Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Subjek: Kata kunci : Pemuda
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMUDA DAN PRAKTIK FLEXING “Suatu Tinjauan Pembinaan Warga Gereja Terhadap Keteladanan Pemuda GMIT Batu Karang Kupang Dalam Menyikapi Praktik Flexing di Era Digital”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Praktik flexing atau pamer gaya hidup mewah di media sosial telah menjadi tren dan bagian dari budaya populer yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak generasi muda, termasuk pemuda GMIT Batu Karang Kupang. Dalam konteks pemuda GMIT Batu karang Kupang, praktik ini tidak hanya muncul sebagai bentuk ekspresi diri, tetapi juga sebagai strategi untuk mencari pengakuan, validasi sosial, dan membangun citra diri di media sosial dan secara langsung. Praktik ini berdampak negatif terhadap relasi antar sesama, persekutuan, dan pertumbuhan iman pemuda. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana keteladanan pemuda GMIT dalam menyikapi praktik flexing serta bagaimana pembinaan warga gereja (PWG) dapat menjadi sarana yang efektif dalam membentuk karakter dan spiritualitas pemuda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan kuesioner kepada 23 responden yang terdiri dari pendeta, pengurus pemuda, dan anggota pemuda di Jemaat GMIT Batu Karang Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemuda terlibat dalam praktik flexing untuk mendapatkan pengakuan, yang memicu perpecahan dan persaingan tidak sehat dalam persekutuan. Hal ini menunjukkan bahwa gereja belum optimal dalam memberikan pembinaan yang relevan dan kontekstual terhadap tantangan digital yang dihadapi pemuda. Mengacu pada teori PWG menurut Ruth Selan, pembinaan gereja harus bersifat kontekstual, transformatif dan holistik, menyentuh seluruh aspek kehidupan pemuda serta peran dalam gereja dan Masyarakat. Refleksi teologis dalam skripsi ini menekankan bahwa pemuda dipanggil menjadi teladan dalam kesederhanaan dan pelayanan, sebagaimana yang dicontohkan oleh tokok-tokoh muda seperti Yusuf, Daniel, Daud, Yeremia, Timotius, terutama Yesus Kristus dalam kehidupan dan pelayanan-Nya. Oleh karena itu, PWG memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan iman pemuda agar mampu menghadapi godaan digital secara bertanggung jawab. Gereja perlu meningkatkan kualitas pembinaan berbasis nilai-nilai Alkitabiah dan mendampingi pemuda dengan pendekatan kontekstual yang membumi, agar mereka menjadi teladan dalam kesederhanaan dan pelayanan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pemuda dan Organisasi Pelayanan Gereja- Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Peran Pemuda dalam Organisasi Pelayanan Gereja di GKS Jemaat Kangeli, Klasis Lewa Tidahu

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PEMUDA DAN ORGANISASI PELAYANAN GEREJA “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Peran Pemuda Dalam Organisasi Pelayanan Gereja di GKS Jemaat Kangeli, Klasis Lewa Tidahu” Email: [email protected] Pemuda adalah generasi penerus pelayanan dan kepemimpinan dalam gereja sehingga kehadirannya dalam gereja tidak dapat diabaikan. Gereja adalah tempat di mana pemuda dididik dan bertumbuh dalam iman. Pemuda gereja merupakan generasi penerus yang akan menentukan masa depan gereja dengan meneruskan perjuangan dan melaksanakan tugas panggilan gereja secara terus menerus. Peran pemuda dalam organisasi Pelayanan diwujudkan salah satunya melalui Komisi Pemuda, yakni melalui berbagai program dalam bidang kesaksian, persekutuan dan pelayanan. Namun realitas yang ada menunjukkan bahwa banyak pemuda yang mengabaikan perannya dalam gereja. GKS Kangeli menunjukkan realitas tersebut, bagaimana pemuda tidak menjalankan perannya dengan maksimal. Program yang dibuat tidak berjalan dan partisipasi pemuda-pemudi sangat minim dalam pelayanan Bertolak dari masalah di atas penulis melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran pemuda dalam organisasi Pelayanan di GKS Jemaat Kangeli. Demi mencapai tujuan penelitian ini maka penulis melakukan penelitian lapangan dengan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa peran pemuda melalui Komisi Pemuda di GKS Jemaat Kangeli dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman pemuda terhadap peran dan panggilannya dalam gereja. Kurangnya pemahaman pemuda terhadap peran dan panggilannya juga ikut mempengaruhi jemaat mengambil keputusan untuk membatasi perannya. Dari 139 jumlah pemuda yang terlibat dalam pelayanan hanya 24 orang . Oleh karena itu gereja perlu melakukan pembinaan yang bertujuan bukan saja untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin tetapi membentuk karakter pemud yang mau melayani dan terlibat dalam pelayanan. Pembinaan di dalamnya meliputi memberikan pengajaran dan nasihat, menunjukkan teladan, serta memberikan kepercayaan untuk bertanggung jawab atau memimpin.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail