ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berangkat dari realitas terbatasnya pemahaman jemaat GMIT Zoar Penkase tentang marturia, yang berdampak pada implementasi pelayanan bidang marturia yang belum optimal dan cenderung dipersempit dalam bentuk program marturia secara tertulis. Meskipun dalam pengamatan empiris Zoar telah melaksanakan berbagai aktivitas yang menunjukkan bahwa pelayanan marturia sudah dijalankan, tetapi dari pelayanan tersebut juga cenderung dipahami secara terbatas karena masih pada batasan-batasan tertentu. Situasi ini menjadi titik munculnya kesenjangan antara konsep teologis marturia dan praktik pelayanan di jemaat. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri pemahaman mengenai marturia, menganalisis dialog antara konsep teologis dan praktik pelayanan di jemaat, yang merefleksikan secara teologis serta implikasi praktis bagi pelayanan marturia yang lebih kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi partisipatif, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan pemahaman jemaat tentang marturia berdampak pada implementasi dari pelayanan marturia di gereja yang masih sempit. Dengan menggunakan beberapa kerangka teologi marturia salah satunya Moltmann menghasilkan tiga unsur konstruksi pemahaman yang profetis, kritis, dan transformasional dan GMIT Zoar masih terbatas menjalankan marturia yang terbatas pada dimensi profetis. Dalam penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan marturia tidak hanya terbatas pada perkataan, tetapi juga dalam tindakan nyata yang menyatakan keberpihakan kepada keadilan, solidaritas dengan yang tertindas, serta keterlibatan aktif gereja untuk menampilkan marturia yang profetis, kritis, dan transformasional. Rekonstruksi pemahaman menegaskan marturia merupakan tugas panggilan gereja yang integral dan harus dihidupi dengan kasih, solidaritas dalam konteks pelayanan marturia. Refleksi teologis yang sintesis dari perspektif perjanjian lama dan perjanjian baru menyatakan bahwa marturia tidak pernah netral, melainkan berakar pada kebenaran Allah, berhadapan dengan realitas ketidakadilan, dan mengarah pada pemulihan dan transformasi hidup bersama. Dengan demikian, implikasi bagi pelayanan di Zoar penkase, terletak pada bagaimana kehadiran gereja di dunia menjadi gereja yang bersaksi tidak hanya secara profetis, tetapi kritis dan transformasional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memahami pemahaman jemaat GMIT Sei’Eng terhadap program pelayanan Koinonia serta implikasinya bagi jemaat setempat. Koinonia, yang berarti persekutuan, adalah konsep penting dalam kehidupan berjemaat yang melibatkan kebersamaan dan saling melayani dalam kasih Kristus. Program pelayanan Koinonia di GMIT Sei’Eng mencakup berbagai jenis ibadah dan kegiatan, seperti ibadah Minggu, ibadah rumah tangga, ibadah kategorial, dan perayaan hari-hari besar gerejawi. Meskipun program-program ini bertujuan untuk memperkuat iman jemaat, partisipasi jemaat dalam kegiatan tersebut masih rendah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kesibukan pekerjaan, banyaknya program yang diadakan, dan kurangnya pemahaman mengenai tujuan dari setiap ibadah. Gereja berupaya meningkatkan partisipasi jemaat melalui pendekatan pastoral dan pengumuman jadwal ibadah, namun masih menghadapi tantangan dalam implementasinya. Pemahaman jemaat tentang Koinonia cukup baik, namun terdapat ketidakpuasan terkait banyaknya program yang diadakan dalam satu hari. GMIT memandang Koinonia sebagai persekutuan inklusif yang harus dikembangkan dalam semangat keterbukaan dan kesetaraan. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pemahaman jemaat terhadap program pelayanan Koinonia di pahamai cukup baik, diperlukan perhatian lebih dari pihak gereja untuk meningkatkan partisipasi dan efektivitas program pelayanan Koinonia. Ditinjau dari tujuan program pelayanan itu sendiri menurut GMIT bahwa program pelayanan yang dibuat perlu dipertimbangkan dengan baik, dengan melihat apakah program pelayanan yang direncanakan tersebut sesuai dengan kebutuhan jemaat ataukah sebaliknya. Apakah program tersebut membawa solusi atas pergumulan jemaat. Sehingga gereja perlu untuk mengevaluasi kembali setiap program pelayanan khususnya di bidang koinona yang telah dilaksanakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pergumulan hidup tiap-tiap orang, tentunya tidak terlepas dari yang namanya“Doa”. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam Cerita-cerita Teks Alkitab banyak menceritakan tentang cara dan kebiasaan orang Yahudi berdoa sesuai dengan ajaran Taurat. Tentunya Yesus pun sama dalam melakukan hal tersebut. Namun yang menarik ialah, cara dan gaya Yesus dalam cerita teks Markus 11:20-26 menceritakan dengan jelas bagaimana Yesus mengajarkan murid-murid tentang doa dengan suatu pemahaman yang baru tentang cara mereka berdoa. Cerita tentang kutukan Yesus terhadap pohon ara merupakan hal yang mengejutkan bagi para murid. Pohon ara yang tadinya merupakan lambang kejayaan bagi masyarakat Yahudi saat itu, dikutuk Yesus, dan pada akhirnya layu, kering dan mati. Bagaimana tidak, karena pohon ara yang merupakan simbol kehidupan dan jabatan orang Yahudi saat itu dikutuk Yesus begitu saja. Tentunya ada hal penting yang Yesus ingin tunjukan lewat tindakannya dengan menjadikan pohon ara sebagai persamaan dengan kehidupan para Imam dan Ahli Taurat pada saat itu, yang dimana mereka tidak memberi kehidupan bagi banyak orang dengan hanya berdaun lebat namun tidak memiliki buah, dan hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh para Imam dan Ahli Taurat. Mereka hanya menjalankan tugas dan peran mereka secara formalitas tanpa benar-benar hidup dan berbuah bagi sesame mereka dalam hal pelayanan mereka. Mereka hanya sibuk mengajar dan dengan kesombongan memamerkan kesombongan rohaniah mereka didepan umat. Tentunya ada pelajaran penting yang ingin Yesus berikan kepada para murid dan orang-orang Yahudi saat itu. Pertama, hidup harus bersumber pada akar yang menjadi sumber kehidupan bagi Pohon tersebut, dan tentunya dengan mnejadikan Yesus Kristus sebagai akar/sumber kehidupan, pohon itu akan terus hidup dan bertumbuh. Begitu dengan manusia dalam menjalani kehidupannya. Harus terus bergantung pada Yesus sebagai sumber kehidupan mereka. Yang berikut, ialah hidup menghasilkan buah.bukan hidup seperti kebiasaan para Imam dan Ahli Taurat yang hanya bermegah dalam jabatan mereka tanpa memberikan pengajaran yang baik dan benar bagi umat. Tentunya mereka sama saja dengan pohon ara yang tidak menghasilkan buah. Mereka harusnya ditebang dan dibuang kedalam Api, karena mereka tidak memiliki fungsi apa. Kedua, memanjatkan doa dengan keyakinan iman yang teguh pada Allah, yang di dalamnya percaya sepenuhnya kepada Allah bahwa doa tersebut akan terjawab. Ketiga, berdoa dengan tanpa memiliki rasa bimbang dan ragu dalam hati. Keempat, ketulusan hati dalam hal mengampuni. Mengampuni dengan tanpa terkecuali siapapun orang itu. Kehidupan kekristenan dimasa sekarang yang penuh dengan persoalan, tentunya menjadikan orang Kristen semakin setia membangun relasi mereka dengan Allah. Terbukti dalam kehidupan 2 tahun terakhir di tahun 2020 dan 2021, banyak orang Kristen semakin rajin bergereja karena sebelumnya gereja ditutup dari kebijakan pemerintah untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Kebijakan ini dikeluarkan dengan bentuk aturan yang dinamakan pembatasan social berskala besar (PSBB), dan juga Perberlakuan pembatasan kegiatan (PPKM) beberapa waktu akibat situasi pandemic Covid-19 yang terus meningkat. Ditambah dengan bencana Siklon tropis badai Seroja yang memporak-poranda sebagian besar wilayah NTT pada bulan April 2021, tentunya memberikan refleksi tersendiri bagi jemaat dalam bergumul dengan kehidupan mereka yang sejatinya mereka bawa dalam doa-doa mereka. Doa, sejatinya tidak hanya dibutuhkan pada saat-saat krisis seperti sekarang dan nasehat Yesus tentang doa sebagaimana dicatat dalam Markus 11:20-26 menjadi sangat penting. Dalam tulisan ini, penulis berupaya untuk mencari dan menemukan bagaimana seharusnya orang Kristen memahami doa-doa mereka dalam menjalani pergumulan hidup mereka yang penuh dengan tantangan dan persoalan. Dengan bertekun dalam doa, pada akhirnya, orang-orang Kristen akan menemukan harapan dan sukacita dalam segala situasi hidup mereka.