Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

33 hasil
Subjek: warna
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifikasi Jenis-Jenis Tumbuhan Penghasil Pewarna Alami Dalam Pembuatan Tenun Ikat Di Desa Belle Kecamatan Ki`E Kabupaten Timor Tengah Selatan

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tenun ikat merupakan salah satu seni budaya kain tradisional Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tumbuh dan berkembang secara turun-temurun dalam masyarakat.Kebiasaan menenun bagi masyarakat Desa Bellekabupaten TTS, sudah berlangsung secara turun-temurun, sehingga mereka pun tidak mengetahui kapan dimulainya budaya menenun. Pemakaian zat warna yang berasal dari tanaman telah banyak dilakukan oleh para pengrajin tenun ikat Desa Belle, namun yang paling banyak digunakan adalah yang berasal dari daun tanaman yang diperoleh dari hutan.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan apa saja yang digunakan sebagai pewarna alami dalam pembuatan tenun ikat di Desa Belle Kecamatan Ki`E Kabupaten Timor Tengah Selatan.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif,Teknik observasi langsung di lapangan dan wawancara dengan 5 orang pengrajin tenun ikat, yang mengacu pada daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti kepada pengrajin tenun ikat (Walujo,2004). Hasil penelitian menunjukan bahwa 10 jenis tumbuhan yang ada dimanfaatkan sebagai pewarna alami baik sebagai penghasil warna maupun sebagai tumbuhan pendamping dalam proses pewarnaan kain tenun ikat. Jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai penghasil warna pada kain tenun ikat oleh masyarakat di desa Belle adalah Tarum (Indigofera tinctoria L) menghasilkan warna hitam , Mengkudu (Morinda citrifolia L) menghasilkan warna merah, Kacang Arbila (Phaseolus lunatus L) menghasilkan warna hijau, buah tinta (hylantus reticulatus Poir) menghasilkan warna biru, kunyit (Curcuma domestica L) menghasilkan warna kuning, mahoni (Swietenia macrophylla King) menghasilkan cokelat, jati (T. grandis Linn. F) menghasilkan warna ungu, mangga (M. Indica L) menghasilkan warna hitam, nangka(Artocarpusintegra L) menghasilkan warna kuning dan kemiri (Aleuritas moluccana)menghasilkan warna kuning.Oleh karena itu para pengrajin di Desa Belle menggunakan akar, batang,daun,kulit kayu, dan buah dari tanaman diatas untuk menghasilkan warna pada tenun ikat

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTUAN HARGA JUAL KAIN TENUN IKAT BERBASIS PEWARNA ALAM DI KABUPATEM SUMBA TIMUR (STUDI PADA KELOMPOK TENUN KALIUDA)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh biaya produksi, motif kain, bahan baku pewarna, ukuran kain, dan persaingan harga pasar terhadap penentuan harga jual kain tenun ikat. Penelitian ini merupakan penelitian metode kuantitatif dengan wawancara dan membagikan kuesioner kepada pengrajin kain tenun ikat untuk memperoleh data. Populasi menurut (Sugiyono, 2014:80) suatu wilayah yang di dalamnya terdapat subjek atau objek yang memiliki kualitas dan karakter yang tepat untuk digunakan dalam sebuah penelitian dan yang kemudian dapat diambil kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah pelaku usaha kain tenun ikat sumba timur Sentra Kaliuda di tahun 2022 yang berjumlah 33 orang. Biaya produksi berpengaruh terhadap penentuan harga jual kain tenun ikat. Hal ini dapat dibuktikan dengan data hasil uji t yang nilai signifikan 0,015 kurang dari 0,05, dan pada kenyataan yang sering kita temui dan pada penenlitian yang saya jalani dapat dilihat bahwa biaya produksi sangat berpengaruh pada penentuan harga jual kain tenun ikat, karena biaya produksi merupakan total biaya yang dikeluarkan oleh para pelaku usaha atau pengrajin kain tenun ikat dalam proses produksi untuk menghasilkan produk kain tenun ikat yang nantinya akan dijual atau dipasarkan untuk mendapatkan hasil atau keuntungan yang diharapkan melalui penentuan harga jual produk yang tepat. Motif kain berpengaruh terhadap penentuan harga jual kain tenun ikat. Hal ini dapat dibuktikan dengan data hasil uji t yang nilai signifikan 0,033 tidak kurang dari 0,05, dan pada kenyataan yang sering kita temui dan pada penelitian yang saya jalani dapat dilihat bahwa motif kain sangat berpengaruh pada penentuan harga jual kain tenun ikat, karena Tenun Ikat Sumba Timur memiliki makna sosial dan religius yang sangat tinggi. Kepercayaan setempat, status sosial, hubungan kekrabatan, nuansa dan kenangan peristiwa, hingga ungkapan rasa dan keadaan alam sekitar, semuannya memiliki motifnya sendiri dalam Kain Tenun Ikat Sumba. Motif atau ragam hias pada Kain Tenun Ikat memiliki makna yang melekat bersama kain, pemakai atau pemiliknya itu sendiri. Motif kain tenun ikat Sumba Timur terdiri dari banyak jenis yang membuat kain tenun ikat Sumba Timur memiliki motif yang sangat beragam dan memiliki tingkat kesulitan pembuatannya masing-masing. Bahan baku pewarna berpengaruh terhadap penentuan harga jual kain tenun ikat. Hal ini dapat dibuktikan dengan data hasil uji t yang nilai signifikan 0,046 tidak kurang dari 0,05, dan pada kenyataan yang sering kita temui dan pada penelitian yang saya jalani dapat dilihat bahwa bahan baku pewarna sangat berpengaruh pada penentuan harga jual kain tenun ikat kerena produk kain tenun ikat Sumba Timur dengan bahan baku pewarnaan alam sangat digemari karena menimbulkan efek khas yang tidak dapat ditiru oleh zat warna sintetis. Hal inilah yang mendukung kain tenun ikat sebagai produk eksklusif yang banyak diminati orang. Ukuran kain berpengaruh terhadap penentuan harga jual kain tenun ikat. Hal ini dapat dibuktikan dengan data hasil uji t yang nilai signifikan 0,023 tidak kurang dari 0,05, dan pada kenyataan yang sering kita temui dan pada penelitian yang saya jalani dapat dilihat bahwa ukuran kain sangat berpengaruh pada penentuan harga jual kain tenun ikat kerena ukuran produk kain tenun ikat Sumba Timur terdiri dari tiga jenis yaitu sarung, selimut dan selendang, yaitu selendang dengan rata-rata ukuran 1 x 0,6 m, sarung dengan ukuran 2 x 1 m sampai 2,5 x 1 m dan kain dengan ukuran 3 x 1,5 m. Ketiga jenis produk tersebut membutuhkan biaya produksi yang berbeda-beda dan harga jual yang juga berbeda. Persaingan harga pasar berpengaruh terhadap penentuan harga jual kain tenun ikat. Hal ini dapat dibuktikan dengan data hasil uji t yang nilai signifikan 0,017 tidak kurang dari 0,05, dan pada kenyataan yang sering kita temui dan pada penelitian yang saya jalani dapat dilihat bahwa persaingan harga pasar sangat berpengaruh pada penentuan harga jual kain tenun ikat kerena persaingan harga pasar merupakan hal yang wajar dalam berbisnis. Dalam berbisnis perusahaan akan mencoba mempertahankan eksistensinya dan akan selalu berusaha memperluas pasar perdagangannya. Kata Kunci : Biaya Produksi, Motif Kian, Bahan Baku Pewarna, Ukuran Kian, Persaingan Harga Pasar.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN ICE CREAMALPUKAT (Persea americana Mill.) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amarillifolius Roxb) SEBAGAI PEWARNA ALAMI

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Senyawa radikal bebas perlu diredam atau dikurangi sehingga diperlukan adanya senyawa antioksidan untuk menangkal dampak burukr adikal bebas. Aktivitas radikal bebas diperlukan antioksidan dari dalam makanan atau minuman. Salah satu sumber antioksidan adalah buah alpukat yang didominasi asam lemak tak jenuh tunggal serta pemanfaatan pandan wangi sebagai pewarna alami yang memiliki kandungan alkoid dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi penambahan buah alpukat yang menghasilkan aktivitas antioksidan paling tinggi dalam pembuuatan ice cream buah alpukat. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperiman dengan desain penelitian rancangan acak lengkap (RAL) sebanyak 3 perlakuan dengan ulangan sebanyak 3 kali. Metode yang digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan adalah metode DPPH dan kualitas ice cream menggunakan uji organoleptik secara statistic yaitu uji anova satujalur (One Way Anova). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembuatan ice cream alpukat dengan penambahan pandan wangi sebagai pewarna alami memiliki kandungan aktivitas antioksidan yang sangat kuat karena memiliki nilai IC50 kurang dari 50 ppm. Sedangkan dalam pengujian organoleptic perlakuan P3 berpengaruh terhadap kualitas ice cream terbaik pada kriteriawarna, aroma, rasa, dan tekstur dengan nilai sebesar 3.95%.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN PEWARNA DI DESA MANULONDO, KECAMATAN NDONA, KABUPATEN ENDE

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Keanekaragaman Tumbuhan Pewarna Di Desa Manulondo Kecamatan Ndona Kabupaten Ende Kio K.N*) Sabuna A**) Daud Y**) Keanekaragaman merupakan kekayaan mahkluk hidup di suatu kawasan baik di daratan maupun di lautan atau di tempat lainnya. Salah satu keanekaragaman yang dimiliki ialah tumbuhan pewarna. Tumbuhan pewarna merupakan tumbuhan yang secara keseluruhan baik batang, kulit, bunga, buah, biji maupun daunnya dapat menghasilkan suatu zat warna tertentu setelah melalui proses perebusan, penghancuran maupun proses lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan pewarna yang ada di Desa Manulondo, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi. Teknik pengumpulan data dengan melakukan eksplorasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dengan menghitung indeks keanekaragaman. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan Jenis tumbuhan pewarna yang ditemukan di Desa Manulondo Kecamatan Ndona Kabupaten Ende terdapat 7 jenis tumbuhan pewarna yaitu Tarum (Indigofera tinctorea L), Mengkudu (Merinda citrifolia L), Kunyit (Curcuma dometica L), Biduri (Calotropis gigantae), Jati (Tectona grandis), Pinang (Areca catechu), Angsana (Pterocarpus indicus). Nilai indeks keanekaragaman (H’) tumbuhan pewarna masuk dalam kategori sedang yaitu 1,686. Kata Kunci: Keanekaragaman, Jenis, dan Tumbuhan pewarna. Keterangan: *Peneliti **Dosen Pembimbing

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PRODUKSI SUSU BERBAHAN DASAR SARI BIJI KECIPIR DAN EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber Officinale)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian tentang penambahan ektrak jahe merah pada pembuatan susu sari biji kecipir telah di lakukan . Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali perlakuan yang telah dicobakan adalah Susu kecipir tanpa jahe merah,Penambahan ekstrak jahe merah 20%,Penambahan ekstrak jahe merah 30%. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan ekstrak jahe merah memberikan efek yang signifikan pada kualitas organoleptik dari susu sari biji kecipir. Penambahan sari jahe merah sebesar 20% dalam proses pembuatan susu sari biji kecipir memberikan efek pada warna dengan nilai 4.42 dengan kategori warna sangat disukai, rasa dengan nilai 4.42 dengan kategori rasa sangat disukai,dan aroma dengan nilai 4.67 dengan kategori aroma sangat disukai.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN PEWARNA DAN TUMBUHAN MORDAN DI DESA HUNDIHOPO KECAMATAN ROTE TIMUR KABUPATEN ROTE NDAO

2121•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Keanekaragaman merupakan kekayaan mahkluk hidup disuatu kawasan baik di daratan maupun di lautan atau di tempat lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan pewarna dan tumbuhan mordan di Desa Hundihopo Kecamatan Rote Timur Kabupaten Rote Ndao. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi. Analisis data dengan menghitung indeks keanekaragaman. Jenis tumbuhan pewarna dan tumbuhan mordan yang ditemukan di Desa Hundihopo Kecamatan Rote Timur Kabupaten Rote Ndao terdapat 13 jenis tumbuhan pewarna yaitu Tarum (Indigofera tinctorea L), Mengkudu (Merinda citrifolia L), Kunyit (Curcuma dometica L), Lagundi (vitex trifolia L), Ketapang (Terminalia catapa), Jati (Tectona grandis), Kelumpang (Sterculia foetida L), Pinang (Areca catechu), Trengguli (Cassia fistula), Kecubung (Datura metel), Biduri (Calotropis gigantae), Gadung (Dioscorea hispida), Kesambi (Scheichera oleosa) dan 10 jenis tumbuhan mordan yaitu Kelumpang (Sterculia foetida L), Dadap (Erythrina variegate), Pinang (Areca catechu L), Soga tingi (Ceriops tagal), Kecubung (Datura metel), Biduri (Calotropis gigantea), Saga (Abrus precatorius L), Loba (Symplocos sp), Jarak pagar (Jatropha curcas L), Jeruk nipis (Citrus aurantifolio). Nilai indeks keanekaragaman (H’) tumbuhan pewarna masuk dalam kategori sedang yaitu 1.002177 dan nilai indeks keanekaragaman (H’) Masuk dalam kategori rendah yaitu 0.860803.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI TUMBUHAN PEWARNA ALAMI DAN MORDAN DI DESA EKATETA KECAMATAN FATULEU KABUPATEN KUPANG

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pewarna alami merupakan warna yang dapat dihasilkan dari berbagai jenis tumbuhan penghasil pewarna alami yang dapat diperoleh dari bagian-bagiannya seperti pada daun, kulit batang, kulit buah, biji, akar dan bunga yang telah melalui beberapa proses yaitu direbus,dibakar, dimemarkan ditumbuk dan langsung digunakan. Terdapat kurang lebih 150 jenis pewarna alami di Indonesia yang telah diidentifikasi dan digunakan secara luas dalam berbagai industri seperti pada komoditas kerajinan dan batik. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja jenis-jenis tumbuhan pewarna alami dan mordan yang terdapat di Desa Ekateta Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi atau penjelajahan yaitu tindakan penjelajahan suatu permasalahan atau topik untuk memahami suatu permasalahan tersebut yang berhubungan dengan upaya untuk menentukan apakah tumbuhan pewarna alami dan mordan tersebut ada atau tidak. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 8 jenis tumbuhan pewarna alami yaitu mahoni (Swietenia macrhophylla King) menghasilkan warna merah, mengkudu (Morinda citrifolia L) menghasilkan warna merah, pinang (Schleichera oleosa L) menghasilkan warna merah, kunyit (Curcuma domestica L) menghasilkan warna kuning, Jati (T. grandis L. f) menghasilkan warna ungu, mangga (M. indica L) menghasilkan warna hitam, nangka (Arthocar pusintegra L) menghasilkan warna kuning, kusambi (Schleichera doesa L) menghasilkan warna merah. Dan 3 jenis mordan yaitu biduri (Calotropis gigantea L.Dryand ), jarak pagar (Jatropha curcas L ) dan jeruk nipis (Citrus aurantifolia ).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN PEWARNA ALAMI DAN MORDAN DI DESA MERBAUN KECAMATAN AMARASI BARAT KABUPATEN KUPANG

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Keanekaragaman merupakan kekayaan mahkluk hidup disuatu kawasan baik di daratan maupun di lautan atau di tempat lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan pewarna alami dan mordan di Desa Merbaun Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi. Analisis data dengan menghitung indeks keanekaragaman. Jenis tumbuhan pewarna alami dan mordan yang ditemukan di Desa Merbaun Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang terdapat 12 jenis tumbuhan pewarna yaitu Mengkudu (Merinda citrifolia L), Tarum (Indigofera tinctorea L), Kunyit (Curcuma dometica L), Ketapang (Terminalia catapa), Jati (Tectona grandis), Pinang (Areca catechu L),Pisang (Musaceae), Nangka (Artocarpus heterophyllus L), Pepaya (Carica papaya L), Mangga (Mangifera indica L), Kelapa (Cocos nucifera L), dan Biduri (Calotropis) ( dan 7 jenis tumbuhan mordan yaitu Jeruk nipis (Citrus aurantifolio), Jarak pagar (Jatropha curcas L), Pinang (Araca catechu L), Kemiri(Aleurites moluccana L),Biduri (Calotropis), Delima (Punica granatum L), dan Kapok randu alas (Bombax ceiba L). Nilai indeks keanekaragaman (H’) tumbuhan pewarna alami masuk dalam kategori sedang yaitu 2.117209 dan indeks keanekaragaman (H’) tumbuhan mordan masuk dalam kategori sedang yaitu 1.684782..

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP OBJEK WISATA PANTAI WARNA DI KELURAHAN OESAPA KECAMATAN KELAPA LIMA KOTA KUPANG

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

RINGKASAN THOFIN IMANUEL TEFSELE (15380060) Persepsi Masyarakat Terhadap Objek Wisata Pantai Warna di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang; Dr. BEATRIX M. REHATTA, S.Pi, M.Si dan DONNY M. BESSIE, S.Pi, M.Si (sebagai Pembimbing I dan II). Program Studi, Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Pantai Oesapa memiliki potensi sumber daya alam yang dimilikinya diantaranya terdapat mangrove dan juga ikan pelagis kecil. Ekowisata merupakan sektor pariwisata yang berpotensi sebagai salah satu penunjang perkonomian nasional, ekowisata dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Persepsi perlu di teliti untuk mengetahui tanggapan langsung dari masyarakat atau pengunjung terhadap suatu obyek wisata sehingga nantinya dari persepsi tersebut dapat menjadi masukan serta evaluasi pihak pengelola. Pantai Warna dikembangkan sebagai objek wisata yang menarik untuk di kunjungi, karena memiliki panorama yang indah hamparan pasir putih yang lembut, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap objek wisata pantai warna di kelurahan oesapa, kecamatan kelapa lima, kota kupang Penelitian dilakukan di pantai warna kelurahan oesapa, kecamatan kelapa lima, kota kupang dari bulan april-mei tahun 2022. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan cara survey. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling menggunakan rumus slovin. Analisis data digunakan adalah teknik analisis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan menunjukan bahwa persepsi masyarakat objek wisata pantai warna oesapa, (1) keindahan pantai dengan skor rata-rata 3,20 dengan persepsi masyarakat berada dalam kategori baik, (2) Aksesbilitas dengan skor rata-rata 3,68 dengan persepsi masyarakat berada dalam kategori sangat baik, (3) sarana pondok wisata atau lopo dengan skor rata-rata 3,03 dengan persepsi masyarakat berada dalam kategori baik, (4) kafe dan kios dengan skor rata-rata 3,47 dengan persepsi masyarakat berada dalam kategori baik, (5) tempat sampah dengan skor rata-rata 1,72 dengan persepsi masyarakat berada dalam kategori tidak baik, (6) wc umum dengan skor rata-rata 1,30 dengan persepsi masyarakat berada dalam kategori tidak baik, (7) lahan parkir dengan skor rata-rata 3,11 dengan persepsi masyarakat berada dalam kategori baik, (8) pos keamanan dengan skor rata-rata 3,27 dengan persepsi masyarakat berada dalam kategori baik. Dengan demikian persepsi masyarakat secara keseluruhan berada dalam kategori baik. Kata Kunci : Potensi perikanan, persepsi, masyarakat, wisata pantai warna, oesapa

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Strategis pengelolaan sampah di tiga lokasi wisata pesisir laut kota kupang, NTT

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang berkaitan dengan sampah di Pantai Warna Oesapa dan Pantai Lasiana serta menganalisa strategi pengelolaan sampah di Pantai Warna Oesapa dan Pantai Lasiana.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode 3R Reduce atau Menggurangi, Reuse atau Menggunakan and Recyle atau Mendaur ulang (Risma Dwi Arisona 2018). Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukan jumlah faktor internal dan eksternal yaitu: 3 (tiga) faktor kekuatan, 3 (tiga) faktor kelemahan (Internal), 3 (tiga) faktor peluang, 3 (tiga) faktor tantangan/ancaman (Eksternal) dan strategi pengelolaan sampah di Pantai Warna Oesapa adalah strategi S-O yang didapat berdasarkan nilai perhitungan analisis SWOT yaitu pada sumbu X dengan nilai 7,5 dan sumbu Y dengan nilai 5,5, sedangkan di Pantai Lasiana jumlah faktor yaitu: 3 (tiga) faktor kekuatan, 3 (tiga) faktor kelemahan (Internal), 3 (tiga) faktor peluang, 3 (tiga) faktor tantangan (eksternal) dan strategi pengelolaan sampah di Pantai Lasiana yaitu strategi S-O yang di dapat berdasarkan nilai perhitungan analisis SWOT yaitu pada sumbu X dengan nilai 5,5 dan sumbu Y dengan nilai 1,5. ABSTRACT The purpose of this research is to identify internal and external factors related to waste in Oesapa Color Beach and Lasiana Beach and analyse waste management strategy in Oesapa Color Beach and Lasiana Beach. The method used in this study is the 3R Reduce, Reuse, and Recycle (Risma Dwi Arisona 2018). Data collection techniques using observation, interview and documentation. The data analysis used in this study is a SWOT. The result of this study indicate of internal and external factors about 3 (three) strength factors, 3 (three) weakness factor for internal factors, 3 (three) opportunity factors, 3 (three) challenges/threats factors for external factors. A waste management strategy that is feasible to be developed at the Oesapa Color Beachis ti use the S-O strategy which is based on the calculated value of SWOT analysis about on the X axis with a value of 7,5 and the Y axis with a value of 5,5, while the number of internal and external factors on the Lasiana Beach is 3 (three) strength factors, 3 (three) weakness factors, 3 (three) opportunity factors, 3 (three) challenge/threat factors for external factors and waste management strategy that is feasible to be developed on the coast of Lasiana Beach is using the S-O strategy based on the value of the SWOT analysis calculation, on the X axis with a value of 5,5 and the Y axis with a value of 1,5.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH SUBSTITUSI BUBUR JAMBU BIJI MERAH PADA KETAN TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIK DODOL JAMBU BIJI

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dodol merupakan salah satu olahan hasil pertanian yang sangat diminati oleh banyak kalangan baik orang tua, orang dewasa dan anak-anak. Dodol termasuk dalam jenis pangan semi basah dengan kadar air 30% (Dewan Standarisasi Nasional,1992).Bahan dasar pembuatan dodol adalah tepung ketan,gula pasir dan santan kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi bubur jambu biji pada tepung ketan terhadap karakteristik sensorik dodol jambu biji. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Prosesing Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga didapat 12 unit pecobaan. Perlakuan A (kontrol) 0% substitusi bubur jambu, Perlakuan B 15% substitusi bubur jambu , Perlakuan C 30% substitusi bubur jambu dan Perlakuan D 45% substitusi bubur jambu. Variabel pengamatan adalah, uji organoleptik ( warna, aroma dan rasa),uji fisik (tekstur) dan analisis kimia (kadar air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik uji organoleptik pada perlakuan (D) substitusi bubur jambu 45 % dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan Rasa 4,97 (sangat suka), warna 4,80(sangat suka), aroma 4,77 (sangat suka), uji fisik (tekstur)4,91 sangat suka dan analis kimia (kadar air) 5,79 sangat suka.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG SUKUN PADA TEPUNG TERIGU TERHADAP KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK BROWNIES KUKUS

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG SUKUN PADA TEPUNG TERIGU TERHADAP KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK BROWNIES KUKUS Johan Tamu Ama; Melkianus Nuhamara; I. D. A. A. R. R. Adi Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Email : [email protected] ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat substitusi tepung sukun pada tepung terigu terhadap karakteristik organoleptik brownis kukus dan untuk mengetahui tingkat substitusi tepung sukun terbaik pada tepung terigu terhadap karakteristik organoleptik brownies kukus. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang di cobakan dalam penelitian ini yaitu :P0 (kontrol) = Tepung Terigu 100% tanpa adanya substitusi tepung sukun; P1 = 60% Tepung Terigu + 40% Tepung Sukun; P2 = 55% Tepung Terigu + 45% Tepung Sukun; P3= 50% Tepung Terigu + 50% Tepung Sukun dan P4 = 45% Tepung Terigu + 55% Tepung Sukun. Adapun parameter yang akan diamati dalam penelitian adalah karakteristik organoleptik berupa warna, rasa, aroma, tekstur.Data yang diperoleh ditabulasi dan dihitung kemudian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Uji Analisis Organoleptik tertinggi terdapat pada perlakuan P4 (55%) Tepung Sukun dengan nilai warna 4.622, Aroma 4.822, Rasa 4.600 dan Tekstur 4.489.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KONSENTRASI SARI SABUT BUAH LONTAR TERHADAP CITA RASA ES KRIM

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH KONSENTRASI SARI SABUT BUAH LONTAR TERHADAP CITA RASA ES KRIM Umbu Tamu Mahabar; A. I. Medeah; Zet Malelak Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Email : [email protected] ABSTRAK Tujuandaripenelitianiniadalah Untuk mengetahui berapakah konsentrasi optimum dalam penambahan sari sabut buah lontar yang dapat meningkatkan penerimaan sensorikkonsumen pada es krim dan untuk mengetahui profil kesukaan masyarakat terhadap es krim dengan konsentrasi sari sabut buah lontar dilihar dari warna, rasa, aroma dan tekstur. Adapunbahan-bahan yang akandigunakandalamkegiatanpenelitianini, yaitu:sari sabutbuah lontar (70 gr), SP (125 gr), santankelapa (300 gr), gulapasir (200 gr)dan susu (1500 gr). Adapunalat yang akandigunakandalampenelitianini, yaitu: Timbangan, blender, freezer, gelasukur, saringan, pisau, mixer, cup ice cream, baskomplastik, pancialuminium dan kompor.Penelitian yang dilakukan menggunakan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 30 orang panelis. Perlakuan yang dicobakan terdiri dari:P0 = Tanpa penambahan konsentrasi sari sabut buah lontar; P1 = Penambahan sari sabut buah lontar 7 %; P2 = Penambahan sari sabut buah lontar 14 %; P3 = Penambahan sari sabut buah lontar 21%; P4 = Penambahan sari sabut buah lontar 28 %. Adapunvariabel yang akandiamatidalampenelitianadalahCita rasa (warna, rasa, aroma, tekstur).Data yang diperolehdihitungmenggunakanAnalisis of variance (ANOVA). Nilai rata-rata karakteristikaspekwarna (P0 = 1.02; P1 = 1.833; P2 = 2.944; P3 = 3.944; P4 = 4.667), karakteristikaspek rasa (P0 = 2.00; P1 = 2.778; P2 = 3.444; P3 = 4.122; P4 = 4.756), karakteristikaspek aroma (P0 = 1.11; P1 = 2.089; P2 = 3.144; P3 = 3.9; P4 = 4.944) dan karakteristikaspektekstur (P0 = 1.74; P1 = 2.911; P2 = 3.244; P3 = 4; P4 = 4.933). Hasil AnalisisSidikRagam (ANOVA) menunjukkanbahwapembuatan es krim sari sabutbuahlontarmemberikanpengaruh yang nyata pada tarafsignifikan 1% (P>0.01) terhadappenerimaankarakteristikaspekwarna, rasa, aroma dan tekstur. Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu : Penambahan sari sabut buah lontar pada pembuatan es krim dengan perlakuan yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata pada taraf 1% (P>0.01) terhadap karakteristik organoleptik dilihat dari aspek rasa, aroma, warna dan tekstur yang dihasilkan, persentase sari sabut buah lontar yang paling baik digunakan pada es krim yaitu persentase 28% terhadap karakteristik organoleptik rasa, aroma, warna dan tekstur dan es krim dengan penambahan sari sabut buah lontar dapat diterima oleh panelis terhadap karakteristik organoleptik warna, rasa, aroma dan tekstur.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENAMBAHAN TEPUNG LABU KUNING (Cucurbita moschata) PADA TEPUNG TERIGU TERHADAP SIFAT FISIK KIMIA DAN ORGANOLEPTIK BISKUIT

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

TERIGU TERHADAP SIFAT FISIK KIMIA DAN ORGANOLEPTIK BISKUIT Feronika Mo’i*) , Lesybeth M Nubatonis**) Zet Malelak**) ABSTRAK Biskuit adalah produk panggang dalam bentuk potongan kecil dan mempunyai tekstur atau konsistensi yang kering, renyah dan tekstur berpori lebih rapat Penelitian ini tentang Penambahan tepung labu kuning pada tepung terigu terhadap sifat fisik kimia dan organoleptik biskuit dan metode yang digunakan adalah menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 12 unit percobaan. analisis menunjukan bahwa Perlakuan lama waktu pembuatan dalam menghasilkan biskuit memberikan pengaruh yang sangat nyata (P>0,01) pada taraf signifikan 1% terhadap organoleptik biskuit yaitu aroma, warna, rasa dan tekstur biskuit. Hasil analisis dan pembahasan menunjukkan bahwa perlakuan yang tepat dengan lama waktu pembuatan dalam menghasilkan biskuit terdapat pada perlakuan D 15 menit yang mendapat rata-rata nilai untuk setiap variabel yaitu tingkat kesukaan aroma biskuit (4,611) sangat suka, rasa biskuit (4,77) sangat suka, warna biskuit (4,567) sangat suka tekstur biskuit (4,711). Kata Kunci : labu kuning, pembuatan ,biskuit, aroma, rasa, warna, tekstur.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

LAMA WAKTU PEMASAKAN GULA DALAM MENGHASILKAN KARAKTERISTIK TENTENG KACANG TANAH

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

LAMA WAKTU PEMASAKAN GULA DALAM MENGHASILKAN KARAKTERISTIK TENTENG KACANG TANAH Rolan K.A.Nenomataus1), Lesybeth M.Nubatonis1)Zet Malelak2) ABSTRAK Kacang tanah merupakan salah satu produk yang banyak dijumpai di Belu dan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari kacang tanah dapat diolah menjadi beberapa produk salah satunya adalah tenteng kacang tanah. Penelitian bertujuan untuk mengatahui lama waktu pemasakan gula dalam menghasilkan tekstur tenteng yang terbaik dan untuk mendapatkan salah satu perlakuan lama waktu pemasakan pada pembuatan tenteng. Metode yang digunakan adalah Rancang Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 12 unit percobaan. Hasil analisis menunjukan bahwa perlakuan lama waktu pemasakan gula menghasilkan karakteristik organoleptik tenteng kacang tanah yaitu warna, rasa dan tekstur memberikan pengaruh yang sangat nyata pada taraf 1%. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu pemasakan gula menghasilkan karakteristik tenteng kacang tanah yang terbaik terdapat pada perlakuan B ( lama waktu pemasakan 5 menit) dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan rasa tenteng kacang tanah (4,861) sangat suka, warna tenteng kacang tanah (4,611) sangat suka dan tekstur tenteng kacang tanah (4,722). Kata Kunci : kacang tanah, pemasakan, tenteng, rasa, warna, tekstur.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PENAMBAHAN GULA DALAM MENGHASILKAN PERMEN SUSPENSI LONTAR

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH PENAMBAHAN GULA DALAM MENGHASILKAN PERMEN SUSPENSI LONTAR Yulita K Mbaring*) Nubatonis M.Lesybeth**) MalelakZet**) ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan dilaboratorium Eksata universitas Kristen Artha Wacana Kupang pada tanggal 8-9 juli 2021. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh dari penambahan gula dala m menghasilkan permen lontar. Metode yang digunakan adalah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing di ulang sebanyak 3 kali sehingga menghasilkan 12 unit percobaan dengan presentase 80 gr, 100 gr, 120 gr, 140 gr gula. Hasil penelitian menunjukan bahnwa uji analisis organoleptik pada Aroma permen tertinggi terdapat pada perlakuan C dengan penambahan 120 gr gula yang menghasilkan nilai rata-rata 4,25, rasa pada permen yang paling tertinggi (suka) terdapat pada perlakuan C dengan nilai rata-rata 4,25, dan Tekstur permen yang paling tertinggi disukai yaitu terdapat pada perlakuan C dengan nilai rata-rata 4,416. Penambahan 140 gr gula menunjukan tingkat kekerasan tertinggi yaitu 4,533 berbeda nyata terhadap perlakuan penambahan gula 80,100,120 gr. Kata Kunci :permen, buah lontar, warna, rasa, dan tekstur.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH SUHU PEMANGGANGAN DALAM PEMBUATAN CHIFFON

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH SUHU PEMANGGANGAN DALAM PEMBUATAN CHIFFON Luruk Jenita *) Nubatonis Lesybet**) Malelak Zet**) ABSTRAK Penelitian tentang pengaruh suhu pemanggangan dalam pembuatan chiffon.Metode yang digunakan adalah mengunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masin diulang sebanyak 3 kali sehingga menghasilkan 12 unit prcobaan dengan Suhu 155 OC ,Suhu 165 OC,Suhu 175 OC,dan Suhu 185 OC. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan terbaik dari hasil analisis terhadap respon organoleptik yang ditinjau dari rasa,aroma,warna,dan tekstur yang paling disukai panelis yaitu perlakuan A. 155 OC yang mendapat rata-rata nilai untuk setiap variabel yaitu tingkat kesukaan rasa sangat suka (3,833), aroma sanggat suka (3,750) warna sanggat suka (3,694) dan tekstur sangat suka (3,750 Sampel atau produk chiffon. Kata kunci : chiffon, suhu, Warna, Rasa, aroma,Tekstur

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK PADA SIRUP BUAH SIRSAK (Annona Muricata L.) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK BUAH JAMBLANG (Syzygium cumini)”

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Sirup buah sirsak merupakan salah satu produk olahan yang dibuat dari penambahan gula dan air dengan rasa dan aroma yang ditentukan oleh buah segarnya. Penelitian ini dilakukan dilaboratorium prosesing Fakultas Teknologi Hasil Pertanian Univerisitas Kristen Artha Wacana Kupang, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuakan dan 3 kali ulangan sehingah didapat 12 unit percobaan. Dengan presentase 0% 10% 15% dan 20% variabel yang diamati adalah karakteristik organoletik yang meliputi: warna,rasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahaui adanya pegaruh dari pada penambahan sari jamblang terhadap krakteristik organoletik pada sirup sirsak sebagai bentuk penganekaragaman produk olahan dari sirup buah sirsak. Hasil penelitian menujukan bahwa perlakuan terbaik organoletik terdapat pada perlakuan D dengan nilai tingkat kesukaan warna 4,667, rasa 4,756 dengan kategori sangat suka.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

LAMA FERMENTASI NIRA LONTAR DARI LOKASI YANG BERBEDA TERHADAP KARAKTERISTIK LARU PUTIH.

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

LAMA FERMENTASI NIRA LONTAR DARI LOKASI YANG BERBEDA TERHADAP KARAKTERISTIK LARU PUTIH. TALAEN MELTUS*), NUBATONIS M.L**), MALELAK ZET**) ABSTRAK Pohon Nira Lontar (Borassus flabellifer) merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat menghasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase, pH, kadar gula, dan organoleptik warna dan rasa yang dihasilkan oleh pohon Nira Lontar (Borassus flabellifer) yang di fermentasi secara spontan.yang di ambil dari lima Desa yang berbeda yaitu Desa Baumata, Naimata, Oebelo, Oesapa, dan Tuapukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengukuran pH dengan menggunakan alat pen tipe pH meter menunjukan adanya perbedaan yang signifikan yaitu hasil tertinggi terdapat pada Desa Baumata (3,200) dan Desa Naimata (3,050O) di bandingkan dengan Desa Oebelo (2,875), Oesapa (2,975), Tuapukan ( 2,775). dan pada pengukuran kadar gula dengan menggunakan alat refraktometer menunjukan hasil yang signiikan juga yaitu hasil tertinggi terdapat pada Desa Baumata (8,750) di bandingkan pada Desa Naimata (5,250), Oebelo (4,750), Oesapa (4,700), dan Tuapukan (2,900) yeng paling terendah. Sedangkan pengukuran organoleptik di uji dengan menggunakan panelis sebanyak 15 yang memberikan respon secara signifikan berbeda yaitu pada warna menunjukan hasil kesukaan tertinggi terdapat pada Desa Baumata (3,683), Naimata ( 3,483), Oebelo (3,150), di bandingkan dengan Desa Oesapa ( 2,483), Tuapukan ( 1,867) yang paling terendah. Sedangkan pada rasa menunjukan kesukaan tertinggi terdapat pada Desa Baumata (3,817), Naimata (3,467), Oebelo (3,333), di bandingkan dengan Desa Oesapa (2,517), dan Tuapukan (1,783) yang paling terendah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Substitusi Tepung Ampas Kelapa Pada Tepung Terigu Terhadap Sifat Sensorik Biskuit

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung ampas kelapa pada tepung terigu terhadap tingkat penerimaan sensorik biskuit yang disukai konsumen. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan sehingga menghasilkan 12 unit percobaan. Adapun perlakuan sebagai berikut : A kontrol ( tanpa tepung ampas kelapa) B (5% tepung ampas kelapa), C (10% tepung ampas kelapa) dan D (15% tepung ampas kelapa). Substitusi tepung ampas kelapa pada tepung terigu berpengaruh terhadap sifat sensorik biskuit. Perlakuan substitusi tepung ampas kelapa yang menggantikan sebagian tepung terigu dalam pembuatan biskuit yang diterima panelis adalah perlakuan D (substitusi 15%) dengan nilai rata-rata tekstur biskuit (3,933 %) warna biskuit (4,6 %) rasa biskuit (4,489 %) aroma biskuit (4,556 %).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail