Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

51 hasil
Subjek: Budaya
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA SITUS

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Warisan Budaya adalah produk/hasil budaya fisik dari tradisi dan prestasi spiritual dalam bentuk nilai dari masa lalu. Menurut UNESCO, warisan budaya terdiri dari dua bagian yaitu tangible cultural dan intangible cultural. Tangible cultural seperti: monumen, artefak, cagar budaya dan kawasan, intangible cultural seperti: bahasa ritual dan tradisi. Warisan budaya sangat penting untuk dilestarikan, hal ini adalah upaya menjaga sejarah bangsa. Bangunan Situs Gereja Kota Kupang merupakan sebuah bangunan dilindungi oleh Undang-Undang Benda Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010. Dalam penelitian penulis menggunakan metode studi lapangan, dalam memenuhi kebutuhan akan data-data penulisan memilih penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Tujuan penelitian ini untuk membuat deskripsi, gambaran/lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta yang akan diteliti. Saat cendana mulai dikenal sebagai komoditi perdagangan, Kupang telah dikenal oleh bangsa-bangsa asing terutama China. Kristen yang mula-mula hadir di Kupang adalah Kristen Katolik yang dibawa oleh pedagang Portugis. Setelah kehadiran Portugis datang juga Belanda menyebarkan agama Kristen Protestan, Belanda pertama kali memerintah pada tahun 1613 kemudian tahun 1614 Belanda menghadirkan seorang Pdt di Kupang untuk kebutuhan keimanan orang-orang Belanda sendiri. Kehadiran seorang Pdt Belanda membuat raja Kupang ingin mengkristenkan seluruh warga Kupang. Hasil kristenisasi oleh Belanda membuat Kupang memiliki sebuah gedung gereja dengan arsitektur Eropa abad pertengahan yang dinobatkan sebagai situs berdasarkan SK: KM.51/OT.007/MKP/2004. Bangunan gereja situs Kota Kupang masih aktif digunakan sebagai tempah ibadah oleh lembaga GMIT. Bangunan situs tidak hanya mendapatkan pelayanan dari GMIT tetapi oleh pihak pemerintah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN ANTARA BUDAYA ORGANISASI, PEMBERIAN KOMPENSASI DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI PADA KANTOR WALI KOTA KUPANG BAGIAN TATA PEMERINTAHAN

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Budaya organisasi merupakan sistem makna bersama yang dianut oleh seluruh anggota yang membedakan satu organisasi itu dari organisasi- organisasi lain. Penerapan budaya organisasi yang kondusif dan menyenangkan dapat menjadi kekuatan yang mampu mengarahkan perilaku karyawan pada pencapaian tujuan organisasi melalui kinerja yangdiberikan. Budaya organisasi yang kuat berguna untuk mengarahkan perilaku, karena membantu karyawan untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik sehingga setiap karyawan diawalkarirnya perlu memahami budaya organisasi dan bagaimana budaya itu diterapkan didalam sebuah perusahaan/organisasi. Tanpa adanya budaya organisasi jalannya roda perusahaan tidak memiliki pedoman atau acuan dalam bertindak dan memecahkan masalah. Dengan adanya budaya organisasi perusahaan mencerminkan nilai dan norma penentu arah organisasi untuk mencapai visi dan misi perusahaan. Selain Budaya organisasi yang mempengaruhi kepuasan karyawan, pemberian kompensasi juga mempengaruhi kepuasan karyawan. Kompensasi merupakan bagian dari hubungan timbal balik antara organisasi dengan sumber daya manusia. Faktor lain yang memengaruhi kinerja seorang karyawan adalah pemberian kompensasi. Kompensasi merupakan hubungan timbal balik antara organisasi dengan karyawan. Menurut Hasibuan dalam jurnal (Rizal & Surya, 2018) menyatakan bahwakompensasi sebagai semua pendapatan dalam bentuk uang, barang, baikyang diterima secara langsung atau tidak langsung oleh karyawan sebagaiimbalan atas layanan yang diberikan oleh perusahaan. Selain berpegang pada budaya organisasi, pihak manajemen perlu memberikan kepuasan kerja pada setiap karyawannya seperti memberikan gaji yang dikenal menjadi signifikan, tetapi kompleks secara kognitif dan merupakan faktor multidimensi, kemudian promosi jabatan yang membuat karyawan berlomba-lomba dalam melakukan yang terbaik atas rekam jejak kinerjanya supaya mendapatkan reward naik jabatan atau promosi jabatan, dan kondisi kerja yang baik. Pemberian kompensasi menurut Hasibuan (2017:119) merupakan semua pendapatan yang berbentuk uang barang langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan. Pembentukan system kompensasi yang efektif merupakan bagian penting dari manajemen sumber daya manusia karna membantu menarik dan mempertahankan pekerjaan- pekerjaan yang berbakat. Selain itu sistim kompensasi perusahaan memilki dampak terhadap kinerja strategis. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara budaya organisasi dengan pemberian kompensasi serta kepuasan kerja pada pegawai kantor Walikota Kupang di bagian tata pemerintahan. Menurut Irma & Gawi, 2016, Faktor kepuasan kerja pegawai sangat pentingartinya bagi perusahaan karena dengan adanya kepuasan bagi pegawai,diharapkan nantinya akan semakin meningkatkan kinerja dan berimbas pada peningkatan produktivitas perusahaan secara menyeluruh, atau dalam ilmu manajemen jasa dikenal dengan istilah“happy employee,happy customer”,yang berarti sebelum memuaskan pelanggan, harus terlebih dahulu memberi kepuasan bagi pekerja, sehingga pekerja pun akan dengan senang hati dan tulus ikhlas memberi pelayanan yang optimal bagi customernya. Metode dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dengan menjadikan pegawai pada bidang tata pemerintahan kantor Walikota Kupang sebagai populasi dan sampel yang berjumlah 30 orang. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah penyebaran kuesioner dengan angket tertutup. Kuesioner ini berisi tentang sejumlah pertanyaan atau pernyataan mengenai variable penelitian yaitu budaya organisasi, pemberian kompensasi terhadap kepuasan kerja pegawai dengan teknik analisis data meliputi analisis pendahuluan, analisis lanjutan, yang mana kedua alat analisis ini mempresentasikan indicator empiric dari konsep budaya organisasi dan pemberian kompensasi terhadap kepuasan kerja pegawai, berdasarkan data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang selanjutnya dilakukan uji korelasi rank spearman merupakan bagian daristatistik non parametrik yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antar variabel. Uji korelasi ranks pearman dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut: (1) Jika signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak, dan Ha diterima, yang berarti terdapat hubungan antar variable budaya organisasi, pemberian kompensasi terhadap kepuasan kerja pegawai, (2) Jika signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak, yangberarti tidak terdapat hubungan antar variabel budaya organisasi, pemberian kompensasi terhadap kepuasan kerja pegawai Dari hasil penelitian yang dilakukan melalui analisis pendahuluan dan analisis lanjutan, maka penulis memberikan kesimpulan sesuai dengan persoalan penelitian yang telah dilakukan yaitu (1) berdasarkan hasil analisis hubungan budaya organisasi terhadap kinerja pegawaikantorWali Kota Kupang bagian tata pemerintahan memiliki hubungan tidak yang searah, (2) berdasarkan hasil analisis hubungan pemberian kompensasi terhadap kinerja pegawai kantor Wali Kota Kupang bagian tata pemerintahan memiliki hubungan tidak searah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK WILAYAH NTT

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sumber daya manusia merupakan faktor penentu keberhasilan pelaksanaan organisasi yang efektif. Walaupun didukung dengan sarana dan prasarana serta sumber daya yang berlebihan, tetapi tanpa dukungan sumber daya manusia yang andal dan mempunyai kinerja yang optimum kegiatan perusahaan tidak akan terselesaikan dengan baik. Menurut Sedarmayanti (2011), lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok. Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik atau sesuai apabila manusia dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat,aman dan nyaman. Kesesuain lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang lama, lebih jauh lagi lingkungan-lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja efisien. Budaya organisasi yang mempengaruhi kinerja karyawan selain lingkungan kerja dan disiplin kerja. Robbins (2008) mengemukkan bahwa budaya organisasi mencerminkan sifat-sifat dan ciri-ciri yang dirasakan terdapat dalam lingkungan kerja dan timbul karna kegiatan organisasi yang dilalukan secara sadar atau tidak dan diangap mempengaruhi, perilaku serta kepribadian organisasi. Rivai, (2014) Kinerja Karyawan merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa kinerja adalah pencapaian hasil kerja seseorang atau kelompok, baik berupa prestasi kerja ataupun kreatifitas karyawan bekerja dalam periode waktu tertentu sesuai dengan tugas yang diberikan, yang diprakarsai oleh pimpinan organisasi atau perusahaan untuk mencapai hasil yang maksimal seperti tujuan perusahaan yang diharapkan. Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan diantaranya lingkungan kerja, dan budaya organisasi. Penilaian kinerja merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kinerja karyawan, karena dengan penilaian kinerja akan diketahui seberapa baik seseorang telah bekerja sesuai dengan sasaran yang ingin dicapainya. Dengan demikian kinerja karyawan perusahaan akan membaik seiring dengan internalisasi budaya korporat. Karyawan yang sudah memahami keseluruhan nilai-nilai tersebut sebagai suatu kepribadian organisasi. Kuantitas dimana besaran yang dihasilkan dalam bentuk uang, sejumlah unit atau kegiatan yang diselesaikan. Teknik penelitian ini menggunakan Kuesioner dalam angket tertutup dengan menggunakan skala 1-10 untuk mendapatkan data yang bersifat interval dan diberi skor atau nilai sebagai berikut : untuk kategori pertanyaan dengan jawaban sangat tidak setuju atau sangat setuju : sangat tidak setuju 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 sangat setuju. Dalam penelitian ini peneliti akan membahas hasil penelitian sesuai dengan permasalahan yang penulis ajukan. Sehingga dapat diketahui gambaran tentang ada tidaknya pengaruh antar variabel bebas lingkungan kerja dan budaya organisasi terhadap variabel terikat kinerja karyawan. Penulis telah melakukan analisis regresi linier berganda dan didapati Koefisien regresi (b1) sebesar 0,426 artinya lingkungan kerja (X1) mengalami kenaikan sebesar 1% maka kinerja karyawan (Y) mengalami peningkatan sebesar 0,426. Koefisisen tidak bernilai signifikan artinya tidak terjadi pengaruh signifikan antara lingkungan kerja(X1) dengan kinerja karyawan (Y). Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan ada pengaruh lingkungan kerja (X1) terhadap kinerja karyawan (Y). Hal ini dibuktikan bahwa variabel lingkungan kerja (X1) ditemukan t hitung : 6.903 ˂ t tabel : 1.664 dan tingkat signifikan 0.000 < 0,05. Penulis telah melakukan analisis regresi linear berganda didapati koefisien regresi (b2) sebesar 0,248 artinya jika budaya organisasi (X2) mengalami kenaikan sebesar 1% maka kinerja karyawan (Y) akan meningkat sebesar 0,248. Koefisien bernilai signifikan artinya terjadi pengaruh antara budaya kerja (X2) kinerja karyawan (Y). Berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan terdapat ada pengaruh budaya kerja (X2) terhadap kinerja karyawan (Y). Hal ini dibuktikan dengan perolehan t hitung sebesar : 4,386 < t tabel : 1.664 dan tingkat signifikan : 0,000 ˂ 0,05. Berdasarkan hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa secara parsial lingkungan kerja (X1) berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) di PT. PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT. Secara parsial budaya organisasi (X2) berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) di PT. PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT. Dan secara simultan lingkungan kerja danbudaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan di PT. PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH BUDAYA ETIS ORGANISASI DAN ORIENTASI ETIKA TERHADAP SENSITIVITAS ETIKA AUDITOR PEMERINTAH PADA INSPEKTORAT KABUPATEN BELU

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Kuantitatif, tujuannya untuk mengetahui budaya etis organisasi dan orientasi etika berpengaru terhadap sensitivitas etika pada Kantor Inspektorat Kabupaten Belu. Teknik pengambilan data menggunakan kuesioner, adapun alat analisisnya menggunakan SPSS. Hasil dari uji ini menunjukan bahwa variabel budaya etis organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap sensitivitas etikauditor, dan orientasi etika berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap sensitivitas etika. Budaya etis organisasi menurut Reskianti dan Fitrianti (2020) budaya etis organisasi akan berpengaruh organisasi etika aparatur Inspektorat dalam melaksanakan tugasnya dan juga akan berpengaruh pada sensitivutas etika. Dimana jika seorang auditor mencinti pekerjaannya, maka sudah pasti akan menjaga setiap sikap serta perbuatannya dalam hal yang merugikan profesinya.auditor dalam situasi ini akan toleran terhadap kualitas hasil audit, dalam artian melaksanakan seluruh prosedur audit, yang di tetapkan tanpa menganti merugikan atau menghentikannya. Orientasi etika menurut Riska (2017) orientasi etika dapat diartikan sebagai dasar pemikiran dalam menentukan sikap secara tepat dan benar yang berhubungan dengan dilemma etis sikap orientasi etika berhubungabn dengan factor eksternal seperti lingkungan budaya, lingkungan organisasi dan pengalaman pribadi yang merupakan factor internal individu.orienasi etika yang dimiliki oleh setiap individu menjadi suatu acuan serta dorongan bagi auditor untuk berprilaku etis dalam lingkungan mereka.Anjelin (2009).   Sensitivitas etika merupakan kemampuan yang terdapat dalam diri individu untuk dapat pekah terhadap nilai-nilai etika dan pengambilan keputusan Anggrianti dan Muslichah (2019) mengatakan bahwa sensitivitas etiaka merupakan kepekaan seorang terhaap nilai-nilai etika dan pengambilan sutu keputusan yang berdampak pada prilaku etis. Sensitivitas etika harus dimiliki oleh auditor sebelum melakukan pengambilan keputusan etis. Hal ini akan menemukan kualitas dari keputusan yang diambil oleh auditor. Penelitian dalam skripsi ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Budaya Etis Organisasi dan Orientasi Etika Terhadap Sensitivitas Etika Auditor Pada Inspektorat Kabupaten Belu. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode kuesioner dengan teknik mentabulasi hasil penyebaran kuesioner dan menganalisis menggunakan analisis Regresi Linear Berganda. Untuk variable budaya etis organisasi terlihat bahwa thitung > ttabel yaitu -.041 < 864 , denga nilai signifikan sebesar 0,780 > 0,005. dan untuk Untuk variable orientasi etika terlihat bahwa thitung < ttabel yaitu 3.662 > 864 dengan nilai signifikan sebesar 0,001<0,005. Hasil penelitian menunjukkan bahawa Budaya Etis Organisasi tidak berpengaruh terhadap sensitivitas etika auditor dan Orientasi Etika berpengaruh Terhadap Sensitivitas Etika Auditor Pada Inspektorat Kabupaten Belu.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KOMITMEN ORGANISASI, BUDAYA ORGANISASI DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN ORGANISASI PEMERINTAH DAERAH (Pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PENGARUH KOMITMEN ORGANISASI, BUDAYA ORGANISASI, DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN ORGANISASI PEMERINTAH DAERAH PADA ORGANISASI PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Pengaruh komitmen organisasi, budaya organisasi dan kepuasan kerja terhadap laporan keuangan organisasi pemerintah daerah pada Badan Pengelolah Keuangan dan Aset Daerah kabupaten Timor Tengah Selatan”. Adapun beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam sebuah organisasi yaitu komitmen organisasi, budaya organisasi dan kepuasan kerja, organisasi dapat berjalan lancar dan baik apabila dibantu dan didukung oleh komitmen organisasi, budaya organisasi dan kepuasan kerja yang baik agar dapat mencapai mencapai kinerja pegawai yang efisien. Komitmen organisasi adalah derajat dimana karyawan terlibat dalam organisasinya dan berkeinginan untuk tetap menjadi anggotanya, dimana didalamnya mengandung sikap kesetiaan dan kesediaan karyawan untuk bekerja secara maksimal bagi organisasi tempat karyawan tersebut bekerja. budaya organisasi adalah seperangkat asumsi atau sistem keyakinan, nilai-nilai, dan norma yang dikembangkan dalam organisasi yang dijadikan pedoman tingkah laku bagi anggota-anggotanya untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal dan internal. kepuasan kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan situasi, kerja sama antar karyawan, imbalan yang diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan psikologis. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai yang bekerja di Badan Pengelola Keungan dan Aset Daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang pegawai yang menjalankan sistem akuntansi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan meyebarkan kuesioner kepada responden kemudian data dianalisis menggunakan teknik analisis linear berganda menggunakan SPSS. Dari hasil penelitian, dalam analisis lanjutan yang menggunakan analisis deskriptif variabel diketahui bahwa komitmen organisasi berada pada nilai rata-rata terendah dengan deviasi tinggi sedangkan budaya organisasi berada pada nilai rata-rata tertinggi dengan deviasi rendah dan kepuasan kerja berada pada nilai rata-rata rendah dengan deviasi rendah. Dalam analisis lanjutan yang menggunakann teknik analisis regresi linear berganda diketahui hasil pengumpulan data tersebut menggunakan persamaan linear berganda dengan uji hipotesis pertama diketahui bahwa untuk komtmen organisasi (X1)ditemukan T hitung sebesar 0.105 lebih kecil dari T tabel 1,703 maka komitmen organisasi (X1) secara parsial tidak berpengaruh terhadap laporan keuangan (Y). sedangkan untuk budaya organisasi (X2) di temukan T hitung sebesar 0.000 lebih kecil dari T tabel 1.703 maka variabel budaya organisasi (X2) secara parsial tidak berpengaruh terhadap laporan keuangan (Y). dan untuk kepuasan kerja (X3) ditemukan T hitung 3,344 lebih besar dari T tabel 1,703 maka variabel kepuasan kerja (X3) berpengaruh terhadap laporan keuangan (Y). Kata kunci: komitmen organisasi, budaya organisasi, kepuasan kerja, laporan keuangan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN (Studi Kasus Pada PT. Timor Sejahtera Aguafit Baumata)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN (Studi Empiris Pada Baumata) Masalah Yang Di Ambil Penelitian Ini Adalah Pengaruh Budaya Organisasi Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan salah satu masalah utama yang yang dihadapi oleh perusahaan saat ini adalah penanganan terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia.Aset terbesar dalam suatu organisasi adalah sember daya manusianya yang menentukan keberhasilan organisasi. Jumlah sumber daya manusia yang besar apabila dapat diterapkan secara efektif dan efisien akan bermanfaat untuk menghasilkan kinerja yang optimal. Manusia adalah faktor pendorongan utama dari semua organisasi aktivitas, karena peran itu maka tenaga kerja harus mendapatkan perhatian lebih serius jika organisasi menggerakan perusahaan guna untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Manusia memiliki kedudukan yang sangat penting didalam suatu perusahaan, karena manusia merupakan pelaku perencanaan, penggerak,serta penentu terwujut suatu tujuan perusahaan. Menurut Fatmi, (2011:49) budaya organisasi adalah suatu kebiasaan yang telah berlangsung lama dan dipakai serta diterapkan dalam kehidupan aktivitas kerja sebagai salah satu pendorong untuk meningkatkan kualitas kerja para karyawan dan manajer perusahaan. Menurut Sinambela,(2012:238). Disiplin adalah kesedian seseorang yang timbul dengan kesadaran diri untuk mengikuti peraturan –peraturan yang berlaku dalam organisasi Menurut Mangkunegara (2002:66) Keberhasilan untuk mencapai tujuan organisasi dipengaruhi oleh kinerja sumber daya manusia atau karyawan, maka dari itu setiap perusahaan akan berusaha semaksimal mungkin agar kinerja sumber daya manusianya dapat meningkat dengan baik dan mampu mencapai tujuan. serta kepatuhan terhadap perintah dan berinsiatif untuk melakukan suatu tindakan yang diperlukan. Berdasarkan penjelasan diatas tersebut maka dalam penelitian ini peneliti akan membahas hubungan Budaya Organisasi , Dan Disiplin Kerja yang Signifikan terhadap kinerja Karyawan pada PT Timor Sejahtera Aguafit Baumata. Dalam penelitian ini metode yang peneliti gunakan adalah metote kuantitatif, dengan teknik pengambilan sampel peneliti menggunakan teknik random atau sampel acak yang didasarkan pada kriteria pekerjaan dan tingkat jabatan. Sehingga diperoleh sampel sebanyak 48 orang dari jumlah populasi sebanyak 48orang karyawan yang bekerja di Bagian PT Timor Sejahtera agufit Baumata . Teknik analisis data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengaruh budaya organisasi dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan PT Timor Sejahtera aguafit Baumatai, peneliti menggunakan Uji Analisis Regresi Linear Berganda, Uji Parsial (Uji T), Uji Simultan (Uji F) dan Uji koefisien Determinasi (R2). Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Secara parsial penempatan Budaya Organisasi signifikan terhadap kinerja Karyawan pada PT Timor Sejahtera Aguafit Baumata secara parsial Disiplin Kerja signinifikan terhadap kinerja karyawan pada Bagian PT Timor Sejahtera Aguafit Baumata. Hal ini dibuktikan dengan perolehan hasil pengujian didapati hasil analisis regresi linier berganda dengan nilai konstan a sebesar 17,794 sedangkan koefesien regresi bˡ = 0.291, b² adalah 0.230.Dengan demikian persamaan regresi linear berganda yang memperlihatkan Signifikan Budaya Organisasi (X1) Disiplin Kerja (X2) dan terhadap kinerja Karyawan (Y) adalah sebagai berikut : Y= 17,794+ 0,291 X1 + 0,230 X2 + e. Selain itu hasil Uji hipotesis pertama yaitu ada Signifikan (X1) terhadap kinerja Karyawan (Y). Diketahui bahwa untuk variabel Budaya Organisasi(X1) ditemukan t hitung = 2,494 lebih kecil t table = 2,81 dan t 0,05> 0,032 tingkat Sig. = 0,016 Oleh karena nilai sig. < 0,05 Ho diterima maka Ha ditolak yaitu variabel Budaya Organisasi (X1) Signifikan secara parsial terhadap kinerja karyawan. (Y). berikutnya hasil Uji hipotesis kedua yaitu ada Signifikan (X2) terhadap kinerja Karyawan(Y). Diketahui bahwa untuk variabel Displin Kerja(X2) ditemukan t hitung = 2,214 lebih Kecil t table = 2,81 dan tingkat Sig. = 0,05 Oleh karena nilai sig. < 0,032 maka Ho diterima dan Ha ditolak yaitu variabel Disiplin Kerja (X2) Signifikan secara parsial terhadap kinerja Karyawan(Y). Untuk hasil pengujian Uji F didapati F hitung = 7,713 lebih Besar dengan tingkat Sig. = 0,001 Oleh karena nilai sig. < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima yaitu variabel Disiplin Kerja (X2) berpengaruh Signifikan secara simultan terhadap kinerja Karyawan (Y). Dan terakhir berdasarkan perolehan hasil uji koefisien determinasi (R2) diatas dapat diketahui besarnya koefisien determinasi R2 adalah 0.505 atau 50,5%. Hal ini berarti besarnya pengaruh Budaya Organisasi Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan adalah 50,5%. Sedangkan pengaruh sebesar 49,5% disebabkan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kata Kunci : Budaya Organisas, Disiplin Kerja, Kinerja Karyawan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA KANTOR DINAS KESEHATAN KABUPATEN LEMBATA

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk; 1) Mengetahui pengaruh manajemen sumber daya manusia terhadap Kinerja pegawai di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata. 2) Mengetahui pengaruh budaya organisasi terhadap Kinerja pegawai di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata dan 3) Untuk mengetahui pengaruh manajemen sumber daya manusia dan budaya organisasi secara bersama-sama (simultan) terhadap Kinerja pegawai di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode pre-eksperimental design dan dihitung menggunakan SPSS 22.00 for windows. Data yang diperoleh melalui kuesioner kemudian dianalisis menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan analisis deskriptif menggunakan alat distribusi frekuensi dan analisis regresi linear berganda yang hasilnya diolah menggunakan program SPSS. Hasil penelitian ini melalui perhitungan analisis regresi linear berganda, diperoleh hasil bahwa; 1) Sumber daya manusia mempunyai dampak yang signifikan terhadap kinerja organisasi. Hal ini dibuktikan dengan taraf signifikan pada hasil pengujian yang menunjukan bahwa nilai signifikansi dari variabel sumber daya manusia (X1) adalah 0,00<0,05 dan nilai t-hitung 7,202>2,368 sehingga menunjukan bahwa sumber daya manusia (X1) berpengaruh terhadap kinerja pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata. 2) Budaya organisasi (X2) mempunyai dampak yang signifikan terhadap kinerja. Hal ini dibuktikan dengan taraf signifikan pada hasil pengujian yang menunjukan bahwa nilai signifikansi dari variabel budaya organisasi (X2) adalah 0,01<0,05 atau 2,485>2,368 sehingga menunjukan bahwa budaya organisasi (X2) berpengaruh terhadap kinerja pada Dinas KesehatanKabupaten Lembata. 3) Manajemen sumber daya manusia dan budaya organisasi secara simultan mempunyai dampak yang signifikan terhadap kinerja pegawai. Hal ini dibuktikan dengan taraf signifikan pada hasil pengujian yang menunjukan bahwa nila f-hitung 0,00<0,005 atau f-hitung 38,469>3,10 sehingga diketahui bahwa manajemen sumber daya manusia dan budaya organisasi mempunyai dampak yang signifikan terhadap kinerja pegawai di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, adapun saran yaitu kepada pemerintah Kabupaten Lembata terkhusunya Dinas Kesehatan untuk terus meningkatkan kinerja pegawai dengan memperhatikan sumber daya manusia dan budaya organisasi agar seluruh pegawai dapat bekerja semaksimal mungkin untuk melayani maysarakat

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PRESPEKTIF SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI BUDAYA CACI PADA MASYARAKAT MANGGARAI

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar belakang Tarian caci adalah Tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan prisai di flores, Nusa Tenggara Timur. Tarian Caci ini biasanya dimainkan oleh Masyarakat Manggarai dengan kisaran umur 25-50 Tahun. Tarian Caci selalu dimainkan oleh kelompok tuan rumah dan kelompok pendatang dari desa lain yang berarti tamu penantang. Penari Caci tidak hanya menari namun juga melecut kacambuk kelawan sembari berpantun dan bernyanyi. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui Prespektif Sosiologi Dan Antropologi Budaya Caci Pada Masyarakat Manggarai Metode penelitian: Pendekatan Masalah yang digunakan dalam Penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dan pembahasan: Berdasarkan dari hasil penelitian dan temuan di lapangan melalui hasil observasi dan wawancara maka, survei tentang Prespektif Sosiologi Dan Antropologi Budaya Caci Pada Manggarai. Tarian Caci hanya ada dalam kebudayaan Masyarakat Manggarai dan menjiwai semua aspek kehidupan Masyarakat Manggarai. Tarian Caci selalu di pentaskan pasca panen, Tarian Caci juga mengandung makna simbolis, melambangkan kejantanan, kepahlawanan, keramaian, kemegahan dan semangat sportivitas yang tinggi. Tarian Caci juga berfungsi bagi kelangsungan hidup Masyarakat Manggarai Desa Pongkor Sebagai komoditas pariwisata, sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan dan paraleluhur serta media pendidikan. Simpulan: Tarian caci juga berfungsi sebagai sarana komunikasi kepada Tuhan dan para leluhur dalam bentuk tarian. Melalui tarian caci, masyarakat Manggarai mengekspresikan ungkapan rasa syukur dan terimakasihnya. Tarian caci juga berfungsi mempererat kehidupan sosial masyarakat Manggarai, sehingga rasa persaudaraan dan persatuan semakin tinggi. Dalam hal ini juga caci bisa digunakan sebagai media pendidikan, terutama dalam ilmu seni budaya

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TARIAN DO DAKA DO DI SANGGAR SENI LESTARI BUDAYA, DESA LENDOLA, KECAMATAN TELUK MUTIARA, KABUPATEN ALOR

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tarian tradisional merupakan suatu tarian yang lahir, tumbuh dan berkembangan dalam suatu kelompok atau lingkungan masyarkat dari suatu daerah, yang kemudian diwariskan secara turun temurun dari nenek moyong.Tarian Do Daka Do merupakan salah satu tarian yang berasal dari Daerah Alor Nusa Tenggara Timur itu sendiri, dimana tarian itu senidiri merupakan tarian yang berasal dari permainan rakyat Alor, yang menggambarkan kecerian muda- mudi masyarakat Alor pada acara-acara pesta ada. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui tentang Tarian Do Daka Do sebagai Nilai Olahraga Di Kabupaten Alor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa tarian do daka merupakan tarian tradisional asli orang Alor yang sudah diwariskan dari sejak dulu kalah dan masih dilestarikan sampai saat ini. Tarian Da Daka Do diilakukan dengan berbagai macam-macam tahap dan proses pelaksanaan harus mengikutinya. Tarian Do Daka Do juga sebagai nilai olahraga budaya dimana ada dalam pelaksanaan itu biasa dilakukan dengan gerakan melompat-lompat melewati jepitan bambu. Dalam tarian ini juga membutuhkan kerja sama, percaya diri, konsentrasi dan kebugaran jasmani

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perempuan dan Perannya dalam Pelayanan Gereja

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Peran perempuan merupakan suatu prilaku yang dilakukan dan diharapkan berdasarkan dengan status sosial, dengan melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk memenuhi harapan bagi diri sendiri dan harapan bagi orang lain. Peran seorang perempuan dalam jemaat sebatas menjadi seorang diaken dan bekerja didapur. Tugas yang diberikan kepada mereka berdasarkan dengan pemahaman budaya dan sistem sosial yang berkembang dan telah mendarah daging dalam kehidupan jemaat, bahwa perempuan adalah orang yang lemah dan tugas mereka untuk melahirkan anak, mengurus anak dan berada didapur untuk bekerja. Bahkan seorang anak perempuan telah diberikan pemahaman sejak kecil, tentang bagaimana tugas mereka yang berada didapur untuk menyiapkan segala hal untuk semua orang, dan tidak diperbolehkan berada di depan. Hal ini mempengaruhi perempuan ketika diminta untuk terlibat dalam setiap kegiatan, mereka merasa tidak pantas dan tidak kepercayaan diri. Dari masalah yang dipaparkan, maka penulis melakukan penelitian mengenai perempuan dan perannya dalam pelayanan gereja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan jemaat tentang peran perempuan baik dalam gereja maupun masyarakat. Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian bahwa perempuan selalu ditempatkan pada urutan kedua berdasarkan dengan sistem budaya yang sudah ada sejak dahulu. Maka Fakilau ( Mariam Lakapada) menjadi sosok perempuan yang telah mendobrak sistem kebudayaan dengan melakukan pembaharuan dan membuktikan bahwa perempuan juga memiliki nilai yang sama dengan laki-laki yaitu semua setara, sebab Tuhan sendiri tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan dengan melihat pada sistem budayanya dan sistem sosial tetapi Tuhan datang untuk semua orang tanpa terkecuali.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna Gong dan Moko dalam Upacara Kematian

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gong dan moko merupakan alat musik yang dapat dipakai oleh masyarakat dalam suatu acara seperti penyambutan kepada tamu, peminangan perempuan dan juga sebagai simbol kepada orang yang telah meninggal. Masyarakat Mataru Barat memahami gong dan moko sebagai salah satu benda sakral yang harus dibawa ketika melihat orang yang telah meninggal. Masyarakat Mataru Barat memahami gong dan moko sebagai benda sakral yang wajib dibawa oleh anak laki-laki dan anak perempuan ketika memasuki tenda duka. Gong dan moko yang dibawa oleh anak laki-laki dan perempuan harus diberikan kepada saudara perempuan dan saudara laki-laki dari si mati (nengfala/mayolfala) Dari masalah yang telah dipaparkan, maka penulis melakukan penelitian mengenai gong dan moko. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan masyarakat tentang makna gong dan moko dalam upacara Kematian. Tempat penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman dengan teknik masyarakat Mataru tentang gong dan moko merupakan suatu penyakit yang dapat mengakibatkan sakit penyakit, kecelakaan dan kematian. Masyarakat Mataru Barat memahami bahwa ini merupakan suatu budaya yang harus dilakuka jika tidak dilakukan maka masyarakat akan mendapatkan tantangan. Oleh karena itu masyarakat perlu memahami bahwa gong dan moko bukan sebagai benda sakral yang dapat membawa bencana tetapi sebagai simbol yang dapat mempersatukan antara anak laki-laki dan perempuan kepada saudara-saudara dari orang yang telah meninggal dan juga memberi tanggung jawab untuk melihat keluarga yang ditinggalkan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TINJAUAN AKTIVITAS GERAK BUDAYA TARI PEDOA TERHADAP KESEGARAN JASMANI PADA PENARI PEDOA REMAJA

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Aktivitas gerak merupakan kemampuan yang dimiliki manusia dari sejak lahir ke dunia ini sampai akhir hayat. Aktivitas gerak sangat di tentukan oleh kemampuan gerak dasar yang dimiliki seseorang sesuai dengan aktivitas yang di tekuni dan dilakukan seseorang.Oleh karena itu, sesuai dengan karakteristik masing masing remaja yang gesit, contohnya mulai usia 13-15 tahun kebanyakan cenderung masih suka bergerak, maka solusi alternatif untuk menarik perhatian para remaja adalah mengadakan aktivitas gerak budaya tari contohnya seperti menari pedoa, dance/party. Berdasarkan uraian yang di paparkan, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul: “tinjauanaktivitas gerak budaya tari pedoa terhadap kesegaran jasmani pada penari pedoa remaja” Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui apakah dari aktifitas gerak budaya tarian pedoa mendapatkan kesegaran jasmani pada penari remaja. Metode Penelitian: Deskriptif kualitatif, dan teknik pengumpulan data yaitu menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian yang diperoleh yakni dari hasil pelaksanaan aktivitas gerak budaya tarian pedoayang dilakukan oleh para penari remaja dapatmerasakan kesegaran jasmani bagi tubuh penari sehingga penari sangat senang melakukan aktivitas gerak budaya tarian pedoa secara terus menerus, dan aktivitas gerak budaya tari pedoa juga sangat menarik perhatian penari untuk bergerak, dan setiap aktivitas gerak dalam tari pedoa baik gerak awal, gerak inti hingga gerak akhir selalu memberikan motivasi bagi penari untuk bergerak. Oleh karena itu, menurut penari aktivitas gerak budaya tari pedoa sangatlah penting untuk dilakukan. Simpulan: Dari hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan bahwakegiatan pelaksanaan aktivitas gerak budaya tari pedoa, terlihat sangat berpengaruh terhadap tingkat kesegaran penari pedoa remaja baik tingkat kesegaran jasmani (fisik) maupun rohani (jiwa).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Semiotika Budaya Tanda Visual pada Batu Megalitik di Kampung Uma Bara, Kabupaten Sumba Timur

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Judul penelitian ini adalah Semiotika Budaya Tanda Visual pada Batu Megalitik di Kampung Uma Bara, Kabupaten Sumba Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sesuai dengan teori Ferdinand de Saussure dan berbasis pada studi semiotika khususnya yang berkaitan dengan semiotika budaya. Sumber data diambil dari batu megalitik dan seorang wunangu (praktisi budaya) dengan melakukan observasi dan wawancara. Rumusanmasalah penelitian adalah: (A) Apa saja tanda-tanda visual yang ditemukan pada batu megalitik di kampung Uma Bara, dan (B) Apa saja makna konotatif yang terdapat dalam tanda-tanda visual pada batu megalitik di kampung Uma Bara. Dan temuan berdasarkan pertanyaan penelitian yang pertamaadalah: (1) ukiran dua orang yang sedang berdoa ‘Hamayangu’, (2) ukiranayam jantan ‘manu wulu’, (3) ukirankampung tradisional‘Paraingu’, (4) ukiran kura-kura & buaya‘kara-wuya’, (5) ukiran anting ‘mamuli’, (6) ukiran kakatua ‘kaka’, (7) ukiran tugu tengkorak‘andungu’, (8) patung tarian bergandengan tangan ‘pai palonda lima’, (9) ukiran pengawal‘papanggangu’, (10) ukiran rusa‘ruha’, (11) ukirantarian tradisional‘ningguharama’, (12) patungkerbau‘karambua’, (13) ukiranbulan & matahari ‘wulangu-lodu’, (14) ukiranudang ‘kurangu’, (15) patung kuda ‘njara’, (16) patung ayam & babi‘manu-wei’, dan berdasarkanpertanyaankeduaadalah: (1) rasa syukur, (2) penghormatan, (3) harapan kepada Tuhan, (4) kebesaran jiwa manusia, (5) pusat pemujaan, (6) kebesaran, (7) ningrat, (8) kekuasaan, (9) kepemimpinan yang bijaksana, (10) penghormatan terhadap wanita, (11) kesuburan, (12) pusaka, (13) mas kawin, (14) musyawarah-mufakat, (15) persatuan, (16) kemenangan dalam perang, (17) keberanian, (18) kepahlawanan, (19) penyesalan dosa, (20) permohonanmaaf, (21) kebangsawanan, (21) mediator, (23) liar, (24) orang yang ketakutan, (25) semangat, (26) kepahlawanan, (27) penyambutan, (28) mahar, (29) persembahan untuk Tuhan, (30) kebijaksanaan seorang perantara, (31) ningrat, (32) pemuda, (33) reinkarnasi, (34) ketidakjujuran, (35) cita-cita yang ingin dicapai, (36) orang kaya, (37) kepahlawanan, (38) keperkasaan, (39) mahar, (40) kendaraan Marapu (arwah) menuju Prai Marapu (surga), (41) negeri yang jaya, dan (42) persembahan. Setiap tanda visual memiliki beberapa makna konotatif. Contohnya: ukiran hamayangu sebagai rasa syukur, ukiran manu wulu sebagai kebesaran jiwa manusia, dan ukiran paraingusebagai kebesaran. Penulis menyimpulkan bahwa makna konotatif dari tanda-tanda visual yang terdapat di desa Uma Bara memiliki hubungan yang erat dengan sosial budaya masyarakat Sumba khususnya di kampung Uma Bara.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

DIMENSI RELIGI DALAM BUDAYA NATONI MASYARAKAT ADATBOTI KECAMATAN KI’E KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN TAHUN 2020/2021

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Suku Meto yang tinggal di Boti adalah suku tradisional yang memegang teguh budaya dan diajarkan turun temurun dari generasi ke generasi. Natoni sebagai salah satu taradisi yang masih di pelihara masyarakat Boti sampai saat ini. di setiap upacara sakral. Masyarakat Boti menggunakan ritual natoni sebagai salah satu dimensi religi. Masalah dalam penelitian ini adalah dimensi religi apa yang terkandung pada proses pelaksanaan natoni. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dimensi religi dalam proses pelaksanaan natoni masyarakat adat Boti. Tempat penelitian di dusun A, Desa Boti. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu metode penelitian yang telah digunakan untuk mengumpulkan informasi. Informan dalam penelitian ini adalah para tokoh adat yang mengetahui tentang ritual natoni. Teknik analisis data deskriptif yang meliputi teknik penyajian data dengan mengklasifikasikan pengumpulan data dari observasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dimensi religius yang terkandung dalam natoni Fua Pah pada masyarakat Boti adalah Uis Neno, Masyarakat suku Boti memuja Uis Neno yang berarti Tuhan Langit. Uis Pah, Selain Tuhan Langit atau Tuhan Matahari masyarakat Boti juga mengakui adanya Tuhan Bumi atau Penguasa Alam Semesta. Uis Nitu, Uis nitu ini, diyakini oleh masyarakat Boti sebagai mereka yang hidup di bawah bumi. Adapun Proses pelaksanaan ritual Fua Pah dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap akhir. Kata Kunci : Boti, Natoni, Fua Pah, Dimensi Religius. Budaya. Keterangan : Penulis (*) Pembimbing (**)

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS PENGARUH MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KUALITAS PELAYANAN PADA DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN ROTE NDAO

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini berjudul Analisis Pengaruh Manajemen Sumber Daya Manusia dan Budaya Organisasi Terhadap Kualitas Pelayanan Pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Rote Ndao. Persoalan dalam penelitian ini adalah 1) Apakah Manajemen Sumber Daya Manusia Berpengaruh Terhadap Kualitas Pelayanan, 2) Apakah Budaya Organisasi Berpengaruh Terhadap Kualitas Pelayanan. Tujuan yang ingin dicapai adalah : 1) Untuk Mengetahui Bagaimana Manajemen Sumber Daya Manusia Berpengaruh Terhadap Kualitas Pelayanan; 2) Untuk Mengetahui Budaya Organisasi Berpengaruh Terhadap Kualitas Pelayanan; Manfaat Akademik dari penelitian ini adalah Secara Akademik diharapkan penelitian ini sebagai masukan bagi Fakultas Ekonomi khususnya Jalur Minat Manajemen Sumber Daya Manusia. Kampus Universitas Kristen Artha Wacana Kupang (UKAW), dan sekaligus sebagai bahan refenrensi bagi peniliti berikutnya, sedangkan manfaat secara praktis penelitian ini dapat menjadi informasi, masukan bagi Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, dalam hal ini Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Rote Ndao, dalam pelaksanaan tugas berkaitan dengan pelayanan. Konsep dari penelitian ini meliputi 1) Konsep Manajemen Sumber Daya Manusia, indikatornya adalah 1) Kualitas intelektual meliputi pengetahuan dan keterampilan, 2) Pendidikan, 3) Memahami bidangnya, 4) Kemampuan, 5) Semangat kerja, 6) Kemampuan perencanaan pengorganisasian. Konsep Budaya Organisasi, indikatornya adalah Norma, Nilai dominan/nilai-nilai utama, aturan dan iklim organisasi atau lingkungan kerja. Konsep Kualitas Pelayanan, indikatornya adalah 1) Keandalan, 2) Daya tanggap, 3) Jaminan, 4) Empati dan 5) Bukti Fisik. Kerangka Berpikir penelitian ini menggambarkan pengaruh dari masing-masing fariabel bebas terhadap fariabel terikat. Hopotesis dalam penelitian ini adalah 1) Diduga Manajemen Sumber Daya Manusia berpengaruh terhadap kualitas pelayanan 2) Diduga Budaya Organisasi berpengaruh terhadap kualitas pelayanan. Untuk menjawab persoalan dengan mengacu pada hipotesisi, maka berdasarkan perhitungan menggunakan SPSS, diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut : Y = 6,166 + -0,498 X1 + -0,340 X2. Persamaan regresi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut a) Nilai konstanta sebesar 6,166 menunjukkan bahwa jika variabel Penagruh Sumber Daya Manusia dan Budaya Organisasi sama dengan nol maka Kualitas Pelayanan bernilai 6,166. b) Koefisien regresi pengaruh manajemen sumber daya manusia sebesar 0,498artinya jika manajemen sumber daya manusia mengalami kenaikan sebesar 1 %, maka kualitas pelayanan akan meningkat sebesar 0,498.Dengan demikian apabila koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara sumber daya manusia dengan kualitas pelayanan. c) Koefisien regresi budaya organisasi sebesar 0,340 menunjukkan bahwa apabila budaya organisasi mengalami peningkatan 1%, maka kualitas pelayanan sebesar 0,340. Perhitungan dengan menggunakan SPSS diperoleh 1) Uji hipotesis pertama yaitu ada pengaruh sumber daya manusia (X1) terhadap kualitas pelayanan (Y). Diketahui bahwa untuk variabel pengaruh sumber daya manusia (X1) ditemukan Thitung = 5,167 lebih besar t table =2,028 dan tingkat Sig. = 0,000. Oleh karena nilai sig. 0,000 maka Ho (b1= 0) ditolak dan Ha (b1≠0) diterima yaitu variabel pengaruh sumber daya manusia (X1) berpengaruh positif secara parsial terhadap kualitas pelayanan (Y). 2) Uji hipotesis kedua yaitu ada pengaruh budaya organisasi (X2) terhadap kualitas pelayanan (Y). Diketahui bahwa untuk variabel budaya organisasi (X2) ditemukan Thitung = 2,169 lebih besar Ttable = 2,028 dan tingkat Sig. =0,037. Oleh karena nilai sig. 0,05 maka Ho (b2=0) ditolak dan Ha(b2≠0) diterima yaitu variabel budayaorganisasi (X2) berpengaruh positif secaraparsial terhadap kualitas pelayanan(Y). Hal ini berarti besarnya pengaruh sumber daya manusia dan budaya organisasi terhadap kualitas pelayanan adalah 82% sedangkan 18% dipengaruhi oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwaPelaksanaan pelayanan kepada masyarakat atau publik telah menjadi isu strategis, karena tingkat kinerja kualitas pelayanan akan menetukan baik buruknya suatu pelayanan kepada masyarakat dan pada gilirannya menentukan citra dari aparatur sipil negara. Pelayanan publik pada dasarnya menyangkut aspek kehidupan yang sangat luas. Pada dasarnya harapan masyarakat Kabupaten Rote Ndao adalah perkiraan atau keyakinan masyarakat tentang pelayanan yang diterimanya akan memenuhi harapan. Kepuasan masyarakat dapat diketahui dengan melihat kualitas pelayanan dari masing-masing indikator yang telah ditentukan, dimulai dengan menganalisis setiap item atau sub indikator yang ada dalam setiap indikator. Dengan kesimpulan tersebut saran dari penelitian ini adalah 1) Memberikan kesempatan kepada pegawai untuk meningkatkan kemampuan kerja melalui pendidikan dan pelatihan. 2) Diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pegawai agar dapat mengutarakan pendapat demi kenyamanan, dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing 3) Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Rote Ndao, harus mampu membekali setiap pegawai dengan pengetahuan dan kemampuan yang profesional dalam melayani masyarakat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA DAN BUDAYA AKADEMIK TERHADAP KOMITMEN PROFESI (Studi Kasus Pada Dosen Universitas Kristen Artha Wacana Kupang)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PENGARUH PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA DAN BUDAYA AKADEMIK TERHADAP PENINGKATAN KOMITMEN PROFESI (Study Kasus Pada Dosen Universitas Kristen Artha Wacana Kupang) Sumber daya manusia merupakan kunci keberhasilan dalam suatu organisasi, karenanya haruslah mendapat perhatian utama dalam persiapan menghadapi kemajuan perkembangan pendidikan yang semakin pesat. Sumber daya manusia merupakan pondasi penting untuk beroperasinya sebuah perguruan tinggi. Manusia sebagai tenaga kerja di sebuah perguruan tinggi memegang peranan penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Manusia merupakan salah satu faktor yang memiliki peranan yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pekerjaan. Dalam hal ini, manusia yang berperan penting dalam perguruan tinggi salah satunya adalah dosen. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dosen dalam tugasnya harus memiliki standar kompetensi peningkatan mutu dan kualitas dosen dalam penerapan Tri dharma perguruan tinggi. Kebutuhan Inovasi merupakan strategi yang penting bagi sebuah institusi perguruan tinggi agar sistem yang ada di dalamnya dapat berjalan secara efektif. Kebijakan ini mendukung kebutuhan inovasi yang berorientasi kepada peningkatan mutu proses penyelenggaraan pendidikan tinggi. Upaya membangun komitmen digambarkan sebagai usaha membangun hubungan jangka panjang dan tetap bertahan yang diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku, seperti keinginan untuk mengenal dan terlibat dalam institusi, juga seberapa jauh dosen secara psikologis memiliki perasaan kesetiaan, afeksi, kehangatan, kepemilikan, kebanggaan, kesenangan, dan kebahagiaan karena telah bekerja di fakultas ekonomi, Ukaw. Komitmen akan semakin tinggi jika institusi memberikan kenyamanan, kemudahan untuk melakukan perkuliahan, penelitian, serta pengabdian pada masyarakat yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Diharapkan adanya komitmen profesi ini akan menjadikan dosen fakultas ekonomi, Ukaw melakukan segala cara agar Visi fakultas ekonomi tercapai yang dapat diukur dari kemauan, kesetiaan, dan kebanggaan sebagai dosen yang profesional. Kepercayaan organisasi mempunyai lima demensi yaitu kompetensi, keterbukaan dan kejujuran, kepedulian, reliabilitas, dan identifikasi. Dosen yang memiliki kepercayaan terhadap organisasi tinggi akan menerima nilai‐nilai dan tujuan organisasi, bersedia untuk berusaha dengan sungguh‐sungguh atas nama organisasi, dan memiliki keinginan yang kuat untuk mempertahankan keanggotaan di dalam organisasi. Komitmen profesi seorang dosen sangat dibutuhkan dalam pengembangan keterampilan atau keahlian agar dapat meningkatkan kinerja untuk mengembangkan potensi dirinya dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa komitmen profesi merupakan hal yang sangat penting dalam kaitannya terhadap pencapaian visi fakultas ekonomi, Ukaw Akan tetapi, pencapaian komitmen profesi saat ini keadaannya masih belum seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, masalah tersebut menarik untuk diteliti, yaitu dengan cara mengidentifikasi dan menganalisis faktor‐faktor atau variabel‐variabel lain yang berpengaruh terhadap komitmen profesi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan Kuesioner dengan angket tertutup. Menurut Umar (2011:49) teknik angket merupakan suatu pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan atau pernyataan kepada responden dengan harapan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut. Menurut Riduwan (2007:27) angket tertutup adalah angket yang disajikan sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristiknya dengan cara memberikan tanda silang atau tanda checklist. Kuat-Lemah, baik-buruk, tidak setuju-setuju. Data yang dihasilkan dari pengukuran tersebut bersifat interval. Pernyataan-pernyataan dalam angket tertutup dibuat dengan menggunakan skala 1-10 untuk mendapatkan data yang bersifat interval dan diberi skor atau nilai sebagai berikut : untuk kategori pertanyaan dengan jawaban sngat tidak setuju atau sangat setuju : sangat tidak setuju 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 sangat setuju. Berdasarkan penyajian data dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti dalam pembahasan ini akan membahas hasil penelitian sesuai dengan permasalahan yang penulis ajukan. Pembahasan ini merupakan jawaban atas permasalahan, sehingga dapat diketahui gambaran tentang ada tidaknya pengaruh antara variabel bebas yaitu pemberdayaan sumberdaya manusia teterhadap variabel terikat yaitu peningkatan komitmen profesi Pengaruh pemberdayaan sumber daya manusia terhadap komitmen profesi Dalam penelitian ini, penulis telah melakukan analisis regresi linier berganda dan didapati Koefisien regresi (b1) sebesar 0,460 artinya jika pemberdayaan sumber daya manusia (X1) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka komitmen profesi (Y) akan meningkat sebesar 0,460. Koefisien bernilai positif artinya terjadi pengaruh positif antara pemberdayaan sumber daya manusia (X1) dengan komitmen profesi (Y). Dengan demikian, apabila pemberdayaan sumber daya manusia, baik, maupun melakukan evaluasi, termasuk dalam melaksanakan tugas sesuai standar operasional prosedur maka dapat menciptakan efektivitas organisasi, dalam hal ini komitmen profesi akan mengalami peningkatan. Hal ini menunjukan bahwa uji yang diperoleh sesuai atau sejalan dengan teori yang disampaikan, dimana teori menyatakan bahwa pemberdayaan sumber daya adalah suatu proses kegiatan usaha untuk lebih memberdayakan “daya manusia” melalui perubahan dan pengembangan manusia itu sendiri, berupa kemampuan, kepercayaan, wewenang, dan tanggung jawab dalam rangka pelaksanaan kegiatan-kegiatan organisasi untuk meningkatkan kinerja sebagaimana diharapkan (2017:311). Selain itu Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memotivasikan, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya. Kedua, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki (empowering). Indikator - indikator yang mempengaruhi pemberdayaan sumber dayamanusia yaitu yang pertama kepercayaan Yang kedua adalah tanggung jawab Yang ketiga wewenang Dan yang keempat adalah kemampuan Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat dijelaskan hubungannya dengan komitmen profesi apabila seorang pemberdayaan dapat dijaankan dengan baik maka dengan demikian dapat mempengaruhi komitmen profesi dalam artian bahwa komitmen profesi juga akan meningkat. Selain itu, berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama yaitu adanya pengaruh pemberdayaan sumber daya manusia (X1) terhadap komitmen profesi (Y). Hal ini dibuktikan bahwa variabel pemberdayaan sumberdaya manusai (X1) ditemukan t hitung 2,864 lebih besar t tabel 2,002 dan tingkat Sig. 0,006 lebih kecil dari 0,05. Pengaruh budaya akademik terhadap komitmen profesi Dalam penelitian ini, penulis telah melakukan analisis regresi linear berganda dan didapati Koefisien regresi (b2) sebesar 0,359 artinya jika budaya akademik (X2) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka komitmen profesi (Y) akan meningkat sebesar 0,359. Koefisien bernilai positif artinya terjadi pengaruh antara budaya akademik (X2) dengan komitmen profesi (Y). Dengan demikian, apabila budaya akademik dalam hal ini selalu melakukan forum diskusi grup, dosen saling menghormati, dosen saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas, Suasana kekeluargaan yang ada maka hal tersebut dapat meningkatkan komitmen profesi. Hal ini menunjukan bahwa uji yang diperoleh sesuai atau sejalan dengan teori yang disampaikan, dimana teori menyatakan bahwa Budaya Akademik dapat dipahami sebagai suatu totalitas dari kehidupan dan kegiatan akademik yang dihayati, dimaknai dan diamalkan oleh warga masyarakat akademik, di lembaga pendidikan tinggi dan lembaga penelitian. Budaya akademik diukur melalui indikator sebagai berikut yaitu yang pertama budaya pembelajaran. Yang kedua budaya penulisan karya ilmiah. Yang ketiga budaya pengabdian kepada masyarakat. Dan yang keempat budaya diskusi ilmiah. Berdasarkan penjelasan tersebut bahwa menunjukan adanya pengaruh antara budaya akademik terhadap komitmen profesi, sehingga apabila budaya akademik dijalankan dengan baik maka semakin meningkatnya komitmen profesi dan begitu pula sebaliknya. Selain itu, berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan terdapat adanya pengaruh budaya akademik (X2) terhadap komitmen profesi (Y). hal ini dibuktikan dengan perolehan t hitung 2,260 lebih besar t tabel 2,002 dan tingkat Sig. 0,028 lebih kecil 0,05. Berdasarkan hasil analisis yang dipaparkan diatas dapat disimpulkan bahwa: Secara parsial pemberdayaan sumber daya manusia berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen profesi dosen di universitas kristen artha wacana kupang Secara parsial budaya akademik berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen profesi dosen di universitas kristen artha wacana kupang. Secara simultan pemberdayaan sumberdaya manusia dan budaya akademik berpengaruh secara bersama-sama terhadap komitmen profesi dosen di universitas kristen artha wacana kupang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI EU’NAKAF (Menggunting Rambut) Suatu Tinjauan Kontekstual Tentang Makna Tradisi Eu’nakaf (Menggunting Rambut) dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, Klasis Amanuban Timur Selatan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologis pelaksanaan dan makna tradisi Eu’nakaf (menggunting rambut) serta implikasinya bagi kehidupan iman Jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, Klasis Amanuban Timur Selatan. Tradisi Eu’nakaf merupakan salah satu tradisi adat masyarakat Atoni Meto yang masih terus dipraktikkan hingga saat ini, khususnya dalam penerimaan anak. Dalam praktiknya, tradisi ini tidak hanya dipahami sebagai ritual budaya, tetapi juga memiliki dimensi religius yang berkaitan dengan perlindungan, keselamatan, serta masa depan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, analitis, dan reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan majelis jemaat, tokoh adat, serta anggota jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, dan didukung dengan studi kepustakaan. Analisis teologis dalam penelitian ini menggunakan tipologi hubungan Kristus dan kebudayaan menurut Niebuhr, khususnya tipologi ketiga tentang “Kristus di atas kebudayaan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Eu’nakaf mengandung nilai teologis, sosial, dan kultural yang penting, terutama sebagai ungkapan syukur dan penyerahan hidup kepada Allah, penguatan persekutuan jemaat, serta pelestarian identitas budaya lokal. Namun demikian, ditemukan pula adanya unsur-unsur tertentu yang berpotensi bertentangan dengan iman Kristen, seperti keyakinan tentang “mauputu” dan praktik ritual yang dapat menggeser peran Kristus sebagai satu-satunya sumber keselamatan. Oleh karena itu, tradisi Eu’nakaf perlu dimurnikan dan dimaknai kembali dalam terang Injil agar dapat menjadi sarana kontekstualisasi iman yang sehat, di mana kebudayaan tetap dihargai tanpa kehilangan pusat iman kepada Yesus Kristus.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TEOLOGI IDENTITAS DI RUANG ASIMILASI : “Suatu Kajian Naratif terhadap Daniel 1:1-21 dan Relevansinya bagi Penguatan Identitas Pemuda GMIT Pniel Oebobo”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Identitas pemuda Kristen di tengah budaya urban saat ini menghadapi tantangan yang kompleks, terutama terkait arus asimilasi budaya digital dan tekanan gaya hidup populer. Fenomena "Babel Modern" ini sering kali memicu krisis identitas, di mana pemuda merasa minder atau malu menunjukkan jati diri imannya karena takut tidak diterima oleh lingkungannya. Bertolak dari realitas tersebut, penelitian ini memfokuskan diri pada analisis teologis terhadap teks Daniel 1:1-21 sebagai upaya menemukan strategi menjaga identitas iman di tengah tekanan budaya luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana narasi Daniel 1:1-21 merepresentasikan tindakan negosiasi budaya yang dilakukan Daniel dan temantemannya di Babel, serta menghadirkan implikasi teologis bagi penguatan identitas Pemuda di Jemaat GMIT Pniel Oebobo. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode tafsir biblis (analisis naratif), yang membaca teks secara utuh untuk menggali pesan kerygma di balik strategi pertahanan iman para pemuda buangan di Babel. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal utama. Pertama, negosiasi budaya Daniel menunjukkan bahwa asimilasi intelektual (pendidikan) tidak harus diikuti dengan asimilasi spiritual (iman), di mana Daniel tetap berprestasi di Babel tanpa mengompromikan prinsip dasarnya. Kedua, strategi "menarik batas" melalui diet rohani menunjukkan pentingnya kedisiplinan diri dan integritas sebagai bentuk kesetiaan yang kreatif kepada Allah. Ketiga, dukungan komunitas kecil (support system) menjadi faktor kunci yang memberikan keberanian bagi pemuda untuk bernegosiasi dengan kekuasaan besar. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa bagi pemuda Pniel Oebobo, menjadi relevan di tengah dunia modern tidak berarti harus kehilangan jati diri Kristen, melainkan tampil dengan kualitas hidup yang lebih unggul melalui hikmat Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI TUTUS Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Tradisi Tutus dan Maknanya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Oebitina

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini membahas tradisi Tutus sebagai salah satu praktik budaya yang masih dijalankan oleh jemaat GMIT Imanuel Oebitina di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi Tutus tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga diyakini memiliki makna religius yang berkaitan dengan harapan akan berkat, perlindungan, dan kesejahteraan hidup. Dalam praktiknya, tradisi ini kerap menimbulkan ketegangan teologis karena berpotensi melahirkan dualisme iman, yaitu pengakuan kepada Kristus sebagai sumber berkat, namun di saat yang sama masih bergantung pada praktik adat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat GMIT Imanuel Oebitina, menganalisis makna dan pelaksanaan tradisi Tutus dalam perspektif teologi kontekstual, serta merumuskan refleksi teologis, pastoral, dan implikasinya bagi pelayanan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi kontekstual model sintesis Stephen B. Bevans. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, dengan melibatkan anggota jemaat, majelis jemaat, serta tokoh adat. Data dianalisis secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tutus mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, solidaritas sosial, serta penguatan relasi kekeluargaan. Namun, di sisi lain, terdapat kecenderungan pemaknaan religius yang dapat mengaburkan pengakuan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber berkat. Melalui pendekatan sintesis, Injil dan budaya dipahami sebagai dua realitas yang dapat berdialog secara kritis dan konstruktif. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja mengembangkan pendampingan pastoral dan pendidikan iman yang kontekstual, sehingga jemaat mampu memaknai tradisi Tutus secara bijaksana, tetap menghargai budaya lokal, serta setia pada ajaran iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Tarian Li N'gae Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Makna Tarian Li N'gae dan Implikasinya bagi Persekutuan Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot, Klasis Semau

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna tarian Li N’gae sebagai ekspresi budaya masyarakat suku Helong di Pulau Semau serta merefleksikannya secara teologis dalam kerangka teologi kontekstual. Tarian Li N’gae merupakan tradisi agraris yang lahir dari pengalaman historis masyarakat Helong, khususnya dalam menghadapi keterbatasan hidup, kerja keras, dan ketergantungan pada hasil panen jagung sebagai sumber penghidupan utama. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis, penelitian ini memanfaatkan data hasil observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, pelayan gereja, dan jemaat, serta studi pustaka teologis. Kerangka analisis dalam penelitian ini menggunakan teori teologi lokal dari Robert J. Schreiter, yang menekankan dialog antara Injil, budaya, dan tradisi gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian Li N’gae tidak hanya berfungsi sebagai praktik pengawetan jagung atau hiburan masyarakat, melainkan sebagai teks budaya yang memuat nilai-nilai religius, sosial, dan teologis, seperti syukur atas kehidupan, solidaritas komunal, kerja kolektif, dan relasi harmonis dengan alam. Nilai-nilai tersebut telah membentuk identitas dan kebersamaan masyarakat Helong secara turun-temurun. Dalam konteks kehidupan berjemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot, tarian Li N’gae dipahami sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan sebagai simbol kebersamaan, meskipun kehadirannya masih ditempatkan di luar liturgi resmi gereja. Analisis menunjukkan bahwa terdapat potensi besar bagi Li N’gae untuk dikembangkan sebagai bagian dari teologi lokal yang memperkaya pemahaman persekutuan jemaat, tanpa harus mengubah struktur ibadah gerejawi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tarian Li N’gae dapat menjadi medium teologi lokal yang kontekstual dan transformatif, baik bagi gereja maupun budaya. Dengan pendekatan teologi kontekstual, gereja didorong untuk membaca dan memaknai tradisi budaya sebagai ruang karya Allah, sehingga iman Kristen dapat dihayati secara lebih kontekstual dan relevan dalam kehidupan Masyarakat Helong

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail