Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

32 hasil
Subjek: Iman
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

NAKETI MENURUT PANDANGAN JEMAAT GMIT SONBUBUN OENAY KLASIS AMANUBAN TIMUR SELATAN

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK NAKETI MENURUT PANDANGAN JEMAAT GMIT SONBUBUN OENAY KLASIS AMANUBAN TIMUR SELATAN SESUAI IMAN KRISTEN Fallo M. D (**) Nuban Timo E (**) Metboki M (**) Masalah dalam penelitian ini adalah naketi menurut pandangan jemaat GMIT Sonbubun Oenay Klasis Amanuban Timur Selatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan Jemaat GMIT Sonbubun Oenay tentang praktek naketi yang benar. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian ini dilakukan selama 10 hari terhitung mulai dari tanggal 03-13 Juli 2022, yang bertempat di jemaat GMIT Sonbubun Oenay, Klasis Amanuban Timur Selatan. Teknik pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini dimotivasi oleh fakta bahwa masyarakat atoni meto di Timor khususnya jemaat GMIT Sonbubun Oenay selalu melakukan naketi untuk memecahkan setiap persoalan yang dialami. Hasil penelitian merujuk pada naketi menurut pemahaman mereka adalah sebagai usaha untuk memperbaiki, mengatur, meluruskan, memurnikan serta menjernihkan diri dari dosa/kesalahan, yang menyebabkan tatanan kehidupan menjadi rusak. Makna naketi dari pandangan religi suku atoni meto di Timor adalah membenarkan atau membetulkan sehingga hubungannya dengan pandangan ajaran Iman Kristen adalah mengakui dosa dan memperbaiki kesalahan. Berdasarkan hasil peneliti, dapat disimpulkan naketi dilakukan sebagai upaya untuk memperbaiki dan menyelesaikan berbagai persoalan berkelanjutan yang dialami. Dalam proses pelaksanaan naketi terkandung nilai di dalamnya yakni nilai religius, social dan nilai moral. Kata Kunci : Naketi, Iman Kristen Penulis (*) Pembimbing (**)

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perbuatan Sebagai Akta Iman

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Iman adalah keyakinan akan adanya Allah dan percaya dengan sungguh bahwa Allah adalah benar. Iman berkaitan dengan batin seseorang karena itu iman tidak dapat terlihat dengan jelas oleh siapapun kecuali Allah. Sedangkan, perbuatan adalah tindakan, kelakukan atau tingkah laku. Perbuatan seseorang dapat terlihat dengan jelas oleh orang lain. Dewasa ini, kehidupan anggota jemaat GMIT belum menampakkan teladan hidup yang sesuai dengan identitasnya sebagai orang percaya. Menjadi persoalan ialah anggota jemaat GMIT masih keliru terkait hubungan iman dan perbuatan yang dinilai sebagai dua hal yang dapat dipisahkan. Orang yang telah mengaku percaya kepada Allah tidak perlu lagi melakukan perbuatan baik dan sebaliknya. Untuk itu, tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui teologi dan kerygma dari surat Yakobus mengenai iman dan perbuatan dan implikasinya bagi kehidupan praktis jemaat GMIT. Metodologi yang digunakan di antaranya mencakup dua hal yaitu metodologi penulisan dan metodologi penelitian. Metodologi penulisan menggunakan metode deskriptif-analisis-reflektif dengan tujuan mengumpulkan data melalui kajian pustaka yang kemudian memberikan refleksi dan implikasi teologi surat Yakobus. Sedangkan metodologi penelitian menggunakan penelitian kualitatif dan metode studi pustaka dengan memperhatikan literatur yang telah ada untuk mengkaji teologi dan menemukan informasi-informasi serta realitas kehidupan anggota jemaat GMIT. Hasil dari kajian ini menggambarkan bahwa surat Yakobus merupakan salah satu surat yang dapat memberikan jawaban atas persoalan masa kini. Teologi surat Yakobus yang membahas mengenai iman dan perbuatan dapat diaplikasikan dalam kehidupan anggota jemaat GMIT. Oleh karena itu, surat Yakobus dapat memberikan jawaban praktis terkait permasalahan anggota jemaat GMIT. Bagi Yakobus iman yang sejati harus melahirkan perbuatan yang praktis. Iman sebagai kepercayaan kepada Allah harus melahirkan perbuatan baik kepada sesama. Sebagai anggota jemaat GMIT yang hidup di masa kini harus menampilkan iman kepada Allah melalui perbuatan baik kepada sesama seperti dengan cara tidak melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, membunuh, melakukan penipuan, menghindari diri dari penggunaan narkoba dan tindakan tawuran. Selain daripada itu, anggota jemaat GMIT juga tidak boleh kompromi terhadap dosa apalagi menganggap sepele dosa yang dilakukan. Dengan demikian perbuatan baik yang dengan praktis dapat dilakukan oleh anggota jemaat GMIT ialah menolong sesama yang sedang berkesusahan, menjaga mulut dari perkataan yang sia-sia dan bohong, serta menjaga diri dari hawa napsu untuk melakukan dosa seperti melakukan hubungan seks sebelum nikah hingga tidak terjerumus dalam dosa narkotika.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESKRIPSI TENTANG PENGIRIMAN ANGGOTA POLRI DALAM MISI PERDAMAIAN PBB DI DARFUR, SUDAN

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Judul: Deskripsi tentang Pengiriman Anggota Polri dalam Misi Perdamaian PBB di Darfur, Sudan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah : faktor apakah yang menyebabkan anggota Polri yang mengikuti seleksi FPU (Formed Police Unit) dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB ke Darfur, Sudan tidak lulus seleksi ? Tujuan penelitian adalah : mengetahui faktor apakah yang menyebabkan anggota Polri yang mengikuti seleksi FPU dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB ke Darfur, Sudan tidak lulus yang bermanfaat secara teoritis dan praktis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif-empiris. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah anggota Polri sebagai Formed Police Unit (FPU). Sedangkan variable terikat dalam penelitian ini adalah tentang Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB. Pengumpulan bahan hukum yang dilakukan melalui kegiatan studi Kepustakaan dan melakukan wawancara (interview). Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa untuk mencapai Formed Police Unit harus mengikuti beberapa prosedur untuk mengikuti misi perdamaian PBB di Sudan yaitu:1).Tahap seleksi yaitu tahap seleksi administrasi meliputi syarat pendaftaran secara internal oleh Markas Besar Polri melalui pemberitahaun online mengenai persyaratan yang harus dilengkapi oleh anggota Polri seluruh Indonesia yang akan mengikuti misi perdamaian dan tahapan seleksi yaitu: Pemeriksaan Administrasi (Rikmin), tes psikologi dan wawancara psikologi, Assessment untuk jabatan Kasatgas dan Wakasatgas, kesamaptaan Jasmani, menembak, mengemudi, kemampuan bahasa inggris, komputer, test kompetensi bidang mekanik TI/AC/Genset/Ranmor/MTO, simak BMN, bensat/keuangan, manage, kualifikasi medis/paramedis dan water treatment. 2). Tahap pelatihan yang meliputi pelatihan fisik, mental dan pengetahuan. 3). Tahap rencana pengiriman. Dalam rencana pengiriman ini harus menunggu menunggu Assessment dari tim Assessment And Advisory Visit (AVV) PBB untuk memastikan Indonesia siap mengirimkan pasukan dan logistik untuk mendukung perdamaian dunia. Baik menyangkut kesiapan fasilitas, sarana, prasarana, perlengkapan, senjata, maupun performance atau kemampuan, setelah itu menunggu persetujuan DPR dan Presiden yang dituangkan dalam MOU Indonesia dan PBB sesuai dengan jumlah personil yang telah di siapkan berdasarkan permintaan PBB. Berdasarkan pada pembahasan di atas, maka dapat simpulkan bahwa prosedur pengiriman anggota Polri Polda NTT dalam misi PBB harus mengikuti 3 tahapan dalam proses pengirman yaitu: Seleksi administrasi anggota dari masing-masing Polda di seluruh Indonesia yang meliputi syarat pendaftaran dan tahapan seleksi, latihan pra operasi dan rencana keberangkatan yang dituangkan dalam MOU antara Indonesia dan PBB.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENDIDIKAN DALAM TRADISI YAHUDI "Tafsir Historis-Kritis Terhadap Ulangan 11:18-21 dan Relevansinya Bagi Pendidikan Iman Taruna di Jemaat GMIT Kota Kupang, Klasis Kota Kupang"

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pendidikan Iman Taruna di Jemaat GMIT Kota Kupang kurang terstruktur dan kontekstual. Hal ini dikarenakan pendidikan Iman Taruna yang bersifat monoton, kurang partisipatif dan tidak tersedianya bahan ajar. Oleh karena itu, fokus utama penelitian ini adalah menggali dan merumuskan prinsip pedagogi iman taruna dalam teks Ulangan 11:18-21. Penelitian ini berangkat dari tradisi Deuteronomis yang menegaskan akan pentingnya internalisasi firman, transmisi iman antar generasi, totalitas hidup, kesaksian di ruang publik dan ketaatan kepada Allah. Dengan ini, dapat menghubungkan antara dimensi teologis teks dengan praktik pendidikan iman Taruna di Jemaat GMIT Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif-kualitatif dengan studi pustaka dan analisis Alkitab, serta menghubungkannya dengan strategi pedagogi iman. Temuan utama dari penulisan ini adalah dalam teks Ulangan 11:18-21 ditemukannya lima prinsip penting dalam strategi pedagogi yang kuat dan dapat digunakan sebagai model pendidikan Iman Taruna yang partisipatif, reflektif, kontekstual dan transformatif. Penelitian ini menegaskan kebaruan pada pengembangan pendekatan pedagogis-praktis, yakni menerjemahkan teologis dalam teks Ulangan 11:18-21 ke dalam strategi pedagogis pendidikan Iman Taruna yang kontekstual, partisipatif dan aplikatif. Oleh karena itu, sangat diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi teologis dan pedagogis bagi pengembangan pendidikan iman Taruna di Jemaat Kota Kupang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

NETO’U LIMA “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pemahaman Jemaat Mengenai Tradisi Neto’u Lima (Jabat Tangan) untuk mencapai perdamaian dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Koli, Klasis Rote Barat Laut”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tradisi neto’u lima (jabat tangan) merupakan praktik budaya masyarakat Rote yang berfungsi sebagai sarana perdamaian. Tradisi ini tetap dilestarikan oleh Jemaat GMIT Imanuel Koli, Klasis Rote Barat Laut, bahkan setelah kekristenan hadir dan berkembang. Fokus penelitian ini adalah: bagaimana gambaran umum jemaat GMIT Imanuel Koli, bagaimana pemahaman jemaat terhadap tradisi neto’u lima, serta bagaimana refleksi teologis terhadap pemahaman jemaat tentang tradisi neto’u lima dan dapat mengimpilkasikannya bagi pelayanan gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konteks sosial, budaya, dan keagamaan jemaat GMIT Imanuel Koli, mengungkap pemahaman jemaat mengenai tradisi neto’u lima sebagai tanda perdamaian, dan merumuskan refleksi teologis yang menempatkan tradisi ini sebagai bagian dari pelayanan dalam gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan lapangan, melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis-reflektif, sehingga data empiris dapat ditafsirkan dalam kerangka teologis. Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi neto’u lima dipahami jemaat sebagai simbol perdamaian yang menyatukan nilai adat dan iman Kristen. Jabat tangan menjadi tanda niat baik, doa bersama menegaskan dimensi spiritual, dan keterlibatan tokoh adat serta gereja memperkuat legitimasi sosial. Tradisi ini sejalan dengan ajaran Kristus tentang perdamaian bagi semua umat, sehingga dapat dipandang sebagai modal sosial dan teologis yang dapat diimplikasikannya bagi pelayanan dalam gereja juga masyarakat. Tesis penelitian menegaskan bahwa neto’u lima bukan sekadar warisan budaya, melainkan praktik perdamaian yang memperkaya kehidupan jemaat dan memperkuat peran gereja dalam membangun kasih persaudaraan dan perdamaian.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ICH UND DU (AKU-ENGKAU) Suatu Tinjauan Teologi Sosial terhadap pemikiran Marthin Buber tentang konsep Ich Und Du dan Implikasinya bagi pencegahan kekerasan di GMIT Imanuel Olalain Klasis Rote Tengah

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi konsep relasi dialogis Ich und Du Martin Buber terhadap konteks kekerasan dalam kehidupan jemaat GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) Imanuel Olalain. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dan konflik relasional masih terjadi dalam kehidupan jemaat, yang menunjukkan adanya krisis dalam kualitas relasi antarmanusia. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan wawancara dan refleksi teologis, penelitian ini menemukan bahwa banyak relasi suami-istri dalam jemaat masih dibangun dalam pola dominatif, hierarkis, dan minim dialog, sehingga lebih menyerupai pola relasi Ich-Es (Aku-Itu) daripada Ich-Du (Aku-Engkau). Selain faktor personal, kekerasan juga dipengaruhi oleh faktor kultural, struktural, dan pemahaman teologis yang belum sepenuhnya menekankan kesetaraan martabat manusia. Iman Kristen yang diakui jemaat sering kali belum terintegrasi dalam praktik relasi sehari-hari, sehingga relasi dengan Tuhan tidak selalu tercermin dalam relasi dengan pasangan. Dalam terang pemikiran Martin Buber, relasi yang sehat hanya mungkin terwujud melalui perjumpaan dialogis yang mengakui keutuhan dan martabat pribadi sebagai subjek, bukan objek. Penelitian ini juga menegaskan bahwa kekerasan merupakan pelanggaran terhadap martabat manusia sebagai gambar Allah (Imago Dei). Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk membangun spiritualitas relasional yang transformatif, memperbarui pola komunikasi, serta menghadirkan struktur persekutuan yang partisipatif dan adil. Konsep Ich-Du menjadi kerangka teologis yang relevan untuk pemulihan relasi, pencegahan kekerasan, dan pembentukan kehidupan jemaat yang lebih dialogis, manusiawi, dan mencerminkan kasih Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PRAKTIK PANEN PADI Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Praktik Panen Padi di Manefu Sebagai Wadah Mempererat Persekutuan Jemaat GMIT Imanuel Manefu

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji praktik panen padi di Jemaat GMIT Imanuel Manefu sebagai ruang hidup teologis yang mengintegrasikan tradisi budaya lokal dengan iman Kristen. Praktik panen padi tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas agraris, melainkan sebagai praktik komunal dan spiritual yang berfungsi membentuk identitas, relasi sosial, serta penghayatan iman jemaat secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan praktik panen padi dari masa sebelum Kristen, masa sesudah Kristen, hingga masa kini, sekaligus menganalisis nilai, makna, dan tema teologis yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini juga menelaah implikasi praktik tersebut bagi persekutuan Jemaat GMIT Imanuel Manefu, terutama dalam menghadapi tantangan relasi persaudaraan akibat konflik sosial, seperti perebutan tanah warisan. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, menggunakan wawancara mendalam dan studi pustaka sebagai sumber data utama, kemudian dianalisis melalui kerangka Teologi Kontekstual Model Sintesis karya Stephen B. Bevans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik panen padi di Manefu mengalami transformasi dalam bentuk kerja dan teknis pelaksanaan akibat pengaruh modernisasi yang bisa saja menggeser nilai-nilai inti Kristen yang terkandung dalam praktik tersebut seperti nilai persekutuan, kasih, persaudaraan, gotong royong, dan pemberian diri tanpa pamrih tetap terpelihara. Praktik panen padi dimaknai sebagai ritus syukur kepada Tuhan, peneguh identitas budaya jemaat, sarana penguatan relasi sosial, dan media pembentukan etos kerja yang bertanggung jawab. Refleksi teologis menegaskan bahwa praktik panen padi merupakan wujud teologi hidup yang kontekstual, di mana kerja dipahami sebagai bentuk ibadah, tanah sebagai anugerah Tuhan, dan tindakan berbagi sebagai kesaksian iman. Dalam konteks konflik warisan yang mengancam persatuan jemaat, praktik panen padi berpotensi menjadi ruang rekonsiliatif sekaligus pedagogi iman yang meneguhkan persekutuan sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, pemeliharaan dan pengembangan praktik ini menjadi penting sebagai media pewartaan Injil dan pembentukan spiritualitas komunal jemaat di tengah dinamika sosial dan perubahan zaman

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI EU’NAKAF (Menggunting Rambut) Suatu Tinjauan Kontekstual Tentang Makna Tradisi Eu’nakaf (Menggunting Rambut) dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, Klasis Amanuban Timur Selatan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologis pelaksanaan dan makna tradisi Eu’nakaf (menggunting rambut) serta implikasinya bagi kehidupan iman Jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, Klasis Amanuban Timur Selatan. Tradisi Eu’nakaf merupakan salah satu tradisi adat masyarakat Atoni Meto yang masih terus dipraktikkan hingga saat ini, khususnya dalam penerimaan anak. Dalam praktiknya, tradisi ini tidak hanya dipahami sebagai ritual budaya, tetapi juga memiliki dimensi religius yang berkaitan dengan perlindungan, keselamatan, serta masa depan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, analitis, dan reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan majelis jemaat, tokoh adat, serta anggota jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, dan didukung dengan studi kepustakaan. Analisis teologis dalam penelitian ini menggunakan tipologi hubungan Kristus dan kebudayaan menurut Niebuhr, khususnya tipologi ketiga tentang “Kristus di atas kebudayaan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Eu’nakaf mengandung nilai teologis, sosial, dan kultural yang penting, terutama sebagai ungkapan syukur dan penyerahan hidup kepada Allah, penguatan persekutuan jemaat, serta pelestarian identitas budaya lokal. Namun demikian, ditemukan pula adanya unsur-unsur tertentu yang berpotensi bertentangan dengan iman Kristen, seperti keyakinan tentang “mauputu” dan praktik ritual yang dapat menggeser peran Kristus sebagai satu-satunya sumber keselamatan. Oleh karena itu, tradisi Eu’nakaf perlu dimurnikan dan dimaknai kembali dalam terang Injil agar dapat menjadi sarana kontekstualisasi iman yang sehat, di mana kebudayaan tetap dihargai tanpa kehilangan pusat iman kepada Yesus Kristus.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

JAGUNG SEBAGAI PEMBERI KEHIDUPAN Suatu Tinjauan Teologis-Kontekstual Terhadap Filosofi Jagung Menurut Orang Putun dan Implikasinya Bagi Pos Pelayanan Getsemani Oekani Mata Jemaat Bethania Leteteta Klasis Amanatun Selatan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini berangkat dari realitas budaya masyarakat Putun, khususnya jemaat Pos Pelayanan Getsemani Oekani yang memaknai jagung sebagai pemberi kehidupan dan simbol penting dalam keberlangsungan hidup. Pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana dampak dari pemaknaan terhadap filosofi jagung. Ketika jagung diposisikan sebagai penentu keselamatan, maka iman jemaat mengalami pergeseran. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat filosofi jagung melalui pendekatan teologi kontekstual berdasarkan teori dari Richard Niebuhr dengan tipologi (Kristus memperbaharui budaya) dan membuat refleksi teologi kontekstual dari perspektif Alkitab dan iman Kristen, serta merumuskan implikasinya bagi kehidupan iman jemaat dan peran gereja. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah sebelas orang. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa jagung dapat dimaknai sebagai tanda pemeliharaan Allah yang menopang kehidupan jasmani, tetapi bukan sebagai sumber keselamatan. Yesus Kristus sebagai Roti Hidup adalah pusat iman dan sumber kehidupan sejati. Pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib menegaskan bahwa karya keselamatan Allah telah diselesaikan secara sempurna dan final. Sehingga praktik pengorbanan dalam budaya filosofi jagung perlu ditafsirkan kembali secara kritis dan teologis. Pengorbanan budaya pada jagung yang menuntut kurban sebagai syarat ketaatan pada leluhur untuk memperoleh kehidupan atau keselamatan tidak lagi dapat dipahami sebagai keharusan religius yang menentukan relasi manusia dengan Allah untuk memperoleh keselamatan. Sebab, dalam iman Kristen, relasi tersebut telah dipulihkan sepenuhnya melalui pengorbanan Kristus. Oleh karena itu budaya filosofi jagung tidak dihapus, melainkan diperbaharui nilai dan maknanya dalam terang injil sehingga dapat memmbangun iman jemaat yang kontekstual dan berakar pada Kristus.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI TUTUS Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Tradisi Tutus dan Maknanya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Oebitina

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini membahas tradisi Tutus sebagai salah satu praktik budaya yang masih dijalankan oleh jemaat GMIT Imanuel Oebitina di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi Tutus tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga diyakini memiliki makna religius yang berkaitan dengan harapan akan berkat, perlindungan, dan kesejahteraan hidup. Dalam praktiknya, tradisi ini kerap menimbulkan ketegangan teologis karena berpotensi melahirkan dualisme iman, yaitu pengakuan kepada Kristus sebagai sumber berkat, namun di saat yang sama masih bergantung pada praktik adat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat GMIT Imanuel Oebitina, menganalisis makna dan pelaksanaan tradisi Tutus dalam perspektif teologi kontekstual, serta merumuskan refleksi teologis, pastoral, dan implikasinya bagi pelayanan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi kontekstual model sintesis Stephen B. Bevans. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, dengan melibatkan anggota jemaat, majelis jemaat, serta tokoh adat. Data dianalisis secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tutus mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, solidaritas sosial, serta penguatan relasi kekeluargaan. Namun, di sisi lain, terdapat kecenderungan pemaknaan religius yang dapat mengaburkan pengakuan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber berkat. Melalui pendekatan sintesis, Injil dan budaya dipahami sebagai dua realitas yang dapat berdialog secara kritis dan konstruktif. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja mengembangkan pendampingan pastoral dan pendidikan iman yang kontekstual, sehingga jemaat mampu memaknai tradisi Tutus secara bijaksana, tetap menghargai budaya lokal, serta setia pada ajaran iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMUNITAS IMAN Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pelayanan UPP Perempuan Berdasarkan Pemikiran Robert O’Gorman di Jemaat GMIT Rehobot Kauan, Klasis Semau

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini mengkaji praktik arisan dalam ibadah Kaum Perempuan di Jemaat GMIT Rehobot Kauan, Klasis Semau, dalam terang pemahaman gereja sebagai komunitas iman menurut pemikiran Robert O’Gorman. Pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian adalah adanya ketegangan antara arisan sebagai sarana membangun kebersamaan dan ibadah sebagai perjumpaan dengan Tuhan, khususnya ketika motivasi sebagian anggota hadir dalam ibadah lebih didorong oleh arisan daripada oleh kerinduan bersekutu dengan Allah. Situasi ini menimbulkan pertanyaan teologis tentang apakah praktik arisan sungguh mendukung pembentukan komunitas iman atau justru berisiko menggeser makna ibadah menjadi kegiatan sosial semata. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan konteks Jemaat GMIT Rehobot Kauan, menganalisis pelaksanaan arisan dalam ibadah Kaum Perempuan, serta merumuskan refleksi teologis dan implikasi pastoral terhadap praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis-reflektif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur dengan narasumber yang terdiri dari unsur majelis, tokoh jemaat, dan kaum perempuan, serta analisis dokumen. Data dianalisis melalui proses reduksi, pengorganisasian, dan penafsiran secara tematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arisan memiliki dampak positif dalam meningkatkan kehadiran, mempererat relasi, dan menumbuhkan rasa kebersamaan di antara Kaum Perempuan. Arisan juga menjadi ruang perjumpaan yang lebih akrab untuk saling berbagi dan saling menopang dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penelitian ini juga menemukan adanya risiko pergeseran motivasi beribadah, ketika arisan menjadi daya tarik utama dan bukan lagi firman Tuhan dan persekutuan itu sendiri. Dalam terang pemikiran Robert O’Gorman, praktik arisan perlu ditempatkan secara seimbang dalam kerangka pelayanan, refleksi, dan persekutuan agar tetap mendukung pembentukan komunitas iman yang utuh. Dengan demikian, arisan dapat dipertahankan sebagai sarana pastoral yang kontekstual tanpa mengaburkan makna ibadah sebagai perjumpaan dengan Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

INDUSTRI TAMBAK GARAM Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Kehadiran Tambak Garam di GMIT Imanuel Walurede Dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Walurede

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi berjudul: Industri Tambak Garam dengan sub judul: Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Kehadiran Tambak Garam di Jemaat Imanuel Walurede dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Walurede yang ditulis oleh Raganof Miledu Biha. Penelitian ini berfokus pada persoalan ekoteologi yang sejauh mana kehadiran industri tambak garam di jemaat GMIT Imanuel Walurede mempengaruhi keadaan alam dan kehidupan jemaat setempat. Fokus ini muncul dari kenyataan efektifitas kehadiran tambak garam di tengah-tengah jemaat yang sangat mempengaruhi keadaan alam dan kehidupan jemaat dalam bersosialisasi antar jemaat. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan ekoteologi Emanuel Gerrit Singgih untuk menganalisis bagaimana pengaruh kehadiran tambak garam dan dapat memberikan sumbangan teologis dan praktis bagi jemaat GMIT Imanuel Walurede. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kehadiran tambak garam tidak serta-merta jemaat memperoleh lapangan pekerjaan, penghasilan yang menetap setiap bulan, pasokan garam yang banyak, tetapi juga terkandung dampak negatif, yaitu kerusakan alam yang membuat struktur tanah tidak subur, ketidakberlanjutan ekonomi dan ketegangan sosial jemaat serta munculnya pembangunan ekonomi yang tidak lagi berjalan seimbang dengan tanggung jawab terhadap ciptaan dan kehidupan sosial jemaat. Nilai-nilai yang terkandung dalam ekoteologi mengajak manusia untuk menghidupi cara mengelola dan juga tawaran dalam memelihara alam. Relevansi nilai-nilai ekoteologi bagi jemaat GMIT Imanuel Walurede terletak pada panggilan untuk menghidupi nilai-nilai tersebut sebagai tanggung jawab terhadap alam. Gereja diajak untuk menghidupi dan mengajarkan nilai-nilai kepada jemaat serta berpartisipasi dalam pengelolaan alam. Demikian pengelolaan industri tambak garam bukan menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi jemaat dalam melestarikan alam, melainkan kehadiran alam dapat dikelola dan dirawat dengan baik menjadi anugerah dari Allah dan bagian tersendiri dalam membangun pertumbuhan ekonomi bagi jemaat GMIT Imanuel Walurede.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PELAYANAN KESEMBUHAN YANG HOLISTIK “Suatu Kajian Naratif dari Injil Markus 8:22-26 dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Imanuel Oebitina, Klasis Rote Barat Daya”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tulisan ini memfokuskan pembahasan pada menafsir teks Injil Markus 8:22-26 untuk memberi makna dan sumbangsih bagi gereja khususnya gereja di GMIT Imanuel Oebitina dalam mengatasi masalah kesehatan. Kesembuhan perlu diberikan perhatian karena merupakan suatu tanggung jawab gereja sebagai persekutuan Kristus. Pelayanan gereja khususnya Jemaat Imanuel Oebitina, belum menerapkan dan memberikan pelayanan bagi mereka yang sakit secara holistik. Pelayanan gereja berfokus pada mendoakan dari mimbar gereja tanpa ada upaya praktis yang dilakukan serta program gereja yang belum menyentuh aspek kesehatan. Tujuan dari penulisan skripsi ini Adalah untuk menyikapi masalah sakit-penyakit dan upaya pelayanan yang dilakukan gereja dengan memaknai tindakan pelayanan Yesus terhadap mereka yang sakit sesuai hasil penafsiran teks Markus 8:22-26. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan metode tafsir naratif. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal penting. Pertama, pelayanan penyembuhkan Yesus bersifat holistik. Kedua, pelayanan aksi nyata yang dilakukan Yesus adalah dengan pendekatan personal dan intim dengan mereka yang sakit. Ketiga, pentingnya komunitas dalam proses penyembuhan. Selain itu Tindakan praktis yang dapat dilakukan gereja adalah memberikan perhatian bagi pelayanan yang telah dirumuskan dalam pokok-pokok eklesiologinya bahwa diakonia tidak hanya diperuntukkan bagi janda, duda dan yatim piatu tapi juga bagi mereka yang sakit. Kata-kata kunci: Injil Markus, Kesembuhan Holistik, Gereja, GMIT Imanuel Oebitina.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KERUSAKAN PANTAI Suatu Tinjauan Eko-teologi terhadap Kerusakan Pantai Akibat Aktivitas Penambangan Pasir dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Imanuel Manuoen, Klasis Rote Timur”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berfokus pada permasalahan kerusakan pantai akibat aktivitas penambangan pasir yang dilakukan oleh Jemaat GMIT Imanuel Manuoen. Aktivitas penambangan tersebut terus berlangsung meskipun jemaat menyadari dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Fokus penelitian ini berangkat dari realitas kerusakan lingkungan pesisir yang semakin meningkat dari waktu ke waktu sebagai akibat dari berbagai aktivitas manusia, yang berdampak signifikan baik bagi keberlangsungan kehidupan manusia maupun bagi kelestarian alam itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kehidupan jemaat, menganalisis penyebab serta dampak kerusakan pantai, dan mengkaji implikasi kerusakan tersebut bagi Jemaat GMIT Imanuel Manuoen, Klasis Rote Timur. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang bertujuan untuk memahami pengalaman hidup dan realitas jemaat dalam keterlibatannya pada aktivitas penambangan pasir. Analisis data dilakukan dengan menggunakan tinjauan ekoteologi, khususnya teori ekofeminisme Sally McFague tentang The Body of God. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama. Pertama, penyebab utama kerusakan pantai adalah dominasi pandangan antroposentris, meningkatnya tuntutan ekonomi, serta budaya jemaat yang cenderung memandang alam semata-mata sebagai objek eksploitasi. Kedua, kerusakan pantai memberikan dampak yang signifikan tidak hanya terhadap keberlanjutan kehidupan jemaat, tetapi juga terhadap keseimbangan ekosistem lingkungan pesisir. Ketiga, kerusakan pantai tidak hanya merupakan persoalan ilmiah dan ekologis, melainkan juga mencerminkan krisis moral dan spiritual, sehingga gereja memiliki peran strategis dalam menumbuhkan kesadaran ekologis jemaat. Keempat, perspektif alam semesta sebagai tubuh Allah mendorong jemaat untuk memandang alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari tubuh Allah yang harus dihargai, dirawat, dan dilestarikan sebagai wujud tanggung jawab iman kepada Sang Pencipta.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA DAN ABRASI PANTAI: "Suatu Tinjauan Ekoteologis Terhadap Peran Gereja dalam Mengatasi Abrasi Pantai dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Imanuel Wuihebo

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berjudul “Gereja dan Abrasi Pantai: Suatu Tinjauan Ekoteologi terhadap Peran Gereja dalam Mengatasi Abrasi Pantai dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Imanuel Wuihebo.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena abrasi pantai yang semakin mengancam ekosistem pesisir di wilayah Wuihebo, Sabu Raijua. Abrasi pantai tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi jemaat yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Imanuel Wuihebo dalam mengatasi persoalan abrasi pantai melalui pendekatan ekoteologi. Pendekatan ekoteologi digunakan untuk melihat bagaimana iman Kristen memandang tanggung jawab manusia sebagai mitra Allah dalam memelihara ciptaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gereja GMIT Imanuel Wuihebo memiliki potensi besar sebagai agen transformasi sosial dan ekologis. Gereja berperan dalam membangun kesadaran jemaat akan pentingnya menjaga lingkungan pesisir melalui pendidikan, pemberdayaan, dan aksi nyata seperti penanaman mangrove dan pembuatan tanggul penahan abrasi. Namun, masih ditemukan beberapa kendala seperti kurangnya pemahaman teologis jemaat mengenai tanggung jawab ekologis dan keterbatasan sumber daya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan ekoteologi dalam kehidupan bergereja di GMIT Imanuel Wuihebo perlu terus ditingkatkan agar gereja dapat menjadi komunitas etis dan profetis yang mampu menjawab tantangan abrasi pantai secara berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi gereja-gereja lain di wilayah pesisir untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan sebagai wujud nyata iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TEBE “ Suatu Tinjauan Teologi Kontekstuak Terhadap Tarian Tebe dan Maknanya Bagu Persekutuan Jemaat GMIT Imanuel Maktihan, KLasis Malaka”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengangkat tarian Tebe sebagai objek kajian teologi kontekstual dalam kehidupan bergereja Jemaat GMIT Imanuel Maktihan, Klasis Malaka. Di tengah arus modernisasi dan meningkatnya sikap individualisme dalam kehidupan jemaat, tarian Tebe hadir sebagai media budaya lokal yang memiliki daya integratif, memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan persekutuan dalam komunitas Kristen. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif, penelitian ini menggali makna spiritual dan sosial dari tarian Tebe melalui observasi, wawancara, serta studi pustaka dan dokumentasi. Teori teologi kontekstual Stephen B. Bevans menjadi landasan utama dalam menafsirkan hubungan antara budaya lokal dan ekspresi iman Kristen dalam liturgi dan kehidupan bergereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian Tebe tidak hanya merupakan warisan budaya masyarakat Tetun di Malaka, tetapi juga telah diadopsi secara kreatif dalam berbagai bentuk ibadah dan perayaan gerejawi di GMIT Imanuel Maktihan. Gerakan ritmis dan pantun dalam Tebe yang dilakukan dalam formasi lingkaran mencerminkan makna kolektif, solidaritas, serta penghormatan terhadap sejarah dan spiritualitas lokal. Melalui penerapan Tebe dalam kehidupan liturgis, gereja berhasil menjembatani kesenjangan antara ekspresi iman dan konteks budaya masyarakatnya.Tarian Tebe dipahami sebagai respons iman yang kontekstual terhadap krisis persekutuan akibat meningkatnya individualisme dalam jemaat. Dalam praktiknya, Tebe menjadi sarana profetik yang mengembalikan kesadaran umat akan pentingnya relasi sosial yang saling menopang. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa budaya lokal seperti Tebe dapat menjadi wahana penyalur pesan teologis yang transformatif, membentuk spiritualitas yang membumi dan relevan dalam konteks kehidupan bergereja di tengah masyarakat yang terus berubah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENATALAYANAN SEBAGAI TUGAS GEREJA Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Tugas Gereja dalam Menata Lingkungan Alam dan Implikasinya bagi Krisis Ekologi di GMIT Imanuel Oenay, Klasis Amanuban Timur Selatan

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Krisis ekologi yang terjadi di wilayah pelayanan GMIT Imanuel Oenay, Klasis Amanuban Timur Selatan, menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian gereja sebagai komunitas iman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk dan penyebab kerusakan lingkungan di Jemaat GMIT Imanuel Oenay, bagaimana gereja merespons krisis tersebut, serta bagaimana refleksi teologis tentang penatalayanan dapat diterapkan dalam konteks tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan penelitian lapangan. Dengan teknik observasi serta wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik tebas bakar yang diwariskan secara turun-temurun, rendahnya pemahaman ekoteologis, dan lemahnya implementasi program gereja menjadi penyebab utama terjadinya krisis ekologi. Situasi ini diperparah oleh kondisi topografi wilayah Desa Oenay yang didominasi lereng curam dengan jenis tanah yang rawan longsor dan curah hujan tinggi, sehingga rentan terhadap bencana seperti erosi dan tanah longsor. Dalam refleksi teologis, pemikiran Norman L. Geisler memberikan dasar bahwa penatalayanan berakar pada doktrin penciptaan: bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu dan manusia hanyalah pengelola yang bertanggung jawab. Tanggung jawab tersebut bukan sekadar etis-praktis, tetapi merupakan panggilan iman untuk merawat bumi sebagai rumah tangga Allah. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk menyuarakan suara profetis, membangun kesadaran ekoteologis, dan menghidupi spiritualitas ekologis melalui tindakan nyata yang kontekstual dan berkelanjutan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUS HAMAYANG TOLLAK “Suatu Tinjauan Teologi Terhadap Ritus Hamayang Tollak Dalam Proses Pembuatan Rumah Adat Sumba Tengah dan Maknanya bagi GKS Jemaat Parewatana”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini mengkaji ritus Hamayang Tollak dalam proses pembangunan rumah adat di Sumba Tengah serta maknanya bagi jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Parewatana. Masalah utama yang diangkat adalah masih kuatnya kepercayaan tentang budaya Marapu dalam jemaat, terhadap ritus ini meskipun mereka telah beriman Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka dan penelitian lapangan, dengan wawancara terhadap tuan rumah, tukang, rato adat, majelis, dan warga jemaat sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritus ini dianggap penting untuk menjaga keselamatan dan kelancaran hidup, serta dihargai sebagai warisan leluhur. Namun, terdapat ketegangan antara nilai-nilai budaya dan ajaran iman Kristen. Beberapa elemen ritus dinilai bertentangan dengan teologi Kristen, terutama dalam hal persembahan kepada roh leluhur. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan perlunya gereja melakukan pendekatan teologis dan pastoral yang kontekstual. Gereja tidak hanya dituntut untuk mengoreksi, tetapi juga menafsir ulang nilai-nilai budaya yang masih hidup agar selaras dengan Injil. Disarankan agar GKS Parewatana meningkatkan pembinaan iman dan pendampingan terhadap jemaat dalam menghadapi praktik budaya yang bersinggungan dengan kepercayaan Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MELAYANI YESUS DALAM DIRI ORANG YANG PALING HINA "Suatu Kajian Tafsir Perumpamaan Terhadap Teks Injil Matius 25:31-46 dan Sumbangsihnya bagi Pelayanan Jemaat GMIT Syalom Kupang Klasis Kota Kupang"

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelayanan kepada orang yang paling hina bukanlah tindakan bela kasihan semata, melainkan sebuah perjumpaan dengan Kristus sendiri. Matius 25:31046 menegaskan bahwa Yesus hadir dalam kehidupan mereka yang paling terhina dan sering dilupakan oleh dunia. Yesus menyamakan diri-Nya dengan “orang yang paling hina”, yaitu mereka yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit, dan di dalam penjara. Melayani mereka berarti melayani Kristus sendiri, dan hal ini menjadi dasar penilaian dalam penghakiman terakhir. Penulis tertarik untuk menulis karya ilmiah yang berjudul: "Melayani Yesus dalam Diri Orang yang Paling Hina: Suatu Kajian Tafsir Perumpamaan Terhadap Teks Injil Matius 25:31–46 dan Sumbangsihnya bagi Pelayanan Jemaat GMIT Syalom Kupang Klasis Kota Kupang." Tujuan utama dari tulisan ini adalah untuk menggali makna teologis dari perumpamaan penghakiman terakhir dalam Injil Matius 25:31–46, serta mengkaji relevansinya bagi praksis pelayanan jemaat, khususnya dalam konteks pelayanan sosial GMIT Syalom Kupang. Penafsiran teks dilakukan dengan menganalisis konteks historis, sosial, dan literer dari perikop tersebut, serta memperhatikan struktur naratif dan pesan teologis yang terkandung di dalamnya. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukan bahwa perumpamaan ini menjadi dasar seorang Kristen hidup dalam kehidupan sebagai seorang individu dan sebagai komunitas yaitu gereja. Identifikasi Yesus dengan diri “orang yang paling hina” memberi kontribusi bagi pelayanan GMIT Syalom Kupang bahwa bahwa pelayanan sosial bukan sekadar aktivitas karitatif, melainkan bentuk nyata dari spiritualitas Kristen yang berakar pada ajaran Yesus. Tulisan ini mendorong gereja untuk lebih peka dan aktif dalam melayani kelompok-kelompok marginal sebagai wujud ketaatan iman. Dengan demikian, pelayanan jemaat tidak hanya bersifat ritualistik, tetapi juga transformatif bagi masyarakat sekitar. Ini merupakan identitas gereja dan tanggung jawab sosial gereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KEHADIRAN ALLAH “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pandangan Anak Yatim Piatu Mengenai Kehadiran Allah dan Implikasinya Bagi Kehidupan Anak Yatim Piatu di Jemaat GMIT Nazaret Taum, Klasis Amanuban Selatan”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kehadiran Allah merupakan realitas transendental yang menjadi pusat pergumulan iman manusia, termasuk anak-anak yatim piatu. Dalam konteks Jemaat GMIT Nazaret Taum, terdapat kesenjangan pemahaman anak-anak yatim piatu mengenai kehadiran Allah. Sebagian merasakan kehadiran Allah melalui doa dan perenungan, sementara sebagian lainnya meragukan keberadaan-Nya akibat pengalaman kehilangan orang tua dan penderitaan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konteks kehidupan Jemaat GMIT Nazaret Taum, mengidentifikasi pandangan anak-anak yatim piatu tentang kehadiran Allah, serta melakukan refleksi teologis terhadap pandangan tersebut. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan sampel berjumlah 15 orang, terdiri dari 1 orang pendeta, 3 orang majelis jemaat, 2 orang anggota jemaat, dan 9 orang anak-anak yatim piatu. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Analisis data dalam penelitian adalah deskriptif analisis dengan metode penulisan deskriptif, analisis, dan refleksi. Kemudian penulis juga ingin mengetahui pandangan anak yatim piatu dengan pendekatan Ebenhaizer Nuban Timo, yaitu Allah yang transenden dan Allah yang imanen, dan implikasinya bagi kehidupan anak yatim piatu di Jemaat GMIT Nazaret Taum. Hasil penelitian menunjukkan sosok Allah yang di butuhkan anak yatim piatu di GMIT Nazaret Taum adalah Allah yang memberikan perlindungan, pengganti orang tua, yang dekat dan mendengar, yang menyayangi, yang tidak meninggalkan, Allah yang tidak mengabaikan dan tidak mengasingkan. Anak yatim piatu mengidentifikasi Allah sebagai sumber kasih sayang yang hilang dari orang tua mereka, sehingga mereka membutuhkan Allah yang memberikan perhatian dan kehangatan seperti halnya seorang ibu dan bapak yang memberikan belaian lembut, pelukan dan rasa aman. Berdasarkan refleksi teologis tersebut, saran bagi Gereja adalah dengan kehadiran Gereja ditengah jemaat harus mampu mewujudkan kehadiran Allah sebagai Ayah dan Ibu, melakukan pelayanan pastoral, dan berkolaborasi dengan pemerintah untuk membantu anak yatim piatu.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail