Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

12 hasil
Subjek: kematian
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL TA,TULA

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Penelitian ini merupakan suatu tinjauan teologis kontekstual terhadap ritual penyembahan kepada roh orang yang sudah meninggal dan implikasinya bagi jemaat Syalom Oepula. Ritual penyembahan kepada roh orang yang telah meninggal adalah praktik keagamaan yang telah menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi masyarakat Oepula. Tinjauan teologis ini bertujuan untuk memahami praktik ini dari sudut pandang teologi Kristen, menggali akar teologisnya, serta menganalisis implikasi dan dampaknya pada jemaat Syalom Oepula.Studi ini menggunakan pendekatan teologis kontekstual untuk menghargai dan memahami praktik tradisional ini dalam konteks lokal dan budaya. Metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara, dan diskusi kelompok terfokus. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik penyembahan roh orang yang sudah meninggal diakar pada keyakinan tentang hubungan manusia dengan dunia roh dan leluhur.Implikasi bagi jemaat Syalom Oepula mencakup perluasan pemahaman teologis mengenai kematian dan kehidupan sesudahnya, serta bagaimana menghadapi ritual tradisional tersebut dari perspektif iman Kristen. Temuan penelitian ini menyiratkan pentingnya dialog dan dialog teologis antara agama tradisional dan iman Kristen, untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam dan inklusif tentang kepercayaan dan praktik keagamaan di Oepula. Tinjauan teologis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam menjembatani perbedaan dan memperkuat identitas iman Kristen di tengah masyarakat Oepula yang beragam budaya dan keyakinan. Implementasi temuan penelitian ini dapat memberikan landasan bagi pendekatan pastoral yang menghormati budaya setempat dan mempromosikan nilai-nilai keadilan, kasih, dan toleransi dalam hubungan antarumat beragama di Oepula.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

“TRADISI MASEKEN” Suatu Tinjuan Teologis Kristen Terhadap Tradisi Dorong-mendorong Peti Jenazah di Jemaat Oemathonis Bobok

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK TRADISI MASEKEN-SUATU TINJAUAN TEOLOGIS KRISTEN TERHADAP TRADISI DORONG-MENDORONG PETI JENAZAH DI JEMAAT OEMATHONIS BOBOK Penelitian yang penulis lakukan mengangkat sebuah tema Tradisi Maseken, dengan sub-tema Suatu Tinjuan Teologis Kristen Terhadap Tradisi Dorong-mendorong Peti Jenazah di Jemaat Oemathonis Bobok. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library) dan penelitian lapangan (Field Research) bersifat deskriptis kualitatif dengan menggunakan pendekatan teologi, dan fenomologi. Sumber data penelitian ini adalah jemaat Oemathonis Bobok, klasis Amanatun Selatan dan pelaksanaan tradisi maseken. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, 1) Proses tradisi Maseken sangat berbeda dengan proses penguburan jenazah pada umumnya di mana tradisi Maseken ini menggunakan kegiatan dorong-mendorong peti Jenazah di sepanjang perjalanan menuju liang kubur. 2) Pemahaman jemaat Oemathonis Bobok terhadap tradisi Maseken beragam namun tidak Alkitabiah dan mengandung unsur bersifat mitos. 3) Perspektif teologis terhadap tradisi Maseken, dalam hal kepercayaan perlu adanya pembicaraan ulang yang baik untuk meluruskan pemahaman Jemaat Oemathonis Bobok, serta memberi makna yang lebih teologis sesuai dengan pelaksanaannya yang dalam lingkup agama. Implikasi dalam kajian ini adalah: 1) Dalam pelaksanaan tradisi Maseken perlu untuk melakukan peninjauan ulang mengenai serangkaian acara dalam tradisi tersebut serta pemaknaan dari tradisi Maseken tersebut. Baik dari segi aspek tingkah laku maupun kepercayaan, agar tidak terjadi pertentangan antara agama, dan tingkah laku dalam tradisi. 2) Antara agama dan tradisi masyarakat dalam lingkungan setempat harus selalu sejalan, karena agama seharusnya dijadikan sebagai pedoman hidup yang dapat diinterpretasikan dalam beberapa nilai tradisi yang berlaku. Tujuan penulis melakukan kajian ini adalah untuk mengembalikan kesadaran jemaat tentang segala sesuatu yang dilaksanakan dalam siklus kehidupan (termasuk dalam hal kematian) harus dengan pemaknaan yang sesuai dengan ajaran agama Kristen. Dan lagi, untuk mengedepankan pengajaran yang berdasarkan pada ajaran-ajaran yang Kristiani.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Makna Gong dan Moko dalam Upacara Kematian

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gong dan moko merupakan alat musik yang dapat dipakai oleh masyarakat dalam suatu acara seperti penyambutan kepada tamu, peminangan perempuan dan juga sebagai simbol kepada orang yang telah meninggal. Masyarakat Mataru Barat memahami gong dan moko sebagai salah satu benda sakral yang harus dibawa ketika melihat orang yang telah meninggal. Masyarakat Mataru Barat memahami gong dan moko sebagai benda sakral yang wajib dibawa oleh anak laki-laki dan anak perempuan ketika memasuki tenda duka. Gong dan moko yang dibawa oleh anak laki-laki dan perempuan harus diberikan kepada saudara perempuan dan saudara laki-laki dari si mati (nengfala/mayolfala) Dari masalah yang telah dipaparkan, maka penulis melakukan penelitian mengenai gong dan moko. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan masyarakat tentang makna gong dan moko dalam upacara Kematian. Tempat penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman dengan teknik masyarakat Mataru tentang gong dan moko merupakan suatu penyakit yang dapat mengakibatkan sakit penyakit, kecelakaan dan kematian. Masyarakat Mataru Barat memahami bahwa ini merupakan suatu budaya yang harus dilakuka jika tidak dilakukan maka masyarakat akan mendapatkan tantangan. Oleh karena itu masyarakat perlu memahami bahwa gong dan moko bukan sebagai benda sakral yang dapat membawa bencana tetapi sebagai simbol yang dapat mempersatukan antara anak laki-laki dan perempuan kepada saudara-saudara dari orang yang telah meninggal dan juga memberi tanggung jawab untuk melihat keluarga yang ditinggalkan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB JEMAAT TIDAK MENGKONSUMSI MAKANAN PADA UPACARA ADAT KEMATIAN (STUDI DI JEMAAT BET’EL SAMBET KLASIS AMANATUN UTARA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN TAHUN 2022

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Yetri N. Nabuasa,2017. Judul skripsi “Faktor-faktor Penyebab Jemaat Tidak Mengkonsumsi Makanan Pada Upacara Adat Kematian (Studi di Jemaat Bet’el Sambet Klasis Amanatun Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2022)”. Skripsi Program Studi Ilmu Pendidikan Teologi(IPTH) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang. Nabuasa.N.Y (*) Pellu L.H. (**) Pabala.P.P (**) Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Faktor-faktor apakah yang menyebabkan jemaat tidak mengkonsumsi makanan pada upacara adat kematian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor-faktor Penyebab Jemaat Tidak Mengkonsumsi Makanan Pada Upacara Adat Kematian (Studi di Jemaat Bet’el Sambet Klasis Amanatun Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deduktif kualitatif. Penelitian bersifat kualitatif karena berupa penelitian yang prosedurnya menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis/lisan. Lokasi penelitian ini dilakukan di jemaat Bet’el Sambet Klasis Amanatun Utara. Yang menjadi informasi dalam penelitian ini adalah seluruh warga jemaat Bet’el Sambet secara keseluruhan berjumlah 1001 orang, maka mengingat keterbatasan banyaknya informasi maka responden yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 20 orang jemaat. Untuk pengumpulan data penulis menggunakan wawancara dan angket. Dari hasil pengolahan data dan analisis, penulis menarik kesimpulan bahwa Agama tidak mengajarkan bahwa jemaat tidak boleh mengkonsumsi makanan pada saat upacara adat kematian, akan tetapi jemaat mempunyai kepercayaan terhadap mitos yang menyebabkan jemaat tidak mengkonsumsi makanan pada upacara kematian karena arwah orang yang meninggal memegang atau mencelupkan tangan pada makanan yang disajikan di atas meja dan arwah orang yang meninggal berbicara dengan jemaat. Dalam dunia kesehatan orang yang meninggal pasti mengeluarkan aroma tidak sedap jika orang tersebut sebelum meninggal mengidap suatu penyakit tertentu. Saran (1) Gereja perlu memberikan pastoral kepada jemaat yang tidak mengkonsumsi makanan pada saat upacara kematian agar jemaat dapat mengkonsumsi makanan pada upacara kematian. (2) Jemaat harus diberi pemahaman bahwa kesehatan tidak akan terganggu bila mengkonsumsi makanan pada upacara kematian dan jemaat tidak akan mengidap suatu penyakit apapun. (3) Kepercayaan jemaat untuk tidak dapat mengkonsumsi makanan pada upacara kematian perlu dihilangkan sehingga jemaat bisa mengkonsumsi makanan pada upacara kematian. Kata Kunci : Mengkonsumsi Makanan Pada Upacara Adat Kematian. Keterangan: Penulis(*) Pembimbing

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL MUTU MATEN "Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual terhadap Pemahaman dan Praktik Ritual Mutu Maten di Jemaat Bukit Sion Naininu, Klasis Malaka"

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji praktik Ritual Mutu Maten di Jemaat Bukit Sion Naininu yang menunjukkan adanya fenomena sinkretisme antara iman Kristen dan kepercayaan budaya leluhur terkait kematian. Meskipun jemaat telah mengenal Kekristenan, ritual yang berakar dari Malaka ini masih dipertahankan sebagai cara untuk meyakini bahwa arwah orang meninggal dapat bersatu dengan Tuhan dan membawa keselamatan. Pandangan ini bertentangan dengan ajaran Alkitab yang menegaskan keselamatan datang semata-mata oleh kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus, bukan melalui usaha atau ritual manusia. Dalam tinjauan teologi kontekstual berdasarkan tipologi Richard Niebuhr tentang Kristus dan kebudayaan dalam paradoks ritual ini mencerminkan ketegangan antara injil dan kebudayaan yang sudah jatuh dalam dosa, namun juga membuka peluang bagi injil mengubah kebudayaan tanpa harus melepaskan unsur positifnya. Metode penelitian bersifat kualitatif dengan pendekatan analisis teologi kontekstual. Kajian ini diharapkan memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena sinkretisme serta implikasinya dalam kehidupan iman jemaat, sekaligus memberi bahan penguatan iman Kristen di tengah praktik budaya lokal yang masih terjadi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMUNITAS YANG MENYEMBUHKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam komunitas Orang Sabu, terdapat sebuah pemahaman mengenai kutuk atas peristiwa Made Harro (mati tidak wajar). Karena kutuk itu, maka relasi yang ada dalam komunitas, baik relasi individu, relasi dengan sesama, relasi dengan alam (tanah), dan relasi dengan Tuhan menjadi rusak. Akhirnya, stigma sosial dan pengucilan terbentuk dalam komunitas. Pemahaman ini masih dipegang erat oleh Komunitas Orang Sabu bahkan yang sudah Kristen. Namun, dalam komunitas yang sama pula, terdapat pemahaman unik tentang bagaimana mereka sebagai komunitas keluar dari krisis ini dan mengalami kesembuhan yang utuh dan holistik. Ritus yang dimaksud dilakukan oleh beberapa anggota keluarga jemaat GMIT Arit Lederaga, yang anggota keluarganya mengalami Made Harro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang kutuk Made Harro dan praktik penyembuhan duka Kehao Rue masih sangat kuat dipegang dalam komunitas orang Sabu di jemaat GMIT Arit Lederaga. Dengan penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, pembuangan abu, penatte laidare yang dipimpin oleh tokoh adat yakni Deo Rai dan Rue, serta ritus pelengkap seperti, tangi pali, pedoe hemanga, pemau do made, dan henge’do bertujuan untuk memutuskan rantai kutukan tersebut dan menyeimbangkan kembali relasi yang telah rusak. Dalam keseluruhan praktik yang ada, Penulis menggunakan 5 fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi pastoral nampak dalam praktik budaya orang Sabu. Selain itu, dalam praktik penyembuhan duka tersebut terdapat nilai-nilai teologis yang dapat membantu gereja untuk belajar dari komunitas Orang Sabu dalam menciptakan pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bahwa kematian dalam pandangan Alkitab adalah realitas setiap manusia yang hidup. Kematian yang ada menyisihkan duka bagi masing-masing orang berbeda dalam tingkatan dan cara pemulihan. Untuk itu, perlu adanya pendampingan pastoral yang utuh dan holistik bagi segenap ciptaan dengan menyoroti peran komunitas di dalamnya. Sehingga pendampingan pastoral Lintas budaya menjadi tawaran menarik bagi gereja, agar gereja dapat belajar menjadi komunitas yang menyembuhkan secara utuh dan holistik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

BOIN NA SMANAF Suatu Tinjauan Teologis Tentang Ritus Pemanggilan Arwah Boin Na Smanaf Jemaat GMIT Nazareth Taum, Klasis Amanuban Selatan

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini berjudul "Boin Na Smanaf" dengan sub-judul "Suatu Tinjauan Teologis Tentang Ritus Pemanggilan Arwah Boin Na Smanaf Jemaat GMIT Nazareth Taum Klasis Amanuban Selatan." Penelitian ini mengeksplorasi ritus pemanggilan arwah yang dilaksanakan di lokasi kecelakaan yang menyebabkan kematian tidak wajar, seperti kecelakaan kendaraan dan jatuh dari pohon. Ritus ini didasarkan pada keyakinan bahwa arwah orang yang meninggal tidak sepenuhnya hilang, tetapi berpindah ke alam lain (fatu bian ma hau bian), tetap berdampingan dan dapat berinteraksi dengan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman umum jemaat GMIT Nazareth Taum tentang ritus Boin Na Smanaf, menganalisis pelaksanaan ritus ini, dan merefleksikan tinjauan teologis terhadap pemahaman jemaat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi. Penulisan dilakukan secara deskriptif-analitis-reflektif untuk memberikan gambaran jelas mengenai permasalahan yang ada. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pandangan Kristen tentang kematian, dunia orang mati, dan penyembahan terhadap roh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Boin Na Smanaf merupakan bentuk penghormatan dan rasa kasih terhadap arwah. Namun, praktik ini perlu ditinjau kembali dalam konteks iman Kristen untuk menghindari penyembahan arwah yang bertentangan dengan ajaran gereja. Refleksi teologis dari penelitian ini menekankan pentingnya peran gereja dalam memberikan pemahaman yang benar mengenai kematian dan roh agar tradisi Boin Na Smanaf dapat selaras dengan iman Kristen. Gereja harus terus berupaya mengarahkan jemaat agar tidak terjerumus dalam praktik yang bertentangan dengan iman mereka. Kata Kunci: Ritus, Penyembahan, Kehidupan, Kematian.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PUKAI ALU “Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Tradisi Pukai Alu (buka tas) Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Arit Bi’Ito, Klasis Amanuban Timur”

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Dewi Jomida Nitiano Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia email: [email protected] Salah satu tradisi di Timor ialah pukai alu mama. Alu mama dianggap sangat penting dalam kehidupan seseorang, alu mama sebagai simbol jati diri seseorang. Tradisi ini dilakukan hanya pada saat kedukaan. Dalam mengkaji masalah diatas, penulis memakai Tipologi Richard Niebuhr yakni kristus adalah transformator budaya (Christ the Transformer of Cultura). Tipologi Kristus adalah transformator, pengubah atau pembaharuan kebudayaan adalah tipologi yang menyatakan bahwa didalam setiap kebudayaan Kristus dating sebagai pengubah atau memberi arah baru dari budaya tersebut. Tradisi Pukai Alu merupakan sebuah tradisi yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakat amanuban Timur khususnya daerah Bi’Ito. Dalam penelitian ini penulis menggunakan. Metode Peneltian yang akan Penulis gunakan adalah Penelitian Lapangan (Field Research) yakni pengamatan langsung terhadap subjek dan permasalahan yang diangkat, dan Penelitian Kepustakaan (Library Research) yakni menggunakan dokumen-dokumen atau sumber data berupa bahan puskata yang mendukung penelitian. Data yang diperoleh cenderung data kualitatif, analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif bersifat untuk memahami keunikan, mengkonstruksi fenomena, dan menemkan hipotesis.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL TA’TULA

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Penelitian ini merupakan suatu tinjauan teologis kontekstual terhadap ritual penyembahan kepada roh orang yang sudah meninggal dan implikasinya bagi jemaat Syalom Oepula. Ritual penyembahan kepada roh orang yang telah meninggal adalah praktik keagamaan yang telah menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi masyarakat Oepula. Tinjauan teologis ini bertujuan untuk memahami praktik ini dari sudut pandang teologi Kristen, menggali akar teologisnya, serta menganalisis implikasi dan dampaknya pada jemaat Syalom Oepula.Studi ini menggunakan pendekatan teologis kontekstual untuk menghargai dan memahami praktik tradisional ini dalam konteks lokal dan budaya. Metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara, dan diskusi kelompok terfokus. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik penyembahan roh orang yang sudah meninggal diakar pada keyakinan tentang hubungan manusia dengan dunia roh dan leluhur.Implikasi bagi jemaat Syalom Oepula mencakup perluasan pemahaman teologis mengenai kematian dan kehidupan sesudahnya, serta bagaimana menghadapi ritual tradisional tersebut dari perspektif iman Kristen. Temuan penelitian ini menyiratkan pentingnya dialog dan dialog teologis antara agama tradisional dan iman Kristen, untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam dan inklusif tentang kepercayaan dan praktik keagamaan di Oepula. Tinjauan teologis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam menjembatani perbedaan dan memperkuat identitas iman Kristen di tengah masyarakat Oepula yang beragam budaya dan keyakinan. Implementasi temuan penelitian ini dapat memberikan landasan bagi pendekatan pastoral yang menghormati budaya setempat dan mempromosikan nilai-nilai keadilan, kasih, dan toleransi dalam hubungan antarumat beragama di Oepula.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PATEI SELA KATE “Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritus Patei Sela Kate Dan Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Etam Lipa, Klasis Alor Tengah Utara.”

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Kematian adalah peristiwa natural, setiap manusia pasti akan mati. Kematian adalah kehidupan dalam cara yang baru, bentuk baru, dari kehidupan itu Yesus namakan tidur. Ini adalah suatu masa antara di mana manusia itu istirahat sambil menantikan kebangkitan. Orang beriman mati sebelum kedatangan kembali Kristus dihubungkan dengan Kristus oleh karen itu disebut mati dalam Kristus. Anggota jemaat Etam Lipa, Klasis Alor Tengah Utara memahami kematian karena kecelakaan sebagai penyakit atau masalah adat yang belum terselesaikan sehingga harus melaksanakan ritus Patei Sela Kate untuk membatasi kematian karena kecelakaan. Kematian bagi orang percaya bukan suatu hal yang harus ditakutkan karena Kristus sendiri telah mati dan bangkit pada hari yang ketiga untuk mengalahkan kuasa dosa. Penelitian mengenai pemahaman anggota Jemaat GMIT Etam Lipa dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pandangan anggota Jemaat tentang ritus Patei Sela Kate. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian mengemukakan bahwa pemahaman anggota Jemaat Etam Lipa terhadap kematian merupakan suatu penyakit. Kematian dipahami secara sempit oleh anggota Jemaat Etam Lipa mengenai kematian karena kecelakan dipengaruhi juga oleh faktor warisan leluhur. Oleh karena itu gereja perlu memberikan pemahaman lagi tentang kematian dalam ajaran Iman Kristen sehingga anggota jemaat Etam Lipa tidak menganut pemahaman yang keliru tentang kematian, tetapi dapat diterima bahwa kematian bagi orang percaya merupakan kehidupan dalam cara yang baru yaitu tidur sambil menantikan kebangkitan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

DESKRIPSI TENTANG PENYEBAB TERJADINYATINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA YANG MENYEBABKAN KEMATIAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Judul Skripsi Penulis adalah Deskripsi Tentang Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Yang Menyebabkan Kematian. Permasalahan penelitian dalam penelitian ini adalah faktor menyebabkan terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan kematian. Selanjutnya sifat dari penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian normatif. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebasnya yaitu faktor penyebab terjadinya tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga yang mengakibatkan kematian dan variabel terikatnya yaitu putusan pengadilan terhadap tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga dengan sumber bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier dengan studi kepustakaan atau dokumen yang di analisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dari analisis putusan pengadilan, diperoleh jawaban bahwa penyebab terjadinya tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga yang mengakibatkan kematian adalah faktor emosi, faktor mabuk (Minuman keras), rumah tangga yang tidak nyaman, pertengkaran yang tidak kunjung selesai, perselingkuhan dan ekonomi keluarga yang tidak baik. Berdasarkan hasil penelitian ini maka penulis dapat memberi saran bagi Pemerintah Daerah, Kepolisian atau Lembaga-lembaga yang terkait dalam KDRT agar mengadakan sosialisasi kepada masyarakat mengenai dampak emosi dan amarah dalam rumah tangga yang dapat menyebabkan terjadinya tindak pidana KDRT. Dan juga bagi kalangan masyarakat khususnya dalam rumah tangga agar bersama-sama menjaga keutuhan rumah tangga masing-masing, dengan tidak terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran yang dapat menimbulkan emosi dan amarah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

FAKTOR PENYEBAB DAN AKIBAT TERJADINYA PENGANIAYAAN OLEH PENYIDIK TERHADAP TAHANAN SAMPAI MATI

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Judul Skripsi adalah “Penyebab Dan Akibat Terjadinya Penganiayaan Oleh Penyidik Terhadap Tahanan Sampai Mati”. Masalah pokok penelitian penulis ini adalah Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap tahanan oleh anggota kepolisian yang mengakibatkan kematian?. Bagaimana akibat hukum yang timbul dari kekerasan pada tahanan terhadap pelaku dan keluarga korban?. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya penganiayaan terhadap tahanan oleh anggota kepolisian yang meng akibatkan kematian. Untuk mengetahui akibat hukum yang timbul dari penganiayaan pada tahanan terhadap pelaku dan keluarga korban. Hasil penelitian dapat disimpulkan : Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penganiayaan terhadap tahanan oleh anggota kepolisian yang mengakibatkan kematian, adalah: Faktor psykologi Penyidik; Faktor Emosi; Faktor Penyalahgunaan Kewenangan. Akibat hukum yang timbul dari penganiayaan tahanan terhadap pelaku dan keluarga korban, sebagai berikut :Akibat hukum terhadap terdakwa/pelaku: Penahanan terhadap terdakwa di Rumah Yahanan Negara, Terdakwa/pelaku di pidana penjara,Terdakwa dibebani membayar biaya perkara. Akibat hukum terhadap keluarga korban:Keluarga korban tidak menerima penjelasan dari anggota Polri tempat korban menjalani tahanan yang menyatakan bahwa korban meninggal dunia karena gantung diri sehingga keluarga membawa mayat korban untuk diotopsi, Tuntutan restitusi/ganti kerugian dari keluarga korban Busdri M. Zen ditolak untuk seluruhnya, Keluarga korban kehilangan tulang punggung keluarga. Sehingga mengakibatkan istri korban harus hidup menjada dan menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Adapun saran dari penulis, sebagai berikut: : 1. Bidpropam Polda diharapkan dapat melakukan audit investigasi terhadap laporan dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh penyidik terhadap tahanan. 2. Penegak hukum dalam melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan proses pemeriksaan di sidang Pengadilan di harapkan tetap menjunjung tinggi hak terdakwa sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). 3. Dalam melakukan penegakan hukum, aparat penegak perlu menerapkan tiga unsur pokok yaitu Kepastian hukum, Kemanfaatan dan Keadilan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail