Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Subjek: Presbiter
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

KADERISASI PRESBITER Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Kaderisasi Presbiter di Jemaat Talitakumi Pasir Panjang

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berjudul “Kaderisasi Presbiter: Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Kaderisasi Presbiter di Jemaat GMIT Talitakumi Pasir Panjang”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh lemahnya proses regenerasi kepemimpinan dalam jemaat GMIT Talitakumi Pasir Panjang, ditandai oleh dominasi tokoh-tokoh lama dan minimnya keterlibatan generasi muda. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi konsep dan realitas kaderisasi presbiter di jemaat, menganalisis kendala-kendala pelaksanaannya, serta merumuskan refleksi teologis sebagai kontribusi terhadap pembaruan pelayanan gereja. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan belum adanya sistem kaderisasi yang terencana, ketiadaan program pembinaan berkelanjutan, serta lemahnya kesadaran akan pentingnya regenerasi kepemimpinan. Refleksi teologis berdasarkan Titus 1:5-9, doktrin imamat am orang percaya, dan prinsip presbiterial-sinodal dalam tradisi Reformed menegaskan bahwa kaderisasi adalah panggilan iman, bukan sekadar kebutuhan struktural. Penelitian ini merekomendasikan penerapan model pemuridan kontekstual sebagai pendekatan efektif dalam membentuk presbiter yang setia, kontekstual, dan berintegritas.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PRESBITER DALAM SUBSTANSI JABATAN GEREJAWI

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan penggunaan istilah presbiter dalam jabatan pelayanan di GMIT. Penulis mengkaji mengenai bidang ilmu hukum Gereja sebagai landasan yang telah ditetapkan sebagai sebuah peraturan bagi Gereja serta landasan eklesiologis dari istilah presbiter. Dalam Penelitian ini, metode yang digunakan adalah deskriptif, analisis dan reflektif. Penulis menggunakan penelitian kualitatif yang menekankan aspek pengambilan data demi mendapatkan kualitas yang baik. Tulisan ini dimulai dengan mendeskripsikan tentang hukum gereja dan bagaimana hukum gereja di berlakukan di GMIT. Kemudian dengan melihat berbagai peraturan yang ditetapkan oleh GMIT mengenai penggunaan istilah presbiter untuk jabatan pendeta, penatua, diaken dan pengajar dalam Tata GMIT. Penulis memahami bagaimana Tata GMIT memandang penggunaan istilah presbiter berdasarkan pemahaman teologisnya dalam Alkitab, serta memberikan sumbangsi pemikiran dalam memahami akan pemaknaan istilah presbiter dalam Tata GMIT dalam sebuah refleksi teologis terhadap istilah presbiter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tata Gereja adalah rangkaian peraturan yang ditetapkan oleh Gereja untuk menata Gereja dalam tatanan atau keteraturan. Tata Gereja dalam sebuah Gereja menunjukkan jati diri Gereja tersebut. GMIT memiliki Tata Gereja yang mengatur penataan pelayanannya. Salah satu penataan pelayanan GMIT terlihat dari hadirnya prinsip kepejabatan GMIT yang didasarkan pada pengakuan Yesus Kristus adalah Kepala Gereja. Berdasarkan keyakinan itu, maka GMIT mengenal dua jabatan gerejawi, yaitu jabatan pelayanan dan jabatan keorganisasian. Dalam Tata GMIT 2010, menunjukkan bahwa penggunaan istilah “presbiter” langsung merujuk pada jabatan pelayanan yang terdiri dari pendeta, penatua, diaken, dan pengajar. Penulis menemukan istilah presbiter tersebut dalam Peraturan Pokok Jemaat GMIT: Pada Penjelasan Pasal 6 ayat 2 mengenai Hubungan Jemaat dan Klasis. Peraturan Pelaksana Peraturan Pokok GMIT tentang Jabatan dan Kekaryawanan: Pada Penjelasan pasal 4 ayat 2 mengenai Jenis-jenis jabatan dan Penjelasan pasal 6 ayat 5 mengenai jabatan keorganisasian. Pokok permasalahan yang terjadi ialah mengenai Ajaran GMIT yang didasarkan pada kesaksian Alkitab, dalam Alkitab istilah presbiter hanya merujuk pada jabatan pelayanan penatua. Tetapi bagi GMIT berdasarkan konteks kekristenan, kata presbiter ini mengalami sedikit pergeseran makna, terutama berkaitan dengan fungsinya dan siapa saja yang bisa disebut presbiter. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa secara tidak langsung GMIT lebih memprioritaskan tradisi gereja dengan konteks kekristenan yang diwarisinya daripada pengakuan akan Alkitab sebagai otoritas yang mutlak atas seluruh hidup dan pelayanan serta tradisi yang ada dalam Alkitab. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsi bagi penataan jabatan gerejawi di GMIT.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENDELEGASIAN TUGA OLEH MUSA

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Manusia hadir bukan untuk hidup seorang diri, ia dihadirkan sebagai makhluk sosial. Hidup bersama dengan manusia lainnya yang dianggap sebagai keluarga dan sesama. Di dalam kebersamaan itu, manusia ada di dalam setiap kelompok atau pun organisasi. Di dalam setiap organisasi diperlukan seorang pemimpin untuk mengatur organisasi tersebut. Diperlukan kualitas kepemimpinan yang mampu memimpin dan mengelola organisasi dengan baik. Kecenderungan kepemimpinan tunggal yaitu membebankan semua beban pekerjaan pada seorang pemimpin merupakan sebuah bahaya yang dapat mengancam organisasi tersebut. Masalah ini juga terjadi pada masa Musa dan bangsa Israel ketika berada di padang gurun. Musa terlalu membebani dirinya dengan pekerjaan yang sulit untuk dikerjakan oleh satu orang. Yitro menyarankan untuk melakukan pendelegasian. Pendelegasian akan menolong pemimpin dan berdampak baik bagi organiasasi karena akan meringankan beban dan menghemat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan. Di dalam kepemimpinan presbiter GMIT pun pesan ini juga relevan karena asas kebersamaan dipakai dalam menjalankan tugas dan fungsi pelayanan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Sejarah Kepemimpinan Presbiterial Sinodal Di Jemaat GMIT Hosana Raeawu

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK SEJARAH KEPEMIMPINAN PRESBITERIAL SINODAL DI JEMAAT GMIT HOSANA RAEAWU Imanuel Bire Leo Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, NTT, Indonesia Email: [email protected] Dalam skripsi ini, penulis menemukan hal yang menarik terkait kepemimpinan presbiterial sinodal yang terjadi di jemaat GMIT Hosana Raeawu. Sebelum jemaat ini menjadi jemaat mandiri, sebagai pos pelayanan dan kemudian menjadi mata jemaat, jemaat ini dipimpin oleh para penatua dan diaken. Meski demikian, kepemimpinan dalam jemaat tetap berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dengan berbagai pelayanan yang tetap berjalan dan sangat minim konflik dalam jemaat. Dalam kepemimpinan mereka dengan cara penunjukan langsung oleh para tokoh utama yakni tokoh jemaat yang mendirikan Pos Pelayanan Hosana Raeawu untuk menjawab kebutuhan pelayanan. Kepemimpinan mereka juga memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan dalam jemaat dan menghindari perselisihan dalam melaksanan pelayanan serta menjaga persatuan dan kesatuan dalam pelayanan. Dalam perkembangan selanjutnya berkembang salah satu model kepemimpinan gereja yaitu presbiterial sinodal yang menekankan cara pemilihan penatua dan diaken dalam tiap periode. Penulis juga mengkombinasikan model kepemimpinan yang berhubungan terkait dengan kepemimpinan di jemaat dari Charles J. Keating, kemudian kenyataan terhadap konteks kepemimpinan. Untuk meneliti, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tujuan mengetahui cara kepemimpinan presbiterial sinodal dan membuat refelksi teologis dari kepemimpinan presbiterial sinodal. Analisa yang ditemukan dari kepemimpinan presbiterial sinodal di jemaat GMIT Hosana Raeawu adalah kesatuan dalam kepimpinan yang saling membantu yaitu dengan saling menopang antara satu dengan yang lainnya. Kepemimpinan ini lebih menekankan pada cara pemilihan penatua dan diaken di tiap periode. Sekalipun cara pemilihan penatua dan diaken berbeda tiap periodenya. Tetapi kerja sama, terus terjalin dalam kepemimpinan mereka. Presbiter bersama-sama mengatur pelayanan dengan Ketua Majelis jemaat induk sebagai kawan sekarja Allah. Penatua dan Diaken sebagai pemimpin dalam jemaat memiliki kesatuan hati untuk melakukan tugas pelayanan dan menjalankan kepemimpinan dalam jemaat meski Pendeta jemaat tidak tinggal bersama dengan mereka. Dan faktor yang membuat jemaat ini tetap eksis dan bersatu adalah budaya. Masalah-masalah dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan budaya dan kekeluargaan bisa terjadi karena kesatuan para pemimpin dalam jemaat ini. Penulis berefleksi bahwa pentingya kesatuan dalam pelayanan adalah hal yang seperti meningkatkan solidaritas, dan kinerja suatu jemaat/kelompok. Kesatuan ini tercermin melalui doa Yesus kepada Bapa supaya para murid menjadi satu (Yoh. 17:11). Kesatuan ini ada dalam presbiter di Jemaat GMIT Hosana Raeawu bahwa pentingnya di jemaat membangun kesatuan dalam pelayanan. Kata Kunci : Sejarah, Kepemimpinan, Presbiterial Sinodal, Kesatuan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail