ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PENGARUH KONFLIK KERJA, STRES KERJA DAN BEBAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA LABORATORIUM PENGUJIAN DINAS PUPR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NAMA : RANDY YUSTENS WEWO NIM : 18410307 Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem sebuah manajemen perusahaan, dimana manajemen sumber daya manusia memiliki pengaruh terhadap kinerja dan aktivitas yang ada didalamnya sehingga dalam hal ini ada begitu banyak hal mengenai sistem dan peraturan kerja. Oleh karena itu salah satu faktor yang menjadi pendukungnya berjalanya SDM yaitu kerja sama agar dalam menjalankan sistem manajemen yang ada selain itu dalam meningkatkan mutu kualitas karyawan dan mengadakan pelatihan dan dasar-dasar pemahaman cara kerja yang efektif dan efisien dikarenakan itu sebagai wadah dan cara menilai program itu biasa diterima atau tidak dalam keseimbangan sebenarnya, mengacu pada hal ini ada berbagai macam hal yang akan dibahas dalam kerja. Masalah kerja yaitu adanya jam kerja yang berlebihan atau melewati batas kerja waktu normal sehingga dapat tejadinya konflik kerja, stres kerja dan beban kerja terhadap kinerja karyawan Di Dinas PUPR Prov. NTT menilai dari permasalahan kerja yang ada didalam perusahaan atau pun diluar masalah secara pasti dan tidak disengaja masalah selalu saja hadir ketika dalam bekerja baik secara umum dan kecil di lingkungan kerja. Konflik kerja adalah permasalahan yang terjadi ketika bekerja atau sedang melaksanakan aktivitas dalam bekerja, stres kerja sendiri berasal dari konflik kerja karena masalah yang timbul akibat kerja menjadi lebh nyata dan sangat berpengaruh sekali baik itu secara transparan maupun linier, beban kerja dalam hal setelah seseorang melaksanakan pekerjaan nya tapi tidak biasa menuntaskannya maka akan berdampak menjadi beban untuk diri sendiri yang dimana pekerjaan tersebut harus dituntaskan baik itu perlahan tapi berjalan sesuai koridornya. Laboratorium Pengujian Dinas PUPR Prov. NTT beralamat di JL. SK. Lerik Depan Balai Kota Kupang Walikota –Kupang Telp. (0380) 831806. Tugas pokok Laboratorium Pengujian Dinas PUPR Prov. NTT adalah merencanakan dan melaksanakan kegiatan pengujian melalui pembinaan dan pengawasan teknis pelaksanaan urusan pekerjaan umum, pelayanan jasa uji mutu dan pengembangan jalan, jembatan dan sumber daya air serta keciptakaryaan. Berdasarkan pokok permasalahan di atas, tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui pengaruh konflik kerja terhadap kinerja karyawan pada Laboratorium Pengujian Dinas PUPR Prov. NTT, untuk mengetahui pengaruh Stres kerja terhadap kinerja karyawan pada Laboratorium Pengujian Dinas PUPR Prov. NTT, untuk mengetahui apakah beban kerja produk berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada Laboratorium Pengujian Dinas PUPR Prov. NTT Konsep teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Konflik kerja adalah ketidaksesuaian diantara lebih dari dua anggota atau suatu faksi ( dalam suatu lembaga atau perusahaan) yang perlu memeca sumber daya yang sedikit atau aktivitas kerja dan karena fakta bahwa mereka memiliki kontras status, arah, perhitungan, atau pemahaman. b. Stres kerja adalah suatu keadaan krisis yang mengakibatkan adanya kesenjangan tubuh maupun psikis, yang mempengaruhi perassan, jalan pikiran, dan keadaan individu. Stres yang berlebihan dapat mempengaruhi kompotensi seseorang untuk beradapatsi dengan lingkungan sekitar.. Sebagai dampaknya, pada diri karyawan muncul berbagai macam fenomena stres yanng dapat menghambat pelaksanaan pekerjaan. c. Beban kerja adalah volume dari hasil keja atau catatan tentang hasil pekerjaan yang dapat menunjukan volume yamg dapat dihasilkan oleh sejumlah pegawai dalam jumlah tertentu d. Kinerja karyawan yaitu hasil yang didapatkan suatu lembaga baik lembaga tercantum berkarakter berorientasi keuntungan dan tidak berorientasi keuntungan yanng didapatkan semasa satu kurun batas. Populasi dalam penelitian ini adalah semua karyawan pada Laboratorium Pengujian Dinas PUPR Prov. NTT. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan sebesar 32 orang responden. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan metode survei berupa penyebaran kuesioner kepada responden. Data yang dibutuhkan berupa berupa data primer dan data sekunder. Penelitian ini menyimpulkan bahwa secara persial Variabel konflik kerja diketahui berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada Laboratorium Pengujian Dinas PUPR Prov. NTT, secara persial Variabel stress kerja diketahui berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada Laboratorium Pengujian Dinas PUPR Prov. NTT, secara persial Variabel beban kerja diketahui berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada Laboratorium Pengujian Dinas PUPR Prov. NTT dan secara simultan variabel stress kerja, konflik kerja dan beban kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada Laboratorium Pengujian Dinas PUPR Prov. NTT. Kata Kunci :Konflik Kerja, Stres Kerja, Beban Kerja Dan Kinerja Karyawan
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Manajemen sumber daya manusia merupakan bagian dari ilmu manajemen yang mengfokuskan perhatiannya pada pengaturan peranan sumber daya manusia dalam kegiatan organisasi untuk mencapai tujuan tertentu sumber daya manusia sebagai pengelolaan sistem, agar sistem ini berjalan tertentu dalam pengelolaannya harus memperhatikan beberapa aspek penting seperti pelatihan, pengembangan, motivasi, dan aspek-aspek lainnya. Sumber daya manusia merupakan aset organisi sebagai kepemimpinan yang sangat vital, karena itu peran dan fungsinya tidak bisa digantikan oleh sumber daya lainnya.
Salah satu hal penting yang harus di miliki oleh pegawai adalah kinerja pegawai memiliki peranan yang sangat penting karena kinerja merupakan bentuk hasil akhir dari proses pegawai yang menyelesaikan tugasnya dengan baik dan benar maka akan memiliki kinerja yang tinggi. Seorang pimpinan atau kepala Suatu organisasi akan di akui sebagai seorang pemimpin jika dapat mengarahkan bawahannya kearah pencapaian tujuan organisasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa besar pengaruh kepemimpinan transformasional dan penyelesaian konflik terhadap kinerja pegawai baik secara simultan mau parsiel. Metode penelitian yang di gunakan adalah regresi linear berganda dengan jumlah populasi 30 responden maka mengambil sampel dari semua jumlah populasi.teknik pengumpulan data yang di gunakan adalah menyebarkan kuesioner. metode analisis data yang di gunakan adalah analisis regresi linear berganda, analisis korelasi, berganda, uji hipotesis, dan analisis koefesien determinasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kepemimpinan transformasional dan penyelesaian konflik terhadap kinerja pegawai berpengaruh posetif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Salah satu cara untuk meningkatkan kinerja pegawai adalaah dengan cara memperhatikan pengembangan sumber daya manusia pegawai, kepuasan kerja pegawai. Pengembangan sumber daya manusia melalui kepemimpinan transformasional merupakan hal penting yang mendorong pegawai untuk menghasilkan kinerja yang baik. Selain itu pengembangan sumber daya manusia dan kinerja pegawai merupakan komponen penting dalam memberi motivasi bagi pegawai dalam bekerja.
Penulis melakukan penelitian ini bertitik tolak dari permasalahan yang sering ditemukan di lokasi, penelitian yaitu apakah pengaruh kepemimpinan transformasional dan penyelesaian konflik berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kepengaruh kepemimpinan dan penyelesaian konflik terhadap kinerja pegawai pada Kantor Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kota Kupang konsep penelitian dalam skripsi ini adalah, kepemimpinan transformasional dan penyelesaian konflik terhadap kinerja pegawai.menurut Simamora ( 2003 : 45 ), kinerja adalah ukuran keberhasilan organisasi dalam mencapai misinya. Sedangkan Riniwati mendefenisikan kinerja adalah unsur pencatatan hasil kerja SDM dari waktu ke waktu sehingga di ketahui sejauh mana hasil kerja SDM dan perbaikan apa yang harus di lakukan agar di masa mendatang lebih baik. Untuk mencapai sasaran dan tujuan perusahaan, organisasi di susun dalan unit-unit kerja yang lebih kecil, dengan pembagian kerja, sistem kerja dan mekanisme kerja yang jelas.
Dari hasil penelitian, dalam analisis pendahuluan yang menggunakan analis deskriptif prestase di ketahui bahwa pengaruh kepemimpinan transformasional dan penyelesaian konflik terhadap kinerja pegawai pada Kantor Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kota Kupang berada dalam kategori rendah.pengembangan sumber daya manusia, pegawai dalam kategori rendah dan kinerja pegawai juga berada dalam kategori rendah.
Dalam analisis lanjutan yang menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana di ketahui bahwa kepemimpinan transformasional dan penyelesaian konflik terhadap kinerja pegawai di tunjukan dengan nilai segnifikan sebesar 0,025 dan nilai koefisien regresi sebesar 2,0,56 yang berarti sama tinggi pula kinerja pegawai, sebaliknya pengembangan sumber daya manusia berpengaruh posetif terhadap pegawai yang di tunjukan dengan nilai signifikan sebesar 0,000 dan nilai koefisien regresi sebesar 7,460 yang berarti semakin baik sumber daya manusia kinerja pegawai semakin tinggi pula kinerja pegawai
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Setiap Instansi Pemerintah maupun organisasi atau perusahaan akan selalu berusaha untuk meningkatkan kepuasan karyawan, dengan harapan apa yang menjadi tujuan pemerintah akan tercapai. Sumber daya manusia dalam suatu Instansi pemerintah merupakan aspek penting yang menentukan keefektifan suatu pekerjaan dengan pengguna sumber daya yang berkualitas tinggi maka perusahaan atau instansi akan mampu berperan dalam menghadapi tantangan global, karna sumber daya manusia mempunyai pengaruh besar bagi aspek-aspek atau bidang lainnya dalam dalam kemajuan perusahaan, sehingga dengan menggali keahlian yang dimiliki para karyawan akan dapat mengetahui konflik peran yang biasa terjadi pada karyawan. Agar sumber daya merasa puas dalam bekerja. Ketidakpuasan dalam bekerja akan menimbulkan dampak yang negatif bagi Instansi-instansi tertentu seperti menciptakan ketidakstabilan terhadap kondisi Pegawai. Hal tersebut menjadikan perusahan tidak efektif karena adanya sebagian karyawan yang tidak puas dalam pekerjaan. Kepuasan adalah bahwa orang akan merasa puas atau tidak puas, tergantung apakah ia merasa adanya keadilan (equality) atau tidak atas suatu situasi. Perasaan adil dan tidak adil atas suatu situasi, diperoleh orang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor maupun di tempat lain. Wewenang kerja adalah hak yang cukup, yang memungkinkan seseorang dapat menyelesaikan suatu tugas atau kewajiban tertentu. wewenang secara efektif dan efisien serta bijaksana merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan. Oleh karna itu peranan pendelegasian wewenang penting dalam penerapannya. Pendelegasian wewenang yang tepat, akan menghindarkan perusahaan atau organisasi dalam menetapkan pekerjaan atau hal yang akan dikerjakan. Misalnya, jika atasan menghadapi pekerjaan yang tidak mungkin bisa diselesaikan dengan satu orang saja, maka ia dapat mendelegasikan pekerjaannya. Pendelegasian dilakukan agar manejer dapat mengembangkan karyawan atau bawahan sehingga bisa berdampak positif yaitu memperkuat organisasi terutama saat ada terjadi perubahan susunan manejemen organisasi atau saat ada perubahan lingkungan organisasi. Konflik adalah sesuatu yang negative sebagai hasil alami dari kelompok kerjasama di suatau organisasi atau perusahaan.Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh konflik peran terhadap kepuasan kerja karyawan di RSUD Naibonat Kabupaten Kupang.Populasi penelitian ini adalah pegawai RSUD Naibonat yang bertugas di ruang Umum Kepegawaian sebanyak 34 orang. teknik pengambilan sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah Total sampling artinya seluruh kepegawaian umum sebanyak 34 orang yang bekerja diRSUD Naibonat kabupaten Kupang tahun 2020. Teknik pengumulan pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan Variabel Konflik peran (X1) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja pada RSUD Naibonat. hal ini terlihat dari signifikan Konflik peran (X1) 0,032 > 0,05 dan nilai t-hitung 0,226 2,040 t-tabel, artinya konflik peran memiliki hubungan yang kuat sehingga dapat meningkatkan kepusan kerja karyawan RSUD Naibonat. Sedangkan Hasil dari wewenang pekerjaan (X2) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja pada RSUD Naibonat. hal ini terlihat dari signifikan wewenang pekerjaan (X2) 0,047 > 0,05 dan nilai t-hitung 0,153 2,040 t-tabel. Yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel wewenang pekerjaan (X2) terhadap kepuasan kerja (Y) pada RSUD Naibonat. Artinya bahwa Disaat RSUD Naibonat. Kata kunci : kepuasan, konflik peran, wewenang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk memandang konflik bukan semata-mata sebagai realitas yang bersifat negatif dan merugikan, melainkan sebagai ruang penyingkapan diri dan peluang transformasi dalam kehidupan manusia. Dengan tujuan tersebut, tulisan ini mengkaji Kejadian 37:1-11 melalui pendekatan tafsir naratif untuk memahami bagaimana konflik dalam keluarga Yakub, khususnya antara Yusuf dan saudara-saudaranya, berfungsi sebagai ruang awal pembentukan diri yang berlangsung melalui dinamika relasi yang tidak ideal. Konflik dipahami sebagai hasil dari pilihan dan tindakan manusia yang bebas, namun di dalamnya tetap terbuka kemungkinan terjadinya perubahan dan pendewasaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Pendekatan tafsir naratif dipakai untuk membaca teks sebagai sebuah kisah yang utuh dengan memperhatikan alur, tokoh, dan konflik, sehingga kerygma dipahami melalui dinamika cerita dan perkembangan relasi antartokoh. Dalam tafsir naratif ini, konflik tidak dilihat sebagai tujuan akhir narasi, melainkan sebagai medium yang membuka ruang refleksi diri, kesadaran akan keterbatasan manusia, serta peluang bagi terjadinya transformasi. Pemahaman tersebut kemudian dibaca secara sejalan dengan realitas konflik yang dialami oleh Jemaat GMIT Sarfat Daeloni, Klasis Rote Tengah. Konflik jemaat tidak dipahami sebagai kegagalan kehidupan bergereja, tetapi sebagai realitas yang mengandung potensi pembentukan diri apabila dihadapi secara reflektif dan bertanggung jawab. Dalam kerangka ini, kehadiran Allah dipahami bukan sebagai penghapus konflik atau penentu langsung tindakan manusia, melainkan sebagai kehadiran yang menyertai proses kehidupan manusia, bahkan ketika konflik terjadi sebagai hasil dari kebebasan manusia itu sendiri. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan tujuan untuk memperkuat pemahaman teologis bahwa konflik dapat menjadi ruang pendewasaan iman, pemulihan relasi, dan pertumbuhan kehidupan bersama dalam komunitas jemaat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berfokus pada persoalan bagaimana narasi perjumpaan Yesus dan Zakheus dalam Lukas 19:1–10 memuat konstruksi ideologis tertentu, serta sejauh mana narasi tersebut dapat dibaca sebagai dasar teologis bagi pemahaman nir- kekerasan dalam upaya penyelesaian konflik di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Fokus ini muncul dari kenyataan bahwa konflik merupakan fenomena yang tidak terpisahkan dari dinamika kehidupan bergereja di GMIT. Cara konflik ditangani mencerminkan pilihan-pilihan teologis dan struktural tertentu, yang penting untuk dianalisis secara kritis guna melihat sejauh mana penanganan tersebut berkontribusi pada pemulihan relasi dan penguatan persekutuan gerejawi. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap ideologi dominan yang bekerja di balik teks Lukas 19:1–10, menelusuri ideologi alternatif yang ditampilkan melalui tindakan Yesus, serta merumuskan kontribusi teologisnya bagi pengembangan pemahaman nir-kekerasan dalam konteks penyelesaian konflik di GMIT. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Penafsiran teks dilakukan melalui kritik ideologi dengan analisis intrinsik dan ekstrinsik, sehingga teks dibaca sebagai produk sosio-historis yang berelasi dengan struktur kuasa, eksklusi sosial, dan dinamika kekerasan yang dilembagakan dalam konteks Kekaisaran Romawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lukas 19:1–10 merefleksikan ideologi dominan berupa etnosentrisme religius yang melegitimasi eksklusi sosial dan kekerasan kultural terhadap Zakheus sebagai pemungut cukai. Di tengah konstruksi tersebut, tindakan Yesus menghadirkan ideologi alternatif berupa praksis nir-kekerasan yang bersifat relasional dan transformatif, yang membuka ruang pertobatan, pemulihan relasi sosial, dan keadilan ekonomi tanpa paksaan. Temuan ini menegaskan bahwa nir-kekerasan dalam Injil Lukas berfungsi sebagai strategi teologis aktif yang relevan untuk mengembangkan pendekatan penyelesaian konflik di GMIT yang berorientasi pada rekonsiliasi dan pemulihan persekutuan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Tulisan ini membahas tentang kehidupan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang tinggal sebagai bagian dari komunitas pembuangan di Babilonia yang mengalami pergumulan dan tekanan karena ibadah mereka dibatasi. Dalam Kitab Daniel 3:1-18 dijelaskan bahwa Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengalami pergumulan karena aturan penyembahan patung emas yang dibuat oleh Raja Nebukadnezar. Aturan ini lahir dari sikap eksklusivitas yang dimiliki oleh orang-orang Kasdim dan Raja Nebukadnezar, yang mewajibkan semua bangsa untuk ikut serta dalam penyembahan tersebut. Penulis melihat kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sebagai contoh teladan yang relevan dalam meruntuhkan benteng eksklusivitas beragama yang dibangun oleh penguasa dan masyarakat Babilonia. Permasalahan tentang eksklusivitas beragama adalah hal yang sangat serius dan isu yang sensitif. Hingga saat ini, masih banyak kasus eksklusivitas beragama yang dilakukan oleh oknum tertentu, yang akhirnya menimbulkan konflik dan kesenjangan di masyarakat. Situasi yang mirip juga terjadi di Jemaat GMIT Betlehem Oeluan, di mana konflik antar umat beragama disebabkan oleh masalah pendirian rumah ibadah dan beberapa isu lainnya yang beredar, sehingga konflik ini terus berlangsung hingga sekarang. Dengan menggunakan metode penafsiran naratif, penulis mengkaji tindakan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam meruntuhkan benteng eksklusivitas beragama di Babilonia dan relevansinya dalam menghadapi konteks eksklusivitas beragama di wilayah Noemuti (TTU). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat masih terdapat penganut paham eksklusivitas beragama yang disebabkan oleh berbagai isu. Oleh karena itu, diperlukan tindakan-tindakan dan dialog untuk meruntuhkan eksklusivitas dan membangun dialog inklusif antar umat beragama untuk menciptakan kerukunan dan sikap toleransi.
Kata kunci: Daniel 3:1-18, Inklusif, Eksklusivitas beragama, Konflik, Kerukunan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Dessy Ofliana Lika E-mail: [email protected] Johan Galtung merupakan pelopor studi perdamaian, konflik, dan kekerasan dalam dunia akademik. Karya-karyanya hingga saat ini masih sering digunakan dalam studi perdamaian dan resolusi konflik. Penelitian Galtung terhadap masalah kekerasan dan konflik sangat berkontribusi dalam menjaga perdamaian bagi manusia. Galtung telah menghabiskan banyak waktu dalam mengajar, menulis, dan berbicara diberbagai negara. Dia juga aktif dalam konsultasi untuk berbagai organisasi internasional, termasuk PBB. Metode penelitian dalam tulisan ini menggunakan metode studi pustaka, dengan metode penulisan adalah deskriptif-analitis yang menggunakan berbagai sumber kepustakaan. Pembahasan tulisan ini terdiri dari: 1) Kehidupan Johan Galtung dan karya-karyanya; 2) Konflik dan kekerasan menurut Johan Galtung; 3) Konteks Konflik dan kekerasan di GMIT; 4) Implementasi pemikiran Johan Galtung yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah konflik dan kekerasan dalam GMIT; 5) Refleksi makna familia Dei dalam berhadapan dengan persoalan konflik dan kekerasan di GMIT. Hasil dari tulisan ini memberi kesimpulan bahwa Johan Galtung yang merupakan seorang aktivis perdamaian dipengaruhi oleh pemikiran tokoh aktivis lain seperti Mahatma Gandhi. Galtung memahami bahwa permasalahan mengenai konflik dan kekerasan bukan merupakan suatu hal yang mudah untuk dipahami secara sempit, karena baik konflik maupun kekerasan merupakan hal yang sangat luas dan tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Segitiga ABC merupakan salah satu konsep penting yang diperkenalkan oleh Johan Galtung sehubungan dengan resolusi konflik. Segitiga ABC digunakan untuk memahami dan melihat bagaimana cara menganalisis persoalan konflik serta kekerasan dengan lebih mendalam melalui tiga komponen utama, yaitu: Attitude (Sikap), Behavior (Perilaku), dan Contradictions (Kontradiksi). Dalam tulisan ini juga ditemukan bahwa sumbangsih pemikiran Galtung melalui segitiga ABC dapat menyediakan kerangka kerja yang akan membantu dalam menganalisis konflik dan kekerasan yang terjadi dalam konteks kehidupan GMIT. Dalam merefleksikan konsep familia Dei, GMIT mendorong jemaat untuk hidup dalam semangat kekeluargaan yang penuh kasih, mendukung satu sama lain, dan bekerja bersama-sama untuk memperluas kerajaan Allah di dunia ini. Melalui familia Dei juga, GMIT menekankan kesetaraan di antara semua anggotanya, tanpa memandang latar belakang baik itu sosial, ekonomi, atau pun budaya. Semua orang dihargai dan diperlakukan dengan hormat, karena semua adalah anak-anak Allah yang berharga. Kata Kunci: Johan Galtung, Segitiga ABC, Konflik, Kekerasan, GMIT, familia Dei
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Tokang Tomal
Suatu Tinjauan Studi Perdamaian Terhadap Tradisi Tokang Tomal Sebagai Media Resolusi Konflik Menurut Ralf Dahrendrof dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Elohim Bukapiting, Klasis Alor Timur Laut
[email protected]
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji secara ilmiah terhadap tradisi Tokang Tomal yang ada di jemaat Elohim Bukapiting khususnya desa Bukapiting kabupaten Alor. Tradisi Tokang Tomal merupakan tradisi atau budaya yang diwarisi oleh nenek moyang orang Bukapiting sejak zaman dahulu, dan terus dipelihara oleh Jemaat GMIT Elohim Bukapiting. Tradisi Tokang Tomal dilakukan sebagai penyelesaian masalah dalam jemaat. Kata Tokang Tomal berasal dari bahasa Kamang yaitu Tokang yang berarti baik. Sedangkan Tomal yang artinya enak. Kedua kata ini memilik banyak arti sesuai situasi yang sesuai dengan perilaku dan kondisi tempat.Tokang Tomal merupakan jalan tengah untuk penyelesaian masalah dalam masyarakat dan menjadi media utama dengan mengadirkan tokoh-tokoh adat, pemerintah, keluarga terkait dan pohon pelepas. Tradisi ini akan dikaji dengan menggunakan teori resolusi konflik Ralf dahrendrof yang mengatakan bahwa dalam masyarakat memiliki dua wajah yaitu konflik dan konsensus. Konflik dalam masyarakat tidak bisa dihindari bahkan gereja sebagai miniatur Allahpun tidak bisa menghindari konflik. Hasil dari penelitian ini penulis melihat bahwa jemaat Bukapiting memelihara tradisi Tokang Tomal sebagai salah satu cara mengatasi dan mengantisipasi konflik. melalui tradisi Tokang Tomal membantu penulis untuk mengenal tradisi Tokang Tomal yang memiliki nilai-nilai yang dapat digunakan dalam lingkup bergereja dan bermasyarakat yakni dialog, keterbukaan dan saling menghargai. Perdamaian merupakan suatu keadaan yang telah diprakarsai oleh Allah sendiri, sehingga manusia perlu untuk secara bersama-sama memaknai perdamaian sebagai suatu yang perlu dijaga dan dipelihara dalam kehidupan bersama dengan orang lain maupun dengan sesama ciptaan. konflik hanyalah salah satu alat yang diberikan Allah untuk menguji sejauh mana seseorang dapat menyatakan kasih bagi Allah melalui sesama dan mempertunjukan kuasa Allah atas hidup setiap umatnya. Melalui tradisi Tokang tomal haruslah saling rukun dan mencintai perdamaian, damai yang diberikan sekiranya memberikan ruang bagi kehidupan yang lebih baik dan lebih mempererat solidaritas yang dibangun bersama.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
PERAN MAJELIS JEMAAT DALAM URUSAN SENGKETA TANAH
”Suatu Tinjauan Teologis tentang Peran Majelis Jemaat dalam Urusan Sengketa Tanah di Jemaat GMIT Ora Et Labora Kolbano Klasis Amanuban Tengah Selatan”
Henki Aristo Paut
email: [email protected]
Jemaat GMIT Ora et Labora Kolbano berdiri pada tanggal 1 Januari 1912. Latar belakang berdirinya jemaat ini adalah keadaan jemaat yang masih sangat kental dengan kepercayaan terhadap tempat-tempat dan beda-beda yang memiliki kekuatan gaib dan juga arwah-arwah dari para leluhur. Orang-orang yang memiliki kepercayaan seperti ini biasanya dikenal dengan istilah atoni halaik (orang kafir). Pada saat injil mulai dibawa masuk ke dalam kalangan jemaat. Usif dan juga tua-tua masyarakat menolak akan hal tersebut karena Injil dilihat sebagai hal yang tabuh dan sebuah ancaman bagi keyakinan dan kepercayaan orang-orang halaik. Budaya yang berkembang dalam kalangan masyarakat pada waktu itu adalah setiap usaha dan kerja yang dilakukan selalu berhubungan dengan alam. Bagi mereka alam mengabulkan setiap doa melalui arwah-arwah moyang mereka.
Jemaat GMIT Ora et Labora Kolbano berdiri di tengah-tengah jemaat dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda dan dengan watak yang berbeda pula. Dari perbedaan inilah kehadiran Injil atau gereja mempersatukan semua jemaat dalam satu persekutuan sebagai keluarga Allah. Sering kali ada persoalan-persoalan atau konflik-konflik yang timbul dalam kalangan jemaat dan memiliki potensi merusak relasi dalam sebuah persekutuan. Konflik-konflik individu maupun konflik-konflik yang sering kali melibatkan kelompok-kelompok memiliki potensi yang sangat besar terhadap renggangya relasi dalam sebuah persekutuan bahkan bisa mengakibatkan perpecahan dalam suatu persekutuan. Masalah mengenai perampasan tanah atau sengketa tanah memiliki dampak yang sangat besar terhadap renggangya relasi dalam suatu persekutan bahkan dapat mengakibatkan perpecahan dalam suatu persekutuan. Persoalan-persoalan seperti ini dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab seperti tuntutan ekonomi, bahkan faktor sosial dan politik dan juga budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat.
Berdasarkan realita yang ada gereja seolah tidak mendapatkan ruang untuk terlibat secara langsung dalam setiap proses penyelesaian permasalahan tanah yang sering dihadapi di dalam jemaat. Gereja sebagai suatu persekutan yang tumbuh dan selalu berhadapan dengan berbagai macam konflik atau persoalan dalam jemaat memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menyelesaikan persoalan atau konflik tersebut. Gereja tidak dapat menghindarkan diri dari konflik, melainkan gereja harus selalu hadir dalam setiap proses penanganan atau penyelesaian konflik yang terjadi. Pada tahap inilah misi gereja itu harus tampak dan melalui kehadiran gereja, jemaat dapat merasakan syalom Allah. Konflik atau persoalan yang terjadi harus dapat dikelola dengan tepat karena jika tidak diselesaikan dengan tepat maka akan melahirkan konflik baru yang akan berdampak pada persekutuan sebagai keluarga Allah.
.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Praktik Hela Keta merupakan praktik yang dilakukan oleh orang Dawan yang berada di Kabupaten Timor Tengah Utara. Praktik ini dilakukan karena ada kepercayaan bahwa nenek moyang mereka pernah berkonflik. Konflik tersebut diikuti dengan sumpah bahwa tidak boleh ada perkawinan antara keturunan yang berkonflik, dan jika terjadi perkawinan maka perlu dilakukan Hela Keta. Ritual Hela Keta sebagai suatu bentuk perdamaian dengan harapan bahwa acara selanjutnya (acara pernikahan) akan berlangsung dalam keadaan baik, dan kehidupan rumah tangga dari pasangan yang hendak menikah pun baik adanya. Ini hal yang menarik menurut penulis. Karena itu, penulis menggunakan metode kualitatif untuk meneliti sehingga tercapai tujuan yakni upaya menciptakan rekonsiliasi dan perdamaian dalam masyarakat yang berkonflik di Timor Tengah Utara. Penulis menggunakan teori-teori utama untuk mengkaji praktik Hela Keta, antara lain: teori konflik, rekonsiliasi, dan perdamaian. Lalu, teori-teori pendukung, antara lain: teori kebudayaan dan adat, ritual, perkawinan, simbol, dan kurban. Hasil dari penelitian ini adalah diperolehnya nilai-nilai dari praktik Hela Keta yang dikaji secara teologis. Kajian teologis terhadap praktik Hela Keta ini menghasilkan dua pokok refleksi teologis, yakni konsep azazel sebagai tanda suatu rekonsiliasi untuk perdamaian, dan Yesus Kristus sebagai jalan menuju perdamaian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Jemaat GMIT Semau Tengah Utara merupakan Jemaat yang terdiri dari Mata Jemaat Elim Uitao dan Mata Jemaat Ora et Labora Uitao. Jemaat Ora et Labora Uitao dulunya adalah Jemaat Elim Uitao yang memilih keluar dikarenakan beberpa persoalan di mana masalah politik menjadi puncak dari konflik yang terjadi. Kurangnya pendeta/pelayan pada masa itu menyebabkan ketegangan di antara keduanya seolah-olah tenggelam begitu saja. Di tahun 2019, kedua jemaat ini disatukan menjadi Jemaat GMIT Semau Tengah Utara dalam relasi yang masih bersitegang. Kedua jemaat ini kembali disatukan dalam satu jemaat pelayanan yang akhirnya berdampak pada pelayanan dan juga relasi diantara keduanya.
Perpecahan antara dua jemaat ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain situasi politik, kebijakan gereja secara sinodal terkait sikap politik yang belum terlalu jelas. Faktor lainnya ialah model kepemimpinan yang tidak lagi memiliki rasa percaya dan juga cara pengelolaan konflik yang tidak tepat. Adapun akibat dari konflik ini secara langsung berakibat pada perpecahan di dalam jemaat, dan akibat secara tidak langsung pada relasi diantara kedua jemaat yang kurang harmonis pasca konflik.
Sebagai gereja kita tidak dapat menghindarkan diri kita dari yang namanya konflik. Upaya yang bisa dilakukan gereja dalam menghadapi konflik ada pada proses pengelolaannya. Sebuah konflik yang dapat dikelolah dengan baik akan mendapatkan hasil yang baik bagi kedua belah pihak yang bertikai. Sedangkan proses pengelolaan konflik yang tidak tepat akan berimbas pada lahirnya konflik baru. Selain proses pengelolaan konflik, hal yang penting dalam sebuah konflik gereja adalah pemulihan relasi pasca konflik. Pemulihan relasi ini tidak hanya berdampak pada psikologis anggota jemaat tetapi juga pada spiritualitas mereka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
PENGARUH KONFLIK KERJA DAN STRES KERJA TERHADAP SEMANGAT KERJA KARYAWAN PADA BANK PERKREDITAN RAKYAT TANAOBA LAIS MANEKAT KUPANG
Setiap perusahaan pasti memiliki target tertentu yang harus dicapai. Dalam pencapaian targetnya, perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Sumber daya manusia adalah ilmu dan seni mendayagunakan manusia atau proses memperoleh, memajukan, mengembangkan, dan memelihara tenaga kerja sampai sedemikian rupa sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien, Fauji (2013). Tugas manajemen sumber daya manusia adalah mengelola unsur manusia dengan baik supaya mendapatkan karyawan yang puas akan pekerjaannya. Menejemen yang telah dipercaya oleh perusahaan dituntut untuk memperhatikan semangat kerja karyawan agar mendapatkan hasil yang diharapkan oleh perusahaan. Menurut Nitisemito (2002: 160) semangat kerja adalah Melakukan pekerjaan secara lebih giat, sehingga dengan demikian pekerjaan akan lebih diharapkan lebih cepat dan lebih baik. Semangat kerja dapat diartikan sebagai suatu iklim atau suasana kerja yang terdapat didalam suatu organisasi yang menunjukkan rasa kegairahan dalam melaksanakan pekerjaan dan mendorong mereka untuk bekerja secara lebih baik dan lebih produktif. Semangat kerja merupakan hal penting yang harus dijalani oleh setiap karyawan di perusahaan manapun karena semangat kerja menggambarkan perasaan senang individu atau kelompok terhadap pekerjaannya. Menurut Utari (2020: 2) menjelaskan bahwa upaya meningkatkan semangat kerja karyawan pada sebuah perusahaan, tidak hanya kesejahteraan berupa gaji yang layak atau fasilitas yang memadai yang perlu diperhatikan, melainkan perlu memperhatikan kondisi psikologis karyawan. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis karyawan yaitu stress kerja dan konflik kerja. Sehingga faktor yang paling dominan menyebabkan turunnya semangat kerja adalah konflik kerja dan stres kerja.
Objek yang akan peneliti teliti dalam penelitian ini adalah Bank Perkreditan Rakyat Tanaoba Lais Manekat Kupang merupakan Bank Perkreditan yang didirikan oleh Yayasan TLM pada tahun 2008 untuk melayani pinjaman kredit kecil, menengah dan simpanan. Demikian halnya BPR TLM (Tanaoba Lais Manekat) dengan jumlah karyawan total sebanyak 73 orang, yang terdiri dari 70 karyawan dengan 3 direktur (direktur utama, direktur kredit, direktur kepatuhan).
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Secara Parsial Terdapat pengaruh Negatif variabel Konflik Kerja terhadap Semangat Kerja Karyawan pada Bank Perkreditan Rakyat Tanaoba Lais Manekat Kupang. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai t hitung = -0.868 lebih kecil dari t tabel = 1,668 dan tingkat Sig. = 0.388. Oleh karena nilai sig > 0,05. Sedangkan variabel independen stres kerja berpengaruh negatif Kerja terhadap Semangat Kerja Karyawan pada Bank Perkreditan Rakyat Tanaoba Lais Manekat Kupang. Hal ini dibukikan dengan perolean nilai t hitung sebesar = -0.642 lebih kecil dari t tabel = 1,668 dan tingkat Sig. = 0.523. Oleh karena nilai sig >0,05.
Kata Kunci :Semangat Kerja, Konflik Kerja, Stres Kerja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa pemuda berasal dari kata “muda” yang berarti belum sampai pada setengah umur. Dalam pengertian ini jelas bahwa muda berarti manusia yang belum lanjut usia dan tidak berada pada posisi anak kecil lagi. Kaum muda dianggap sebagai orang-orang yang terpengaruh oleh hal-hal baru baik positif maupun negatif. Hal ini juga terjadi pada generasi muda jemaat GMIT Sion Boentuka .Sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus, generasi muda gereja seharusnya ikut berperan aktif dalam melayani Tuhan. Mereka seharusnya menjadi anggota gereja yang baik dan berperan aktif sebagai saksi Kristus. Generasi muda GMIT Sion Boentuka adalah para pemuda yang juga kaum yang mudah terpengaruh dengan hal-hal baru. mereka terdiri dari anak-anak yang sedang duduk di bangku pendidikan SMA sampai mereka yang sudah tamat sekolah. Tahun 2018 lalu terjadi konflik antar kaum pemuda dengan salah satu Majelis Jemaat Harian. Hal ini kemudian berdampak pada pelayanan pemuda yang kemudian terhenti dan tidak berjalan seperti biasa. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui Dampak yang ditimbulkan dari konflik yang terjadi antara kaum pemuda dengan Majelis Jemaat Harian serta merefleksikan menurut sudut pandang Teologi Pastoral. Tujuan ini dicapai dengan melakukan penelitian lapangan dan metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang di gunakan untuk memperoleh data yang akurat dengan metode yang digunakan untuk penulisannya adalah metode studi kasus. Metode studi kasus membantu untuk mendeskripsikan, menganalisa, merefleksikan dan memberikan tawaran aksi pastoral yang dapat dipakai oleh gereja. Semua manusia ciptaan Allah adalah tubuh Kristus yang walaupun berbeda tetapi saling melengkapi untuk membentuk satu tubuh yang utuh dan sempurna. konflik ini menimbulkan perpecahan. Perpecahan yang terjadi ini harus di selesaikan agar persekutuan sebagai tubuh Kristus menjadi kembali utuh.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK ANALISIS PENGARUH KONFLIK KERJA DAN STRES KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA KANTOR DINAS SOSIAL KABUPATEN TTS Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Analisis pengaruh konflik kerja dan stres kerja terhadap kinerja pegawai pada kantor Dinas Sosial Kabupaten TTS” dengan jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Tujuan penelitian iniuntuk mengetahui analisis pengaruh konflik kerja dan stres kerja terhadap kinerja pegawai pada Kantor Dinas Sosial Kabupaten TTS.Adapun beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam sebuah perusahaan yaitu konflik kerja dan stres kerja,perusahaan dapat berjalan lancar dan baik apabila dibantu dan didukung oleh konflik kerja dan stres kerja yang baik agar dapat mencapai kinerja pegawai yang efisien.konflik kerja merupakan perbedaan pendapat antara dua atau lebih anggota organisasi atau kelompok,karena harus membagi sumber daya yang langka atau aktivitas kerja yang mempunyai status,tujuan,penilaian,atan pandangan yang berbeda. Stres kerja merupakan suatu bentuk tanggapan seseorang baik fisik maupun mental terhadap perubahan dilingkungannya yang dirasakan menggangu dan mengakibatkan dirinya terancam.Sedangka Kinerja pegawai adalah perilaku nyata yang dihasilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh pegawai sesuai dengan perannya dalam perusahaan serta melihata waktu yang telah ditetapkan oleh perusahaan dalam penyelesaian pekerjaannya.Pegawai memiliki peranan yang penting bagi sebuah Peusahaan melihat peranan penting pegawai maka sudah sepantasnya apabila perusahaan/Kantor menaruh perhatian lebih kepada pegawai tersebut. Penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif,populasi dan sekaligus sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai Kantor Dinas Sosial Kabupaten TTS yang berjumlah 30 orang pegawai.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden kemudian data dianalisis menggunakan teknik analisis regresi linaer berganda menggunakan SPSS. Dari hasil penelitian,dalam analisis lanjutan yang menggunakan analisis deskriptif presentase diketahui bahwa konflik kerja,stres kerja dan kinerja pegawai pada Kantor Dinas Sosial Kabupaten TTS berada dalam kategori sedang indikator dari masing-masing variabel juga dideskripsikan dengan bantuan tabel distribusi frekuensi.Dalam analisis lanjutan yang menggunakan teknik analisis regresi linear berganda diketahui bahwa hasil pengumpulan data tersebut diuji berdasarkan analisis data kuantitatif menggunakan persamaan regresi linier berganda dengan uji hipotesis pertama diketahui bahwa untuk variabel konflik kerja (X1) ditemukan T hitung sebesar 8.808 lebih besar dari T tabel 1,7056 maka Konfliki kerja (X1) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai (Y). Sedangkan untuk stres kerja (X2) ditemukan T hitung sebesar -3,752 lebih kecil dari T tabel 1,7056 maka variabel Stres kerja (X2) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai (Y). Dan koefisien determinasi membuktikan variansi dalam kinerja pegawai (Y) dapat dijelaskan oleh konflik kerja(X1) dan stres kerja (X2) melalui model sebesar 72,8%, sisanya 27,2% berasal dari variabel lain.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ELIASAR MOWATA, 16410952, Penaruh komitmen, kompensasi, dan konflik terhadap pergantian niat karyawan pada PT. Pelabuhan Indonesia III (Persero) Cab. Tenau Kupang Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Pembimbing 1 (satu) Maromi M. Mbate, SE.,M.sc dan pembimbing 2 (dua) Alya E. Sjioen, SE.,MM Komitmen organisasi menurut Sopiah (2008:155), komitmen mencakup kebanggaan anggota, kesetiaan anggota dan kemauan anggota pada organisasi Hasibuan (2017:119) Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan. Pembentukan sistem kompensasi yang efektif merupakan bagian penting dari manajemen sumber daya manusia karena membantu menarik dan mempertahankan pekerjaan–pekerjaan yang berbakat.Selain itu sistem kompensasi perusahaan memiliki dampak terhadap kinerja strategis. Menurut Winardi (2007:384) konflik merupakan sebuah situasi dimana dua orang atau lebih menginginkan tujuan-tujuan yang menurut persepsi mereka dapat dicapai salah seorang diantara mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komitmen, kompensasi dan konflik terhadap pergantian niat karyawan penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah karyawan PT. Pelabuhan (Persero) Cab. Tenau Kupang. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode kuesioner dengan teknik mentabulasi hasil penyebaran kuesioner dan menganalisis menggunakan analisis regresi linier berganda dengan alat bantu spss. Hasil penelitian menunjukan bahwa kompensasi dan konflik berpengaruh terhadap pergantian niat karyawan, sedangkan komitmen tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan dengan nilai konstanta sebesar -0,457 yang menunjukan bahwa ketika semuah variabel bebas 0 maka besar pergantian niat Y adalah -0,457 ditambah dengan variance yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel bebas. Koefesien regresi X1 sebesar 0,127 menyatakan bahwa apabila penurunan variabel komitmen (X1) sebesar satu satuan maka akan menyebabkan penurunan pergantian niat sebesar 0,127 satuan dengan asumsi semua variabel konstan. Koefesian regresi (X2) sebesar 0,322 menyatakan bahwa apabila peningkatan variabel kompensasi sebesar satu satuan maka akan menyebabkan kenaikan pergantian niat karyawan sebesar 0,322 satuan dengan asumsi semua variabel konstan Koefesien regresi (X3) sebesar 0,304 menyatakan bahwa bahwa apabila peningkatan variabel konflik sebesar satu satuan maka akan menyebabkan kenaikan pergantian niat karyawan sebesar 0,304 satuan dengan asumsi semua variabel konstan. Untuk variabel (X1) komitmen nilai thitung < ttabel 0,9470,05, untuk variablel kompensasi (X2) nilai thitung > ttabel 2,097>2,009 atau H0 ditolak dan Ha diterima, dan untuk variabel konflik (X3) nilai thitung > ttabel 2,414>2,009 atau H0 ditolak dan Ha diterima. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi instansi maka perusahaan harus membangun komitmen antar karyawan agar para karyawan memiliki komitmen yang tinggi terhadap perusahaan, perusahaan juga harus terus memperhatikan dan terus memberi kompensasi kepada karyawan yang berprestasi, dan perusahaan juga harus mencegah konflik antar karyawan atau antar karyawan dengan atasan agar dapat meminimalisir tingginya pergantian niat karyawan pada perusahaan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah memiliki sejarah pembentukan yang sangat panjang yang dimulai dari pemanggilan Abraham. Dalam catatan Kitab Kejadian, Allah mengikat perjanjian-Nya dengan Abraham dan keturunannya dan pewaris yang sah dari perjanjian itu adalah Ishak, anak Abraham dan Sarai. Selanjutnya, janji itu berlanjut kepada Yakub, anak bungsu Ishak dan Ribka, bukan Esau. Melukai perasaan Esau dan ia ingin membunuh adiknya itu. Meskipun Esau dan Yakub telah berdamai, namun konflik berlanjut pada keturunan mereka, yakni Edom dan Israel. Baik bangsa Israel maupun Edom menjalani relasi yang buruk dengan ingin menguasai satu dengan yang lain. Puncak konflik terjadi saat Edom terlibat dalam kehancuran kota kota Yerusalem. Dalam situasi krisis yang dialami penduduk Yehuda akibat kehancuran itu, Allah mengutus Obaja sebagai nabi Yehuda untuk menghibur mereka dan menyatakan keadilan-Nya. Kitab Obaja 1:12-15 berisi penyesalan Obaja yang mendalam atas perilaku kejam Edom yang menghina dan menindas Yehuda pada saat mereka diserang oleh Babel. Allah adalah Yang Mahakuasa, yang berkuasa dan memberikan ganjaran setimpal kepada umatNya juga dunia bangsa-bangsa. Konflik antara saudara tidak unik hanya pada Edom dan Yehuda, sebab hal yang serupa terjadi antara Jemaat GMIT Efrata Oelmasi dengan komunitas masyarakat dari Timor-Timur di Desa Kuimasi, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Pada tahun 2014 pecah satu konflik besar dan proses perdamaian sudah dilakukan, namun sampai sekarang bentrok sering berulang. Situasi yang terlihat damai, ternyata menyimpan “bom waktu” yang sedang menunggu waktu untuk meledak. Stigma pengungsi kepada masyarakat Timor-Timur, gap sosial-ekonomi, dan pembatasan akses terus menjadi bibit permusuhan. Konflik ini tentu dapat terus terjadi tidak segera dikelola dengan baik. Karena itu, Penulis ingin menafsir teks Obaja 1:12-15 dan menemukan kerygma bagi penyelesaian konflik tersebut. Penulis berharap dengan terkelolanya konflik dengan baik maka masyarakat Timor-Timur dapat diterima sebagai sesama saudara dan hidup dalam damai.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Setiap organisasi sangat membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berpikir, bertindak serta terampil dalam mewujudkan keberhasilan suatu organisasi. Kinerja merupakan tingkat pencapaian hasil atas terlaksananya tugas tertentu. Sedangkan kinerja organisasi merupakan tingkat pencapaian hasil dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi.
Usaha untuk meningkatkan kinerja pegawai, diantaranya adalah dengan memperhatikan terjadinya konflik di dalam lingkungan kerja. Konflik dapat juga berakibat stres yang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Stres atau tekanan dalam jiwa seorang karyawan akan berdampak pada kinerja karyawan. Perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah “Pengaruh konflik kerja dan stres kerja terhadap kinerja pegawai pada Dinas Peternakan Propinsi NTT”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konflik kerja terhadap kinerja karyawan dan untuk mengetahui pengaruh stres kerja terhadap kinerja pegawai. Jumlah responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 100 orang pegawai. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan kuesioner. Dan penelitian ini menggunakan skala interval.
Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan teknik pengujian hipotesisnya uji t,uji F dan uji R2 (koefisien determinasi). Berdasarkan analisis data yang dilakukan maka hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: Y = 33,453 + 0,340 + 0.171X2. Nilai konstanta : 33,453 artinya apabila nilai dari variabel konflik kerja (X1), dan stres kerja (X2) sama dengan nol maka variabel kinerja karyawan (Y) =22.286 nilai konstanta yang diperoleh sebeser 33,453 menunjukan bahwa apabila konflik kerja dan stress kerja dianggap konstan dapat meyebabakan kinerja pegawai meningkat sebesar 33,453. Nilai koefisien regresi variabel konflik kerja sebesar 0,340. Artinya jika variabel konflik kerja meningkat sebesar satu satuan maka menyebabkan kinerja pegawai meningkat sebesar 0,340 dengan anggapan bahwa variabel lainnya konstan. Nilai koefisien stress kerja sebesar 0,171 artinya jika variabel stress kerja meningkat sebesar satu satuan maka menyebabkan kinerja pegawai meningkat sebesar 0,171 dengan anggapan bahwa variabel lainnya konstan.
Berdasarkan tabel output spss bahwa Pengaruh konflik kerja terhadap kinerja pegawai pada Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur, diketahui hasil uji t tabel pada aplikasi spss dapat diketahui bahwa nilai t hitung sebesar 3.544 dan nilai t tabel sebesar 1.9847 dengan tingkat signifikan sebesar 0,01. Karena nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel dan tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,001, maka dapat disimpulkan bahwa konflik kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Peternakan Propinsi NTT. Maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Pengaruh stress kerja terhadap kinerja pegawai pada Dinas Peternakan Propinsi NTT, berdasarkan hasil uji t tabel pada aplikasi spss dapat diketahui bahwa nilai thitung sebesar 2.217 dan nilai t tabel sebesar 1,9847 dengan tingkat signifikan sebesar 0,05. Karena nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel dan tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,029 maka dapat disimpulkan bahwa stress kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Peternakan Propinsi NTT. Maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan hasil analisis maka kesimpulan sebagai berikut Konflik Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur. Stress berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur