Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: Musik
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Musik sebagai sarana self healing

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

MUSIK SEBAGAI SARANA SELF HEALING Irmayati Ngongo Program Studi Teologi Agama Kristen, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia Email penulis: [email protected] Menyembuhkan luka batin seseorang melalui Self healing dengan musik adalah langkah yang sangat diperlukan untuk pemulihan diri seseorang sehingga ia mengalami kehidupan yang baik. Luka batin merupakan keadaab jiwa seseorang yang tidak sehat akibat berbagai persoalan hidup sehingga seseorang tidak mampu untuk mengekpresikan emosi atau perasaan yang seharusnya sehingga membuat batin terluka. Mengingat bahwa luka batin dapat dialami oleh siapa saja bahkan kehidupan kaum muda-mudi juga mengalami luka batin oleh karena dalam usia yang demikian merupakan usia yang rentan untuk terjadinya konflik. Luka batin yang dibiarkan akan berdampak negatif bagi mereka yang mengalaminya sehingga luka batin perlu untuk disembuhkan. Penyembuhan luka batin dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti self healing dengan musik. Dalam kehidupan manusia peran musik bukan saja dikenal sebagai sebuah kekayaan seni namun musik juga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia yakni musik memiliki nilai kebaikan untuk menyembuhkan. Bahkan gereja dalam pelayananya telah memanfaatkan musik khususnya sebagai bagian dalam liturgi ibadah. Gereja juga mengenal berbagai jenis nyanyian salah satunya ialah nyanyian pop rohani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengambilan data dengan melakukan sampling dan wawancara lanjutan untuk memperoleh data yang akurat dengan kebenaran yang mendalam mengenai persoalan luka batin dan musik self healing sebagai upaya penyembuhan. Tujuan dari penleitian ini adalah untuk mengetahui realitas luka batin pemuda-pemuda GMIT Moria Liliba dan musik sebagai sarana self healing serta bagaimana upaya-upaya pastoral yang dilakukan oleh gereja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, bahwa pemuda-pemudi GMIT Moria Liliba mengalami luka batin oleh karena konflik dengan orang tua, perceraian orang tua, diterlantarkan, mengalami kekerasan verbal, bullying, persoalan asmara, serta pendidikan. Dampaknya ialah berpengaruh pada psikologi, fisik, relasi sosial, hingga kondisi spiritual mereka yang memburuk. Upaya gereja menangani hal ini yakni dengan melakukan pemberitaan firman tanpa adanya pendampingan lanjutan karena berbagai alasan yakni pemuda-pemudi yang menutup diri, faktor relasi, serta adanya keyakinan bahwa mampu untuk mengatasi sendiri. Dalam penelitian ini juga penulis menemukan bahwa musik khususnya musik pop rohani memberikan pengaruh yang baik bagi pemuda-pemuda yang mengalami luka batin. Hal ini dalam keadaan di mana mereka mampu untuk berdamai dengan diri mereka sendiri serta orang lain. Melihat musik sebagai anugerah Allah maka perlu untuk diberikan perhatian agar dimanfaatkan dengan baik untuk hal-hal yang membawa kebaikan bagi manusia. Musik bukan saja dilihat sebagai sebuah seni atau sebagai bagian dari liturgi suatu ibadah namun musik dapat dijadikan sebagai sarana penyembuhan juga sebagai sarana di mana orang-orang percaya mengekspresikan imannya kepada Allah. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa musik memiliki fungsi-fungsi pastoral yang dapat dimanfaatkan bagi kesembuhan luka batin. melalui penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sumbangsih bagi pelayanan pastoral.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna Gong dan Moko dalam Upacara Kematian

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gong dan moko merupakan alat musik yang dapat dipakai oleh masyarakat dalam suatu acara seperti penyambutan kepada tamu, peminangan perempuan dan juga sebagai simbol kepada orang yang telah meninggal. Masyarakat Mataru Barat memahami gong dan moko sebagai salah satu benda sakral yang harus dibawa ketika melihat orang yang telah meninggal. Masyarakat Mataru Barat memahami gong dan moko sebagai benda sakral yang wajib dibawa oleh anak laki-laki dan anak perempuan ketika memasuki tenda duka. Gong dan moko yang dibawa oleh anak laki-laki dan perempuan harus diberikan kepada saudara perempuan dan saudara laki-laki dari si mati (nengfala/mayolfala) Dari masalah yang telah dipaparkan, maka penulis melakukan penelitian mengenai gong dan moko. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan masyarakat tentang makna gong dan moko dalam upacara Kematian. Tempat penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman dengan teknik masyarakat Mataru tentang gong dan moko merupakan suatu penyakit yang dapat mengakibatkan sakit penyakit, kecelakaan dan kematian. Masyarakat Mataru Barat memahami bahwa ini merupakan suatu budaya yang harus dilakuka jika tidak dilakukan maka masyarakat akan mendapatkan tantangan. Oleh karena itu masyarakat perlu memahami bahwa gong dan moko bukan sebagai benda sakral yang dapat membawa bencana tetapi sebagai simbol yang dapat mempersatukan antara anak laki-laki dan perempuan kepada saudara-saudara dari orang yang telah meninggal dan juga memberi tanggung jawab untuk melihat keluarga yang ditinggalkan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Musik Kontemporer “ Suatu Tinjauan Teologis terhadap Penggunaan Musik Kontemporer dalam Liturgi Ibadah Minggu Di Jemaat Karmel Fatululi dan Implikasinya bagi GMIT”

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tulisan ini mengkaji penggunaan musik kontemporer dalam liturgi ibadah minggu di Jemaat GMIT Karmel Fatululi terhadap masalah perpindahan jemaat yang disebabkan oleh persepsi tentang musik atau liturgi yang kaku. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan. Pada bagian awal tulisan ini, penulis akan membahas mengenai sejarah gereja GMIT Karmel Fatululi, dilanjutkan dengan uraian mengenai penggunaan musik kontemporer dalam konteks ibadah di gereja tersebut. Penjelasan mencakup aspek ibadah, liturgi, pandangan tentang musik dalam Alkitab, perkembangan musik gerejawi, serta sejarah musik dalam GMIT. Selain itu, penulisan juga mempertimbangkan perbedaan antara musik himne dan musik kontemporer. Tulisan ini menegaskan bahwa dalam konteks ibadah, memuji dan menyembah Tuhan dapat dilakukan melalui berbagai jenis musik, baik himne maupun musik kontemporer, dengan fokus utama pada kesungguhan hati dalam ekspresi penyembahan kepada Tuhan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail