Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

27 hasil
Subjek: Pastoral
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI TENTANG BENTUK-BENTUK PASTORAL TERHADAP PEMUDA YANG TERLIBAT DALAM KASUS PERJUDIAN TAJI AYAM (PE’IU MANU) DI JEMAAT GMIT IMANUEL WALUREDE KLASIS SABU BARAT RAIJUA TAHUN 2022

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK “STUDI TENTANG BENTUK BENTUK PASTORALTERHADAP PEMUDA YANG TERLIBAT DALAM KASUS PERJUDIAN TAJI AYAM (PE’IU MANU) Di Jemaat GMIT Imanuel Walurede, Klasis Sabu Barat-Raijua” Djo R (*) Metboki M (**) Pabala P (**) Bimbingan Pastoral adalah pelayanan yang sumbernya dari Yesus Kristus yang diberikan kepada orang-orang mengalami kekecewaan dalam hidup agar mereka kembali ke jalan yang benar. Maka penelitian ini bertjuan untuk mengetahui apakah ada pastoral terhadap pemuda yang terlibat dalam kasus perjudian. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan menggunakan pembagian kuisoner (angket). Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah Jemaat GMIT Imanuel Walurede, dengan sampel 10 orang pemuda yang terlibat dalam kasus perjudian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor penyebab perjudian dikalangan pemuda adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal diantranya faktor ekonomi, kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama, dan presepsi akan menang. Sedangkan factor eksternal adalah faktor lingkungan dan faktor budaya. Upaya Gereja dalam memberikan bimbingan pastoral sudah dilakukan, adapun langkah yang dilakukan dalam bimbingan pastoral tersebut adalah melakukan pendekatan dan perkunjungan kepada pemuda yang terlibat dalam kasus perjudian. Pendekatan dilakukan untuk mengecek kesiapan dari pemuda dalam menerima bimbingan pastoral, setelah ada kesiapan maka di lakukan perkunjungan oleh Pendeta dan wakil ketua, hasil yang diperoleh dari bimbingan pastoral yang di lakukan adalah perubahan gaya hidup pemuda artinya dengan adanya bimbingan pastoral tersebut dapat meminimalisir perjudian yang terjadi kalangan pemuda serta para pemuda mengalami pertumbuhan religius (keagamaan) artinya dengan adanya pastoral yang dilakukan pemuda sudah mulai mendekatkan diri dengan Tuhan, melalui rajin berdoa dan baca Alkitab. Kata Kunci: Pastoral, Pemuda Keterangan Penulis (*) Pembimbing (**)

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Memulihkan Yang Terluka

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bunuh diri adalah tindakan sadar seseorang yang sengaja mematikan dirinya sendiri karena berbagai alasan masalah pribadi maupun masalah finansial lainnya. Bunuh diri merupakan masalah yang fenomenal karena bukanlah hal yang mudah seseorang melakukan bunuh diri, sehingga jika ada yang melakukan bunuh diri akan menimbulkan berbagai konsekuensi sampai pada ketimpangan-ketimpangan sosial, yakni menimbulkan bahan bicara publik. Bunuh diri di Indonesia bahkan sampe ke daerah NTT yang marak terjadi oleh karena fungsi control mengelola stress dan emosional tidak begitu kuat. Sehingga tantangan yang hadir seolah-olah telah menutup jalan hidup. Artinya bunuh diri yang terjadi akibat masalah yang hadir baik dari dalam diri maupun dari luar diri seseorang, masalah-masalah itu mengganggu aspek ketahanan psikologis yang meliputi psikis dan fisik. Oleh karena ketidak mampanan dalam mengelola stress dan emosional seseorang akan nekat melakukan bunuh diri. Bahkan tindakan bunuh diri tidak melihat hidup sebagai pemberian Tuhan. Sebagaimana masalah/kasus bunuh diri yang terjadi di Jemaat GMIT Pniel Sikumana, suami istri dalam rentan waktu 2 bulan berturut-turut melakukan tindakan bunuh diri. Bunuh diri itu terjadi akibat masalah ekonomi rumah tangga. Namun sayangnya tindakan bunuh diri itu memberi dampak trauma bagi keluarga dan dua orang anak mereka yang masih kecil. Pelaku bunuh diri berinisial EF (istri) dan MO (suami) mereka dikaruniakan dua orang anak yang masih sangat kecil.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Fenomena Online Grooming Sebagai Kejahatan Media Sosial

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

FENOMENA ONLINE GROOMING SEBAGAI KEJAHATAN MEDIA SOSIAL Tesya Liliani Julianti Program Studi Teologi Agama Kristen, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia email. [email protected] Online grooming merupakan salah satu fenomena yang sedang marak terjadi akibat perkembangan ilmu pengetahuan di bidang teknologi digital. Online grooming adalah tahapan dari modus operandi yang dilakukan oleh pelaku (groomer) dengan cara menggunakan akun palsu dan mencoba untuk membangun hubungan emosional dengan seorang anak, remaja, pemuda, maupun orang dewasa, sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan korban. Di jemaat GMIT Betel Oesapa Tengah, terdapat sejumlah pemuda gereja yang pernah menjadi korban dari fenomena online grooming. Sehingga sudah seharusnya Fenomena online grooming ini menjadi perhatian dari gereja. Menjadi masalah jika pemuda-pemudi korban fenomena online grooming tidak mendapatkan perhatian dari gereja. Ketidaktahuan gereja terhadap fenomena online grooming membuat tidak adanya pelayanan dari gereja bagi pemuda-pemudi yang menjadi korban dari online grooming. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui realitas fenomena online grooming di kalangan pemuda-pemudi di jemaat Betel Oesapa Tengah dan bagaimana peran pastoral gereja terhadap korban fenomena online grooming. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi untuk melihat fenomena online grooming di kalangan pemuda-pemudi jemaat Betel Oesapa Tengah. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa peran gereja sangat penting bagi pemuda-pemudi dalam menghadapi fenomena online grooming. Gereja dapat membuat program pelayanan khusus dan membuat sosialisasi tentang bahaya fenomena online grooming di kalangan pemuda-pemudi. Demikian pula peran pastoral holistik gereja bagi korban fenomena online grooming harus dijalankan dengan kesadaran bahwa gereja harus menjadi pendengar yang baik bagi keluh kesah mereka, menopang dan selalu mendukung mereka menuju ke arah yang lebih baik, hal ini akan membantu para pemuda-pemudi korban online grooming untuk bangkit kembali dari keterpurukkan mereka dan mampu sembuh dari sakit fisik dan psikologis sehingga hubungan sosial dan spiritualitas korban dapat dikembangkan. Lewat pelayanan-pelayanan pastoral yang diberikan oleh gereja, sebenarnya gereja sedang mempraktikkan pelayanan Yesus yang penuh dengan belas kasih kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Gereja Dan Anak yang Berduka

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Kedukaan adalah perasaan kehilangan karena sesuatu yang sebelumnya ada sekarang tidak ada lagi. Setiap manusia bisa merasakan kedukaan karena kehilangan benda kesayangan, kehilangan kesempatan, kehilangan kesehatan dan kematian. Kehilangan karena kematian menjadi suatu peristiwa yang membuat seseorang akan kehilangan orang terdekatnya dan menimbulkan rasa duka yang mendalam. Orang yang berduka adalah mereka yang benar-benar mengalami kehilangan, termasuk anak kecil. Yang membedakan kedukaan yang dialami anak kecil dan orang dewasa adalah anak memiliki kapasitas untuk berduka lebih dalam karena mereka tidak mampu mengekspresikan perasaannya secara terbuka. Bertolak dari hal itu, penulis tertarik untuk meneliti tentang kondisi anak yang berduka pada usia 3-10 tahun dan sikap pastoral gereja terhadap anak yang berduka Di Jemaat Alfa Omega Baiyangawang, Klasis Pantar Barat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memilih keluarga yang berduka sebagai sampel untuk mengetahui kondisi anak yang berduka di Jemaat Alfa Omega Baiyangawang. Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa anak mengalami kedukaan sama seperti yang dialami oleh orang dewasa pada umumnya, namun yang membedakan adalah cara anak mengekspresikan perasaan duka yang dialaminya. Oleh karena itu Gereja dan keluarga perlu memiliki perhatian khusus terhadap anak ketika terjadi peristiwa kematian. Dalam hal ini, Gereja dapat menggunakan pendekatan psikoterapi kedukaan dengan model Client Centered yang dapat menolong gereja untuk lebih fokus pada anak. Pendekaan ini menolong gereja agar gereja dapat memiliki ketrampilan mendengar dan sikap empati dalam mendampingi anak yang berduka. Dengan menjadikan pelayanan Yesus yang memperhatikan dan mempedulikan anak-anak sebagai sikap gereja dalam mendampingi anak yang berduka.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

NAKETI DALAM PEMAHAMAN JEMAAT GMIT SESAWI MAKU, DIKAJI DARI PERSPEKTIF PASTORAL TAHUN 2021

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK NAKETI DALAM PEMAHAMAN JEMAAT GMIT SESAWI MAKU, DIKAJI DARI PERSPEKTIF PASTORAL TAHUN 2022 Tlonaen Y D (*) Nuban Timo E (**) Tnunay Paulus (**) Penelitian ini dimotivasi oleh fakta masalah bahwa masyarakat pah meto yang selalu melakukan ritual naketi untuk memecahkan setiap persoalan yang dialami.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa pemahaman jemaat GMIT Sesawi Maku tentang pelaksanaan ritual Naketi dikaji dari perspektif pastoral. Dalam penelitian ini sumber data untuk penelitian ini adalah jemaat GMIT Sesawi Maku sebayak 20 orang dengan pembagian 5 orang Majelis Jemaat, 5 orang Tua Adat dan 10 orang Jemaat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data diambil dengan menggunakan metode wawancara, serta studi pustaka (studi dokumen). Data yang telah didapat kemudian dianalisis menggunakan teori pastoral, berkaitan dengan pemahaman Jemaat GMIT Seasawi Maku . Pada akhirnya peneliti menemukan bahwa naketi merupakan salah satu bentuk konseling pastoral berbasis budaya Timor. Naketi menurut pemahaman masyarakat pah meto sebagai usaha untuk memperbaiki, mengatur, meluruskan, memurnikan serta menjernihkan diri dari dosa/kesalahan, yang menyebabkan tatanan kehidupan menjadi rusak. Oleh sebab itu, naketi dilakukan sebagai upaya untuk memperbaiki dan menyelesaikan berbagai persoalan berkelanjutan yang dialami. Dalam proses pelaksanaan naketi terkandung nilai didalamnya yakni nilai religius, sosial dan nilai moral. Kata Kunci : Naketi dan Pastoral. Penulis (*) Pembimbing (**)

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Spiritualitas Generasi Sandwich : Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Spiritualitas Generasi Sandwich dan Implikasinya bagi Jemaat Sesawi Oepura

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini menelaah spiritualitas generasi sandwich di Jemaat GMIT Sesawi Oepura serta implikasinya bagi pelayanan gereja melalui tinjauan teologis. Generasi sandwich dipahami sebagai individu usia produktif yang memikul tanggung jawab ganda secara simultan dan berkelanjutan: menopang orang tua lanjut usia sekaligus anak/adik/kerabat yang belum mandiri, sehingga rentan mengalami tekanan ekonomi, kelelahan fisik, dan beban emosional yang dapat memengaruhi kehidupan iman. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana warga jemaat memaknai pergumulan tersebut sebagai pengalaman spiritual, bukan semata persoalan sosial-ekonomi. Penelitian menggunakan metode kualitatif lapangan dengan teknik wawancara semi-terstruktur dan studi dokumen. Partisipan dipilih secara purposive (usia 25–45 tahun, bekerja, memiliki tanggungan lintas generasi, dan merupakan anggota Jemaat GMIT Sesawi Oepura). Analisis menggunakan kerangka spiritualitas Sandra M. Schneiders yang menekankan integrasi dimensi personal-internal, relasional-komunal, praksis keseharian, dan hermeneutik pemaknaan pengalaman. Hasil menunjukkan bahwa spiritualitas generasi sandwich di jemaat ini cenderung berwujud sebagai “spiritualitas resiliensi”: iman yang bertahan di tengah keterbatasan, tampil dalam kesetiaan menjalankan tanggung jawab, doa yang lahir dari situasi krisis, serta pengharapan akan penyertaan Allah meski disertai keluhan, rasa bersalah, bahkan kemarahan kepada Tuhan. Gereja dipandang membantu melalui ibadah rumah tangga dan diakonia, namun dibutuhkan pendampingan pastoral yang lebih peka terhadap ritme kerja, beban psikospiritual, dan kebutuhan batasan diri. Penelitian ini merekomendasikan penguatan komunitas dukungan, konseling pastoral kontekstual, dan praksis gerejawi yang mengafirmasi pengalaman generasi sandwich sebagai ruang perjumpaan dengan Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENYEMBUHAN TRAUMA” Suatu Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Upaya Gereja Bagi Penyembuhan Trauma Terhadap Anak-Anak Usia 5-12 Tahun Yang Menyaksikan Kekerasan Di GMIT Jemaat Sono Klasis Amanatun Utara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gereja dalam pelayanan pastoral memiliki panggilan untuk melaksanakan tugas penggembalaan dengan merawat, melindungi, memelihara, serta menolong umat sebagai domba-domba Allah. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, gereja tidak terlepas dari berbagai persoalan umat, salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga yang berdampak serius bagi anak-anak sebagai saksi. Pengalaman menyaksikan kekerasan seringkali meninggalkan trauma psikologis yang mengganggu rasa aman dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum lokasi penelitian di Jemaat GMIT Sono, mengkaji upaya gereja dalam penyembuhan trauma anak-anak usia 5–12 tahun yang menyaksikan kekerasan, serta menganalisis upaya tersebut dalam tinjauan teologi pastoral.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan dan studi literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Mata Jemaat Sion Oepuah terdapat anak-anak usia 5–12 tahun yang mengalami trauma psikologis, ditandai dengan gejala ketakutan, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, dan keinginan untuk membalas dendam. Upaya gereja dalam pendampingan trauma masih bersifat umum dan belum menyentuh kebutuhan emosional anak secara khusus. Dalam tinjauan teologi pastoral, gereja dipahami sebagai komunitas penyembuhan (healing community) yang menghadirkan ruang aman bagi umat. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk berperan lebih aktif, terstruktur, dan berkelanjutan dalam pendampingan pastoral guna menolong anak-anak mengalami pemulihan dan keutuhan hidup.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENDAMPINGAN PASTORAL BAGI SUAMI YANG DITINGGALKAN ISTRI “Suatu Kajian Teologi Pastoral Terhadap Peran Pendampingan Pastoral Gereja Bagi Suami yang ditinggalkan Istri di Jemaat Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Masalah perceraian dan perpisahan dalam rumah tangga Kristen merupakan realitas pastoral yang semakin kompleks, termasuk fenomena suami yang ditinggalkan oleh istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendampingan pastoral gereja bagi suami yang ditinggalkan oleh istri di Jemaat GMIT Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya (RBD), serta meninjau secara teologis praktik pendampingan pastoral yang telah dilakukan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis-reflektif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan melibatkan pendeta dan rekan majelis jemaat, suami yang ditinggalkan istri, keluarga, serta unsur adat dan pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial-budaya, ekonomi, komunikasi, serta konstruksi maskulinitas patriarkal turut memengaruhi terjadinya perpisahan dan respons suami terhadap pendampingan pastoral gereja. Praktik pendampingan pastoral yang dilakukan gereja selama ini cenderung berfokus pada upaya rekonsiliasi dan penyatuan kembali secara fisik, namun belum sepenuhnya menerapkan fungsi-fungsi pendampingan pastoral secara holistik. Melalui kajian teologi pastoral dengan menggunakan fungsi-fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, penelitian ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menghadirkan pendampingan yang menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara kehidupan suami yang ditinggalkan istri secara menyeluruh. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi teologis dan praktis bagi pengembangan pelayanan pastoral gereja yang lebih kontekstual, inklusif, dan transformatif.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Luka Yang Menubuh “Suatu Kajian Teologis Pemikiran Shelly Rambo Mengenai Konsep “Remaining” sebagai Luka Yang Menubuh dan Sumbangsihnya bagi Realitas Kekerasan Seksual di GMIT”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kekerasan seksual merupakan realitas yang terus dihadapi gereja dan menimbulkan luka yang tidak selalu berakhir ketika peristiwa kekerasan berhenti. Dalam konteks ini, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) berhadapan dengan pengalaman trauma para korban yang berlangsung secara berkelanjutan dalam tubuh, ingatan, dan relasi sosial mereka. Skripsi ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran teologi trauma Shelly Rambo, khususnya konsep Remaining, sebagai luka yang menubuh, serta menelaah implikasinya bagi sikap dan pelayanan pastoral GMIT dalam merespons kasus kekerasan seksual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis kontekstual. Sumber data primer berasal dari karya-karya Shelly Rambo, terutama Spirit and Trauma: A Theology of Remaining dan Resurrecting Wounds: Living in the Afterlife of Trauma, sedangkan sumber data sekunder meliputi literatur teologi trauma, dokumen gerejawi GMIT, serta laporan pendampingan Rumah Harapan GMIT pada periode 2020–2024. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, kategorisasi, dan interpretasi teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Remaining menolong gereja untuk memahami trauma sebagai penderitaan yang tidak sepenuhnya selesai, melainkan tetap hadir dan bekerja dalam kehidupan para penyintas. Dalam konteks GMIT, kehadiran Rumah Harapan menunjukkan komitmen pastoral gereja terhadap korban kekerasan seksual. Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa pendekatan pastoral GMIT masih cenderung berfokus pada pemulihan yang cepat dan belum sepenuhnya mengintegrasikan pengakuan atas luka yang menubuh ke dalam sistem pastoral, disiplin gereja, dan spiritualitas jemaat. Oleh karena itu, skripsi ini menegaskan pentingnya pengembangan sikap pastoral yang lebih peka terhadap trauma, yang tidak mengabaikan tubuh yang terluka, ingatan yang rapuh, dan relasi sosial yang retak, serta bersedia tinggal bersama luka sebagai bagian dari kesetiaan iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

REMAJA DI ERA DIGITAL “Suatu Tinjauan Pendidikan Agama Kristen Terhadap Pemahaman Diri Remaja Dalam Mencari Identitas Diri Pada Era Digital dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perkembangan teknologi digital membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan remaja, khususnya dalam proses pencarian identitas diri. Remaja hidup di tengah arus informasi yang cepat, budaya media sosial, dan tuntutan untuk membangun citra diri yang ideal, sehingga sering kali mengalami kebingungan identitas, tekanan psikologis, serta ketergantungan pada pengakuan eksternal. Kondisi ini juga dialami oleh remaja di Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana remaja mencari dan membentuk identitas diri di era digital, serta bagaimana gereja berperan dalam mendampingi proses tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika pencarian identitas diri remaja pada era digital dan merumuskan bagaimana remaja dapat memahami dan mencari identitas diri pada era digital saat ini dengan baik, penelitian ini juga ingin menegaskan peran gereja sebagai komunitas iman yang aman, menerima, dan mendampingi remaja dalam pergumulan hidup mereka, sehingga remaja dapat membangun identitas diri yang berakar pada iman Kristen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskpsi-analisis-reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi. Kajian ini memanfaatkan teori perkembangan remaja, refleksi teologis berdasarkan Alkitab, serta pemikiran Andrew Root tentang pelayanan remaja yang berpusat pada relasi dan pengalaman hidup sebagai ruang perjumpaan dengan Allah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas diri remaja di era digital cenderung rapuh apabila dibangun di atas standar budaya digital seperti popularitas dan citra diri. Oleh karena itu, gereja memiliki peran penting untuk menghadirkan pendidikan agama kristen yang berpusat pada relasi, pendampingan yang setia, dan komunitas yang menerima remaja apa adanya. Bagi Jemaat GMIT Gunung Sinai Naikolan, implikasi pendidikan agama Kristen ini menegaskan bahwa gereja perlu menjadi ruang aman yang menolong remaja memahami dan menemukan identitas diri mereka sebagai pribadi yang dikenal, dikasihi, dan dipanggil Allah di tengah tantangan era digital. Kata Kunci: Remaja, Identitas diri, Era digital, Pelayanan Pastoral, GMIT Gunung Sinai Naikolan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PASTORAL YANG PARTISIPATIF: Suatu Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Model Perkunjungan Pastoral di Jemaat GMIT Pniel Oetua Klasis Amanuban Timur

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelayanan pastoral merupakan wujud konkret kehadiran gereja dalam mendampingi kehidupan iman jemaat secara holistik. Namun, dalam realitas pelayanan di Jemaat GMIT Pniel Oetua Klasis Amanuban Timur, praktik pastoral, khususnya perkunjungan pastoral masih cenderung bersifat pendeta-sentris dan belum melibatkan majelis jemaat secara optimal. Kondisi ini menimbulkan keterbatasan jangkauan pelayanan, lemahnya partisipasi jemaat, serta ketergantungan yang tinggi terhadap figur pendeta. Berdasarkan realitas tersebut, pokok persoalan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana gambaran konteks Jemaat GMIT Pniel Oetua, bagaimana realita model perkunjungan pastoral yang dijalankan, serta bagaimana tinjauan teologi pastoral dapat berimplikasi terhadap pengembangan model perkunjungan pastoral yang partisipatif. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan konteks kehidupan jemaat, menganalisis praktik perkunjungan pastoral yang berlangsung, serta merumuskan pemahaman teologi pastoral yang dapat menjadi dasar bagi pengembangan model perkunjungan pastoral yang melibatkan seluruh unsur pelayan jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap pendeta, penatua, diaken, dan pengajar jemaat, kemudian dianalisis secara deskriptif, analitis, dan reflektif dengan menggunakan perspektif teologi pastoral, khususnya pemikiran Eugene Peterson. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral di Jemaat GMIT Pniel Oetua masih dipahami sebagai tanggung jawab individual pendeta, sehingga peran majelis jemaat belum berfungsi secara maksimal. Melalui tinjauan teologi pastoral, penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan pastoral sejatinya merupakan tanggung jawab kolektif seluruh tubuh Kristus. Oleh karena itu, perkunjungan pastoral perlu dimaknai sebagai ruang persekutuan, pendampingan, dan penggembalaan bersama yang partisipatif, kontekstual, dan berkelanjutan. Model pastoral yang partisipatif ini diharapkan mampu memperkuat pemeliharaan iman jemaat serta menghadirkan gereja sebagai komunitas yang saling menggembalakan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PASTORAL BAGI PELAKU SABUNG AYAM “Sebuah Studi Kasus Pastoral Terhadap Keterlibatan Majelis Jemaat dalam Praktik Sabung Ayam di Jemaat GMIT Lederui-Ledeunu, Klasis Sabu Barat Raijua”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji keterlibatan majelis jemaat dalam praktik sabung ayam yang mengandung unsur perjudian sebagai persoalan teologi pastoral dan etika pelayanan gereja. Praktik tersebut tidak hanya bertentangan dengan nilai iman Kristen dan tata kehidupan bergereja, tetapi juga memunculkan krisis kepemimpinan dalam kehidupan persekutuan jemaat. Keterlibatan pelayan gereja dalam praktik ini berdampak pada melemahnya integritas kepemimpinan, terganggunya relasi pelayanan, serta menurunnya kepercayaan jemaat terhadap gereja sebagai komunitas moral. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan realitas kasus, menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan majelis jemaat, menafsirkan kasus tersebut secara teologis, serta merumuskan rencana aksi pastoral yang bersifat kontekstual, operasional, dan berorientasi pada pemulihan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Interpretasi teologis dilakukan dengan merujuk pada teks 1 Samuel 2:11-26 yang menggambarkan krisis kepemimpinan rohani akibat pembiaran terhadap dosa dan kegagalan tanggung jawab pelayan Tuhan. Teks ini menjadi dasar refleksi untuk memahami relasi antara jabatan pelayanan, tanggung jawab etis, dan kehidupan iman pelayan gereja. Kerangka teologi pastoral Howard Clinebell digunakan sebagai landasan untuk menata rencana aksi pastoral melalui fungsi pembimbingan, penopangan, penyembuhan, pemulihan, dan pemeliharaan sebagai proses yang saling berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan majelis jemaat dalam praktik sabung ayam dipengaruhi oleh kebiasaan sosial yang terinternalisasi, tekanan ekonomi, lemahnya penghayatan jabatan pelayanan sebagai panggilan iman, serta kurangnya pendampingan pastoral yang personal dan berkelanjutan. Dampak dari praktik tersebut terlihat dalam krisis kepemimpinan gerejawi dan kebingungan nilai di tengah jemaat. Oleh karena itu, rencana aksi pastoral difokuskan pada pemulihan majelis jemaat sebagai subjek utama, dengan keterlibatan gereja, jemaat, dan keluarga sebagai ruang pendukung pemulihan iman dan relasi. Penelitian ini menegaskan bahwa pelayanan pastoral tidak dapat berhenti pada teguran normatif, tetapi harus diwujudkan melalui pendampingan yang menyentuh dimensi personal, relasional, dan struktural, sehingga kepemimpinan gerejawi dapat dipulihkan dan persekutuan jemaat dibangun secara sehat dan bertanggung jawab.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGASUHAN ANAK-ANAK PANTI ASUHAN : Suatu Tinjauan Teologi Pastoral terhadap Nilai-nilai dalam Pengasuhan Anak-anak Panti Asuhan Kristen GMIT 221 Kupang

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilaksanakan di Panti Asuhan Kristen GMIT 221 Kupang dan berangkat dari realitas pengasuhan anak-anak panti asuhan yang tidak hanya mencakup pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga dimensi emosional, sosial, dan spiritual anak. Dalam praktiknya, pola pengasuhan yang diterapkan belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai pastoral yang mendukung pertumbuhan holistik anak, seperti kasih, penerimaan, pemeliharaan, dan pembimbingan yang aman dan membangun. Berdasarkan realitas tersebut, persoalan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai pastoral diwujudkan dalam praktik pengasuhan anak-anak panti asuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengasuhan anak-anak di Panti Asuhan Kristen GMIT 221 Kupang serta meninjaunya secara teologis berdasarkan pendekatan konseling pastoral. Kerangka teoretis penelitian ini menggunakan teori konseling pastoral Howard Clinebell, khususnya lima fungsi pastoral, yaitu menyembuhkan (healing), menopang (sustaining), membimbing (guiding), memulihkan (reconciling), dan memelihara pertumbuhan (nurturing), namun penulis lebih fokus pada fumgsi membimbing (guiding). Teori ini digunakan untuk menilai sejauh mana nilai-nilai pastoral terealisasi dalam praktik pengasuhan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pengasuh dan anak-anak panti asuhan, serta studi kepustakaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menggunakan kerangka teori konseling pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pastoral telah diupayakan dalam praktik pengasuhan, namun belum dijalankan secara konsisten dan optimal. Refleksi teologis dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menegaskan bahwa anak-anak adalah pribadi berharga di hadapan Allah yang berhak menerima pengasuhan yang manusiawi, memerdekakan, dan membimbing. Pengasuh dipanggil sebagai rekan sekerja Allah untuk menghadirkan relasi yang aman, menerima, dan menyembuhkan, sementara gereja memiliki tanggung jawab pastoral untuk memperlengkapi dan mendampingi pengasuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengasuhan yang utuh memerlukan sinergi antara pengasuh dan gereja untuk menumbuhkan kesejahteraan holistik dan nilai-nilai pastoral pada anak-anak panti asuhan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA YANG MERANGKUL JEMAAT LANJUT USIA: Suatu Tinjauan Teologi Pastoral Dalam Upaya Mengoptimalkan Pelayanan Bagi Jemaat Lanjut Usia di GMIT Diaspora Danau Ina Oesapa

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tulisan ini berangkat dari realitas pelayanan gereja terhadap jemaat lanjut usia di GMIT Diaspora Danau Ina Oesapa yang belum berjalan secara optimal. Jemaat lanjut usia sebagai kelompok minoritas dalam jemaat ini kurang mendapat perhatian serius dari gereja. Permasalahan jemaat lanjut usia bersifat kompleks dan saling berkaitan, meliputi aspek fisik, ekonomi, sosial, dan spiritual, yang berdampak pada rendahnya partisipasi mereka dalam kehidupan bergereja serta program pelayanan yang dirancangkan menjadi kurang relevan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konteks jemaat Diaspora Danau Ina Oesapa khususnya anggota jemaat lanjut usia, menganalisis pelayanan pastoral bagi jemaat lanjut usia berdasarkan teori pendampingan pastoral dari Aart van Beek, serta merumuskan refleksi teologis terhadap pelayanan pastoral yang relevan bagi jemaat lanjut usia di GMIT Diaspora Danau Ina Oesapa. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskripsi-analisis-reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah sepuluh orang yang terdiri dari satu orang pendeta, satu koordinator kategorial lansia, satu koordinator unit pelayanan pastoral, dan tujuh anggota jemaat lanjut usia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan pastoral bagi jemaat lanjut usia di GMIT Diaspora Danau Ina Oesapa belum menyentuh kebutuhan nyata jemaat secara holistik. Pelayanan yang ada cenderung berfokus pada program yang direncanakan tanpa melihat kondisi jemaat lanjut usia yang berhadapan dengan keterbatasan fisik dan kompleksitas pergumulan hidup. Berdasarkan analisis fungsi pendampingan pastoral Aart van Beek, penelitian ini menegaskan bahwa fungsi mengutuhkan menjadi pusat pelayanan pastoral bagi jemaat lanjut usia. Pelayanan pastoral yang mengutuhkan, holistik, dan kontekstual menjadi wujud nyata kehadiran gereja yang merangkul jemaat lanjut usia sebagai subjek pastoral yang bermartabat dan bernilai bagi kehidupan bergereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PATEHALA “Suatu Tinjauan Pastoral Terhadap Tradisi Patehala sebagai Wadah Pastoral Kontekstual bagi Jemaat GMIT Hermon Helangdohi”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Manusia dalam kehidupan sosial tidak pernah lepas dari interaksi yang membentuk hubungan, nilai, dan makna. Salah satu bentuk interaksi yang sarat makna ditemukan dalam tradisi Patehala, sebuah kearifan lokal masyarakat Pantar, Alor, yang digunakan dalam penyelesaian konflik antar individu atau kelompok. Tradisi ini menggunakan simbol darah hewan dan pemberian denda sebagai bentuk pengakuan kesalahan, perdamaian, dan pemulihan relasi. Namun, dalam praktiknya, tradisi ini kerap mengalami pergeseran makna, terutama ketika pelaksanaannya tidak dilandasi oleh penyesalan sejati. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Patehala sebagai salah satu ekspresi sosial-budaya masyarakat yang juga adalah bagian dari jemaat GMIT Hermon Helangdohi. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan teologis-pastoral serta memanfaatkan teori pendampingan pastoral Jacob daan Engel, penelitian ini mengungkap nilai-nilai seperti pengakuan, pertobatan, pemulihan, dan rekonsiliasi sebagai kontribusi budaya terhadap kehidupan bergereja. Refleksi teologis menunjukkan bahwa meskipun tradisi ini tidak dapat menggantikan karya penebusan Yesus Kristus, nilai-nilainya dapat memperkaya pelayanan pastoral gereja secara kontekstual. Pada akhirnya, Patehala menjadi ruang belajar bagi gereja untuk merawat relasi sosial dan spiritual yang menyeluruh dan menyembuhkan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA DAN PERSEKUTUAN JEMAAT “Suatu Tinjauan Pastoral Terhadap Peran Gereja Laharoi Danalon dalam Menyikapi Persoalan Perpindahan Jemaat dan Implikasinya bagi Persekutuan Mata Jemaat Laharoi Danalon Klasis Rote Timur ”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berjudul GEREJA DAN PERSEKUTUAN JEMAAT “Suatu Tinjauan Pastoral terhadap Peran Gereja Laharoi Danalon Menyikapi Persoalan Perpindahan Jemaat dan Implikasinya bagi Persekutuan Mata Jemaat Laharoi Danalon Klasis Rote Timur.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh persoalan perpindahan jemaat yang tidak hanya berdampak pada penurunan keanggotaan, tetapi juga merusak keutuhan persekutuan dan menunjukkan lemahnya peran pastoral gereja. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau peran gereja dalam menyikapi persoalan perpindahan jemaat serta implikasinya bagi kehidupan persekutuan jemaat. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan teologi pastoral dari Howard Clinebell yang menekankan lima fungsi pelayanan pastoral: menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpindahan jemaat di Mata Jemaat Laharoi Danalon disebabkan oleh konflik antara jemaat dan majelis yang tidak ditangani secara pastoral. Gereja tidak hadir secara aktif dalam proses mediasi maupun pemulihan, sehingga relasi jemaat menjadi retak dan persekutuan terganggu. Fungsi-fungsi pastoral belum dijalankan secara maksimal, baik oleh pendeta maupun majelis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pentingnya gereja membangun pelayanan pastoral yang kontekstual dan transformatif. Gereja harus hadir sebagai komunitas yang merangkul dan menyembuhkan, serta aktif menjaga keutuhan tubuh Kristus di tengah konflik dan perubahan zaman.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERNIKAHAN BEDA NEGARA “Tinjauan Pastoral Bagi Pasangan Nikah Beda Negara di Jemaat GMIT Pniel Oenggaut”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pernikahan beda negara sebagai fenomena sosial semakin marak terjadi dalam masyarakat, termasuk di Jemaat GMIT Pniel Oenggaut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konteks jemaat, memahami realitas pernikahan antar negara dari perspektif pelayanan pastoral, serta melakukan refleksi teologis terhadap pernikahan beda negara. Pendekatan penelitian menggunakan studi kualitatif deskriptif dengan mengkaji literatur, peraturan undang-undang, serta dokumen pastoral dan teologi GMIT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan beda negara menghadirkan tantangan komunikasi antarbudaya, perbedaan adat, kultur, dan norma yang memerlukan kesabaran serta sikap saling memahami agar konflik dapat diminimalisir. Dalam pelayanan pastoral, penyesuaian dan pendekatan khusus diperlukan untuk membimbing pasangan beda kewarganegaraan agar memahami prinsip kekudusan pernikahan Kristen sesuai nilai-nilai GMIT. Refleksi teologis menegaskan bahwa pernikahan merupakan lembaga ilahi yang menyatukan laki-laki dan perempuan secara sah dan kudus, berlandaskan kasih yang memberi dan komitmen total, serta merupakan dasar kehidupan gereja. Pelayanan pastoral pranikah serta pendampingan berkelanjutan menjadi kunci dalam membangun keluarga Kristen yang harmonis dan kokoh dalam konteks pernikahan beda negara. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan pelayanan pastoral dan pemahaman teologis terkait fenomena sosial pernikahan campuran antarnegara di lingkungan jemaat GMIT.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SPIRITUALITAS PARA JANDA Suatu Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Spiritualitas Para Janda di GMIT Ora Et Labora Oesapa Klasis Kota Kupang Timur

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Spiritualitas Para Janda: Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Spiritualitas Para Janda di GMIT Ora Et Labora Oesapa Klasis Kota Kupang Timur.” Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengungkap realitas kehidupan para janda dalam konteks kehidupan bergereja, khususnya berkaitan dengan pemahaman dan praktik spiritualitas mereka dalam menghadapi tantangan hidup setelah kehilangan suami. Latar belakang penelitian ini berpijak pada kenyataan bahwa wafatnya suami memberikan dampak besar bagi istri yang ditinggalkan, baik secara psikologis, sosial, ekonomi, maupun spiritual, terutama dalam masyarakat yang masih kuat menganut budaya patriarki seperti di Kota Kupang. Dalam kondisi tersebut, spiritualitas dipandang sebagai kekuatan utama yang menopang keteguhan iman dan mental para janda untuk terus melanjutkan hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi. Berdasarkan temuan penelitian, mayoritas janda di GMIT Ora Et Labora Oesapa memiliki pemahaman yang masih terbatas mengenai makna spiritualitas. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti latar belakang pendidikan, pengalaman iman, prioritas hidup, serta minimnya keterlibatan mereka dalam aktivitas pelayanan gereja. Rendahnya pemahaman dan penghayatan akan spiritualitas ini berdampak langsung pada keterlibatan mereka yang minim dalam kegiatan gerejawi, serta berakibat memudarnya nilai-nilai kekristenan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi gereja dalam merancang pelayanan pastoral yang lebih relevan, guna memperkuat dan memberdayakan para janda agar mampu bangkit, mandiri, dan menjalani kehidupan yang berlandaskan spiritualitas Kristen secara utuh.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENDAMPINGAN GEREJA BAGI ANAK KORBAN KASUS PEMERKOSAAN “Suatu Tinjauan Teologis Pastoral terhadap Peran Pendampingan Gereja bagi Anak-anak Korban Pemerkosaan di Jemaat GMIT Elim Kie”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kasus kekerasan seksual semakin meningkat setiap tahunnya. Negara Indonesia dijuluki sebagai negara darurat kekerasan seksual karena krisisnya angka kekerasan seksual yang terus meningkat, salah satu bentuk kekerasan seksual adalah pemerkosaan. Kasus pemerkosaan kian memprihatinkan karena semakin meningkat setiap tahun. Kasus ini juga terjadi dalam jemaat GMIT Elim Kie. Setiap tahunnya akan ada kasus pemerkosaan dan yang menjadi korban adalah warga gereja. Oleh karena itu dalam tulisan ini menganalisa peran pendampingan gereja dalam mendampingi dan memberi dukungan emosional dan spiritual serta keadilan bagikorban pemerkosaan. Dengan menggunakan metode kualitatif, data diperoleh melalui wawancara, dengan gereja dan korban. Melalui penelitian ini, penulis menemukan bahwa gereja belum memberanikan diri untuk mendampingi para korban pemerkosaan secara langsung karena dianggap sebagai hal yang sensitive dan pribadi. Gereja menyadari akan keberadaan para korban dan dampak yang dialami, namun belum mendampingi para korban. Pendampingan gereja adalah proses konseling pastoral yang harus gereja laksanakan dalam program pelayanan. Gereja harus memberanikan diri untuk mendampingi korban pemerkosaan dan berani untuk menyuarakan keadilan bagi perempuan dan anak-anak. Gereja adalah wujud kehadiran Allah dalam dunia dengan suatu tanggung jawab dan panggilan untuk bisa terlibat secara aktif dalam mendampingi, memulihkan dan mendukung mereka yang menjadi korban pemerkosaan. Melalui pendampingan pastoral yang efektif untuk membimbing, menyembuhkan, meneguhkan, membebaskan dan memulihkan, menunjukan bahwa gereja dapat menjadi ruang pemulihan bagi warga gereja terkhususnya bagi korban pemerkosaan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMUNITAS YANG MENYEMBUHKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam komunitas Orang Sabu, terdapat sebuah pemahaman mengenai kutuk atas peristiwa Made Harro (mati tidak wajar). Karena kutuk itu, maka relasi yang ada dalam komunitas, baik relasi individu, relasi dengan sesama, relasi dengan alam (tanah), dan relasi dengan Tuhan menjadi rusak. Akhirnya, stigma sosial dan pengucilan terbentuk dalam komunitas. Pemahaman ini masih dipegang erat oleh Komunitas Orang Sabu bahkan yang sudah Kristen. Namun, dalam komunitas yang sama pula, terdapat pemahaman unik tentang bagaimana mereka sebagai komunitas keluar dari krisis ini dan mengalami kesembuhan yang utuh dan holistik. Ritus yang dimaksud dilakukan oleh beberapa anggota keluarga jemaat GMIT Arit Lederaga, yang anggota keluarganya mengalami Made Harro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang kutuk Made Harro dan praktik penyembuhan duka Kehao Rue masih sangat kuat dipegang dalam komunitas orang Sabu di jemaat GMIT Arit Lederaga. Dengan penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, pembuangan abu, penatte laidare yang dipimpin oleh tokoh adat yakni Deo Rai dan Rue, serta ritus pelengkap seperti, tangi pali, pedoe hemanga, pemau do made, dan henge’do bertujuan untuk memutuskan rantai kutukan tersebut dan menyeimbangkan kembali relasi yang telah rusak. Dalam keseluruhan praktik yang ada, Penulis menggunakan 5 fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi pastoral nampak dalam praktik budaya orang Sabu. Selain itu, dalam praktik penyembuhan duka tersebut terdapat nilai-nilai teologis yang dapat membantu gereja untuk belajar dari komunitas Orang Sabu dalam menciptakan pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bahwa kematian dalam pandangan Alkitab adalah realitas setiap manusia yang hidup. Kematian yang ada menyisihkan duka bagi masing-masing orang berbeda dalam tingkatan dan cara pemulihan. Untuk itu, perlu adanya pendampingan pastoral yang utuh dan holistik bagi segenap ciptaan dengan menyoroti peran komunitas di dalamnya. Sehingga pendampingan pastoral Lintas budaya menjadi tawaran menarik bagi gereja, agar gereja dapat belajar menjadi komunitas yang menyembuhkan secara utuh dan holistik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail