ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FE BELIS DAN DODE Novi Tamara Ndun Program Studi Teologi Agama Kristen, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia email. [email protected] Masyarakat suku Rote adalah suatu komunitas masyarakat yang hidup dalam suatu pola atau kebiasaan kemasyarakatan yang ada. Kehidupan mereka juga masih kuat dengan tradisi dan adat istiadat yang dianggap sebagai warisan nenek moyang. Salah satunya adalah tradisi perkawinan adat fe belis dan dode. Tradisi fe belis dan dode merupakan tahapan dari perkawinan adat suku Rote sebagai bagian untuk mendapatkan kembali keseimbangan yang bertujuan untuk melahirkan keharmonisan. Hasil penelitian penulis dilapangan Pertama: tradisi fe belis dan dode adalah adalah acara di mana kedua belah pihak keluarga dipertemukan dalam ikatan kasih yang saling menghargai yang di dalam pelaksanaannya, dengan ketulusan hati kedua belah pihak keluarga saling memberi sesuai dengan kesanggupan mereka untuk menunjukkan penghargaan dan tanda kasih sayang. Kedua: pada mulanya belis berupa hewan dan barang emas sedangkan bawaan/antaran perempuan berupa hewan, barang emas, padi/gabah, perlengkapan tidur, serta sirih, pinang dan tembakau. Namun oleh karena dampak modernisasi yang berdampak pada tingkat kebutuhan, belis telah disederhanakan menjadi ‘tanda terima kasih’ sehingga hanya berupa uang sedangkan bawaan/antaran disesuaikan dengan keinginan pihak keluarga perempuan. Ketiga: adapun ketika ditinjau menggunakan teori pertukaran, tradisi ini memenuhi kaidah pertukaran namun penulis mengkritik satu kaidah yang di mana fe belis dan dode tidak mendatangkan kesenangan bagi pihak laki-laki apalagi jika besaran belis itu besar. Tetapi walaupun begitu, tradisi ini dinilai baik oleh karena memberi nilai-nilai positif yang berguna bagi kehidupan bukan saja ketika dalam pelaksanaannya tetapi berlanjut kepada kehidupan rumah tangga ke depan. Ada nilai keseimbangan dan sikap kasih di dalam tradisi fe belis dan dode. Model antropologis dapat menolong dalam melihat nilai-nilai dalam Injil dan teks serta nilai-nilai dalam tradisi fe belis dan dode. Manusia diciptakan seturut dengan gambar Allah dan dalam kesadaran bahwa Allah lebih dulu mengasihi manusia, maka antara laki-laki dan perempuan adalah setara. Oleh karena itu, keseimbangan antara laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang penting. Dengan kasih yang berasal dari Allah, laki-laki dan perempuan disadarkan bahwa sikap kasih harus ada di dalam kehidupan sebagai keluarga Kristen. Untuk itulah, melalui tradisi fe belis dan dode gereja kembali melihat eksistensinya dalam memelihara persekutuan melalui penegakkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan serta terus menerapkan kasih sebagai suatu tindakan yang aktif dari jemaat. Sehingga keharmonisan baik dalam persekutuan berumah tangga maupun persekutuan bergereja tetap terjaga dengan baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas spiritualitas belas kasih Yesus dengan kajian historis kritis terhadap Yohanes 8:1-11 dan implikasinya bagi Jemaat GMIT Bet’el Oesapa Tengah. Kajian ini berangkat dari teks Alkitab, dengan pendekatan historis-kritis untuk menelaah sikap dan praktik komunitas Kristen awal terkait isu moral dan sosial. Fenomena yang diamati dalam teks Alkitab, seperti perlakuan terhadap perempuan dan sikap terhadap pelanggaran praktik seksual, menjadi fokus analisis untuk memahami bagaimana prinsip etis dan relasi sosial dibangun dalam konteks kehidupan berjemaat pada masa itu. Penelitian ini memfokuskan pada penafsiran Alkitab sebagai kontribusi teologis bagi kehidupan spiritualitas jemaat sebagaimana spiritualitas belas kasih itu dihidupi oleh Yesus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji konteks historis Yohanes 8:1-11, mengidentifikasi kerygma teologis yang terkandung di dalam teks tersebut, serta merumuskan implikasinya bagi kehidupan di GMIT Jemaat Bet’el Oesapa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Penafsiran teks dilakukan melalui tafsir historis teks terhadap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yohanes 8:1-11 berada dalam konteks di mana perempuan serta orang berdosa dijadikan sebagai orang-orang yang rentan, terpinggirkan, dikucilkan dalam konteks Yahudi pada masa itu. Bertolak dari keadaan yang demikian dalam kehidupan pelayanan-Nya Yesus menunjukan spiritualitas belas kasih sebagai representasi bahwa Allah mengasihi semua orang. Mereka yang tidak dikasihi, yang dipakai sebagai alat dan bukan sebagai pribadi, golongan orang yang tidak berharga dan tidak berarti bagi masyarakat lain dipandang dengan belas kasih yang radikal. Spiritualitas Yesus bukan spiritualitas yang menjauh demi menjaga kemurnian moral, melainkan spiritualitas inkarnasional yang mendekat, tinggal, dan menyertai mereka yang terpinggirkan. Implikasi teologis Yohanes 8:1-11 bagi GMIT Jemaat Bet’el Oesapa Tengah terletak pada panggilan untuk menghidupi Spiritualitas belas kasih yang Yesus hidupi selama Pelayanan-Nya. Jemaat dipanggil untuk untuk memelihara relasi yang intim dengan Allah, selain itu sebagaimana Yesus membongkar kekerasan religius dan budaya stigma, jemaat dipanggil untuk tidak menghidupi lagi budaya stigma yang telah mengakar itu dan spiritualitas belas kasih itu mentransformasi kehidupan baik yang tertuduh maupun para penuduh.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan kepada orang yang paling hina bukanlah tindakan bela kasihan semata, melainkan sebuah perjumpaan dengan Kristus sendiri. Matius 25:31046 menegaskan bahwa Yesus hadir dalam kehidupan mereka yang paling terhina dan sering dilupakan oleh dunia. Yesus menyamakan diri-Nya dengan “orang yang paling hina”, yaitu mereka yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit, dan di dalam penjara. Melayani mereka berarti melayani Kristus sendiri, dan hal ini menjadi dasar penilaian dalam penghakiman terakhir. Penulis tertarik untuk menulis karya ilmiah yang berjudul: "Melayani Yesus dalam Diri Orang yang Paling Hina: Suatu Kajian Tafsir Perumpamaan Terhadap Teks Injil Matius 25:31–46 dan Sumbangsihnya bagi Pelayanan Jemaat GMIT Syalom Kupang Klasis Kota Kupang." Tujuan utama dari tulisan ini adalah untuk menggali makna teologis dari perumpamaan penghakiman terakhir dalam Injil Matius 25:31–46, serta mengkaji relevansinya bagi praksis pelayanan jemaat, khususnya dalam konteks pelayanan sosial GMIT Syalom Kupang. Penafsiran teks dilakukan dengan menganalisis konteks historis, sosial, dan literer dari perikop tersebut, serta memperhatikan struktur naratif dan pesan teologis yang terkandung di dalamnya. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukan bahwa perumpamaan ini menjadi dasar seorang Kristen hidup dalam kehidupan sebagai seorang individu dan sebagai komunitas yaitu gereja. Identifikasi Yesus dengan diri “orang yang paling hina” memberi kontribusi bagi pelayanan GMIT Syalom Kupang bahwa bahwa pelayanan sosial bukan sekadar aktivitas karitatif, melainkan bentuk nyata dari spiritualitas Kristen yang berakar pada ajaran Yesus. Tulisan ini mendorong gereja untuk lebih peka dan aktif dalam melayani kelompok-kelompok marginal sebagai wujud ketaatan iman. Dengan demikian, pelayanan jemaat tidak hanya bersifat ritualistik, tetapi juga transformatif bagi masyarakat sekitar. Ini merupakan identitas gereja dan tanggung jawab sosial gereja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Menegur adalah sebuah ucapan mengajak, bercakap-cakap, memperingatkan atau menasihati seseorang. Teguran akan dilakukan apabila ada saudara yang berbuat dosa. Jemaat Warabu Harilolong selalu melakukan dosa/kesalahan yang menyimpang dari hukum Allah, seperti; suanggi, berzinah, mencuri, membunuh, berselingkuh dan dosa lainnya. Berdasarkan hal-hal ini, maka mereka diberi teguran namun karena teguran yang diberikan tidak tepat, maka berpengaruh pada ketidaksetiaan jemaat dalam beribadah bahkan relasi persaudaraan yang dibangun tidak harmonis. Oleh karena itu, tulisam ini bertujuan untuk melihat konteks yang melatarbelakangi teks Injil Matius 18:15-20 dan menemukan makna teologis serta implikasi bagi Jemaat Warabu Harilolong. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode historis kritis. Berdasarkan teks Matius 18:15-20, Yesus dengan penuh kasih memberi pengajaran bagi murid-murid dan semua bangsa, agar mereka dapat menegur saudara yang berdosa berdasarkan tahapan-tahapan yang termuat dalam teks, yakni menegur secara pribadi, mendatangkan saksi, depan jemaat dan memandang secara berbeda. Selain itu, mendoakan dan menggunakan otoritas yang Kristus berikan dengan baik, dalam mengambil keputusan. Implikasi bagi jemaat Warabu Harilolong ialah; gereja hadir menjadi sosok yang menegur saudara yang berdosa dengan penuh kasih, mendoakan saudara yang berdosa dalam kasih dan memakai otoritas yang diberikan Kristus dengan baik untuk bersepakat dalam mengambil keputusan terhadap saudara yang berbuat dosa, khususnya di Jemaat Warabu Harilolong, namun tidak boleh di luar dari kehendak Kristus. Agar mereka bisa kembali bersatu dan memberi diri untuk beribadah sembari meninggalkan setiap dosa mereka, sebab Allah adalah sosok yang Maha Kasih, Maha Pengampun dan Maha Hadir dalam segala dinamika kehidupan manusia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran Maurice Eminyan tentang teologi keluarga dan relevansinya bagi Jemaat GMIT Moria Liliba. Maurice Eminyan, seorang teolog dan profesor teologi dogmatis, berpendapat bahwa keluarga Kristen adalah refleksi dari Allah Tritunggal, yang harus berfungsi sebagai komunitas cinta kasih, komunitas hidup, dan komunitas keselamatan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif, menggunakan studi pustaka dan penelitian lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi di Jemaat GMIT Moria Liliba, yang mencakup 295 kepala keluarga dengan 1301 anggota jemaat. Sampel terdiri dari 10 anggota jemaat yang mengalami berbagai masalah keluarga seperti poligami, perceraian, perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Maurice Eminyan tentang teologi keluarga memiliki relevansi yang signifikan bagi Jemaat GMIT Moria Liliba. Konsep-konsep komunitas cinta kasih, komunitas hidup, dan komunitas keselamatan yang dikemukakan oleh Eminyan dapat menjadi dasar bagi upaya pembinaan dan penguatan keluarga Kristen di jemaat tersebut. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya peran gereja dalam mendukung keluarga-keluarga Kristen untuk mengatasi berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi.
Kata Kunci: Teologi Keluarga, Komunitas Cinta Kasih, Komunitas Hidup, Komunitas Keselamatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Membalas dendam terhadap satu dengan yang lain adalah hal yang lumrah bagi kehidupan
Jemaat Kristen masa kini. Dalam menjalani kehidupan ini, banyak permasalahan sering
terjadi antara satu dengan yang lain. Permasalahan-permasalahan tersebut sering
menyinggung perasaan, merendahkan harga diri, merasa dihina, dan bahkan mengundang
amarah. Menyikapi akan hal-hal ini, orang Kristen terkhususnya Jemaat GMIT lebih
cenderung berusaha untuk melakukan hal yang sama (membalas) atau bahkan lebih kepada
siapa yang menyakitinya. Keinginan untuk membalas perbuatan yang dilakukan oleh pihak
lain kepada pihak yang direndahkan harga dirinya akan semakin besar dan seakan-akan
keinginan itu harus segera dilakukan. Jika tidak dilakukan ada rasa ketidakpuasan dan tidak
ada rasa ketenangan dalam diri. Biasanya tindakan balas dendam ini tidak memandang kelas
sosial, ras atau agama, semua orang bisa melakukan balas dendam tergantung seberapa hal
buruk yang dialami atau dirasakan dari orang lain.
Melihat kehidupan Jemaat GMIT saat ini, berkaitan dengan sikap balas dendam yang
seringkali dilakukan, penulis ingin memberikan pemahaman teologi yang baik tentang sikap
yang harus dilakukan orang Kristen ketika menghadapi permasalahan tersebut. Bertolak dari
apa yang disampaikan oleh Yesus berkaitan dengan hukum pembalasan, jemaat GMIT masa
kini dituntut untuk mampu melakukan apa yang menjadi kehendak Yesus dan menghidupinya
dalam kehidupan setiap hari. Mereka tidak boleh hidup sebagai orang yang mendendam dan
saling membalas apapun yang dilakukan. Mereka harus ingat bahwa Yesus telah mengajarkan
kasih yang sesungguhnya yang harus diteladani. Kasih yang Yesus ajarkan merupakan jalan
yang tepat agar mereka dapat menghilangkan keinginan balas dendam atas perlakuan buruk
yang diterima.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan Untuk mengetahui cara menduga kebutuhan air tanaman bayam hijau menggunakan metode software CropWat 8.0. Metode yang digunakan dalam pengoperasin CropWat adalah data klimatologi bulanan (temperatur maksimus-minimum atau rata-rata, penyinaran mata hari, kelembaban, kecepatan angin, dan curah hujan). Pemberian air aktual diberikan pada sebagian percobaan tanaman bayam hijau sesuai analisis kebutuhan air CropWat 8.0. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap(RAL) dan dilanjutkan dengan uji duncan. Terdiri dari lima (5) perlakuan dan tiga (3) ulangan dengan model analisis perlakuan sebagai berikut :P1 ( Hasil estimasi Cropwat) P2 (Hasil estimasi Cropwat ditambah 50%)P3( Hasil estimasi Cropwat ditambah 25%)P4 (Hasil estimasi Cropwat dikurangi 25%)P5 (Hasil estimasi Cropwat dikurangi 50%). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penelitian untuk usaha tanaman bayam hijau di wilayah semi arid terberat terjadi pada P2 (18 gram) dan P1(17 gram ). Hasil ini cukup sesuai dengan kondisi di lapangan untuk merencanakan awal musim tanam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Kemajemukan merupakan salah kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia.Tetapi dalam kenyataannya, kemajemukan ini juga menjadi sebuah ancaman. Salah satu pemicu munculnya masalah ialah keberagaman agama dan ajarannya masing-masing. Hal ini terlihat dari pemahaman yang masih salah tentang keselamatan yang berasal dari satu agama di tengah-tengah kemajemukan. Masing-masing agama datang dengan keyakinan ajaran tentang keselamatan sehingga dari pemahaman inilah lahir sikap eksklusif yang menjadi jurang pemisah antara umat beragama.
Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang kristen masa kini yang membatasi keselamatan Allah yang universal. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membahas Teologi Injil Yohanes tentang Gereja yang Inklusif yang sesuai dengan konsep berteologi di dalam GMIT. Kajian Ilmiah ini bertujuan untuk membangun pemahaman dari orang kristen masa kini tentang Teologi Injil Yohanes yang bukan saja bersifat eksklusif namun juga bersifat Inklusif, yang dapat direfleksikan dan manfaatnya bagi Toleransi antar umat beragama di NTT dan merumuskan konsep keselamatan yang juga diterima oleh umat beragama lain.
Metode yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah adalah metode penelitian pustaka yaitu dengan memanfaatkan buku-buku sumber sebagai alat dalam memperoleh informasi. Sedangkan untuk metode penulisan memakai metode deskriptif-analitis-reflektif. Metode deskripsi digunakan untuk memberikan gambaran dan penjelasan tentang latar belakang Injil Yohanes. Metode analisis digunakan untuk menganalisis Teologi Injil Yohanes tentang Inklusivisme. Metode refleksi akan digunakan sebagai upaya berteologi dan implikasinya bagi pelayanan di GMIT.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, penulis menemukan bahwa Teologi Injil Yohanes pada dasarnya menunjukkan bagaimana sisi Yesus yang Eksklusif dan Inklusif terhadap semua ciptaan. Hal ini sesungguhnya sama dengan konsep GMIT dalam berteologi yaitu bahwa GMIT terbuka lebih fleksibel dan lebih terbuka dalam menerima keberadaan umat beragama lain tetapi tetap mempertahankan ciri khas dari setiap agama. Teologi Injil Yohanes tentang Inklusif ini tentu menjadi relevan dan bisa dijadikan bahan untuk memperbaiki pemahaman orang kristen masa kini, yang sedang menjalankan misi Allah dalam persekutuan hidup berdampingan dengan agama lain. Teologi Injil Yohanes tentang Inklusif menjadi konsep teologi yang menarik bagi pengembangan wacana dan wawasan orang kristen masa kini dalam menghadapi kemajemukan dalam era globalisasi ini.
Kata Kunci : Inklusif, Karya Kasih dan Keselamatan Allah Bagi Dunia, Aku Yesus Bagi Dunia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tafsiran merupakan suatu proses untuk memahami suatu maksud. Proses untuk memahami maksud dari isi Alkitab adalah salah satu unsur penting dalam kehidupan umat Kristen. Penafsiran tidak hanya dilakukan oleh umat Kristen, tetapi juga dilakukan oleh penafsir dari agama lain terhadap Alkitab Kristen. Perbedaan penafsiran sering menimbulkan masalah yang tidak dapat dihindari. Dalam hal ini, penafsiran terhadap teks Alkitab dilakukan oleh seorang mantan biarawati, yakni Irene Handono terhadap teks Roma 5:20. Bagi Handono, semakin banyak manusia melakukan dosa, maka semakin dikasihi oleh Allah, sehingga seolah-olah bahwa kasih karunia yang diberikan oleh Allah dipandang remeh. Persoalannya ialah apakah ayat tersebut memiliki maksud yang sama seperti tafsiran yang dilakukan oleh Handono atau bahkan memiliki makna lain dengan yang ditafsir olehnya. Selain penafsiran yang dilakukan oleh seorang mantan biarawati, yang awalnya memeluk agama Katolik, namun berpindah memeluk agama Islam, maka perlu juga mengetahui tentang pemahaman jemaat. Penulis ingin mencari tahu pendapat jemaat GMIT Imanuel Oepura tentang ayat tersebut. Agar mengetahui maksud dari Roma 5:20, maka penulis mengaitkan ayat tersebut dengan ayat sebelum dan sesudahnya, sehingga yang menjadi ayat tafsiran ialah Roma 5:18-21. Pemahaman yang dimiliki oleh jemaat mengenai Roma5:18-21 tentu saja akan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Jika Jemaat memahami ayat tersebut seperti yang dipahami oleh Irena, bahwa manusia boleh melakukan dosa karena tentu Allah akan mengasihi manusia, maka sikap hidup Jemaat akan memberontak tehadap Allah dan menganggap remeh kasih karunia Allah. Untuk mencari tahu pendapat jemaat mengenai Roma 5:18-21, maka penulis menggunakan metode tanggapan pembaca. Pembaca yang adalah jemaat dan teks tidak dapat dipisahkan. Makna-makna yang diperoleh dari dalam teks tergantung pada bagaimana jemaat mengembangkan ayat tersebut. Pada bagian in, akan diketahui bagaimana jemaat memperoleh makna dari ayat-ayat yang dibaca. Hasil dari penelitian menunjukkan, bahwa penafsiran yang dilakukan oleh jemaat tidak sama dengan penafsiran yang dilakukan oleh Handono. Menurut jemaat, Adam telah berbuat dosa sehingga keturunannya juga masuk ke dalam dosa yang sama, namun melalui kasih karunia Allah yang dinyatakan melalui pengorbanan Yesus Kristus telah menyelamatkan semua manusia dari kuasa dosa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Injil Lukas ditulis oleh Lukas sang tabib, teman seperjalanan Paulus. Injil ini diperkirakan ditulis pada tahun 60an M-80 M, di wilayah Hellenis. Tujuan dari Injil Lukas ditulis yaitu ingin menjawab pergumulan yang ada dalam jemaat yang mengalami penganiayaan, penindasan, penderitaan dan selalu dipandang hina. Surat ini ditulis kepada Teofilus, tetapi nama itu hanya simbol bagi jemaat pembaca Injil ini secara luas. Jemaat dimaksud berada dalam kondisi yang menegangkan di berbagai bidang kehidupan. Di bidang politik, kaisar-kaisar Romawi, misalnya Nero, memerintah dan berkuasa dengan cara yang menindas dan menyengsarakan rakyat. Orang Kristen kerap menjadi kambing hitam dan mengalami berbagai penderitaan. Di bidang ekonomi, masyarakat terbagi dalam kelas-kelas, yakni kelas atas, menengah dan bawah. Keadaan ini membuat mereka yang pada kelas atas menindas kelas bawah. Demikianpun pada konteks keagamaan terdapat agama Yunani-Romawi, dewa-dewa Yunani, agama misteri, penyembahan kepada kaisar, dan agama Yahudi yang tidak sejalan dengan ajaran Kristen. Dalam perkembangan agama Kristen mengalami berbagai penganiayaan baik dari para bangsawan Romawi maupun dari komunitas agama Yahudi sendiri yang menganggap mereka menyebarkan ajaran yang memfitnah ajaran Yahudi. Sehingga pada saat itu orang-orang Kristen dimusuhi oleh bangsawan Romawi maupun komunitas agama Yahudi. Dalam konteks ini, Lukas 6:27-36 mencatat tentang “mengasihi musuh” yang merupakan landasan bagi orang Kristen dalam bagimana seharusnya mereka merespon setiap ketidak-adilan, penindasan dan penganiayaan. Yesus, dalam pengajaran-Nya, ingin agar para murid dan orang yang mendengarkanNya dapat mengasihi musuh mereka dengan kasih agape. Kata agape ini menunjuk pada kebajikan yang tak kenal akhir, kebaikan hati yang tak kenal batas dan kehendak baik yang tak kenal menyerah. Pengajaran ini merupakan pengajaran yang secara radikal menghapuskan segala batas sehingga musuh pun tercakup sebagai orang yang harus dikasihi. Selanjutnya, pengajaran ini bukan hanya sebatas mengasihi di dalam hati saja tetapi diwujudnyatakan dalam tindakan konkret, yaitu berbuat baik dan memberi. Penindasan dan ketidakadilan juga dialami oleh Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Tuadale. Sebanyak 13 keluarga digusur pada tanggal 28 Mei 2018, tujuh (7) rumah diantaranya adalah milik anggota Jemaat GMIT Sebiji Sesawi Tuadale. Penggusuran 13 keluarga ini berdasarkan tuduhan penarikan hiba dan dalam keputusan pengadilan 13 keluarga kalah dalam kasus sengketa tanah di desa Lifuleo-Tuadale. Tetapi setelah keputusan pengadilan keluar 13 keluarga tersebut mengajukan naik banding dan dari keputusan Mahkamah Agung mereka dinyatakan menang pada tahun 2020 bulan juli. Akibat pengusuran ini korban penggusuran trauma, marah sakit hati, bahkan membenci penggugat. Malam setelah terjadi penggusuran, rumah milik penggugat dibakar oleh orang yang tidak dikenal. Tindakan ini jelas tidak sejalan dengan pengajaran Yesus tentang kasih sebagaimana dicatat Lukas 6:27-26. Kasih agape patut diwujudkan dalam tindakan nyata orang-orang Kristen kepada siapa pun tanpa kecuali. Mengasihi orang yang tidak mengasihi atau membenci bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi inilah yang dikehendaki Yesus dan hanya orang Kristen yang dipenuhi oleh Roh Kudus yang dapat menunjukan kasih agape yang sejati itu.