Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

1 hasil
Subjek: Mamat
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAMAT Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Tradisi Mamat di Jemaat GMIT Ebenhaizer Haumolo, Klasis Amanatun Utara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari adanya ketegangan pemahaman di tengah jemaat GMIT Ebenhaizer Haumolo mengenai tradisi mamat (makan sirih pinang). Sebagian jemaat memandang mamat sebagai praktik budaya semata, sedangkan sebagian lainnya mempertanyakan relevansinya bagi kehidupan iman Kristen. Pokok persoalan inilah yang kemudian melahirkan kebutuhan untuk menelaah tradisi mamat secara teologis, khususnya bagaimana tradisi tersebut dapat dipahami an dimaknai dalam terang Injil serta kehidupan bergereja. Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai teologis yang terkandung dalam tradisi mamat serta menjelaskan bagaimana praktik budaya tersebut dapat menjadi sarana membangun keramahtamahan, mempererat persekutuan, memulihkan relasi, membentuk iman generasi muda, dan menghadirkan kesaksian gereja di tengah masyarakat. Tujuan lainnya adalah membantu jemaat melihat bahwa tradisi mamat tidak harus dipertentangkan dengan iman Kristen, melainkan dapat menjadi bagian dari spiritualitas yang membumi dan relevan bagi kehidupan umat. Pendekatan yang digunakan adalah teologi kontekstual dengan metode kualitatif, melalui analisis literatur, pengamatan terhadap praktik mamat dalam kehidupan jemaat, serta refleksi teologis berdasarkan narasi Alkitab dan pemikiran teolog Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menangkap makna teologis tradisi mamat secara menyeluruh, tidak hanya sebagai adat istiadat, tetapi sebagai ruang hidup yang mempengaruhi pembentukan relasi, iman, dan identitas jemaat. Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi mamat mengandung nilai-nilai kristiani yang kuat, seperti penerimaan, kesetaraan, keramahtamahan, rekonsiliasi, pembinaan iman, dan kesaksian gereja. Tradisi ini mampu menjadi ruang perjumpaan yang menghadirkan kasih Allah dan memperkaya spiritualitas jemaat. Dengan demikian, mamat tidak hanya layak dipertahankan sebagai identitas budaya, tetapi juga dapat diintegrasikan sebagai bagian dari praksis iman Kristen yang kontekstual dan membangun kehidupan jemaat secara holistik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail