ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berjudul GEREJA DAN PERSEKUTUAN JEMAAT “Suatu Tinjauan Pastoral terhadap Peran Gereja Laharoi Danalon Menyikapi Persoalan Perpindahan Jemaat dan Implikasinya bagi Persekutuan Mata Jemaat Laharoi Danalon Klasis Rote Timur.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh persoalan perpindahan jemaat yang tidak hanya berdampak pada penurunan keanggotaan, tetapi juga merusak keutuhan persekutuan dan menunjukkan lemahnya peran pastoral gereja. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau peran gereja dalam menyikapi persoalan perpindahan jemaat serta implikasinya bagi kehidupan persekutuan jemaat. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan teologi pastoral dari Howard Clinebell yang menekankan lima fungsi pelayanan pastoral: menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpindahan jemaat di Mata Jemaat Laharoi Danalon disebabkan oleh konflik antara jemaat dan majelis yang tidak ditangani secara pastoral. Gereja tidak hadir secara aktif dalam proses mediasi maupun pemulihan, sehingga relasi jemaat menjadi retak dan persekutuan terganggu. Fungsi-fungsi pastoral belum dijalankan secara maksimal, baik oleh pendeta maupun majelis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pentingnya gereja membangun pelayanan pastoral yang kontekstual dan transformatif. Gereja harus hadir sebagai komunitas yang merangkul dan menyembuhkan, serta aktif menjaga keutuhan tubuh Kristus di tengah konflik dan perubahan zaman.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Gereja adalah orang-orang beriman yang dipanggil dan dikumpulkan. Panggilan itu dilakukan oleh Allah sendiri. Dalam kaitan dengan bersekutu maka gereja adalah persekutuan orang percaya yang diutus untuk mengantar keselamatan Allah kepada seluruh dunia. sebagai persekutuan orang-orang pilihan Allah yang terpanggil tidak hanya menerima warisan yang sama yaitu hidup yang kekal tetapi juga untuk memasuki persekutuan dengan satu Allah dan satu Kristus. Persekutuan sendiri tidak jauh berbeda dengan gereja namun penulis lebih menggunakan kata persekutuan karena kata persekutuan lebih sering dijumpai dalam suatu tempat yang kita kenal dengan jemaat. Pemahaman mengenai persekutuan juga muncul secara beragama. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yang berorientasi pada penelitian lapangan. Penulis berusaha mencari pemahaman tentang persekutuan dari anggota jemaat dan majelis. Pada prinsipnya persekutuan mengandung makna dan prinsip yaitu sebagai, yaitu persekutuan dengan Allah dan persekutuan dengan sesama manusia. Persekutuan terjadi karena adanya tujuan yang sama, rasa kekeluargaan, membentuk pengalaman berorganisasi, wadah untuk beribadah dan tempat membangun relasi. Adapun faktor yang mempengaruhi pemahaman jemaat yakni faktor budaya, kekeluargaan, pendidikan dan pengalaman serta konflik. Dalam penulisan ditemukan beberapa nilai-nilai yang penulis akan paparkan yakni persekutuan sebagai komunitas berbagi, persekutuan sebagai komunitas yang menyembuhkan dan persekutuan sebagai komunitas persahabatan. Implikasi dari tulisan ini adalah bagi pelayanan jemaat dan relasi dengan masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Misi gereja adalah panggilan dari Allah kepada gereja sebagai perpanjangan tangan Allah untuk menghadirkan kerajaan Allah. Gereja adalah Tubuh Kristus, umat Allah dan persekutuan orang percaya. Gereja juga adalah lembaga yang berperan sebagai sarana penginjilan, pengajaran, pendidikan dan pemuridan. Gereja memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menghadirkan kasih Allah dimuka bumi, salah satunya melalui bidang pendidikan. Dalam misinya di dunia, gereja memiliki tugas panggilan dalam bidang pendidikan. Howard G Hendricks mengatakan gereja mesti melakukan pendidikan. Itu bukanlah sebuah pilihan melainkan suatu yang esensial; bukan hanya sekadar karena baik tetapi juga karena ia amat penting. Gereja yang berhenti melayankan pendidikan, ia telah berhenti sebagai sebuah gereja. Terkait dengan masalah yang terjadi di SD GMIT Fami Tulleng, tentang kurangnya tenaga pendidik, sarana-prasarana yang kurang layak, tunjangan bagi guru-guru honorer yang terbatas dan seadanya, maka melalui penelitian yang dilakukan, penulis ingin mengetahui bagaimana peran Mata Jemaat GMIT Getsemani Kolang terkaitdengan keadaan SD GMIT Fami Tulleng. Berdasarkan hasil penelitian, penulisan menemukan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi masalah yang penulis sebutkan di atas. Faktor-faktor tersebut antara lain: Kepedulian jemaat terhadap guru honorer dan kesadaran jemaat akan pentingnya pendidikan pada anak. Metode yang penulis pakai untuk memperoleh informasi mengenai kajian tersebut adalah metode penelitian kualitatif. Metode ini bertujuan untuk menyediakan alat-alat dalam memahami arti yang mendalam berkaitan dengan fenomena yang kompleks dan prosesnya dalam praktek kehidupan sosial. Dalam teks Kisah Para Rasul 2:41-47, kehidupan jemaat mula-mula hidup dalam kebersamaan sebagai bentuk persekutuan keluarga Allah untuk saling menopang dalam setiap permasalahan yang ada.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Persembahan adalah bentuk ucapan syukur atau respon umat kepada Allah atas anugerah yang telah diberikan-Nya. Selain itu persembahan juga sebagai tanda persekutuan dengan Allah dan pengakuan bahwa semua yang umat nikmati saat ini adalah atas anugerah dari Allah. Dalam realitas kehidupan berjemaat di GMIT Batu Karang Kupang, jemaat terjebak dalam ketergantungan pada uang, di mana uang menjadi satu-satunya penggerak dalam persekutuan jemaat. Hal ini berpengaruh pada jemaat, yang dengan alasan tidak memiliki uang persembahan, menolak untuk hadir dalam ibadah atau tidak hadir dalam ibadah namun menitipkan persembahannya. Selain itu ada jemaat memberi persembahan dengan motivasi untuk menunjukkan bahwa persembahan yang ia berikan lebih dari jemaat lain. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang hal ini. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman Jemaat GMIT Batu Karang Kupang berkaitan dengan persembahan? Apakah dampak pemahaman persembahan tersebut pada pertumbuhan iman jemaat? Metode Penelitian Kualitatif dipilih karena dapat menolong dalam mencari pengertian yang mendalam tentang suatu gejala, fakta atau realita masalah, serta peristiwa yang dapat dipahami. Hal ini dilakukan melalui penelitian lapangan dengan cara melakukan observasi langsung dan wawancara mendalam dengan informasi kunci. Untuk menyelesaikan tulisan ini, penulis menggunakan metode penulisan, deduktif, analisis, dan reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jemaat GMIT Batu Karang Kupang memaknai persembahan dengan cara yang sangat beragam. Persembahan dinilai sebagai suatu tanggung jawab jemaat demi membantu proses pelayanan dalam gereja, selain itu jemaat juga memaknai persembahan sebagai media atau representasi diri mereka, sehingga timbul pemahaman bahwa persembahan mewakili diri mereka dalam ibadah. Selain itu juga, ada pemahaman jemaat bahwa terdapat pembedaan antara ibadah dan persembahan namun, pada prinsipnya persembahan dan ibadah adalah suatu keutuhan. Alkitab sebagai dasar pemahaman tentang persembahan mengajarkan bahwa ikatan atau hubungan antara umat dengan Allah merupakan prioritas dalam memberi persembahan. Yesus yang telah memberi diri-Nya untuk menebus manusia dari dosa, membuat manusia memahami bahwa semua yang dimilikinya adalah milik Allah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Kebudayaan merupakan hasil karya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya agar mampu bertahan dalam lingkungan sosial atau lingkungan alam di mana ia hidup. Salah satu warisan kebudayaan itu adalah ritus Pemmau Do Made. Ritus ini adalah ritus yang dilakukan keluarga duka setelah penguburan orang mati dengan tujuan-tujuan tertentu. Namun, kebutuhan hidup masyarakat yang sudah semakin berkembang, menyebabkan banyaknya masyarakat yang memilih untuk tidak lagi melakukan ritus Pemmau Do Made. Pihak gereja (presbiter) dan pemerintah desa pun turut memberi himbauan kepada masyarakat untuk tidak lagi melakukan ritus ini, dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Penulis melihat tindakan gereja (presbiter) dan pemerintah desa merupakan suatu bahaya akan hilangnya warisan budaya. Padahal, ritus ini memiliki nilai baik yang harusnya dilestarikan dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian ini, penulis menawarkan satu metode dialog yakni metode dialog liberal – mencari kebenaran sebagai metode penulisan. Metode ini digunakan sebagai solusi bagi gereja dalam upaya pemberitaan Injil yang kontekstual dan pada saat yang sama tidak menghilangkan warisan-warisan kebudayaan. Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dipakai penulis yaitu teknik triangulasi, yaitu observasi partisipasi dan wawancara. Dalam penelitian, diketahui bahwa ritus Pemmau Do Made memiliki nilai-nilai yang baik. Nilai yang pertama adalah penghargaan kepada leluhur. Kenyataan bahwa leluhur mereka telah banyak mewariskan hal baik untuk tetap menjaga relasi emosional mereka dengan para leluhur (aspek mistik). Nilai yang kedua, berkaitan dengan relasi sosial mereka sebagai upaya untuk menjaga relasi dengan sesama (aspek sosial). Kemudian, nilai-nilai ini dilihat sebagai hal baik yang penting untuk tetap dilestarikan dan juga menjadi perhatian masyarakat, pemerintah dan gereja. Gereja khususnya, sebagai suatu persekutuan (Koinonia), yang tumbuh di tengah masyarakat yang berbudaya dengan konteks seperti ini, gereja bisa belajar dari budaya. Gereja seharusnya mampu melihat hal yang baik dari budaya dan memperkaya teologi. Namun, sikap toleransi ini berlaku sejauh tidak bertentangan dengan ajaran gereja.