ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
STUDI TENTANG PERSEPSI REMAJA LAHAI-ROI MENGENAI BENTUKBENTUK PEMBANGUNAN SPIRITUALITAS ANAK REMAJA
JEMAAT LAHAI-ROI MALIANG DI PANTAR TENGAH KABUPATEN ALOR.
Weni, S. M.)* Nuban Timo, I E.)* Pabala, P.)**
ABSTRAK
Kehidupan spiritualitas Remaja Lahai-Roi belum sesuai dengan yang diharapkan, Jemaat sudah melakukan pendampingan bagi remaja dengan kegiatan rohani rutin dan non rutin namun spiritualitas remaja belum seutuhnya meningkat. Miras, tawuran, perkelahian masi saja terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi remaja mengenai bentuk-bentuk kegiatan Pembangunan Spiritualitas Anak Remaja Jemaat Lahai-Roi Maliang di Pantar Tengah Kabupaten Alor. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 24 responden. Pengambilan data menggunakan teknik Observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teori dari Sugiyono (2009:91) yaitu data reduction, data display, dan conclution/ verification. Hasil Penelitian ini menunjukan pemahaman remaja mengenai bentuk-bentuk pembangunan spiritualitas anak remaja jemaat Lahai-Roi di lihat dari kegiatan kerohanian yang ada tidak semuanya berjalan dengan baik, remaja dalam ketaatan ibadah masih rendah, sebagian remaja lainnya menolak dan tidak memiliki kepercayaan diri saat diberikan tugas dalam ibadah. Setelah diterapkan pendekatan dan bimbingan kerohanian, ketaatan ibadah dan kepercayaan memimpin ibadah Remaja Lahai-Roi Maliang meningkat. Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan pada bab pembahasan maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut : Gereja Lahai-Roi Maliang harus melakukan pendekatan, bimbingan kepada setiap anak remaja dalam rasa kepercayaan diri serta membangun kegiatan kerohanian yang baru, dengan kreatif dan inovatif sehingga membuat Remaja di gereja dapat aktif dan tidak ada masa kebosanan dalam beribadah.
Kata Kunci : Persepsi , Remaja, Bentuk-bentuk pembangunan Spiritualitas
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini menelaah spiritualitas generasi sandwich di Jemaat GMIT Sesawi Oepura serta implikasinya bagi pelayanan gereja melalui tinjauan teologis. Generasi sandwich dipahami sebagai individu usia produktif yang memikul tanggung jawab ganda secara simultan dan berkelanjutan: menopang orang tua lanjut usia sekaligus anak/adik/kerabat yang belum mandiri, sehingga rentan mengalami tekanan ekonomi, kelelahan fisik, dan beban emosional yang dapat memengaruhi kehidupan iman. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana warga jemaat memaknai pergumulan tersebut sebagai pengalaman spiritual, bukan semata persoalan sosial-ekonomi. Penelitian menggunakan metode kualitatif lapangan dengan teknik wawancara semi-terstruktur dan studi dokumen. Partisipan dipilih secara purposive (usia 25–45 tahun, bekerja, memiliki tanggungan lintas generasi, dan merupakan anggota Jemaat GMIT Sesawi Oepura). Analisis menggunakan kerangka spiritualitas Sandra M. Schneiders yang menekankan integrasi dimensi personal-internal, relasional-komunal, praksis keseharian, dan hermeneutik pemaknaan pengalaman. Hasil menunjukkan bahwa spiritualitas generasi sandwich di jemaat ini cenderung berwujud sebagai “spiritualitas resiliensi”: iman yang bertahan di tengah keterbatasan, tampil dalam kesetiaan menjalankan tanggung jawab, doa yang lahir dari situasi krisis, serta pengharapan akan penyertaan Allah meski disertai keluhan, rasa bersalah, bahkan kemarahan kepada Tuhan. Gereja dipandang membantu melalui ibadah rumah tangga dan diakonia, namun dibutuhkan pendampingan pastoral yang lebih peka terhadap ritme kerja, beban psikospiritual, dan kebutuhan batasan diri. Penelitian ini merekomendasikan penguatan komunitas dukungan, konseling pastoral kontekstual, dan praksis gerejawi yang mengafirmasi pengalaman generasi sandwich sebagai ruang perjumpaan dengan Allah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kehidupan perkotaan ditandai oleh dinamika sosial yang kompleks,
keberagaman latar belakang manusia, serta tekanan ekonomi dan budaya yang
kuat. Realitas ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi juga dapat
membentuk spiritualitas umat beriman yang hidup di dalamnya. Skripsi ini
mengkaji pemikiran spiritualitas kota menurut Philip Sheldrake dan penulis
merefleksikan relevansinya bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara
yang hidup dalam konteks perkotaan di Kota Waingapu. Permasalahan utama
penelitian ini adalah bagaimana kota dapat dipahami sebagai ruang teologis dan
spiritual, serta bagaimana pemikiran Sheldrake dapat menolong gereja
membangun spiritualitas jemaat di tengah tantangan kehidupan kota.Tujuan
penelitian ini adalah untuk memahami pemikiran Philip Sheldrake mengenai
spiritualitas kota, untuk menganalisis kota sebagai ruang relasional dan ruang
publik teologis, serta untuk menemukan relevansi nilai-nilai spiritualitas kota
tersebut bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang didominasi oleh
jemaat pendatang dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam. Metode
penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan
pendekatan studi tokoh dan kajian kepustakaan, yang dilengkapi dengan
penelitian lapangan melalui wawancara. Kajian kepustakaan digunakan untuk
menelaah pemikiran Sheldrake, sementara data lapangan digunakan untuk
memahami realitas konkret kehidupan jemaat Manubara dalam konteks perkotaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Philip Sheldrake, kota bukan
sekadar ruang geografis atau material, melainkan ruang relasional yang
membentuk identitas, iman, dan spiritualitas manusia. Kota memiliki potensi
besar sebagai ruang pembentukan komunitas iman yang inklusif, tetapi juga
mengandung risiko individualisme dan keterasingan. Dalam konteks GKS Jemaat
Manubara, tekanan ekonomi, kesibukan kerja, dan perbedaan latar belakang
sering kali melemahkan relasi antarjemaat yang menjadi bentuk dari praktik
spiritualitas. Oleh karena itu, pemikiran Sheldrake relevan untuk menolong gereja
memaknai kota sebagai ruang panggilan iman, tempat spiritualitas jemaat
bertumbuh melalui relasi, solidaritas, dan kesaksian hidup di tengah kehidupan
kota.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Spiritualitas Para Janda: Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Spiritualitas Para Janda di GMIT Ora Et Labora Oesapa Klasis Kota Kupang Timur.” Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengungkap realitas kehidupan para janda dalam konteks kehidupan bergereja, khususnya berkaitan dengan pemahaman dan praktik spiritualitas mereka dalam menghadapi tantangan hidup setelah kehilangan suami. Latar belakang penelitian ini berpijak pada kenyataan bahwa wafatnya suami memberikan dampak besar bagi istri yang ditinggalkan, baik secara psikologis, sosial, ekonomi, maupun spiritual, terutama dalam masyarakat yang masih kuat menganut budaya patriarki seperti di Kota Kupang. Dalam kondisi tersebut, spiritualitas dipandang sebagai kekuatan utama yang menopang keteguhan iman dan mental para janda untuk terus melanjutkan hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi. Berdasarkan temuan penelitian, mayoritas janda di GMIT Ora Et Labora Oesapa memiliki pemahaman yang masih terbatas mengenai makna spiritualitas. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti latar belakang pendidikan, pengalaman iman, prioritas hidup, serta minimnya keterlibatan mereka dalam aktivitas pelayanan gereja. Rendahnya pemahaman dan penghayatan akan spiritualitas ini berdampak langsung pada keterlibatan mereka yang minim dalam kegiatan gerejawi, serta berakibat memudarnya nilai-nilai kekristenan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi gereja dalam merancang pelayanan pastoral yang lebih relevan, guna memperkuat dan memberdayakan para janda agar mampu bangkit, mandiri, dan menjalani kehidupan yang berlandaskan spiritualitas Kristen secara utuh.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Fokus utama penulis adalah melihat spiritualitas kehidupan para perempuan penenun di GKS Jemaat Payeti. Kain tenun Sumba Timur adalah salah satu karya seni yang sangat indah dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, ada makna yang terdapat dalam setiap lembar kain tenun Sumba Timur melalui motif-motif yang digambar oleh para perempuan penenun. Namun dalam kenyataannya, ada berbagai pergumulan dan tantangan yang dihadapi oleh para perempuan penenun, tetapi mereka tetap berjuang untuk tidak meninggalkan pekerjaan menenun yang menjadi warisan budaya nenek moyang. Perjuangan para perempuan penenun inilah yang penulis temukan bahwa ada nilai-nilai spiritualitas dalam diri mereka. Terkait dengan spiritualitas perempuan penenun, penulis memakai pemahaman spiritualitas dari Jacob Daan Engel yaitu 6 tahapan spiritualitas diri seseorang di antaranya kesadaran diri, penerimaan diri, ketegasan diri, tujuan hidup, tanggung jawab diri, dan integritas diri. Adapun metode yang digunakan penulis yaitu studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan yaitu penulis melakukan wawancara kepada beberapa narasumber terkait masalah yang didalami, sedangkan studi pustaka yang di mana penulis menggunakan berbagai sumber buku dan jurnal yang dapat membantu penulisan ini. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, para perempuan penenun GKS Jemaat Payeti memberi diri bahkan mengorbankan diri mereka. Dalam proses menenun, ada pengorbanan, perjuangan, dan kerja keras perempuan demi harapan mereka untuk kebutuhan keluarga. Hal ini menunjukkan nilai-nilai spiritualitas diri mereka. Salah satu tokoh perempuan dalam Alkitab bernama Rut yang terus bertahan dan berjuang di tengah kesulitan dan pada akhirnya Allah menyatakan kuasa-Nya. Begitu halnya dengan perempuan penenun, Allah mengijinkan berbagai situasi sulit terjadi dalam kehidupan para perempuan penenun yang sesungguhnya membuat spiritualitas mereka semakin bertambah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Spiritualitas merujuk pada, kesadaran individual atas dimensi ilahi atau keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, dalam perjalanan waktu, terasa menurunnya kesadaran yang berdampak pada tidak autentiknya spiritualitas, terutama di kalangan pendeta dan calon pendeta. Perilaku dan kecenderungan hedonis, materialistis, dan konsumeris spiritualitas. Ketidakautentikan spiritualitas ini merugikan tidak hanya individu secara pribadi, tetapi juga masyarakat dan komunitas keagamaan secara keseluruhan. Tujuan penulisan ini adalah untuk membandingkan ketidaksinambungan antara konsep Spiritualitas Nouwen dengan realitas praktik spiritualitas seorang pelayan GMIT. Melalui metode penulisan deskritif-analisis-reflektif terhadap pemikiran Henri Nouwen tentang spiritualitas, terungkap ketidaksinambungan khususnya dalam Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Nouwen menekankan pentingnya dimensi vertikal spiritualitas melalui hubungan pribadi dengan Tuhan, yang berimplikasi pada kepedulian kepada sesama. Namun, praktik spiritual para pelayan seringkali teralihkan pada urusan duniawi. Dimensi horizontal spiritualitas, yang melibatkan hubungan dengan sesama, juga kurang mendapat perhatian aktif dalam membangun relasi yang sehat. Begitu pula, dalam dimensi interior spiritualitas yang menyoroti hubungan individu dengan diri sendiri, terlihat kurangnya kesadaran diri dan kesiapan menghadapi tantangan pribadi. Data diperoleh dari analisis terhadap karya-karya Nouwen serta praktik spiritual para pelayan dalam konteks GMIT yang tertuang dalam karya-karya pelayan GMIT. Tulisan ini memberikan wawasan yang mendalam kepada para pelayan GMIT mengenai konsep spiritualitas Henri Nouwen dan realitas praktik pelayanan. Melalui pemahaman ini, para pelayan dapat merefleksikan spiritualitas mereka yang memerhatikan keseimbangan antara relasi dengan Allah, sesama dan dirinya sendiri. Tulisan ini diharapkan menjadi panduan motivasional untuk mendorong para pelayan GMIT menuju pencapaian spiritualitas yang lebih autentik dan mendalam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Mahasiswa Fakultas Teologi merupakan anak-anak yang ada dalam proses pembentukkan diri untuk menjadi pelayan Tuhan (pendeta) kedepannya. Namun dalam proses pembentukkan itu, terdapat beberapa orang mahasiswayang mengalami dampak dari tidak tinggal di asrama yang membuat mereka mengalami krisis dalam spiritual. Dampak yang dialami oleh Mahasiswa Teologi, membawa berbagai dampak negatif bagi kehidupan mereka dan juga orang lain. Persoalan mengenai layak mendapat perhatian serta peran secara Teologis untuk menolong mahasiswa yang mengalami dampak dari tidak terbentuk di dalam pola kehidupan asrama.
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan spiritual serta dampak yang dialami Mahasiswa Teologi UKAW Kupang tahun angkatan 2019-2021 yang tidak tinggal di asrama dan merefleksikan persoalan ini secara teologis dan serta bagaimana upaya melalui pola yang dapat menolong dan melengkapi mahasiswa Fakultas Teologi yang tinggal di luar asrama dalam proses pembentukan spiritualitas agar dapat bertumbuh. Tujuan ini dapat dicapai dengan penelitian lapangan dan metode yang akan digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Metode ini dipilih untuk memperoleh data yang akurat dan mengandung kebenaran yang mendalam mengenai dampak dari mahasiswa Teologi yang tidak tinggal di asrama yang mengalami krisis spiritual. Hasil penelitian lapangan menunjukan bahwa, para narasumber, yakni mahasiswa Fakultas Teologi tahun angkatan 2019-2021 ada di usia transisi antara remaja akhir menuju dewasa awal sehingga masih dalam proses pencarian jati diri. Sehingga, mengalami dampak dari tidak mengalami pembentukan spiritual dalam pola kehidupan di asrama, sehingga ada beberapa dampak buruk bagi pembentukan spiritual yakni masalah pada relasi antara satu dengan yang lain atau solidaritas, masalah pada membangun relasi dengan Allah melalui saat Teduh, membaca Alkitab dan ibadah.
Secara jelas Alkitab memberitahukan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. Sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:12)”. Berdasarkan bagian Alkitab ini, kata yang paling penting adalah “berubahlah” (transformed). Fakultas Teologi merupakan wadah pembentukan mahasiswa untuk menjadi pelayan Tuhan kedepannya, sehingga peranan dosen dalam pembentukan spiritual dan karakter sangat dibutuhkan. Dalam upaya menolong dan melengkapi mahasiswa fakultas Teologi yang tinggal di luar asrama diperlukan penerapan tipe atau model spiritual agar dapat mengurangi dampak yang dialami. Dalam menjawab kebutuhan demikian, penulis menawarkan beberapa pembentukan spiritual bagi mahasiswa di luar asrama, yakni: Hidup dalam keheningan, hidup dengan hati yang ramah (Hospitaslitas), hidup dalam doa, dan memiliki pergaulan yang teratur dengan Alkitab.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dalam hubungan kerja sama antara Pusat Pelatihan Misi Terpadu (PPMT) dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), dilakukan sebuah pelatihan Pengembangan Swadaya Masyarakat (PSM). Dari pelatihan ini, penulis mencoba untuk memberi perhatian kepada upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh PPMT dengan melihat dampaknya dalam wilayah pelayanan GMIT. PPMT dibangun dengan berlatar belakang kehidupan jemaat dalam menghadapi masalah-masalah seperti kemiskinan, rendahnya pendidikan, tingkat kesehatan yang buruk dan masalah lainnya. Dalam menyatakan visi dan misi mereka, maka PPMT membangun kerja sama dengan GMIT.
Tulisan ini melihat hubungan kerja sama antara PPMT dan GMIT dalam upaya pemberdayaan yang dilakukan. Penulis menggunakan metode deskriptif, analitis hingga reflektif. Metode deskriptif digunakan untuk melihat kehadiran PPMT di wilayah pelayanan GMIT. Kemudian, penulis menggunakan metode analitis guna menganalisis faktor-faktor dan dampak dilakukan pemberdayaan. Metode yang digunakan penulis dalam analisis adalah metode analisis SWOT. Metode ini melihat bagaimana kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari sebuah program yang dilakukan. Lalu, penulis meninjau secara teologis upaya pemberdayaan ini menggunakan tinjauan teologi praktika yaitu pembangunan jemaat.
Penulis menemukan bahwa upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh PPMT dalam kerja sama bersama GMIT memberikan hasil meskipun dalam keberhasilan itu, belum sempurna. Dampak dari pemberdayaan ini turut dirasakan oleh GMIT. Dengan keberhasilan inilah, visi dan misi yang dijalankan oleh PPMT berhasil tetapi dalam upaya perkembangan hasil yang lebih baik, perlu pengawasan dan tindak lanjut yang lebih baik tentang upaya pemberdayaan ini.
Gereja hadir di dunia guna menyatakan visi dan misi Allah termasuk GMIT yang juga berperan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam panca pelayanannya. Bekerja sama dengan PPMT, GMIT berusaha untuk belajar mengembangkan potensi yang dimiliki jemaat guna memberi kesejahteraan bagi mereka. Dalam proses pemberdayaan ini, kehadiran Allah menjadi nyata melalui orang yang dipanggil dan diutus-Nya. Dengan kehadiran dan peran para pelayan, PPMT berhasil menyatakan visi dan misinya bukan saja tentang pelayanan “altar” melainkan tentang peran pelayan di “latar”.