ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak
Penelitian ini merupakan suatu tinjauan teologis kontekstual terhadap ritual penyembahan kepada roh orang yang sudah meninggal dan implikasinya bagi jemaat Syalom Oepula. Ritual penyembahan kepada roh orang yang telah meninggal adalah praktik keagamaan yang telah menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi masyarakat Oepula. Tinjauan teologis ini bertujuan untuk memahami praktik ini dari sudut pandang teologi Kristen, menggali akar teologisnya, serta menganalisis implikasi dan dampaknya pada jemaat Syalom Oepula.Studi ini menggunakan pendekatan teologis kontekstual untuk menghargai dan memahami praktik tradisional ini dalam konteks lokal dan budaya. Metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara, dan diskusi kelompok terfokus. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik penyembahan roh orang yang sudah meninggal diakar pada keyakinan tentang hubungan manusia dengan dunia roh dan leluhur.Implikasi bagi jemaat Syalom Oepula mencakup perluasan pemahaman teologis mengenai kematian dan kehidupan sesudahnya, serta bagaimana menghadapi ritual tradisional tersebut dari perspektif iman Kristen. Temuan penelitian ini menyiratkan pentingnya dialog dan dialog teologis antara agama tradisional dan iman Kristen, untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam dan inklusif tentang kepercayaan dan praktik keagamaan di Oepula.
Tinjauan teologis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam menjembatani perbedaan dan memperkuat identitas iman Kristen di tengah masyarakat Oepula yang beragam budaya dan keyakinan. Implementasi temuan penelitian ini dapat memberikan landasan bagi pendekatan pastoral yang menghormati budaya setempat dan mempromosikan nilai-nilai keadilan, kasih, dan toleransi dalam hubungan antarumat beragama di Oepula.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
TRADISI MASEKEN-SUATU TINJAUAN TEOLOGIS KRISTEN TERHADAP TRADISI DORONG-MENDORONG PETI JENAZAH DI JEMAAT OEMATHONIS BOBOK
Penelitian yang penulis lakukan mengangkat sebuah tema Tradisi Maseken, dengan sub-tema Suatu Tinjuan Teologis Kristen Terhadap Tradisi Dorong-mendorong Peti Jenazah di Jemaat Oemathonis Bobok.
Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library) dan penelitian lapangan (Field Research) bersifat deskriptis kualitatif dengan menggunakan pendekatan teologi, dan fenomologi. Sumber data penelitian ini adalah jemaat Oemathonis Bobok, klasis Amanatun Selatan dan pelaksanaan tradisi maseken. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, 1) Proses tradisi Maseken sangat berbeda dengan proses penguburan jenazah pada umumnya di mana tradisi Maseken ini menggunakan kegiatan dorong-mendorong peti Jenazah di sepanjang perjalanan menuju liang kubur. 2) Pemahaman jemaat Oemathonis Bobok terhadap tradisi Maseken beragam namun tidak Alkitabiah dan mengandung unsur bersifat mitos. 3) Perspektif teologis terhadap tradisi Maseken, dalam hal kepercayaan perlu adanya pembicaraan ulang yang baik untuk meluruskan pemahaman Jemaat Oemathonis Bobok, serta memberi makna yang lebih teologis sesuai dengan pelaksanaannya yang dalam lingkup agama.
Implikasi dalam kajian ini adalah: 1) Dalam pelaksanaan tradisi Maseken perlu untuk melakukan peninjauan ulang mengenai serangkaian acara dalam tradisi tersebut serta pemaknaan dari tradisi Maseken tersebut. Baik dari segi aspek tingkah laku maupun kepercayaan, agar tidak terjadi pertentangan antara agama, dan tingkah laku dalam tradisi. 2) Antara agama dan tradisi masyarakat dalam lingkungan setempat harus selalu sejalan, karena agama seharusnya dijadikan sebagai pedoman hidup yang dapat diinterpretasikan dalam beberapa nilai tradisi yang berlaku.
Tujuan penulis melakukan kajian ini adalah untuk mengembalikan kesadaran jemaat tentang segala sesuatu yang dilaksanakan dalam siklus kehidupan (termasuk dalam hal kematian) harus dengan pemaknaan yang sesuai dengan ajaran agama Kristen. Dan lagi, untuk mengedepankan pengajaran yang berdasarkan pada ajaran-ajaran yang Kristiani.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
penelitian ini dilakukan untuk menjawab dua pertayaan: 1) Apa jenis makna yang ditemukan dalam lirik lagu daerah sumba? 2) apa fungsi yang ditemukan pada lirik lagu daerah sumba? Penulisan ini berfokus pada makna dan fungsi lagu sumba penelitian ini adalah semua lirik dan kalimat dari tiga lirik lagu sumba penulisan menggunakan metode kualitatif, dimana datanya ada pada lirik ketiga lagu yang memeliki makna dalam liriknya data dianalis secara kualitatif berdasarkan analisis diketahui bahwa dua jenis makna yang yang satu ini yaitu makna lexical dan kontextual, sedangkan fungsi lagu adalah mendidik, menghibur dan menasehati sebagai nilai moral
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: Permainan Lompat Tali Merdeka adalah sebutan untuk mereka yang tinggal di Provinsi Riau. Di daerah yang masyarakatnya adalah pendukung kebudayaan Melayu ini ada sebuah permainan yang disebut sebagai tali merdeka. Inti dari permainan ini adalah melompat tali-karet yang tersimpul. Penamaan permainan ini ada kaitannya dengan tingkah laku atau perbuatan yang dilakukan pemain itu sendiri, khususnya pada lompatan yang terakhir. Pada lompatan ini (yang terakhir), tali direnggangkan oleh pemegangnya setinggi kepalan tangan yang diacungkan ke udara. Kepalan tangan tersebut hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh para pejuang ketika mengucapkan kata “merdeka”. Tujuan penelitian: Dari rumusan masalah yang telah dijelaskan maka yang menjadi tujuan penilitian ini adalah untuk mengetahui Penerapkan pembelajaran gerak dasar lompat berbasis permainan tradisional pada siswa kelas IV SD Inpres Kobelete. Metode penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif karena penelitian ini bersifat penelitian kualitatif naturalistic (alamiah) yaitu untuk mendapat informasi mengenai fenome-fenomena atau situasi yang aktual pada saat penelitian berlangsung. Hasil dan pembahasan: Dari hasil observasi, wawancara yang telah diperoleh, penulis memperoleh gambaran bahwa kajian permainan tradisional lompat tali sebagai kegiatan pemebelajaran anak di SD Inpres Kobelete mengacuh pada beberapa nilai yang saling berkaitan, diantaranya adalah Sarana dan Prasarana, Pelaksanaan, 1. Tahap Pertama Setinggi Mata Kaki atau Satu Jingkal Dari Tanah, 2. Tahap Kedua Setinggi Lutut Kaki, 3. Tahap ketiga setinggi pinggang, 4. Tahap keempat setinggi dada, 5. Tahap kelima setinngi Telinga, 6. Tahap keenam setinggi tangan diatas kepala dan kaki dijinjit.
Simpulan: Melalui penelitian ini maka peneliti menyimpulkan bahwa, Permainan tradisional lompat tali sebagai kegiatan pembelajaran bagi anak di SD Inpres Kobelete. Selain dari pada itu demi mendapatkan suatu kesenangan, kegembiraan, dan kepuasan dalam diri seseorang serta efektifnya suatu proses pembelajaran, maka olahraga rekreasi dengan menggunkan salah satu permainan tradisional yaitu permainan lompat tali menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan oleh anak di sekolah
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan tali (absal) adalah salah satu produk olahan tradisional dengan menggunakan metode pengeringan. Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air bahan sampai mencapai kadar air tertentu sehingga dapat memperlambat laju kerusakan produk akibat aktivitas biologi dan kimia. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai (kadar air, kadar protein, kadar garam, kadar abu dan kadar abu tak larut asam) dan penilaian organoleptik (kenampakan, aroma, tekstur dan rasa) terhadap ikan tali (absal) yang diproduksi secara tradisional oleh masyarakat Desa Maru Kecamatan Pulau Pura Kabupaten Alor.
Penelitian ini telah dilaksanakan selama bulan Juni sampai Agustus 2022, yang dilakukan dalam 2 (dua) tahap dengan tempat yang berbeda. Pengambilan sampel di Desa Maru Kecamatan Pulau Pura Kabupaten Alor, pengujian organoleptik, kadar air, kadar protein dan kadar garam di Laboratorium Eksakta Universitas Kristen Artha Wacana dan pengujian kadar abu dan abu tak larut asam di Laboratorium Biologi Universitas Kristen Artha Wacana. Ikan tali (absal) yang diproduksi secara tradisional oleh masyarakat Desa Maru untuk pengujian secara objektif nilai kadar air (15,51%-18,06%) memenuhi SNI 8273-2016, kadar protein (14,30%-15,57%), kadar garam (1,08%-1,62%) memenuhi SNI 8273-2016, kadar abu (0.7%-2,1%) dan kadar abu tak larut asam (0,4%-0,6%) tidak memenuhi SNI 8273-2016. Ikan tali (absal) khas Desa Maru Kecamatan Pulau Pura Kabupaten Alor merupakan produk olahan tradisional sehingga mempunyai kenampakan, aroma, tekstur dan rasa cenderung disukai panelis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
PERMAINAN TRADISIONAL MENJALA IKAN DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES UNTUK MENINGKATKAN KEBUGARAN JASMANI
Yusak T.Laubura1*, M.Rambu P.Wasak2, Jimmy Ch. Atty3
1,2,3Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia
email. [email protected]
Latar belakang: Bermain dan permainan sangat penting bagi manusia di segala usia. Bagi anak, karena merupakan syarat mutlak untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangannya, baik itu psikomotor, afektif, maupun kognitif
Tujuan penelitian: Untuk mengetahui Permainan Tradisional Menjala Ikan Dalam Pembelajaran Penjasorkes Dapat Meningkatkan Kebugaran Jasmani Siswa Kelas V SD Inpres Oebufu.
Metode penelitian: Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas atau Classroom Action Research dibagi menjadi 4 tahapan yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observing), serta refleksi (reflecting) yang dilakukan secara berurutan dan diidentifikasi menjadi sebuah siklus
Hasil dan pembahasan: Pelaksanaan pada Siklus I diperoleh nilai rata-rata keseluruhan dari 14 orang siswa yaitu 75.05% dengan rincian 8 orang siswa yang belum memenuhi kriteria ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 71,77% dan jumlah yang tuntas yaitu 6 orang siswa dengan nilai rata-rata 79,41%. Pelaksanaan siklus II diperoleh rata-rata keseluruhan siswa adalah 90,01% dari Kriteria ketuntasan hasil belajar 75%.
Simpulan: Sesuai dengan hasil tersebut maka dapat disimpulkan siswa dapat memahami akan peraturan dan permainan tradisional menjala ikan dalam pembelajaran penjasorkes
Katakunci: Permainan tradisional menjala ikan;Pembelajaran penjasorkes
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang : Rangkuk alu merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menggunakan dua pasang bambu atau tongkat yang di gerak-gerakan hingga kaki pemain lawan terjepit bambu. Bagi masyarakat Manggarai rangkuk alu dilakukan untuk merayakan hasil panen perkebunan dan pertanian.
Tujuan penelitian: Berdasarkan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Analisis Gerak Tarian Tradisional Rangkuk Alu Pada Sanggar Wela Rana.
Metode penelitian : Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Pendekatan kualitatif naturalistik karena dalam penelitian ini menghasilkan kesimpulan berupa data yang menggambarkan secara rinci, bukan data yang berupa angka-angka.
Hasil dan Pembahasan : Tarian rangkuk alu merupakan tarian tradisional Manggarai. Dalam tarian rangk uk alu ini dapat melatih, kelincahan, ketelitian dan ketepatan dalam mengambil keputusan yang akan dilakukan. Dalam tarian ini penarinya melakukan gerakan seperti melompat-lompat. Pada saat menari penari melakukan gerakan olahraga seperti, menjingkat, melompat, dan menghindar. Gerakan ini dikategorikan dalam gerakan lokomotor.
Simpulan : Tarian Rangkuk Alu ini biasanya menggunakan alat yaitu bambu yang terdiri dari 4-6 bambu yang disusun membentuk pola dan dimainkan dengan cara dihentakan yang menghasilkan ketukan, dimana dalam setiap hentakan tersebut penari melakukan gerakan melompat dan menghindar agar tidak terkena jepitan bambu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK KAJIAN PERMAINAN TRADISIONAL SIKI DOKA SEBAGAI KEGIATAN REKREASI ANAK DI SD INPRES MBIU KECAMATAN NDAO NUSE KABUPATEN ROTE NDAO Yusak Sedeh1* , Lukas M. Boleng2 , Christin P. M. Rajagukguk3 1,2,3Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia email. [email protected] Latar belakang: Permainan tradisional mengandung nilai permainan dan olahraga. Permainan tradisional salah satu permainan yang dimainkan oleh orangorang dulu. Permainan tradisional juga merupakan kegiatan yang bersifat menghibur yang menggunakan alat sederhana dan telah diwariskan dari generasi kegenerasi. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kajian permainan tradisional siki doka sebagai kegiatan rekreasi anak di SD Inpres Mbiu Kecamatan Ndao Nuse Kabupaten Rote Ndao. Metode penelitian: Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas V, dan guru penjasorkes di SD Inpres Mbiu Ndao Nuse Kabupaten Rote Ndao. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan 1) observasi, 2) wawancara, 3) dokumentasi, guna melengkapi data penelitian, teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif Hasil dan pembahasan: Melalui permainan siki doka sebagai kegiatan rekreasi anak, anak merasakan suatu kepuasan pada dirinya sendiri serta merasa senang, gembira dan bersemangat yang mengacu pada faktor 1) Nilai integrasi, 2) Nilai social, 3) Nilai kerja sama, 4) Nilai saling menghargai, 5) Nilai keterampilan dan 6) Nilai ketelitian. Simpulan: Demi mendapatkan suatu kesenangan, kegembiraan, dan kepuasan dalam diri seseorang, maka olahraga rekreasi dengan menggunkan salah satu permainan tradisional yaitu siki doka menjadi salah satu alternatif aktivitas yang dilakukan anak di sekolah. Katakunci: Permainan Tradisional; Rekreasi Anak
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat Amarasi Barat Desa Tunbaun mengenai tradisi kosu.tempat penelitian dilaksanakan di Desa Tunbaun, Amarasi Barat dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat desa Tunbaun yang mengerti dengan tradisi kosu dengan sample dalam penelitian ini berjumlah 6 orang yang terdiri dari 3 tokoh adat, 1 guru, 1 ibu rumah tangga dan 1 mahasiswa dengan menggunakan pengambilan sample secara probality sampling dengan cara sampel random sampling. Teknik pengumpulan data digunakan teknik wawancara dan hasil observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, masyarakat Tunbaun mempersepsikan kosus sebagai salah satu harta kebudayaan orang Amarasi yang harus dijaga untuk generasi-generasi selanjutnya agar kedepannya tidak hilang.. Harapannya pada tradisi kosu ini bisa dilestarikan dan dipertahankan turun-temurun sampai generasi-generasi beikutnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
IMPLEMENTASI PERMAINAN TRADISIONAL DALAM PERKEMBANGAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA ANAK USIA DINI
Jefri Bani1*, Agustinus Jacob Nafie2, Jimmy Ch. Atty3
1,2,3Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia
email. [email protected]
Latar belakang:Permainan tradisional adalah jenis permainan yang mengandung nilai-nilai budaya yang hakikatnya merupakan warisan leluhur. Keterampilan sosal adalah jenis keterampilan yang diperoleh individu melalui proses belajar yang digunakan dalam berhubungan dengan lingkungannya dengan cara baik dan tepat.
Tujuan penelitian:Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi keterampilan sosial melalui permainan tradisionalGalaAsedi SD Inpres Oenasi.
Metode penelitian:Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang digunakan sebagai cara atau prosedur untuk memecahkan suatu masalah. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil dan pembahasan:Perkembangan sosial anak usia 6 tahun sudah menyukai permainan yang melibatkan imajinasi dan fantasi serta anak suka bermain dengan teman-teman yang memiliki jenis kelamin sama. Perkembangan sosial anak usia 7 tahun terkadang mau bermain berkelompok dengan teman-temannya, tetapi kadang juga ingin bermain sendiri. Perkembangan sosial anak usia 8 tahun tentu sudah semakin terasa baik karena anak mendapatkan rasa aman ketika terlibat dalam kegiatan kelompok yang ia sukai, misalnya mengikuti ekstrakulikuler olahraga, ektrakulikuler pramuka dan lainnya. Perkembangan sosial anak usia 9 tahun biasanya sudah mencapai berbagai hal seperti anak memahami norma sosial dan perilaku yang baik untuk dilakukan dan anak mulai tertarik ingin tahu mengenai hubungan antara anak laki-laki dan perempuan.
Simpulan:Perkembangan keterampilan sosial yang ditunjukan oleh peserta didik melalui permainan tradisional Gala Ase yaitu mampu terbiasa berinteraksi, tanggung jawab, disiplin, saling menghargai, kerja sama, kerja keras, kekompakan, kepemimpinan dan pantang menyerah.
Katakunci: Implementasi Permainanl Tradisional, Keterampilan sosial
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSRAKSI Garam adalah senyawa kimia yang komponen utamanya mengandung natrium klorida (NaCl), senyawa air, ion magnesium, ion kalsium dan ion sulfat (Rismana dkk, 2014). Produksi garam rakyat yang menjadi mata pencaharian utama pada musim kemarau melanda. Produksi garam sangat membantu perekonomian rakyat. Pembuatan garam di Desa Ngadu Bolu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Kabupaten Sumba Tengah, mengunakan penyaringan alang-alang yang masih mempertahankan pengolahan secara tradisional sehingga masi belum menghasilkan garam yang dihasilkan masih belum memenuhi standar Standar Nasional Indonesia (SNI). Salah satu upaya dalam teknik pengolahannya harus adanya modifikasi alat penyaringan yang digunakan. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui teknik pembuatan garam rakyat yang dimasak secara tradisional Di Desa Ngadu Bolu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Kabupaten Sumba Tengah dengan pengujian (kadar air, NaCl, Organoleptik dan pengamatan Baume). Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2021 di Desa Ngadu Bolu, Kecamatan Umbu Ratu Ngay, Kabupaten Sumba Tengah. Untuk pengujian Kadar Air dan organoleptik telah dilakuan di Laboratorium Eksakta UKAW Kupang sedangkan untuk pengujian Kadar dan kadar garam (NaCl) di Laboratorium Saraswanti Indo Genetech, Bogor. Metode penelitian yaitu metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan analisis data deskriptif komparatif. Hasil penelitian garam Di Desa Ngadu Bolu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Kabupaten Sumba Tengah untuk pengujian organoleptik parameter warna garam yaitu warna putih kecoklatan, parameter bau garam yaitu bau tidak normal, kadar air yaitu Kelompok I 8,56% dan kelompok II 9,95%, Nacl kelompok I 81,54% dan untuk kelompok II 82,01. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Produksi garam Secara Tradisonal masih tradisional meliputi tanah digaruk dan dikumpulkan, penyaringan dilakukan selama ±2 jam dengan (80 kg tanah muara dan 120 liter air muara), proses pemasakan ±7 jam, penirisan ±2 jam, dan distribusi. Kata kunci: garam masak tradisional, kadar air, NaCl, Organoleptik dan pengamatan Baume. ABSTRACT Salt is a chemical compound whose main components contain sodium chloride (NaCl), water compounds, magnesium ions, calcium ions and sulfate ions (Rismana et al., 2014). The people's salt production is the main source of livelihood during the dry season. Salt production is very helpful for the people's economy. Salt making in the Village Ngadu Bolu, Umbu Ratu Nggay District, Central Sumba Regency, using reed filtering which still maintains traditional processing so that it still has not produced the salt produced yet does not meet the standards of the Indonesian National Standard (SNI). One of the efforts in the processing technique must be a modification of the filtering tool used. The purpose of the study was to determine the technique of making traditional people's salt in Ngadu Bolu Village, Umbu Ratu Nggay District, Central Sumba Regency by testing (moisture content, NaCl, Organoleptic and Baume observations. This research was carried out in May 2021 in Ngadu Bolu Village, Umbu Ratu Nggay District, Central Sumba Regency. The water content and organoleptic tests have been carried out at the exact laboratory of UKAW Kupang, while for testing the concentration and salt content (NaCl) at the Saraswanti Indo Genetech Laboratory, Bogor. The research method is descriptive qualitative and quantitative methods using comparative descriptive data analysis. The results of salt research in Ngadu Bolu Village, Umbu Ratu Nggay District, Central Sumba Regency for organoleptic testing, salt color parameters are brownish white, salt odor parameters are abnormal odors, water content is Group I 8.56% and group II 9.95 %, NaCl group I was 81.54% and for group II 82.01. From the results of the study, it can be concluded that traditional salt production is still traditional, including raked and collected soil, filtering is carried out for ± 2 hours with (80 kg of estuary soil and 120 liters of brackish water), cooking process for ± 7 hours, draining ± 2 hours, and distribution. Keywords: Traditional Cooking Salt, Water Content, NaCl, Organoleptic and Baume's observation.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
UMBU RATUNGGAI, NIM: 16320744, dengan judul Tinjauan Tentang unsur keseimbangan Dalam Permainan Tradisional Siki Doka Pada Siswa SMP N 1 KOTA KUPANG. Pada Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan Dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Dengan Dosen Pembimbing I Drs. Lambertus Ara Tukan., M.M. Pembimbing II Jusuf Blegur, S.Pd., M.Pd.
Kata Kunci : Keseimbangan Permainan Tradisional Siki Doka
Permainan merupakan sebuah jembatan untuk meningkatkan daya intelektual seorang siswa dan juga melatih kekuatan pada kaki untuk menjaga keseimbangan tubuh siswa. Sehingga, Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis keseimbangan siswa dalam permainan tradisional Siki Doka di SMP N 1 Kota Kupang, penelitian ini merupakan penelitian deskripsi kualitatif, sedangkan observasi dan tes prakrik dalam penelitian ini yakni pada siswa kelas VII/A SMP N 1 Kota Kupang sebanyak 20 siswa dengan teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah observasi dan tes praktek. Dan alat (garis, balok dan stopwacth) yang digunakan yaitu untuk mengukur keseimbangan tubuh siswa. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ternyata permainan tradisional Siki Doka ini dapat membantu melatih keseimbangan tubuh siswa kelas VII/A SMP N 1 Kota Kupang, karena apabila dilihat dari hasil setelah memberikan permainan tradisional Siki Doka terus-menerus pada siswa maka, komponen fisik dan kekuatan otot pada siswa terbentuk pada saat bermain, dan peneliti membuktikan lewat kedua hasil tes keseimbangan yang dilakukan menggunakan beberapa alat dalam penelitian dan dapat membuktikan keseimbangan siswa dari 20 siswa ternyata 16 siswa dinyatakan seimbang dan 4 siswa diantara tidak seimbang. Kesimpulannya, ternyata dalam permainan tradisional Siki Doka terdapat aktifitas fisik seperti melatih kekuatan tungkai kaki, otot kaki dan persendian pada kaki sehingga dapat membantu meningkatkan aktifitas komponen gerak fisik terutama pada kekuatan kaki saat siswa beraktifitas. Hal ini dibuktikan lewat penujian keseimbangan yang di lakukan bertahap yakni; pengujian keseimbangan secara statis/detik, dinamis/detik dan pengujian keseimbangan menggunakan alat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN OBAT TRADISIONAL DIDESA WADUMADDI KECAMATAN HAWU MEHARA KABUPATEN SABU RAIJUA Djara R. S)* Ballo A)** Nge S. M)** Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa banyak jenis tumbuhan obat, organ yang digunakan, cara pengolahan tumbuhan obat yang digunakan sebagai pengobatan tradisional oleh masyarakat di Desa Wadumaddi Kecamatan Hawu Mehara Kabupaten Sabu Raijua. Penelitian deskriptif (eksplorasi) ini menggunakan teknik purposive sampling untuk menentukan 30 responden yang terdiri dari 13 pengobat tradisional, 2 tokoh masyarakat, dan 15 pasien. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara terstruktur, eksplorasi, identifikasi, serta dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian mencatat adanya 34 jenis tumbuhan obat tradisional yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Wadumaddi yaitu Vitex trifolia, Jatropha gossypifolia L, Orthosiphon aristatus, Nicotiana tabacum, Annona squamosa L, Curcuma longa L, Aloe vera, Pendanus amaryllifolius, Lantana camara L, Phyllanthus urinaria, Leucaena leucocephala, Calotropis gigantea, Chromolaena odorata L, Acorus calamus, Muntingia calabura L, Tamarindus indica L, Persea americana, Cordia mixa L, Indigofera tinctoria L, Manihot esculenta Crantz, Annona muricata, Ocimum tenuiflorum L, Zizipus mauritiana, Areca catechu L, Cassytha filiformis L, Punica granatum, Cocos nucifera L, Borassus flabellifer, Schleichera oleosa, Kalanchoe pinnata, Carica papaya, Averrhoa bilimbi L, Morinda citrifolia L, Vernonia amygdalina. Masyarakat Desa Wadumaddi menunjukkan pengetahuan lokal yang kuat dengan memanfaatkan daun (65%) sebagai bagian tumbuhan obat utama dan perebusan (68%) sebagai metode ekstraksi senyawa aktif paling efektif. Terdapat 11 spesies tumbuhan dengan nilai guna tertinggi yang menjadi pilihan utama dalam penggunaan, di mana dokumentasi pengetahuan tradisional ini penting untuk pelestarian budaya sekaligus dasar penelitian ilmiah masa depan. Kata Kunci : Tumbuhan Obat, Pengobatan Tradisional, Pengolahan Tumbuhan Obat, Desa Wadumaddi Keterangan : : *) Peneliti : **) Pembimbing ABSTRACT UTILIZATION OF TRADITIONAL MEDICINAL PLANTS IN WADUMADDI VILLAGE HAWU MEHARA DISTRICT SABU RAIJUA REGENCY Djara, R.S)* Ballo, A.)** Nge, S.T.M.)** This research aims to identify the variety of medicinal plant species, the plant parts used, and the processing methods employed in traditional medicine by the community of Wadumaddi Village, Hawu Mehara District, Sabu Raijua Regency. This descriptive (exploratory) study utilized a purposive sampling technique to select 30 respondents, consisting of 13 traditional healers, 2 community leaders, and 15 patients. Data collection was conducted through observation, structured interviews, exploration, identification, and documentation. The data were then analyzed using a qualitative descriptive approach with a quantitative approach. The results recorded 34 species of traditional medicinal plants utilized by the people of Wadumaddi Village, namely, Vitex trifolia, Jatropha gossypifolia L, Orthosiphon aristatus, Nicotiana tabacum L, Annona squamosa L, Curcuma longa L, Aloe vera, Pandanus amaryllifolius, Lantana camara L, Phyllanthus urinaria, Leucaena leucocephala, Calotropis gigantea, Chromolaena odorata L, Acorus calamus, Muntingia calabura L, Tamarindus indica L, Persea americana, Cordia mixa L, Indigofera tinctoria L, Manihot esculenta Crantz, Annona muricata, Ocimum tenuiflorum L, Zizipus mauritiana, Areca catechu L, Cassytha filiformis L, Punica granatum, Cocos nucifera L, Borassus flabellifer, Schleichera oleosa, Kalanchoe pinnata, Carica papaya, Averrhoa bilimbi L, Morinda citrifolia L, and Vernonia amygdalina. The Wadumaddi Village community demonstrates strong local knowledge, utilizing leaves (65%) as the primary medicinal plant component and boiling (68%) as the most effective method for extracting active compounds. Eleven plant species with the highest utility value are the primary choice for use, and documenting this traditional knowledge is crucial for cultural preservation and the basis for future scientific research. Keywords : Medicinal Plants, Traditional Medicine, Processing Medicinal Plants, Wadumaddi Village. Information : : *) Researcher : **) Mentor
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Tradisi neto’u lima (jabat tangan) merupakan praktik budaya masyarakat Rote yang berfungsi sebagai sarana perdamaian. Tradisi ini tetap dilestarikan oleh Jemaat GMIT Imanuel Koli, Klasis Rote Barat Laut, bahkan setelah kekristenan hadir dan berkembang. Fokus penelitian ini adalah: bagaimana gambaran umum jemaat GMIT Imanuel Koli, bagaimana pemahaman jemaat terhadap tradisi neto’u lima, serta bagaimana refleksi teologis terhadap pemahaman jemaat tentang tradisi neto’u lima dan dapat mengimpilkasikannya bagi pelayanan gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konteks sosial, budaya, dan keagamaan jemaat GMIT Imanuel Koli, mengungkap pemahaman jemaat mengenai tradisi neto’u lima sebagai tanda perdamaian, dan merumuskan refleksi teologis yang menempatkan tradisi ini sebagai bagian dari pelayanan dalam gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan lapangan, melalui observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis-reflektif, sehingga data empiris dapat ditafsirkan dalam kerangka teologis. Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi neto’u lima dipahami jemaat sebagai simbol perdamaian yang menyatukan nilai adat dan iman Kristen. Jabat tangan menjadi tanda niat baik, doa bersama menegaskan dimensi spiritual, dan keterlibatan tokoh adat serta gereja memperkuat legitimasi sosial. Tradisi ini sejalan dengan ajaran Kristus tentang perdamaian bagi semua umat, sehingga dapat dipandang sebagai modal sosial dan teologis yang dapat diimplikasikannya bagi pelayanan dalam gereja juga masyarakat. Tesis penelitian menegaskan bahwa neto’u lima bukan sekadar warisan budaya, melainkan praktik perdamaian yang memperkaya kehidupan jemaat dan memperkuat peran gereja dalam membangun kasih persaudaraan dan perdamaian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas tradisi Tutus sebagai salah satu praktik budaya yang masih dijalankan oleh jemaat GMIT Imanuel Oebitina di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi Tutus tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga diyakini memiliki makna religius yang berkaitan dengan harapan akan berkat, perlindungan, dan kesejahteraan hidup. Dalam praktiknya, tradisi ini kerap menimbulkan ketegangan teologis karena berpotensi melahirkan dualisme iman, yaitu pengakuan kepada Kristus sebagai sumber berkat, namun di saat yang sama masih bergantung pada praktik adat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat GMIT Imanuel Oebitina, menganalisis makna dan pelaksanaan tradisi Tutus dalam perspektif teologi kontekstual, serta merumuskan refleksi teologis, pastoral, dan implikasinya bagi pelayanan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi kontekstual model sintesis Stephen B. Bevans. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, dengan melibatkan anggota jemaat, majelis jemaat, serta tokoh adat. Data dianalisis secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tutus mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, solidaritas sosial, serta penguatan relasi kekeluargaan. Namun, di sisi lain, terdapat kecenderungan pemaknaan religius yang dapat mengaburkan pengakuan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber berkat. Melalui pendekatan sintesis, Injil dan budaya dipahami sebagai dua realitas yang dapat berdialog secara kritis dan konstruktif. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja mengembangkan pendampingan pastoral dan pendidikan iman yang kontekstual, sehingga jemaat mampu memaknai tradisi Tutus secara bijaksana, tetap menghargai budaya lokal, serta setia pada ajaran iman Kristen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tradisi denda adat (opat) merupakan salah satu mekanisme budaya yang penting dalam kehidupan masyarakat Neonmat, khususnya dalam menyelesaikan konflik sosial dan memulihkan hubungan antar individu. Denda adat dipandang sebagai sarana untuk menegakkan keadilan, menumbuhkan rasa tanggung jawab, serta mengembalikan keharmonisan hidup bersama. Namun, dalam pelaksanaannya, denda adat sering kali mengandung unsur pengampunan bersyarat—di mana perdamaian dan pengampunan hanya diberikan setelah pembayaran denda material dipenuhi. Hal ini menimbulkan ketegangan teologis dengan ajaran Injil, yang mengajarkan bahwa pengampunan adalah anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang bertobat.Penelitian ini menggunakan pendekatan teologi kontekstual dengan menggunakan tipologi "Kristus sebagai Pembaharu Kebudayaan" dari H. Richard Niebuhr untuk merefleksikan praktik opat secara kritis dalam terang Injil. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, melalui wawancara mendalam dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun nilai-nilai luhur seperti rekonsiliasi, pertobatan, dan tanggung jawab terkandung dalam tradisi opat, praktik pengampunan bersyarat melalui denda dapat mereduksi makna kasih dan pengampunan Injil. Implikasi dari penelitian ini bagi pelayanan Jemaat GMIT Elim Neonmat adalah perlunya pembaruan pelayanan pastoral yang mampu menjembatani antara penghargaan terhadap budaya lokal dan kesetiaan pada nilai-nilai Injil. Gereja dipanggil untuk hadir sebagai agen pembaharu budaya, bukan hanya menerima adat apa adanya, tetapi memurnikannya agar selaras dengan kasih dan anugerah Kristus. Gereja juga perlu membangun pendidikan iman yang kontekstual, pelayanan sakramental yang bebas dari unsur transaksional, serta memperkuat peran profetis dalam menghadirkan keadilan dan pengampunan sejati.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Tradisi merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat lokal. Di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah tradisi papadak, yaitu sebuah sistem aturan adat yang mengatur kehidupan sosial masyarakat dalam berbagai aspek, seperti sawah, mamar (lahan kering), air, hutan, dan kebun. Tradisi ini memiliki nilai kearifan lokal yang penting dalam menjaga ketertiban sosial, keberlanjutan lingkungan, serta memperkuat solidaritas komunitas. Tradisi papadak di Jemaat GMIT Victory Puamata, Klasis Rote Tengah, memegang peranan signifikan dalam kehidupan masyarakat adat, khususnya dalam pengelolaan lahan persawahan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Jemaat GMIT Victory Puamata memaknai tradisi papadak dalam konteks kehidupan mereka, bagaimana penerapan kearifan lokal ini berlangsung, serta bagaimana tradisi tersebut direfleksikan melalui perspektif teologi kontekstual. Pendekatan teologi kontekstual digunakan untuk menghubungkan antara tradisi budaya lokal dengan pemahaman iman Kristen, sehingga tradisi papadak tidak hanya menjadi praktik budaya semata, tetapi juga sarana bagi jemaat untuk merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis-reflektif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen yang dilakukan di Jemaat GMIT Victory Puamata. Teknik analisis data meliputi reduksi data, triangulasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi papadak memberikan kontribusi positif dalam menjaga ketertiban masyarakat dan kelestarian lingkungan, serta memperkuat hubungan antara iman, budaya, dan kehidupan sosial jemaat. Tradisi ini juga menjadi wujud konkret dari penerapan teologi kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai adat dengan ajaran Kristen.Analisis teologi kontekstual dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa pelaksanaan tradisi papadak memiliki nilai-nilai kristen yang tercermin melalui pelaksanaan serta gereja didorong agar melihat tradisi papadak sebagai tradisi lokal yang memiliki nilai yang relevan dengan teologi kontekstual. Refleksi teologis terhadap tradisi ini memperkuat hubungan antara iman, budaya, dan tindakan sosial jemaat. Oleh karena itu, pelestarian tradisi papadak di Jemaat GMIT Victory Puamata menjadi upaya penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat kehidupan beriman jemaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu teologi kontekstual dan sumbangsih praktis bagi jemaat GMITVictory Puamata . Kata Kunci: Tradisi Papadak, Teologi Kontekstual, Gereja GMIT Victory Puamata , Aturan Adat, Bevans
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Dewi Jomida Nitiano Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia email: [email protected] Salah satu tradisi di Timor ialah pukai alu mama. Alu mama dianggap sangat penting dalam kehidupan seseorang, alu mama sebagai simbol jati diri seseorang. Tradisi ini dilakukan hanya pada saat kedukaan. Dalam mengkaji masalah diatas, penulis memakai Tipologi Richard Niebuhr yakni kristus adalah transformator budaya (Christ the Transformer of Cultura). Tipologi Kristus adalah transformator, pengubah atau pembaharuan kebudayaan adalah tipologi yang menyatakan bahwa didalam setiap kebudayaan Kristus dating sebagai pengubah atau memberi arah baru dari budaya tersebut. Tradisi Pukai Alu merupakan sebuah tradisi yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakat amanuban Timur khususnya daerah Bi’Ito. Dalam penelitian ini penulis menggunakan. Metode Peneltian yang akan Penulis gunakan adalah Penelitian Lapangan (Field Research) yakni pengamatan langsung terhadap subjek dan permasalahan yang diangkat, dan Penelitian Kepustakaan (Library Research) yakni menggunakan dokumen-dokumen atau sumber data berupa bahan puskata yang mendukung penelitian. Data yang diperoleh cenderung data kualitatif, analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif bersifat untuk memahami keunikan, mengkonstruksi fenomena, dan menemkan hipotesis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Makan Patita atau makan bersama merupakan sebuah tradisi yang berasal dari Maluku. Kata Patita lebih dekat artinya dengan beberapa istilah yaitu istilah pa’atita yaitu jamuan makan bersama. Pa’atita mempunyai kata dasar tita yang berarti amanat/didikan/perintah, sehingga pada saat berlangsungnya makan Patita, terdapat proses hamana2 yang berarti proses didikan atau memberikan petuah oleh pemimpin kepada semua yang hadir dan duduk bersama. Proses didikan atau petuah tersebut disampaikan sebelum dan sesudah makan. Makan Patita bukan saja sebagai simbol atau petunjuk identitas tetapi juga dapat memberi makna dan nilai bagi persekutuan kelompok khususnya di kalangan orang-orang muda orang Maluku sebagai sarana rekonsiliasi, yakni berlangsungnya percakapan atau dialog yang bertujuan untuk menyatukan persepsi/pandangan bersama yang mengarah kepada terjadinya kesepakatan damai. Tradisi ini dibawa masuk ke Kupang lewat migrasi orang-orang Maluku di NTTdengan cara yang berbeda-beda yakni lewat jalur pendidikan, perdagangan, pelayanan injil, dan lain sebagainnya.Proses migrasi ini telah memberikan kontribusi yang beragam dalam memperkaya kehidupan masyarakat setempat, dengan membawa serta nilai-nilai dan keunikan budaya Maluku yang kini menjadi bagian penting dari identitas dan warisan budaya di Kupang salah satunya tradisi makan Patita. Perkembangan Makan Patita di daerah NTT membawa kesan teologis yang baik bagi kehidupan orang-orang Kristen. Makan Patita telah mengalami perkembangan makna sehingga tidak lagi menjadi tradisi yang eksklusif bagi orang Maluku saja, namun bisa dirasakan siapa saja yang hadir pada acara-acara tradisi makan patita. Penulis mengamati tradisi makan Patita ini menjadi sarana transformasi dan transportasi nilai-nilai Kristiani kepada setiap jemaat yang didiami oleh orang-orang Maluku khususnya di GMIT Kota Kupang. Oleh karena itu dengan menggunakan pengamatan lapangan dan teoriteori makan Patita, penulis kemudian meneliti perkembangan tradisi ini di tengah jemaat Kota Kupang. Dengan menggunakan metode deskriptif, analisis, dan reflektif, penulis mendeskripsikan Sejarah, makna, tujuan dan manfaat tradisi makan patita. Lalu berdasarkan teori dan realita lapangan, penulis menganalisis sesuai dengan keadaan di lapangan dan mendapatkan respon beragam terkait dengan nilai-nilai yang ditransfer kepada sesama orang Maluku dan yang bukan Maluku baik itu nilai-nilai moral dan etika, maupun nilai-nilai Kristiani. Kemudian penulis merefleksikannya ke dalam implikasi bagi gereja, dan bagi masyarakat kota Kupang lainnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Penelitian ini merupakan suatu tinjauan teologis kontekstual terhadap ritual penyembahan kepada roh orang yang sudah meninggal dan implikasinya bagi jemaat Syalom Oepula. Ritual penyembahan kepada roh orang yang telah meninggal adalah praktik keagamaan yang telah menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi masyarakat Oepula. Tinjauan teologis ini bertujuan untuk memahami praktik ini dari sudut pandang teologi Kristen, menggali akar teologisnya, serta menganalisis implikasi dan dampaknya pada jemaat Syalom Oepula.Studi ini menggunakan pendekatan teologis kontekstual untuk menghargai dan memahami praktik tradisional ini dalam konteks lokal dan budaya. Metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara, dan diskusi kelompok terfokus. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik penyembahan roh orang yang sudah meninggal diakar pada keyakinan tentang hubungan manusia dengan dunia roh dan leluhur.Implikasi bagi jemaat Syalom Oepula mencakup perluasan pemahaman teologis mengenai kematian dan kehidupan sesudahnya, serta bagaimana menghadapi ritual tradisional tersebut dari perspektif iman Kristen. Temuan penelitian ini menyiratkan pentingnya dialog dan dialog teologis antara agama tradisional dan iman Kristen, untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam dan inklusif tentang kepercayaan dan praktik keagamaan di Oepula. Tinjauan teologis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam menjembatani perbedaan dan memperkuat identitas iman Kristen di tengah masyarakat Oepula yang beragam budaya dan keyakinan. Implementasi temuan penelitian ini dapat memberikan landasan bagi pendekatan pastoral yang menghormati budaya setempat dan mempromosikan nilai-nilai keadilan, kasih, dan toleransi dalam hubungan antarumat beragama di Oepula.