ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mikroplastik merupakan plastik dengan diameter berdimensi kurang dari 5 milimeter. Mikroplastik sendiri biasanya berasal dari sampah plastik yang terurai menjadi sangat kecil. Permasalahan paling utama yang dibawa oleh mikroplastik merupakan bahan pada mikroplastik yang terdapat bahan pencemar sehingga bisa mengganggu ekosistem. Salah satu yang jadi permasalahan dari mikroplastik yakni berkurangnya kelimpahan biota laut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling dan penelitian ini menggunakan data primer dimana pengambilan sampel langsung di lapangan. Pengambilan data diambil dengan membeli langsung ikan hasil tangkapan nelayan yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian dan dibawah ke laboratorium untuk diteliti. Hasil pengujian mikroskop stereo pada 20 sampel saluran pencernaan ikan tongkol (Auxis rochei) yang diambil dari perairan Teluk Kupang menunjukkan adanya mikroplastik dalam sampel yang diteliti. Berdasarkan hasil pengamatan mikroplastik yang ditemukan pada sampel saluran pencernaan ada tiga jenis mikroplastik yaitu mikroplastik jenis Fiber, mikroplastik jenis film, dan mikroplastik jenis fragmen. Kelimpahan total mikroplastik pada 20 sampel saluran pencernaan ikan tongkol memiliki nilai sebesar 1,45 partikel/individu. Perhitungan kelimpahan ini dilakukan dengan membagi keseluruhan partikel mikroplastik yang ditemukan (film, fiber dan fragmen) dengan jumlah keseluruhan sampel, yakni 20 sampel. Kelimpahan mikroplastik pada pada kelas yang pertama dengan ukuran ikan 16-19 cm sebesar 1 partikel/individu. Pada kelas yang kedua dengan ukuran ikan 20-24 cm memiliki kelimpahan sebesar 1,9 partikel/individu. Ikan pada kelas kedua memiliki kelimpahan mikroplastik yang lebih besar dibandingkan dengan kelas pertama. Ini disebabkan karena bukaan mulut ikan lebih besar dan makan lebih banyak. Dengan kondisi perairan Teluk Kupang yang sebagaian lokasi pesisirnya ramai dengan aktivitas manusia dimana beberapa tempat memiliki parawisata, pasar, pertokoan dan rumah warga disekitar pantai yang menyebabkan bayak sampah yang dibuang kelaut dan dapat menyebabkan adanya mikroplastik
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Makrozoobenthos adalah organisme dasar yang berukuran relatif besar yaitu lebih dari 1 mm. Keberadaan organisme ini di dasar perairan sangat dipengaruhi oleh perubahan kondisi perairan. Perubahan-perubahan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai aktifitas baik secara alami seperti sedimentasi dan aktifitas non-alami seperti penambangan bauksit. Keberadaan dan kelimpahan beberapa jenis makrozoobenthos sebagai hewan bentik sangat dipengaruhi oleh kondisi habitatnya yaitu sedimen dasar dan kualitas air. Sedimen dasar selain sebagai habitat komunitas makrozoobenthos juga menyediakan sumber bahan makanan bagi beberapa jenis makrozoobenthos. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui komposisi jenis, Kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi di Perairan Nitneo Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei langsung yaitu teknik pengumpulan data dengan menghitung dan mengukur langsung di lapangan. Penentuan stasiun di lokasi penelitian menggunakan metode purposive random sampling dan metode transek. Hasil penelitian menunjukan Jumlah jenis makrozoobenthos yang ditemukan di Perairan Nitneo Kecamatan Kupang Barat terdiri dari 14 family, 15 genus dan 15 spesies makrozoobenthos.Kelimpahan jenin makrozoobenthos tertinggi yaitu Protoreaster nodosus dengan nilai kelimpahan jenis dan terendah yaitu Libnia emarginata dan Pseudorhombus arsius . Kelimpahan relative tertinggi yaitu Protoreaster nodosus dan kelimpahan relative terendah yaitu Libnia emarginata. Hasil perhitungan indeks keanekaragaman diperoleh nilai 0,1 termasuk dalam kategori rendah, perhitungan indeks keseragaman diperolen nilai 0,09 dengan kategori rendah dan Indeks dominansi pada lokasi penelitian sebesar 0,15 dikategorikan tidak ada jenis yang mendominansi
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting merupakan subfilum dari krustasea, dengan ciri khas tubuh dilindungi oleh karapas dan memiliki capit. kepiting tumbuh melekat pada substrat berpasir, berbatu, dan sedikit berlumpur menjadikannya sebagai habitat yang baik bagi kehidupan kepiting. Secara ekonomi biota ini telah banyak dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan makanan dan juga dapat diperjual belikan. secara ekologis terhadap lingkungan perairan estuaria yaitu sebagai pengkonversi nutrien, penambahan sumber mineral, dan meningkatkan distribusi oksigen di dalam tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis atau spesies serta kelimpahan dan keanekaragaman kepiting di Pantai Penyai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode transek kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan kepiting yang ditemukan di perairan Pantai Penyai terdiri dari 6 famili dengan total 7 spesies yaitu Thalamita admete, Grapsus albolineatus, Actaeodes tomentosus, Polodius areolatus, Ocypode ceratophthalmos, Calappa bicornis, dan Tiarinia angusta. Berdasarkan hasil perhitungan Nilai H’ keanekaragaman spesies kepiting pada lokasi penelitian stasiun I yaitu (1,36) dan stasiun II yaitu (1,09) sedangkan jumlah spesies pada stasiun I (4) dan stasiun II (3). Berdasarkan kriteria indeks keanekaragaman tersebut maka semua nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh pada stasiun I dan stasiun II menunjukkan tingkat keanekaragaman spesies berada pada kategori sedang. Kelimpahan pada stasiun I memiliki total kelimpahan 6,6 dan pada stasiun II memiliki total kelimpahan 4,15. Indeks dominasi pada lokasi pengamatan stasiun I yaitu 0,26 sedangkan pada stasiun II yaitu 0,33. Berdasarkan kriteria indeks dominansi tersebut maka semua nilai indeks dominansi yang diperoleh pada stasiun I dan stasiun II menunjukkan tidak adanya jenis kepiting yang mendominasi. Perlu dilakukan penelitian lebih dalam mengenai, keanekaragaman kepiting di Kawasan Pantai Penyai dan dilakukan pengulangan saat pasang surut air laut. Agar didapatkan data yang lebih akurat
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RINGKASAN
DIKSON RATU PA (17381950). Struktur Komunitas Echinodermata Pada Ekosistem Lamun Di Perairan Desa Ramedue Kecamatan Hawu Mehara Kabupaten Sabu Raijua; Dr. BEATRIX M. REHATTA. S, Pi., M Si sebagai Pembimbing I dan WILSON L. TISERA., S,Pi. M.Si. Ph.D sebagai Pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Echinodermata merupakan salah satu hewan yang penting dalam ekosistem laut dan bermanfaat sebagai salah satu komponen dalam rantai makanan, pemakan sampah organik dan hewan kecil lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Struktur Komunitas Echinodermata di Perairan Ramedeu.
Penelitian ini telah dilaksanakan selama 1 bulan yaitu pada bulan Maret 2021. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel Echinodermata menggunakan metode Transek Sabuk (Blet Transect).Transek dipasang tegak lurus dengan garis pantai sepanjang 100 m. kemudian dilakukan pengamatan ke kiri dan kanan transek 2,5 m x 2,5 m. jarak antra transek 50 m. sehinggga didapatkan total luas area pengamatan adalah 500 m2. Setiap stasiun dilakukan pemasangan tiga transek. Analisis data dilakukan terhadap Kelimpahan, Keanekargaman, Keseragaman dan Dominansi. Faktor fisik-kimia perairan juga diambil sebagai data pendukung
Hasil penelitian echinodermata di Perairan Desa Ramedue ditemukan13 spesies, 4 class dengan jumlah 440 individu. Stasiun I terdapat 12 spesies dari 4 Class, Stasiun II terdapat 12 spesiesdari 4 Class, sertastasiun III terdapat 13 spesies dari 4 Class. Struktur komunitas echinodermata di Perairan Desa Ramedue memiliki kelimpahan jenis dan relatif berbeda-beda yakni stasiun I yang tertinggi yaitu jenis Tripneustesgratlla dengan nilai sebesar 0,019 ind/m², 18%, stasiun II Tripneustesgratlla dengan nilai sebesar 0,016 ind/m², 17%, dan stasiun III Diademasetosum dengan nilai sebesar 0,016 ind/m², 17%. Indeks keanekaragaman jenis yang berbeda-beda yakni stasiun I memperoleh nilai sebesar 1,001, stasiun II memperoleh nilai sebesar 1,027, serta stasiun III memperoleh nilai sebesar 1,047 tergolong keanekaragaman sedang. Nilai indekskeseragaman pada stasiun I sebesar 0,928, stasiun II sebesar 0,952, dan stasiun III sebesar 0,940. Berdasarkan kriteria maka nilai indek skeseragaman Filuum Echinodermata pada stasiun I, II dan III memiliki nilai populasi yang stabil, dan nilai indeks dominansi pada stasiun I yakni 0,110, stasiun II yakni 0,104, dan pada stasiun III yakni 0,094. Hasil analisis dominansi menunjukan bahwa tidak ada spesies yang mendominansi dengan nilai tidak mendekati 1 atau mendekati 5. Tidak ada jenis Echinodermata yang mendominansi pada stasiun 1, II dan III.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PAULUS B. TAOLIN (16384223) Struktur Komunitas Makroalga di Perairan Pantai Nunhila dan Nunbaun Delha, Kota Kupang. Dr. Beatrix M. Rehatta, S.Pi., M.Si selaku Pembimbing I dan Donny M, Bessie, S.Pi, M.Si, selaku Pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana. Makroalga merupakan tumbuhan thallus (Thallophyta) dimana organ-organ berupa akar, batang dan daunnya tidak terdiferensiasi dengan jelas (tidak sejati). Pesisir pantai Nunhila dan Nunbaun Delha Kecamatan Alak Kota Kupang, Merupakan salah satu daerah pesisir yang memiliki potensi sumberdaya makroalga yang cukup melimpah. Makroalga di Nunhila dan Nunbaun Delha memiliki keanekaragaman spesies (biodiverisity) yang tinggi namun organime ini sangat rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan atau tekanan ekologis baik secara alami seperti gelombang arus dan musim menjadi faktor pemicu perubahan habitat makroalga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas makroalga di kawasan perairan Pantai Nunhila dan Nunbaun Delha. Penelitian ini menggunakan metode observasi atau pengamatan langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa komposisi makroalga yang ditemukan perairan pantai Nunhila dan Nunbaun Delha berasal dari 3 divisi Chlorophyta terdiri dari 4 spesies yaitu Chaetomorpha intestinali, Ulva Reticulata, Enteromorpha intestinalis dan Ulva lactuca. Divisi Phaeophyta terdiri dari 2 spesies yaitu Sargassum sp dan Padina australis. Divisi Rhodophyta terdiri dari 3 jenis yaitu Gracilaria salicornia, Acanthophora specifera dan Gigartina sp. Nilai indeks keanekaragaman Pantai Nunhila 0,89 dan Nunbaun Delha 0,89 (H') tergolong rendah, indeks keseragaman Pantai Nunhila yaitu 0,93 dan Nunbaun Delha 0,93 (E) tergolong merata dan indeks dominansi (D) Pantai Nunhila 0,13 dan Nunbaun Delha 0,14 menunjukan tidak ada jenis yang mendominansi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN TERIPANG DI PERAIRAN LAUT DESA WATODIRI, KECAMATAN ILE APE, KABUPATEN LEMBATA
Geriang. V)* Hendrik. A. Ch )** Theedens. R. G. P. M)**
Dengan kondisi alam dan iklim yang tidak banyak mengalami perubahan sepanjang tahun, memungkinkan banyak jenis biota ekonomis penting yang hidup di perairan pantai Indonesia. Teripang merupakan salah satu hewan dari Filum Echinodermata yang memiliki peranan secara ekologis maupun ekonomis. Teripang memiliki peran yang cukup penting dalam perairan, karena merupakan komponen utama dalam rantai pakan (food chain) terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder). Tingkah laku teripang yang “mengaduk” dasar perairan dalam cara mendapatkan pakannya, membantu menyuburkan substrat di sekitarnya. Untuk itu diperlukan informasi dasar terkait jenis teripang yang terdapat di Kabupaten Lembata khususnya desa watodiri. Pengambilan sampel dilakukan pada pagi dan sore hari,yaitu pada saat kondisi air surut.sampel selanjutnya diidentifiksi jenisnya berdasarkan perbedaan morfologi.hasil analisis bentuk warna dan tipe spikula pada teripang tersebut menunjukan, terdapat empat jenis teripang yang didapatkan pada pantai desa watodiri yaitu Holothuria scabra, Holothuria fuscocinerea, Holothuria arta, dan Stichopus horeens. Dari perhitungan keanekaragaman menggunakan Shannon Weiner dihasilkan yaitu 1,29. Hal ini menunjukan indeks keanekaragaman di perairan laut desa watodiri tergolong dalam kategori sedang. Kelimpahan teripang pada perairan Desa Watodiri yaitu untuk kelimpahan spesies H. scarba adalah 0,051 idn/m2, H. fuscocinerea adalah 0,063 idn/m2, H. arta dengan nilai terendah yaitu 0,018 idn/m2, S. horrens dengan nilai paling tinggi yaitu 0,072 idn/m2.
Kata kunci : Keanekaragaman, teripang dan kelimpahan
Keterangan : *) Peneliti
**) Pembimbing
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN JENIS GASTROPODA DI PANTAI MOTADIKIN DESA FAHILUKA KECAMATAN MALAKA TENGAH KABUPATEN MALAKA
Agustina, D)* Alan, Ch. S)** Daud, Y)**
Di perairan Indonesia hampir semua bentuk dasar laut dapat ditemukan seperti paparan lereng, terumbun karang dan lain sebagainya. Bentuk dasar laut yang majemuk beserta lingkungan air yang memberikan kemungkinan munculnya keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, dengan sebaran yang luas secara merata. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa Saja jenis-jenis gastropoda yang ada di Pantai motadikin desa fahiluka kecamatan malaka tengah kabupaten malaka dan untuk mengetahui kelimpahan jenis dan indeks keanekaragamang gastropoda di pantai motadikin desa fahiluka kecamatan malaka tengah kabupaten malaka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Pengambilan sampel gastropoda dalam penelitian ini menggunakan metode line transek. Hasil penelitian menunjukan gastropoda yang ditemukan di perairan Pantai Motadikin dikategorikan dalam 6 famili yaitu Potamididae, Littorinidae, Muricidae, Nassarius, Neritidae, Ellobiidae, Olividea dengan 13 spesies yaitu C. quoyii, C. djadjarensis, T. telescopium, T. sulcata, L. lutea, L. scabra, L. undulate, L. carinifera, N. reticulatus, C. capucinus, C. nucleus, O. reticularis, N. lineata yang tersebar di 4 transek pengamatan. Berdasarkan hasil perhitungan jenis gastropoda yang ditemukan pada lokasi penelitian transek 1 sampai 3 memiliki keanekaragaman sedang yaitu T1(2,40), T2(2,58),T3 (2,17), T4 (2,31) dan kelimpahan tertinggi yakni 25,75 ind/m pada setiap transek pengamatan, hasil penelitian ini, diharapkan dapat dijadikan sumber atau informasi ilmiah dalam hubungannya dengan pembelajaran dengan mata kuliah zoologi invertebrata serta mata kuliah ekologi.
KATA KUNCI: Spesies gastropoda, Kelimpahan, Keanekaragaman
Keterangan:
* Peneliti
** Pembimbing
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN BINTANG LAUT (ASTEROIDEA)
DI PANTAI WELOLO
Lipiwata, Y.A)* Rupidara ,A. D. N)** Ngginak, J)**
Lokasi Pantai Welolo berada tepat di Desa Mausamang, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor. Lokasi yang memiliki substrat seperti pasir putih, terumbu karang, hutan mangrove dan lamun. Hasil wawancara sebelumnya bahwadi Pantai Welolo bahwa terdapat juga beberapa spesies yang biasa ditemukan seperti seperti spesies Archaster typicusdanProstoreaster nodosus. Selanjutnya, dijelaskan bahwa masyarakat Desa Mausamang juga memanfaatkan lendir dari Bintang Laut untuk mengobati luka pada tubuh dengan tujuan mengurangi keluarnya darah pada luka tersebut.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan Bintang Laut (Asteroidea) di Pantai Welolo. Penelitian dilakukan pada tanggal 30 September sampai dengan 4 Desember 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode transek ploting sistematis yang menggunakan 3 transek dengan jarak masing-masing transek 70 m. Pada tiap transek dibuat 4 plot dengan ukuran5 x 5 m, dengan jarak antara plot 10 m. Pembagian transek ditentukan berdasarkan substrat yaitu transek 1 (substrat berpasir), transek 2 (substrat lamun) dan transek 3 (substrat berkarang). Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, penghitungan, pengukuran dan pengambilan sampel di lapangan. Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, ditemukan tiga spesies Asteroidea yaitu spesies Protoreaster nodusus, Linckia laevigata dan Archaster typicus dengan jumlah total sebanyak 121 individu. Hasil perhitungan indeks keanekaragaman Shannon Wienner diperoleh nilai H’ pada T1 (0.81), T2 (0,70), T3, (0,36). Jumlah spesies yang diperoleh T1 (3), T2 (3), T3, (2). Sehingga berdasarkan kriteria indeks keanekaragaman maka hasil indeks keanekaragaman yang diperoleh di Pantai Welolo rendah. Hasil analisis kelimpahan diketahui Spesies Protoreaster nodusus lebih banyak ditemukan dengan nilai 2,44 ind/m2. Hal ini karena kondisi Pantai Welolo terdapat banyak substrat pasir dan lamun yang merupakan habitat yang cocok untuk kehidupan Protoreaster nodusus. Indeks dominasi dari ketiga spesies kurang dari 0,50, sehingga tidak ada spesies yang mendominasi. Hal ini Maka Perlu adanya pelaksaanaan beberapa tindakan pencegahan untuk membatasi aksesibilitas masyarakat terhadap sumber daya laut dengan tujuan melindungi persediaan keanekaragaman hayati khususnya Bintang Laut (Asteroidea), sehingga tetap terjaga kestabilan kehidupan dari Bintang Laut
Kata kunci : Keanekaragaman, Kelimpahan Bintang Laut (Asteroidea)
Keterangan * : Peneliti
** : Pembimbing
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Yusuf B. Ndapa (16384071) Struktur Ekologi Bivalvia di Pesisir Pantai Sulamanda, Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang: Alfred G. O. Kase, S.Pi., M.Si., Ph.D dan Rockie R. L. Supit, S.Pi., M.Si sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Secara ekologi, pesisir pantai Sulamanda memiliki habitat bagi keberlangsungan hidup bivalvia. Kehadiran beberapa bivalvia ekonomis di pesisir pantai Sulamanda menjadikannya sebagai bahan pangan untuk masyarakat di sekitar pesisir pantai tersebut salah satunya adalah Anadara sp. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas bivalvia meliputi keanekaragaman, keseragaman, dominansi, kepadatan dan kelimpahan jenis di pesisir pantai Sulamanda Desa Mata Air.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2021, di pesisir Pantai Sulamanda, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah observasi langsung lapangan. Penentuan lokasi sampling menggunakan teknik purposive sampling dan teknik pengambilan sampel menggunakan metode transek kuadran yang diletakkan tegak lurus dengan garis pantai pada saat air laut surut di lokasi keberadaan bivalvia. Analisis data dilakukan secara kuantitatif meliputi indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi dan indeks kelimpahan.
Hasil penelitian ini meliputi: Komposisi jenis bivalvia antara lain Stasiun I sebanyak 4 spesies dari 4 famili, Stasiun II sebanyak 3 spesies dari 3 famili, dan Stasiun III sebanyak 8 spesies dari 8 famili. Indeks keanekaragaman bivalvia yang ditemukan di ketiga stasiun tergolong keanekaragaman rendah. Indeks keseragaman di stasiun II tergolong dalam kondisi tertekan dan memiliki keseragaman rendah dan stasiun I dan III dikatakan bahwa ekosistem kurang stabil dan mempunyai keseragaman sedang. Indeks dominansi bivalvia di pantai Sulamanda Desa Mata Air tergolong sedang. Kelimpahan jenis bivalvia tertinggi terdapat di stasiun II adalah jenis Gemma gemma sebesar 91,567 individu/m², dan terendah di stasiun III yaitu jenis Anadara granosa sebesar 0,033 individu/m². Kepadatan relatif bivalvia tertinggi adalah Gemma gemma sebesar 95% di stasiun II, diikuti oleh Ostrea sp sebesar 59,5% di stasiun III dan Ostrea sp sebesar 47,7%. Kelimpahan tertinggi bivalvia adalah Gemma gemma sebanyak 119,43 individu/² dan Ostrea sp sebanyak 61,76 individu/m².
Kata Kunci: Bivalvia, Struktur komunitas, Kelimpahan, Keanekaragaman, Pantai
Sulamanda
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN MAKROALGA DI PANTAI NOKALIMAK DESA TUNGANAMO KECAMATAN PANTAI BARU
Aufengo, L, D)* Rafael, A )** Nge, T, S )**
Makroalga merupakan tumbuhan thallus yang organ-organnya berupa akar, batang, dan daunnya yang belum berdiferensiasi dengan jelas. Makroalga tumbuh melekat pada substrat tertentu seperti pada karang, lumpur, pasir, batu, dan benda keras lainya. Selain benda mati, makroalga juga dapat melekat pada tumbuhan lain secara epifitik. Secara ekologi komunitas makroalga berperan sebagai tempat asuhan dan perlindungan bagi jenis-jenis ikan, tempat pemijahan dan sebagai tempat mencari makanan ikan-ikan herbivor. Secara ekonomi makroalga memiliki potensi sebagai bahan produk kosmetik dan sebagai sumber pangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis, keanekaragaman dan kelimpahan makroalga di Pantai Nokalimak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Line transect dengan menggunakan teknik sampling kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan makroalga yang ditemukan di perairan Pantai Nokalimak dikategorikan dalam 3 kelas yaitu Chlorophyta, Rhodophyta dan Phaeophyta Jenis makroalga yang terdapat di pantai Nokalimak dikategorikan dalam 3 kelas 10 famili dengan total 15 spesies yaitu Chaetomorpha crassa, Caulerpa racemosa, Caulerpa sertularioides, Caulerpa lentillifera, Helimeda tuna, Helimeda opuntia, Avrainvillea erecta, Codium rapuh, Boergesenia forbesii, Eucheuma cottoni, Amphiroa fragilissima, Padina australis, Sargassum polycystum, Turbinaria ornata, Sargassum cristaefolium. Berdasarkan hasil perhitungan Nilai H’ keanekaragaman spesies makroalga pada lokasi penelitian T1 (2,63), T2 (2,02), T3 (2,43), T4 (2,03) dan T5 (2,47) sedangkan jumlah spesies T1 (15), T2 (9), T3 (15), T4 (9) dan T5 (15). Berdasarkan kriteria indeks keanekaragaman tersebut maka semua nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh pada TI sampai dengan T5 menunjukkan tingkat keanekaragaman spesies berada pada kategori sedang. Kelimpahan jenis Trensek 1 sampai 5 memiliki kelimpahan 17.12 ind/m². Sedangkan kelimpahan relatif makroalga yang paling tertinggi terdapat pada spesies Helimeda opuntia sebesar (17,75%) dan terendah pada spesies Caulerpa racemosa , Caulerpa lentillifera, dan Codium rapuh dengann nilai (1,63%). Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keanekaragaman makroalga pada daerah tubir, habitat lamun, karang dan juga mengenai manfaat makroalga untuk masyarakat sekitar di Desa Tunganamo.
Kata Kunci: Keanekaragaman, Kelimpahan, Makroalga
Keterangan:
* Peneliti
**Pembimbing
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Maria Godelifa Seran (16381528) Analisis kelimpahan dan keanekaragaman gastropoda pada ekosistem mangrove di Pesisir Pantai Pohon Duri Oesapa Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang. Donny M. Bessie, S.Pi.,M.Si, Wilson L. Tisera, S.Pi.,M.Si, Ph.D sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Mangrove memiliki peran penting bagi kehidupan makluk hidup diperairan dan daratan. Ekosistem mangrove menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari erosi (abrasi), peredam badai dan gelombang, penangkap sedimen, habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding graund), dan tempat pemijahan (spawning graund) bagi biota perairan Salah satu biota yang sering dijumpai diekosistem mangrove adalah moluska dan moluska yang paling banyak ditemui pada ekosiste mangrove yaitu gastropoda. Gastropoda mempunyai peranan penting dari segi ekologi dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan dan keanekaragaman gastropoda yang meliputih analisis mangrove dan gastropoda dengan kerapatan jenis, kelimpahan Relatif, kelimpahan jenis, Indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan dominansi. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelimpahan jenis dan keanekaragaman gastropoda diPesisir Pantai Pohon Duri Oesapa mulai dari yang tertinggi hingga terendah yaitu masing-masing pada stasiun 1 memiliki 1.208 ind/m² yang terdiri dari 33 jenis gastropoda dan stasiun 2 memiliki 0.918 ind/m² yang terdiri dari 49 jenis. Kelimpahan jenis tertinggi Clithon dispar dengan jumlah 0,325 ind/m² dan jenis Nerita histrio dengan jumlah 0,297 ind/m². Kelimpahan jenis terendah yaitu Clypeomorus subbrevicula, Nassarius gaudiosus, Nassarius pullus, Clithon squamulata, Clithon soerbianus, Clithon francoisi, Nerita signata, Nerita dydima, Nerita squamulata dengan presentase 0,091%. Dari kedua stasiun ini kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dikategorikan sedang dan dominansi dikategorikan rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
GABRIEL NOTAN KEY (16382275). Struktur Komunitas Bivalvia di Daerah Pasang Surut Pulau Siput Awololong Kabupaten Lembata (di bawah bimbingan: ALFRED G. O. KASE, S.Pi, M.Si, Ph.D dan Ir. YOHANES MERRYANTO, M.Si, Ph.D sebagai pembimbing I dan II). Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana.
Bivalvia merupakan salah satu kelas dari Moluska yang memiliki tubuh lunak dan dilindungi oleh sepasang cangkang yang hampir selalu simetris. Bivalvia dapat beradaptasi di perairan payau maupun laut dengan kadar salinitas tertentu. Diantaranya ada yang epifaunal (hidup di permukaan sedimen) dan infaunal (membenamkan diri di dalam sedimen). Salah satu potensi yang ada sekitar Pulau Siput Awololong adalah bivalvia. Pemanfaatan bivalvia oleh masyarakat biasanya daging untuk di konsumsi, cangkang digunakan sebagai perhiasan dan dijual karena memiliki nilai ekonomis seperti kerang jenis Anadara antiquta. Selain memiliki niai ekonomis bivalvia mudah diidentifikasi, kelimpahannya dapat dihitung dan menempati posisi yang penting dalam rantai makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas yang terdiri dari komposisi jenis, kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi bivalvia di Pulau Siput Awololong, Kabupaten Lembata. Penelitian ini menggunakan metode observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang diselidiki. Penelitian ini menggunakan metode observasi. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang diselidiki. Metode observasi dalam penelitian ini, digunakan untuk melihat daerah habitat kerang dan kedalaman kerang menggunakan plot berukuran 1x1 m2 diletakan seluruh ekosistem intertidal bergantung pada keberadaan koloni kerang yang ditemukan serta melakukan dokumentasi dan dilanjutkan dengan studi pustaka untuk mengidentifikasi kerang. Hasil penelitian menunjukan Komposisi jenis bivalvia dari 3 transek ditemukan 187 jenis, yang terdiri dari 6 ordo, 8 famili, 8 genus dan 8 spesies bivalvia, yaitu Atrina vexilum, Anadara antiquata, Glycimeris pectunculus, Mactra antiquata, Modiolus modiolus, Pinctada margaritifera, Tapes literatus dan Trachycardium subrugosum. Nilai indeks keanekaragaman rendah (0,78), keseragaman tinggi (0,86) dan dominansi tidak ada jenis yang mendominansi (0,22).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
VINSENSIA P. WERANG (16383420) Struktur Komunitas Bulu Babi (Echinodea)yang Berasosiasi dengan Ekosistem Padang Lamun di Perairan Lewolere KabupatenFlores Timur.Ir. Yohanes Merryanto, M.Si,Ph.Ddan Wilson L. Tisera,S.Pi,M.Si, Ph.DsebagaiPembimbing1dan2.Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,Universitas Kristen Artha Wacana.Bulu babi merupakan salah satu sumberdaya hayati laut yang mempunyai prospek untuk dikembangkandanmempunyai peranan yang penting baik dari segi ekologis maupunekonomis.Perairan Pantai Lewolere Kabupaten Flores Timur memiliki ekosistem lamun dan terumbu karangyangcukup baik dan berperan penting dalam proses siklus hidup organisme laut.Penelitian inibertujuan untuk mengetahui struktur komunitas yang terdiri dari komposisi jenis, kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi bulu babi yang berasosiasi dengan ekosistem lamun di Perairan Lewolere Kabupaten Flores Timur.Penelitian ini menggunakan metodesurvei langsunguntuk pengumpulan datadengan menghitung danmengukur langsung di lapangan secara purposive random samplingdan metode transek.Hasil penelitian menunjukan bahwa komposisi bulu babi di Perairan Lewolere terdiri dari 7 spesies yaitu Arbaciapunctulata, Diadema setosum, Echinometra mathaei, Echinometraoblonga, Echinometra viridis, Tripneustes gratilla dan Echinometrasp.Nilai indeks keanekaragaman (H')tergolongrendah(0,78), indeks keseragaman (E)tergolong tinggi(0,92) dan indeks dominansi (D)menunjukan tidak ada jenisbulu babi yang mendominansi (0,18).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
DARIUS RICKY SAPUTRA APAUT (15380138). Struktur Komunitas Echinodermata di Zona Intertidal Perairan Tablolong Kabupaten Kupang. WILSON L. TISERA., S.Pi., M.Si., Ph.D dan ROCKIE R.L SUPIT., S.Pi. M.Si sebagai Pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang Salah satu jenis invertebrata yang ditemukan di Pantai Tablolong adalah Echinodermata. Echinodermata sebagai kunci spesies ekologi yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Informasi secara ilmiah mengenai kondisi komunitas Echinodermata di perairan Tablolong masih kurang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur komunitas Echinodermata pada zona intertidal Perairan Tablolong Kabupaten Kupang meliputi Kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi.
Penelitian ini dilaksanan pada bulan Juli 2021 di zona intertidal perairan Tablolong, Kabupaten Kupang pada 3 (tiga) stasiun yaitu Stasiun I di depan Pabrik Alga Rote Karagenan Nusantara (RKN), Stasiun II di Lokasi Wisata Laut Sawu, dan Stasiun III di Lokasi Wisata Baru (Depan BPIP). Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskripsi eksploratif. Metode sampling pengamatan menggunakan belt transek dengan panjang garis transek 100 m dan pengamatan kiri dan kanan masing-masing 2,5 m. Analisis data meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komposisi jenis Echinodermata yang diperoleh terdiri dari 8 jenis dari kelas Echinodea, 4 jenis dari kelas Holothuria, 1 jenis dari kelas Ophiuroidea, 2 jenis dari kelas Asteroidea dan 1 jenis dari kelas Crinoidea. Kelimpahan jenis dan relatif tertinggi di stasiun I adalah Protoreaster nodosus dari kelas Asteroidea dan terendah spesies Holothuria scabra dari kelas Holothuroidea. Stasiun II terdapat pada spesies Stichopus sp dari kelas Holothuroidea dan terendah adalah Mespilia globulus dari kelas Echinoidea dan Synapta maculate dari kelas Holothuroidea, sedangkan di stasiun III diperoleh nilai kelimpahan tertinggi terdapat pada spesies Mespilia globus dari kelas Echinoidea dan terendah terdapat pada spesies Archaster typicus dari kelas Astreoidea. Keanekaragaman jenis Echinodermata di zona intertidal pantai Tablolong pada stasiun III dalam kategori keanekaragaman jenis sedang, produktivitas cukup seimbang, dan tekanan ekologis sedang. Sedangkan stasiun I dan II dalam kategori keanekaragaman rendah, produktivitas sangat rendah sebagai indikasi adanya tekanan yang berat dan ekosistem tidak stabil. Kesereragaman jenis Echinodermata di zona intertidal pantai Tablolong dalam kondisi labil. Dominasi jenis Echinodermata di zona intertidal pantai Tablolong tergolong dominansi rendah.
Kata kunci: Struktur komunitas, Echinodermata, zona intertidal, kelimpahan, perairan Tablolong.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAKSI
MARSELUS REMIGIUS TAHU (17382377). Struktur Komunitas Gastropoda pada Zona Intertidal di Perairan Pantai Sulamu Kabupaten Kupang; WILSON L. TISERA, S.Pi., M.Si., Ph.D sebagai Pembimbing I dan ADI N. T. LANGGA, S.Pi, M.Sc sebagai Pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana-Kupang.
Gastropoda merupakan hewan moluska yang berjalan dengan bagian kaki perut. Nama gastropoda berasal dari bahasa Yunani yaitu (gaster = perut dan podas = kaki) artinya hewan yang memiliki kaki perut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur komunitas gastropoda yang meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, serta indeks dominansi di Perairan Pantai Sulamu, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yaitu mengumpulkan data dan informasi melalui observasi dan pengukuran di lapangan. Lokasi penelitian dibagi ke dalam 3 stasiun. Pengamatan gastropoda dilakukan dengan mengunakan line transek sepanjang 50 meter ke arah laut dan diletakkan kuadran/petak dengan ukuran 1 x 1 meter dengan jarak antara kuadran/petak 10 meter dan jarak antara transek 50 meter per stasiun, Jarak antara stasiun 100 meter per stasiun.
Hasil penelitian gastropoda di Perairan Pesisir Pantai Sulamu ditemukan sebanyak 43 jenis gastropoda dari 22 famili dengan total 532 . stasiun I terdapat 25 spesies dari 12 famili, stasiun II terdapat 32 spesies dari 19 famili dan stasiun III terdapat 15 spesies dari 12 famili. Struktur Komunitas Gastropoda pada Zona Intertidal di Perairan Pantai Sulamu Kabupaten Kupang memiliki nilai kelimpahan jenis dan relatif berbeda-beda yakni stasiun I yang trtinggi yaitu jenis Urosalpinx cinerea yakni 2,47 ind/m², 15,55 %, stasiun II yaitu jenis Canarium mutabile yakni 2,07 ind/m², 24,60 %, dan stasiun III yaitu jenis Nassarius pullus yakni 3,00 ind/m², 26,79 %. indeks keanekaragaman jenis yang berbeda-beda yakni stasiun I memperoleh nilai sebesar 1,21 stasiun II memperoleh nilai sebesar 1,24 tergolong keanekaragaman sedang, pada stasiun III yakni 0,95. tergolong kategori keanekaragaman rendah (1 ≤ H ≤ 3). nilai indeks keseragaman pada stasiun I sebessar 0,87, stasiun II sebesar 0,82 dan stasiun III sebesar 0,80 memiliki nilai antar spesies merata/stabil (0,74 < E < 1,00) dan nilai dominansi pada stasiun I yakni sebesar 0,08, stasiun II yakni sebesar 0,10, dan pada stasiun III yakni sebesar 0,15 tergolong rendah (0,00 ≤ C ≤ 0, 30).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAKSI
IMELDARIVA MALON (18380063). Struktur Komunitas Filum Echinodermata di Zona Intertidal Pantai Desa Otan Kecamatan Semau, Kabupate Kupang. ROCKIE R.L. SUPIT, S.Pi. M.Si sebagai Pembimbing I dan ALFRED G.O KASE, S.Pi, M.Si. Ph.D sebagai pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Echinodermata merupakan salah satu hewan yang sangat penting dalam ekosistem laut dan bermanfaat sebagai salah satu komponen dalam rantai makanan, pemakan sampah organik dan hewan kecil lainnya. Komunitas Echinodermata merupakan salah satu kajian yang dipelajari dalam synekologi yang mencakup tentang keragaman, keseragaman, dominasi dan kelimpahan. Pantai Desa Otan termasuk dalam wilayah Kecamatan Semau Kabupaten Kupang merupakan perairan terutama zona intertidalnya dengan karakteristik habitat yang cocok untuk kehidupan Echinodermata.
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskripsi eksploratif, yaitu menganalisa dan menyajikan data berdasarkan objek yang diperoleh di habitat. Penentuan lokasi penelitian dilakukan menggunakan metode Purposive Sampling merupakan teknik pengambilan sampel berdasarkan lokasi penelitian terdapat di perairan intertidal. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode belt transek.
Hasil perhitungan yng menunjukan bahwa terdapat 11 spesies Filum Echinodermata yang tergolong kedalam 4 kelas yaitu kelas yaitu kelas Asteroidea, Ophiuroidea, Echinoidea, dan Holothuroidea. Kelimpahan jenis Echinodermata menunjukan bahwa jenis Echinometra mathei sebesar 29,33 ind/m² Diadema setosum sebesar 28,67 ind/m2, dan Echinometra lucuner sebesar 26 ind/m² pada stasiun III. Kelimpahan jenis terendah adalah Echinothrix calamaris,sebesar 0,1 ind/m² (stasiun II), diadema antillarium sebesar 0,67 ind/m², Echinometra oblonga sebesar 0,67 ind/m².Kelimpahan relatif tertinggi dari filum Echinodermata zona intertidal pantai Desa Otan yaitu Diadema setosum sebesar 63,4%, Echinometra mathei sebesar 59,6%, Echinometra viridis sebesar 58,4%, Echinometra lucunter sebesar 46,2% dari kelas Echinoidea, Kelimpahan relatif terendah yaitu Diadema antillarum, Echinothrix calamaris sebesar 0,8% dan Echinometra oblonga sebesar 2,2%.Hasil perhitungan indeks keanekaragaman Echinodermata di lokasi penelitian tetinggi adalah di Stasiun II sebesar 0,87, terendah adalah Stasiun III sebesar 0,76. Dimana nilai H’< 1 maka keanekaragaman tergolong rendah. Hasil perhitungan indeks keseragaman Stasiun I sebesar 0,88, terendah yaitu Stasiun III sebesar 0,76. Dimana nilai 0,75 ≤ E ≤ 1,0 Kondisi stabil. perhitungan indeks dominansi menunjukkan bahwa nilai indeks dominansi tertinggi terdapat pada stasiun III yaitu sebesar 0,20, sedangkan nilai dominansi Echinodermata terendah pada stasiun II yaitu 0,15. Berdasarkan kriteria indeks dominansi tergolong sedang.
Kata kunci :Struktur Komunitas, Echinodermata, Kelimpahan, Keanekaragaman, Pantai Otan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAKSI YOHANES YORDAN RIBERU (18380081). Struktur Komunitas Gastropoda di Pantai Desa Otan Kecamatan Semau Kabupaten Kupang. ROCKIE R. L. SUPIT, S.Pi, M.Si dan WILSON L. TISERA, S.Pi, M.Si, Ph.D sebagai Pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Kelas gastropoda umumnya lebih dikenal dengan sebutan siput atau keong dan termasuk pada filum Moluska. Gastropoda memiliki spesies paling beragam dan terbesar karena berhasil menempati berbagai macam habitat dan ekosistem seperti, ekosistem lamun, ekosistem karang, ekosistem mangrove dan substrat berpasir atau berlumpur. Mengingat belum adanya penelitian terkait struktur komunitas gastropoda di Pantai Desa Otan Kecamatan Semau Kabupaten Kupang. Maka penulis berkeinginan melakukan penelitian dengan judul struktur komunitas gastropoda di Pantai Desa Otan Kecamatan Semau Kabupaten Kupang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas meliputi kelimpahan jenis dan relatif, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi gastropoda di Pantai Desa Otan. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 1 bulan yaitu pada bulan November 2021, bertempat di Pantai Desa Otan Kecamatan Semau Kabupaten Kupang. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel menggunakan metode transek kuadrat yang terdiri dari 3 stasiun dengan dasar substrat yang berbeda, Masing-masing stasiun diletakkan 3 transek, dimana panjang garis transek 100 m dan jarak antar stasiun 500 m. Setiap garis transek diletakkan kuadran berukuran 1 x 1 m, dengan jarak per kuadran adalah 10 m. Pengambilan sampel dilakukan pada kondisi pantai surut, data yang diambil dalam kuadran adalah data jumlah individu gastopoda dan substrat, contoh sampel dikoleksi dan dimasukkan kedalam plastik sampel untuk di identifikasi, pengukuran parameter lingkungan berupa suhu, salinitas, pH dan dan arus diukur pada setiap stasiun pengamatan. Data yang di hitung adalah kelimpahan jenis dan relatif, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jenis gastropoda yang ditemukan di pantai Desa Otan terdiri dari 7 ordo, 13 famili, 23 genus dan 29 spesies. Kelimpahan jenis dan relatif tertinggi adalah Engina mendicaria (1,489 Ind/m2, 23.675%) dan Conus sanguinolentus (0,800 ind/m2, 12.721%), sedangkan kelimpahan jenis dan kelimpahan relative terendah adalah Cypraea annulus (0,011 ind/m2, 0.177%) dan Hastula lepida (0,011 ind/m2, 0.177%). Index Keanekaragaman jenis gastropoda berkisar antara 0,956-1,201, dikategorikan rendah pada stasiun II dan sedang pada stasiun I dan III. Indeks Keseragaman berkisar antara 0,389-0,887, dikategorikan merata pada ketiga stasiun. Sedangkan indeks dominansi berkisar antara 0,077-0,169, dikategorikan rendah pada ketiga lokasi penelitian. Kata kunci: Struktur komunitas, gastropoda, kelimpahan jenis, indeks keanekaragaman, Pantai Otan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak -Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis struktur komunitas bivalvia yang ditemukandi Pantai Desa Otan, Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2021.Pengambilansampel menggunakan metode Purposive Samplingpada 3 stasiun pengamatan.Sedangkan teknik pengambilan data menggunakan metode trensect kuadrat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang ditemukan di pantai Desa Otan secara keseluruhan terdiri dari 7 famili yaitu Arcidae, Carditida, Cardiidae, Pinnidae, Tallinidae, Tridacnidae dan Veneridae dan 11 spesies. Polah penyeberan bivalviabersifat acak. kelimpahan tertinggi adalah Circe tumefacta sebesar 0,800 ind/m² (stasiun III), Priglypta reticulata sebesar 0,700 ind/m² (stasiun II), Cardites antiquatus, sebesar 0,467 ind/m² (stasiun I). Kelimpahan terendah adalah Barbatia foliate dan Pinna bicolor sebesar 0,100 ind/m². kelimpahan relatif tertinggi Stasiun I adalah Barbatia foliate dan Cardites antiquarus stasiun II ditempati oleh jenis Priglypta reticulata sebesar, sedangkan stasiun III ditempati oleh jenis Circe tumifacta. Keanekaragaman (H’) jenis dari ketiga stasiun tergolong rendah dimana H’ < 1 yaitu keanekaragaman tergolong rendah, nilai keseragaman (E)yang diperoleh tergolong tinggi dimana E > 0,6 termasuk dalam kategori tinggi, dan nilai dominansi mendekati 0 yang berarti bahwa tidak ada jenis yang mendominasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Air terjun Boni Taukrubu merupakan salah satu objek wisata yang berada di Kelurahan Teunbaun Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang. Kondisi lingkungan di kawasan air terjun Boni Taukrubu ini masih sangat asri dan sejuk. Tipe kondisi ini sangat mendukung habitat satwa dan flora khususnya berbagai tumbuhan paku (Pteridophyta). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis keanakaragaman dan kelimpahan tumbuhan paku yang tumbuh di kawasan Air Terjun Boni Taukrubu. Metode yang digunakan dalan penelitian ini adalah metode transek garis (Line transect) dengan penempatan plot secara teratur. Penempatan plot dilakukan dengan cara purposive sampling. Analisis data jenis spesies dianalisis dengan deskriptif kualitatif, sedangkan indeks keanekaragaman dan indeks kelimpahan menggunakan teknik analisis kuantitatif . Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 8 jenis tumbuhan paku yang termasuk dalam 5 famili. Jenis-jenis tumbuhan paku tersebut adalah dari famili Thelypteridaceaediantaranya Paku kijang (Phegopteris connectillis), Pakis gadis (Christella dentata), famili Polypodiaceaediantaranya Paku daun kepala tupai (Drynaria quercifolia), Paku kadaka (Microsorum punctatum), Paku ular (Phymatosorus scolopendria), famili Pteridaceaediantaranya paku rem cina (Pteris vittata), famili Dryopteridaceaediantaranya Paku pedang (Nephrolepsis exaltata), famili Equisetaceaediantaranya Paku ekor kuda (Equisetum debile). Keanekaragaman dan Kelimpahan tumbuhan paku di kawasan air terjun boni taukrubu tergolong sedang, dengan indeks keanekaragaman H’ = 1,728 dan indeks kelimpahan e = 0,40.Tumbuhan paku memiliki poetensi pemanfaatan yang cukup baik untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan obat, bahan makanan dan tanaman hias sehingga perlu dilakukan penelitian tentang pemanfaatan tumbuhan paku pada Air Terjun Boni Taukrubu Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Wilayah pesisir dan laut Indonesia mempunyai kekayaan dan keanekaragaman hayati (biodiversity) terbesar di dunia, yang tercermin pada keberadaan ekosistem pesisir seperti hutan mangrove, terumbu karang dan padang lamun.Salah satu jenis kekayaan sumber daya alam yang dapat ditemukan pada wilayah pesisir dan lautan yaitu kerang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Kelimpahan Jenis Kerang (Anadara) pada Kawasan Pantai Namodale Desa Kuli Kecamatan LobalainKabupaten Rote Ndao dan untuk mengetahui kelimpahan kerang (anadara) yang ada pada kawasan Pantai Namodale Desa Kuli Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Transek Kombinasi Metode Garis dan Transek Kuadrat. Hasil penelitian menunjukan Kerang yang ditemukan di perairan Pantai Namodale dikategorikan dalam 1 famili yaitu Arcidae dengan 3 spesies yaitu A. granosa, A. antiquata danA. poliiyang tersebar di 4 stasiun pengamatan. Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif dan komposisi jenis Kerang yang dinyatakan berdasarkan observasi serta melakukan pengukuran dan perhitungan kelimpahan frekuensi dan indeks keanekaragaman.Berdasarkan hasil perhitunganKelimpahan jenis kerang yang ditemukan pada lokasi penelitian stasiun lamun memiliki kelimpahan tertinggi yaitu 9.25 ind/m2 dengan diikuti stasiun batu memiliki kelimpahan 4.30 ind/m2. Kerang jenis A. antiquata memiliki kelimpahan tertinggi yaitu 4.10 ind/m2dengan kepadatan relatif 46.42%, Kerang jenis A. polii memiliki kelimpahan terendah yaitu 0.35 ind/m2 dengan kelimpahan relatif 5.81%.Kerang jenis A. antiquata memiliki frekuensi tertinggi yaitu 1.00% dengan kepadatan relatif 38.2% dan Kerang jenis A. polii memiliki frekuensi terendah yaitu 0.25% dengan frekuensi relatif 10.42%indeks keanekaragaman spesies Kerang yang terdapat pada stasiun mangrove 0.87, stasiun batu 0.83, stasiun pasir 1.08 dan stasiun lamun 0.97, nilai indeks keanekaragaman tersebut berada pada kateogori rendah-sedang.