Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: Pendampingan Pastoral
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENDAMPINGAN PASTORAL BAGI SUAMI YANG DITINGGALKAN ISTRI “Suatu Kajian Teologi Pastoral Terhadap Peran Pendampingan Pastoral Gereja Bagi Suami yang ditinggalkan Istri di Jemaat Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Masalah perceraian dan perpisahan dalam rumah tangga Kristen merupakan realitas pastoral yang semakin kompleks, termasuk fenomena suami yang ditinggalkan oleh istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendampingan pastoral gereja bagi suami yang ditinggalkan oleh istri di Jemaat GMIT Emaus Kotalain, Klasis Rote Barat Daya (RBD), serta meninjau secara teologis praktik pendampingan pastoral yang telah dilakukan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis-reflektif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan melibatkan pendeta dan rekan majelis jemaat, suami yang ditinggalkan istri, keluarga, serta unsur adat dan pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial-budaya, ekonomi, komunikasi, serta konstruksi maskulinitas patriarkal turut memengaruhi terjadinya perpisahan dan respons suami terhadap pendampingan pastoral gereja. Praktik pendampingan pastoral yang dilakukan gereja selama ini cenderung berfokus pada upaya rekonsiliasi dan penyatuan kembali secara fisik, namun belum sepenuhnya menerapkan fungsi-fungsi pendampingan pastoral secara holistik. Melalui kajian teologi pastoral dengan menggunakan fungsi-fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, penelitian ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menghadirkan pendampingan yang menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara kehidupan suami yang ditinggalkan istri secara menyeluruh. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi teologis dan praktis bagi pengembangan pelayanan pastoral gereja yang lebih kontekstual, inklusif, dan transformatif.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GEREJA DAN PERSEKUTUAN JEMAAT “Suatu Tinjauan Pastoral Terhadap Peran Gereja Laharoi Danalon dalam Menyikapi Persoalan Perpindahan Jemaat dan Implikasinya bagi Persekutuan Mata Jemaat Laharoi Danalon Klasis Rote Timur ”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berjudul GEREJA DAN PERSEKUTUAN JEMAAT “Suatu Tinjauan Pastoral terhadap Peran Gereja Laharoi Danalon Menyikapi Persoalan Perpindahan Jemaat dan Implikasinya bagi Persekutuan Mata Jemaat Laharoi Danalon Klasis Rote Timur.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh persoalan perpindahan jemaat yang tidak hanya berdampak pada penurunan keanggotaan, tetapi juga merusak keutuhan persekutuan dan menunjukkan lemahnya peran pastoral gereja. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau peran gereja dalam menyikapi persoalan perpindahan jemaat serta implikasinya bagi kehidupan persekutuan jemaat. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan teologi pastoral dari Howard Clinebell yang menekankan lima fungsi pelayanan pastoral: menyembuhkan, menopang, membimbing, memulihkan, dan memelihara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpindahan jemaat di Mata Jemaat Laharoi Danalon disebabkan oleh konflik antara jemaat dan majelis yang tidak ditangani secara pastoral. Gereja tidak hadir secara aktif dalam proses mediasi maupun pemulihan, sehingga relasi jemaat menjadi retak dan persekutuan terganggu. Fungsi-fungsi pastoral belum dijalankan secara maksimal, baik oleh pendeta maupun majelis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pentingnya gereja membangun pelayanan pastoral yang kontekstual dan transformatif. Gereja harus hadir sebagai komunitas yang merangkul dan menyembuhkan, serta aktif menjaga keutuhan tubuh Kristus di tengah konflik dan perubahan zaman.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KOMUNITAS YANG MENYEMBUHKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam komunitas Orang Sabu, terdapat sebuah pemahaman mengenai kutuk atas peristiwa Made Harro (mati tidak wajar). Karena kutuk itu, maka relasi yang ada dalam komunitas, baik relasi individu, relasi dengan sesama, relasi dengan alam (tanah), dan relasi dengan Tuhan menjadi rusak. Akhirnya, stigma sosial dan pengucilan terbentuk dalam komunitas. Pemahaman ini masih dipegang erat oleh Komunitas Orang Sabu bahkan yang sudah Kristen. Namun, dalam komunitas yang sama pula, terdapat pemahaman unik tentang bagaimana mereka sebagai komunitas keluar dari krisis ini dan mengalami kesembuhan yang utuh dan holistik. Ritus yang dimaksud dilakukan oleh beberapa anggota keluarga jemaat GMIT Arit Lederaga, yang anggota keluarganya mengalami Made Harro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi fungsi-fungsi pastoral dalam praktik penyembuhan duka komunitas Orang Sabu dan nilai-nilai teologis dalam praktik budaya Kehao Rue untuk memberikan sumbangsih pada pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menitikberatkan pada pengamatan mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang kutuk Made Harro dan praktik penyembuhan duka Kehao Rue masih sangat kuat dipegang dalam komunitas orang Sabu di jemaat GMIT Arit Lederaga. Dengan penggunaan simbol-simbol tertentu, pengorbanan hewan, pembuangan abu, penatte laidare yang dipimpin oleh tokoh adat yakni Deo Rai dan Rue, serta ritus pelengkap seperti, tangi pali, pedoe hemanga, pemau do made, dan henge’do bertujuan untuk memutuskan rantai kutukan tersebut dan menyeimbangkan kembali relasi yang telah rusak. Dalam keseluruhan praktik yang ada, Penulis menggunakan 5 fungsi pastoral menurut Howard Clinebell, untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi pastoral nampak dalam praktik budaya orang Sabu. Selain itu, dalam praktik penyembuhan duka tersebut terdapat nilai-nilai teologis yang dapat membantu gereja untuk belajar dari komunitas Orang Sabu dalam menciptakan pendampingan pastoral lintas budaya yang utuh dan holistik. Secara teologis, penelitian ini merefleksikan bahwa kematian dalam pandangan Alkitab adalah realitas setiap manusia yang hidup. Kematian yang ada menyisihkan duka bagi masing-masing orang berbeda dalam tingkatan dan cara pemulihan. Untuk itu, perlu adanya pendampingan pastoral yang utuh dan holistik bagi segenap ciptaan dengan menyoroti peran komunitas di dalamnya. Sehingga pendampingan pastoral Lintas budaya menjadi tawaran menarik bagi gereja, agar gereja dapat belajar menjadi komunitas yang menyembuhkan secara utuh dan holistik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail