Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: penyembuhan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KEPUH (Sterculia foetida L) TERHADAP KECEPATAN PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA MENCIT (Mus musculus)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Kepuh (Sterculia foetida L) Terhadap kecepatan Penyembuhan Luka Sayat Pada Mencit (Mus musculus) Talnai .S. S)* Nge.T.S)** Ballo . A)** Luka merupakan rusak atau hilangnya sebagian jaringan pada organ tubuh. Sedangkan Luka sayat merupakan luka terbuka, dan memiliki panjang luka lebih besar dari dalamnya luka. Povidone iodine merupakan antiseptik yang sering kali digunakan dalam penyembuhan luka dan sudah dipakai secara luas namun penggunaan iodine dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan iritasi pada kulit oleh karena itu perlu adanya pengembangan obat tradisional yang mengandung khasiat yang baik untuk penyembuhan luka dan memilki efek samping lebih kecil. Kepuh (Sterculia foetida L) merupakan salah satu tumbuhan yang dari masing-masing organ memiliki banyak manfaat dan juga telah diketahui mengandung senyawa-senyawa kimia yang berfungsi mempercepat proses penyembuhkan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemberian ekstrak daun kepuh (Sterculia foetida L) terhadap kecepatan penyembuhan luka sayat pada mencit. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 1 kontrol. Perbedaan perlakuan 25%, 30% 35 % dan 1 kontrol povidone iodine. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA satu jalur dan dilanjutkan dengan uji LSD (leat significane different) untuk melihat perbedaan dari setiap perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ekstrak daun kepuh (Sterculia foetida L) dapat berpengaruh nyata terhadap penyembuhan luka sayat pada mencit (Muss musculus) sehingga dapat dinyatakan bahwa jenis daun kepuh bisa di manfaatkan untuk penyembuhan jenis-jenis luka lainnya. Kata Kunci : Kepuh, Mencit, Penyembuhan Keterangan: *Peneliti **Pembimbing I **Pembimbing II

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENYEMBUHAN TRAUMA” Suatu Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Upaya Gereja Bagi Penyembuhan Trauma Terhadap Anak-Anak Usia 5-12 Tahun Yang Menyaksikan Kekerasan Di GMIT Jemaat Sono Klasis Amanatun Utara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gereja dalam pelayanan pastoral memiliki panggilan untuk melaksanakan tugas penggembalaan dengan merawat, melindungi, memelihara, serta menolong umat sebagai domba-domba Allah. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, gereja tidak terlepas dari berbagai persoalan umat, salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga yang berdampak serius bagi anak-anak sebagai saksi. Pengalaman menyaksikan kekerasan seringkali meninggalkan trauma psikologis yang mengganggu rasa aman dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum lokasi penelitian di Jemaat GMIT Sono, mengkaji upaya gereja dalam penyembuhan trauma anak-anak usia 5–12 tahun yang menyaksikan kekerasan, serta menganalisis upaya tersebut dalam tinjauan teologi pastoral.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan dan studi literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Mata Jemaat Sion Oepuah terdapat anak-anak usia 5–12 tahun yang mengalami trauma psikologis, ditandai dengan gejala ketakutan, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, dan keinginan untuk membalas dendam. Upaya gereja dalam pendampingan trauma masih bersifat umum dan belum menyentuh kebutuhan emosional anak secara khusus. Dalam tinjauan teologi pastoral, gereja dipahami sebagai komunitas penyembuhan (healing community) yang menghadirkan ruang aman bagi umat. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk berperan lebih aktif, terstruktur, dan berkelanjutan dalam pendampingan pastoral guna menolong anak-anak mengalami pemulihan dan keutuhan hidup.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMUNITAS YANG MENYEMBUHKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam komunitas Orang Sabu, terdapat sebuah pemahaman mengenai kutuk atas peristiwa Made Harro (mati tidak wajar). Karena kutuk itu, maka relasi yang ada dalam komunitas, baik relasi individu, relasi dengan sesama, relasi dengan alam (tanah), dan relasi dengan Tuhan menjadi rusak. Akhirnya, stigma sosial dan pengucilan terbentuk dalam komunitas. Pemahaman ini masih dipegang erat oleh Komunitas Orang Sabu bahkan yang sudah Kristen. Namun, dalam komunitas yang sama pula, terdapat pemahaman unik tentang bagaimana mereka sebagai komunitas keluar dari krisis ini dan mengalami kesembuhan yang utuh dan holistik. Ritus yang dimaksud dilakukan oleh beberapa anggota keluarga jemaat GMIT Arit Lederaga, yang anggota keluarganya mengalami Made Harro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang kutuk Made Harro dan praktik penyembuhan duka Kehao Rue masih sangat kuat dipegang dalam komunitas orang Sabu di jemaat GMIT Arit Lederaga. Dengan penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, pembuangan abu, penatte laidare yang dipimpin oleh tokoh adat yakni Deo Rai dan Rue, serta ritus pelengkap seperti, tangi pali, pedoe hemanga, pemau do made, dan henge’do bertujuan untuk memutuskan rantai kutukan tersebut dan menyeimbangkan kembali relasi yang telah rusak. Dalam keseluruhan praktik yang ada, Penulis menggunakan 5 fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi pastoral nampak dalam praktik budaya orang Sabu. Selain itu, dalam praktik penyembuhan duka tersebut terdapat nilai-nilai teologis yang dapat membantu gereja untuk belajar dari komunitas Orang Sabu dalam menciptakan pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bahwa kematian dalam pandangan Alkitab adalah realitas setiap manusia yang hidup. Kematian yang ada menyisihkan duka bagi masing-masing orang berbeda dalam tingkatan dan cara pemulihan. Untuk itu, perlu adanya pendampingan pastoral yang utuh dan holistik bagi segenap ciptaan dengan menyoroti peran komunitas di dalamnya. Sehingga pendampingan pastoral Lintas budaya menjadi tawaran menarik bagi gereja, agar gereja dapat belajar menjadi komunitas yang menyembuhkan secara utuh dan holistik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail