ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Suku Meto yang tinggal di Boti adalah suku tradisional yang memegang teguh budaya dan diajarkan turun temurun dari generasi ke generasi. Natoni sebagai salah satu taradisi yang masih di pelihara masyarakat Boti sampai saat ini. di setiap upacara sakral. Masyarakat Boti menggunakan ritual natoni sebagai salah satu dimensi religi. Masalah dalam penelitian ini adalah dimensi religi apa yang terkandung pada proses pelaksanaan natoni. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dimensi religi dalam proses pelaksanaan natoni masyarakat adat Boti. Tempat penelitian di dusun A, Desa Boti. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu metode penelitian yang telah digunakan untuk mengumpulkan informasi. Informan dalam penelitian ini adalah para tokoh adat yang mengetahui tentang ritual natoni. Teknik analisis data deskriptif yang meliputi teknik penyajian data dengan mengklasifikasikan pengumpulan data dari observasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dimensi religius yang terkandung dalam natoni Fua Pah pada masyarakat Boti adalah Uis Neno, Masyarakat suku Boti memuja Uis Neno yang berarti Tuhan Langit. Uis Pah, Selain Tuhan Langit atau Tuhan Matahari masyarakat Boti juga mengakui adanya Tuhan Bumi atau Penguasa Alam Semesta. Uis Nitu, Uis nitu ini, diyakini oleh masyarakat Boti sebagai mereka yang hidup di bawah bumi. Adapun Proses pelaksanaan ritual Fua Pah dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap akhir.
Kata Kunci : Boti, Natoni, Fua Pah, Dimensi Religius. Budaya.
Keterangan : Penulis (*)
Pembimbing (**)
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul penelitian ini “Kajian Bahasa Kiasan dalam Natoni di Uab Meto yang digunakan dalam menyambut tamu di Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang” Masalah dari penelitian ini “apa sajakah gaya bahasa dalam Natoni? Tujuan penelitian ini adalah Mengidentifikasi dan menganalisis jenis-jenis tuturan kiasan natoni dalam bahasa Uab Meto yang digunakan dalam penyambutan tamu di Desa Oebola, Kabupaten Kupang. Penulis menganalisis tuturan kiasan dalam Natoni dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Rekaman digunakan untuk mendapatkan data. Ada dua informan (Thobias Tanone dan Naaman Bees) untuk memperoleh data dan mereka adalah narator dari Natoni. Analisis difokuskan pada ciri kiasan dalam puisi seperti yang dikemukakan oleh Kennedy (1991) dan Robberts (1995) bahwa kata dan ekspresi memiliki pola atau bentuk tertentu, yaitu metafora, simile, paradoks, anafora, apostrof, synecdoche metonymy, personifikasi dan simbol. Dalam Natoni penulis hanya menemukan ⁽¹⁾simile, ⁽²⁾anafora, ⁽³⁾metonimi, ⁽⁴⁾sinekdoke, ⁽⁵⁾personifikasi dan ⁽⁶⁾simbol. Dalam simile mereka menggunakan nak “like” untuk membandingkan objek secara langsung. Kata “Ne” selalu digunakan di setiap kalimat terakhir untuk memperjelas makna yang diwakilinya dalam anafora. Kata leku ma tabu memiliki arti yang sama “waktu” yang selalu digunakan dalam metonimi. Kalimat ho paham ho nifu “benuamu, samudramu, wilayahmu” menggunakan personifikasi dan sinekdoke karena menggunakan benda abstrak untuk menggambarkan karakter manusia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi atau pengetahuan yang berharga kepada pembaca untuk mengetahui tentang jenis-jenis tuturan kiasan yang ada pada Natoni uab meto. Artikel ini dapat memberikan sedikit kesadaran kepada generasi muda khususnya Dawan untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal, seperti penyambutan tamu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Zaman yang semakin berkembang dapat mempengaruhi kebutuhan manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek kehidupan yang berpengaruh dalam tatanan manusia yaitu budaya, dalam aspek ini budaya memiliki peranan penting dalam mengupayakan berbagai adat-istiadat. Skripsi ini merupakan hasil penelitian lapangan yang membahas tentang keramahtamahan dan tanggungjawab dalam praktik natoni peminangan dengan judul “Natoni Peminangan (Natoni Peminangan” dan sub Judul: “Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual terhadap Penggunaan Natoni Peminangan dalam acara peminangan Atoni Meto Amanuban dan relevansinya bagi Jemaat GMIT Ofu, Klasis Amanuban Tengah Selatan)”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat keterlibatan gereja dalam menyikapi praktik natoni peminangan dengan keramahtamahan dan tanggungjawab yang terjadi dalam Jemaat wilayah Ofu yang berlandaskan pada Tipologi Niebuhr. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yakni mengamati fenomena yang terjadi, mendeskripsikan dan menganalisis. Penulis menganalisis keramahtamahan dan tanggungjawab dalam praktik Natoni Peminangan dengan menggunakan tipologi Niebuhr tentang Kristus Dari Kebudayaan. Tipologi Kristus Dari Kebudayaan yang membahas mengenai Tipologi ini berbicara tentang bagaimana seseorang yang tunduk pada Kristus dan Budaya. Masyarakat harus menerima kekristenan atau budaya karena keduanya sama penting. Tipologi akan mendorong untuk menjalankan Kekristenan dan budaya seperti pada saat hari minggu majelis jemaat mengikuti ibadah sehingga menekankan bahwa orang kristen sungguh-sungguh melakukan dua hal tersebut. Ide dasar dari tipologi ini adalah melihat adanya konflik antara Allah dengan manusia dan anugerah Allah selalu ada pada pihak Allah dan dosa selalu ada pada pihak manusia atau budaya. Melihat ada konflik antara budaya dan Injil tapi manusia harus dengan sungguh melakukan tugasnya dalam budaya maupun dalam Gereja.
Perilaku dan sikap yang baik dapat menghasilkan keramahtamahan dan tanggungjawab dengan melandaskan Kasih Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dari hasil penelitian di Jemaat Wilayah khususnya dalam praktik Natoni Peminangan yang menciptakan keramahtamahan dan tanggungjawab bagi masyarakat dan jemaat. Gereja memberi kesadaran bagi masyarakat dan jemaat sehingga dalam melaksanakan praktik Natoni Peminangan selalu berpatokan pada persekutuan sehingga memperoleh keramahtamahan dan tanggungjawab. Keramahtamahan merupakan sikap yang diwujudkan dari ungkapan rasa hormat serta persahabatan dan persaudaraan kepada orang lain, terutama para tamu yang datang dan hadir. Sikap ini harus dilakukan oleh setiap orang melalui kesadaran baik melalui kekristenan maupun budaya dalam memenuhi kebutuhan hidup berdasarkan kasih Kristus. Oleh karena itu, gereja harus bekerjasama dengan pemerintah dan tokoh adat untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan jemaat dalam berbudaya. Penghargaan dalam sebuah persekutuan merupakan keramahtamahan dan wujud tanggungjawab dalam rumah tangga terutama dalam kesadaran manusia dalam merespon Anugerah Allah.