INVENTARISASI WARNA BIRU ALAMI PADA BENANG KATUN TENUN IKAT ASAL NUSA TENGGARA TIMUR
Tenunan tradisional yang dikenal di Nusa Tenggara Timur pada umumnya adalah tenun ikat Penggunaan zat pewarna alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah dimulai sejak zaman dahulu terutama untuk pewarnaan kain. Pada tumbuhan penghasil warna biru tidak dapat menghasilkan warna biru yang bervariasi, tumbuhan tersebut hanya menghasilkan satu warna biru, maka akan dilakukan penambahan mordan karena mordan bukan hanya dapat digunakan sebagai penguat warna tetapi juga bisa merubah warna. Penelitian ini bertujuan untuk; a) Untuk mengetahui bahan dan mordan apa saja yang menghasilkan warna biru, b) Untuk dapat mengetahui proses pengolahan untuk menghasilkan berbagai macam warna biru, c) Untuk mengetahui macam-macam warna biru yang dihasilkan. Sampel diambil dijalan Timor Raya, Desa Noelbakai, Kecamatan Kupang Tengah, sampel yang diambil yaitu daun tarum dan mordan jeruk nipis, jahe, air kelapa, kapur, tawas, gula merah, cuka, diperoleh dari pasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik dokumentasi dan eksperimen. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Agustus hingga Desember 2019 di Laboratorium Biologi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat 5 warna biru yang dihasilkan dari campuran antara tumbuhan tarum dan tujuh mordan. Tarum dicampur dengan jahe menghasilkan warna soft blue, tarum dicampur gula merah menghasilkan warna teal blue , tarum dicampur tawas menghasilkan warna cadet blue, tarum dicampur kapur menghasilkan warna atomic steel blue, tarum dicampur air kelapa menghasilkan warna midnight blue, dan pada penelitian ini terdapat 2 warna biru yang sama antara tarum dicampur dengan jeruk nipis dan tarum dicampur dengan cuka menghasilkan warna endearvor blue.