ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang hingga saat ini belum diketahui pelaksanaan Tinjauan pola pembinaa prestasi atlet pada club sepak bola angkasa Dirgantara Kota Kupang, dapat berlangsung secara efektif.
Tujuan: untuk mengetahui proses peklaksanaan kegitan pola pembinaan prestasi pada atlet tersebut.
Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk mendapatkan data-data dari tempat penelitian sesuai dengan kenyataan yang dilihat dan didengar peneliti secara langsung, dengan membutuhkan waktu selama ± 2 (dua) bulan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah 1) Observasi, 2) wawancara, dan 3) dokumentasi.
Hasil dan Pembahasan: ini mengungkapkan bahwa: kegiatan pola pembinaan prestasi atlet pada club sepak bola Angkasa Dirgantara Kota Kupang dilaksanakan berdasarkan program latihan dengan tujuan dapat mengembangkan bakat dan kemapuan pada atlet untuk dapat mencapai suatu keberhasilan atau prestasi melalui bakat yang di kembangkan. Dalam pelaksanaanya kegiatan pola pembinaan prestasi atlet sepak bola masih ada kendala yang dihadapi tetapi adanya bimbingan dari pelatih terhadap atlet maka dapat mencapai hasil pengembangan bakat yang maksimal dan optimal untuk sebagai satu fondasi yang kuat dalam pencapaian prestasi yang diharapkan baik dari atlet maupun pihak club.
Simpulan: kegiatan pelaksanaan pembinaan berdasarkan struktur atau sesuai dengan pola pelatihan pembinaan yang sudah di tetapkan berdasarkan penetapan Asosiasi Sepak Bola Profinsi (ASPROF) untuk dapat menjadikan atlet pada club tersebut mencapai target pembinaan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemuda merupakan kelompok strategis dalam kehidupan bergereja karena
memiliki potensi besar sebagai generasi penerus pelayanan. Namun, realitas
kepemimpinan pemuda di Jemaat GMIT Getsemani Sikumana menunjukkan
berbagai persoalan, seperti ketidakstabilan struktur kepemimpinan, lemahnya
pembinaan dan pendampingan, serta pemahaman kepemimpinan yang masih
bersifat struktural dan administratif, bukan sebagai panggilan iman dan pelayanan.
Kondisi tersebut berdampak pada minimnya koordinasi pelayanan, rendahnya
partisipasi aktif pemuda, serta melemahnya peran pemuda dalam dinamika
kehidupan jemaat. Berdasarkan realitas tersebut, penelitian ini bertujuan untuk
menelaah kepemimpinan orang muda dalam perspektif teologis serta menganalisis
realitas kepemimpinan pemuda di Jemaat GMIT Getsemani Sikumana dengan
menggunakan pendekatan servant leadership sebagaimana dikemukakan oleh
Robert K. Greenleaf. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan deskriptif, analitis, dan reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan
melalui studi kepustakaan serta penelitian lapangan berupa observasi, wawancara,
dan dokumen. Subjek penelitian meliputi majelis jemaat dan pemuda Jemaat
GMIT Getsemani Sikumana yang terlibat aktif dalam pelayanan. Data yang
diperoleh dianalisis untuk menggambarkan kondisi kepemimpinan orang muda,
mengidentifikasi persoalan yang terjadi, serta merefleksikannya secara teologis
berdasarkan nilai-nilai kepemimpinan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kepemimpinan orang muda di Jemaat GMIT Getsemani Sikumana belum
sepenuhnya dipahami sebagai panggilan pelayanan yang berakar pada iman,
melainkan masih dipandang sebagai beban struktural organisasi. Kurangnya
pembinaan dan formasi kepemimpinan berdampak pada lemahnya integritas,
tanggung jawab pelayanan, kepekaan sosial, serta visi kepemimpinan orang muda.
Melalui refleksi teologis dan pendekatan servant leadership Robert K. Greenleaf,
kepemimpinan orang muda dipahami sebagai kepemimpinan yang berangkat dari
sikap melayani, diwujudkan melalui keteladanan hidup, integritas karakter,
kerendahan hati, serta komitmen untuk memberdayakan dan membangun sesama.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teologis dan praktis bagi
gereja dalam merumuskan model pembinaan kepemimpinan pemuda yang
kontekstual, berkelanjutan, dan berakar pada nilai-nilai iman Kristen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Praktik flexing atau pamer gaya hidup mewah di media sosial telah menjadi tren dan bagian dari budaya populer yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak generasi muda, termasuk pemuda GMIT Batu Karang Kupang. Dalam konteks pemuda GMIT Batu karang Kupang, praktik ini tidak hanya muncul sebagai bentuk ekspresi diri, tetapi juga sebagai strategi untuk mencari pengakuan, validasi sosial, dan membangun citra diri di media sosial dan secara langsung. Praktik ini berdampak negatif terhadap relasi antar sesama, persekutuan, dan pertumbuhan iman pemuda. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana keteladanan pemuda GMIT dalam menyikapi praktik flexing serta bagaimana pembinaan warga gereja (PWG) dapat menjadi sarana yang efektif dalam membentuk karakter dan spiritualitas pemuda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan kuesioner kepada 23 responden yang terdiri dari pendeta, pengurus pemuda, dan anggota pemuda di Jemaat GMIT Batu Karang Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemuda terlibat dalam praktik flexing untuk mendapatkan pengakuan, yang memicu perpecahan dan persaingan tidak sehat dalam persekutuan. Hal ini menunjukkan bahwa gereja belum optimal dalam memberikan pembinaan yang relevan dan kontekstual terhadap tantangan digital yang dihadapi pemuda. Mengacu pada teori PWG menurut Ruth Selan, pembinaan gereja harus bersifat kontekstual, transformatif dan holistik, menyentuh seluruh aspek kehidupan pemuda serta peran dalam gereja dan Masyarakat. Refleksi teologis dalam skripsi ini menekankan bahwa pemuda dipanggil menjadi teladan dalam kesederhanaan dan pelayanan, sebagaimana yang dicontohkan oleh tokok-tokoh muda seperti Yusuf, Daniel, Daud, Yeremia, Timotius, terutama Yesus Kristus dalam kehidupan dan pelayanan-Nya. Oleh karena itu, PWG memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan iman pemuda agar mampu menghadapi godaan digital secara bertanggung jawab. Gereja perlu meningkatkan kualitas pembinaan berbasis nilai-nilai Alkitabiah dan mendampingi pemuda dengan pendekatan kontekstual yang membumi, agar mereka menjadi teladan dalam kesederhanaan dan pelayanan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PEMUDA DAN ORGANISASI PELAYANAN GEREJA “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Peran Pemuda Dalam Organisasi Pelayanan Gereja di GKS Jemaat Kangeli, Klasis Lewa Tidahu” Email: [email protected] Pemuda adalah generasi penerus pelayanan dan kepemimpinan dalam gereja sehingga kehadirannya dalam gereja tidak dapat diabaikan. Gereja adalah tempat di mana pemuda dididik dan bertumbuh dalam iman. Pemuda gereja merupakan generasi penerus yang akan menentukan masa depan gereja dengan meneruskan perjuangan dan melaksanakan tugas panggilan gereja secara terus menerus. Peran pemuda dalam organisasi Pelayanan diwujudkan salah satunya melalui Komisi Pemuda, yakni melalui berbagai program dalam bidang kesaksian, persekutuan dan pelayanan. Namun realitas yang ada menunjukkan bahwa banyak pemuda yang mengabaikan perannya dalam gereja. GKS Kangeli menunjukkan realitas tersebut, bagaimana pemuda tidak menjalankan perannya dengan maksimal. Program yang dibuat tidak berjalan dan partisipasi pemuda-pemudi sangat minim dalam pelayanan Bertolak dari masalah di atas penulis melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran pemuda dalam organisasi Pelayanan di GKS Jemaat Kangeli. Demi mencapai tujuan penelitian ini maka penulis melakukan penelitian lapangan dengan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa peran pemuda melalui Komisi Pemuda di GKS Jemaat Kangeli dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman pemuda terhadap peran dan panggilannya dalam gereja. Kurangnya pemahaman pemuda terhadap peran dan panggilannya juga ikut mempengaruhi jemaat mengambil keputusan untuk membatasi perannya. Dari 139 jumlah pemuda yang terlibat dalam pelayanan hanya 24 orang . Oleh karena itu gereja perlu melakukan pembinaan yang bertujuan bukan saja untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin tetapi membentuk karakter pemud yang mau melayani dan terlibat dalam pelayanan. Pembinaan di dalamnya meliputi memberikan pengajaran dan nasihat, menunjukkan teladan, serta memberikan kepercayaan untuk bertanggung jawab atau memimpin.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fenomena seks bebas dikalangan remaja sampai pemuda/i kian memprihatinkan yang mengalami peningkatan setiap tahun. Ini juga yang terjadi dalam jemaat GMIT Diaspora Padakika. Untuk itu perlu ada perhatian khusus baik itu dari orang tua maupun gereja. Terkait dengan masalah ini, maka pendidikan seks merupakan solusi yang tepat dalam mengatasi seks bebas. Pendidikan seks merupakan pengajaran penting yang harus diterapkan kepada setiap anak. Untuk itu, Keluarga menjadi tempat utama sebagai dasar bagi anak agar bisa memperoleh ajaran-ajaran yang disampaikan termaksud dengan pendidikan seks. Pendidikan seks dalam keluarga sangat penting dan harus menjadi bahan pembinaan yang harus diterapkan dalam keluarga. Anak-anak sejak dini harus diperkenalkan dengan pendidikan sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Selain itu, dengan pendidikan seks anak juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual yang berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya. Orang tua juga wajib untuk dibekali ilmu terkait dengan pendidikan seks. Pendidikan seks harus dianggap sebagai bagian dari proses pendidikan untuk memperkuat penggembangan kepribadian bagi seorang anak. Orang tua harus memiliki peran penting untuk menanggulangi perilaku seks yang menyimpang dengan nilai-nilai dan ajaran Alkitab pada anak sedini mungkin. Gereja juga turut berperan dalam memberikan pengajaran dan pendidikan mengenai seks, karena gereja diutus Allah untuk ada ditengah-tengah dunia menjawab setiap persoalan dalam anggota jemaat terkait dengan kasus seks bebas. Pembinaan warga gereja sebagai bagian tugas dan tanggung jawab pelayan dalam gereja melalui Kerygma (mengajar atau memuridkan), Marturia (bersaksi), Koinonia (bersekutu), dan Diakonia (pelayanan sosial). Pembinaan warga gereja tidak terlepas dari pendidikan dan pengajaran mengenai nilai-nilai dan ajaran kristiani sehingga mampu membawa setiap anggota jemaat agar mengalami pendewasaan. Pendewasaan jemaat agar dapat membedakan apa yang baik dan buruk sesuai dengan kehendak Allah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK STUDI MENGENAI BENTUK-BENTUK PEMBINAAN PEMUDA YANG DILAKUKAN OLEH MAJELIS JEMAAT GMIT LILIN SUNI NOEBANA KLASIS AMANATUN TIMUR TAHUN 2023 Penelitian ini dilakukan pada lokasi Jemaat GMIT Lilin Suni Noebana Klasis Amanatun Timur Kabupaten Timo Tengah Selatan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa saja bentuk-bentuk pembinaan pemuda yang dilakukan oleh majelis jemaat GMIT Lilin Suni Noebana Klasis Amanatun Timur?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk pembinaan pemuda yang dilakukan oleh majelis jemaat GMIT Lilin Suni Noebana Klasis Amantun Timur. Metode yang digunakan penulis adalah metode deskriptif yaitu bertujuan untuk menggambarkan masalah sesuai dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Tempat penelitian ini dilakukan di Jemaat GMIT Lilin Suni Noebana Klasis Amanatun Timur denga jumlah responden 10 orang . Hasil penelitian yang diperoleh adalah mengingat pentingnya Bentuk-bentuk pembinaan pemuda, maka majelis jemaat menjalankan proses pembinaan itu sendiri dengan cara menjadi teladan: dalam rendah hati, aktif dalam pelayanan, selalu bersyukur. Membimbing: menegur, menasihati, mengajari. Melatih: menyanyi, bermusik, berdoa, memimpin ibadah. Melibatkan dalam pelayanan: song leader, bermain orgen dan mengutus pemuda dengan cara melayani dan memberitakan injil sehingga pemuda dapat mengembangkan apa yang sudah didapatkan dari para pamimpin. Kesimpulan: Teladan: Dapat dikatakan bahwa ada majelis jemaat yang sudah menjadi teladan dalam hal perkataan, perilaku dan juga tindakan sehari-hari. Membimbing: Dapat dikatakan bahwa para majelis memberikan bimbingan kepada para pemuda, dalam hal. Melatih: Para majelis sudah memberikan waktu untuk melatih para pemuda. Melibatkan dalam pelayanan: Majelis jemaat sudah melibatkan pemuda untuk menjadi song leader dan bermain orgen. Mengutus: Majelis jemaat sudah mengutus pemuda untuk mengambil bagian dalam pelayanan dan menginjili. Saran: Bagi Pihak Gereja harus memberikan motivasi kepada pemuda, memberikan kesempatan bagi pemuda agar terlibat dalam pelayanan digereja, gereja usaha untuk meningkatkan pelayanan yang berfokus pada kegiatan pemuda. Bagi pihak Akademik Perlu adanya upaya dari pihak kampus khususnya UKAW Kupang untuk meningkatkan pemahaman manusia lewat pengajaran mata kuliah Pendidikan Agama Kristen bagi pemuda, Peningkatan pemahaman bagi mahasiswa dalam mata kuliah kepemimpinan Kristen untuk menghasilkan out put dari UKAW Kupang yang memiliki sifat-sifat Kepemimpinan Kristiani bahkan dapat menjadi pemimpin kristen ke depan. Kata Kunci: Bentuk-Bentuk Pembinaan Pemuda
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan strategi pembinaan mental anak tunagrahita di SLB Negeri Benpasi. Dengan rumusan masalah tentang bagaimana strategi pembinaan mental anak tunagrahita di SLB Negeri Benpasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang sedang berlangsung saat ini ataupun saat lampau. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah 1 kepala sekolah, seluruh guru pembimbing SLB Negeri Benpasi yang berjumlah 48 orang dan seluruh siswa tunagrahita yang berjumlah 102 orang dan yang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 12 orang diantaranya guru pembimbing tunagrahita 3 orang, dan siswa tunagrahita 9 orang. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini penulis menggunakan metode wawancara dan pengamatan yaitu proses pengumpulan data melalui tanya jawab serta pengamatan secara langsung untuk memperoleh informasi tentang strategi pembinaan mental anak tunagrahita di SLB Negeri Benpasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak tunagrahita dapat berkomunikasi dan melakukan kontak dengan orang-orang disekitarnya. Tetapi pada saat anak tunagrahita melakukan komunikasi, ada yang lancar berbicara tetapi kurang perbendaharaan kata dan juga yang masih terbata-bata dalam berbicara. Ada beberapa strategi pembinaan mental yang dilakukan oleh guru pembimbing di SLB Negeri Benpasidiantaranya ialah Strategi pembinaan mental anak tunagrahita melalui komunikasidengan menggunakan bahasa reseptif dan ekspresif, strategi pembinaan mental anak tunagrahita melalui bina diri baik secara individu maupun kelompok, Strategi pembinaan mental anak tunagrahita melalui kemampuan interaksi sosial anak tunagrahita dengan orang lain, yakni hubungan pribadi antara anak dengan teman sebayanya, bermain dan waktu luang danStrategi pembinaan mental anak tunagrahita melalui motorik kasar dan halus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: Kurangnya perhatian pemerintah berkaitan dengan dana untuk membangun infrastruktur pada Club Bintang Persado Kabupaten Kupang, Pola pembinaan yang belum maksimal. Tujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pola Pembinaan Sepak Bola Usia Dini di Club Bintang Persado Kabupaten Kupang Metode penelitian: Metode yang digunakan peneliti ialaah Metode Kualitatif yakni menurut teori Rusli Lutan juga menuliskan bahwa pembinaan prestasi yaitu cara mencapai suatu tujuan, teori ataupun spekulasi terhadap suatu prestasi. Prestasi terbaikhanya akan dicapai melalui pembinaan yang tertuju pada aspek–aspek berlatih seutuhnya yang mencakup kepribadian atlet, kondisi fisik, keterampilan taktik, keterampilan teknik dan kemampuan mental. Hasil dan pembahasan: Peneliti melihat bahwa pola Latihan yang diterapkan sudah modern tetapi kedekatan emosional menjadi alasan utama agar pelatih tahu apa yang dipikirkan pemain dan pemain mengerti apa yang dipikirkan pelatih memang dalam penjelasan pelatih dalam hal pemberian ruang berbicara sudah dibuat oleh pelatih sesuai pemaparan pelatih diatas namun kenyataanya yang disampaikan atlet atau siswa sangatlah berbeda. Simpulan: Dari proses latihan yang terjadi pelatih menerapkan pola latihan yang sudah baik, Pola pembinaan fisik juga menggunakan metode modern yang dikolaborasikan agar pemain tidak bosan dengan pola pembinaan, kepatuhan pemain terhadap pelatih juga belum terbentuk karena peneliti melihat masih adanya pembangkangan dari pemain kepada pelatih, ini disebabkan oleh ikatan emosional antaraa pelatih dan pemain yang masih belum terbentuk dengan baik. Model latihan yang tidak teratur juga terjadi dalam proses latihan seperti keelastisan waktu latihan dari rencana waktu dua jam namun diperpanjang sampai empat jam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
INTISARI Judul Skripsi Penulis adalah Deskripsi Tentang Putusan Pidana Pembinaan Oleh Hakim Terhadap Anak Yang Melakukan Tindak Pidana Pencurian Dengan Pemberatan. Permasalahan pokok dalam penelitian ini, penulis lebih memfokuskan dengan permasalahan bagaimanakah pertimbangan hakim sehingga menjatuhkan putusan pidana pembinaan terhadap anak yang melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertimbangan hakim sehingga menjatuhkan putusan pidana pembinaan terhadap anak yang melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan. Selanjutnya, Penelitian ini berjenis penelitian normatif yang bersifat deskriptif artinya bahwa sifat penelitian ini berusaha mendeskripsikan atau menguraikan suatu gejala sosial atau peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dengan penerapan suatu norma (peraturan perundang-undangan) yang berlaku. Varibel bebas adalah putusan pidana pembinaan terhadap anak yang melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan dan variabel terikat adalah pertimbangan hakim sehingga menjatuhkan putusan pidana pembinaan terhadap anak yang melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan. Sumber data dan jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang jenisnya berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan data melalui Studi pustka atau dokument. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan Hakim sehingga menjatuhkan putusan pidana pembinaan dalam lembaga terhadap anak yang melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan dapat dikategorikan menjadi beberapa pertimbangan, yaitu: pertimbangan tentang tuntutan pidana penunutut umum; pertimbangan tentang saran balai pemasyarakatan; mempertimbangkan segi masa depan anak; dan kualitas nilai barang atau obyek curian. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Penulis menyarankan agar Penuntut umum harus lebih sigap dan tegas serta menerangkan secara eksplisit tentang nilai keadilan dan kemanusian terhadap tuntutan hukuman pidana kepada anak tersebut; selain itu, meskipun apa yang direkomendasikan BAPAS tidak menjadi hal yang mutlak bagi hakim dalam menjatuhkan hukuman pidana kepada anak, tetapi BAPAS harus lebih tepat serta menerangkan lebih eksplisit tentang nilai keadilan dan kemanusian terhadap hukuman pidana kepada anak tersebut; selanjutnya, anak yang merupakan generasi penerus bangsa maka apa yang berkaitan dengan keadaan yang meringankan tersebut dapat membantu anak dalam mengurangi masa kurungan, sebab perkara pidana anak lebih menekan pada nilai keadilan dan kemanusian bagi diri anak; dan apabila anak melakukan tindak pidana pencurian dengan kualitas nilai barang curian yang sekecil apapun tidak menjadikan suatu alasan bahwa anak tersebut tidak dapat dipidana, oleh karena anak tidak boleh lagi melakukan pencurian dengan jenis barang curian apapun. Kata Kunci: Pidana Pembinaan Dalam Lembaga, Anak, Pencurian
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
SURVEI PEMBINAAN SEPAK TAKRAW DI KLUB FORMMULA CF
Flavianus Dagut1, David Loba2, Fredik Edison Nope3
1,2,3Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi,Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Indonesia.
email. [email protected].
Latar belakang: Pembinaanklub Formmula CF belum terdaftar dalam PSTI kabupaten/kota. Pendanaannya juga sangat berkurang sehingga berpengaruh terhadap persediaan sarana dan prasarana yang ada di klub formmula CF.
Tujuan penelitian: Untuk mengetahui bagaimana pembinaan olahraga sepak takraw di klub Formmula CF.
Metode Penelitian: Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif naturalistik dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di klub sepak takraw formmula CF yang terletak di jln.Nusa Bunga 2 Kelurahan Kayu Putih Wali Kota Kupang.
Hasil dan Pembahasan: Berdasarkan hasil dari penelitian dan temuan dilapangan melalui hasil observasi dan wawancara adalah: 1) pembinaan permainan sepak takraw pada indikator motivasi atlet berada pada kategori baik. 2) pembinaan permainan sepak takraw pada indicator program latihan berada pada kategori baik. 3) pembinaan permainan sepak takraw pada indikator sarana dan prasarana berada dalam kategori sangat berkurang.
Simpulan: Upaya pelatih untuk membina atlet sepak takraw di klub Formmula CF sangat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi yang ada sampe saat ini.
Kata kunci:Pembinaan sepak takraw di klub Formmula CF.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
TINJAUAN TENTANG PEMBINAAN SEPAKBOLA PUTRI
PADA CLUB GIRLS FOOTBALL PROJECT DI KABUPATEN
TIMOR TENGAH SELATAN
Krista viana Bere Mau1*, Andreas J. F. Lumba2, Julian J.Leko3
1,2,3Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia
email. [email protected]
Latar belakang:Sepakbola adalah cabang olahraga yang paling populer di dunia yang mainkan menggunakan bola yang umumnya terbuat dari bahan kulit dan dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan 11 (sebelas) pemain inti dan beberapa pemain cadangan.
Tujuan penelitian:Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pembinaan sepakbola putri padaclub girls football project di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Metode penelitian:Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskrptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif untuk mengetahui pembinaan sepakbola putri pada club girls football project di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Hasil dan pembahasan:Hasil penelitian yang didapat adalah: 1) pemassalan, 2) pembibitan, 3) prestasi.
Simpulan:Pembinaan sepakbola putri pada club girls football project di Kabupaten Timor Tengah Selatan dilakukan dengan menerapkan aspek-aspek untuk meningkatkan kemampuan para pemain; kepribadian atlet, kondisi fisik, keterampilan teknik, latihan taktik, dan latihan mental.
Katakunci: Pembinaan, Sepakbola
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK JOHANIS MARSEL LOBO, NIM: 16321978 “POLA PEMBINAAN OLAHRAGA FUTSAL PADA KLUB PS BINTANG MUDA KABUPATEN ROTE NDAO TAHUN 2020.” Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan Dan Rekreasi, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Pembimbing I Ramona M. Mae,S.Pd, M.Or, Pembimbing II Isak Riwu Rohi, S.Pd, M.Pd. Kata kunci : Pola Pembinaan, dan Olahraga Futsal. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana pola pembinaan olahraga futsal pada club PS Bintang Muda Kabupaten Rote Ndao. Yang meliputi atlet, pelatih, pelaksanaan program pembinaan, dan sarana prasarana. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pola pembinaan olahraga futsal pada klub PS Bintang Muda Kabupaten Rote Ndao. Kegunaan hasil penelitian diharapakan dapat memberikan sumbangan untuk bahan masukan bagi pembinaan olahraga futsal dan perkembangan olahraga futsal di Kabupaten Rote Ndao. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif naturalistik agar peneliti menemukan data secara alamiah berdasarkan kenyataan yang terjadi di tempat penelitian. Sedangkan dalam pengumpulan data peneliti menggunakan beberapa metode yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa secara sistematis, objektif dan akurat. Secara umum penelitian ini menunjukan bahwa, pelaksanaan program latihan yang dilaksanakan sudah baik dan perlu ditingkatkan. Hasil yang ditemukan adalah sebagai berikut : 1. Pelatih memperhatikan proses pembinaan pada program latihan yang sudah dijalankan. 2. Pola pembinaan yang dijalankan pelatih selama proses latihan berlangsung merupakan pembinaan yang sesuai dengan program latihan. 3. Adanya hasil yang diperoleh dalam latihan yaitu turut menyumbangkan atlet futsal Kabupaten Rote Ndao. 4. Program latihan yang diterapkan sudah berjalan dengan baik sehingga memperoleh hasil yang maksimal. 5. Atlet futsal berlatih dengan sungguh-sungguh sehingga mengikuti turnamen futsal yang diselenggarakan oleh pemerintah. Peneliti menyarankan agar program latihan berjalan sesuai rencana, maka perlu dilengkapi sarana dan prasarana olahraga agar pelaksanaan latihan berjalan lebih efektif. Dengan adanya program latihan yang dilaksanakan terus di tingkatkan guna kemajuan atlet futsal.