ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tenun ikat merupakan salah satu seni budaya kain tradisional Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tumbuh dan berkembang secara turun-temurun dalam masyarakat.Kebiasaan menenun bagi masyarakat Desa Bellekabupaten TTS, sudah berlangsung secara turun-temurun, sehingga mereka pun tidak mengetahui kapan dimulainya budaya menenun. Pemakaian zat warna yang berasal dari tanaman telah banyak dilakukan oleh para pengrajin tenun ikat Desa Belle, namun yang paling banyak digunakan adalah yang berasal dari daun tanaman yang diperoleh dari hutan.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan apa saja yang digunakan sebagai pewarna alami dalam pembuatan tenun ikat di Desa Belle Kecamatan Ki`E Kabupaten Timor Tengah Selatan.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif,Teknik observasi langsung di lapangan dan wawancara dengan 5 orang pengrajin tenun ikat, yang mengacu pada daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti kepada pengrajin tenun ikat (Walujo,2004). Hasil penelitian menunjukan bahwa 10 jenis tumbuhan yang ada dimanfaatkan sebagai pewarna alami baik sebagai penghasil warna maupun sebagai tumbuhan pendamping dalam proses pewarnaan kain tenun ikat. Jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai penghasil warna pada kain tenun ikat oleh masyarakat di desa Belle adalah Tarum (Indigofera tinctoria L) menghasilkan warna hitam , Mengkudu (Morinda citrifolia L) menghasilkan warna merah, Kacang Arbila (Phaseolus lunatus L) menghasilkan warna hijau, buah tinta (hylantus reticulatus Poir) menghasilkan warna biru, kunyit (Curcuma domestica L) menghasilkan warna kuning, mahoni (Swietenia macrophylla King) menghasilkan cokelat, jati (T. grandis Linn. F) menghasilkan warna ungu, mangga (M. Indica L) menghasilkan warna hitam, nangka(Artocarpusintegra L) menghasilkan warna kuning dan kemiri (Aleuritas moluccana)menghasilkan warna kuning.Oleh karena itu para pengrajin di Desa Belle menggunakan akar, batang,daun,kulit kayu, dan buah dari tanaman diatas untuk menghasilkan warna pada tenun ikat
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Senyawa radikal bebas perlu diredam atau dikurangi sehingga diperlukan adanya senyawa antioksidan untuk menangkal dampak burukr adikal bebas. Aktivitas radikal bebas diperlukan antioksidan dari dalam makanan atau minuman. Salah satu sumber antioksidan adalah buah alpukat yang didominasi asam lemak tak jenuh tunggal serta pemanfaatan pandan wangi sebagai pewarna alami yang memiliki kandungan alkoid dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi penambahan buah alpukat yang menghasilkan aktivitas antioksidan paling tinggi dalam pembuuatan ice cream buah alpukat. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperiman dengan desain penelitian rancangan acak lengkap (RAL) sebanyak 3 perlakuan dengan ulangan sebanyak 3 kali. Metode yang digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan adalah metode DPPH dan kualitas ice cream menggunakan uji organoleptik secara statistic yaitu uji anova satujalur (One Way Anova). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembuatan ice cream alpukat dengan penambahan pandan wangi sebagai pewarna alami memiliki kandungan aktivitas antioksidan yang sangat kuat karena memiliki nilai IC50 kurang dari 50 ppm. Sedangkan dalam pengujian organoleptic perlakuan P3 berpengaruh terhadap kualitas ice cream terbaik pada kriteriawarna, aroma, rasa, dan tekstur dengan nilai sebesar 3.95%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keanekaragaman merupakan kekayaan mahkluk hidup disuatu kawasan baik di daratan maupun di lautan atau di tempat lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan pewarna alami dan mordan di Desa Merbaun Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi. Analisis data dengan menghitung indeks keanekaragaman. Jenis tumbuhan pewarna alami dan mordan yang ditemukan di Desa Merbaun Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang terdapat 12 jenis tumbuhan pewarna yaitu Mengkudu (Merinda citrifolia L), Tarum (Indigofera tinctorea L), Kunyit (Curcuma dometica L), Ketapang (Terminalia catapa), Jati (Tectona grandis), Pinang (Areca catechu L),Pisang (Musaceae), Nangka (Artocarpus heterophyllus L), Pepaya (Carica papaya L), Mangga (Mangifera indica L), Kelapa (Cocos nucifera L), dan Biduri (Calotropis) ( dan 7 jenis tumbuhan mordan yaitu Jeruk nipis (Citrus aurantifolio), Jarak pagar (Jatropha curcas L), Pinang (Araca catechu L), Kemiri(Aleurites moluccana L),Biduri (Calotropis), Delima (Punica granatum L), dan Kapok randu alas (Bombax ceiba L). Nilai indeks keanekaragaman (H’) tumbuhan pewarna alami masuk dalam kategori sedang yaitu 2.117209 dan indeks keanekaragaman (H’) tumbuhan mordan masuk dalam kategori sedang yaitu 1.684782..
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berjudul Pengaruh Limbah Pewarna Alami Mengkudu terhadap Kadar BOD, COD dan TSS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) Pengaruh limbah pewarna alami mangkudu terhadap kadar BOD. 2) Pengaruh limbah pewarna alami mangkudu terhadap kadar COD. 3) Pengaruh limbah pewarna alami mangkudu terhadap kadar TSS. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa; Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa kadar BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand) dan TSS (Total Suspended Solid) pada limbah mengkudu bersifat ramah bagi lingkungan dan aman untuk kesehatan lingkungan karena nilai zat limbah mengkudu masih di bawah standar nilai buku mutu. berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan agar para pengrajin kain tenun hendaknya selalu menggunakan pewarna alam karena lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan dan bagi dinas perindustrian, hendaknya membudidayakan tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk industri tekstil.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Kacang hijau (Phaseolus radiates L.) merupakan tanaman yang sudah dikenal lama dan memiliki keunggulan dibandingkan dengan tanaman kacang-kacangan lainnya. Kacang hijau aalah saalah satu tanaman yang memiliki banyak rmanfaat sebagai sumber protein. Berdasarkan keragaman manfaat yang dimiliki kacang hijau, diperlukan upaya untuk mempertahankan kelestariannya dan meningkatkan produksi tanaman yaitu dengan melakukan pengelolaan dan teknik pembudidayaan yang tepat. Penelitian ini bertuan untuk menganalisis pengaruh limbah cair pewarna alami berbahan dasar mengkudu terhadap perkecambahan tanaman kacang hijau. Benih yang digunakan dalam penelitian ini merupakan bibit yang berkualitas baik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL)dengan 4 taraf perlakuan yang terdiri atas 0%, 20%, 40%, 60% dan 80% dan diulangi sebanyak 5 kali. Parameter pengamatan dalam penelitian ini meliputi daya kecambah, kecepatan berkecambah, dan nilai rata-rata perkecambahan harian.Data empiris yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA (uji F), dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%, Jika FhitungFtabel (α=0,05). Berdasarkan hasil uji ANOVA, dari ketiga parameter pengamatan pemberian limbah cair pewarna alami terhadap perkecambahan benih kacang hijau tidak berpengaruh berbeda nyata antar setiap perlakuan karena FhitungFtabel(ρ0,05). Dengan demikian, maka penelitian ini tidak dapat di uji lanjut
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat kaya akan hasil tenun tradisional yang beraneka ragam, masing-masing daerah memiliki hasil tenunan dengan beraneka ragam motif sesuai dengan ciri khas dan adat istiadat budaya setempat. Tenunan ini merupakan hasil karya atau buatan tangan wanita-wanita daerah setempat dengan sistem menenun secara tradisional. Sejak dahulu masyarakat atau pengrajin sudah mengenal zat pewarna alami yang dipakai untuk memberi warna pada makanan, kosmetik, pakaian atau sandang, dan bahan-bahan kerajinan. Namun, seiring berkembangnya teknologi dengan ditemukan zat pewarna sintetis maka masyarakat atau pengrajin lebih memilih menggunakan pewarna sintetis. Salah satu kendala zat pewarna alami ialah tumbuhan yang menghasilkan zat warna ini terbatas dan warna yang dihasilkan itu kurang bervariasi. Dibalik dari kelemahan zat pewarna alami ini memiliki potensi yang sangat tinggi di pasar global karena memiliki keunikan warna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode trial and eror research karena dapat meneiliti suatu objek secara berulang atau mencoba sesuatu yang terdapat dimasa sekarang. Tumbuhan rimpang kunyit menghasilkan warna sepia brown, dark golden, dan lemon ginger. Tumbuhan daun mangga menghasilkan warna olive, olive, dan muddy waters brown. Tumbuhan kulit batang pohon nangka menghasilkan warna soft brown, sepia brown dan chocolate brown. Dari proses pewarnaan benang katun dapat dilihat adanya perbedaan warna yang dihasilkan dari rimpang kunyit, daun mangga, dan kulit batang pohon nangka karena adanya perbedaan takaran air sebanyak 1 liter dan 500 mililiter sehingga menghasilkan perbedaan warna pada benang yang telah diwarnai. Adapun perbedaan warna yang dihasilkan dari setiap tumbuhan pada benang katun yaitu: lamanya waktu perebusan bahan pewarna selama 1 jam dan 30 menit, lamanya waktu perendaman benang pada bahan pewarna selama 24 jam dan 12 jam, dan mordan yang digunakan. Disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan mengenai uji ketahanan luntur untuk warna kuning alami pada benang katun dan dilakukan penelitian lanjutan dengan mengukur pH dan suhu pada benang katun yang warnai. Kata kunci: Inventarisasi, Pewarna Alami, Tumbuhan Pewarna, Benang Katun, Nusa Tenggara Timur Keterangan: *) Peneliti **) Pembimbing
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi yang memiliki potensi sumberdaya alam melimpah sehingga menjadi peluang dalam mengembangkan sumberdaya manusianya. Salah satunya adalah pembuatan pewarna alami yang dari bagian tumbuh-tumbuhan. Biji buah pinang adalah salah satu bagian dari tumbuhan pinang (Areca catechu L.) yang dapat dimanfaatkan menjadi pewarna alami karena memiliki kandungan pigmen pewarna dan juga mengandung senyawa kimia sebagai antibakteri. Staphylococcus aureus dapat ditemukan pada saluran pernapasan, saluran pencernaan, kain, dan kulit yang mengakibatkan penyakit infeksi kulit. Kandungan senyawa aktif yang bersifat antibakteri pada biji buah pinang yaitu polyphenol, flavonoid, tanin, dan alkaloid (Wael dkk., 2017). Penelitian ini bertujuan mengetahui daya hambat pewarna alami biji buah pinang dan konsentrasi hambat minimal pewarna alami biji buah terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, pada bulan Oktober – November 2020. Metode penelitian menggunakan difusi cakram dan plate count agar kemudian data dianalisis dengan ANOVA satu arah dengan derajat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai F hitung 11,305 dengan nilai sig 0,003 (0,003 0,05). Artinya bahwa pewarna alami biji buah pinang (Areca catechu L.) berpengaruh signifikan terhadap jumlah koloni Staphylococcus aureus. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa kontrol memiliki tingkat perbedaan sangat nyata dengan perlakuan 1, perlakuan 2, dan perlakukan 3. Semakin naik konsentrasi perlakuan pewarna alami biji buah pinang (Areca catechu L.) menyebabkan daya hambat pertumbuhan bakteri makin baik dan jumlah koloni bakteri yang tumbuh semakin menurun.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman tarum (Indigofera tinctoria) merupakan sejenis pohon polong-polongan berbunga ungu yang biasanya dimanfaatkan sebagai penghasil warna alami. Pakaian berbahan serat alami seperti wol, kapas dan sutra yang digunakan dalam industri tekstil, diketahui sangat rentan terhadap serangan mikroba, karena luas permukaan pakaian, mampu menyerap kelembaban sehingga memicu pertumbuhan mikroba. Tekstil berbahan serat alami memiliki kandungan protein (keratin) dan selulosa yang menyediakan kebutuhan dasar seperti kelembaban, oksigen, nutrisi dan suhu untuk pertumbuhan bakteri pada pakaian sehingga sering menimbulkan bau yang tidak menyenangkan, infeksi kulit, kerusakan produk, respon alergi dan penyakit terkait lainnya. Staphylococcus aureus adalah bakteri Gram positif berbentuk bulat berdiameter 0,7-1,2 μm, tersusun dalam kelompok yang tidak teratur seperti buah anggur, fakultatif anaerob, tidak membentuk spora, dan tidak bergerak Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah true experimental control group design dengan 4 perlakuan yang dilakukan yaitu: K = 100 gr daun tarum tanpa penambahan kapur P1 = 125 gr daun tarum + 2 gr kapur + 500 ml air, P2 = 150 gr daun tarum + 2 gr kapur + 500 ml air, P3 = 200 gr daun tarum + 2 gr kapur + 500 ml air, Masing–masing perlakuan diulangi sebanyak 3x sehingga diperoleh unit percobaan sebanyak 3 x 4 = 12. Analisis data menggunakan Anova satu arah dengan derajat kepercayaan 95% (0,05) dan uji lanjutan Duncan dengan taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pewarna alami daun tarum (Indigofera tinctoria) dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus. Semakin tinggi konsentrasi pewarna alami daun tarum yang digunakan, maka semakin besar daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
UJI STABILITAS KONSENTRAT KULIT AKAR MENGKUDU (Morinda citrifolia L) DENGAN MORDAN ALAMI DAUN LOBA (Symplocos sp)
Souk, M.)* Sabuna. A)** Nge. T )**
Mengkudu (Morinda citrifolia L) memiliki kegunaan tradisional maupun moderen, termasuk bagian akar dan kulit batang sebagai pewarna dan obat, bagian batang sebagai kayu bakar dan perkakas, bagain daun dan buah digunakan sebagai makanan dan obat. Tumbuhan ini mudah ditemukan dimana saja, bisa dipinggir jalan, kebun, pekarangan rumah dan dihutan. Mengkudu dapat dijadikan sebagai bahan obat tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai zat warna alami. Mordan alami yang ditambahkan yaitu daun loba yang dapat dijadikan sebagai penguat warna akan menghasilkan warna kuning kemerahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas warna sediaan kulit akar mengkudu yang ditambahkan dengan mordan alami dari daun Loba (Symplocos sp) yang ketika disimpan pada jangka waktu yang lama dapat bertahan atau tidak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 5 perlakuan termaksut kontrol serta 2 ulangan, selanjutnya akan diuji yaitu uji ketetapan Ph, aplikasi zat warna dengan mordan dan tanpa mordan, dan pengaruh kondisi penyimpanan dengan menggunakan spectrofotometer. Dari hasil penelitian membuktikan bahwa sediaan pewarna alami apabila disimpan pada jangka waktu yang lama maka warna yang dihasilkan berbeda.
Kata kunci : Akar mengkudu-daun loba, ekstrak mentah, konsentrat sediaan pewarna alami kulit mengkudu.
Keterangan : ** Pembimbing
*Penulis
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk; a) mengetahui pengaruh penambahan mordan terhadap ketahanan luntur benang hasil pewarnaan daun jati muda, b) mengetahui perbedaan ketahanan luntur jenis mordan terhadap benang hasil pewarnaan daun jati muda. Sampel diambil dari Kelurahan Naimata, Jalan Nefo Uki, RT.18, RW.07. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen yaitu dilakukan dengan empat kali perlakuan untuk dapat menghasilkan warna yang akan dilihat dalam penelitian dengan menggunakan bahan pewarna alami daun jati muda. Penelitian ini telah dilakukan dari bulan November 2019 hingga Januari 2020 di Laboratorium Biologi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada tiap-tiap perlakuan yang ditambahkan dengan mordan memberikan pengaruh terhadap warna dan juga ketahanan luntur pada benang yang diwarnai, mordan juga memberikan pengaruh terhadap terjadinya perubahan warna pada benang dan nilai ketahanan luntur. Terdapat perbedaan warna benang yang diwarnai dengan daun jati muda tanpa mordan menghasilkan warna brown, daun jati muda dengan mordan tunjung menghasilkan warna dark brown, daun jati muda dengan mordan jeruk nipis menghasilkan warna warm brown dan yang terakhir daun jati muda dengan mordan air kelapa muda menghasilkan warna chestnut red.