ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FILIPUS YACOBUS FENDIRIKUS SERAN (18380046). Analisis Kesehatan Hutan Mangrove Dengan Menggunakan Metode Hemispherical Photography di Pantai Abudenok, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka. DONNY M. BESSIE, S.Pi., M.Si sebagai Pembimbing I dan Ir. YOHANES MERRYANTO, S. M.Si, Ph.D sebagai Pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana.
Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh di daerah pasang surut dengan karakterisktik tanah berlumpur atau berpasir serta memiliki kemampuan adaptasi sangat baik ketika daerah pasang surut mengalami surut terendah sampai pasang tertinggi. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode purposive sampling. Metode ini dipilih karena memiliki kelebihan seperti waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan lebih minimum dengan cangkupan wilayah yang telah mewakili kondisi tutupan mangrove di kawasan Pantai Abudenok. Penentuan titik stasiun penelitian dilakukan dengan pengamatan secara langsung dilapangan ketika survei pendahuluan (ground check). Hasil penelitian menunjukan bahwa komposisi vegetasi mangrove yang ditemukan berdasarkan identifikasi morfologi seperti ciri dari bentuk akar, buah dan daun di Pantai Abudenok sebanyak 5 (lima) jenis dari 3 (tiga) famili yaitu Avicenniaceae, Sonneratiaceae dan Rhizophoraceae. Dari keseluruhan stasiun penelitian, nilai persentase tutupan mangrove tertinggi terdapat pada stasiun II dengan nilai persentase 71,40%, selanjutnya diikuti oleh stasiun III dengan nilai persentase 53,51% dan nilai persentase terendah terdapat pada stasiun I dengan nilai persentase 44,72%. Nilai rata-rata persentase tutupan mangrove seluruh stasiun memperoleh nilai mencapai 56,54%. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 201 tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove, hal ini dapat dikatakan status kondisi tutupan mangrove tergolong dalam kondisi sedang atau baik. Hasil analisis data kerapatan mangrove berdasarkan tingkat pohon pada berbagai vegetasi mangrove didapatkan hasil yang berbeda-beda pada setiap stasiun. Jumlah total kerapatan pohon seluruh jenis mangrove pada setiap stasiun berkisar antara 933,32-1466,66 pohon/ha. Nilai rata-rata kerapatan mangrove di Pantai Abudenok mencapai 1188,88 pohon/ha dengan kondisi kerapatan mangrove di Pantai Abudenok tergolong sedang atau baik. Kerapatan jenis tertinggi pada stasiun I adalah jenis Avicennia officinalis dan Rhizophora stylosa (433,33 pohon/ha), stasiun II tertinggi pada jenis Avicennia officinalis (533,33 pohon/ha), dan pada stasiun III nilai tertinggi pada jenis Rhizophora stylosa (500 pohon/ha).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN MANGROVE DI WILAYAH PESISIR PANTAI DESA PARITI KECAMATAN SULAMU KABUPATEN KUPANG Mone, D. K)* Rafael, A)** Ngginak, J)** Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Desa Pariti Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki ekosistem mangrove, namun penebangan liar, alih fungsi lahan, dan pencemaran masih kerap dijumpai.tujuan adalah menginventarisasi jenis tumbuhan mangrove yang terdapat di wilayah pesisir Pantai Desa Pariti serta menganalisis kerapatan, dan dominansi. Metode yang digunakan adalah Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif atau metode campuran dengan cara melakukan observasi terlebih dahuluh kemudian peneliti menarik garis transek sejauh 50 M kemudian membuat plot pada kedua transek, kemudian peneliti melakukan penjelajahan di setiap plot untuk mengidentifikasi, mengamati dan mendeskripsikan spesies yang ditemukan di setiap plot. sedangkan teknik pengambilan sampelnya menggunakan line transek yang dimodifikasi berdasarkan metode garis pantai berpeta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 spesies mangrove di Pantai Pariti, yaitu Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan Ceriops tagal. Spesies-spesies tersebut termasuk dalam tiga famili, yaitu Rhizophoraceae, Lythraceae, dan Acanthaceae. Dengan nilai tertinggi keanekaragaman pada tingkat semai terdapat pada transek 2 plot 3 dengan nilai H’=5,81 dan terendah terdapat pada transek 1, plot 1 dengan H’= 0, dengan spesies yang mendominasi yaitu Sonneratia alba dan Avicennia alba. Nilai tertinggi keanekaragaman tingkat pancang terdapat pada transek 2 plot 3 dengan H’=5,76 dan terendah terdapat pada transek 1 plot 1 dengan H’=0 dengan spesies yang mendominasi Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa. Nilai tertinggi keanekaragaman tingkat pohon terdapat pada transek 2 plot 3 H’= 4,28 dan terendah H’=1,94 dengan jenis yang medominasi yaitu Sonneratia alba dan Avicennia alba. Kerapatan tertinggi pada tingkat semai sebesar 69 ind/ha (40,08%), pada tingkat pancang 2,8 ind/ha (1,62%) dan pada tingkat pohon 0,52 ind/ha (0,30%). Kata kunci : Inventarisasi, Mangrove, Pariti, Keanekaragaman, Kerapatan Keterangan : *) Peneliti **) Pembimbing ABSTRACT INVENTORY OF MANGROVE PLANT SPECIES IN THE COASTAL AREA OF PARITI VILLAGE, SULAMU DISTRICT, KUPANG REGENCY Mone, D. K)* Rafael, A)** Ngginak, J)** The mangrove ecosystem is one of the coastal ecosystems that has an important role in maintaining the balance of the coastal environment. Pariti Village, Sulamu District, Kupang Regency, is one of the coastal areas that has a mangrove ecosystem, but illegal logging, land conversion, and pollution are still often found. The aim is to inventory the types of mangrove plants found in the coastal area of Pariti Village Beach and analyze density and dominance. The method used is The method used in this study is qualitative and quantitative or mixed methods by conducting observations first then the researcher draws a transect line as far as 50 M then makes a plot on both transects, then the researcher explores each plot to identify, observe and describe the species found in each plot. while the sampling technique uses a modified line transect based on the mapped coastline method. The results showed that there are 6 mangrove species in Pariti Beach, namely Sonneratia alba, Avicennia alba, Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, and Ceriops tagal. These species belong to three families, namely Rhizophoraceae, Lythraceae, and Acanthaceae. With the highest value of diversity at the seedling level found in transect 2 plot 3 with a value of H’=5.81 and the lowest found in transect 1, plot 1 with H’=0, with the dominant species being Sonneratia alba and Avicennia alba. The highest value of diversity at the sapling level found in transect 2 plot 3 with H’=5.76 and the lowest found in transect 1 plot 1 with H’=0 with the dominant species being Sonneratia alba, Avicennia alba, Rhizophora mucronata and Rhizophora stylosa. The highest value of diversity at the tree level found in transect 2 plot 3 H’=4.28 and the lowest H’=1.94 with the dominant species being Sonneratia alba and Avicennia alba. The highest density at the seedling level was 69 ind/ha (40.08%), at the sapling level 2.8 ind/ha (1.62%) and at the tree level 0.52 ind/ha (0.30%). Keywords: Inventory, Mangrove, Pariti, Biodiversity, Density Information: *) Researcher **) Adviser
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RINGKASAN MARIANA NADUASTI PENY (16383510) Hubungan Kerapatan Mangrove Terhadap Laju Transpor Sedimen di Kawasan Ekowisata Mangrove Kelurahan Oesapa Barat. Ir. Yohanes Merryanto S., M.Si, Ph.D sebagai Pembimbing 1 dan Dr. Beatrix M. Rehatta, S.Pi, M.Si sebagai Pembimbing 2. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Mangrove memiliki berbagai manfaat, salah satunya mengendalikan transpor sedimen. Kelurahan Oesapa Barat memiliki vegetasi mangrove yang cukup luas di wilayah Kota Kupang. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kerapatan mangrove terhadap laju transpor sedimen di kawasan Ekowisata Mangrove Kelurahan Oesapa Barat. Metode purposive sampling pada kondisi kerapatan tinggi dan rendah untuk menghitung kerapatan mangrove. Penempatan sediment trap pada bagian depan, tengah dan belakang vegetasi mangrove untuk mengetahui laju transpor sedimen. Suhu perairan, kecepatan arus dan kedalaman perairan menjadi parameter yang diukur. Analisis korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan kerapatan mangrove terhadap laju transpor sedimen. Jenis mangrove yang ditemukan yaitu Avicennia alba, Lumnitzera racemose, Rhizopora mucronata dan Sonneratia alba. Hasil penelitian menunjukan hubungan kerapatan mangrove terhadap laju transpor sedimen bernilai -1 yang berarti kerapatan mangrove yang semakin tinggi menyebabkan laju transpor sedimen semakin rendah dan sebaliknya. Kata kunci: Kerapatan mangrove, laju transpor sedimen, ekowisata Kelurahan Oesapa Barat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, keanekaragaman dan kerapatan tumbuhan paku di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, Kabupaten Manggarai. Pengamatan membagi lokasi penelitian menjadi 5 stasiun, antara lain ekosistem pepohonan dengan ekosistem semak. Ekosistem pepohonan terdiri atas 3 stasiun.Ekosistem semak terdiri atas 2 stasiun. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive sampling dengan memasang plot berukuran panjang 40 m dan lebar 40 m. Di dalam plot 40X40 meter terdapat 5 sub plot yang berukuran 10X10 meter. Setiap jenis tumbuhan paku yang ditemukan dicatat mengenai keterangan lokasi, jenis, jumlah, dan dicatat pula hasil pengukuran faktor abiotik. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis kelimpahan menggunakan rumus analisis vegetasi dan keanekaragaman menggunakan rumus indeks keanekaragaman Shannon-Wiener. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada ekosistem pepohonan ditemukan 13 jenis tumbuhan paku antara lain: Chyateaceae Sp, Angiopteris evecta, Chyathea contaminans, Davalia solida, Davalia denticulate, Pteris biaurita, Vittaria elongate, Vittaria graminifolia, Adiantum cuninghamii, Asplenium nidus, Nephrolepis cardifolia, Selaginella intermedia, Lygodium circinatum. Pada ekosistem semak ditemukan 9 jenis tumnuhan paku antara lain: Christella dentate, Lycopodium candesis, Glechenia linearis, Pteridium aquilinum, Adiantum cuninghami, Nephrolepis cardifolia, Selaginella intermedia, Dipteris conjungatedan Chyathea contaminans. Berdasarkan hasil penelitian di lakukan di Taman Wisata Alam Ruteng dapat disimpulkan bahwa jenis tumbuhan paku yang mendominasi kawasan ekosistem pepohonan yaitu Nephrolepis cardifolia dengan jumlah sebanyak 137 individu dengan nilai kerapatan relatif 44,480%. Nilai keanekaragaman pada ekosistem pepohonan termasuk kategori sedang dengan nilai sebesar H’=1,934. Tumbuhan yang mendominasi pada ekosistem semak yaitu Glechenia linearis dengan jumlah sebanyak 216 individu dengan nilai kerapatan relatif 49,655%. Nilai keanekaragaman pada ekosistem semak termasuk kategori sedang dengan total nilai sebesar H’=1,464.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Suaka margasatwa kateri merupakan salah satu kawasan konservasi yang secara administratif berada di antara dua kabupaten yakni Kabupaten Malaka dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Keanekaragaman Vegetasi di Hutan Suaka Margasatwa Kateri
Kabupaten Malaka. Metode yang digunakan plot kuadrat. Hasil penelitian menunjukan Vegetasi yang ditemukan di Hutan Suaka Margasatwa Kateri yaitu
13 Famili dan 14 spesies tanaman diantaranya T. Indica L., F. benjamina L., Z.mauritiana Lam., C. utan, T. grandis L., G. arborea Roxb., A. scholaris L., S.
pinnata, A. moluccana L., S. oleosa Merr., L. leucocephalaLam. de W., A. catechu., S. grandiflora L., S. macrophylla King. Analisis data menggunakan
deskriptif kuantitatif dan komposisi jenis vegetasi yang dinyatakan berdasarkan observasi serta melakukan pengukuran dan perhitungan indeks keanekaragaman kerapatan, frekuensi, dan dominasi. Berdasarkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman spesies vegetasi diperoleh berada pada kategori rendah sampai sedang. Kerapatan (K) semai tertinggi terdapat pada tanaman C.utan (0.17 ind/m2) dan kerapatan relatif (KR) (30.00 %). K pancang tertinggi terdapat pada tanaman T. grandis Linn. F (0.12 (ind/m2) dan KR (61.11%). K pohon tertinggi terdapat pada tanaman A. moluccana (0.01 ind/m2) dan KR (18.39%). Frekuensi (F) semai tertinggi terdapat tanaman T. grandis Linn. F (1.00 ind/m2) dan frekuensi relative (FR) (26.32%). F pancang tertinggi terdapat pada tanaman T. grandis Linn. F (1.00 ind/m2) dan FR (27.78%). F pohon tertinggi terdapat pada tanaman T. Indica L. dan T. grandis Linn. F (1.00 ind/m2) dan FR (26.32%). Dominasi (D) semai tertinggi terdapat pada tanaman T. grandis Linn. F (0.08 ind/m2) dan Dominasi relatif (DO) (21.62%). D pancang terdapat pada tanaman Areca catechu L. (0.17 ind/m2) dan DO (24.57%). D pohon tertinggi terdapat pada tanaman C.utan (15.05 ind/m2) dan DO (25.80%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
IDENTIFIKASI TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI PANTAI OESAPA TENGAH KECAMATAN KELAPA LIMA KOTA KUPANG
Sutopo Busu H, L.)* Daud Y.)** Hendrik A, Ch.)**
Ekosistem hutan mangrove adalah ekosistem yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga substratnya selalu tergenang air (Supriharyono, 2009). Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang juga terdapat hutan mangrove dengan luas 17.571,32 ha. Berdasarkan hasil observasi awal pada tanggal 12 Juli 2019 di pesisir hutan mangrove Oesapa Tengah Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang menunjukkan bahwa ekosistem mangrove yang ada kondisinya telah mengalami kerusakan. Hal ini dilihat dari banyaknya mangrove yang telah mati, ada yang telah ditebang dan sudah kering, mangrove juga telah mengalami pencemaran oleh limbah rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan ekosistem mangrove, mengetahui faktor penyebab kerusakan ekosistem hutan mangrove di Pantai Oesapa Tengah Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 9 jenis mangrove yakni Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera cylindrica, Ceriops tagal, Avicennia alba, Soneratia alba, Exoecaria agallocha, Xylocarpus moluccensis. Berdasarkan kriteria baku kerusakan mangrove Kepmen. LH. No. 201, Tahun 2004, kondisi hutan mangrove di Pantai Oesapa Tengah dari tingkat semai dan pancang termasuk dalam kriteria baik sedangkan pada tingkat pohon termasuk dalam kriteria rusak. Faktor kerusakan ekosistem hutan mangrove disebabkan faktor alam seperti abrasi, kekeringan dan faktor manusia seperti penebangan mangrove dan pembuangan sampah disekitar hutan mangrove.
Kata kunci : Tingkat Kerusakan, Kerapatan, Hutan Mangrove
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak
SOLEMAN LANMAI (15380031) Struktur Komonitas Mangrove di Desa Aimoli, Kecamatan Alor Barat Laut , Alfred G. O, S. Pi, M, Si, Ph,D., Imanuel J Emola, S.Pi, M,Si. Sebagai pembimbing I dan pembimbing II Program Studi Manajemen Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Krinsten Artha Wacana Kupang.
Manggrove atau hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur dan berpasir.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Struktur Komonitas Manggrove di Desa Aimoli, Kecamatan Alor Barat Laut Kabupaten Alor dengan mengunakan metode purposive sampling dan observasi (pengamatan secara langsung di lapangan) sedangkan pengambilan contoh dilakukan mengunakan metode petak contoh dimana unsur-unsur populasi atau vegetasi mangrove digolongkan berdasarkan tingkat kerpatan atau ketebalan mangrove. Metode pengambilan contoh dilakukan mengikuti pendekatan petak contoh yang berada pada garis contoh yang beradap ada garis transek yang ditarik melewati wilayah ekosistem mangrove.Data yang di ambil adalah jenis-jenis mangrove yang dibedakan antara pohon, anakan dan semai. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis komunitas (kerapatan jenis, kerpatan relative, frekuensi jenis, frekuensi relative, penutupan jenis penutupan relative, indeks keanekaragaman, dan indek nilai penting). Berdasarkan hasil penilitian ditemukan 4 jenis mangrove padalokasi pengamatan Rhizophora apiculata, Rhzophora mucronata, Bruguieragi mnorrizha, dan Avecenia alba dari keempat jenis yang memiliki nilai tertinggi Rhizophora apiculata memiliki nilai tertinggi dari tingkat kerpatan jenis, kerapatan relatif, frekuensi jenis, frekuensi, relative, penutupan jenis ,penutpan relative, keanekaragaman dan indeks nilai penting.
Kata Kunci :struktur, komunitas, mangrove, kerapatan, INP. Desa Aimoli.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RINGKASAN WEDELTRUDIS UDUK (15380016). Struktur Komunitas Mangrove di Desa Fahiluka Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka. Donny M. Bessie, S.Pi,M.Si., Imanuel J. Emola, S.Pi, M.Si Sebagai pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem wilayah pesisir yang sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan hidup, namun sejalan dengan pertambahan pemukiman di wilayah pesisir memberikan dampak terhadap ekosistem mangrove yakni berkurangnya luasan hutan karena mengalih fungsian kawasan ekosistem mangrove menjadi lahan pertambakan dan pemukiman. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui Struktur Komunitas hutan mangrove di Desa Fahiluka, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, yaitu melakukan pengamatan secara langsung di lapangan, sedangkan pengambilan contoh menggunakan“metode petak contoh”, dimana unsur-unsur populasinya atau vegetasi mangrove digolongkan berdasarkan tingkat kerapatan atau ketebalan mangrove. Metode pengambilan contoh dilakukan mengikuti pendekatan petak contoh yang berada pada garis transek yang ditarik melewati wilayah ekosistem mangrove. Data yang di ambil jenis jenis mengrove antara pohon, anakan dan semai dengan substrat dan kondisi lingkungan. Data yang dianalisis menggunakan analisisi komunitas (kerapatan jenis, kerapatan relaif jenis, frekuensi jenis, frekuensi relatif jenis, penutupan jenis, penutupan relatif jenis dan indeks nilai penting). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 4 jenis mangrove pada lokasi pengamatan yaitu Rhizopora mucronata, Sonaratia alba, Avecenia alba, Bruguiera cylindrica. Dari ke empat jenis tersebut jenis Rhizopora mucronata yang memiliki nilai tertinggi dari tingkat kerapatan jenis, kerapatan relaif jenis, frekuensi jenis, frekuensi relatif jenis, penutupan jenis, penutupan relatif jenis dan indeks nila penting.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
RINGKASAN
GAUDENSIUS SARMAN (16382079). Struktur Komunitas Mangrove di Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur.
DONNY M. BESSIE., S.Pi. M.Si dan IMANUEL J. EMOLA, S.Pi, M.Si sebagai Pembimbing I dan II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.
Mangrove atau hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Kelurahan Kota Ndora memiliki kawasan pesisir yang di tumbuhi hutan mangrove. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas mangrove di Kelurahan Kota Ndora Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei dan metode Purposive sampling, pengamatan secara langsung di lokasi penelitian. Pengamatan dan pengambilan data ekosistem mangrove di lakukan yaitu menggunakan garis transek. Jumlah transek sebanyak 3, masing-masing transek diletakkan 3 plot. Untuk kategori pohon ukuran 10×10 m2, untuk kategori anakan ukran 5×5 m2 dan untuk kategori semia ukuran 1×1 m2. Jarak antar transek adalah 300 meter dan jarak antar plot adalah 10 meter. Data yang di analisis meliputi kerapatan jenis, kerapatan relatif, frekuensi jenis, frekuensi relatif, keanekaragaman, penutupan jenis, penutupan relatif, dan indeks nilai penting.
Hasil penelitian menunjukkan komposisi jenis mangrove yang ditemukan di terdiri dari tiga jenis yaitu Avicennia alba, Sonneratia alba dan Rhizophora stylosa. Kerapatan jenis dan relatif jenis mangrove tertinggi kategori pohon dan anakan Avicennia alba dan terendah Rhyzophora stylosa. Kategori semai tertinggi Rhyzophora stylosa dan terendah Sonneratia alba. Frekuensi jenis dan relatif jenis mangrove tertinggi kategori pohon dan anakan Avicennia alba dan terendah Rhyzophora stylosa. Kategori semai tertinggi Rhyzophora stylosa dan terendah Sonneratia alba. Keanekaragaman jenis mangrove tergolong rendah, Rendahnya nilai keanekaragaman disebabkan adanya tekanan lingkungan.
Penutupan jenis dan relatif jenis mangrove tertinggi kategori pohon dan anakan Avicennia alba dan terendah Rhyzophora stylosa. Kategori semai tertinggi Rhyzophora stylosa dan terendah adalah Sonneratia alba. Indeks nilai penting tertinggi Avicennia alba dan terendah adalah Rhyzophora stylosa. Bentuk penggunaan ekosistem mangrove oleh masyarakat berupa daerah refresing/wisata , penangkapan ikan dan kerang.
Kata kunci: Struktur komunitas, Mangrove, Kerapatan, Keanekaragaman Kelurahan Kota Ndora.