HANIK BESI
Hanik Besi adalah mendinginkan/menjinakan besi. Ritual ini wajib dilakukan untuk barang-barang baru seperti untuk alat-alat pertanian, alat-alat tukang dan juga alat transportasi pada saat seseorang membeli motor atau mobil baru. Penulis melakukan penelitian di Jemaat Bermata Jemaat GMIT Ebenhezer Pene Tunan, Klasis Amanuban Tengah Utara dengan menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif. Penulis menggunakan teori Bevans model sintesis untuk menganalisa ritual hanik besi dapat berdasarkan indikator-indikator teologi kontekstual. Tujuannya ialah untuk mengetahui apakah sudah terjadi kontekstualisasi berdasarkan ritual hanik besi. Berdasarkan hasil analisis didapati bahwa Gereja terlibat dan berbaur dengan jemaat dalam ritual hanik besi, Tindakan gereja menunjukkan bahwa gereja sedang berteologi secara kontekstual. Sekalipun dari segi pendidikan jemaat ada pada tingkat pendidikan rendah, mereka telah berteologi secara kontekstual. Budaya adalah jalan masuk untuk memberitakan Injil dalam jemaat yang berbudaya. Oleh karena itu, pelayanan gereja perlu melestarikan budaya yang ada dan mengsejajarkan posisi budaya dan agama setara. Seperti halnya dalam Alkitab Perjanjian Lama Allah pemilik kebudayaan, pribadi Paulus dalam Alkitab Perjanjian Baru 1 Korintus 7:20. Jadi budaya setara dengan gereja tetapi harus searah dengan Firman Tuhan, nilai-nilai budaya harus menyesuaikan dengan nilai-nilai Alkitab. Budaya bukan yang utama tetapi Allah yang terutama, sehingga budaya apapun tidak boleh bertentangan dengan Allah.