ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari adanya ketegangan pemahaman di tengah jemaat
GMIT Ebenhaizer Haumolo mengenai tradisi mamat (makan sirih pinang).
Sebagian jemaat memandang mamat sebagai praktik budaya semata, sedangkan
sebagian lainnya mempertanyakan relevansinya bagi kehidupan iman Kristen.
Pokok persoalan inilah yang kemudian melahirkan kebutuhan untuk menelaah
tradisi mamat secara teologis, khususnya bagaimana tradisi tersebut dapat
dipahami an dimaknai dalam terang Injil serta kehidupan bergereja.
Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai teologis yang terkandung
dalam tradisi mamat serta menjelaskan bagaimana praktik budaya tersebut dapat
menjadi sarana membangun keramahtamahan, mempererat persekutuan,
memulihkan relasi, membentuk iman generasi muda, dan menghadirkan kesaksian
gereja di tengah masyarakat. Tujuan lainnya adalah membantu jemaat melihat
bahwa tradisi mamat tidak harus dipertentangkan dengan iman Kristen, melainkan
dapat menjadi bagian dari spiritualitas yang membumi dan relevan bagi kehidupan
umat.
Pendekatan yang digunakan adalah teologi kontekstual dengan metode
kualitatif, melalui analisis literatur, pengamatan terhadap praktik mamat dalam
kehidupan jemaat, serta refleksi teologis berdasarkan narasi Alkitab dan
pemikiran teolog Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menangkap
makna teologis tradisi mamat secara menyeluruh, tidak hanya sebagai adat
istiadat, tetapi sebagai ruang hidup yang mempengaruhi pembentukan relasi,
iman, dan identitas jemaat.
Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi mamat mengandung nilai-nilai
kristiani yang kuat, seperti penerimaan, kesetaraan, keramahtamahan, rekonsiliasi,
pembinaan iman, dan kesaksian gereja. Tradisi ini mampu menjadi ruang
perjumpaan yang menghadirkan kasih Allah dan memperkaya spiritualitas jemaat.
Dengan demikian, mamat tidak hanya layak dipertahankan sebagai identitas
budaya, tetapi juga dapat diintegrasikan sebagai bagian dari praksis iman Kristen
yang kontekstual dan membangun kehidupan jemaat secara holistik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gereja dalam pelayanan pastoral memiliki panggilan untuk melaksanakan tugas penggembalaan dengan merawat, melindungi, memelihara, serta menolong umat sebagai domba-domba Allah. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, gereja tidak terlepas dari berbagai persoalan umat, salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga yang berdampak serius bagi anak-anak sebagai saksi. Pengalaman menyaksikan kekerasan seringkali meninggalkan trauma psikologis yang mengganggu rasa aman dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum lokasi penelitian di Jemaat GMIT Sono, mengkaji upaya gereja dalam penyembuhan trauma anak-anak usia 5–12 tahun yang menyaksikan kekerasan, serta menganalisis upaya tersebut dalam tinjauan teologi pastoral.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan dan studi literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Mata Jemaat Sion Oepuah terdapat anak-anak usia 5–12 tahun yang mengalami trauma psikologis, ditandai dengan gejala ketakutan, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, dan keinginan untuk membalas dendam. Upaya gereja dalam pendampingan trauma masih bersifat umum dan belum menyentuh kebutuhan emosional anak secara khusus. Dalam tinjauan teologi pastoral, gereja dipahami sebagai komunitas penyembuhan (healing community) yang menghadirkan ruang aman bagi umat. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk berperan lebih aktif, terstruktur, dan berkelanjutan dalam pendampingan pastoral guna menolong anak-anak mengalami pemulihan dan keutuhan hidup.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian yang dilakukan oleh penulis ialah mengenai kehidupan para petani di GMIT Kasih Karunia Oesao, ditinjau dari teologi kontekstual dan relevansinya bagi peran Gereja di GMIT Kasih Karunia Oesao. Dalam realitas yang ditemukan bahwa kehidupan para petani juga menjadi tempat perjumpaan dengan Allah di sawah, melalui kerja, penderitaan, dan keberhasilan para petani. Maka penulis menemukan bahwa Gereja masih memiliki keterbatasan untuk menghadirkan pelayanan yang kontekstual bagi para petani. Gereja diharapkan untuk melihat kehidupan para petani yang merupakan tempat Allah hadir dan berkarya di dalamnya untuk membangun suatu program yang menjawab kebutuhan para petani. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis, dan reflektif. Dalam menganalisis kehidupan petani, penulis menggunakan teori C.S Song yang menekankan kehadiran Allah dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sawah tidak hanya sebagai sumber kehidupan para petani, tetapi sawah merupakan pusat kehidupan. Maka itu, teologi para petani dibangun dari penderitaan, kerja keras, dan ketergantungan pada alam. Untuk itu, penulis memberikan sumbangsih bagi pelayanan Gereja untuk dapat menghadirkan pelayanan yang kontekstual bagi para petani berdasarkan teologi para petani dengan menjadi Gereja yang kontekstual, berdampak pada masyarakat sosial, dan menjalankan pelayanan yang holistik bagi masyarakat pedesaan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa perempuan sering kehilangan suara dalam struktur masyarakat patriarkal, sebagaimana tergambar dalam kisah Dina dan Sikhem dalam Kejadian 34:1–31. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana narasi ini mencerminkan ketidakadilan terhadap perempuan dan bagaimana gereja dapat merespons realitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan kisah Dina secara naratif dan mengaitkannya dengan kesempatan perempuan untuk bersuara atas ketidakadilan di dalam kehidupan jemaat, khususnya di GMIT Yegar Sahaduta Bello. Metode yang digunakan adalah kritik naratif untuk menelusuri struktur dan pesan teks Alkitab, serta wawancara mendalam untuk mengungkap pengalaman dan tanggapan jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah Dina dapat menjadi dasar teologis dan etis dalam membangun kesadaran gereja terhadap isu kekerasan berbasis gender. Implikasinya, gereja didorong untuk menyediakan ruang aman, pendampingan pastoral, serta pendidikan teologis yang mendukung perempuan agar berani bersuara dan berperan aktif dalam kehidupan iman dan sosial.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSRTAK Penelitian ini berjudul “MORUK” dengan sub-judul “ Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual terhadap Ritus Moruk di Jemaat GMIT Pniel Loomaten, Klasis Malaka dan Implikasinya bagi Gereja masa kini”. Ritus Moruk atau yang sering disebut Moruk Malu atau Moruk antar suku atau kampung. Moruk artinya Pemali atau larangan. Awal mula adanya ritus ini karena adanya perkelahian antara suku dan kampung yang mengakibatkan ada yang meninggal sehingga adanya sumpah yaitu: keturunan mereka tidak boleh menikah dengan warga atau warga kampung yang sudah ditentukan. Melalui ritus ini keluarga yang memiliki dendam atau keluarga yang berasal dari suku-suku yang ditetapkan sebagai Moruk Malu bisa membersihkan semua dendam di masa lalu dengan demikian pasangan yang akan menikah akan hidup bahagia. Untuk mencapai tujuan ini maka tulisan ini mengunakan penelitian kualitatif yang berusaha menjelaskan suatu fenomena dengan mengumpulkan sedalam-dalamnya data yang diteliti. Teknik yang digunakan adalah observasi lapangan serta wawancara kepada Majelis Gereja, Jemaat, Pemerintah Daerah dan tokoh-tokoh adat. Tujuan dari hal ini yakni memperlihatkan kesenjangan budaya dan iman bagaimana keduanya ada di dalam pertemuan dan ketegangan di waktu pelaksanaan ritus Moruk di Loomaten. Analisis teologi kontekstual dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa ritus Moruk ini memiliki nilai-nilai yang positif melalui pelaksanaannya Gereja juga beranggapan bahwa sebagai ritus lokal yang memiliki nilai yang sangat relevan dengan teologi kontekstual. Penelitianya ini sangat diharapkan agar dapat memberi sumbangsih bagi jemaat GMIT Pniel Loomaten. Dalam mencari dan melestarikan kerarifan lokal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Kerenggangan relasi antar umat beragama seringkali terjadi karena faktor politik, kesenjangan ekonomi dan sentiment etnis. Konflik ini dapat mengganggu toleransi dan keributan antar umat beragama dan sulit untuk diselesaikan. Meskipun pemerintah, masyarakat, dan gereja secara konsisten berusaha mengurangi kerenggangan hubungan ini, hasilnya tidak memuaskan. Tulisan ini ditulis untuk menambah diskusi tentang masalah ini dan menunjukkan sejauh mana pemikiran Moderchai Martin Buber tentang hubungan Aku dan Engkau dapat membantu upaya masyarakat Oenay untuk memperkuat hubungan antar umat beragama. Oleh karena itu, tulisan ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan memeriksa sumber pustaka terlebih dahulu, baik karya tulis maupun berita di media sosial. Berdasarkan hasil penelusuran literatur tersebut, maka relasi I and Thou dimaknai sebagai hubungan yang mendalam dan autentik dalam kehidupan manusia, baik dalam konteks sosial maupun spiritual. Konsep ini relevan untuk hubungan antar umat beragama di Oenay, di mana ada kerenggangan dalam hubungan. Beragam cara sudah dilakukan oleh pihak pemerintah maupun gereja, namun hasilnya tetap tidak memuaskan. Karena itu, disamping gereja, pemerintah dan masyarakat bekerja untuk mempererat relasi, makan tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu tawaran untuk dipertimbangkan guna diterapkan dalam konteks di Oenay. Melalui tulisan ini, pada akhirnya diharapkan agar penerapan konsep relasi I and Thou dalam konteks relasi di Oenay harus dilihat secara positif dan kristis. Masyarakat sudah saatnya menyadari bahwa sangat penting untuk menciptakan keharmonisan sosial, di mana saling menghormati, memaknai perbedaan dan bekerja sama dapat memperkuat persatuan dalam kerangaman. Kata Kunci: Martin Buber, I and Thou, Relasi Islam-Kristen, Gereja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu masalah penting dalam kehidupan gereja secara komunal adalah minimnya kehadiran pemuda dalam persekutuan. Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem persekutuan pemuda tidak berfungsi dengan baik dikarenakan beberapa faktor yang memepengaruhinya. Beberapa diantaranya antara lain pergaulan, program-program yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan minat generasi muda menurunkan partisipasi aktif. Akibatnya, regenerasi spiritual, yang seharusnya menjadi pilar dalam membangun iman di kalangan generasi muda, hilang dari komunitas gereja yang terdiri dari orang-orang muda. Kemajuan perkembangan dalam masyarakat modern seringkali memunculkan tantangan terhadap konsep kebersamaan tradisional, termasuk di dalam gereja. Individualisme yang semakin menonjol dapat mengalihkan fokus kolektif menjadi pencapaian pribadi, sehingga persekutuan pemuda dalam gereja berisiko kehilangan relevansi. Melalui pendekatan AGIL, gereja dapat mengidentifikasi strategi adaptasi untuk menjembatani kebutuhan individu dengan semangat kolektif persekutuan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mendorong normalisasi kembali fungsi persekutuan pemuda dengan menggunakan pendekatan strategi yang relevan dan inklusif. Dalam hal ini sebagai gereja dapat membuat program yang menarik dan melibatkan pemuda dengan mengetahui dinamika sosial dan spiritual pemuda. Diharapkan metode ini akan mengembalikan semangat kebersamaan dan mendorong pemuda untuk berpartisipasi aktif dalam persekutuan gereja. Untuk menyelesaikannya, merevitalisasi persekutuan pemuda memerlukan pembuatan program yang sesuai dengan konteks kehidupan pemuda yang aktual. Gereja dapat mewujudkan lingkungan yang mendukung keterlibatan aktif, regenerasi spiritual, dan pertumbuhan komunitas yang lebih sehat secara komunal dengan menerapkan gagasan AGIL. Harapannya tulisan ini bisa menjadi penerapan dalam konteks gereja, agar gereja bisa melihat secara kritis setiap perubahan-perubahan yang ada. Gereja juga menyadari bahwa dalam tahap ia melihat perubahan yang ada, tidak menghilangkan integritasnya sebagai panggilan yang menjalankan apa yang menjadi tanggungjwabnya di tengah-tengah dunia yang kompleks ini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK RITUAL GELAK WAHA Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritual Gelak Waha (Mencari Kesembuhan) dan Implikasinya bagi Pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja, Klasis Flores Kesehatan merupakan aspek paling berharga dalam kehidupan manusia, namun sakit menjadi tantangan besar yang kerap kali sulit diatasi meski dengan kemajuan pengobatan modern. Sebagai alternatif, pengobatan tradisional yang mengandalkan kepercayaan dan pengalaman turun-temurun tetap relevan di beberapa masyarakat, termasuk dalam konteks ritual Gelak Waha yang dilakukan oleh masyarakat Beloaja di Flores. Ritual ini bertujuan mencari kesembuhan melalui prosedur magis dengan melibatkan dukun serta penggunaan bahan alami, seperti sirih, pinang, dan ayam kampung. Penelitian ini mengkaji makna dan nilai yang terkandung dalam ritual Gelak Waha serta implikasinya terhadap pelayanan gerejawi di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Permasalahan utama yang diangkat meliputi pemahaman jemaat tentang konteks lokal, kesembuhan, dan refleksi teologis terhadap praktik tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian jemaat GMIT telah mengadopsi ajaran Kristen, mereka masih menjalankan ritual Gelak Waha karena kepercayaan turun-temurun kepada Lera Wulan sebagai entitas pelindung dan penyembuh. Hal ini memunculkan tantangan bagi gereja dalam mendampingi jemaat untuk memahami kesembuhan sebagai anugerah Allah yang dapat terjadi melalui berbagai cara, baik secara medis maupun spiritual. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang kesembuhan melalui ritual Gelak Waha serta menyajikan refleksi teologis untuk mendorong pendekatan yang kontekstual dalam pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi bagi pengembangan pelayanan gereja dalam menghadapi fenomena sinkretisme budaya dan iman. Kata kunci: Ritual Gelak Waha, teologi kontekstual, kesembuhan, pelayanan gereja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fenomena seks bebas dikalangan remaja sampai pemuda/i kian memprihatinkan yang mengalami peningkatan setiap tahun. Ini juga yang terjadi dalam jemaat GMIT Diaspora Padakika. Untuk itu perlu ada perhatian khusus baik itu dari orang tua maupun gereja. Terkait dengan masalah ini, maka pendidikan seks merupakan solusi yang tepat dalam mengatasi seks bebas. Pendidikan seks merupakan pengajaran penting yang harus diterapkan kepada setiap anak. Untuk itu, Keluarga menjadi tempat utama sebagai dasar bagi anak agar bisa memperoleh ajaran-ajaran yang disampaikan termaksud dengan pendidikan seks. Pendidikan seks dalam keluarga sangat penting dan harus menjadi bahan pembinaan yang harus diterapkan dalam keluarga. Anak-anak sejak dini harus diperkenalkan dengan pendidikan sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Selain itu, dengan pendidikan seks anak juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual yang berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya. Orang tua juga wajib untuk dibekali ilmu terkait dengan pendidikan seks. Pendidikan seks harus dianggap sebagai bagian dari proses pendidikan untuk memperkuat penggembangan kepribadian bagi seorang anak. Orang tua harus memiliki peran penting untuk menanggulangi perilaku seks yang menyimpang dengan nilai-nilai dan ajaran Alkitab pada anak sedini mungkin. Gereja juga turut berperan dalam memberikan pengajaran dan pendidikan mengenai seks, karena gereja diutus Allah untuk ada ditengah-tengah dunia menjawab setiap persoalan dalam anggota jemaat terkait dengan kasus seks bebas. Pembinaan warga gereja sebagai bagian tugas dan tanggung jawab pelayan dalam gereja melalui Kerygma (mengajar atau memuridkan), Marturia (bersaksi), Koinonia (bersekutu), dan Diakonia (pelayanan sosial). Pembinaan warga gereja tidak terlepas dari pendidikan dan pengajaran mengenai nilai-nilai dan ajaran kristiani sehingga mampu membawa setiap anggota jemaat agar mengalami pendewasaan. Pendewasaan jemaat agar dapat membedakan apa yang baik dan buruk sesuai dengan kehendak Allah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kenyataan, bahwa hingga hari ini keberpihakan lembaga-lembaga pemerintah dan sosial kepada kelompok difabel belum memadai. Gereja, sebagai salah satu lembaga sosial, yang bertanggung jawab terhadap kelompok difabel masih lamban untuk memperlihatkan pelayanannya. Mengapa gereja begitu lamban dalam menyikapi persoalan kelompok difabel? Apakah minimnya keberpihakan gereja terhadap kelompok difabel karena gereja masih bergumul dengan minimnya konsep teologi yang berdampak pada lambannya diakonia holistik GMIT bagi dan bersama kelompok difabel? Tesis ini mengacu pada empat pertanyaan pokok: (1) Apa konsep teologi GMIT tentang kelompok difabel, dan upaya GMIT menjemaatkan teologi kelompok difabel yang berdampak pada peningkatan pelayanan holistik bagi dan bersama kelompok difabel? (2) Apa pandangan Ketua MS GMIT, UPP Teologi MS GMIT, dan para pendeta GMIT terkait kelompok difabel dan bagaimana pandangan kelompok difabel tentang identitas mereka sendiri? (3) Bagaimanakah praksis diakonia holistik GMIT bagi dan bersama kelompok difabel? (4) Bagaimana refleksi teologis tentang pemberdayaan gereja bagi dan bersama kelompok difabel? Pertanyaan-pertanyaan ini, membimbing penulisan ini untuk mencapai empat tujuan, yaitu : (1) sebuah deskripsi konsep teologi GMIT tentang kelompok difabel dan upaya GMIT menjemaatkan teologi kelompok difabel yang berdampak pada peningkatan pelayanan diakonia holistik bagi dan bersama kelompok difabel; (2) Uraian perspektif Ketua MS GMIT, UPP Teologi MS GMIT, dan para pendeta GMIT terkait kelompok difabel; (3) Uraian pandangan kelompok difabel tentang identitas mereka sendiri; penjelasan praksis diakonia holistik GMIT selama ini bagi dan bersama kelompok difabel; dan (4) sebuah tinjauan reflektif teologis tentang diakonia holistik gereja bagi dan bersama kelompok difabel. Metode yang digunakan dalam penelitian untuk kepentingan tesis ini adalah metode penelitian kwalitatif dengan teknik wawancara mendalam. Selain itu studi kepustakaan diarahkan pada dokumen-dokumen GMIT yang berkaitan dengan topik studi. Penelitian ini membuktikan bahwa (1) GMIT masih perlu menunjukkan kepekaan dan kepedulian dalam prinsip solidaritas yang sama kepada kelompok difabel. (2) Diakonia bagi dan bersama kelompok difabel masih sangat terbatas. (3) GMIT belum memiliki pandangan dan sikap teologis yang jelas terhadap kelompok difabel. (4) Secara teologis, keberpihakan kepada kelompok difabel dalam menegakkan keadilan dan damai sejahtera bagi mereka sesungguhnya memperlihatkan keberpihakan Allah bagi manusia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bisnis adalah suatu kegiatan menjual barang atau jasa kepada konsumen untuk mendapatkan laba atau keuntungan. Berbicara tentang bisnis di zaman modern ini, tentu sudah menjadi hal yang biasa. Bisnis sudah menjadi bagian dalam kehidupan setiap orang. Apalagi perkembangan teknologi yang semakin pesat, membuat banyak orang berlomba-lomba untuk memperjual belikan apa yang ia punya untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Prinsip utama dalam menjalankan bisnis ialah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu, para pelaku bisnis akan berjuang dengan berbagai macam cara untuk membuat bisnis mereka tetap bertahan dan apa yang menjadi kebutuhan dasar mereka bisa tetap terpenuhi. Di masa kini, banyak pendeta, secara khusus pendeta di GMIT juga memiliki bisnis tertentu. Ada yang berbisnis dengan tujuan meningkatkan pendapatan kas jemaat dan pemberdayaan ekonomi jemaat, tetapi ada juga yang ingin memenuhi kebutuhan hidup secara pribadi dan keluarga. Pertanyaan mendasar yang menjadi fokus penelitian penulis ialah apakah boleh pendeta mengurus bisnis? Penelitian ini berlokasi di Klasis Pantar Barat, secara khusus di Jemaat GMIT Abarim Allung. Penulis meneliti lebih jauh tentang pendapat jemaat dan pendeta tentang pendeta yang mengurus bisnis dan bagaimana dampak dari hal tersebut bagi pelayanan di GMIT. Metode yang dipakai dalam penelitian ini ialah metode kualitatif. Metode ini mempelajari dan mengerti suatu gejala jemaat umum dengan perhatian khusus diarahkan pada dinamika sosial, ekonomi, dan spiritualitas jemaat. Sebagai sebuah prosedur penelitian, metode ini menghasilkan gambaran data atau informasi yang didapat melalui penjelasan dari orang-orang dan hal-hal yang mereka lakukan di lokasi penelitian. Asumsi dari penelitian ini ialah berbisnis merupakan dampak dari perkembangan teknologi yang pesat saat ini. Siapapun bisa terlibat dalam berbisnis, termasuk para pendeta. Akan tetapi, pendeta tidak boleh melibatkan diri secara langsung dalam dunia bisnis. Seorang pendeta harus fokus pada tugas dan tanggung jawabnya sebagai hamba Kristus yang melayani dengan integritas yang melekat pada dirinya. Ia dapat memberdayakan potensi yang dimiliki oleh jemaat agar mereka yang terlibat secara langsung dalam bisnis. Pendeta juga perlu menanamkan nilai-nilai integritas kristiani dalam diri jemaat agar mereka tetap berlaku jujur, berani, setia, bertanggung jawab, dan rela berkorban dalam menjalankan bisnis untuk kepentingan bersama. Singkatnya, pendeta boleh memiliki bisnis tetapi tidak boleh mengurus bisnis. Ia harus lebih memfokuskan diri pada pengembangan pelayanan dan pemberdayaan ekonomi jemaat di mana ia melayani. Ia juga harus terus menyadarkan dirinya sebagai hamba Kristus yang datang untuk melayani, bukan dilayani.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sampah merupakan salah satu krisis lingkungan hidup yang menjadi permasalahan hingga saat ini. Akibat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk, tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya maka bertambah pula sampah yang dihasilkan. Sampah dibuang sembarangan dan sering ditemukan di berbagai tempat seperti jalann, pusat pertokoan, sarana milik pemerintah dan lain sebagainya. Salah satu sarana milik pemerintah yang mengelola dan mengolah sampah adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pada TPA terdapat banyak sampah dengan jenis dan karakteristik berbeda. Jika sampah-sampah ini tidak ditanggulangi secara serius, maka akan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan di sekitarnya. Untuk menjawab permasalahan dampak buruk sampah bagi lingkungan maka hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama, termasuk pihak gereja, Gereja khususnya GMIT terpanggil secara aktif untuk melibatkan diri dan memiliki kepekaan dalam usaha peduli terhadap lingkungan hidup dan masalah-masalahnya di dalamnya. Dalam mengkaji masalah ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dalam bentuk studi lapangan. Jemaat GMIT Efata Batukapur memiliki tanggung jawab yang lebih untuk terlibat dalam upaya menjaga lingkungan hidup. Konteks dan keadaan lingkungan Jemaat GMIT Efata Batukapur diperhadapkan dengan masalah krisis lingkungan akibat sampah di TPA Alak yang telah memiliki dampak buruk terhadap kehidupan, baik terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya. Dalam mewujudkan tanggung jawab gereja terhadap lingkungan hidup, maka gereja perlu memiliki misi pelayanan yang bergerak di bidang ekologi. Penulis melihat misi pelayanan Jemaat GMIT Efata Batukapur belum menjawab permasalahan yang sedang terjadi. Maka penulis menawarkan perspektif ekotelogi yang berjudul ecomissiology menurut Ross Langmead. Penulis memilih perspektif ini dengan alasan, perspektif ekoteologi Ross Langmead menggunakan unsur misi yang berfokus pada lingkungan hidup. Tidak hanya teori mengenai ekoteologi, tetapi praktik ekoteologi disampaikan melalui pendekatan ekomisiologi. Hal ini menjadi relevan dengan permasalahan yang diangkat penulis tentang peranan misi gereja yang bergerak pada lingkungan hidup dengan dasar Teologi Ekologis. Penulis memilih teks-teks Alkitab baik dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai landasan Alkitabiah dan kemudian membuat refleksi teologis terhadap masalah yang terjadi. Misi gereja terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui pelayanan-pelayanan yang difokuskan pada krisis lingkungan yang sedang terjadi. Gereja ada di dalam realitas dunia, maka gereja tidak dapat mengabaikan tugas panggilannya di dunia, termasuk terlibat untuk memelihara dan menjaga lingkungan hidup sebagai suatu kesatuan.