ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK KRISTUS TIDAK TERBAGI-BAGI FAKULTAS TEOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN ARTHA WACANA KUPANG Semri Anderias Fanmey Email. [email protected] Masalah pokok yang dikaji dalam skripsi ini adalah realita di mana terjadinya perpecahan dalam jemaat mata jemaat GMIT Elim Nenas. Jemaat tersebut terpecah-pecah oleh karena adanya perselisihan pendapat, sikap mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok tertentu, tidak saling mengasihi sebagai saudara seiman serta pengkultusan pemimpin. Berdasarkan masalah-masalah tersebut, jemaat terbagi-bagi dalam empat kubuh. Melihat persoalan yang terjadi, penulis tertarik untuk menafsirkan teks surat 1 Korintus 1:10-13 yang juga membahas mengenai perpecahan dalam jemaat, di mana dalam jemaat Korintus pun terjadi perpecahan dan terbagi-bagi dalam 4 golongan, antaranya golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas dan golongan kristus, berdasarkan realita perpecahan yang terjadi, Paulus memberikan nasihat kepada jemaat korintus untuk menjaga persatuan dengan harus seia sekata dan sepikir sependapat agar dapat mengendalikan potensi perpecahan dalam jemaat. Hal-hal ini akan nampak melalui tafsiran surat Korintus 1:10-13. Untuk menemukan kerygma dalam teks ini, penulis menafsirkannya menggunakan metode historis kritis, yaitu menggali sejarah terbentuknya teks dan menemukan maksud serta tujuan yang mendasari peristiwa dalam teks Korintus 1:10-13 ini. Penulis menemukan dua pokok kerygma yaitu kasih Kristus yang utuh merupakan dasar persekutuan dan menjaga persekutuan sebagai saudara seiman. Kedua kerygma ini memberi penjelasan bahwa persekutuan sebagai jemaat yang dibangun dalam tubuh Kristus, perlu dijaga keutuhannya agar jemaat tidak boleh terpecah-pecah, serta refleksi teologisnya bagi mata jemaat GMIT Elim Nenas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Dalam kehidupan bergereja, masih ada segelintir orang yang terjebak di dalam suatu sikap sinkretis karena terpaku kepada kebudayaan. Kebudayaan memang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia, namun dalam kebudayaan terdapat bagian-bagian yang bertentangan dengan sisi teologis Kekristenan, terkhususnya pada sistem kurban dalam kebudayaan yang dianggap masih perlu dan masih dapat dilakukan dengan mengacu pada sisi teologis. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman akan esensi dari kurban yang masih dilakukan jemaat, sehingga mereka dapat memahami secara teologis apa yang mereka lakukan. Di sini penulis menggunakan pendekatan tafsir Historis-Kritis terhadap teks Ibrani 9:11-14 dan menggunakan mix method sebagai bagian dalam proses penulisan sehingga tidak hanya melihat dari segi pustaka tetapi juga dari segi kehidupan jemaat. Setelah melakukan penafsiran dan menggali kerygma, penulis menemukan bahwa dalam teks yang ada, Kristus digambarkan sebagai seorang Imam Besar yang datang sebagai penggenap dan menjadi kurban yang hidup bagi perjanjian yang baru, sehingga dengan pemberian diri Kristus, manusia tidak lagi memerlukan pencurahan darah lain karena semuanya itu telah ada di dalam Kristus sebagai kurban yang final, akan tetapi dalam kebudayaan yang sulit untuk dirubah, perlu adanya reinterpretasi atau menggali esensi lain yang ada dalam sistem yang berbalut kebudayaan dan bagaimana kaitannya dengan Kristus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertolak dari realitas bahwa persekutuan jemaat sering kali dihadapkan pada persoalan ketidakharmonisan, konflik internal, dan kepentingan pribadi, seperti yang terjadi di Jemaat GMIT Bukit Kasih Baumata Barat. Kondisi ini menunjukkan perlunya pemaknaan kembali atas nilai-nilai persekutuan Kristen yang sejati sebagaimana diajarkan dalam Filipi 2:1-11. Dalam perikop ini, Rasul Paulus menasihatkan jemaat untuk hidup sehati sepikir, dalam kasih, kerendahan hati, dan tidak mementingkan diri sendiri, dengan menjadikan Kristus sebagai teladan utama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami konteks historis dan teologis dari teks Filipi 2:1-11, menggali kerygma yang terkandung di dalamnya, serta merumuskan implikasi teologis dan praktis bagi persekutuan jemaat GMIT Bukit Kasih. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis reflektif dengan pendekatan historis kritis serta studi pustaka yang diperkuat dengan data wawancara lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerygma utama dari Filipi 2:1-11 adalah panggilan kepada jemaat untuk merendahkan hati, menjadikan Kristus teladan utama dalam mewujudkan persekutuan, dan ketaatan dalam Kristus sebagai dasar persekutuan. Implikasi dari kerygma ini menegaskan bahwa persekutuan kristen harus dibangun atas dasar kasih, kerendahan hati, dan kesediaan untuk melayani, bukan atas dasar kepentingan pribadi atau status sosial.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji Ritus Pou Hari sebagai warisan budaya religius masyarakat pesisir Jemaat GMIT Imanuel Folbo, Klasis Alor Barat Laut. Ritus ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada penguasa laut yang diyakini sebagai leluhur, dan diwariskan turun-temurun sebagai bagian identitas budaya. Permasalahan teologis muncul karena praktik ini mengandung unsur pemujaan yang berpotensi bertentangan dengan kemurnian pengakuan iman Kristen kepada Kristus sebagai satu-satunya Tuhan. Kerangka teori yang digunakan adalah tipologi Kristus Melawan Kebudayaan dari H. Richard Niebuhr, yang menegaskan sikap tegas terhadap praktik budaya yang tidak sejalan dengan Injil, serta pendekatan teologi kontekstual untuk menafsirkan dan mengarahkan nilai positif budaya lokal agar selaras dengan iman Kristen. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Informan penelitian terdiri dari pemimpin ritus, peserta ritus, majelis jemaat, dan pendeta setempat. Data dianalisis untuk mengidentifikasi makna, fungsi, serta implikasi teologis ritus bagi kehidupan jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ritus Pou Hari memiliki makna religius, sosial, dan ekologis yang penting bagi masyarakat pesisir. Namun, unsur pemujaan kepada penguasa laut menimbulkan risiko sinkretisme. Gereja dipandang perlu mengembangkan pembinaan iman yang kontekstual, mengalihkan nilai positif ritus ke dalam bentuk ibadah syukur atau doa bersama yang berpusat pada Kristus, serta menciptakan liturgi kontekstual yang menjaga kemurnian iman. Refleksi teologi menegaskan panggilan gereja untuk menghargai konteks budaya sekaligus setia pada Injil, menjadi komunitas profetis yang membimbing jemaat menghormati laut sebagai ciptaan Allah tanpa terjebak dalam praktik yang bertentangan dengan iman Kristen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna teologis dan relevansi pastoral dari praktik doa tujuh bulan atau Nenem Teik dalam tradisi masyarakat Rote, khususnya di Jemaat GMIT Petra Lidamanu. Tradisi ini secara turun-temurun dijalankan oleh masyarakat sebagai bentuk ungkapan syukur dan permohonan perlindungan terhadap janin dan ibu yang mengandung. Dalam konteks kehidupan Kristen, praktik tersebut kerap dianggap problematis karena berakar pada kepercayaan adat yang belum sepenuhnya sejalan dengan doktrin iman Kristen. Namun demikian, penelitian ini menggunakan pendekatan teologi kontekstual, khususnya tipologi H. Richard Niebuhr tentang Christ Transforming Culture, yang membuka ruang bagi pemaknaan ulang budaya lokal dalam terang Injil. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan lapangan, ditemukan bahwa jemaat tidak serta-merta mempertahankan praktik ini sebagai bentuk kepercayaan tradisional, tetapi telah terjadi proses integrasi nilai-nilai kekristenan, seperti doa dalam nama Yesus, pembacaan Alkitab, dan pelibatan pelayan gereja dalam pelaksanaannya. Tradisi ini, ketika dimaknai dalam terang Kristus, menjadi sarana penguatan spiritualitas keluarga dan persekutuan umat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nenem Teik memiliki potensi teologis yang signifikan jika ditransformasi dengan hati-hati melalui pendampingan gerejawi dan pendidikan teologis kontekstual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan Kristus yang mengubah budaya adalah pendekatan yang tepat bagi gereja-gereja lokal di Nusa Tenggara Timur yang bergumul dengan praktik-praktik budaya yang kuat. Nenem Teik bukan sekadar ritus adat, tetapi dapat menjadi bentuk ibadah kontekstual yang bermakna, jika dituntun dan dimurnikan dalam terang Injil. Oleh karena itu, gereja, lembaga pendidikan teologi, dan pemerintah perlu bersinergi dalam mendampingi dan memberdayakan budaya lokal agar menjadi wadah kesaksian iman Kristen yang relevan dan berakar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak
Skripsi ini berjudul “Setiap Karunia untuk Kemuliaan Tuhan: Suatu Kajian Eksegetis terhadap 1 Korintus 12:1–11 dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Ebenheazer Boas, Klasis Malaka”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah karunia dalam jemaat lokal yang menyerupai persoalan dalam jemaat Korintus abad pertama, yaitu kecenderungan meninggikan karuniakarunia spektakuler dan mengabaikan karunia-karunia lain. Masalah ini menimbulkan perpecahan,
pengagungan individu, hingga praktik-praktik rohani yang menyimpang dari ajaran Kristiani. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada pemahaman teologis atas teks 1 Korintus 12:1–11 untuk menemukan kerygma utama dalam teks tersebut serta bagaimana penerapannya secara kontekstual dalam kehidupan bergereja. Tujuan utama dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui konteks historis di balik penulisan Surat 1 Korintus, (2) memahami kerygma teologis yang terkandung dalam 1 Korintus 12:1–11, dan (3) menguraikan implikasi kerygma tersebut bagi kehidupan jemaat GMIT Ebenheazer Boas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) yang dikombinasikan dengan wawancara lapangan, serta menggunakan pendekatan historis-kritis dalam penafsiran teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus menegaskan pentingnya kesatuan dalam keberagaman karunia, dengan menempatkan Yesus Kristus sebagai pusat dari setiap karunia dan pelayanan. Karunia-karunia Roh Kudus berasal dari sumber yang sama, yaitu Roh Kudus, dan diberikan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi membangun tubuh Kristus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi berjudul “Semakin Lemah Semakin Sadari Kuasa Kristus” dengan sub judul “Kajian Eksegetis Terhadap Teks Surat 2 Korintus 12:7-10 dan Implikasinya Bagi Pemahaman Jemaat GMIT Gloria Kayu Putih Mengenai Kelemahan Hidup” ditulis oleh Fandi Foes. Realita pergumulan jemaat GMIT Gloria Kayu Putih, terdapat 1 orang IDD, 3 orang anak yatim piatu, 2 orang anak broken home, 2 orang majelis yang masih melayani dalam keadaan sakit, terkait kelemahan yang dialami dalam hidup mereka ini memberi dampak pada pemahaman akan kelemahan dalam hidup, ini menimbulkan adanya permasalahan hubungan antara kelemahan manusia dengan kuasa Kristus dalam Surat 2 Korintus12:7-10, yang berbicara mengenai kelemahan yang dihadapinya justru membuka jalan bagi penyataan akan kuasa Kristus. Dan dalam kelemahanlah kuasa Kristus semakin sempurna. Juga ini memberi pertanyaan bahwa apa maksud perkataan Paulus mengenai jika aku lemah, maka aku kuat. Penelitian ini menggunakan metode Historis Kritik. Tujuannya agar Surat 2 Korintus memperlihatkan kelemahan yang dimiliki Paulus dimana ia diberi duri dalam daging untuk menggocohnya agar tetap rendah hati, dan memperlihatkan apa maksud Paulus dengan perkataan suka dan rela dalam kelemahan, juga pembahasan ini memiliki tujuan untuk menyadari kelemahan paulus sebagai respon Tuhan bahwa kuasa Tuhan menjadi sempurna atas kelemahannya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Dewi Jomida Nitiano Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia email: [email protected] Salah satu tradisi di Timor ialah pukai alu mama. Alu mama dianggap sangat penting dalam kehidupan seseorang, alu mama sebagai simbol jati diri seseorang. Tradisi ini dilakukan hanya pada saat kedukaan. Dalam mengkaji masalah diatas, penulis memakai Tipologi Richard Niebuhr yakni kristus adalah transformator budaya (Christ the Transformer of Cultura). Tipologi Kristus adalah transformator, pengubah atau pembaharuan kebudayaan adalah tipologi yang menyatakan bahwa didalam setiap kebudayaan Kristus dating sebagai pengubah atau memberi arah baru dari budaya tersebut. Tradisi Pukai Alu merupakan sebuah tradisi yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakat amanuban Timur khususnya daerah Bi’Ito. Dalam penelitian ini penulis menggunakan. Metode Peneltian yang akan Penulis gunakan adalah Penelitian Lapangan (Field Research) yakni pengamatan langsung terhadap subjek dan permasalahan yang diangkat, dan Penelitian Kepustakaan (Library Research) yakni menggunakan dokumen-dokumen atau sumber data berupa bahan puskata yang mendukung penelitian. Data yang diperoleh cenderung data kualitatif, analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif bersifat untuk memahami keunikan, mengkonstruksi fenomena, dan menemkan hipotesis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Setiap manusia dibesarkan dalam budaya tertentu, yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi suatu kekhasan ketika terjadi pertemuan dengan budaya lain. Salah satu unsur budaya yang penting yaitu penggunaan bahasa. Jemaat Ndolusue Fulakmoan adalah komunitas persekutuan yang dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Dengka sebagai media komunikasi, termasuk dalam menyebut nama Yesus Kristus sebagai Lamatuak.
Penelitian mengenai penyebutan Yesus Kristus sebagai Lamatuak oleh Jemaat Ndolusue Fulakmoan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui makna dari penyebutan tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian mengemukakan bahwa penyebutan Lamatuak dahulu dipakai oleh masyarakat penganut kepercayaan tradisional dinitiu di Nusak Dengka, untuk menyebut dewa teluk aman lai londa sebagai penguasa tertinggi di alam semesta. Dewa teluk aman lai londa berdiam di alam gaib atas (langit), yang kekuasaan dan kekuatannya terletak pada pohon-pohon dan batu-batu besar. Masyarakat penganut kepercayaan tradsional dinitiu percaya bahwa pohon-pohon besar yang menjulang tinggi menunjukkan kebesarannya dan batu-batu besar menunjukkan kekuasaanya.
Penyebutan Yesus Kristus sebagai Lamatuak memiliki makna bahwa Lamatuak Yesus adalah Tuhan atas alam semesta, tetapi kekuasaan dan kebesaran-Nya tidak terbatas pohon-pohon dan batu-batu besar. Ia adalah Allah yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Pohon-pohon besar hanyalah ciptaan dan Ia melebihi segala ciptaan tersebut. Ia juga adalah Allah yang oleh karena kasih-Nya, menyelamatkan umat-Nya dari dosa dengan rela menderita dan mati, tetapi Ia bangkit dalam kemuliaan-Nya, untuk membuktikan bahwa Lamatuak Yesus bukan allah yang mistis, melainkan Allah yang hidup yang diimani oleh Jemaat Ndolusue Fulakmoan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Adat istiadat, kebiasaan dan budaya dapat menunjukkan identitas diri seseorang. Masyarakat suku Timor Atoni Pah Meto sampai sekarang masih melakukan ritus nalonip `na atau percik darah. Ritus ini dilakukan sebagai upaya untuk mendinginkan sesuatu agar dijauhkan dari suat (malapetaka) dari kehidupan keluarga. Seiring berjalannya waktu dan karena faktor agama, pelaksanaan ritus ini mengalami pro dan kontra karena dianggap sebagai dualisme dan menyembah berhala. Inilah yang menjadi alasan penulis melakukan penelitian tentang ritus Nalonip `na atau percik darah utnuk mendinginkan rumah. Penelitian yang penulis lakukan bertempat di jemaat GMIT Esa Matsio Nunusunu, dengan tujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan ritus nalonip `na dan melakukan refleksi teologis tentang ritus ini.
Penelitian ini menggunakan model penelitian kualitatif dan dilakukan dengan cara wawancara. Hasil penelitian yang didapat penulis ialah, ritus ini telah mengalami pergeseran makna karena faktor agama. Jemaat yang sudah Kristen tetap melakukan ritus ini dengan maksud sebagai bentuk ucapan syukur dan pengakuan kedaulatan Allah Tritunggal yang telah memberkahi mereka dengan berbagai berkat. Khususnya dalam hal mendinginkan rumah, jemaat melakukan ritus ini karena mereka mensyukuri penyertaan Allah dari awal pelaksaan pembangunan rumah hingga selesai. Ritus nalonip `na sebagai upaya jemaat mencari keamanan dan tidak terkena malapetaka kini telah memiliki arti baru setelah jemaat memeluk agama dan menjadi Kristen. Ritus nalonip `na memiliki nilai positif yang berguna bagi pelayanan gereja yaitu usaha mencari keselamatan dan kepasrahan akan kuasa Tuhan. Darah binatang/korban yang dipercik bukanlah pemberi keselamatan melainkan satu-satunya keselamatan ialah bersumber dari Darah Kristus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keluarga adalah lembaga yang pertama yang ada di dunia. Setiap keluarga sejati dan bahagia merupakan suatu komunitas yang melandaskan cinta kasih. Kehidupan keluarga yang baik ditandai dengan relasi yang harmonis, selaras, dan seimbang di antara anggota keluarga. Tetapi dalam kenyataannya, relasi dalam keluarga cenderung banyak yang rusak dengan berbagai persoalan. Hal ini dikerenakan, anggota keluarga belum memahami peran dan fungsinya masing-masing sehingga relasi yang terjalin dalam keluarga tidak berjalan dengan baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak relasi keluarga kristen masa kini yang rusak. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membahas pemahaman pemikiran Paulus dalam surat Kolose tentang relasi dalam keluarga. Kajian Ilmiah ini bertujuan untuk menyampaikan interpretasi yang benar dan alkitabiah tentang relasi keluarga menurut Paulus dalam surat Kolose. Kemudian, melalui karya ilmiah ini keluarga-keluarga Kristen dapat menemukan apa yang menjadi prinsip, tujuan serta aspek-aspek dalam mempertahan keutuhan rumah tangga. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, menunjukkan bahwa relasi yang benar dalam keluarga, yang menuntut adanya sikap tunduk, mengasihi, dan menaati. Serta menjadikan kasih Kristus sebagai dasar kehidupan rumah tangga memiliki dampak yang sangat kuat untuk menentukan keutuhan rumah tangga Kristen. Dengan kata lain, rumah tangga tanpa kasih Kristus, maka rumah tangga itu akan mengalami kehancuran. Oleh karena itu, setiap anggota keluarga Kristen dapat melakukan peran dan fungsi dengan baik demi mewujudkan keluarga yang harmonis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa pemuda berasal dari kata “muda” yang berarti belum sampai pada setengah umur. Dalam pengertian ini jelas bahwa muda berarti manusia yang belum lanjut usia dan tidak berada pada posisi anak kecil lagi. Kaum muda dianggap sebagai orang-orang yang terpengaruh oleh hal-hal baru baik positif maupun negatif. Hal ini juga terjadi pada generasi muda jemaat GMIT Sion Boentuka .Sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus, generasi muda gereja seharusnya ikut berperan aktif dalam melayani Tuhan. Mereka seharusnya menjadi anggota gereja yang baik dan berperan aktif sebagai saksi Kristus. Generasi muda GMIT Sion Boentuka adalah para pemuda yang juga kaum yang mudah terpengaruh dengan hal-hal baru. mereka terdiri dari anak-anak yang sedang duduk di bangku pendidikan SMA sampai mereka yang sudah tamat sekolah. Tahun 2018 lalu terjadi konflik antar kaum pemuda dengan salah satu Majelis Jemaat Harian. Hal ini kemudian berdampak pada pelayanan pemuda yang kemudian terhenti dan tidak berjalan seperti biasa. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui Dampak yang ditimbulkan dari konflik yang terjadi antara kaum pemuda dengan Majelis Jemaat Harian serta merefleksikan menurut sudut pandang Teologi Pastoral. Tujuan ini dicapai dengan melakukan penelitian lapangan dan metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang di gunakan untuk memperoleh data yang akurat dengan metode yang digunakan untuk penulisannya adalah metode studi kasus. Metode studi kasus membantu untuk mendeskripsikan, menganalisa, merefleksikan dan memberikan tawaran aksi pastoral yang dapat dipakai oleh gereja. Semua manusia ciptaan Allah adalah tubuh Kristus yang walaupun berbeda tetapi saling melengkapi untuk membentuk satu tubuh yang utuh dan sempurna. konflik ini menimbulkan perpecahan. Perpecahan yang terjadi ini harus di selesaikan agar persekutuan sebagai tubuh Kristus menjadi kembali utuh.