ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RINGKASAN
FRIDOLINUS BRIA (16383509). Struktur Komunitas Gastropoda Pada Ekosistem Mangrove di Pesisir Pantai Motain, Desa Motaain, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka. Alfred G. O. Kase, S.Pi., M.Si., Ph.D dan Imanuel J. Emola, S.Pi., M.Si sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Salah satu sumberdaya alam wilayah pesisir yang cukup penting adalah gastropoda. Gastropoda merupakan salah satu biota laut yang hidup diwilaya pesisir yang memeiliki karakteristik khas dan berbeda. Keberadaan gastropoda di kawasan pesisir secara ekonomis dapat berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat dan lain sebagainya. Masyarakat Desa Motaain melakukan penangkapan gastropoda untuk memenuhi kebutuhan hidup baik dengan cara dijual maupun utntuk dikonsumsi keperluan sehari-hari.
Penelitian ini telah dilaksanankan selama 1 bulan yaitu pada bulan Mei tahun 2020 yang berlokasi di Desa Motaain, Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka. Metode yang digunakan adalah metode Observasi (pengamatan langsung) dan studi pustaka yaitu dengan pengamatan langsung dilokasi untuk mengetahui bagaimana struktur komunitas gastropoda pada ekosistem mangrove dan metode studi pustaka dapat diperoleh dari sumber baca buku, internet maupun jurnal yang berkaitan dengan judul penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis spesies gastropoda yang terdapat pada mangrove di pesisir pantai Motaain, Desa Motaian Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka yakni pada ke 3 transek Nerita articulata, Syncera brevicula, Chicocerus capunicus, Columbella scripta, Cerithidae cingulata, Littorina scabra dan Cassidula mustelina dan spesies yang banyak ditemukan yaitu adalah Syncera brevicula. Indeks kelimpahan gastropoda yang terdapat pada mangrove di pesisir pantai Motaain, Desa Motaain Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, spesies terbanyak terdapat pada Syncera brevicula dengan total keseluruhan pada ketiga transek yakni dengan kelimpahan total 21,73 individu/m2. Keanekaragaman berkisar antara 1,58-1,83, keseragaman pada lokasi penelitian berkisar antara 0,40-0,46 pada kondisi ini, jenis-jenis gastropoda yang dijumpai jumlahnya seragam relatif sama. sedangkan nilai indeks dominansi berada dalam rentang 0,16-0,18 menandakan adanya jenis yang mendominasi.
Kata Kunci : Struktur Komunitas, Gastropoda, Ekosistem Mangrove, Desa Motaain
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu Provinsi yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah. Salah satu keanekaragaman hayati yang sangat potensial adalah mangrove. NTT menempati urutan kesembilan sebagai luas hutan mangrove terbesar di Indonesia dengan populasi mencapai 40.614,11 ha. Mangrove adalah salah satu jenis tumbuhan yang mampu hidup pada kondisi genangan air pesisir pantai dengan status salinitas yang tinggi. Hutan mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis vegetasi dan keanekaragaman jenis mangrove di Desa Bokonusan Kecamatan Semau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode line transect dengan menggunakan teknik sampling kuadrat. Hasil penelitian menunjukan Jenis mangrove yang ditemukan di Desa Bokonusan Kecamatan Semau terdiri dari 3 famili yaitu Avicenniacea, Rhyzoporaceae dan Soneratiaceae yang terbagi dalam 3 spesies yaitu Avicennia lanata, Rhizopora stylosa dan Soneratia alba. Berdasarkan hasil analisis vegetasi mangrove tingkat pohon, pancang dan semai di dominasi oleh spesies Rhyzopora stylosa dengan nilai kerapatan tertinggi pada tingkat semai sebesar 8,83 ind/m2 .Nilai dominansi tertinggi terdapat pada spesies Soneratia alba sebesar 1,55. Nilai frekuensi tertinggi terdapat pada tingkat semai dengan nilai sebesar 2 dan nilai indeks penting tertinggi sebesar 165% pada tingkat pohon. Hasil perhitungan Nilai H’ keanekaragaman spesies mangrove pada lokasi penelitian S1 (0,71), S2 (0,79), S3 (0,74) dan S4 (0,73) sedangkan jumlah spesies S1 (53), S2 (96), S3 (75) dan S4 (50). Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa Analisis vegetasi mangrove di Desa Bokonusan tingkat pohon, pancang dan semai termasuk dalam kategori sedang. Hal ini dapat dilihat dari besarnya indeks nilai penting yaitu >100% dan indeks keanekaragaman yang diperoleh pada SI sampai dengan S4 menunjukan tingkat keanekaragaman jenis berada pada kategori rendah
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem alamiah dengan nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi, juga daerah yang produktifitasnya tinggi karena ada serasah dan terjadi dekomposisi serasah sehingga terdapat detritus. Hutan mangrove memberikan kontribusi besar terhadap detritus organik yang sangat penting sebagai sumber energi bagi biota yang hidup di perairan sekitarnya. Gastropoda merupakan kelompok terbesar dari filum Mollusca, yang menguntungkan misalnya, dijadikan bahan makanan. Dan juga berperan penting dalam proses dekomposisi serasah dan mineralisasi materi organik terutama yang bersifat herbivor dan detrivor. Dengan cara mencacah-cacah daun menjadi bagian-bagian kecil kemudian akan dilanjutkan oleh organisme yang lebih kecil yaitu mikroorganisme. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui struktur komunitas Gastropoda (Mollusca) yang terdapat pada hutan Mangrove di Oesapa Barat, yang berkaitan dengan kepadatan, keanekaragaman jenis, keseragaman, dominansi, kelimpahan spesies dan pola sebaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode line transect dan purposive sampling supaya dapat menentukan transek pada lokasi penelitan. Dalam penelitian ini menggunakan 3 stasiun yang dapat mewakili lokasi penelitian. Setiap stasiun terdiri dari 5 plot dengan jarak setiap plot 20 m, tegak lurus dari garis pantai ke arah darat (tegak lurus terhadap garis pantai sepanjang zonasi hutan mangrove). Hasil dari penelitian ini ditemukan 6 spesies gastropoda meliputi Telescopium telescopium, Monodonta canalifera, Littoraria scabra, Terebralia palustris, Cerithideopsilla dan Cerithidea balteata. Struktur komunitas kepadatan gastropoda yang paling Banyak ditemukan yaitu spesies Monodonta canalifera dengan Nilai 0,56 (ind/ m²), Struktur komunitas gastropoda keanekaragaman didapatkan hasil yaitu H’1.079077, Struktur komunitas keseragaman gastropoda di lokasi penelitian pada stasiun 1 (0,2), stasiun 2 (0,05) dan stasiun 3 (0,23). Kelimpahan jenis gastropoda yang paling Tinggi terdapat spesies Monodonta canalifera dengan Nilai 14, Jenis gastropoda yang paling dominan di lokasi penelitian yaitu 0,23 dan pola sebaran gastropoda di Hutan Mangrove Oesapa Barat sebarannya secara acak dan mengelompok.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RhizophorastylosaGriff adalah jenis mangrove termasuk ke dalam golongan mangrove jangkung (stilt mangroves) AkarRhizophora stylosamemiliki peranan farmakologis karena hasil metabolit sekundernya mengandung senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan mengobati beberapa penyakit.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengisisolasi dan mengindentifikasi jamur endofit pada akar mangrove Rhizopora stylosa Griff. Sampel akar mangrove diambil dari area hutan mangrove Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan metode survei dan eksperimental dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive dengan masing-masing perlakuan dua kali dan pengulangan tiga kali.Prosedur Penelitian terdiri dari Pengambilan sampel, sterilisasi dan pembuatan media, isolasi, purifikasi dan identifikasi jamur endofit. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif yaitu deskriptif meliputi karakteristik makroskopis dan identifikasi secara mikroskopis jamur endofit yang berhasil diisolasi dari akar mangrove Rhizophora stylosa Griff. Hasil penelitian menunjukan terdapat 9 isolat jamur mikroskopis yang diisolasi dari akar muda dan tua jenis mangrove Rhizophora stylosa Griff, yang berasal dari 4 genus yakni genus Penicilium (4 isolat) Aspergillus (3 isolat), Mucor (1 isolat) dan Trichoderma (1 isolat) dimana masing-masing memiliki krakteristik makroskopis dan mikroskopis yang berbeda-beda.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sonneratia alba J. Smith termasuk salah satu jenis mangrove yang dapat dijumpai di hampir semua hutan mangrove, tumbuhan ini memiliki kemampuan adaptasi tinggi dengan ditemukannya pada kondisi lingkungan yang cukup ekstrim. Sonneratia alba J. Smith dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan bangunan serta kayu bakar, dan memiliki kemampuan mengobati beberapa penyakit seperti diare, rematik, nyeri otot, luka dalam, sakit pinggang, sakit tulang, dan menghentikan pendarahan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengisolasi dan mengidentifikasi jamur endofit pada daun mangrove Sonneratia alba J. Smith. Penelitian ini menggunakan metode survei dan eksperimental dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan masing-masing perlakuan dua kali dan pengulangan tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif yaitu meliputi karakteristik makroskopis dari masing-masing jamur yang berhasil diisolasi dari daun muda dan daun tua mangrove Sonneratia alba J. Smith. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan yakni terdapat 12 isolat jamur mikroskopis yang diisolasi dari daun muda dan daun tua mangrove Sonneratia alba J.Smith, yang berasal dari 3 genus yakni genus Aspergillus (7 isolat), Penicillium (4 isolat), dan Trichoderma (1 isolat) dimana masing-masing memiliki karakteristik makroskopis dan mikroskopis yang berbeda-beda
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rhizophora stylosa Griff adalah salah satu jenis mangrove dengan habitus pohon yang dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 6 meter. Batang Rhizophora stylosa Griff berwarna abu-abu kehitaman dan memiliki akar tunjang Daun Rhizophora stylosa Griff adalah berbentuk elips dengan ujung meruncing dan memiliki bercak coklat atau hitam di permukaan bawah. Keunikan Rhizophora stylosa Griff dari yaitu memiliki banyak manfaat dan menghasilkan metabolit sekunder yang dapat diolah seperti untuk obat-obatan, antibakteri, antifungi dan antikanker. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengisolasi dan identifikasi jamur endofit pada batang mangrove Rhyzophora stylosa Griff. Penelitian ini menggunakan metode survei dan eksperimental dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive dengan masing-masing perlakukan dua kali dan pengulangan tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif yaitu meliputi karakteristik makroskopis serta dari masing-masing jamur yang berhasil diisolasi batang muda dan batang tua mangrove Rhyzophora stylosa Griff. Dari hasil penelitian yaitu terdapat 9 isolat jamur mikroskopis yang diisolasi dari batang muda dan batang tua mangrove Rhyzophora stylosa Griff, yang berasal dari 4 genus yakni genus Aspergillus (4 isolat), Penicellium (3 isolat), Trichoderma (1 isolat) dan Nigrospora (1 isolat) dimana masing-masing memiliki karakteristik makroskopis dan mikroskopis yang berbeda-beda.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekosistem mangrove di Desa Tanah Merah merupakan tempat bermuaranya seluruh bahan pencemar yang membawa berbagai macam bahan pencemar berasal dari daratan masuk ke dalam perairan laut. Oleh karena itu, pada ekosistem mangrove akan mudah dijumpai berbagai jenis bahan pencemar yang berasal dari kegiatan manusia biasa membuang sampah ke sungai atau, sehingga sampah tersebut terbawa arus dan terperangkap di daerah mangrove. Sehingga tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis sampah dan kepadatan sampah yang terdapat pada hutan mangrove di Desa Tanah Merah. Penelitian ini telah dilakukan di ekosistem mangrove Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang selama satu bulan yaitu pada bulan Juni 2021. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan cara survey, kemudian pengumpulan terhadap sampel sampah laut dilakukan dengan cara membuat garis transek sabuk (belt) dengan menarik garis transek sepanjang 100 m dan lebar 5 m setiap garis transek dengan jarak antar transek 450 m. Sampel yang di sortir berdasarkan jenis kemudian ditimbang dalam satuan gram dan dilakukan pengolahan data analisis menggunakan Microsoft Excel. Jenis sampah yang terdapat di Hutan Mangrove Desa Tanah Merah yang terindetifikasi adalah sampah jenis kantong plastik, karung, sepatu, kaleng, karet ban, kain, tali nilon, pecahan kaca, kertas, botol plastik, gelas plastik, botol kaca. Berdasarkan hasil analisis di setiap transek penelitian tersebut jumlah jenis sampah yang paling dominan adalah kategori sampah jenis kantong plastik di transek I, II, dan IV dan transek III yang paling dominan adalah gelas plastik. Diketahui jumlah potongan jenis sampah di Desa Tanah Merah dengan didominasi oleh jenis sampah kantong plastik yaitu total sebanyak 842 potongan, dengan nilai kepadatan mutlaknya 0,42 potongan dan kepadatatan relatif 46 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
WENDELINUS TAE (15380068). Persepsi Masyarakat Tentang Konversi Hutan Mangrove Menjadi Lahan Tambak Garam Di Desa Weseben, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka : ALFRED G. O. KASE, S.Pi, M.Si, Ph.D dan ROCKIE R.L SUPIT, S.Pi. M.Si, sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis yang khas, tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut, terutama didekat muara, sungai, laguna dan pantai yang terlindung dengan substrat lumpur atau lumpur berpasir. Konversi lahan mangrove menjadi lahan tambak garam secara besar-besaran juga terjadi di Desa Weseben Kecamatan Wewiku Kabupaten Malaka. Garam menjadi program dari pemerintah Kabupaten Malaka yang baru saja di kembangkan untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat sehingga perlu adanya pembuatan lahan tambak garam.
Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Weseben, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka selama satu bulan yaitu pada bulan Mei 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah semua masyarakat di Desa Weseben, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka dengan jumlah 254 KK. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling yaitu berjumlah 72 responden. Instrumen yang digunakan untuk mengambil data menggunakan koesioner (angket). Teknik analisis data yang digunakan adalah statistic deskriptif dengan presentase.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh bahwa pengetahuan masyarakat tentang hutan mangrove sebesar 86,11 % responden mengetahui secara baik tentang mangrove serta fungsi-fungsinya, dengan berturut-turut masyarakat yang tergolong dalam kategori sangat baik diperoleh nilai sebesar 8,33 %, dan kategori cukup baik dengan nilai sebesar 5,56 %. Untuk pengetahuan masyarakat tentang tambak garam diperoleh nilainya adalah 72,22 % responden mengetahui secara baik tentang tambak garam serta pengelolaannya, dengan berturut-turut masyarakat yang tergolong dalam kategori sangat baik diperoleh nilai sebesar 5,56 %, dan kategori cukup baik dengan nilai sebesar 22,22 %. Sedangkan Persepsi masyarakat tentang konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak garam di Desa Weseben, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka diperoleh nilai sebesar 73,61 % responden memahami secara baik tentang tujuan konversi serta manfaatnya, dengan berturut-turut masyarakat yang tergolong dalam kategori sangat baik diperoleh nilai sebesar 18,06 %, dan kategori cukup baik dengan nilai sebesar 8,33 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Maria Godelifa Seran (16381528) Analisis kelimpahan dan keanekaragaman gastropoda pada ekosistem mangrove di Pesisir Pantai Pohon Duri Oesapa Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang. Donny M. Bessie, S.Pi.,M.Si, Wilson L. Tisera, S.Pi.,M.Si, Ph.D sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Mangrove memiliki peran penting bagi kehidupan makluk hidup diperairan dan daratan. Ekosistem mangrove menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari erosi (abrasi), peredam badai dan gelombang, penangkap sedimen, habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding graund), dan tempat pemijahan (spawning graund) bagi biota perairan Salah satu biota yang sering dijumpai diekosistem mangrove adalah moluska dan moluska yang paling banyak ditemui pada ekosiste mangrove yaitu gastropoda. Gastropoda mempunyai peranan penting dari segi ekologi dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan dan keanekaragaman gastropoda yang meliputih analisis mangrove dan gastropoda dengan kerapatan jenis, kelimpahan Relatif, kelimpahan jenis, Indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan dominansi. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelimpahan jenis dan keanekaragaman gastropoda diPesisir Pantai Pohon Duri Oesapa mulai dari yang tertinggi hingga terendah yaitu masing-masing pada stasiun 1 memiliki 1.208 ind/m² yang terdiri dari 33 jenis gastropoda dan stasiun 2 memiliki 0.918 ind/m² yang terdiri dari 49 jenis. Kelimpahan jenis tertinggi Clithon dispar dengan jumlah 0,325 ind/m² dan jenis Nerita histrio dengan jumlah 0,297 ind/m². Kelimpahan jenis terendah yaitu Clypeomorus subbrevicula, Nassarius gaudiosus, Nassarius pullus, Clithon squamulata, Clithon soerbianus, Clithon francoisi, Nerita signata, Nerita dydima, Nerita squamulata dengan presentase 0,091%. Dari kedua stasiun ini kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dikategorikan sedang dan dominansi dikategorikan rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mangrove merupakan suatu komunitas tumbuhan yang terdapat di antara garis pasang surut, pantai berlumpur yang didominasi oleh spesies atau semak yang mampu bertahan dalam perairan payau. Fungsi ekologi mangrove adalah sebagai pelindung garis pantai, dapat mencegah instrusi air laut, sebagai tempat tinggal banyak biota (habitat), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan. Selanjutnya fungsi ekonominya adalah sebagai penghasil keperluan rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan sebagai tempat wisata. Desa Tesabela berada di Kecamatan Kupang Barat dan memiliki mangrove yang berada pada daerah pesisir pantai. Masyarakat di Desa Tesabela telah memanfaatkan kawasan pesisir sebagai sumber penghidupan mereka. Bentuk-bentuk pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar hutan mangrove pada daerah pesisir pantai berupa penebangan hutan untuk kayu bakar, aktivitas penangkapan ikan, mencari kerang, kepiting dan sebagainnya.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret 2022 yang bertempat di Pantai Batubao Desa Tesabela Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang. Berdasarkan hasil yang didapat bahwa jenis mangrove yang ditemukan di Desa Tesabela terdiri dari Aegialitis annulate, Ceriops tagal, Bruguiera cylindrical dan Sonneratia alba keempat spesies tersebut memiliki habitat yang sedikit berbeda yakni, spesies Rhizophora hidupnya di Pesisir pantai yang Tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir.Sedangkan habitat yang cocok buat kehidupan mangrove jenis Aegialitideae dan Sonneratiaceae adalah pada bagian daratan dari perairan pasang surut dan berbatasan dengan darat. Menyukai substrat pasir atau lumpur.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Struktur Komunitas Mangrove Pasca Badai Seroja Di Desa Oeteta Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang. Alfred G. O. Kase, Spi., M.Si dan Rockie R. L. Supit, S.Pi., M.Si (sebagai Pembimbing I dan II). Program Studi, Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Struktur komunitas merupakan suatu konsep yang mempelajari sususan atau komposisi spesies dan kelimpahannya dalam suatu komunitas. Mangrove adalah komunitas vegetasi/tumbuhan pantai tropis yang mampu menyesuaikan diri pada daerah berlumpur atau daerah tergenang pasang-surut. Secara umum mangrove adalah tanaman perdu yang tumbuh di bawah tingkat pasang tinggi. Pohon mangrove hidup dalam suatu komunitas pada suatu kawasan sehingga sering orang menyebut hutan mangrove. Mangrove banyak ditemukan di tepi pantai, teluk yang dangkal, esturia, delta dan daerah pantai yang terlindung. Desa Oeteta merupakan wilayah pesisir yang terletak di Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang. Desa ini memiliki sumber daya alam dan jasa lingkungan yang sangat kaya, yang di dalamnya terdapat sumber daya lahan garam rakyat yang sangat penting untuk kebutuhan manusia, dan juga terdapat ekosistem mangrove yang sangat bermanfaat bagi berbagai biota laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Struktur Komunitas Mangrove Pasca Badai Seroja Di Desa Oeteta Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang. Metode penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan observasi yaitu melakukan pengukuran dan pengamatan secara langsung di lapangan dengan menggunakan garis transek atau transec line plots.
Data yang diperoleh dianalisa untuk mendapatkan komposisi jenis, kerapatan, frekuensi dan indeks nilai penting berdasarkan jumlah tegakan setiap jenis mangrove. Hasil penelitian menunjukan atas tiga jenis mangrove yaitu Rhyzopora apiculata, Avicennia alba, dan Lumnitzera racemosa. Berdasarkan kategori setiap transek menunjukan bahwa Rhyzopora apiculata memiliki tingkat penutupan dan Avicennia alba memiliki kerapatan tertinggi dibandingkan, dengan Rhyzopora apiculata dan Lumnitzera racemosa. Nilai kerapatan mangrove pada kategori pohon 0,022ind/m², nilai frekuensi 1,00, Penutupan relatif jenis 38% dan indeks nilai penting tertinggi yaitu 0,69. Jenis biota yang ditemukan di ekosistem hutan mangrove di lokasi penelitian terdiri dari jenis ikan, udang, kerang dan kepiting.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FILIPUS YACOBUS FENDIRIKUS SERAN (18380046). Analisis Kesehatan Hutan Mangrove Dengan Menggunakan Metode Hemispherical Photography di Pantai Abudenok, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka. DONNY M. BESSIE, S.Pi., M.Si sebagai Pembimbing I dan Ir. YOHANES MERRYANTO, S. M.Si, Ph.D sebagai Pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana.
Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh di daerah pasang surut dengan karakterisktik tanah berlumpur atau berpasir serta memiliki kemampuan adaptasi sangat baik ketika daerah pasang surut mengalami surut terendah sampai pasang tertinggi. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode purposive sampling. Metode ini dipilih karena memiliki kelebihan seperti waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan lebih minimum dengan cangkupan wilayah yang telah mewakili kondisi tutupan mangrove di kawasan Pantai Abudenok. Penentuan titik stasiun penelitian dilakukan dengan pengamatan secara langsung dilapangan ketika survei pendahuluan (ground check). Hasil penelitian menunjukan bahwa komposisi vegetasi mangrove yang ditemukan berdasarkan identifikasi morfologi seperti ciri dari bentuk akar, buah dan daun di Pantai Abudenok sebanyak 5 (lima) jenis dari 3 (tiga) famili yaitu Avicenniaceae, Sonneratiaceae dan Rhizophoraceae. Dari keseluruhan stasiun penelitian, nilai persentase tutupan mangrove tertinggi terdapat pada stasiun II dengan nilai persentase 71,40%, selanjutnya diikuti oleh stasiun III dengan nilai persentase 53,51% dan nilai persentase terendah terdapat pada stasiun I dengan nilai persentase 44,72%. Nilai rata-rata persentase tutupan mangrove seluruh stasiun memperoleh nilai mencapai 56,54%. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 201 tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove, hal ini dapat dikatakan status kondisi tutupan mangrove tergolong dalam kondisi sedang atau baik. Hasil analisis data kerapatan mangrove berdasarkan tingkat pohon pada berbagai vegetasi mangrove didapatkan hasil yang berbeda-beda pada setiap stasiun. Jumlah total kerapatan pohon seluruh jenis mangrove pada setiap stasiun berkisar antara 933,32-1466,66 pohon/ha. Nilai rata-rata kerapatan mangrove di Pantai Abudenok mencapai 1188,88 pohon/ha dengan kondisi kerapatan mangrove di Pantai Abudenok tergolong sedang atau baik. Kerapatan jenis tertinggi pada stasiun I adalah jenis Avicennia officinalis dan Rhizophora stylosa (433,33 pohon/ha), stasiun II tertinggi pada jenis Avicennia officinalis (533,33 pohon/ha), dan pada stasiun III nilai tertinggi pada jenis Rhizophora stylosa (500 pohon/ha).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN MANGROVE DI WILAYAH PESISIR PANTAI DESA PARITI KECAMATAN SULAMU KABUPATEN KUPANG Mone, D. K)* Rafael, A)** Ngginak, J)** Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Desa Pariti Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki ekosistem mangrove, namun penebangan liar, alih fungsi lahan, dan pencemaran masih kerap dijumpai.tujuan adalah menginventarisasi jenis tumbuhan mangrove yang terdapat di wilayah pesisir Pantai Desa Pariti serta menganalisis kerapatan, dan dominansi. Metode yang digunakan adalah Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif atau metode campuran dengan cara melakukan observasi terlebih dahuluh kemudian peneliti menarik garis transek sejauh 50 M kemudian membuat plot pada kedua transek, kemudian peneliti melakukan penjelajahan di setiap plot untuk mengidentifikasi, mengamati dan mendeskripsikan spesies yang ditemukan di setiap plot. sedangkan teknik pengambilan sampelnya menggunakan line transek yang dimodifikasi berdasarkan metode garis pantai berpeta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 spesies mangrove di Pantai Pariti, yaitu Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan Ceriops tagal. Spesies-spesies tersebut termasuk dalam tiga famili, yaitu Rhizophoraceae, Lythraceae, dan Acanthaceae. Dengan nilai tertinggi keanekaragaman pada tingkat semai terdapat pada transek 2 plot 3 dengan nilai H’=5,81 dan terendah terdapat pada transek 1, plot 1 dengan H’= 0, dengan spesies yang mendominasi yaitu Sonneratia alba dan Avicennia alba. Nilai tertinggi keanekaragaman tingkat pancang terdapat pada transek 2 plot 3 dengan H’=5,76 dan terendah terdapat pada transek 1 plot 1 dengan H’=0 dengan spesies yang mendominasi Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa. Nilai tertinggi keanekaragaman tingkat pohon terdapat pada transek 2 plot 3 H’= 4,28 dan terendah H’=1,94 dengan jenis yang medominasi yaitu Sonneratia alba dan Avicennia alba. Kerapatan tertinggi pada tingkat semai sebesar 69 ind/ha (40,08%), pada tingkat pancang 2,8 ind/ha (1,62%) dan pada tingkat pohon 0,52 ind/ha (0,30%). Kata kunci : Inventarisasi, Mangrove, Pariti, Keanekaragaman, Kerapatan Keterangan : *) Peneliti **) Pembimbing ABSTRACT INVENTORY OF MANGROVE PLANT SPECIES IN THE COASTAL AREA OF PARITI VILLAGE, SULAMU DISTRICT, KUPANG REGENCY Mone, D. K)* Rafael, A)** Ngginak, J)** The mangrove ecosystem is one of the coastal ecosystems that has an important role in maintaining the balance of the coastal environment. Pariti Village, Sulamu District, Kupang Regency, is one of the coastal areas that has a mangrove ecosystem, but illegal logging, land conversion, and pollution are still often found. The aim is to inventory the types of mangrove plants found in the coastal area of Pariti Village Beach and analyze density and dominance. The method used is The method used in this study is qualitative and quantitative or mixed methods by conducting observations first then the researcher draws a transect line as far as 50 M then makes a plot on both transects, then the researcher explores each plot to identify, observe and describe the species found in each plot. while the sampling technique uses a modified line transect based on the mapped coastline method. The results showed that there are 6 mangrove species in Pariti Beach, namely Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, and Ceriops tagal. These species belong to three families, namely Rhizophoraceae, Lythraceae, and Acanthaceae. With the highest value of diversity at the seedling level found in transect 2 plot 3 with a value of H’=5.81 and the lowest found in transect 1, plot 1 with H’=0, with the dominant species being Sonneratia alba and Avicennia alba. The highest value of diversity at the sapling level found in transect 2 plot 3 with H’=5.76 and the lowest found in transect 1 plot 1 with H’=0 with the dominant species being Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora mucronata and Rhizophora stylosa. The highest value of diversity at the tree level found in transect 2 plot 3 H’=4.28 and the lowest H’=1.94 with the dominant species being Sonneratia alba and Avicennia alba. The highest density at the seedling level was 69 ind/ha (40.08%), at the sapling level 2.8 ind/ha (1.62%) and at the tree level 0.52 ind/ha (0.30%). Keywords: Inventory, Mangrove, Pariti, Biodiversity, Density Information: *) Researcher **) Adviser
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RINGKASAN MARIANA NADUASTI PENY (16383510) Hubungan Kerapatan Mangrove Terhadap Laju Transpor Sedimen di Kawasan Ekowisata Mangrove Kelurahan Oesapa Barat. Ir. Yohanes Merryanto S., M.Si, Ph.D sebagai Pembimbing 1 dan Dr. Beatrix M. Rehatta, S.Pi, M.Si sebagai Pembimbing 2. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Mangrove memiliki berbagai manfaat, salah satunya mengendalikan transpor sedimen. Kelurahan Oesapa Barat memiliki vegetasi mangrove yang cukup luas di wilayah Kota Kupang. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kerapatan mangrove terhadap laju transpor sedimen di kawasan Ekowisata Mangrove Kelurahan Oesapa Barat. Metode purposive sampling pada kondisi kerapatan tinggi dan rendah untuk menghitung kerapatan mangrove. Penempatan sediment trap pada bagian depan, tengah dan belakang vegetasi mangrove untuk mengetahui laju transpor sedimen. Suhu perairan, kecepatan arus dan kedalaman perairan menjadi parameter yang diukur. Analisis korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan kerapatan mangrove terhadap laju transpor sedimen. Jenis mangrove yang ditemukan yaitu Avicennia alba, Lumnitzera racemose, Rhizopora mucronata dan Sonneratia alba. Hasil penelitian menunjukan hubungan kerapatan mangrove terhadap laju transpor sedimen bernilai -1 yang berarti kerapatan mangrove yang semakin tinggi menyebabkan laju transpor sedimen semakin rendah dan sebaliknya. Kata kunci: Kerapatan mangrove, laju transpor sedimen, ekowisata Kelurahan Oesapa Barat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAT
ETNOBOTANI MANGROVE DI KELURAHAN OESAPA BARAT KECAMATAN KELAPA LIMA KOTA KUPANG YANG DIMANFAATKAN SEBAGAI OBAT
Taebenu C.A)* Rupidara A.D.N)** Ngginak J)**
Etnobotaniadalahsegalabentukpengetahuantumbuhan yang menggambarkanhubunganantaramasyarakatlokal (etnis) dengansumberdayaalam.Hutan mangrove adalahkomunitaspantaitropisdan sub-tropis yang dapatmenginvasidantumbuh di lingkungan air laut, hutan mangrove banyakdigunakansebagaisumberbahansandang, pangandanpapan.Penelitianinibertujuanuntukmengetahuijenis-jenistumbuhan mangrove yang dimanfaatkansebagaiobat; Bagian/organ tumbuhan mangrove yang digunakansebagaiobat; Cara pengolahdanpengaplikasiantumbuhan mangrove yang dimanfaatkansebagaiobatolehmasyarakatKelurahanOesapa Barat, KecamatanKelapa Lima, Kota Kupang.PenelitianinidilakukanpadabulanAgustussampai September 2021.Metode yang digunakandalampenelitianinibersifatsurvei, sedangkanpengambilansampelsertapengumpulan data tumbuhan mangrove yang dimanfaatkansebagaiobatdilakukandenganmetodeeksplorasi di sekitarKelurahanOesapa Barat.Kuesioner yang digunakandalampenelitianadalahkuesionerterbukadaninforman yang ditentukanadalahtokohmasyarakat, pengobat yang pernahmenyembuhkanpasiendanpasien.Hasilpenelitianmenunjukanbahwadiperoleh 4 jenistumbuhan mangrove yang dimanfaatkansebagaiobatuntukmenyembuhkanpenyakityaituRhizophoraapiculata, Rhizophoramucronata, Avecennia marinadanCeriopstagal.Organ/bagian yang digunakanyaitu, kulitkayudandaun.Cara pengolahannyayaitudirebusdandirendam.Sedangkanpenyakit yang disembuhkanyaitumencret, muntah, demamdanpendarahanpadalukabaru.
Kata kunci :Etnobotani, Tumbuhan mangrove, obat.
* Penulis
**Pembimbing
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rhyzophora stylosa Griff termasuk salah satu jenis mangrove yang dapat dijumpai di hampir semua hutan mangrove. Tumbuhan ini memiliki kemampuan adaptasi tinggi dengan ditemukannya pada kondisi lingkungan yang cukup ekstrim. Rhyzophora stylosa Griff dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan bangunan serta kayu bakar, dan memiliki kemampuan mengobati beberapa penyakit seperti diare, rematik, nyeri otot, luka dalam, sakit pinggang, sakit tulang, dan menghentikan pendarahan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengisolasi dan identifikasi jamur endofit pada daun mangrove Rhyzophora stylosa Griff. Penelitian ini menggunakan metode survei dan eksperimental dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive dengan masing-masing perlakuan dua kali. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif yaitu meliputi karakteristik makroskopis serta dari masing-masing jamur yang berhasil diisolasi dari daun muda dan daun tua mangrove Rhyzophora stylosa Griff. Diperoleh simpulan yakni terdapat 9 isolat jamur mikroskopis yang diisolasi dari daun muda dan daun tua mangrove Rhyzophora stylosa Griff, yang berasal dari 2 genus yakni genus Trichoderma (3 isolat), Aspergillus (6 isolat), dimana masing-masing memiliki karakteristik makroskopis dan mikroskopis yang berbeda-beda
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RINGKASAN YONATAN PADALANI (15380102) Struktur Komunitas Mangrove di Desa Pante Deera, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor. Donny M. Bessie, S.Pi, M.Si. dan Wilson L.Tisera, S.Pi, M.Si. Ph.D (sebagai pembimbing I dan II). Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Mangrove atau hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Desa Pante Deera memiliki kawasan pesisir yang ditumbuhi hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas mangrove di Desa Pante Deera Kecamatan Kabola Kabupaten Alor Metode metode yang digunakan dalam penelitian ini adalahmetode survey dan metode purpose sampling, pengamtan secara langsung di lapangan. Pengamatan dan pengambilan data ekosistem mangrove dilakukan yaitu menggunakan garais transek. Jumlah transek sebanyak 3 plot. Untuk kategori pohon ukuran 10x10 m2, untuk kategori anakan 5x5 m2 dan untuk kategori semai ukuran 1x1 m2 jarak antar transek adalah 133 meter dan jarak antar plot adalah 16 meter. Data yang dianalais meliputi kerapatan jenis, kerapatan relatif, frekuensi jenis, frekuensi relatif, dominasi jenis, dominasi relatif, indeks nilai penting dan indeks keanekaragaman. Hasil penelitian menunjukan komposisi jenis mangrove yang ditemukan terdiri dari 4 jeneis yaitu Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Bruguiera gimnorrhiza, Exoecaria agallocha. kerapatan jenis dari relative jenis mangrove tertinggi kategori pohon dan anakan Rhizopora apiculata dan terendah Exoecaria agallocha. untuk kategori semai tertinggi Rhizopora apiculata dan terendah Bruguiera gimnorrhiza dan Exoecaria agallocha. keanekaragaman jenuis mangrove tergolong rendah, rendahnya nilai keanekaragaman disebabkan adanya tekanan lingkungan. Dominasi jenis dan dominasi relatif jenis mangrove tertinggi kategori pohon dan anakan Rhizopora apiculata dan terendah Exoecaria agallocha kategori semai tertinggi Rhizopora apiculata dan terendah Bruguiera gimnorrhiza dan Exoecaria agallocha. Kata kunci: Struktur Komunitas, Mangrove, Desa Pante Deera
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekowisata mangrove merupakan objek wisata yang berwawasan lingkungan dimana wisata tersebut mengutamakan aspek keindahan yang alami dari hutan mangrove serta fauna yang hidup di sekitarnya tanpa harus merusak ekosistem tersebut untuk membuatnya lebih menarik wisatawan. Ekowisata merupakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat pesisir yang dapat menambah pendapatan mereka. Selain itu dalam pengelolaan ekowisata dan strategi konservasi hutan mangrove, keterlibatan para stakeholders sangat berperan penting. Proyek ekowisata dapat berhasil jika stakeholders melaksanakan peran mereka dalam pengelolaan ekowisata maupun konservasi hutan mangrove. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus 2020, dengan tujuan untuk merumuskan strategi pengembangan ekowisata hutan mangrove di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Analisis data menggunakan analisis SWOT. Strategi yang dipakai adalah progresif dimana pengembangan ekowisata hutan mangrove di Desa Silawan Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu sedang berkembang, dan memiliki prioritas yang paling tepat dilakukan adalah (1) Meningkatkan sistem pengelolaan ekowisata mangrove lebih maksimal serta menjaga ekosistem mangrove dan fauna yang ada, guna menarik perhatian bagi setiap pengunjung yang datang, (2) Pengembangan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan wisata,(3) Membangun komitmen bersama antara instansi terkait dalam proses pengembangan ekowisata ke depan, (4) Pemanfaatan potensi dan ekosistem untuk pengembangan ekowisata yang menjunjung tinggi nilai kelestarian alam
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RINGKASAN
YUSMINA FATIN (17382420) Strategi Pengembangan Potensi Objek Ekowisata Mangrove Litianak Di Desa Holulai Kecamatan Loaholu Kabupaten Rote Ndao: ROCKIE R. L. SUPIT, S.Pi, M.Si dan WILSON L. TISERA, S.Pi, M.Si., Ph.D sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Ekowisata merupakan sektor pariwisata yang berpotensi sebagai salah satupenunjang perekonomian nasional, dari ekowisata juga dapat dimanfaatkan olehpemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Sarana dan prasaran juga merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menunjang suatu kegiatan wisata, agar setiap pengunjung mendapatkan kemudahan rasa nyaman dan merasa puas dalam berwisata. Mangrove Litianak merupakan salah satu ekowisata Hutan Mangrove yang berada di Desa Holulai dan banyak dikunjungi oleh wisatawan,laut yang jernih serta hamparan pasir putih, Lopo-lopo, Jembatan/trackyang indah menjadi potensi menarik bagi pengunjung.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2021 di DesaHolulai.Metodeyangdigunakanyaknimetodesurvey.TeknikpengambilansampeldengancarapurposivesamplingmenggunakanrumusSlovin.Analisisdata terhadap potensi objek dan daya tarik wisata alam diuraikan secara deskriptifdandiolahmenggunakanPedomanAnalisisDaerahOperasiObjekdanDayaTarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) Dirjen PHKA tahun 2003 dan menganalisisstrategipengembanganmenggunakan analisis SWOT.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ekowisata Mangrove Litianak dengan tingkat penentuan alternatif strategi pengembangan ekowisata mangrove Litianak Desa Holulai sebesar 3,84. Dari hasil analisisSWOT, terdapat 3 prioritas utama yang diambil berdasarkan peringkat yaitu meningkatkan sistem pengelolaan ekowisata mangrove lebih maksimal serta menjaga ekosistem mangrove dan fauna yang ada, guna menarik perhatian bagi setiap pengunjung yang datang yaitu dengancara memberikan lebih banyak bantuan berupa bahan-bahan infrastruktur wisata yang ramah lingkungan untuk memperbaiki dan menjaga ekowisata yang lebih baik
KataKunci:Strategi, Pengembangan, Ekowisata, Mangrove, SWOT, Litianak
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem perpaduan antara ekosistem lautan dan daratan dan berkembang terutama di daerah tropika dan sub tropika yaitu pada pantai- pantai yang landai, muara sungai dan teluk yang terlindung dari hempasan gelombang air laut. Dengan demikian hutan mangrove merupakan penyangga ekosistem daratan dan lautan, dan merupakan mata rantai yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan biologi di suatu perairan (Harahap, 2010). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis komunitas mangrove di Desa Holulai Kecamatan Loaholu Kabupaten Rote Ndao. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Line Transect. Analisis data menggunakan kerapatan jenis, kerapatan relatif jenis, frekuensi jenis dan indeks keanekaragaman. Terdapat 5 jenis mangrove yang ditemukan di Desa Holulai Kecamatan Loaholu Kabupaten Rote Ndao yaitu Sonneratia caseolaris, Avicennia alba, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa dan Sonneratia alba. Jenis yang memiliki kerapatan yang tinggi ditemukan pada tingkat pohon yaitu jenis Sonneratia caseolaris dengan kerapatan 0.11 ind/m2 dan kerapatan relatif 34.37%. Jenis yang memiliki kerapatan yang rendah terdapat pada Sonneratia alba pada tingkat pohon dengan nilai kerapatan sebesar 0.02 ind/m2 dengan kerapatan relatif sebesar 7.14%.Indeks keanekaragaman ekosistem mangrove di kawasan Desa Holulai tergolong rendah, yaitu (H’)=H’1.