ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gereja dalam pelayanan pastoral memiliki panggilan untuk melaksanakan tugas penggembalaan dengan merawat, melindungi, memelihara, serta menolong umat sebagai domba-domba Allah. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, gereja tidak terlepas dari berbagai persoalan umat, salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga yang berdampak serius bagi anak-anak sebagai saksi. Pengalaman menyaksikan kekerasan seringkali meninggalkan trauma psikologis yang mengganggu rasa aman dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum lokasi penelitian di Jemaat GMIT Sono, mengkaji upaya gereja dalam penyembuhan trauma anak-anak usia 5–12 tahun yang menyaksikan kekerasan, serta menganalisis upaya tersebut dalam tinjauan teologi pastoral.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan dan studi literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Mata Jemaat Sion Oepuah terdapat anak-anak usia 5–12 tahun yang mengalami trauma psikologis, ditandai dengan gejala ketakutan, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, dan keinginan untuk membalas dendam. Upaya gereja dalam pendampingan trauma masih bersifat umum dan belum menyentuh kebutuhan emosional anak secara khusus. Dalam tinjauan teologi pastoral, gereja dipahami sebagai komunitas penyembuhan (healing community) yang menghadirkan ruang aman bagi umat. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk berperan lebih aktif, terstruktur, dan berkelanjutan dalam pendampingan pastoral guna menolong anak-anak mengalami pemulihan dan keutuhan hidup.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji keterlibatan majelis jemaat dalam praktik sabung ayam yang mengandung unsur perjudian sebagai persoalan teologi pastoral dan etika pelayanan gereja. Praktik tersebut tidak hanya bertentangan dengan nilai iman Kristen dan tata kehidupan bergereja, tetapi juga memunculkan krisis kepemimpinan dalam kehidupan persekutuan jemaat. Keterlibatan pelayan gereja dalam praktik ini berdampak pada melemahnya integritas kepemimpinan, terganggunya relasi pelayanan, serta menurunnya kepercayaan jemaat terhadap gereja sebagai komunitas moral. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan realitas kasus, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan majelis jemaat, menafsirkan kasus tersebut secara teologis, serta merumuskan rencana aksi pastoral yang bersifat kontekstual, operasional, dan berorientasi pada pemulihan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Interpretasi teologis dilakukan dengan merujuk pada teks 1 Samuel 2:11-26 yang menggambarkan krisis kepemimpinan rohani akibat pembiaran terhadap dosa dan kegagalan tanggung jawab pelayan Tuhan. Teks ini menjadi dasar refleksi untuk memahami relasi antara jabatan pelayanan, tanggung jawab etis, dan kehidupan iman pelayan gereja. Kerangka teologi pastoral Howard Clinebell digunakan sebagai landasan untuk menata rencana aksi pastoral melalui fungsi pembimbingan, penopangan, penyembuhan, pemulihan, dan pemeliharaan sebagai proses yang saling berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan majelis jemaat dalam praktik sabung ayam dipengaruhi oleh kebiasaan sosial yang terinternalisasi, tekanan ekonomi, lemahnya penghayatan jabatan pelayanan sebagai panggilan iman, serta kurangnya pendampingan pastoral yang personal dan berkelanjutan. Dampak dari praktik tersebut terlihat dalam krisis kepemimpinan gerejawi dan kebingungan nilai di tengah jemaat. Oleh karena itu, rencana aksi pastoral difokuskan pada pemulihan majelis jemaat sebagai subjek utama, dengan keterlibatan gereja, jemaat, dan keluarga sebagai ruang pendukung pemulihan iman dan relasi. Penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan pastoral tidak dapat berhenti pada teguran normatif, tetapi harus diwujudkan melalui pendampingan yang menyentuh dimensi personal, relasional, dan struktural, sehingga kepemimpinan gerejawi dapat dipulihkan dan persekutuan jemaat dibangun secara sehat dan bertanggung jawab.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilaksanakan di Panti Asuhan Kristen GMIT 221 Kupang dan
berangkat dari realitas pengasuhan anak-anak panti asuhan yang tidak hanya
mencakup pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga dimensi emosional, sosial, dan
spiritual anak. Dalam praktiknya, pola pengasuhan yang diterapkan belum
sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai pastoral yang mendukung pertumbuhan
holistik anak, seperti kasih, penerimaan, pemeliharaan, dan pembimbingan yang
aman dan membangun. Berdasarkan realitas tersebut, persoalan utama dalam
penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai pastoral diwujudkan dalam praktik
pengasuhan anak-anak panti asuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengasuhan anak-anak di Panti Asuhan Kristen GMIT 221 Kupang serta
meninjaunya secara teologis berdasarkan pendekatan konseling pastoral.
Kerangka teoretis penelitian ini menggunakan teori konseling pastoral Howard
Clinebell, khususnya lima fungsi pastoral, yaitu menyembuhkan (healing),
menopang (sustaining), membimbing (guiding), memulihkan (reconciling), dan
memelihara pertumbuhan (nurturing), namun penulis lebih fokus pada fumgsi
membimbing (guiding). Teori ini digunakan untuk menilai sejauh mana nilai-nilai
pastoral terealisasi dalam praktik pengasuhan anak. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan. Data diperoleh melalui
wawancara mendalam dengan pengasuh dan anak-anak panti asuhan, serta studi
kepustakaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan
menggunakan kerangka teori konseling pastoral. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa nilai-nilai pastoral telah diupayakan dalam praktik pengasuhan, namun
belum dijalankan secara konsisten dan optimal. Refleksi teologis dari Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru menegaskan bahwa anak-anak adalah pribadi berharga
di hadapan Allah yang berhak menerima pengasuhan yang manusiawi,
memerdekakan, dan membimbing. Pengasuh dipanggil sebagai rekan sekerja
Allah untuk menghadirkan relasi yang aman, menerima, dan menyembuhkan,
sementara gereja memiliki tanggung jawab pastoral untuk memperlengkapi dan
mendampingi pengasuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengasuhan yang
utuh memerlukan sinergi antara pengasuh dan gereja untuk menumbuhkan
kesejahteraan holistik dan nilai-nilai pastoral pada anak-anak panti asuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Spiritualitas Para Janda: Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Spiritualitas Para Janda di GMIT Ora Et Labora Oesapa Klasis Kota Kupang Timur.” Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengungkap realitas kehidupan para janda dalam konteks kehidupan bergereja, khususnya berkaitan dengan pemahaman dan praktik spiritualitas mereka dalam menghadapi tantangan hidup setelah kehilangan suami. Latar belakang penelitian ini berpijak pada kenyataan bahwa wafatnya suami memberikan dampak besar bagi istri yang ditinggalkan, baik secara psikologis, sosial, ekonomi, maupun spiritual, terutama dalam masyarakat yang masih kuat menganut budaya patriarki seperti di Kota Kupang. Dalam kondisi tersebut, spiritualitas dipandang sebagai kekuatan utama yang menopang keteguhan iman dan mental para janda untuk terus melanjutkan hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi. Berdasarkan temuan penelitian, mayoritas janda di GMIT Ora Et Labora Oesapa memiliki pemahaman yang masih terbatas mengenai makna spiritualitas. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti latar belakang pendidikan, pengalaman iman, prioritas hidup, serta minimnya keterlibatan mereka dalam aktivitas pelayanan gereja. Rendahnya pemahaman dan penghayatan akan spiritualitas ini berdampak langsung pada keterlibatan mereka yang minim dalam kegiatan gerejawi, serta berakibat memudarnya nilai-nilai kekristenan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi gereja dalam merancang pelayanan pastoral yang lebih relevan, guna memperkuat dan memberdayakan para janda agar mampu bangkit, mandiri, dan menjalani kehidupan yang berlandaskan spiritualitas Kristen secara utuh.