Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

8 hasil
Subjek: ekoteologi
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

INDUSTRI TAMBAK GARAM Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Kehadiran Tambak Garam di GMIT Imanuel Walurede Dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Walurede

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi berjudul: Industri Tambak Garam dengan sub judul: Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Kehadiran Tambak Garam di Jemaat Imanuel Walurede dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Walurede yang ditulis oleh Raganof Miledu Biha. Penelitian ini berfokus pada persoalan ekoteologi yang sejauh mana kehadiran industri tambak garam di jemaat GMIT Imanuel Walurede mempengaruhi keadaan alam dan kehidupan jemaat setempat. Fokus ini muncul dari kenyataan efektifitas kehadiran tambak garam di tengah-tengah jemaat yang sangat mempengaruhi keadaan alam dan kehidupan jemaat dalam bersosialisasi antar jemaat. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan ekoteologi Emanuel Gerrit Singgih untuk menganalisis bagaimana pengaruh kehadiran tambak garam dan dapat memberikan sumbangan teologis dan praktis bagi jemaat GMIT Imanuel Walurede. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kehadiran tambak garam tidak serta-merta jemaat memperoleh lapangan pekerjaan, penghasilan yang menetap setiap bulan, pasokan garam yang banyak, tetapi juga terkandung dampak negatif, yaitu kerusakan alam yang membuat struktur tanah tidak subur, ketidakberlanjutan ekonomi dan ketegangan sosial jemaat serta munculnya pembangunan ekonomi yang tidak lagi berjalan seimbang dengan tanggung jawab terhadap ciptaan dan kehidupan sosial jemaat. Nilai-nilai yang terkandung dalam ekoteologi mengajak manusia untuk menghidupi cara mengelola dan juga tawaran dalam memelihara alam. Relevansi nilai-nilai ekoteologi bagi jemaat GMIT Imanuel Walurede terletak pada panggilan untuk menghidupi nilai-nilai tersebut sebagai tanggung jawab terhadap alam. Gereja diajak untuk menghidupi dan mengajarkan nilai-nilai kepada jemaat serta berpartisipasi dalam pengelolaan alam. Demikian pengelolaan industri tambak garam bukan menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi jemaat dalam melestarikan alam, melainkan kehadiran alam dapat dikelola dan dirawat dengan baik menjadi anugerah dari Allah dan bagian tersendiri dalam membangun pertumbuhan ekonomi bagi jemaat GMIT Imanuel Walurede.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KERUSAKAN PANTAI Suatu Tinjauan Eko-teologi terhadap Kerusakan Pantai Akibat Aktivitas Penambangan Pasir dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Imanuel Manuoen, Klasis Rote Timur”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berfokus pada permasalahan kerusakan pantai akibat aktivitas penambangan pasir yang dilakukan oleh Jemaat GMIT Imanuel Manuoen. Aktivitas penambangan tersebut terus berlangsung meskipun jemaat menyadari dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Fokus penelitian ini berangkat dari realitas kerusakan lingkungan pesisir yang semakin meningkat dari waktu ke waktu sebagai akibat dari berbagai aktivitas manusia, yang berdampak signifikan baik bagi keberlangsungan kehidupan manusia maupun bagi kelestarian alam itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kehidupan jemaat, menganalisis penyebab serta dampak kerusakan pantai, dan mengkaji implikasi kerusakan tersebut bagi Jemaat GMIT Imanuel Manuoen, Klasis Rote Timur. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang bertujuan untuk memahami pengalaman hidup dan realitas jemaat dalam keterlibatannya pada aktivitas penambangan pasir. Analisis data dilakukan dengan menggunakan tinjauan ekoteologi, khususnya teori ekofeminisme Sally McFague tentang The Body of God. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama. Pertama, penyebab utama kerusakan pantai adalah dominasi pandangan antroposentris, meningkatnya tuntutan ekonomi, serta budaya jemaat yang cenderung memandang alam semata-mata sebagai objek eksploitasi. Kedua, kerusakan pantai memberikan dampak yang signifikan tidak hanya terhadap keberlanjutan kehidupan jemaat, tetapi juga terhadap keseimbangan ekosistem lingkungan pesisir. Ketiga, kerusakan pantai tidak hanya merupakan persoalan ilmiah dan ekologis, melainkan juga mencerminkan krisis moral dan spiritual, sehingga gereja memiliki peran strategis dalam menumbuhkan kesadaran ekologis jemaat. Keempat, perspektif alam semesta sebagai tubuh Allah mendorong jemaat untuk memandang alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari tubuh Allah yang harus dihargai, dirawat, dan dilestarikan sebagai wujud tanggung jawab iman kepada Sang Pencipta.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA DAN ABRASI PANTAI: "Suatu Tinjauan Ekoteologis Terhadap Peran Gereja dalam Mengatasi Abrasi Pantai dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Imanuel Wuihebo

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berjudul “Gereja dan Abrasi Pantai: Suatu Tinjauan Ekoteologi terhadap Peran Gereja dalam Mengatasi Abrasi Pantai dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Imanuel Wuihebo.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena abrasi pantai yang semakin mengancam ekosistem pesisir di wilayah Wuihebo, Sabu Raijua. Abrasi pantai tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi jemaat yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Imanuel Wuihebo dalam mengatasi persoalan abrasi pantai melalui pendekatan ekoteologi. Pendekatan ekoteologi digunakan untuk melihat bagaimana iman Kristen memandang tanggung jawab manusia sebagai mitra Allah dalam memelihara ciptaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gereja GMIT Imanuel Wuihebo memiliki potensi besar sebagai agen transformasi sosial dan ekologis. Gereja berperan dalam membangun kesadaran jemaat akan pentingnya menjaga lingkungan pesisir melalui pendidikan, pemberdayaan, dan aksi nyata seperti penanaman mangrove dan pembuatan tanggul penahan abrasi. Namun, masih ditemukan beberapa kendala seperti kurangnya pemahaman teologis jemaat mengenai tanggung jawab ekologis dan keterbatasan sumber daya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan ekoteologi dalam kehidupan bergereja di GMIT Imanuel Wuihebo perlu terus ditingkatkan agar gereja dapat menjadi komunitas etis dan profetis yang mampu menjawab tantangan abrasi pantai secara berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi gereja-gereja lain di wilayah pesisir untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan sebagai wujud nyata iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TANAH SEBAGAI IBU “Suatu Tinjaun Ekoteologis Terhadap Kerusakan Ekosistem Tanah dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Efata Batu Kapur”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul Tanah Sebagai Ibu: Tinjauan Ekoteologis atas Kerusakan Ekosistem Tanah dan Implikasinya untuk GMIT Efata Batukapur. Skripsi ini mengkaji kerusakan ekosistem tanah akibat eksploitasi secara berlebihan di wilayah Jemaat GMIT Efata Batukapur, Klasis Kota Kupang Barat, yang telah menyebabkan lahan menjadi tandus, tidak produktif, dan dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah anorganik. Minimnya perhatian terhadap masalah ini memperparah kerusakan lingkungan, mengancam keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan jemaat di sekitar sana. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konteks Jemaat GMIT Efata Batukapur, mengidentifikasi kerusakan ekosistem tanah di wilayah tersebut, serta menawarkan refleksi ekoteologis tentang tanah sebagai ibu yang menopang keberlanjutan kehidupan manusia dan lingkungan. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis observasi, wawancara, dan studi dokumen, hasil penelitian menunjukkan bahwa eksploitasi tanah disebabkan oleh pola pikir antroposentris dan kurangnya pendidikan ekologis, yang berujung pada hilangnya vegetasi, tandusnya tanah, dan meningkatnya ancaman bencana ekologis. Refleksi ekoteologis menegaskan pentingnya melihat tanah sebagai ibu yang memberi kehidupan, pemeliharaan, dan tempat peristirahatan terakhir, sekaligus mendorong gereja untuk menjadi agen transformasi ekologis melalui pendidikan, bimbingan spiritual, dan pemberitaan firman. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran ekologis jemaat, memotivasi langkah pelestarian lingkungan, dan memperkuat peran gereja dalam tanggung jawab iman terhadap ciptaan Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERUBAHAN FUMGSI BUKIT LIMAN: Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Perubahan Fungsi Bukit Liman dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, Klasis Semau

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Perubahan Fungsi Bukit Liman dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan.” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan fungsi Bukit Liman dalam perspektif ekoteologi, dengan fokus pada perspektif Sallie McFague tentang alam sebagai tubuh Allah. Bukit Liman, yang memiliki nilai ekologis, budaya, dan spiritual yang mendalam bagi Jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, mengalami perubahan fungsi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan ini berdampak pada keberlanjutan lingkungan dan kehidupan spiritual jemaat, mengingat hubungan erat mereka dengan alam sebagai bagian dari persekutuan dengan Tuhan dan ciptaan-Nya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan studi kasus yang fokus pada perubahan penggunaan lahan di sekitar Bukit Liman dan dampaknya terhadap jemaat serta lingkungan sekitar. Penelitian ini juga mengkaji relevansi pemikiran Sallie McFague dalam konteks perubahan fungsi Bukit Liman, terutama konsepnya mengenai alam sebagai tubuh Allah yang menyiratkan perlunya keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Selain itu, penelitian ini menggali bagaimana pandangan ekoteologi ini dapat menjadi dasar bagi tindakan teologis jemaat dalam menjaga dan melestarikan alam sebagai bagian dari panggilan iman mereka untuk menjadi penjaga ciptaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Bukit Liman membawa tantangan bagi jemaat GMIT Bait El Uitiuhtuan, namun juga membuka peluang untuk mengintegrasikan pemikiran ekoteologi dalam kehidupan spiritual dan sosial mereka. Jemaat dihadapkan pada pilihan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memahami perubahan fungsi Bukit Liman sebagai bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan visi gereja yang berbasis pada tanggung jawab ekologis dan spiritual. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman yang lebih dalam tentang ekoteologi dalam konteks gereja lokal dan masyarakat adat, serta menekankan pentingnya pengelolaan alam yang berkelanjutan berdasarkan perspektif teologis yang menekankan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari ciptaan Allah yang harus dijaga.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUS B’UI IHI “Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Ritus B’ui Ihi (Penyucian Diri) di Sabu dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Siloam Lobohede”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi berjudul: Ritus B’ui Ihi dengan sub judul: Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Ritus B’ui Ihi (Penyucian Diri) di Sabu dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Siloam Lobohede yang ditulis oleh Yunita Apriana Lede, memfokuskan pembahasan pada ritus b’ui ihi di Sabu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ritus b’ui ihi dari perspektif ekoteologi, dengan menyoroti relevansi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, untuk membantu gereja dalam usaha mengatasi krisis lingkungan hidup. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan ekoteologi Leonardo Boff untuk menganalis bagaimana ritus ini dapat memberikan sumbangan teologis dan praktis bagi Jemaat GMIT Siloam Lobohede. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritus b’ui ihi mengajarkan penghormatan terhadap alam sebagai ciptaan Allah, kesadaran akan tanggung jawab ekologis, dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Nilai-nilai tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan gereja dan jemaat sebagai bagian dari panggilan iman untuk memelihara ciptaan Tuhan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai-nilai ekologis dari ritus b’ui ihi, gereja dapat berperan aktif dalam mendorong kesadaran ekologis, membangun budaya hidup yang selaras dengan alam, dan memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi krisis lingkungan hidup yang semakin mendesak, khususnya di Jemaat GMIT Siloam Lobohede untuk menyatakan tanggung jawabnya terhadap alam semesta dan seluruh ciptaan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEREMPUAN FATULEU SEBAGAI ENA PALOLI PAH : Suatu Kajian Ekoteologi Feminis terhadap Peran Perempuan sebagai Ena Paloli Pah di Jemaat Baitesda Nekon Desa Tolnaku Fatuleu.

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sebagai masyarakat agraris Jemaat Baitesda Nekon Fatuleu sangat dekat dengan alam. Kedekatan itu terkait dengan relasi alam sebagai sumber keberlangsungan hidup mereka. Betapa mereka sangat bergantung dengan alam sehingga saat alam mulai rusak kegelisahan melanda kehidupan mereka. Sumber mata pencaharian dan pangan mereka mulai terganggu dan terancam menipis. Perempuan dan anaklah yang paling merasakan ancaman kerusakan alam ini. Padahal sesungguhnya alam di desa ini dapat menjadi kekuatan yang dapat dirawat kembali untuk memberi makanan yang sehat bagi keluarga. Kekuatan itu dapat ditemukan dalam diri perempuan saat ia menyadari dirinya sebagai ena paloli pah yang dekat dengan alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menemukan kekuatan lokal perempuan Fatuleu di Desa Tolnaku dalam kesadarannya sebagai ena paloli pah (ibu yang merawat bumi/tanah) yang merawat alam untuk menyembuhkan dan mencegah stunting dan gizi buruk. Selain itu juga bagaimana mengoptimalisasikan ena paloli pah untuk menyembuhkan dan mencegah gizi buruk dan stunting melalui pola asuhan dan pola asupan anak. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah memberikan rekomendasi yang baik bagi para perempuan Fatuleu untuk kembali lagi pada konsep awal sebagai ena paloli pah. Selanjutnya dapat menjadi sumbangan teologis kepada gereja dan pemerintah dalam kesadaran merawat alam dan menolong jemaat agar mampu menyadari kondisi degradasi alam yang sementara terjadi serta upaya penanggulan dan pendampingan bagi jemaat-jemaat dan masyarakat pada umumnya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TILALAN DAN FUILAN ( Suatu Kajian Ekoteologi Terhadap Kearifan Lokal dari Mitos Tilalan dan Fuilan di Lapangbaru, Desa Kuifana dan Implikasinya bagi Pelestarian Lingkungan Hidup Yang Berkelanjutan di Jemaat Betel Samuru )

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Fakta membuktikan bahwa manusia sebagai pelaku kerusakan alam. Keadaan alam yang sudah rusak, menjadi isu penting pada abad ini. Bahkan akibat dari kerusakan alam telah berdampak pada kehidupan manusia. Manusia mengalami berbagai penyakit bahkan hubungan sosial antara sesama menjadi renggang. Manusia cenderung lebih memikirkan tentang dirinya sendiri tanpa memikirkan kebutuhan orang lain dan keberlanjutan alam semesta. Salah satu upaya mengatasi kerusakan alam dan upaya pelestarian alam adalah dengan menggali kearifan lokal. Mitos adalah salah satu kearifan lokal dalam bentuk cerita lisan yang diceritakan dari waktu ke waktu kepada setiap generasi. Masyarakat lokal di Lapangbaru pun memiliki mitos. Mitos yang masih dipercayai dan di pelihara adalah Tilalan dan Fuilan atau mitos danau Kuifana. Hal ini menarik bagi peneliti untuk mengelaborasi mitos Tilalan dan Fuilan dan sekaligus menggali serta menemukan kearifan lokal bagi pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan. Untuk itu yang menjadi pokok permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini adalah bagaimana terjadinya mitos, makna mitos bagi masyarakat lokal Lapangbaru, dan nilai-nilai kearifan lokal dari mitos. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui mitos Tilalan dan Fuilan, bagaimana masyarakat lokal Lapangbaru memaknai mitos dan nilai-nilai kearifan lokal dari mitos bagi pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Keuntungan metode kualitatif adalah peneliti mendapatkan sejumlah informasi baik secara lisan maupun tertulis dari setiap individu, bahkan peneliti diberi kesempatan untuk mengamati segala fenomena yang terjadi termasuk bahasa dan simbol sebagai alat komunikasi yang dimiliki sebagai bagian yang penting dan tidak dapat terpisahkan dari yang diteliti. Subjek dari penelitian adalah anak laki-laki sulung dari sub suku Kalongfala, sebagai keturunan dari Tilalan dan Fuilan. Penelitian berlokasi di Lapangbaru, desa Kuifana kecamatan Abad Selatan, kabupaten Alor. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Selanjutnya data yang terkumpul akan di analisis dengan menggunakan teori ekoteologi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa mitos Tilalan dan Fuilan memiliki peranan penting dalam upaya pelestarian lingkungan, khususnya sumber daya air. Air di danau Kuifana perlu dijaga dan dilestarikan, sebab jika tidak demikian, maka danau bisa menjadi kering. Hal ini disebabkan karena kondisi tanah Lapangbaru yang kering dan gersang, serta memiliki curah hujan yang rendah atau beriklim tropis. Dalam upaya konservasi, dibutuhkan kerjasama dari semua pihak baik pemerintah, masyarakat setempat, dan gereja dalam menyusun program strategi yang khas Lapangbaru bagi pembangunan di desa Kuifana, yakni tidak saja berpikir soal pengembangan ekonomi dan pembangunan, tetapi berpikir juga tentang keseimbangan alam supaya tetap ada kehidupan di Lapangbaru.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail