologis terhadap peran Pusat Pengembangan Anak (PPA) dalam penanggulangan masalah kekerasan Seksual di GKS Umamapu”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kekerasan seksual merupakan permasalahan serius yang berkaitan dengan harkat dan martabat seseorang yang dilakukan tanpa persetujuan. Terkhususnya di Sumba kekerasan sering terjadi bagi anak-anak dan perempuan. Gereja dan PPA selalu mengupayakan untuk mendukung dan mencegah permasalah kekerasan seksual. Meski demikian tidak serta merta masalah kekerasan seksual dapat menghilang begitu saja. Banyak hal yang menyebabkan permasalahan ini semakin meningkat. Kekerasan seksual berdampak pada tubuh, mental dan sosial dari korban. Seringkali muncul stigma negatif bagi para korban bahwa mereka adalah pembawa aib. Skripsi ini mengkaji tentang peranan pusat pengembangan anak (PPA) dalam pencegahan kekerasan seksual dari perspektif Teologi. Tujuan tulisan ini adalah untuk memberikan sumbangsih pemikiran bagi PPA dan GKS untuk membantu permasalahan kekerasan seksual yang semakin tinggi. Penulis melakukan penelitian lapangan di jemaat GKS Umamapu dengan mengobservasi secara langsung dan melakukan wawancara. Penulis menggunakan teori dari Allbert J. Reiss tentang Kontrol Sosial bahwa ikatan sosial yang kuat dapat berfungsi sebagai penghalang terhadap perilaku menyimpang. Individu cenderung mematuhi norma ketika memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga, teman dan masyarakat. Karena itu, perlu didorongnya proses penegakan hukum yang lebih tegas. Berdasarkan konteks permasalahan maka penulis mengambil refleksi teologis dari Injil Markus 10:13-16. Hasil refleksi teologi antara lain: pertama, anak-anak sangat berharga di mata Tuhan. Yesus menyatakan kasih tanpa syarat serta memperlakukan anak-anak dengan berharga dan memberikan harapan bagi yang terluka. Kedua, Yesus sangat mencekam tindakan kekerasan terhadap anak.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kekerasan Seksual Inses

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kekerasan seksual inses adalah sebuah bentuk pelecehan atau persetubuhan yang dilakukan secara paksaaan atau acaman terhadap korban yang mana pelaku dari tindak kekerasan seksual inses adalah seseorang yang masih memiliki hubungan darah atau hubungan kekerabatan dengan korban. Kasus kekerasan seksual inses terjadi juga di Mali-Kabola. Kekerasan ini dilakukan oleh ayah kandung dari korban yang adalah anak kandungnya sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kasus kekerasan seksual inses yang dialami oleh korban serta menganalisis faktor penyebab dan dampak kekerasan seksual inses bagi korban. Selain itu, untuk mengetahui bagaimana sikap pastoral gereja terhadap korban. Jadi, fokus penelitian ini hanya kepada korban bukan pada pelaku. Penelitian ini menggunakan Metode Studi Kasus. Metode Studi Kasus adalah sebuah metode yang digunakan untuk mengolah studi kasus yang terjadi dalam masyarakat. Hasil dari penelitian ini menggambarkan, bahwa kekerasan seksual inses ini benar terjadi pada korban sehingga memberikan dampak trauma bagi korban yakni dampak secara fisik, psikis, sosial, dan dampak secara spiritual. Serta faktor yang menjadi penyebab kekerasan seksual inses ini adalah faktor gender, pendidikan dan ekonomi. Oleh karena itu, gereja harus melihat persoalan ini sebagai persoalan yang serius, dengan memberikan sebuah pendampingan pastoral bagi korban, pendampingan gereja dalam bentuk merawat, mengasuh, menopang dan menyembuhkan, sehingga baik hubungan sosial maupun spiritualitas korban menjadi pulih melalui pendampingan pastoral. Pendampingan pastoral yang diberikan harus menggambarkan sikap Yesus yang peduli dan pembela orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail