Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

5 hasil
Subjek: Injil Lukas
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

YESUS DAN TRANSFORMASI CARA PANDANG TERHADAP INSAN DENGAN DISABILITAS: SUATU KAJIAN NARATIF TERHADAP INJIL LUKAS 18:35-43 DAN IMPLIKASINYA BAGI PELAYANAN INSAN DENGAN DISABILITAS DI JEMAAT GMIT EFRATA OELMASI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelayanan terhadap Insan dengan Disabilitas (IDD) dalam konteks gereja lokal masih menghadapi persoalan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan struktural. Hambatan akses, stigma, serta praktik pengucilan membatasi partisipasi dan pemulihan martabat IDD, sementara disabilitas kerap dipahami secara sempit dan belum ditempatkan sebagai isu teologis dan eklesiologis yang mendesak. Bertolak dari realitas tersebut, penelitian ini memfokuskan diri pada penafsiran teks Alkitab sebagai kontribusi teologis bagi pengembangan pelayanan gereja yang inklusif terhadap IDD. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana narasi Lukas 18:35–43 merepresentasikan tindakan pemulihan Yesus terhadap IDD serta menghadirkan implikasi teologis dan praksis yang mentransformasi cara pandang gereja terhadap disabilitas, khususnya dalam konteks pelayanan Jemaat GMIT Efrata Oelmasi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode kritik naratif, yang membaca teks sebagai satu kesatuan cerita dengan memperhatikan alur, karakter, latar, dan sudut pandang pencerita dalam konteks sosial dan teologis Injil Lukas. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal utama. Pertama, tindakan Yesus yang berhenti, mendengar, dan berdialog menegaskan bahwa pemulihan dimulai dari pengakuan martabat dan relasi yang memanusiakan, yang menjadi dasar tanggung jawab gereja dalam pelayanan terhadap IDD. Kedua, iman yang melihat bukan iman yang berhenti pada pengakuan, melainkan iman yang menuntut tindakan konkret gereja melalui pelayanan diakonia yang bergerak melampaui pola karitatif menuju diakonia transformatif. Ketiga, pemulihan Yesus bersifat transformasional karena tidak hanya memulihkan individu, tetapi juga mengubah sikap dan struktur komunitas menuju penerimaan dan partisipasi yang setara bagi IDD dalam kehidupan umat Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TANGGUNG JAWAB TERHADAP ORANG LAPAR: Suatu Kajian Naratif Terhadap Injil Lukas 9:10-17 dan Implikasinya Bagi Pelayanan Jemaat GMIT Efata Deme, Klasis Sabu Barat Rajiua Dalam Menyikapi Persoalan Stunting

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tulisan ini memfokuskan pembahasan pada menafsir teks untuk memberi sumbangan bagi gereja dalam mengatasi masalah stunting. Stunting adalah persoalan sosial yang mencolok di NTT dan didapati pada anak di usia prasekolah. Stunting disebabkan oleh berbagai hal yang bermuara pada kurangnya asupan makanan yang bergizi sesuai kebutuhan gizi anak. Stunting memiliki dampak buruk yang dapat memengaruhi kehidupan pengidapnya di masa depan. Stunting perlu disikapi oleh berbagai pihak termasuk GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme sebagai persekutuan yang meniru Kristus. Dalam menyikapi stunting dibutuhkan sikap tanggung jawab. Tulisan ini berupaya memaknai sikap tanggung jawab terhadap mereka yang lapar sesuai hasil penafsiran teks Injil Lukas 9:10-17 dengan menggunakan metode tafsir naratif. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap mereka yang lapar sebagaimana yang diperlihatkan dan diajarkan oleh Yesus, dapat dibawa dalam konteks GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme dalam menyikapi stunting. Dalam upaya mengatasi stunting sikap awal yang mesti dilakukan oleh gereja ialah melayankan hospitalitas. Hospitalitas ini akan melahirkan tanggung jawab terhadap penderita stunting baik di dalam maupun luar gereja. Lebih lanjut, tanggung jawab yang lahir dari hospitalitas ini harus diwujudkan dengan memberi makanan yang bergizi sampai kenyang kepada penderita stunting. Perwujudan tanggung jawab terhadap penderita stunting ini dilaksanakan oleh gereja dengan membangun kemitraan atau bekerja sama dengan pemerintah, tenaga kesehatan, agama dan denominasi lain serta lembaga-lembaga masyarakat lainnya. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme untuk menyatakan tanggung jawabnya terhadap mereka yang menderita stunting.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PELAYANAN YESUS BAGI ORANG YANG KERASUKAN SETAN Tafsir Naratif Teks Injil Lukas 8:26-39 dan Implikasinya bagi Pelayanan Orang Dengan Gangguan Jiwa di GMIT Imanuel Batukadera

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Realita keberadaan ODGJ merupakan masalah sosial yang terjadi di mana-mana, namun belum sepenuhnya tersentuh dan jarang untuk dibicarakan. Gereja perlu memaknai kehadirannya dan menunjukkan pelayanan yang tepat dengan belajar dari tokoh Yesus yang mengusir roh jahat dari orang Gerasa dalam Injil Lukas 8:26-39. Pembahasan ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna pelayanan Yesus kepada orang yang kerasukan setan dan menyusun kerygmanya. Eksplorasi ini didasari pada realita masalah sosial yang sedang terjadi. Penelitian ini menggunakan metode tafsir naratif. Hasilnya adalah, Injil Lukas memperlihatkan belas kasihan dan kepedulian menjadi motivasi dasar pelayanan Yesus yang inklusif, yakni berjumpa dan berdialog dengan orang bukan Yahudi yang mengalami sakit jiwa akibat belenggu setan. Model Pelayanan Yesus juga dilakukan berdasarkan kuasa Anak Allah Yang Maha Tinggi dan bermuara pada pemulihan kembali manusia sebagai gambar Allah. Pesannya ialah gereja harus menunjukkan pelayanan inklusif yang didasari oleh belas kasihan dan kepedulian yang memperlihatkan kuasa dan kasih-Nya yang mampu memulihkan kembali manusia sebagai gambar Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

“HOSPITALITAS GEREJA” “Suatu Kajian Naratif Terhadap Injil Lukas 10:25-37 dan Implikasinya Bagi Pelayanan Gereja Masehi Injili Di Timor dalam Mengatasi Masalah Kemiskinan”

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kemiskinan adalah masalah klasik, karena itu banyak orang, organisasi atau negara, berusaha untuk mengatasi persoalan kemiskinan, tetapi kemiskinan tidak pernah berakhir dan masih menjadi kenyataan dunia. Kemiskinan disebabkan dan telah menyebabkan banyak hal. Dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan dibutuhkan hospitalitas. Penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut secara lebih mendalam melalui karya ilmiah dengan menggunakan metode kritik naratif dari teks Injil Lukas 10:25-37. Injil Lukas mencatat kepedulian Yesus terhadap orang-orang miskin, kaum perempuan, anak-anak, orang Samaria dan orang-orang yang paling berdosa. Tulisan ini berupaya memaknai hospitalitas dan makna tanggung jawab sosial yang penulis dapat dari penafsiran teks Injil Lukas 10:25-37. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukkan karakteristik dari orang Samaria dan pemilik penginapan yang berhospitalitas terhadap orang yang terluka, dapat dibawa dalam konteks GMIT. Sikap hospitalitas inilah yang kemudian penulis kaitkan dengan bagaimana pelayanan GMIT dalam mengatasi masalah kemiskinan di NTT dan bagaimana GMIT berkerja sama dengan denominasi lain maupun agama lain dalam pengentasan kemiskinan di NTT. Dalam upaya gereja dalam mengatasi masalah kemiskinan di NTT, maka gereja perlu berkolaborasi dengan denominasi lain maupun agama lain. Cara pandang gereja terhadap sang liyan (yang lain) harus dipandang sebagai sahabat, agar hospitalitas dari gereja dan sang liyan dapat menjadi kepedulian yang utuh dalam mengatasi masalah sosial kemiskinan di NTT. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak Gereja Masehi Injili di Timor menghidupi hospitalitas dalam kehidupan bergereja

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TUNAIKAN TUGASMU SUATU TINJAUAN NARATIF TERHADAP LUKAS 22:39-46 DAN IMPLIKASINYA BAGI PELAKSANAAN DOA BERSAMA (MALAM MEDITASI) SEBELUM PENAHBISAN PENATUA, DIAKEN, DAN PENGAJAR DI JEMAAT GMIT IMANUEL BEUMOPU

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Gereja sebagai tempat di mana orang-orang yang percaya kepada Kristus bersekutu, memerlukan orang-orang yang nantinya berjabat gerejawi (Penatua, Diaken, dan Pengajar) untuk membantu dalam pelayanan. Majelis Jemaat itu terdiri dari Pendeta, Penatua, Diaken, dan Pengajar. Kesemuanya ini bekerja sama dalam Kristus untuk melayani jemaat-Nya. Menyadari akan tugas dan tanggung jawab yang akan dilakukan, ada doa bersama yang dilakukan dalam bentuk malam meditasi. Penulis menemukan fakta saat melakukan wawancara bersama calon-calon Penatua, Diaken, dan Pengajar bahwa adanya pemahaman yang kurang dari calon Penatua, Diaken, dan Pengajar GMIT Imanuel Beumopu mengenai malam meditasi yang dilakukan, sehingga bagi sebagian Penatua, Diaken, dan Pengajar malam meditasi itu tidak membawa dampak. Dalam teks Injil Lukas 22:39-46, di Bukit Zaitun, Yesus menunjukkan cara berdoa dan makna doa yang dalam. Yesus berdoa dalam keheningan dan dalam doa tersebut Yesus meminta kekuatan kepada Bapa-Nya untuk penderitaan salib yang akan dialami-Nya. Tugas terakhir Yesus untuk mati di kayu salib, Ia percayakan pada kehendak Bapa dan dalam doa penyerahan-Nya itu membawa kekuatan kepada-Nya. Yesus mau untuk para murid juga terus berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan, tetapi mereka malah tertidur dan tidak melakukan seperti yang Yesus perintahkan. Teks Injil Lukas 22:39-46 memberi makna yang baik bagi malam meditasi. Malam meditasi secara Kristiani dilakukan dengan fokus hanya kepada Kristus. Dalam malam meditasi seseorang diminta untuk melihat dalam keheningan batin apa yang Kristus kehendaki. Sebagai Penatua, Diaken, dan Pengajar doa dalam bentuk malam meditasi menolong agar identitas sebagai kawan sekerja Allah tetap nampak, dan doa dalam bentuk malam meditasi bisa membuat Penatua, Diaken, dan Pengajar melihat secara dalam apa yang menjadi kehendak Kristus dalam diri mereka sebagai pelaku-pelaku pelayanan. Metode penafsiran naratif menolong untuk menghubungkan antara teks dan konteks. Metode penafsiran naratif dengan unsur-unsur naratif yang digunakan untuk menafsir teks, memperlihatkan makna lebih dalam dari setiap kejadian, sikap, dan suasana dalam teks yang menolong dalam memberi makna untuk pelayanan doa bersama dalam bentuk malam meditasi. Dengan teks Lukas 22:39-46 dan metode penafsiran naratif, penulis berusaha untuk menghasilkan makna yang baik bagi pelayanan doa bersama dalam tulisan yang berjudul TUNAIKAN TUGASMU Suatu Tinjauan Naratif Terhadap Lukas 22:39-46 dan Implikasinya bagi Pelaksanaan Doa Bersama (Malam Meditasi) Sebelum Penahbisan Penatua, Diaken, dan Pengajar di Jemaat GMIT Imanuel Beumopu”.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail