ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Peranan Pemuda Karang Taruna Untuk Memotivasi Remaja Dalam Menjaga Kebugaran Jasmani Di Desa Manulai 1
Deni Samuel Matnai1*,Ramona M. Mae 2, Yahya J.Palinata 3
1,2,3Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia
email. [email protected]
Latar belakang:Berdasarkan identifikasi masalah diatas, ditemukan bawah masalah yang sedang terjadi adalah kurangnya partisapasi pemuda dalam organisasi karang taruna. Terdapat banyak remaja dari kalangan sekolah maupan yang telah lulus, tidak memiliki kegiatan yang dapat mengasah kemampaun, sebagai pengisih kegiatan Kebanyakan berkumpul tanpa ada kegiatan yang bermanfaat dan ketidak perdulian pemuda terhadap keberadaan lembaga karang taruna.
Tujuan penelitian:Adapun tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui Peranan PKT untuk Memotivasi Remaja Dalam Menjaga Kebugaran Jasmani Di DesaManulai1.
Metode penelitian: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengaan teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi serta teknik analisis dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian dan kesimpulan atau verifikasi. Sampel pada penelitian ini adalah kepala desa manulai 1, ketua karang taruna, pemuda, dan remaja di desa manualai 1.
Hasil dan pembahasan:Hasil penelitian menunjukkan Pembentukan karang taruna diinisiatif guna menumbuhkan remaja yang berkualitas baik di bidang keolahragaan,, kerohanian, social. Proses pembentukan karang taruna di desa manulai 1, mendapatkan dukungan berbagai pihak dan elemen masyarakat. Kegiatan yang dilakukan pemuda karang taruna untuk memotivasi remaja di desa manulai 1, seperti mengadakan pelatihan sepak bola setiaphari yang sasarannya adalah anak remaja. Hambatan, yang di hadapi pemuda karng taruna adalah rendahnya motivasi, dukungan pemerintah desa yang tidak nampak. Karang taruna di desa manulai 1, mampu menjadi wadah perubahan bagi generasi muda, yang dapat membangkitkan semangat sertamotivasi remaja,
Simpulan:Keberadan karang taruna di desa Manulai I, dibentuk guna menumbuhkan remaja yang berkualitas di bidang keolahragaan, kerohanian serta social.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
“STUDI TENTANG BENTUK BENTUK PASTORALTERHADAP PEMUDA YANG TERLIBAT DALAM KASUS PERJUDIAN TAJI AYAM
(PE’IU MANU) Di Jemaat GMIT Imanuel Walurede, Klasis Sabu Barat-Raijua”
Djo R (*) Metboki M (**) Pabala P (**)
Bimbingan Pastoral adalah pelayanan yang sumbernya dari Yesus Kristus yang diberikan kepada orang-orang mengalami kekecewaan dalam hidup agar mereka kembali ke jalan yang benar. Maka penelitian ini bertjuan untuk mengetahui apakah ada pastoral terhadap pemuda yang terlibat dalam kasus perjudian. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan menggunakan pembagian kuisoner (angket). Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah Jemaat GMIT Imanuel Walurede, dengan sampel 10 orang pemuda yang terlibat dalam kasus perjudian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor penyebab perjudian dikalangan pemuda adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal diantranya faktor ekonomi, kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama, dan presepsi akan menang. Sedangkan factor eksternal adalah faktor lingkungan dan faktor budaya. Upaya Gereja dalam memberikan bimbingan pastoral sudah dilakukan, adapun langkah yang dilakukan dalam bimbingan pastoral tersebut adalah melakukan pendekatan dan perkunjungan kepada pemuda yang terlibat dalam kasus perjudian. Pendekatan dilakukan untuk mengecek kesiapan dari pemuda dalam menerima bimbingan pastoral, setelah ada kesiapan maka di lakukan perkunjungan oleh Pendeta dan wakil ketua, hasil yang diperoleh dari bimbingan pastoral yang di lakukan adalah perubahan gaya hidup pemuda artinya dengan adanya bimbingan pastoral tersebut dapat meminimalisir perjudian yang terjadi kalangan pemuda serta para pemuda mengalami pertumbuhan religius (keagamaan) artinya dengan adanya pastoral yang dilakukan pemuda sudah mulai mendekatkan diri dengan Tuhan, melalui rajin berdoa dan baca Alkitab.
Kata Kunci: Pastoral, Pemuda
Keterangan Penulis (*)
Pembimbing (**)
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rumusan masalah dalam penilisan ini adalah bagaimana persepsi pemuda terhadap pernikahan Kristen di Jemaat GMIT Syalom Aen’ut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui persepsi pemuda terhadap pernikahan Kristen.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskiptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yakni angket.
Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat GMIT Syalom Aen’ut, Klasis Mollo Barat dengan sampelnya yaitu pemuda/di yang mengalami kegagalam dalam masa muda terkhususnya pernikahan dalam usia yang masih muda. Jadi data yang diambil berjumlah 5 orang pemuda yang menikah diusia yang masih muda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pemuda mengerti dengan baik tentang pernikahan, masa pacaran dan juga apa yang dikehendaki Tuhan. Namun dalam kenyataannya tingkah laku mereka tidak sesuai dengan pemahaman yang mereka miliki. Akhirnya mereka menjadi pemuda yang bertumbuh dengan pemahaman yang sempit sehingga berpengaruh terhadap kehidupan masa muda dimana masa muda adalah saatnya mencari jati diri. Mereka rentan mengalami kegagala dalam masa muda terkhususnya dalam masa pacaran dan kemudian menuju ke pernikahan.
Untuk mengatasi hal ini, maka sebagai pemuda pentingnya memahami semua hal dari berbagai sisi, belajar dari semua orang sudah lebih dulu mendahului, kemudian pendampingan orang tua sangat penting bagi pemuda dimanapun mereka berada.
Hal ini sangat membantu sehingga dapat mengurangi jumlah pemuda/di yang harus kehilangan masa muda mereka hanya karena salah dalam pergaulan terkhususnya masa pacaran.
Pernikahan yang di kehendaki oleh Allah yaitu pernikahan yang bersifat monogami, pernikahan juga adalah hal yang bersifat kudus sehingga setiap siapapun yang menjalaninya tidak boleh dipermainkan. Landasan yang kuat juga diperlukan dalam sebuah pernikahan sehingga pernikahan tersebut dapat bertahan lama sama seperti kehendak Allah yaitu sampai maut yang memisahkan. Dari berbagai penjelasan diatas, diharapkan kepada pemuda/di yang masih dalam proses pencarian jati diri agar lebih memfokuskan diri kepada hal-hal yang lebih bermanfaat. Misalnya pendidikan, didikan orang tua dan juga cita-cita yang harus dicapai.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PANDANGAN PEMUDA KRISTEN GMIT SAMARIA NOELBAKI TENTANG PASANGAN KUMPUL KEBO PADA JEMAAT GMIT SAMARIA NOELBAKI KLASIS KUPANG TENGAH Rohi M. (*) Manu L. (**) Manggoa. A. M (**) Pernikahan merupakan ikatan permanen antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami istri yang disahkan secara agama, adat dan pemerintah. Namun ada juga pasangan yang hidup bersama sebagai suami istri tanpa melakukan proses agama, adat dan pemerintah yaitu kumpul kebo. Bahkan juga ada yang melakukan seks diluar nikah dan saling meninggalkan. Melakukan hubungan seks sebelum sah menjadi suami istri merupakan penyerahan tubuh dan jiwa seseorang kepada orang lain, melepaskan pemuasan nafsu kelamin berarti ia merusak hidupnya. Karena itu, pemuda sebagai tulang punggung dan generasi penerus gereja dan bangsa harus terhindar dari perilaku menyimpang tersebut agar dapat mencerminkan sikap dan perilaku yang patut dicontoh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan pemuda tentang pasangan kumpul kebo dan untuk mengetahui tindakan pemuda agar terhindar dari kumpul kebo di jemaat GMIT Samaria Noelbaki. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan yaitu wawancara. Hasil penelitian menunjukan cinta yang benar adalah perasaan yang tulus dari dalam hati yang menerima kekurangan pasangan dan tidak menginginkan tubuh serta sesuatu yang mendatangkan kesenangan sesaat. Pemuda juga tidak setuju dengan seks diluar nikah karena dapat berdampak buruk seperti hamil diluar nikah, stress, depresi, aborsi dan terjangkit penyakit seksual. Seks diluar nikah disebabkan karena pergaulan bebas, kurangnya komunikasi dengan orang tua dan kurangnya kasih sayang, masalah ekonomi sehingga ada yang menjual diri. Kumpul kebo merupakan perbuatan yang menunjukan ketidaksabaran seseorang untuk hidup bersama tanpa melakukan proses-proses untuk mengsahkan sebuah hubungan pernikahan, kumpul kebo terjadi karena hubungan yang tidak direstui, aturan adat dan hamil. Tindakan yang diambil pemuda agar tidak melakukan kumpul kebo adalah melibatkan Tuhan dalam hubungan, melakukan kegiatan positif, aktif dalam kegiatan gereja, tidak berkencan ditempat sepi. Agar tidak terjadi kumpul kebo perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak seperti masyarakat, gereja, pemerintah dan tokoh adat. Orang tua harus mengontrol pergaulan anak, mendorong anak melakukan kegiatan positif, sering berkomunikasi dengan anak. Pemerintah harus memberikan sanksi yang tegas, sosialisasi dan membuat aturan yang melarang warga melakukan kumpul kebo. Gereja juga harus mendorong dan mendoakan pasangan kumpul kebo agar menikah, sering mengadakan nikah masal dan membekali kaum muda dengan pengetahuan Alkitab. Tokoh adat harus memperbaharui aturan adat sehingga tidak menghalangi pasangan yang ingin menikah. Jika semua elemen melalukan perannya dengan baik maka besar kemungkinan tidak terjadi kumpul kebo.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PANDANGAN PEMUDA KRISTEN GMIT SAMARIA NOELBAKI TENTANG PASANGAN KUMPUL KEBO PADA JEMAAT GMIT SAMARIA NOELBAKI KLASIS KUPANG TENGAH Rohi M. (*) Manu L. (**) Manggoa. A. M (**) Pernikahan merupakan ikatan permanen antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami istri yang disahkan secara agama, adat dan pemerintah. Namun ada juga pasangan yang hidup bersama sebagai suami istri tanpa melakukan proses agama, adat dan pemerintah yaitu kumpul kebo. Bahkan juga ada yang melakukan seks diluar nikah dan saling meninggalkan. Melakukan hubungan seks sebelum sah menjadi suami istri merupakan penyerahan tubuh dan jiwa seseorang kepada orang lain, melepaskan pemuasan nafsu kelamin berarti ia merusak hidupnya. Karena itu, pemuda sebagai tulang punggung dan generasi penerus gereja dan bangsa harus terhindar dari perilaku menyimpang tersebut agar dapat mencerminkan sikap dan perilaku yang patut dicontoh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan pemuda tentang pasangan kumpul kebo dan untuk mengetahui tindakan pemuda agar terhindar dari kumpul kebo di jemaat GMIT Samaria Noelbaki. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan yaitu wawancara. Hasil penelitian menunjukan cinta yang benar adalah perasaan yang tulus dari dalam hati yang menerima kekurangan pasangan dan tidak menginginkan tubuh serta sesuatu yang mendatangkan kesenangan sesaat. Pemuda juga tidak setuju dengan seks diluar nikah karena dapat berdampak buruk seperti hamil diluar nikah, stress, depresi, aborsi dan terjangkit penyakit seksual. Seks diluar nikah disebabkan karena pergaulan bebas, kurangnya komunikasi dengan orang tua dan kurangnya kasih sayang, masalah ekonomi sehingga ada yang menjual diri. Kumpul kebo merupakan perbuatan yang menunjukan ketidaksabaran seseorang untuk hidup bersama tanpa melakukan prosesproses untuk mengsahkan sebuah hubungan pernikahan, kumpul kebo terjadi karena hubungan yang tidak direstui, aturan adat dan hamil. Tindakan yang diambil pemuda agar tidak melakukan kumpul kebo adalah melibatkan Tuhan dalam hubungan, melakukan kegiatan positif, aktif dalam kegiatan gereja, tidak berkencan ditempat sepi. Agar tidak terjadi kumpul kebo perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak seperti masyarakat, gereja, pemerintah dan tokoh adat. Orang tua harus mengontrol pergaulan anak, mendorong anak melakukan kegiatan positif, sering berkomunikasi dengan anak. Pemerintah harus memberikan sanksi yang tegas, sosialisasi dan membuat aturan yang melarang warga melakukan kumpul kebo. Gereja juga harus mendorong dan mendoakan pasangan kumpul kebo agar menikah, sering mengadakan nikah masal dan membekali kaum muda dengan pengetahuan Alkitab. Tokoh adat harus memperbaharui aturan adat sehingga tidak menghalangi pasangan yang ingin menikah. Jika semua elemen melalukan perannya dengan baik maka besar kemungkinan tidak terjadi kumpul kebo. Kata kunci : Pandangan pemuda, pasangan kumpul kebo Keterangan : Penulis (*) : Pembimbing (**)
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemuda merupakan kelompok strategis dalam kehidupan bergereja karena
memiliki potensi besar sebagai generasi penerus pelayanan. Namun, realitas
kepemimpinan pemuda di Jemaat GMIT Getsemani Sikumana menunjukkan
berbagai persoalan, seperti ketidakstabilan struktur kepemimpinan, lemahnya
pembinaan dan pendampingan, serta pemahaman kepemimpinan yang masih
bersifat struktural dan administratif, bukan sebagai panggilan iman dan pelayanan.
Kondisi tersebut berdampak pada minimnya koordinasi pelayanan, rendahnya
partisipasi aktif pemuda, serta melemahnya peran pemuda dalam dinamika
kehidupan jemaat. Berdasarkan realitas tersebut, penelitian ini bertujuan untuk
menelaah kepemimpinan orang muda dalam perspektif teologis serta menganalisis
realitas kepemimpinan pemuda di Jemaat GMIT Getsemani Sikumana dengan
menggunakan pendekatan servant leadership sebagaimana dikemukakan oleh
Robert K. Greenleaf. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan deskriptif, analitis, dan reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan
melalui studi kepustakaan serta penelitian lapangan berupa observasi, wawancara,
dan dokumen. Subjek penelitian meliputi majelis jemaat dan pemuda Jemaat
GMIT Getsemani Sikumana yang terlibat aktif dalam pelayanan. Data yang
diperoleh dianalisis untuk menggambarkan kondisi kepemimpinan orang muda,
mengidentifikasi persoalan yang terjadi, serta merefleksikannya secara teologis
berdasarkan nilai-nilai kepemimpinan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kepemimpinan orang muda di Jemaat GMIT Getsemani Sikumana belum
sepenuhnya dipahami sebagai panggilan pelayanan yang berakar pada iman,
melainkan masih dipandang sebagai beban struktural organisasi. Kurangnya
pembinaan dan formasi kepemimpinan berdampak pada lemahnya integritas,
tanggung jawab pelayanan, kepekaan sosial, serta visi kepemimpinan orang muda.
Melalui refleksi teologis dan pendekatan servant leadership Robert K. Greenleaf,
kepemimpinan orang muda dipahami sebagai kepemimpinan yang berangkat dari
sikap melayani, diwujudkan melalui keteladanan hidup, integritas karakter,
kerendahan hati, serta komitmen untuk memberdayakan dan membangun sesama.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teologis dan praktis bagi
gereja dalam merumuskan model pembinaan kepemimpinan pemuda yang
kontekstual, berkelanjutan, dan berakar pada nilai-nilai iman Kristen.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kaderisasi pemuda-pemudi merupakan kebutuhan mendasar gereja dalam menjaga keberlanjutan pelayanan dan kehidupan bergereja. Di tengah tantangan sekularisme yang semakin memengaruhi cara pandang, minat, dan keterlibatan pemuda-pemudi dalam kehidupan bergereja, gereja dituntut untuk merefleksikan secara teologis upaya kaderisasi yang kontekstual dan berkelanjutan. Pemuda-pemudi dipahami bukan hanya sebagai penerima pelayanan, tetapi sebagai subjek yang memiliki potensi untuk dibina dalam iman, karakter, dan kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan mengkaji upaya kaderisasi pemuda-pemudi melalui program Aksi Paskah dan Natal di Jemaat GMIT Golgota Alak dalam perspektif pembangunan jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Appreciative Inquiry yang menekankan penggalian pengalaman positif dan potensi jemaat melalui tahapan Discover, Dream, Design, dan Destiny. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi dengan melibatkan pemuda-pemudi serta Majelis Jemaat. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan reflektif untuk memahami dinamika kaderisasi yang berlangsung dalam kehidupan jemaat. Kemudian, data disajikan dalam bentuk deskripsi naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Aksi Paskah dan Natal menjadi ruang pembelajaran yang penting bagi pemuda-pemudi dalam mengembangkan keterampilan pelayanan, kerja sama, serta rasa memiliki terhadap pelayanan gereja. Keterlibatan aktif dalam liturgi, pewartaan firman, dan pengelolaan kegiatan memberikan pengalaman konkret hidup bergereja. Namun, proses kaderisasi masih bersifat periodik dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam perencanaan pembangunan jemaat jangka panjang. Penelitian ini menegaskan bahwa refleksi teologis atas praktik kaderisasi diperlukan agar gereja mampu merespons tantangan sekularisme secara sadar, menata pembinaan pemuda-pemudi secara terarah, dan menghadirkan kaderisasi yang berkesinambungan demi keberlanjutan pelayanan gereja masa kini dan masa depan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan rohani yang dapat dialami oleh pemuda gereja akibat tuntutan pelayanan yang intens serta tekanan pekerjaan dan tanggung jawab kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum Jemaat GMIT Siloam Battuna, mengkaji peran pastoral gereja bagi pemuda yang mengalami burnout, serta menelaah masalah burnout tersebut dari perspektif konseling pastoral. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 103 pemuda yang menjadi responden, terdapat 9 orang pemuda yang mengalami gejala burnout. Gejala tersebut meliputi kelelahan fisik dan emosional, menurunnya semangat dan motivasi dalam pelayanan, kecenderungan menarik diri dari persekutuan, serta gangguan dalam kehidupan sosial dan spiritual. Burnout yang dialami pemuda disebabkan oleh faktor internal, seperti kesulitan mengelola stres dan membagi waktu, serta faktor eksternal, seperti beban pelayanan gereja, tuntutan pekerjaan, dan tekanan ekonomi keluarga. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemuda yang mengalami burnout umumnya belum mendapatkan pendampingan pastoral yang mendalam dan spesifik dari gereja. Analisis pastoral memperlihatkan adanya kesenjangan antara kebutuhan pemuda yang mengalami burnout dengan pelayanan gereja yang tersedia, yang masih bersifat umum. Tinjauan konseling pastoral dan pandangan Alkitab menegaskan bahwa burnout bukanlah kelemahan iman, melainkan kondisi manusiawi yang membutuhkan pemulihan holistik. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk menghadirkan pendampingan pastoral yang empatik, pembinaan spiritual yang seimbang, serta penataan pelayanan yang menghargai keterbatasan manusia demi kesejahteraan pemuda sebagai generasi penerus jemaat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Identitas pemuda Kristen di tengah budaya urban saat ini menghadapi tantangan yang kompleks, terutama terkait arus asimilasi budaya digital dan tekanan gaya hidup populer. Fenomena "Babel Modern" ini sering kali memicu krisis identitas, di mana pemuda merasa minder atau malu menunjukkan jati diri imannya karena takut tidak diterima oleh lingkungannya. Bertolak dari realitas tersebut, penelitian ini memfokuskan diri pada analisis teologis terhadap teks Daniel 1:1-21 sebagai upaya menemukan strategi menjaga identitas iman di tengah tekanan budaya luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana narasi Daniel 1:1-21 merepresentasikan tindakan negosiasi budaya yang dilakukan Daniel dan temantemannya di Babel, serta menghadirkan implikasi teologis bagi penguatan identitas Pemuda di Jemaat GMIT Pniel Oebobo. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode tafsir biblis (analisis naratif), yang membaca teks secara utuh untuk menggali pesan kerygma di balik strategi pertahanan iman para pemuda buangan di Babel. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal utama. Pertama, negosiasi budaya Daniel menunjukkan bahwa asimilasi intelektual (pendidikan) tidak harus diikuti dengan asimilasi spiritual (iman), di mana Daniel tetap berprestasi di Babel tanpa mengompromikan prinsip dasarnya. Kedua, strategi "menarik batas" melalui diet rohani menunjukkan pentingnya kedisiplinan diri dan integritas sebagai bentuk kesetiaan yang kreatif kepada Allah. Ketiga, dukungan komunitas kecil (support system) menjadi faktor kunci yang memberikan keberanian bagi pemuda untuk bernegosiasi dengan kekuasaan besar. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa bagi pemuda Pniel Oebobo, menjadi relevan di tengah dunia modern tidak berarti harus kehilangan jati diri Kristen, melainkan tampil dengan kualitas hidup yang lebih unggul melalui hikmat Allah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini berangkat dari persoalan bahwa Doa Bapa Kami dalam Injil Matius 6:5-15 kerap dipahami terutama sebagai praktik spiritual personal, sementara dimensi sosial dan komunal yang melekat pada doa tersebut kurang mendapat perhatian. Situasi ini juga tampak dalam kehidupan pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama, yang meskipun hidup dalam budaya komunal, cenderung memaknai doa sebagai relasi individual dengan Allah dan belum sepenuhnya menghayati implikasi sosialnya. Karena itu, penelitian ini memfokuskan kajian pada pemaknaan Doa Bapa Kami sebagai dasar spiritualitas sosial serta implikasinya bagi kehidupan spiritualitas pemuda dalam konteks jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji latar belakang dan orientasi teologis Injil Matius, merumuskan kerygma teologis Matius 6:5-15, serta menjelaskan implikasi kerygma tersebut bagi kehidupan spiritualitas pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Penelitian ini juga bertujuan menunjukkan bahwa Doa Bapa Kami tidak hanya berfungsi sebagai formula doa, tetapi sebagai ajaran yang membentuk cara hidup beriman dalam relasi dengan Allah dan sesama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Penafsiran teks dilakukan melalui metode tafsir sosio-historis, dengan memperhatikan latar belakang sosial, historis, dan religius komunitas Kristen-Yahudi penerima Injil Matius. Melalui pendekatan ini, teks Injil Matius 6:5-15 dipahami dalam konteks kritik Yesus terhadap kesalehan yang bersifat performatif serta upaya pembentukan identitas komunitas yang setara dan solider. Hasil penafsiran kemudian didialogkan dengan konteks kehidupan pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Doa Bapa Kami mengandung kerygma tentang spiritualitas sosial, yaitu spiritualitas yang mengintegrasikan relasi intim dengan Allah dan tanggung jawab etis dalam kehidupan bersama. Struktur doa yang bersifat komunal, penggunaan kata ganti jamak, serta penekanan pada pengampunan dan kebergantungan bersama menegaskan bahwa doa ini membentuk kesadaran kolektif dan solidaritas komunitas. Dalam konteks pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama, Doa Bapa Kami menolong pemuda mengembangkan spiritualitas yang tidak hanya berorientasi personal, tetapi juga peka terhadap kehidupan bersama dalam kehidupan bergereja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas kehendak bebas sebagai tanggung jawab etis berdasarkan tinjauan etis biblis Kejadian 1:26-28 serta relevansinya bagi pemuda/i di Jemaat GMIT Emaus Liliba. Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan pemuda yang berada di tengah perubahan sosial, budaya, dan perkembangan teknologi yang berlangsung secara cepat dan kompleks. Kondisi tersebut kerap membentuk cara pandang terhadap kebebasan secara individualistik, pragmatis, dan terlepas dari dimensi tanggung jawab etis serta relasi iman. Situasi ini menuntut suatu kajian teologis yang mampu menempatkan pemahaman tentang kehendak bebas dalam kerangka iman Kristen yang berakar pada identitas manusia sebagai gambar dan rupa Allah (imago Dei). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji konteks historis dan motivasi teologis Kejadian 1:26-28, mengidentifikasi nilai-nilai etis yang terkandung di dalam teks tersebut, serta merumuskan relevansinya bagi kehidupan pemuda/i di Jemaat GMIT Emaus Liliba. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, melalui studi kepustakaan terhadap teks Alkitab dan literatur teologis yang relevan, serta refleksi kontekstual terhadap dinamika kehidupan pemuda dalam lingkungan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kejadian 1:26-28 lahir dalam konteks krisis identitas umat Israel dan berfungsi sebagai pernyataan teologis yang menegaskan kembali martabat manusia sebagai imago Dei. Kehendak bebas dipahami sebagai anugerah Allah yang melekat pada identitas manusia, namun tidak bersifat otonom mutlak, melainkan selalu terikat pada tanggung jawab etis dalam relasi dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan. Nilai-nilai etis yang terkandung dalam teks ini meliputi kekudusan hidup, tanggung jawab moral, pengelolaan kuasa secara etis, serta partisipasi manusia dalam mandat budaya Allah. Relevansi etis Kejadian 1:26-28 bagi pemuda/i GMIT Emaus Liliba terletak pada panggilan untuk menghidupi kebebasan secara bertanggung jawab di tengah tantangan kehidupan modern. Pemuda dipanggil untuk memahami kebebasan bukan sekadar sebagai hak pribadi, melainkan sebagai sarana menghadirkan kemuliaan Allah melalui kehidupan yang berintegritas, relasi yang membangun, serta keterlibatan aktif dalam pelayanan gereja dan tanggung jawab sosial sebagai wujud iman Kristen yang hidup dan nyata.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Praktik flexing atau pamer gaya hidup mewah di media sosial telah menjadi tren dan bagian dari budaya populer yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak generasi muda, termasuk pemuda GMIT Batu Karang Kupang. Dalam konteks pemuda GMIT Batu karang Kupang, praktik ini tidak hanya muncul sebagai bentuk ekspresi diri, tetapi juga sebagai strategi untuk mencari pengakuan, validasi sosial, dan membangun citra diri di media sosial dan secara langsung. Praktik ini berdampak negatif terhadap relasi antar sesama, persekutuan, dan pertumbuhan iman pemuda. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana keteladanan pemuda GMIT dalam menyikapi praktik flexing serta bagaimana pembinaan warga gereja (PWG) dapat menjadi sarana yang efektif dalam membentuk karakter dan spiritualitas pemuda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan kuesioner kepada 23 responden yang terdiri dari pendeta, pengurus pemuda, dan anggota pemuda di Jemaat GMIT Batu Karang Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemuda terlibat dalam praktik flexing untuk mendapatkan pengakuan, yang memicu perpecahan dan persaingan tidak sehat dalam persekutuan. Hal ini menunjukkan bahwa gereja belum optimal dalam memberikan pembinaan yang relevan dan kontekstual terhadap tantangan digital yang dihadapi pemuda. Mengacu pada teori PWG menurut Ruth Selan, pembinaan gereja harus bersifat kontekstual, transformatif dan holistik, menyentuh seluruh aspek kehidupan pemuda serta peran dalam gereja dan Masyarakat. Refleksi teologis dalam skripsi ini menekankan bahwa pemuda dipanggil menjadi teladan dalam kesederhanaan dan pelayanan, sebagaimana yang dicontohkan oleh tokok-tokoh muda seperti Yusuf, Daniel, Daud, Yeremia, Timotius, terutama Yesus Kristus dalam kehidupan dan pelayanan-Nya. Oleh karena itu, PWG memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan iman pemuda agar mampu menghadapi godaan digital secara bertanggung jawab. Gereja perlu meningkatkan kualitas pembinaan berbasis nilai-nilai Alkitabiah dan mendampingi pemuda dengan pendekatan kontekstual yang membumi, agar mereka menjadi teladan dalam kesederhanaan dan pelayanan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk pertama mengeksplorasi pemahaman para pemuda-pemudi pelaku seks bebas di Jemaat Silo Naikoten 1 tentang tubuh. Kedua menjelaskan makna esensial dari Teologi Tubuh Paus Yohanes Paulus II terhadap para pemuda-pemudi pelaku seks bebas. Penelitian ini memakai metode kualitatif dan terdiri dari 10 sampel terdapat 5 laki-laki dan 5 perempuan. Penulis juga mengkaji dan mendalami berbagai sumber yang berhubungan dengan tema tulisan ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman pemuda-pemudi Jemaat Silo Naikoten 1 tentang makna tubuh itu beragam seperti menganggap tubuh sebagai objek pemuas nafsu, penghasil uang, struktur kehidupan. Dimana para pelaku seks bebas melihat kalau tubuh itu di pandang sebagai objek yang bisa untuk memuaskan nafsu badani mereka terlebih lagi mereka juga memandang kalau tubuh itu indah dan bisa diperjual belikan sehingga tidak melihat sebagai sebuah ciptaan Allah yang kudus.
Berdasarkan pemahaman Paus Yohanes Paulus II tentang tubuh maka Teologi Tubuh melahirkan sebuah refleksi iman tentang makna seksual manusia. Pemaparan ajaran dalam Teologi Tubuh hendak mengajak umat beriman dan menanggapi berbagai perilaku dan gagasan menyimpang tentang pemahaman umum manusia tentang tubuh dalam perspektif iman. Hakikat tubuh sering diasumsi secara keliru. Tubuh dipandang sebagai objek pemuas seksual dan mengandung unsur komoditi dalam perekonomian.
Oleh karena itu hasil analisa dapat disimpulkan bahwa pertama tubuh bukan lagi sebuah objek seksual dan sebagai alat untuk diperjual belikan. Kedua tubuh bukan lagi seonggok daging melainkan tubuh merupakan cara kita untuk berkomunikasi. Karena itu tubuh yang hadir merupakan sebuah kesatuan antara tubuh dengan pribadi ini tergambar dalam bahasa dalam tubuh yang tercetak saat manusia dilahirkan. Tubuh dapat mengungkapkan apa yang tak terlihat menjadi terlihat, sehingga tubuh memiliki nilai keluhuran dan keilahiannya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berfokus pada tinjauan teologis terhadap Pendidikan Agama Kristen bagi pemuda menggunakan metode Shared Christian Praxis di Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba. Metode SCP yang diperkenalkan oleh Thomas H. Groome menawarkan pendekatan yang partisipatif dengan mengintegrasikan pengalaman hidup peserta ke dalam refleksi teologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Pendidikan Agama Kristen yang ada dan bagaimana metode SCP dapat memberikan relevansinya dalam menghadapi tantangan Pendidikan Agama Kristen di era modern. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap 20 narasumber yang terdiri atas Pemuda, Pendeta, Pengajar Katekisasi, dan Pengurus Pemuda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode SCP belum diterapkan di Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba, namun terdapat potensi besar untuk dikembangkan. Para narasumber menyatakan bahwa metode Pendidikan Agama Kristen yang ada di Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba terlalu monoton dan satu arah. Secara teologis, metode SCP sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan Iman yang berfokus pada dialog antara Firman Tuhan dan pengalaman hidup. Penelitian ini merekomendasikan penerapan metode SCP dengan strategi yang kontekstual, melibatkan pelatihan bagi pelayan dan pemuda untuk memahami tahapan pelaksanaannya. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Ulangan 6:6-7 sebagai Refleksi Teologis. Dengan demikian, SCP diharapkan dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam membangun iman pemuda secara holistik dan transformatif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Talenta adalah bakat bawaan lahir maupun yang diasah dengan kerja keras.
Talenta memiliki dua perspektif yaitu perspektif ekonomis dan perspektif
teologis. Talenta yang tidak terbatas pada satu bidang menciptakan keberagaman.
Keberagaman talenta dapat menciptakan masalah apabila pada pemahaman dan
pengelolaannya tidak diterapkan dengan baik. Keretakan hingga perpecahan
dalam komunitas pemuda tercipta dari hal ini. Dalam upaya mengatasi
permasalahan keberagaman ini dibutuhkan pemahaman secara benar apa itu
potensi, dalam hal ini talenta dan proses pengelolaannya. Penulis tertarik untuk
mengkaji permasalahan tersebut secara lebih mendalam melalui karya ilmiah
dengan menggunakan metode tafsir perumpamaan dari teks Injil Matius 25:14-30.
Injil Matius mencatat bahwa Yesus menekankan pentingnya pengelolaan talenta
sebagai bentuk tanggungjawab dan kesediaan dalam menanti kedatangan kembali-
Nya. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukkan bagaimana
pengelolaan talenta dari dua jenis hamba sebagai bentuk kesetiaan mereka untuk
bertanggungjawab mengelola talenta yang dipercayakan tuan mereka, dapat
dibawa dalam konteks komunitas pemuda, khususnya Jemaat GMIT Ebenhaezer
Bikium. Pemahaman bahwa talenta adalah suatu kepercayaan yang harus dikelola
dengan sikap tanggungjawab dan kesetiaan kepada Sang Pemberi talenta. Pada
akhirnya, tulisan ini mengajak pemuda Jemaat GMIT Ebenhaezer Bikium untuk mengelola potensi, talenta yang dimiliki masing-masing pemuda dalam
menyiapkan mereka melancarkan pelayanan dalam lingkungan gereja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Perayaan Natal adalah tradisi Kristiani untuk memaknai karya keselamatan dari Allah melalui kelahiran Yesus Kristus. Makna Natal yang demikian mengalami degradasi karena pengaruh budaya populer yang masif. Pengaruh budaya populer bagi kebudayaan memberi perubahan yang mencolok pada perayaan Natal. Pengaruh budaya populer ini paling banyak dibawa oleh anak-anak muda yang memang lebih terbuka dengan pengaruh budaya baru dan terbawa dalam perayaan Natal. Budaya yang dimasukkan dalam perayaan Natal cenderung ke arah negatif yang mempertontonkan euforia keagamaan yang berisi pesta pora, mabuk-mabukan, sikap konsumtif atau hedonisme, dan lain sebagainya. Akibatnya Natal yang ditunggu bukan lagi untuk mendalami makna kelahiran Yesus melainkan euforianya perayaan yang hedon.
Tujuan dari tulisan ini agar anggota jemaat memahami makna Natal yang penuh dengan kasih karunia Allah yang luar biasa dalam kehidupan umat manusia. Merayakan Natal adalah tindakan rasa syukur atas karya Yesus Kristus yang telah datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan.
Metode metode penelitian kualitatif digunakan oleh penulis dalam penulisan untuk memahami dan menganalisa suatu fenomena secara mendalam di Jemaat GMIT Oemathonis, Tepas, Klasis Amanatun Selatan. Data-data yang diperoleh berdasarkan fakta, peristiwa dan realita melalui observasi dan wawancara dengan berbagai pihak yang menjalankan kebiasaan ini.
Natal hendaknya tidak kehilangan makna yang sesungguhnya. Natal mestinya dirayakan secara sederhana, selayaknya tradisi yang sudah dilakukan pada tahun sebelumnya. Perayaan Natal adalah tradisi kristiani untuk memaknai karya keselamatan dari Allah melalui kelahiran Yesus Kristus. Dengan demikian, makna Natal tidak mengalami degradasi meskipun berhadapan dengan budaya populer yang masif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PEMUDA DAN ORGANISASI PELAYANAN GEREJA “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Peran Pemuda Dalam Organisasi Pelayanan Gereja di GKS Jemaat Kangeli, Klasis Lewa Tidahu” Email: [email protected] Pemuda adalah generasi penerus pelayanan dan kepemimpinan dalam gereja sehingga kehadirannya dalam gereja tidak dapat diabaikan. Gereja adalah tempat di mana pemuda dididik dan bertumbuh dalam iman. Pemuda gereja merupakan generasi penerus yang akan menentukan masa depan gereja dengan meneruskan perjuangan dan melaksanakan tugas panggilan gereja secara terus menerus. Peran pemuda dalam organisasi Pelayanan diwujudkan salah satunya melalui Komisi Pemuda, yakni melalui berbagai program dalam bidang kesaksian, persekutuan dan pelayanan. Namun realitas yang ada menunjukkan bahwa banyak pemuda yang mengabaikan perannya dalam gereja. GKS Kangeli menunjukkan realitas tersebut, bagaimana pemuda tidak menjalankan perannya dengan maksimal. Program yang dibuat tidak berjalan dan partisipasi pemuda-pemudi sangat minim dalam pelayanan Bertolak dari masalah di atas penulis melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran pemuda dalam organisasi Pelayanan di GKS Jemaat Kangeli. Demi mencapai tujuan penelitian ini maka penulis melakukan penelitian lapangan dengan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan bahwa peran pemuda melalui Komisi Pemuda di GKS Jemaat Kangeli dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman pemuda terhadap peran dan panggilannya dalam gereja. Kurangnya pemahaman pemuda terhadap peran dan panggilannya juga ikut mempengaruhi jemaat mengambil keputusan untuk membatasi perannya. Dari 139 jumlah pemuda yang terlibat dalam pelayanan hanya 24 orang . Oleh karena itu gereja perlu melakukan pembinaan yang bertujuan bukan saja untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin tetapi membentuk karakter pemud yang mau melayani dan terlibat dalam pelayanan. Pembinaan di dalamnya meliputi memberikan pengajaran dan nasihat, menunjukkan teladan, serta memberikan kepercayaan untuk bertanggung jawab atau memimpin.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengajar di GMIT merupakan salah satu jabatan presbiter. Pengajar memiliki tugas utama membina
dan merawat iman jemaat. Karena itu penting sekali bagi seorang pengajar untuk memaknai
panggilannya ini. Perlu diingat bahwa kehadiran pengajar itu sangat erat kaitannya dengan kehidupan
para pemuda gereja. Hal ini terjadi karena pengajar itu mengemban tugas mendidik calon katekumen
gereja. Di GMIT Sion Oepura pun berlaku demikian. Hanya saja, kehadiran pengajar dan tugasnya
masih minim diketahui oleh para pemuda gereja. Akibatnya para pemuda gereja tidak betul-betul
menghargai peran pengajar. Ini menjadi masalah tersendiri. Atas hal ini maka tulisan ini digali dengan
tujuan agar pemuda bisa memahami peran pengajar. Untuk bisa menuntaskan tulisan ini maka penulis
menggunakan metode studi Pustaka dan juga studi lapangan, khusus di Jemaat GMIT Sion Oepura yang
kemudian dielaborasi menjadi sebuah tulisan ilmiah seperti ini. Harapannya, melalui tulisan ini ada
kontribusi atau sumbangan pemikiran dan aksi konkret bagi gereja khususnya bagi para pengajar GMIT
dalam memahami makna panggilannya ini dan juga bisa menjadi sumber pengetahuan bagi pemuda
untuk bisa tahu apa itu jabatan pengajar dan betapa pentingnya tugas pengajar di dalam memelihara
iman mereka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK STUDI MENGENAI BENTUK-BENTUK PEMBINAAN PEMUDA YANG DILAKUKAN OLEH MAJELIS JEMAAT GMIT LILIN SUNI NOEBANA KLASIS AMANATUN TIMUR TAHUN 2023 Penelitian ini dilakukan pada lokasi Jemaat GMIT Lilin Suni Noebana Klasis Amanatun Timur Kabupaten Timo Tengah Selatan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa saja bentuk-bentuk pembinaan pemuda yang dilakukan oleh majelis jemaat GMIT Lilin Suni Noebana Klasis Amanatun Timur?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk pembinaan pemuda yang dilakukan oleh majelis jemaat GMIT Lilin Suni Noebana Klasis Amantun Timur. Metode yang digunakan penulis adalah metode deskriptif yaitu bertujuan untuk menggambarkan masalah sesuai dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Tempat penelitian ini dilakukan di Jemaat GMIT Lilin Suni Noebana Klasis Amanatun Timur denga jumlah responden 10 orang . Hasil penelitian yang diperoleh adalah mengingat pentingnya Bentuk-bentuk pembinaan pemuda, maka majelis jemaat menjalankan proses pembinaan itu sendiri dengan cara menjadi teladan: dalam rendah hati, aktif dalam pelayanan, selalu bersyukur. Membimbing: menegur, menasihati, mengajari. Melatih: menyanyi, bermusik, berdoa, memimpin ibadah. Melibatkan dalam pelayanan: song leader, bermain orgen dan mengutus pemuda dengan cara melayani dan memberitakan injil sehingga pemuda dapat mengembangkan apa yang sudah didapatkan dari para pamimpin. Kesimpulan: Teladan: Dapat dikatakan bahwa ada majelis jemaat yang sudah menjadi teladan dalam hal perkataan, perilaku dan juga tindakan sehari-hari. Membimbing: Dapat dikatakan bahwa para majelis memberikan bimbingan kepada para pemuda, dalam hal. Melatih: Para majelis sudah memberikan waktu untuk melatih para pemuda. Melibatkan dalam pelayanan: Majelis jemaat sudah melibatkan pemuda untuk menjadi song leader dan bermain orgen. Mengutus: Majelis jemaat sudah mengutus pemuda untuk mengambil bagian dalam pelayanan dan menginjili. Saran: Bagi Pihak Gereja harus memberikan motivasi kepada pemuda, memberikan kesempatan bagi pemuda agar terlibat dalam pelayanan digereja, gereja usaha untuk meningkatkan pelayanan yang berfokus pada kegiatan pemuda. Bagi pihak Akademik Perlu adanya upaya dari pihak kampus khususnya UKAW Kupang untuk meningkatkan pemahaman manusia lewat pengajaran mata kuliah Pendidikan Agama Kristen bagi pemuda, Peningkatan pemahaman bagi mahasiswa dalam mata kuliah kepemimpinan Kristen untuk menghasilkan out put dari UKAW Kupang yang memiliki sifat-sifat Kepemimpinan Kristiani bahkan dapat menjadi pemimpin kristen ke depan. Kata Kunci: Bentuk-Bentuk Pembinaan Pemuda
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas tentang upaya gereja dalam meningkatkan keterlibatan pemuda dalam ibadah pemuda di Jemaat GMIT Marturia Oesapa selatan Tahun 2022/2023. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan gereja untuk meningkatkan keterlibatan pemuda dalam ibadah pemuda di Jemaat GMIT Marturia Oesapa Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah seluruh majelis jemaat yaitu 98 orang dan seluruh Pemuda. Sampel dalam penelitian ini adalah 10 orang majelis dan 5 orang pemuda. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya gereja dalam meningkatkan keterlibatan pemuda dalam ibadah pemuda di Jemaat GMIT Marturia Oesapa Selatan tahun 2022/20223 adalah gereja melakukan pembinaan kepada pemuda, melakukan perkunjungan bagi pemuda, melibatkan pemuda dalam pelayanan ibadah gereja serta memotivasi pemuda. Namun dalam kenyataannya bahwa partisipasi pemuda dalam kegiatan yang dilakukan oleh gereja masih sangat minim. Mengenai masalah perkunjungan bagi pemuda belum sepenuh dilakukan oleh semua Majelis, maka dari itu Gereja harus meningkatkan perkunjungan bagi pemuda, karena perkunjungan juga menentukan kehadiran pemuda dalam ibadah pemuda. Ibadah pemuda merupakan salah satu program gereja untuk meningkatkan pemahaman pemuda tentang ibadah pemuda dengan tujuan untuk menumbuhkan iman pemuda, karena ketika iman pemuda semakin bertumbuh, maka pemuda akan terus mewartakan Injil dimanapun pemuda berada dan selalu berpegang teguh pada kebenaran Firman Tuhan. Gereja perlu terus mengupayakan melalui pendekatan personal maupun kelompok untuk menolong pemuda. Jika pemuda dilihat sebagai tulang punggung gereja dan masa depan gereja maka dari sekarang pemuda harus dipersiapkan dalam segala. Perlu adanya upaya gereja untuk meningkatkan pelayanan yang berfokus pada kegiatan pemuda.