Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

66 hasil
Subjek: Jemaat
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

HELA KETA "Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual terhadap tradisi Hela keta dan Implikasinya bagi Kehidupan Keluarga Kristen di Jemaat GMIT Getsemani Halilulik Mata jemaat Manoinhau Motasokon Klasis Belu"

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari realitas komplek tradisi Hela Keta dalam kehidupan keluarga Kristen di jemaat GMIT Getsemani Halilulik Mata Jemaat Manoinhau Motasokon, Klasis Belu. Tradisi Hela Keta merupakan praktik adat masyarakat Tetun yang bertujuan untuk melepaskan sumpah leluhur dan memperoleh kedamaian dalam pernikahan, namun menimbulkan pertanyaan teologis karena masih melibatkan pengorbanan darah hewan. Permasalahan jemaat bersifat kompleks, mencakup aspek budaya, kepercayaan, sosial, ekonomi, dan spiritual yang berdampak pada pemahaman jemaat tentang keselamatan dan pendamaian sejati dalam Kristus.Tulisan penelitian ini memahami konteks jemaat Manoinhau Motasokon, menganalisis pelaksanaan dan makna tradisi Hela Keta, serta merumuskan tinjauan teologi kontekstual berdasarkan teori Robert J. Schreiter tentang model kontekstual dalam pengembangan teologi lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, analitis, dan reflektif melalui wawncara, pengamatan langsung, dan studi kepustakaan. Informan penelitian terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat, pendeta, dan anggota jemaat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Hela Keta mengandung nilai-nilai teologis positif yang sejalan dengan iman Kristen, yaitu kerinduan akan pendamaian, pemulihan hubungan yang rusak, dan kesadaran akan dampak lintas generasi. Namun, praktik ini juga mengandung aspek yang memerlukan transformasi, khususnya pemahaman tentang sumber keselamatan, fungsi darah dalam ritual, dan ketakutan terhadap kutuk leluhur. Penelitian ini mengusulkan model transformasi dialogis yang mempertahankan identitas budaya sambil mengarahkan makna Hela Keta menuju pemahaman yang sejalan dengan iman Kristen, yakni melalui doa bersama, rekonsiliasi yang sadar, pengampunan, dan pengharapan dalam Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERSEPSI JEMAAT TERHADAP MANFAAT DAN KELEMAHAN PERSEKUTUAN DOA DI JEMAAT GMIT BET’EL OESAPA TENGAH TAHUN 2023

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Persepsi Jemaat Terhadap Manfaat dan Kelemahan Persekutuan Doa Di Jemaat GMIT Bet’el Oesapa Tengah Tahun 2023 Kaka, A .)* Metboki, M.)** Pabala, P.)*** ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan bagaimana persepsi Jemaat terhadap Manfaat dan Kelemahan Persekutuan doa di Jemaat GMIT Bet’el Oesapa Tengah. Dengan tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi jemaat terhadap manfaat dan kelemahan persekutuan doa, Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu penulis menggambarkan persepsi jemaat terhadap Persekutuan Doa ditengah-tengah kehidupan jemaat. Yang menjadi informan dalam penelitian ini ialah seluruh jemaat GMIT Bet’el Oesapa Tengah yang berjumlah 3061 orang. Dalam penentuan jumlah responden penulis menggunakan teknik snowball sampling, yaitu sampai pada titik kejenuhan data, maka penulis dapat mewawancarai jumlah responden yaitu 34 orang.Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah wawancara, yakni penulis melakukan wawancara langsung dengan responden tentang apa yang mereka ketahui dari Persekutuan Doa. Dari data yang terkumpul penulis, melakukan analisis data dengan teknik deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dengan wawancara 34 orang jemaat maka dari hasil wawancara, penulis mengetahui Jemaat memahami arti persekutuan doa sebagai tempat atau wadah bagi orang-orang yang percaya kepada Kristus dengan tujuan untuk berkumpul bersama memuji Tuhan, mendengarkan firman Tuhan, saling mendoakan satu sama lain, dan memberikan kesaksian tentang perbuatan Tuhan yang ajaib dalam kehidupan. Dengan manfaat untuk belajar menafsirkan firman Tuhan dan berdoa. Kelemahan persekutuan doa diantaranya ialah, kesombongan rohani, pelayanan untuk mengejar materi, persepuluhan tidak diberikan kepada Gereja, dalam ibadat kurang melibatkan kehadiran Pendeta dan nyanyian pujian yang digunakan menghilangkan kekhasan GMIT dengan lebih fokus pada nyanyian pop rohani dibandingkan KJ,PKJ dan NKB. Kesimpulannya, Manfaat dari Persekutuan doa adalah untuk menumbuhkan iman setiap anggota jemaat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan melibatkan diri dalam pelayanan bersama orang-orang percaya , untuk saling mendukung dalam iman, kelemahan ialah kesombongan rohani bagi hamba Tuhan yang menerima karunia dari Allah, meremehkan aturan-aturan tata tertib organisasi Gereja, Alkitab dipakai untuk membenarkan pendapat, ajaran atau sikap yang dianut, dan adanya kesalahpahaman dan penyalagunaan karunia-karunia roh. Bagi pihak Gereja agar memberikan pemahaman kepada seluruh anggota jemaat agar turut mengambil bagian dalam ibadat persekutuan doa dengan baik tanpa membuat sesuatu hal baru yang tidak diinginkan oleh gereja. Bagi pihak persekutuan doa terus menjadi berkat bagi sesama dalam hal pengajaran firman Tuhan, saling mendukung dan menguatkan dalam doa dan kesaksian nyata sehingga membawa perubahan hidup bagi orang lain. Bagi pihak jemaat, agar dengan sungguh-sungguh mengikuti palayanan dalam persekutuan doa, yang juga merupakan wadah untuk membimbing jemaat untuk bertumbuh dalam iman yang teguh kepada Tuhan dan lebih lagi dekat kepada Tuhan sebagai juruselamat dalam kehidupan setiap orang percaya Kata kunci : Jemaat, Persekutuan Doa, manfaat dan kelemahan persekutuan doa. * Mahasiswa ** Dosen Pembimbing *** Dosen Pembimbing II

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

“TRADISI MASEKEN” Suatu Tinjuan Teologis Kristen Terhadap Tradisi Dorong-mendorong Peti Jenazah di Jemaat Oemathonis Bobok

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK TRADISI MASEKEN-SUATU TINJAUAN TEOLOGIS KRISTEN TERHADAP TRADISI DORONG-MENDORONG PETI JENAZAH DI JEMAAT OEMATHONIS BOBOK Penelitian yang penulis lakukan mengangkat sebuah tema Tradisi Maseken, dengan sub-tema Suatu Tinjuan Teologis Kristen Terhadap Tradisi Dorong-mendorong Peti Jenazah di Jemaat Oemathonis Bobok. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library) dan penelitian lapangan (Field Research) bersifat deskriptis kualitatif dengan menggunakan pendekatan teologi, dan fenomologi. Sumber data penelitian ini adalah jemaat Oemathonis Bobok, klasis Amanatun Selatan dan pelaksanaan tradisi maseken. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, 1) Proses tradisi Maseken sangat berbeda dengan proses penguburan jenazah pada umumnya di mana tradisi Maseken ini menggunakan kegiatan dorong-mendorong peti Jenazah di sepanjang perjalanan menuju liang kubur. 2) Pemahaman jemaat Oemathonis Bobok terhadap tradisi Maseken beragam namun tidak Alkitabiah dan mengandung unsur bersifat mitos. 3) Perspektif teologis terhadap tradisi Maseken, dalam hal kepercayaan perlu adanya pembicaraan ulang yang baik untuk meluruskan pemahaman Jemaat Oemathonis Bobok, serta memberi makna yang lebih teologis sesuai dengan pelaksanaannya yang dalam lingkup agama. Implikasi dalam kajian ini adalah: 1) Dalam pelaksanaan tradisi Maseken perlu untuk melakukan peninjauan ulang mengenai serangkaian acara dalam tradisi tersebut serta pemaknaan dari tradisi Maseken tersebut. Baik dari segi aspek tingkah laku maupun kepercayaan, agar tidak terjadi pertentangan antara agama, dan tingkah laku dalam tradisi. 2) Antara agama dan tradisi masyarakat dalam lingkungan setempat harus selalu sejalan, karena agama seharusnya dijadikan sebagai pedoman hidup yang dapat diinterpretasikan dalam beberapa nilai tradisi yang berlaku. Tujuan penulis melakukan kajian ini adalah untuk mengembalikan kesadaran jemaat tentang segala sesuatu yang dilaksanakan dalam siklus kehidupan (termasuk dalam hal kematian) harus dengan pemaknaan yang sesuai dengan ajaran agama Kristen. Dan lagi, untuk mengedepankan pengajaran yang berdasarkan pada ajaran-ajaran yang Kristiani.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN SAKSI SESUDAH PERNIKAHAN KUDUS DI JEMAAT GMIT SONHALAN AJAOBAKI KLASIS MOLLO UTARA

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pernikahan merupakan kenyataan yang melibatkan masyarakat luas, baik sanak saudara maupun tetangga dan kenalan. Masyarakat ikut campur dalam urusan pernikahan, karena mereka berkepentingan dalam keutuhan kehidupan keluarga, sebab keluarga adalah sel masyarakat. Tugas saksi adalah membimbing dan mengawasi pasangan nikah untuk tetap berkomitmen dengan janji yang telah mereka ikrarkan dihadapan Tuhan dan JemaatNya, sehingga untuk menjadi saksi harus sesuai dengan ketentuan GMIT. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Peran Saksi Nikah sesudah Pernikahan Kudus Di Jemaat GMIT Sonhalan Ajaobaki? Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui Peran Saksi Nikah Sesudah Pernikahan Kudus di Jemaat GMIT Sonhalan Ajaobaki dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan dipaparkan hasilnya secara deskriptif, informannya adalah orang tua saksi Saksi nikah berjumlah 10 orang dari tahun 2002 sampai sekarang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa, peran saksi nikah di Jemaat Sonhalan Ajaobaki belum berjalan secara optimal, oleh karena kurangnya pemahaman dari saksi nikah tentang tugas dan tanggung jawab serta perannya sebagai orang tua saksi. Kendala lain yang dialami yakni kurangnya komunikasi antara pasangan nikah dengan saksi nikah dikarenakan kesibukan masing-masing sehingga pelaksanaan peran tugas dan tanggung jawab tidak berjalan secara baik. Di lain pihak Gereja kurang berperan dalam memberikan bimbingan dan informasi berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan, sehingga yang terjadi pemilihan saksi pernikahan hanya berdasarkan kenalan, orang yang memiliki posisi atau jabatan yang tinggi di dalam masyarakat tanpa memperhatikan spiritual dan teladan yang baik serta tidak sesuai dengan saksi yang diharapkan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pelayan Yang Berbuah

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jemaat Kota Kupang berdiri pada tahun 1871. Jemaat Kota Kupang merupakan salah satu jemaat dalam lingkung Klasis Kota Kupang yang memiliki jemaat dan wilayah pelayanan yang besar. Saat ini jemaat Kota Kupang memiliki lebih dari 490 presbiter yang membantu pelayanan Jemaat Kota Kupang. Dari banyaknya presbiter yang dimiliki, beberapa presbiter Jemaat Kota Kupang tidak menjalankan fungsi pelayanannya dengan baik. Selain itu juga, mereka yang diharapkan menjadi teladan di tengah-tengah jemaat justru menjadi pemicu beberapa presoalan berkaitan dengan gaya hidup mereka yang berjudi, suka mabuk- mabukan dan lalai dalam tugas. Berkaitan dengan persoalan ini, penulis mencoba menganalisa Injil Lukas 13:6-9 dengan menggunakan tinjauan naratif untuk melihat implikasi teks ini terhadap kehidupan pelayanan Jemaat Kota Kupang. Hasil dari analisa penulis menunjukan bahwa sebagai pelayanan yang dikhususkan, kita harus menujukan sikap hidup yang memberi dampak kepada orang lain. Akan tetapi, para pelayanan Jemaat Kota Kupang justru seperti pohon ara dalam kebun anggur yang tidak menghasilkan buah yang dapat dinikmati. Perilaku hidup yang ditunjukan oleh para presbiter tidak mencerminkan buah-buah roh, terutama buah kasih, sukacita, damai sejahteraan, kesetian, dan penguasaan diri. Dengan demikian, perlu ada sebuah kode etik yang ditetapkan gereja terkait para presbiter sebagaimana pendeta. Pengawasan terhadap proses penjaringan presbiter juga perlu diperketat guna memastikan bahwa presbiter yang terpilih memenuhi kode etik yang ada.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kristus Tidak Terbagi-bagi

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK KRISTUS TIDAK TERBAGI-BAGI FAKULTAS TEOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN ARTHA WACANA KUPANG Semri Anderias Fanmey Email. [email protected] Masalah pokok yang dikaji dalam skripsi ini adalah realita di mana terjadinya perpecahan dalam jemaat mata jemaat GMIT Elim Nenas. Jemaat tersebut terpecah-pecah oleh karena adanya perselisihan pendapat, sikap mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok tertentu, tidak saling mengasihi sebagai saudara seiman serta pengkultusan pemimpin. Berdasarkan masalah-masalah tersebut, jemaat terbagi-bagi dalam empat kubuh. Melihat persoalan yang terjadi, penulis tertarik untuk menafsirkan teks surat 1 Korintus 1:10-13 yang juga membahas mengenai perpecahan dalam jemaat, di mana dalam jemaat Korintus pun terjadi perpecahan dan terbagi-bagi dalam 4 golongan, antaranya golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas dan golongan kristus, berdasarkan realita perpecahan yang terjadi, Paulus memberikan nasihat kepada jemaat korintus untuk menjaga persatuan dengan harus seia sekata dan sepikir sependapat agar dapat mengendalikan potensi perpecahan dalam jemaat. Hal-hal ini akan nampak melalui tafsiran surat Korintus 1:10-13. Untuk menemukan kerygma dalam teks ini, penulis menafsirkannya menggunakan metode historis kritis, yaitu menggali sejarah terbentuknya teks dan menemukan maksud serta tujuan yang mendasari peristiwa dalam teks Korintus 1:10-13 ini. Penulis menemukan dua pokok kerygma yaitu kasih Kristus yang utuh merupakan dasar persekutuan dan menjaga persekutuan sebagai saudara seiman. Kedua kerygma ini memberi penjelasan bahwa persekutuan sebagai jemaat yang dibangun dalam tubuh Kristus, perlu dijaga keutuhannya agar jemaat tidak boleh terpecah-pecah, serta refleksi teologisnya bagi mata jemaat GMIT Elim Nenas.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perbuatan Sebagai Akta Iman

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Iman adalah keyakinan akan adanya Allah dan percaya dengan sungguh bahwa Allah adalah benar. Iman berkaitan dengan batin seseorang karena itu iman tidak dapat terlihat dengan jelas oleh siapapun kecuali Allah. Sedangkan, perbuatan adalah tindakan, kelakukan atau tingkah laku. Perbuatan seseorang dapat terlihat dengan jelas oleh orang lain. Dewasa ini, kehidupan anggota jemaat GMIT belum menampakkan teladan hidup yang sesuai dengan identitasnya sebagai orang percaya. Menjadi persoalan ialah anggota jemaat GMIT masih keliru terkait hubungan iman dan perbuatan yang dinilai sebagai dua hal yang dapat dipisahkan. Orang yang telah mengaku percaya kepada Allah tidak perlu lagi melakukan perbuatan baik dan sebaliknya. Untuk itu, tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui teologi dan kerygma dari surat Yakobus mengenai iman dan perbuatan dan implikasinya bagi kehidupan praktis jemaat GMIT. Metodologi yang digunakan di antaranya mencakup dua hal yaitu metodologi penulisan dan metodologi penelitian. Metodologi penulisan menggunakan metode deskriptif-analisis-reflektif dengan tujuan mengumpulkan data melalui kajian pustaka yang kemudian memberikan refleksi dan implikasi teologi surat Yakobus. Sedangkan metodologi penelitian menggunakan penelitian kualitatif dan metode studi pustaka dengan memperhatikan literatur yang telah ada untuk mengkaji teologi dan menemukan informasi-informasi serta realitas kehidupan anggota jemaat GMIT. Hasil dari kajian ini menggambarkan bahwa surat Yakobus merupakan salah satu surat yang dapat memberikan jawaban atas persoalan masa kini. Teologi surat Yakobus yang membahas mengenai iman dan perbuatan dapat diaplikasikan dalam kehidupan anggota jemaat GMIT. Oleh karena itu, surat Yakobus dapat memberikan jawaban praktis terkait permasalahan anggota jemaat GMIT. Bagi Yakobus iman yang sejati harus melahirkan perbuatan yang praktis. Iman sebagai kepercayaan kepada Allah harus melahirkan perbuatan baik kepada sesama. Sebagai anggota jemaat GMIT yang hidup di masa kini harus menampilkan iman kepada Allah melalui perbuatan baik kepada sesama seperti dengan cara tidak melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, membunuh, melakukan penipuan, menghindari diri dari penggunaan narkoba dan tindakan tawuran. Selain daripada itu, anggota jemaat GMIT juga tidak boleh kompromi terhadap dosa apalagi menganggap sepele dosa yang dilakukan. Dengan demikian perbuatan baik yang dengan praktis dapat dilakukan oleh anggota jemaat GMIT ialah menolong sesama yang sedang berkesusahan, menjaga mulut dari perkataan yang sia-sia dan bohong, serta menjaga diri dari hawa napsu untuk melakukan dosa seperti melakukan hubungan seks sebelum nikah hingga tidak terjerumus dalam dosa narkotika.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENYEBAB RENDAHNYA TINGKAT KEHADIRAN JEMAAT PADA KEBAKTIAN UTAMA DI GEREJA GMIT GOLGOTA MARENA TAHUN 2021

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Penyebab Rendahnya Tingkat Kehadiran Jemaat Pada Kebaktian Utama Di Gereja Golgota Marena Tahun 2021. Lokasi penelitian ini dilakukan di Gereja Golgota Marena Klasis Amarasi Barat. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh warga jemaat Golgota Marena secara keseluruhan berjumlah 188 orang, maka mengingat keterbatasan banyaknya populasi maka sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 20 orang jemaat. Untuk pengumpulan data penulis menggunakan wawancara dan angket.Dari hasil pengolahan data dan analisis, penulis menarik kesimpulan bahwa satuan majelis jemaat dan jemaat Golgota Marena dalam pelaksaan kegiatan kebaktian belum sesuai, kurangnya semangat jemaat mengikuti kebaktian utama hari minggu karna banyaknya alasan yang berbeda-beda.Faktor internal: salah satunya adalah (1)kesibukan, jemaat Golgota Marena sebagian besar petani sehingga mereka sibuk mengurus ladang dan juga memelihara ternak ini adalah salah satu penyebab mereka sehingga tidak mengambil bagian dalam kebaktian. (2) jarak tempuh/kesehatan,merupakan faktor utama bagi mereka karna usia yang sudah tua di samping itu juga mengalami gangguan kesehatan.Faktor eksternal: (1) adanya pengaruh dari lingkungan sekitar yang mempengaruhi semangat kehadiran jemaat dalam mengikuti kebaktian utama hari minggu. (2) Ekonomi berhubungan dengan tidak adanya uang persembahan/kolekte yang mambuat jemaat merasa minder untuk tidak mengikuti kebaktian. (3) Relasi Sosial menunjukan hubungandan komonikasi antar sesama manusia,jemaat tidak hadir dalam kebaktian karna tidak memiliki hubungan yang baik antar sesama jemaat ataupun dengan majelis jemaat. (4) Kunjungan Pastoral, jemaat meresa kurangnya motivasi dari dari Pdt dan majelis jemaat sehingga mereka mengabaikan dan tidak hadir dalam kebaktian minggu.Oleh karena itu, penulis memberikan saran agar gereja/Pdt dan majelis jemaat terus berperan dan memperhatikan, mengarahkan serta memberikan pemahaman kepada warga jemaat supaya mereka bisa menghilangkan kebiasan/alasan-alasan mereka sehingga bisa mengikuti kebaktian minggu.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Spiritualitas Generasi Sandwich : Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Spiritualitas Generasi Sandwich dan Implikasinya bagi Jemaat Sesawi Oepura

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini menelaah spiritualitas generasi sandwich di Jemaat GMIT Sesawi Oepura serta implikasinya bagi pelayanan gereja melalui tinjauan teologis. Generasi sandwich dipahami sebagai individu usia produktif yang memikul tanggung jawab ganda secara simultan dan berkelanjutan: menopang orang tua lanjut usia sekaligus anak/adik/kerabat yang belum mandiri, sehingga rentan mengalami tekanan ekonomi, kelelahan fisik, dan beban emosional yang dapat memengaruhi kehidupan iman. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana warga jemaat memaknai pergumulan tersebut sebagai pengalaman spiritual, bukan semata persoalan sosial-ekonomi. Penelitian menggunakan metode kualitatif lapangan dengan teknik wawancara semi-terstruktur dan studi dokumen. Partisipan dipilih secara purposive (usia 25–45 tahun, bekerja, memiliki tanggungan lintas generasi, dan merupakan anggota Jemaat GMIT Sesawi Oepura). Analisis menggunakan kerangka spiritualitas Sandra M. Schneiders yang menekankan integrasi dimensi personal-internal, relasional-komunal, praksis keseharian, dan hermeneutik pemaknaan pengalaman. Hasil menunjukkan bahwa spiritualitas generasi sandwich di jemaat ini cenderung berwujud sebagai “spiritualitas resiliensi”: iman yang bertahan di tengah keterbatasan, tampil dalam kesetiaan menjalankan tanggung jawab, doa yang lahir dari situasi krisis, serta pengharapan akan penyertaan Allah meski disertai keluhan, rasa bersalah, bahkan kemarahan kepada Tuhan. Gereja dipandang membantu melalui ibadah rumah tangga dan diakonia, namun dibutuhkan pendampingan pastoral yang lebih peka terhadap ritme kerja, beban psikospiritual, dan kebutuhan batasan diri. Penelitian ini merekomendasikan penguatan komunitas dukungan, konseling pastoral kontekstual, dan praksis gerejawi yang mengafirmasi pengalaman generasi sandwich sebagai ruang perjumpaan dengan Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STRUKTUR DAN IKLIM ORGANISASI JEMAAT: Suatu Tinjauan Pembangunan Jemaat terhadap Struktur dan Iklim dalam Pelayanan di Jemaat GMIT Dale Sue Kenamoen, Klasis Rote Timur

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari persoalan rendahnya partisipasi jemaat dalam pelayanan di Jemaat GMIT Dale Sue Kenamoen, Klasis Rote Timur, yang berkaitan erat dengan pola relasi dalam struktur organisasi majelis jemaat serta iklim pelayanan yang terbentuk. Dalam konteks sosial pedesaan dengan karakter komunikasi yang terbuka dan keras, muncul dominasi pihak tertentu dalam kepemimpinan, sikap otoriter dalam komunikasi, serta kecenderungan jemaat untuk bersikap pasif dan enggan menyampaikan pendapat dalam forum gerejawi. Situasi ini bertentangan dengan tujuan pembangunan jemaat yang partisipatif dan prinsip penataan organisasi GMIT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konteks sosial-budaya dan organisatoris Jemaat GMIT Dale Sue Kenamoen, menganalisis struktur organisasi serta dampak relasi dalam majelis jemaat terhadap iklim pelayanan dan partisipasi warga jemaat, serta merumuskan refleksi teologis pembangunan jemaat terhadap realitas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap sejumlah informan yang terdiri dari pendeta, majelis jemaat, dan anggota jemaat, serta didukung dengan dokumen gerejawi. Validitas data dibuktikan melalui triangulasi sumber dan analisis tematik berdasarkan tahapan dalam pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur organisasi yang secara formal bersifat partisipatif dalam praktiknya dipengaruhi oleh relasi yang timpang, komunikasi yang keras, serta pemutlakan tipe relasi tertentu sebagaimana dikritisi dalam teori Jan Hendriks. Kondisi ini membentuk iklim pelayanan yang kurang dialogis, menghambat keterlibatan jemaat, serta melemahkan vitalitas pelayanan gereja. Penelitian ini menegaskan bahwa pembangunan jemaat yang sehat menuntut penataan struktur dan iklim pelayanan yang menempatkan jemaat sebagai subjek, mengembangkan kepemimpinan yang kolaboratif, serta membuka ruang partisipasi sebagai wujud karya Allah dalam membangun gereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KADERISASI PEMUDA-PEMUDI DALAM GEREJA: Suatu Tinjauan Pembangunan Jemaat Terhadap Upaya Kaderisasi Pemuda-Pemudi Melalui Program Aksi Paskah Dan Natal Di Jemaat GMIT Golgota Alak Serta Implikasinya Bagi Pelayanan Gereja Masa Kini

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kaderisasi pemuda-pemudi merupakan kebutuhan mendasar gereja dalam menjaga keberlanjutan pelayanan dan kehidupan bergereja. Di tengah tantangan sekularisme yang semakin memengaruhi cara pandang, minat, dan keterlibatan pemuda-pemudi dalam kehidupan bergereja, gereja dituntut untuk merefleksikan secara teologis upaya kaderisasi yang kontekstual dan berkelanjutan. Pemuda-pemudi dipahami bukan hanya sebagai penerima pelayanan, tetapi sebagai subjek yang memiliki potensi untuk dibina dalam iman, karakter, dan kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan mengkaji upaya kaderisasi pemuda-pemudi melalui program Aksi Paskah dan Natal di Jemaat GMIT Golgota Alak dalam perspektif pembangunan jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Appreciative Inquiry yang menekankan penggalian pengalaman positif dan potensi jemaat melalui tahapan Discover, Dream, Design, dan Destiny. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi dengan melibatkan pemuda-pemudi serta Majelis Jemaat. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan reflektif untuk memahami dinamika kaderisasi yang berlangsung dalam kehidupan jemaat. Kemudian, data disajikan dalam bentuk deskripsi naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Aksi Paskah dan Natal menjadi ruang pembelajaran yang penting bagi pemuda-pemudi dalam mengembangkan keterampilan pelayanan, kerja sama, serta rasa memiliki terhadap pelayanan gereja. Keterlibatan aktif dalam liturgi, pewartaan firman, dan pengelolaan kegiatan memberikan pengalaman konkret hidup bergereja. Namun, proses kaderisasi masih bersifat periodik dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam perencanaan pembangunan jemaat jangka panjang. Penelitian ini menegaskan bahwa refleksi teologis atas praktik kaderisasi diperlukan agar gereja mampu merespons tantangan sekularisme secara sadar, menata pembinaan pemuda-pemudi secara terarah, dan menghadirkan kaderisasi yang berkesinambungan demi keberlanjutan pelayanan gereja masa kini dan masa depan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SINERGI PELAYANAN MELALUI KEMITRAAN GEREJA DENGAN KOMUNITAS PROFESIONAL SINERGI INDONESIA (PROSI) “Tinjauan Pembangunan Jemaat berbasis Appreciative Inquiry di GMIT Hosana Hane, Klasis SoE”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pembangunan jemaat merupakan bagian integral dari panggilan gereja untuk menumbuhkan kehidupan iman yang dewasa, partisipatif, dan kontekstual, namun dalam praktiknya sering kali masih berangkat dari pendekatan yang menekankan persoalan dan kekurangan sehingga potensi jemaat kurang dioptimalkan secara maksimal. Kondisi ini juga tampak dalam kehidupan Jemaat GMIT Hosana Hane yang sesungguhnya memiliki kekayaan potensi sosial, ekonomi, dan budaya, tetapi belum sepenuhnya dikembangkan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini berangkat dari persoalan mengenai bagaimana konteks sosial-ekonomi jemaat melatarbelakangi praktik kemitraan dengan komunitas Prosi, bagaimana praktik kemitraan tersebut dipahami dalam kerangka pembangunan jemaat berbasis Appreciative Inquiry, serta bagaimana kemitraan itu direfleksikan secara teologis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks kehidupan Jemaat GMIT Hosana Hane, menganalisis praktik kemitraan gereja dengan komunitas Prosi sebagai bagian dari pembangunan jemaat berbasis Appreciative Inquiry, serta merefleksikannya secara teologis dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen, yang dianalisis secara deskriptif-analitis dan refleksi teologis berdasarkan teori pembangunan jemaat Jan Hendriks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemitraan antara GMIT Hosana Hane dan komunitas Prosi menjadi sarana pembangunan jemaat yang bersifat partisipatif dan transformatif, di mana pendekatan Appreciative Inquiry menolong jemaat untuk mengenali serta mengembangkan potensi yang telah dimiliki sebagai aset pembangunan, sehingga jemaat semakin diposisikan sebagai subjek yang berdaya dalam membangun kehidupan iman, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN PASTORAL BAGI PEMUDA Tinjauan Teologi terhadap Peran Gereja bagi Pemuda Burnout di Jemaat GMIT Siloam Battuna, Klasis Amarasi Barat

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan rohani yang dapat dialami oleh pemuda gereja akibat tuntutan pelayanan yang intens serta tekanan pekerjaan dan tanggung jawab kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum Jemaat GMIT Siloam Battuna, mengkaji peran pastoral gereja bagi pemuda yang mengalami burnout, serta menelaah masalah burnout tersebut dari perspektif konseling pastoral. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 103 pemuda yang menjadi responden, terdapat 9 orang pemuda yang mengalami gejala burnout. Gejala tersebut meliputi kelelahan fisik dan emosional, menurunnya semangat dan motivasi dalam pelayanan, kecenderungan menarik diri dari persekutuan, serta gangguan dalam kehidupan sosial dan spiritual. Burnout yang dialami pemuda disebabkan oleh faktor internal, seperti kesulitan mengelola stres dan membagi waktu, serta faktor eksternal, seperti beban pelayanan gereja, tuntutan pekerjaan, dan tekanan ekonomi keluarga. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemuda yang mengalami burnout umumnya belum mendapatkan pendampingan pastoral yang mendalam dan spesifik dari gereja. Analisis pastoral memperlihatkan adanya kesenjangan antara kebutuhan pemuda yang mengalami burnout dengan pelayanan gereja yang tersedia, yang masih bersifat umum. Tinjauan konseling pastoral dan pandangan Alkitab menegaskan bahwa burnout bukanlah kelemahan iman, melainkan kondisi manusiawi yang membutuhkan pemulihan holistik. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk menghadirkan pendampingan pastoral yang empatik, pembinaan spiritual yang seimbang, serta penataan pelayanan yang menghargai keterbatasan manusia demi kesejahteraan pemuda sebagai generasi penerus jemaat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN PEREMPUAN DALAM GEREJA: "Suatu Kajian Naratif terhadap Teks Kisah Para Rasul 18:24-28 dan Relevansinya bagi Pelayanan Pendeta Perempuan di Jemaat GMIT Hosana Fedok, Klasis Rote Barat".

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Peran perempuan dalam kehidupan dan pelayanan gereja merupakan isu yang terus menjadi bahan refleksi teologis hingga masa kini. Dalam sejarah gereja, kontribusi perempuan sering kali kurang mendapat perhatian yang memadai, terutama dalam konteks kepemimpinan dan pengajaran rohani. Padahal, Alkitab memuat sejumlah narasi yang menunjukkan keterlibatan aktif perempuan dalam pelayanan gereja mula-mula. Salah satu teks yang penting untuk dikaji adalah Kisah Para Rasul 18:24-28, yang menampilkan peran Priskila dalam membimbing Apolos agar memahami ajaran Injil secara lebih utuh. Teks ini memberikan dasar biblis yang kuat untuk melihat perempuan bukan sekadar sebagai pendamping, melainkan sebagai pelayan firman dan pembina iman yang dipercaya Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pesan teologis dari Kisah Para Rasul 18:24-28 melalui pendekatan tafsir naratif, serta menelusuri relevansinya bagi pelayanan pendeta perempuan di Jemaat GMIT Hosana Fedok, Klasis Rote Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yang menekankan analisis naratif terhadap unsur-unsur teks seperti alur cerita, tokoh, latar, dan pesan teologis yang dihasilkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlibatan Priskila dalam pengajaran Apolos menegaskan bahwa otoritas pelayanan dalam gereja tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh panggilan dan perlengkapan dari Allah. Narasi ini memperlihatkan bahwa Allah secara berdaulat memakai perempuan sebagai subjek aktif dalam pelayanan rohani. Temuan ini menjadi sangat relevan dengan konteks Jemaat GMIT Hosana Fedok, di mana pelayanan kependetaan didominasi oleh pendeta perempuan dan telah menjadi bagian alami dari dinamika kehidupan jemaat. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan pendeta perempuan di Jemaat GMIT Hosana Fedok bukanlah penyimpangan dari tatanan gereja, melainkan perwujudan nyata dari prinsip kesetaraan dan kemitraan dalam tubuh Kristus sebagaimana telah dihidupi sejak gereja mula-mula. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya refleksi teologis gereja serta memperkuat pemahaman jemaat tentang peran perempuan dalam pelayanan dan pengajaran iman.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SPIRITUALITAS KOTA Suatu Tinjauan Teologi terhadap Pemikiran Spiritualitas Kota Menurut Philip Sheldrake dan Relevansinya bagi GKS Jemaat Manubara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kehidupan perkotaan ditandai oleh dinamika sosial yang kompleks, keberagaman latar belakang manusia, serta tekanan ekonomi dan budaya yang kuat. Realitas ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi juga dapat membentuk spiritualitas umat beriman yang hidup di dalamnya. Skripsi ini mengkaji pemikiran spiritualitas kota menurut Philip Sheldrake dan penulis merefleksikan relevansinya bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang hidup dalam konteks perkotaan di Kota Waingapu. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana kota dapat dipahami sebagai ruang teologis dan spiritual, serta bagaimana pemikiran Sheldrake dapat menolong gereja membangun spiritualitas jemaat di tengah tantangan kehidupan kota.Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pemikiran Philip Sheldrake mengenai spiritualitas kota, untuk menganalisis kota sebagai ruang relasional dan ruang publik teologis, serta untuk menemukan relevansi nilai-nilai spiritualitas kota tersebut bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang didominasi oleh jemaat pendatang dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh dan kajian kepustakaan, yang dilengkapi dengan penelitian lapangan melalui wawancara. Kajian kepustakaan digunakan untuk menelaah pemikiran Sheldrake, sementara data lapangan digunakan untuk memahami realitas konkret kehidupan jemaat Manubara dalam konteks perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Philip Sheldrake, kota bukan sekadar ruang geografis atau material, melainkan ruang relasional yang membentuk identitas, iman, dan spiritualitas manusia. Kota memiliki potensi besar sebagai ruang pembentukan komunitas iman yang inklusif, tetapi juga mengandung risiko individualisme dan keterasingan. Dalam konteks GKS Jemaat Manubara, tekanan ekonomi, kesibukan kerja, dan perbedaan latar belakang sering kali melemahkan relasi antarjemaat yang menjadi bentuk dari praktik spiritualitas. Oleh karena itu, pemikiran Sheldrake relevan untuk menolong gereja memaknai kota sebagai ruang panggilan iman, tempat spiritualitas jemaat bertumbuh melalui relasi, solidaritas, dan kesaksian hidup di tengah kehidupan kota.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA DAN PEMBANGUNAN EKONOMI JEMAAT Suatu Tinjauan Teologis Pembangunan Jemaat Terhadap Pemanfaatan Anggur Dadibira untuk Pembangunan Ekonomi Jemaat di GMIT Elim Dadibira

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat GMIT Elim Dadibira dan berangkat dari realitas ekonomi jemaat yang ditandai oleh keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal, ketergantungan pada sumber daya alam, serta kerentanan ekonomi kelompok tertentu, khususnya para janda. Dalam konteks tersebut, gereja berupaya mengembangkan pembangunan ekonomi jemaat melalui pemanfaatan Anggur Dadibira sebagai usaha pemberdayaan berbasis potensi lokal. Persoalan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana pembangunan ekonomi jemaat melalui Anggur Dadibira dipahami dan direfleksikan secara teologis sebagai bagian dari panggilan gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pembangunan ekonomi jemaat di GMIT Elim Dadibira serta merefleksikannya dalam terang teologi pembangunan jemaat dan kesaksian Alkitab. Kerangka teoretis yang digunakan meliputi pemikiran pembangunan jemaat dari van Hooijdonk, Jan Hendriks, dan Rob van Kessel, serta refleksi teologis mengenai iman, keadilan, dan tanggung jawab komunal menurut J. B. Banawiratma dan Vinay Samuel bersama Chris Sudgen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan yang didukung oleh studi kepustakaan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Anggur Dadibira tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai praksis iman yang menghadirkan solidaritas, partisipasi, dan pemberdayaan jemaat. Secara teologis, pembangunan ekonomi jemaat dipahami sebagai bagian dari panggilan gereja untuk menghadirkan kehidupan yang lebih adil, bermartabat, dan berkelanjutan bagi seluruh anggota jemaat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PASTORAL YANG PARTISIPATIF: Suatu Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Model Perkunjungan Pastoral di Jemaat GMIT Pniel Oetua Klasis Amanuban Timur

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelayanan pastoral merupakan wujud konkret kehadiran gereja dalam mendampingi kehidupan iman jemaat secara holistik. Namun, dalam realitas pelayanan di Jemaat GMIT Pniel Oetua Klasis Amanuban Timur, praktik pastoral, khususnya perkunjungan pastoral masih cenderung bersifat pendeta-sentris dan belum melibatkan majelis jemaat secara optimal. Kondisi ini menimbulkan keterbatasan jangkauan pelayanan, lemahnya partisipasi jemaat, serta ketergantungan yang tinggi terhadap figur pendeta. Berdasarkan realitas tersebut, pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana gambaran konteks Jemaat GMIT Pniel Oetua, bagaimana realita model perkunjungan pastoral yang dijalankan, serta bagaimana tinjauan teologi pastoral dapat berimplikasi terhadap pengembangan model perkunjungan pastoral yang partisipatif. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan konteks kehidupan jemaat, menganalisis praktik perkunjungan pastoral yang berlangsung, serta merumuskan pemahaman teologi pastoral yang dapat menjadi dasar bagi pengembangan model perkunjungan pastoral yang melibatkan seluruh unsur pelayan jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap pendeta, penatua, diaken, dan pengajar jemaat, kemudian dianalisis secara deskriptif, analitis, dan reflektif dengan menggunakan perspektif teologi pastoral, khususnya pemikiran Eugene Peterson. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral di Jemaat GMIT Pniel Oetua masih dipahami sebagai tanggung jawab individual pendeta, sehingga peran majelis jemaat belum berfungsi secara maksimal. Melalui tinjauan teologi pastoral, penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan pastoral sejatinya merupakan tanggung jawab kolektif seluruh tubuh Kristus. Oleh karena itu, perkunjungan pastoral perlu dimaknai sebagai ruang persekutuan, pendampingan, dan penggembalaan bersama yang partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan. Model pastoral yang partisipatif ini diharapkan mampu memperkuat pemeliharaan iman jemaat serta menghadirkan gereja sebagai komunitas yang saling menggembalakan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HOMEMAKING Suatu Tinjauan Teologis terhadap Persekutuan Homemaking menurut Elizabeth F. Caldwell di Jemaat GMIT Pniel Sikumana, Klasis Kota, Kupang Barat.

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan jemaat GMIT Pniel Sikumana yang menghadapi tantangan dalam membangun persekutuan antargenerasi. Pembagian pelayanan ke dalam Unit Pembantu Pelayanan (UPP) dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan kategorial jemaat, namun dalam praktiknya kerap memunculkan jarak relasional, minimnya interaksi lintas generasi, serta kecenderungan pelayanan yang berjalan secara terpisah. Kondisi ini menimbulkan persoalan teologis mengenai sejauh mana gereja sungguh menghidupi koinonia sebagai persekutuan yang mencerminkan identitas gereja sebagai keluarga Allah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman dan pemaknaan warga jemaat GMIT Pniel Sikumana terhadap kehidupan persekutuan antargenerasi, serta merefleksikannya dalam terang teologi gereja sebagai rumah iman (homemaking) guna merumuskan implikasi teologis bagi kehidupan bergereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Metode ini dipilih untuk menaruh perhatian pada pengalaman hidup dan pemaknaan subjek penelitian terhadap realitas persekutuan jemaat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam (in-depth interview), dan studi dokumen terhadap dokumen gereja serta literatur yang relevan. Lokus penelitian adalah Jemaat GMIT Pniel Sikumana, Klasis Kota Kupang Barat. Informan berjumlah delapan orang yang dipilih melalui purposive sampling, terdiri dari pendeta, unsur kategorial jemaat, pengajar PART, dan lansia. Metode penulisan yang digunakan bersifat deskriptif, analitis, dan reflektif, dengan memanfaatkan kerangka teologis homemaking dari Elizabeth Caldwell sebagai alat analisis. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa kehidupan persekutuan jemaat masih menghadapi tantangan relasional antargenerasi, namun sekaligus menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Pendekatan homemaking menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi rumah bersama yang aman, inklusif, dan relasional, di mana setiap generasi hadir sebagai subjek yang saling membangun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa homemaking merupakan pendekatan teologis yang relevan untuk memperkuat koinonia dan memperkaya praksis kehidupan bergereja di GMIT Pniel Sikumana.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERTANIAN BERPINDAH Suatu Tinjauan Ekoteologi Terhadap Praktik Pertanian Bepindah Di Wilayah Jemaat GMIT Imanuel Manubelon, Serta Implikasinya Bagi Jemaat Imanuel Manubelon, Klasis Amfoang Selatan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tulisan berjudul “Pertanian Berpindah” oleh Sefnat Noel membahas praktik pertanian berpindah yang hingga kini masih dijalankan oleh Jemaat GMIT Imanuel Manubelon. Kajian ini bertolak dari realitas kehidupan jemaat yang menggantungkan pemenuhan kebutuhan hidup terutama pada sektor pertanian. Pertanian berpindah tidak semata-mata dipahami sebagai kegiatan ekonomi, melainkan juga sebagai praktik sosial, kultural, dan religius yang telah mengakar dalam kehidupan jemaat secara turun-temurun. Oleh sebab itu, praktik ini tidak dapat dilepaskan dari konteks historis, geografis, dan sosial masyarakat setempat. Fokus kajian diarahkan pada dinamika pertanian berpindah yang mengandung ketegangan antara manfaat dan dampaknya. Di satu pihak, praktik ini berkontribusi positif terhadap keberlangsungan ekonomi jemaat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan keluarga. Dalam kondisi terbatasnya lapangan kerja dan akses ekonomi, pertanian berpindah dipandang sebagai pilihan yang paling memungkinkan untuk menopang kehidupan sehari-hari. Selain itu, praktik ini juga memperkuat ikatan sosial karena pelaksanaannya kerap melibatkan kerja kolektif yang mempererat relasi antaranggota jemaat. Namun, di pihak lain, pertanian berpindah membawa konsekuensi ekologis yang cukup serius. Aktivitas penebangan hutan dan pembakaran lahan menyebabkan berkurangnya tutupan vegetasi, menurunnya kemampuan tanah menyerap air, serta menyusutnya sumber mata air. Dampak tersebut meningkatkan potensi banjir, mempercepat degradasi tanah, dan mengancam keberlangsungan berbagai jenis flora dan fauna, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kondisi jemaat sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan praktik pertanian berpindah. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dan observasi langsung, penelitian ini menemukan bahwa praktik tersebut dipertahankan karena faktor ekonomi, pemahaman iman tentang mandat pengelolaan alam, kebebasan dalam mengolah tanah, serta pandangan bahwa tanah harus dimanfaatkan demi kelangsungan hidup. Berdasarkan temuan tersebut, penulis menegaskan pentingnya pengelolaan alam yang bertanggung jawab dan relasi yang harmonis antara manusia dan alam sebagai wujud ketaatan kepada Allah, sekaligus sebagai kontribusi bagi refleksi ekoteologi kontekstual.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ZOAR BERSAKSI Suatu Tinjauan Teologi Sistematika terhadap Upaya Rekonstruksi Pemahaman Marturia serta Implikasinya bagi Pelayanan GMIT Zoar Penkase

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari realitas terbatasnya pemahaman jemaat GMIT Zoar Penkase tentang marturia, yang berdampak pada implementasi pelayanan bidang marturia yang belum optimal dan cenderung dipersempit dalam bentuk program marturia secara tertulis. Meskipun dalam pengamatan empiris Zoar telah melaksanakan berbagai aktivitas yang menunjukkan bahwa pelayanan marturia sudah dijalankan, tetapi dari pelayanan tersebut juga cenderung dipahami secara terbatas karena masih pada batasan-batasan tertentu. Situasi ini menjadi titik munculnya kesenjangan antara konsep teologis marturia dan praktik pelayanan di jemaat. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri pemahaman mengenai marturia, menganalisis dialog antara konsep teologis dan praktik pelayanan di jemaat, yang merefleksikan secara teologis serta implikasi praktis bagi pelayanan marturia yang lebih kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi partisipatif, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan pemahaman jemaat tentang marturia berdampak pada implementasi dari pelayanan marturia di gereja yang masih sempit. Dengan menggunakan beberapa kerangka teologi marturia salah satunya Moltmann menghasilkan tiga unsur konstruksi pemahaman yang profetis, kritis, dan transformasional dan GMIT Zoar masih terbatas menjalankan marturia yang terbatas pada dimensi profetis. Dalam penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan marturia tidak hanya terbatas pada perkataan, tetapi juga dalam tindakan nyata yang menyatakan keberpihakan kepada keadilan, solidaritas dengan yang tertindas, serta keterlibatan aktif gereja untuk menampilkan marturia yang profetis, kritis, dan transformasional. Rekonstruksi pemahaman menegaskan marturia merupakan tugas panggilan gereja yang integral dan harus dihidupi dengan kasih, solidaritas dalam konteks pelayanan marturia. Refleksi teologis yang sintesis dari perspektif perjanjian lama dan perjanjian baru menyatakan bahwa marturia tidak pernah netral, melainkan berakar pada kebenaran Allah, berhadapan dengan realitas ketidakadilan, dan mengarah pada pemulihan dan transformasi hidup bersama. Dengan demikian, implikasi bagi pelayanan di Zoar penkase, terletak pada bagaimana kehadiran gereja di dunia menjadi gereja yang bersaksi tidak hanya secara profetis, tetapi kritis dan transformasional.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail