Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

22 hasil
Subjek: Teologi kontekstual
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

HELA KETA "Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual terhadap tradisi Hela keta dan Implikasinya bagi Kehidupan Keluarga Kristen di Jemaat GMIT Getsemani Halilulik Mata jemaat Manoinhau Motasokon Klasis Belu"

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari realitas komplek tradisi Hela Keta dalam kehidupan keluarga Kristen di jemaat GMIT Getsemani Halilulik Mata Jemaat Manoinhau Motasokon, Klasis Belu. Tradisi Hela Keta merupakan praktik adat masyarakat Tetun yang bertujuan untuk melepaskan sumpah leluhur dan memperoleh kedamaian dalam pernikahan, namun menimbulkan pertanyaan teologis karena masih melibatkan pengorbanan darah hewan. Permasalahan jemaat bersifat kompleks, mencakup aspek budaya, kepercayaan, sosial, ekonomi, dan spiritual yang berdampak pada pemahaman jemaat tentang keselamatan dan pendamaian sejati dalam Kristus.Tulisan penelitian ini memahami konteks jemaat Manoinhau Motasokon, menganalisis pelaksanaan dan makna tradisi Hela Keta, serta merumuskan tinjauan teologi kontekstual berdasarkan teori Robert J. Schreiter tentang model kontekstual dalam pengembangan teologi lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, analitis, dan reflektif melalui wawncara, pengamatan langsung, dan studi kepustakaan. Informan penelitian terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat, pendeta, dan anggota jemaat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Hela Keta mengandung nilai-nilai teologis positif yang sejalan dengan iman Kristen, yaitu kerinduan akan pendamaian, pemulihan hubungan yang rusak, dan kesadaran akan dampak lintas generasi. Namun, praktik ini juga mengandung aspek yang memerlukan transformasi, khususnya pemahaman tentang sumber keselamatan, fungsi darah dalam ritual, dan ketakutan terhadap kutuk leluhur. Penelitian ini mengusulkan model transformasi dialogis yang mempertahankan identitas budaya sambil mengarahkan makna Hela Keta menuju pemahaman yang sejalan dengan iman Kristen, yakni melalui doa bersama, rekonsiliasi yang sadar, pengampunan, dan pengharapan dalam Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Fe Belis dan Dode

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

FE BELIS DAN DODE Novi Tamara Ndun Program Studi Teologi Agama Kristen, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia email. [email protected] Masyarakat suku Rote adalah suatu komunitas masyarakat yang hidup dalam suatu pola atau kebiasaan kemasyarakatan yang ada. Kehidupan mereka juga masih kuat dengan tradisi dan adat istiadat yang dianggap sebagai warisan nenek moyang. Salah satunya adalah tradisi perkawinan adat fe belis dan dode. Tradisi fe belis dan dode merupakan tahapan dari perkawinan adat suku Rote sebagai bagian untuk mendapatkan kembali keseimbangan yang bertujuan untuk melahirkan keharmonisan. Hasil penelitian penulis dilapangan Pertama: tradisi fe belis dan dode adalah adalah acara di mana kedua belah pihak keluarga dipertemukan dalam ikatan kasih yang saling menghargai yang di dalam pelaksanaannya, dengan ketulusan hati kedua belah pihak keluarga saling memberi sesuai dengan kesanggupan mereka untuk menunjukkan penghargaan dan tanda kasih sayang. Kedua: pada mulanya belis berupa hewan dan barang emas sedangkan bawaan/antaran perempuan berupa hewan, barang emas, padi/gabah, perlengkapan tidur, serta sirih, pinang dan tembakau. Namun oleh karena dampak modernisasi yang berdampak pada tingkat kebutuhan, belis telah disederhanakan menjadi ‘tanda terima kasih’ sehingga hanya berupa uang sedangkan bawaan/antaran disesuaikan dengan keinginan pihak keluarga perempuan. Ketiga: adapun ketika ditinjau menggunakan teori pertukaran, tradisi ini memenuhi kaidah pertukaran namun penulis mengkritik satu kaidah yang di mana fe belis dan dode tidak mendatangkan kesenangan bagi pihak laki-laki apalagi jika besaran belis itu besar. Tetapi walaupun begitu, tradisi ini dinilai baik oleh karena memberi nilai-nilai positif yang berguna bagi kehidupan bukan saja ketika dalam pelaksanaannya tetapi berlanjut kepada kehidupan rumah tangga ke depan. Ada nilai keseimbangan dan sikap kasih di dalam tradisi fe belis dan dode. Model antropologis dapat menolong dalam melihat nilai-nilai dalam Injil dan teks serta nilai-nilai dalam tradisi fe belis dan dode. Manusia diciptakan seturut dengan gambar Allah dan dalam kesadaran bahwa Allah lebih dulu mengasihi manusia, maka antara laki-laki dan perempuan adalah setara. Oleh karena itu, keseimbangan antara laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang penting. Dengan kasih yang berasal dari Allah, laki-laki dan perempuan disadarkan bahwa sikap kasih harus ada di dalam kehidupan sebagai keluarga Kristen. Untuk itulah, melalui tradisi fe belis dan dode gereja kembali melihat eksistensinya dalam memelihara persekutuan melalui penegakkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan serta terus menerapkan kasih sebagai suatu tindakan yang aktif dari jemaat. Sehingga keharmonisan baik dalam persekutuan berumah tangga maupun persekutuan bergereja tetap terjaga dengan baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAMAT Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Tradisi Mamat di Jemaat GMIT Ebenhaizer Haumolo, Klasis Amanatun Utara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari adanya ketegangan pemahaman di tengah jemaat GMIT Ebenhaizer Haumolo mengenai tradisi mamat (makan sirih pinang). Sebagian jemaat memandang mamat sebagai praktik budaya semata, sedangkan sebagian lainnya mempertanyakan relevansinya bagi kehidupan iman Kristen. Pokok persoalan inilah yang kemudian melahirkan kebutuhan untuk menelaah tradisi mamat secara teologis, khususnya bagaimana tradisi tersebut dapat dipahami an dimaknai dalam terang Injil serta kehidupan bergereja. Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai teologis yang terkandung dalam tradisi mamat serta menjelaskan bagaimana praktik budaya tersebut dapat menjadi sarana membangun keramahtamahan, mempererat persekutuan, memulihkan relasi, membentuk iman generasi muda, dan menghadirkan kesaksian gereja di tengah masyarakat. Tujuan lainnya adalah membantu jemaat melihat bahwa tradisi mamat tidak harus dipertentangkan dengan iman Kristen, melainkan dapat menjadi bagian dari spiritualitas yang membumi dan relevan bagi kehidupan umat. Pendekatan yang digunakan adalah teologi kontekstual dengan metode kualitatif, melalui analisis literatur, pengamatan terhadap praktik mamat dalam kehidupan jemaat, serta refleksi teologis berdasarkan narasi Alkitab dan pemikiran teolog Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menangkap makna teologis tradisi mamat secara menyeluruh, tidak hanya sebagai adat istiadat, tetapi sebagai ruang hidup yang mempengaruhi pembentukan relasi, iman, dan identitas jemaat. Temuan utama menunjukkan bahwa tradisi mamat mengandung nilai-nilai kristiani yang kuat, seperti penerimaan, kesetaraan, keramahtamahan, rekonsiliasi, pembinaan iman, dan kesaksian gereja. Tradisi ini mampu menjadi ruang perjumpaan yang menghadirkan kasih Allah dan memperkaya spiritualitas jemaat. Dengan demikian, mamat tidak hanya layak dipertahankan sebagai identitas budaya, tetapi juga dapat diintegrasikan sebagai bagian dari praksis iman Kristen yang kontekstual dan membangun kehidupan jemaat secara holistik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

URI LII-LANGU Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual terhadap Tradisi Uri Lii-Langu dan Implikasinya bagi Pelayanan di Jemaat GMIT Imanuel Lendeiki, Klasis Rote Barat

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tradisi uri lii-langu merupakan salah satu bentuk warisan budaya dari para nenek moyang masyarakat pulau Ndao yang berfungsi sebagai mekanisme penyelesaian masalah dalam kehidupan sosial, keluarga dan komunitas. Tradisi ini menekankan dialog, pengakuan kesalahan, tanggung jawab moral, serta pemulihan relasi sebagai tujuan utama dalam menyelesaikan masalah. Akan tetapi, dalam konteks kehidupan gereja, tradisi ini belum sepenuhnya dimaknai. Karena menganggap bahwa tidak ada keadilan jika menyelesaikan masalah dengan tradisi ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tradisi uri lii-langu dalam perspektif teologi kontekstual, khususnya menggunakan model antropologis Stephen B. Bevans, guna menggali makna teologis yang terkandung di dalamnya serta implikasinya bagi kehidupan gereja dan jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi uri lii-langu mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan iman Kristen, seperti rekonsiliasi, pengampunan, keadilan dan pemulihan relasi. Nilai-nilai ini dapat dipahami sebagai Injil yang menunjukkan bahwa Allah telah bekerja dalam kebudayaan. Perlu juga untuk ditafsir tradisi ini secara teologis agar tidak terjebak pada romantisasi budaya, tetapi tetap berorientasi pada keadilan, kasih dan pertobatan yang sejati. Tradisi ini merupakan kekayaan budaya yang memiliki nilai teologis untuk memperkaya pelayanan gereja dan kehidupan jemaat. Melalui pendekatan teologi kontekstual, gereja dipanggil untuk berdialog secara kritis dan kreatif terhadap tradisi ini sehingga nilai-nilai adat dan iman Kristen dapat saling memperdalam dalam membangun kehidupan bersama yang damai dan utuh.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PRAKTIK PANEN PADI Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Praktik Panen Padi di Manefu Sebagai Wadah Mempererat Persekutuan Jemaat GMIT Imanuel Manefu

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji praktik panen padi di Jemaat GMIT Imanuel Manefu sebagai ruang hidup teologis yang mengintegrasikan tradisi budaya lokal dengan iman Kristen. Praktik panen padi tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas agraris, melainkan sebagai praktik komunal dan spiritual yang berfungsi membentuk identitas, relasi sosial, serta penghayatan iman jemaat secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan praktik panen padi dari masa sebelum Kristen, masa sesudah Kristen, hingga masa kini, sekaligus menganalisis nilai, makna, dan tema teologis yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini juga menelaah implikasi praktik tersebut bagi persekutuan Jemaat GMIT Imanuel Manefu, terutama dalam menghadapi tantangan relasi persaudaraan akibat konflik sosial, seperti perebutan tanah warisan. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, menggunakan wawancara mendalam dan studi pustaka sebagai sumber data utama, kemudian dianalisis melalui kerangka Teologi Kontekstual Model Sintesis karya Stephen B. Bevans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik panen padi di Manefu mengalami transformasi dalam bentuk kerja dan teknis pelaksanaan akibat pengaruh modernisasi yang bisa saja menggeser nilai-nilai inti Kristen yang terkandung dalam praktik tersebut seperti nilai persekutuan, kasih, persaudaraan, gotong royong, dan pemberian diri tanpa pamrih tetap terpelihara. Praktik panen padi dimaknai sebagai ritus syukur kepada Tuhan, peneguh identitas budaya jemaat, sarana penguatan relasi sosial, dan media pembentukan etos kerja yang bertanggung jawab. Refleksi teologis menegaskan bahwa praktik panen padi merupakan wujud teologi hidup yang kontekstual, di mana kerja dipahami sebagai bentuk ibadah, tanah sebagai anugerah Tuhan, dan tindakan berbagi sebagai kesaksian iman. Dalam konteks konflik warisan yang mengancam persatuan jemaat, praktik panen padi berpotensi menjadi ruang rekonsiliatif sekaligus pedagogi iman yang meneguhkan persekutuan sebagai tubuh Kristus. Oleh karena itu, pemeliharaan dan pengembangan praktik ini menjadi penting sebagai media pewartaan Injil dan pembentukan spiritualitas komunal jemaat di tengah dinamika sosial dan perubahan zaman

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERSAUDARAAN DALAM KEBERAGAMAN Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Makna Tena El Dalam Relasi Islam dan Kristen di Jemaat GMIT Tena El’Ladon Klasis Alor Barat Laut

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertolak dari realitas kehidupan masyarakat Ladon, Klasis Alor Barat Laut, yang hidup dalam konteks keberagaman agama, khususnya relasi antara umat Kristen dan Islam. Di tengah pluralitas tersebut, masyarakat menghidupi nilai budaya lokal Tena’El yang dimaknai sebagai persaudaraan, persahabatan, dan kebersamaan lintas iman. Pokok persoalan dalam penelitian ini adalah bagaimana konteks wilayah dan jemaat GMIT Tena’El Ladon membentuk relasi Islam-Kristen, bagaimana makna dan nilai Tena’El dipahami serta dipraktikkan dalam kehidupan sosial-keagamaan, dan bagaimana nilai tersebut ditinjau secara teologis dalam terang Injil dengan menggunakan perspektif pluralisme agama menurut Paul F. Knitter. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis makna Tena’El sebagai identitas lokal yang berperan dalam membangun relasi persaudaraan antara umat Kristen dan Islam, mengkaji praktik hidup bersama dalam keberagaman melalui pendekatan teologi agama-agama, serta menafsirkan nilai Tena’El sebagai bagian dari kesaksian iman Kristen yang kontekstual dan dialogis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologi agama-agama. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan warga jemaat, tokoh gereja, tokoh masyarakat, serta umat Islam, observasi lapangan, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menafsirkan temuan penelitian dalam kerangka pluralisme agama Paul Knitter dan teologi kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tena’El berfungsi sebagai modal sosial dan teologis yang memperkuat relasi persaudaraan Islam–Kristen di Ladon. Nilai ini tidak bertentangan dengan iman Kristen, melainkan sejalan dengan Injil yang menekankan kasih, penghargaan terhadap martabat manusia, dan hidup berdampingan secara damai. Tena’El menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan gereja hadir sebagai agen perdamaian dan memperteguh kesaksian iman di tengah masyarakat plural.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI EU’NAKAF (Menggunting Rambut) Suatu Tinjauan Kontekstual Tentang Makna Tradisi Eu’nakaf (Menggunting Rambut) dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, Klasis Amanuban Timur Selatan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologis pelaksanaan dan makna tradisi Eu’nakaf (menggunting rambut) serta implikasinya bagi kehidupan iman Jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, Klasis Amanuban Timur Selatan. Tradisi Eu’nakaf merupakan salah satu tradisi adat masyarakat Atoni Meto yang masih terus dipraktikkan hingga saat ini, khususnya dalam penerimaan anak. Dalam praktiknya, tradisi ini tidak hanya dipahami sebagai ritual budaya, tetapi juga memiliki dimensi religius yang berkaitan dengan perlindungan, keselamatan, serta masa depan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, analitis, dan reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan majelis jemaat, tokoh adat, serta anggota jemaat GMIT Ebenhaezer Potto, dan didukung dengan studi kepustakaan. Analisis teologis dalam penelitian ini menggunakan tipologi hubungan Kristus dan kebudayaan menurut Niebuhr, khususnya tipologi ketiga tentang “Kristus di atas kebudayaan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Eu’nakaf mengandung nilai teologis, sosial, dan kultural yang penting, terutama sebagai ungkapan syukur dan penyerahan hidup kepada Allah, penguatan persekutuan jemaat, serta pelestarian identitas budaya lokal. Namun demikian, ditemukan pula adanya unsur-unsur tertentu yang berpotensi bertentangan dengan iman Kristen, seperti keyakinan tentang “mauputu” dan praktik ritual yang dapat menggeser peran Kristus sebagai satu-satunya sumber keselamatan. Oleh karena itu, tradisi Eu’nakaf perlu dimurnikan dan dimaknai kembali dalam terang Injil agar dapat menjadi sarana kontekstualisasi iman yang sehat, di mana kebudayaan tetap dihargai tanpa kehilangan pusat iman kepada Yesus Kristus.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI TUTUS Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Tradisi Tutus dan Maknanya Bagi Jemaat GMIT Imanuel Oebitina

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini membahas tradisi Tutus sebagai salah satu praktik budaya yang masih dijalankan oleh jemaat GMIT Imanuel Oebitina di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tradisi Tutus tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga diyakini memiliki makna religius yang berkaitan dengan harapan akan berkat, perlindungan, dan kesejahteraan hidup. Dalam praktiknya, tradisi ini kerap menimbulkan ketegangan teologis karena berpotensi melahirkan dualisme iman, yaitu pengakuan kepada Kristus sebagai sumber berkat, namun di saat yang sama masih bergantung pada praktik adat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks jemaat GMIT Imanuel Oebitina, menganalisis makna dan pelaksanaan tradisi Tutus dalam perspektif teologi kontekstual, serta merumuskan refleksi teologis, pastoral, dan implikasinya bagi pelayanan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologi kontekstual model sintesis Stephen B. Bevans. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, dengan melibatkan anggota jemaat, majelis jemaat, serta tokoh adat. Data dianalisis secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tutus mengandung nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, solidaritas sosial, serta penguatan relasi kekeluargaan. Namun, di sisi lain, terdapat kecenderungan pemaknaan religius yang dapat mengaburkan pengakuan iman kepada Allah sebagai satu-satunya sumber berkat. Melalui pendekatan sintesis, Injil dan budaya dipahami sebagai dua realitas yang dapat berdialog secara kritis dan konstruktif. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja mengembangkan pendampingan pastoral dan pendidikan iman yang kontekstual, sehingga jemaat mampu memaknai tradisi Tutus secara bijaksana, tetap menghargai budaya lokal, serta setia pada ajaran iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Tarian Li N'gae Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Makna Tarian Li N'gae dan Implikasinya bagi Persekutuan Jemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot, Klasis Semau

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna tarian Li N’gae sebagai ekspresi budaya masyarakat suku Helong di Pulau Semau serta merefleksikannya secara teologis dalam kerangka teologi kontekstual. Tarian Li N’gae merupakan tradisi agraris yang lahir dari pengalaman historis masyarakat Helong, khususnya dalam menghadapi keterbatasan hidup, kerja keras, dan ketergantungan pada hasil panen jagung sebagai sumber penghidupan utama. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis, penelitian ini memanfaatkan data hasil observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, pelayan gereja, dan jemaat, serta studi pustaka teologis. Kerangka analisis dalam penelitian ini menggunakan teori teologi lokal dari Robert J. Schreiter, yang menekankan dialog antara Injil, budaya, dan tradisi gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian Li N’gae tidak hanya berfungsi sebagai praktik pengawetan jagung atau hiburan masyarakat, melainkan sebagai teks budaya yang memuat nilai-nilai religius, sosial, dan teologis, seperti syukur atas kehidupan, solidaritas komunal, kerja kolektif, dan relasi harmonis dengan alam. Nilai-nilai tersebut telah membentuk identitas dan kebersamaan masyarakat Helong secara turun-temurun. Dalam konteks kehidupan berjemaat GMIT Sonaf Neka Huilelot, tarian Li N’gae dipahami sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan sebagai simbol kebersamaan, meskipun kehadirannya masih ditempatkan di luar liturgi resmi gereja. Analisis menunjukkan bahwa terdapat potensi besar bagi Li N’gae untuk dikembangkan sebagai bagian dari teologi lokal yang memperkaya pemahaman persekutuan jemaat, tanpa harus mengubah struktur ibadah gerejawi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tarian Li N’gae dapat menjadi medium teologi lokal yang kontekstual dan transformatif, baik bagi gereja maupun budaya. Dengan pendekatan teologi kontekstual, gereja didorong untuk membaca dan memaknai tradisi budaya sebagai ruang karya Allah, sehingga iman Kristen dapat dihayati secara lebih kontekstual dan relevan dalam kehidupan Masyarakat Helong

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI TARONG GANG TARONG BU Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Tradisi Tarong Gang Tarong Bu Dalam Konteks Pertanian Dan Implikasinya Bagi Anggota Mata Jemaat Betania Mampui, Klasis Alor Timur

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan anggota Mata Jemaat Betania Mampui yang menjalankan aktivitas pertanian berdasarkan tahun tertentu, yakni tahun ganjil dan tahun genap. Kondisi ini dipengaruhi oleh tradisi yang diwariskan oleh leluhur, yakni tradisi Tarong Gang Tarong Bu (Tahun baik dan tahun buruk). Tradisi ini mendasari pemahaman jemaat bahwa tahun bernomor ganjil merupakan tahun tidak baik, sebab tahun ini mempengaruhi peningkatan hama tikus. Sebaliknya tahun bernomor genap merupakan tahun baik, sehingga baik untuk melaksanakan aktivitas pertanian. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman jemaat terhadap tradisi ini, kemudian mengidentifikasi setiap pemahaman berdasarkan tradisi ini menggunakan model pendekatan teologi kontekstual. Model kontekstual yang digunakan adalah model antropologis dan sintesis yang digagas oleh Stephen B. Bevans, selanjutnya menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Tarong Gang Tarong Bu serta merumuskan refleksi teologis dan relevansinya bagi anggota Mata Jemaat Betania Mampui. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis-reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi. Penelitian ini turut menggunakan metode kepustakaan yang bersumber dari buku, jurnal, dan artikel-artikel teologis. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman jemaat dalam pengecualian tahun didasari atas ketakutan akan hama tikus yang meningkat, padahal peningkatan hama tikus bukan didasari oleh tahun tertentu, melainkan pada faktor pembersihan lahan yang tidak serentak pada satu lahan, seperti yang dilakukan pada tahun baik (Tarong Gang). Berdasarkan pendekatan teologi kontekstual antropologi dan sintesis. Pemahaman jemaat akan ketakutan hama tikus dalam tradisi ini, dapat didialogkan dengan iman Kristen, yang tidak terlepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Tarong Gang Tarong Bu. Berdasarkan pendekatan tersebut, penelitian ini menemukan transformasi pemahaman. Pengecualian tahun dalam aktivitas pertanian oleh anggota mata jemaat tidak lagi dilihat sebagai ketakutan mistis, melainkan bentuk pemeliharaan alam. Selain itu, dengan menggunakan pendekatan teologi kontekstual, penelitian ini menemukan nilai nilai dalam tradisi yang mendukung kehidupan jemaat dan pelayanan gereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

BERJUMPA DENGAN ALLAH DI SAWAH : Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual terhadap Kehidupan Para Petani dan Relevansinya Bagi Peran Gereja di GMIT Kasih Karunia Oesao, Klasis Kupang Timur

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian yang dilakukan oleh penulis ialah mengenai kehidupan para petani di GMIT Kasih Karunia Oesao, ditinjau dari teologi kontekstual dan relevansinya bagi peran Gereja di GMIT Kasih Karunia Oesao. Dalam realitas yang ditemukan bahwa kehidupan para petani juga menjadi tempat perjumpaan dengan Allah di sawah, melalui kerja, penderitaan, dan keberhasilan para petani. Maka penulis menemukan bahwa Gereja masih memiliki keterbatasan untuk menghadirkan pelayanan yang kontekstual bagi para petani. Gereja diharapkan untuk melihat kehidupan para petani yang merupakan tempat Allah hadir dan berkarya di dalamnya untuk membangun suatu program yang menjawab kebutuhan para petani. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis, dan reflektif. Dalam menganalisis kehidupan petani, penulis menggunakan teori C.S Song yang menekankan kehadiran Allah dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sawah tidak hanya sebagai sumber kehidupan para petani, tetapi sawah merupakan pusat kehidupan. Maka itu, teologi para petani dibangun dari penderitaan, kerja keras, dan ketergantungan pada alam. Untuk itu, penulis memberikan sumbangsih bagi pelayanan Gereja untuk dapat menghadirkan pelayanan yang kontekstual bagi para petani berdasarkan teologi para petani dengan menjadi Gereja yang kontekstual, berdampak pada masyarakat sosial, dan menjalankan pelayanan yang holistik bagi masyarakat pedesaan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUS POU HARI “Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Relasi Manusia dan Laut Berdasarkan Ritus Pou Hari dan Implikasinya bagi Pelayanan di Jemaat Imanuel Folbo, Klasis Alor Barat Laut”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji Ritus Pou Hari sebagai warisan budaya religius masyarakat pesisir Jemaat GMIT Imanuel Folbo, Klasis Alor Barat Laut. Ritus ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada penguasa laut yang diyakini sebagai leluhur, dan diwariskan turun-temurun sebagai bagian identitas budaya. Permasalahan teologis muncul karena praktik ini mengandung unsur pemujaan yang berpotensi bertentangan dengan kemurnian pengakuan iman Kristen kepada Kristus sebagai satu-satunya Tuhan. Kerangka teori yang digunakan adalah tipologi Kristus Melawan Kebudayaan dari H. Richard Niebuhr, yang menegaskan sikap tegas terhadap praktik budaya yang tidak sejalan dengan Injil, serta pendekatan teologi kontekstual untuk menafsirkan dan mengarahkan nilai positif budaya lokal agar selaras dengan iman Kristen. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Informan penelitian terdiri dari pemimpin ritus, peserta ritus, majelis jemaat, dan pendeta setempat. Data dianalisis untuk mengidentifikasi makna, fungsi, serta implikasi teologis ritus bagi kehidupan jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ritus Pou Hari memiliki makna religius, sosial, dan ekologis yang penting bagi masyarakat pesisir. Namun, unsur pemujaan kepada penguasa laut menimbulkan risiko sinkretisme. Gereja dipandang perlu mengembangkan pembinaan iman yang kontekstual, mengalihkan nilai positif ritus ke dalam bentuk ibadah syukur atau doa bersama yang berpusat pada Kristus, serta menciptakan liturgi kontekstual yang menjaga kemurnian iman. Refleksi teologi menegaskan panggilan gereja untuk menghargai konteks budaya sekaligus setia pada Injil, menjadi komunitas profetis yang membimbing jemaat menghormati laut sebagai ciptaan Allah tanpa terjebak dalam praktik yang bertentangan dengan iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PRAKTIK NE'OI LALO (KUBUR BAYANGAN) "Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Praktik Ne'oi Lalo dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Ebenhaezer Mundek, Klasis Rote Barat Laut"

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologis praktik Ne’oi Lalo (kubur bayangan) yang masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Rote, khususnya di Jemaat GMIT Ebenhaezer Mundek. Praktik ini muncul sebagai bentuk penghormatan terhadap anggota keluarga yang meninggal di perantauan atau yang jasadnya tidak ditemukan, sehingga tidak dapat dimakamkan di kampung halaman. Praktik ini diwujudkan melalui penyusunan batu, pemaknaan pohon tua, dan pelafalan syair adat, yang diyakini sebagai sarana pemanggilan roh dan penyediaan tempat peristirahatan simbolik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologi kontekstual, berlandaskan tipologi Kristus dan Kebudayaan dalam Paradoks menurut Richard H. Niebuhr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ne’oi Lalo mengandung nilai-nilai sosial dan spiritual yang kuat dalam konteks budaya lokal. Namun, secara teologis, praktik ini menyimpan unsur-unsur yang tidak selaras dengan iman Kristen, khususnya terkait kepercayaan terhadap roh gentayangan dan pemanggilan arwah. Dengan demikian, diperlukan reinterpretasi dan pemurnian makna melalui pendidikan iman dan pendampingan pastoral. Penelitian ini merekomendasikan agar gereja, lembaga teologi, dan pemerintah bekerja sama membimbing umat secara dialogis, sehingga Praktik budaya tidak dihapus, tetapi ditebus dalam terang Injil. Dalam semangat teologi kontekstual, Ne’oi Lalo dapat dipahami bukan sebagai praktik sinkretis, melainkan sebagai ruang reflektif yang memperkaya spiritualitas lokal yang berpusat pada Kristus.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI DOA TUJUH BULAN “Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Tradisi Doa Tujuh Bulan dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Petra Lidamanu, Klasis Rote Barat Daya”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna teologis dan relevansi pastoral dari praktik doa tujuh bulan atau Nenem Teik dalam tradisi masyarakat Rote, khususnya di Jemaat GMIT Petra Lidamanu. Tradisi ini secara turun-temurun dijalankan oleh masyarakat sebagai bentuk ungkapan syukur dan permohonan perlindungan terhadap janin dan ibu yang mengandung. Dalam konteks kehidupan Kristen, praktik tersebut kerap dianggap problematis karena berakar pada kepercayaan adat yang belum sepenuhnya sejalan dengan doktrin iman Kristen. Namun demikian, penelitian ini menggunakan pendekatan teologi kontekstual, khususnya tipologi H. Richard Niebuhr tentang Christ Transforming Culture, yang membuka ruang bagi pemaknaan ulang budaya lokal dalam terang Injil. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan lapangan, ditemukan bahwa jemaat tidak serta-merta mempertahankan praktik ini sebagai bentuk kepercayaan tradisional, tetapi telah terjadi proses integrasi nilai-nilai kekristenan, seperti doa dalam nama Yesus, pembacaan Alkitab, dan pelibatan pelayan gereja dalam pelaksanaannya. Tradisi ini, ketika dimaknai dalam terang Kristus, menjadi sarana penguatan spiritualitas keluarga dan persekutuan umat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nenem Teik memiliki potensi teologis yang signifikan jika ditransformasi dengan hati-hati melalui pendampingan gerejawi dan pendidikan teologis kontekstual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan Kristus yang mengubah budaya adalah pendekatan yang tepat bagi gereja-gereja lokal di Nusa Tenggara Timur yang bergumul dengan praktik-praktik budaya yang kuat. Nenem Teik bukan sekadar ritus adat, tetapi dapat menjadi bentuk ibadah kontekstual yang bermakna, jika dituntun dan dimurnikan dalam terang Injil. Oleh karena itu, gereja, lembaga pendidikan teologi, dan pemerintah perlu bersinergi dalam mendampingi dan memberdayakan budaya lokal agar menjadi wadah kesaksian iman Kristen yang relevan dan berakar.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TEBE “ Suatu Tinjauan Teologi Kontekstuak Terhadap Tarian Tebe dan Maknanya Bagu Persekutuan Jemaat GMIT Imanuel Maktihan, KLasis Malaka”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengangkat tarian Tebe sebagai objek kajian teologi kontekstual dalam kehidupan bergereja Jemaat GMIT Imanuel Maktihan, Klasis Malaka. Di tengah arus modernisasi dan meningkatnya sikap individualisme dalam kehidupan jemaat, tarian Tebe hadir sebagai media budaya lokal yang memiliki daya integratif, memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan persekutuan dalam komunitas Kristen. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif, penelitian ini menggali makna spiritual dan sosial dari tarian Tebe melalui observasi, wawancara, serta studi pustaka dan dokumentasi. Teori teologi kontekstual Stephen B. Bevans menjadi landasan utama dalam menafsirkan hubungan antara budaya lokal dan ekspresi iman Kristen dalam liturgi dan kehidupan bergereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarian Tebe tidak hanya merupakan warisan budaya masyarakat Tetun di Malaka, tetapi juga telah diadopsi secara kreatif dalam berbagai bentuk ibadah dan perayaan gerejawi di GMIT Imanuel Maktihan. Gerakan ritmis dan pantun dalam Tebe yang dilakukan dalam formasi lingkaran mencerminkan makna kolektif, solidaritas, serta penghormatan terhadap sejarah dan spiritualitas lokal. Melalui penerapan Tebe dalam kehidupan liturgis, gereja berhasil menjembatani kesenjangan antara ekspresi iman dan konteks budaya masyarakatnya.Tarian Tebe dipahami sebagai respons iman yang kontekstual terhadap krisis persekutuan akibat meningkatnya individualisme dalam jemaat. Dalam praktiknya, Tebe menjadi sarana profetik yang mengembalikan kesadaran umat akan pentingnya relasi sosial yang saling menopang. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa budaya lokal seperti Tebe dapat menjadi wahana penyalur pesan teologis yang transformatif, membentuk spiritualitas yang membumi dan relevan dalam konteks kehidupan bergereja di tengah masyarakat yang terus berubah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI OPAT Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual terhadap Pelaksanaan Tradisi Opat Di Masyarakat Neonmat dan Implikasinya bagi Pelayanan di Jemaat GMIT Elim Neonmat, Klasis Mollo Timur”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tradisi denda adat (opat) merupakan salah satu mekanisme budaya yang penting dalam kehidupan masyarakat Neonmat, khususnya dalam menyelesaikan konflik sosial dan memulihkan hubungan antar individu. Denda adat dipandang sebagai sarana untuk menegakkan keadilan, menumbuhkan rasa tanggung jawab, serta mengembalikan keharmonisan hidup bersama. Namun, dalam pelaksanaannya, denda adat sering kali mengandung unsur pengampunan bersyarat—di mana perdamaian dan pengampunan hanya diberikan setelah pembayaran denda material dipenuhi. Hal ini menimbulkan ketegangan teologis dengan ajaran Injil, yang mengajarkan bahwa pengampunan adalah anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang bertobat.Penelitian ini menggunakan pendekatan teologi kontekstual dengan menggunakan tipologi "Kristus sebagai Pembaharu Kebudayaan" dari H. Richard Niebuhr untuk merefleksikan praktik opat secara kritis dalam terang Injil. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, melalui wawancara mendalam dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun nilai-nilai luhur seperti rekonsiliasi, pertobatan, dan tanggung jawab terkandung dalam tradisi opat, praktik pengampunan bersyarat melalui denda dapat mereduksi makna kasih dan pengampunan Injil. Implikasi dari penelitian ini bagi pelayanan Jemaat GMIT Elim Neonmat adalah perlunya pembaruan pelayanan pastoral yang mampu menjembatani antara penghargaan terhadap budaya lokal dan kesetiaan pada nilai-nilai Injil. Gereja dipanggil untuk hadir sebagai agen pembaharu budaya, bukan hanya menerima adat apa adanya, tetapi memurnikannya agar selaras dengan kasih dan anugerah Kristus. Gereja juga perlu membangun pendidikan iman yang kontekstual, pelayanan sakramental yang bebas dari unsur transaksional, serta memperkuat peran profetis dalam menghadirkan keadilan dan pengampunan sejati.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

“MORUK” Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Ritus Moruk di Jemaat GMIT Pniel Loomaten Klasis Malaka dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSRTAK Penelitian ini berjudul “MORUK” dengan sub-judul “ Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual terhadap Ritus Moruk di Jemaat GMIT Pniel Loomaten, Klasis Malaka dan Implikasinya bagi Gereja masa kini”. Ritus Moruk atau yang sering disebut Moruk Malu atau Moruk antar suku atau kampung. Moruk artinya Pemali atau larangan. Awal mula adanya ritus ini karena adanya perkelahian antara suku dan kampung yang mengakibatkan ada yang meninggal sehingga adanya sumpah yaitu: keturunan mereka tidak boleh menikah dengan warga atau warga kampung yang sudah ditentukan. Melalui ritus ini keluarga yang memiliki dendam atau keluarga yang berasal dari suku-suku yang ditetapkan sebagai Moruk Malu bisa membersihkan semua dendam di masa lalu dengan demikian pasangan yang akan menikah akan hidup bahagia. Untuk mencapai tujuan ini maka tulisan ini mengunakan penelitian kualitatif yang berusaha menjelaskan suatu fenomena dengan mengumpulkan sedalam-dalamnya data yang diteliti. Teknik yang digunakan adalah observasi lapangan serta wawancara kepada Majelis Gereja, Jemaat, Pemerintah Daerah dan tokoh-tokoh adat. Tujuan dari hal ini yakni memperlihatkan kesenjangan budaya dan iman bagaimana keduanya ada di dalam pertemuan dan ketegangan di waktu pelaksanaan ritus Moruk di Loomaten. Analisis teologi kontekstual dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa ritus Moruk ini memiliki nilai-nilai yang positif melalui pelaksanaannya Gereja juga beranggapan bahwa sebagai ritus lokal yang memiliki nilai yang sangat relevan dengan teologi kontekstual. Penelitianya ini sangat diharapkan agar dapat memberi sumbangsih bagi jemaat GMIT Pniel Loomaten. Dalam mencari dan melestarikan kerarifan lokal.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL GELAK WAHA- Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritual Gelak Waha (Mencari Kesembuhan) dan Implikasinya bagi Pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja, Klasis Flores

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK RITUAL GELAK WAHA Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritual Gelak Waha (Mencari Kesembuhan) dan Implikasinya bagi Pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja, Klasis Flores Kesehatan merupakan aspek paling berharga dalam kehidupan manusia, namun sakit menjadi tantangan besar yang kerap kali sulit diatasi meski dengan kemajuan pengobatan modern. Sebagai alternatif, pengobatan tradisional yang mengandalkan kepercayaan dan pengalaman turun-temurun tetap relevan di beberapa masyarakat, termasuk dalam konteks ritual Gelak Waha yang dilakukan oleh masyarakat Beloaja di Flores. Ritual ini bertujuan mencari kesembuhan melalui prosedur magis dengan melibatkan dukun serta penggunaan bahan alami, seperti sirih, pinang, dan ayam kampung. Penelitian ini mengkaji makna dan nilai yang terkandung dalam ritual Gelak Waha serta implikasinya terhadap pelayanan gerejawi di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Permasalahan utama yang diangkat meliputi pemahaman jemaat tentang konteks lokal, kesembuhan, dan refleksi teologis terhadap praktik tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian jemaat GMIT telah mengadopsi ajaran Kristen, mereka masih menjalankan ritual Gelak Waha karena kepercayaan turun-temurun kepada Lera Wulan sebagai entitas pelindung dan penyembuh. Hal ini memunculkan tantangan bagi gereja dalam mendampingi jemaat untuk memahami kesembuhan sebagai anugerah Allah yang dapat terjadi melalui berbagai cara, baik secara medis maupun spiritual. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang kesembuhan melalui ritual Gelak Waha serta menyajikan refleksi teologis untuk mendorong pendekatan yang kontekstual dalam pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi bagi pengembangan pelayanan gereja dalam menghadapi fenomena sinkretisme budaya dan iman. Kata kunci: Ritual Gelak Waha, teologi kontekstual, kesembuhan, pelayanan gereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PAPADAK Suatu Kajian Teologi Kontekstual Terhadap Tradisi Papadak Di Jemaat GMIT Victory Puamata Dan Implikasinya Bagi Pelayanan Di Gereja

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tradisi merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat lokal. Di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah tradisi papadak, yaitu sebuah sistem aturan adat yang mengatur kehidupan sosial masyarakat dalam berbagai aspek, seperti sawah, mamar (lahan kering), air, hutan, dan kebun. Tradisi ini memiliki nilai kearifan lokal yang penting dalam menjaga ketertiban sosial, keberlanjutan lingkungan, serta memperkuat solidaritas komunitas. Tradisi papadak di Jemaat GMIT Victory Puamata, Klasis Rote Tengah, memegang peranan signifikan dalam kehidupan masyarakat adat, khususnya dalam pengelolaan lahan persawahan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Jemaat GMIT Victory Puamata memaknai tradisi papadak dalam konteks kehidupan mereka, bagaimana penerapan kearifan lokal ini berlangsung, serta bagaimana tradisi tersebut direfleksikan melalui perspektif teologi kontekstual. Pendekatan teologi kontekstual digunakan untuk menghubungkan antara tradisi budaya lokal dengan pemahaman iman Kristen, sehingga tradisi papadak tidak hanya menjadi praktik budaya semata, tetapi juga sarana bagi jemaat untuk merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis-reflektif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen yang dilakukan di Jemaat GMIT Victory Puamata. Teknik analisis data meliputi reduksi data, triangulasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi papadak memberikan kontribusi positif dalam menjaga ketertiban masyarakat dan kelestarian lingkungan, serta memperkuat hubungan antara iman, budaya, dan kehidupan sosial jemaat. Tradisi ini juga menjadi wujud konkret dari penerapan teologi kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai adat dengan ajaran Kristen.Analisis teologi kontekstual dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa pelaksanaan tradisi papadak memiliki nilai-nilai kristen yang tercermin melalui pelaksanaan serta gereja didorong agar melihat tradisi papadak sebagai tradisi lokal yang memiliki nilai yang relevan dengan teologi kontekstual. Refleksi teologis terhadap tradisi ini memperkuat hubungan antara iman, budaya, dan tindakan sosial jemaat. Oleh karena itu, pelestarian tradisi papadak di Jemaat GMIT Victory Puamata menjadi upaya penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat kehidupan beriman jemaat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu teologi kontekstual dan sumbangsih praktis bagi jemaat GMITVictory Puamata . Kata Kunci: Tradisi Papadak, Teologi Kontekstual, Gereja GMIT Victory Puamata , Aturan Adat, Bevans

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Ritus Berkabung Takaen Noi Aok Sub Judul Suatu Tinjauan Teologis terhadap Praktik Ritus Berkabung Takaen Noi Aok di Jemaat GMIT Pniel I Lelogama dan Implikasinya bagi Pelayanan Gereja

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada praktik ritus berkabung "Takaen Noi Aok" di Jemaat GMIT Pniel I Lelogama, yang merupakan bagian dari budaya masyarakat Amfoang-Lelogama. Ritus ini melibatkan serangkaian tahapan yang dilakukan untuk menghormati orang yang telah meninggal dan dipercaya memiliki konsekuensi bagi kerabat yang masih hidup jika tidak dilaksanakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna dan nilai dari ritus tersebut serta implikasinya terhadap pelayanan gereja. Pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan digunakan dalam penelitian ini, yang melibatkan observasi dan wawancara dengan anggota jemaat. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara generasi tua dan muda mengenai pelaksanaan ritus ini. Generasi tua cenderung mempertahankan ritus sebagai tradisi yang sarat makna, sementara generasi muda menganggapnya sebagai beban tambahan dan bertentangan dengan ajaran Kristen. Penelitian ini juga menemukan bahwa ritus "Takaen Noi Aok" memiliki nilai-nilai yang penting dalam kehidupan masyarakat Amfoang, namun seiring dengan perkembangan zaman, makna asli dari ritus ini mulai tergerus. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya gereja untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai ritus ini agar tidak terjadi sinkretisme dan penyesatan dalam praktik keagamaan jemaat. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana ritus berkabung "Takaen Noi Aok" dapat diintegrasikan dengan ajaran Kristen sehingga tetap mempertahankan nilai budaya tanpa mengorbankan keyakinan iman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur tambahan tentang ritus kematian dalam konteks budaya dan agama serta memberikan panduan bagi jemaat dalam menghadapi masa duka dengan cara yang sesuai dengan iman Kristen. Kata Kunci: Ritus berkabung, Takaen Noi Aok, Teologi Kontekstual, Solidaritas, Ketaatan, GMIT Pniel I Lelogama, Pelayanan Gereja

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail