ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Di Pulau Sabu, salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah pehere djara. Tradisi ini kemudian menginspirasi umat Kristen di Sabu untuk mengadopsinya menjadi pehere djara paskah. Tradisi pehere djara paskah memiliki nilai kearifan lokal yang penting dalam memperkuat solidaritas antarsesama. Di Jemaat GMIT Bukit Sion Boko, Klasis Sabu Barat Raijua, tradisi ini memegang peran penting, terutama dalam kehidupan masyarakat adat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Jemaat GMIT Bukit Sion Boko memaknai pehere djara paskah sebagai bentuk penghormatan terhadap kemenangan Yesus Kristus atas maut. Selain itu, peneliti menggali bagaimana jemaat menerapkan tradisi ini dalam kehidupan bergereja melalui liturgi serta bagaimana tradisi tersebut direfleksikan melalui teologi kontekstual, berdasarkan pandangan Stephen B. Bevans. Pendekatan teologis ini digunakan untuk menghubungkan budaya lokal dengan pemahaman Kristen. Dengan demikian, pehere djara paskah tidak hanya dilaksanakan sebagai ritual semata, melainkan sebagai sarana bagi jemaat untuk merasakan dan memaknai kemenangan Kristus atas maut secara mendalam. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif-analitis-reflektif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tokoh jemaat dan masyarakat adat, serta studi dokumen terkait tradisi dan ibadah Paskah. Teknik analisis data mencakup reduksi data untuk menyaring informasi esensial, triangulasi sumber untuk memastikan keabsahan, serta penarikan kesimpulan yang logis dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pehere djara paskah memberikan kontribusi positif dalam menjaga keharmonisan sosial. Tradisi ini memperkuat hubungan antara iman Kristen, budaya lokal Sabu, dan kehidupan sehari-hari jemaat. Pelaksanaannya menjadi wujud nyata penerapan teologi kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dengan ajaran Kristen. Analisis teologis mengungkapkan bahwa ritual pehere djara paskah mencerminkan nilai-nilai Kristen, seperti kebangkitan Kristus, kasih sesama, dan solidaritas komunal. Gereja didorong untuk melihat tradisi ini sebagai jembatan yang memperkuat iman, budaya, pemahaman teologis jemaat, serta tindakan sosial yang berdampak positif. Oleh karena itu, pelestarian tradisi pehere djara paskah di Jemaat GMIT Bukit Sion Boko menjadi upaya krusial dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkaya kehidupan beriman. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan ilmu teologi kontekstual serta sumbangan praktis bagi jemaat GMIT Bukit Sion Boko dalam mengintegrasikan tradisi lokal ke dalam ibadah Kristen yang relevan dan bermakna.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks kehidupan Jemaat GMIT
Imanuel Oelolot yang hidup dalam konteks sosial dan budaya Rote yang masih kuat
dan memengaruhi kehidupan bergereja. Salah satu unsur budaya yang digunakan
dalam ibadah jemaat adalah Me’o (Gong Rote). Penggunaan gong dalam ibadah
menimbulkan beragam pemahaman di kalangan jemaat, mulai dari sarana
pembentuk suasana dan pelestarian budaya hingga simbol iman dan pujian kepada
Allah. Keragaman pemahaman tersebut menunjukkan perlunya refleksi teologis
yang lebih mendalam mengenai makna dan fungsi gong dalam ibadah Kristen.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat, menganalisis
pemahaman jemaat tentang penggunaan Me’o (Gong Rote) dalam ibadah, serta
merefleksikan secara teologis penggunaannya dan implikasinya bagi kehidupan
jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi
kasus melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Me’o (Gong Rote) dapat dimaknai sebagai simbol bunyi
dalam ibadah apabila digunakan secara sadar dan terarah dalam kerangka liturgi
gereja. Penggunaan gong dalam ibadah berpotensi memperkaya penghayatan iman
jemaat serta mempertegas keterkaitan antara iman Kristen dan konteks budaya
lokal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi berjudul “Tarian Dalam Ibadah” dengan sub judul “Suatu Tinjauan Teologis terhadap Pemahaman Jemaat mengenai Tarian dalam Ibadah di Jemaat GMIT Imanuel Beumopu dan Implikasinya bagi Pelayanan GMIT” ditulis oleh Yonatan Adipapa Tepa. Penulis bertolak dari penggunaan gerakan tari dalam ibadah sangat heboh dan sebagai sarana hiburan bagi jemaat yang dianggap sebagai gerakan sensual yang akan mengundang hawa nafsu jemaat dan membuat jemaat masuk dalam keberdosaan. Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis pemahaman jemaat GMIT Imanuel Beumopu tentang penggunaan tarian dalam ibadah. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif yaitu proses penelitian yang dilakukan pada kondisi alamiah sehingga data yang terkumpul dan analisanya bersifat kualitatif. Metode yang dipakai memberi hasil pada penelitian yaitu adanya pro dan kontra terkait pemahaman jemaat tentang tarian dalam ibadah. Ada jemaat yang mengatakan bahwa tarian yang ditampilkan dalam ibadah sebagai media hiburan karena gerakan yang kelihatannya heboh dan sensual. Ada juga yang menerima tarian dengan gerakan heboh dengan alasan pelayanan. Selain itu ada juga jemaat yang memahami secara positif tentang tarian dalam ibadah yaitu tarian dipandang sebagai doa dan penyembahan kepada Allah. Berkaitan dengan pro dan kontra yang terjadi penulis menganalisis bahwa tarian dalam ibadah merupakan pelayanan kepada Allah yang memiliki makna penyembahan, kesaksian dan syukur atas karya Allah. Hasil pembahasan penulis terkait penggunaan tarian dalam ibadah sebagai media penyembahan kepada Allah menjadi implikasi bagi pelayanan GMIT. GMIT Imanuel Beumopu perlu memperhatikan penggunaan tarian agar tarian memiliki makna teologis, sehingga tarian bukan saja ditampilkan dalam ibadah tapi memberi dampak yang positif kepada jemaat dan gereja dalam pelayanan. Bukan saja itu, GMIT secara umum juga perlu memberi arahan pagi para penari agar gerakan-gerakan tari yang ditampilkan dalam ibadah perlu berdasarkan Alkitab artinya gerakan yang beretika, bermoral, dan memiliki makna teologis yang tujuannya untuk penyembahan kepada Allah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tulisan ini mengkaji penggunaan musik kontemporer dalam liturgi ibadah minggu di Jemaat GMIT Karmel Fatululi terhadap masalah perpindahan jemaat yang disebabkan oleh persepsi tentang musik atau liturgi yang kaku. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan. Pada bagian awal tulisan ini, penulis akan membahas mengenai sejarah gereja GMIT Karmel Fatululi, dilanjutkan dengan uraian mengenai penggunaan musik kontemporer dalam konteks ibadah di gereja tersebut. Penjelasan mencakup aspek ibadah, liturgi, pandangan tentang musik dalam Alkitab, perkembangan musik gerejawi, serta sejarah musik dalam GMIT. Selain itu, penulisan juga mempertimbangkan perbedaan antara musik himne dan musik kontemporer. Tulisan ini menegaskan bahwa dalam konteks ibadah, memuji dan menyembah Tuhan dapat dilakukan melalui berbagai jenis musik, baik himne maupun musik kontemporer, dengan fokus utama pada kesungguhan hati dalam ekspresi penyembahan kepada Tuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Gereja Ramah Anak dimaknai sebagai gereja dengan sistem pelayanan holistik yang memenuhi hak-hak anak, tidak hanya sekadar membangun fisik gedung gereja baru, melainkan meningkatkan kesadaran akan perspektif anak. Penelitian ini mengidentifikasi ketidaksetaraan di lingkungan gereja, di mana anak-anak sering kali tidak dilibatkan dalam pelayanan dan pengambilan keputusan. Gereja harus menyediakan ruang agar anak-anak merasa aman dan nyaman, serta memberi kesempatan untuk keterlibatan dan partisipasi, sehingga mereka dapat mengekspresikan kreativitas mereka. Tujuan utama penelitian ini adalah memberikan kontribusi berharga bagi gereja-gereja lain dalam mengimplementasikan program Gereja Ramah Anak untuk mendukung pertumbuhan iman anak-anak di komunitas gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di Jemaat GMIT Kaisarea BTN-Kolhua. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi literatur yang relevan. Metode penulisan yang digunakan adalah deskriptif-analitis-reflektif untuk mendeskripsikan dan menganalisis masalah, serta mencapai refleksi yang sesuai. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kehadiran anak-anak dalam ibadah merupakan langkah gereja dalam mengupayakan kepedulian terhadap anak. Pembentukan karakter dan iman terjadi melalui interaksi dalam komunitas, di mana setiap generasi saling belajar dan membangun. Refleksi teologis menekankan urgensi kesetaraan hak anak dalam kehidupan gereja. Anak-anak sering terabaikan dalam pelayanan gerejawi, menyebabkan ketidakseimbangan partisipasi dan menghalangi pembentukan iman yang seharusnya menjadi prioritas utama gereja. Gereja harus menyediakan ruang yang memadai bagi anak-anak dan memastikan suara mereka didengar dan dihargai. Dengan demikian, gereja dapat menciptakan lingkungan inklusif yang memperkuat pembinaan iman anak-anak dan memberikan fondasi kokoh bagi pertumbuhan spiritual mereka. Implementasi program Gereja Ramah Anak diharapkan menjadi teladan bagi gereja-gereja lain dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung perkembangan spiritual anak-anak.
Kata kunci: Liturgi, Anak, Gereja Ramah Anak, GMIT Kaisarea BTN.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dalam kehidupan umat Kristen, beribadah kepada Allah melalui Yesus Kristus merupakan salah satu bentuk ucapan syukur atas karya penyelamatan yang dilakukan bagi umat manusia dan dunia ini. Selain itu, beribadah juga dapat membantu umat Kristen agar dapat membangun hubungan yang erat dengan sang pencipta. Salah satu hal yang dapat membantu umat kristen membangun hubungan yang erat dengan sang pencipta ialah saat teduh dalam liturgi kebaktian. Namun dalam realitas yang terjadi, saat teduh masih sering diabaikan dalam liturgi kebaktian. Contohnya ialah pada pelaksanaan saat teduh di Jemaat GMIT Lahairoi Tuaksabu Lasiana. Melihat masalah yang terjadi diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih dalam untuk mengetahui gambaran umum jemaat, pemahaman jemaat terhadap saat teduh, realita pelaksanaan saat teduh jemaat, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman dan pelaksanaan saat teduh tersebut. Dari point-point di atas, penulis melakukan penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode ini dipilih dengan tujuan agar dapat menolong dalam mencari pengertian yang mendalam tentang suatu gejala, fakta atau realita masalah, serta peristiwa yang dapat dipahami. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan observasi langsung dan wawancara mendalam dengan narasumber kunci. Dalam penyajian hasil penelitian, penulis menggunakan metode penulisan deskripsi, analisis, dan reflektif. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa Jemaat GMIT Lahairoi Tuaksabu Lasiana memiliki pemahaman mengenai saat teduh yang beragam. Pemahaman yang beragam itu kemudian mempengaruhi pelaksanaan saat teduh di jemaat tersebut. Bahkan ada jemaat yang mengakui dirinya sering melalaikan pelaksanaan saat teduh tersebut. Alkitab yang diyakini sebagai sentral dalam ibadah, juga diyakini menjadi dasar refleksi teologis dalam berbagai aspek. Salah satunya ialah untuk merefleksikan saat teduh di dalam pelaksanaan kebaktian jemaat. Selain melihat pendasaran Alkitab, pemahaman teologis tentang saat teduh juga dapat dilihat dari buku-buku dan narasumber ahli berkaitan saat teduh. Dengan demikian dapat membantu jemaat memahami pentingnya saat teduh untuk mengingat penyertaan Tuhan dalam kehidupan jemaat, serta menyadari kerapuhan dalam diri tiap jemaat yang membutuhkan Allah merengkuh kerapuhan tersebut.