Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Subjek: Tingkat kerusakan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI PANTAI OESAPA TENGAH KECAMATAN KELAPA LIMA KOTA KUPANG

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK IDENTIFIKASI TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI PANTAI OESAPA TENGAH KECAMATAN KELAPA LIMA KOTA KUPANG Sutopo Busu H, L.)* Daud Y.)** Hendrik A, Ch.)** Ekosistem hutan mangrove adalah ekosistem yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga substratnya selalu tergenang air (Supriharyono, 2009). Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang juga terdapat hutan mangrove dengan luas 17.571,32 ha. Berdasarkan hasil observasi awal pada tanggal 12 Juli 2019 di pesisir hutan mangrove Oesapa Tengah Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang menunjukkan bahwa ekosistem mangrove yang ada kondisinya telah mengalami kerusakan. Hal ini dilihat dari banyaknya mangrove yang telah mati, ada yang telah ditebang dan sudah kering, mangrove juga telah mengalami pencemaran oleh limbah rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan ekosistem mangrove, mengetahui faktor penyebab kerusakan ekosistem hutan mangrove di Pantai Oesapa Tengah Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 9 jenis mangrove yakni Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera cylindrica, Ceriops tagal, Avicennia alba, Soneratia alba, Exoecaria agallocha, Xylocarpus moluccensis. Berdasarkan kriteria baku kerusakan mangrove Kepmen. LH. No. 201, Tahun 2004, kondisi hutan mangrove di Pantai Oesapa Tengah dari tingkat semai dan pancang termasuk dalam kriteria baik sedangkan pada tingkat pohon termasuk dalam kriteria rusak. Faktor kerusakan ekosistem hutan mangrove disebabkan faktor alam seperti abrasi, kekeringan dan faktor manusia seperti penebangan mangrove dan pembuangan sampah disekitar hutan mangrove. Kata kunci : Tingkat Kerusakan, Kerapatan, Hutan Mangrove

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE DI KELURAHAN WATUMBAKA KECAMATAN PANDAWAI KABUPATEN SUMBA TIMUR

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Petrus Ndatang Karay (15380055). Analisis Tingkat Kerusakan Ekosistem Mangrove Di Kelurahan Watumbaka Kecamatan Pandawai Kabupaten Sumba Timur dibawah bimbingan Alfred G. O. Kase, S. Pi, M. Si, Ph. D sebagai Pembimbing I sedangkan Rockie R. L. Supit, S. Pi, M. Si sebagai Pembimbing II. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang. Perambahan dan pengalih fungsi kawasan mangrove dibeberapa daerah, termasuk di Kabupaten Sumba Timur khususnya Kecamatan Pandawai sudah sangat marak terjadi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kerusakan mangrove di kawasan pesisir Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, mengetahui parameter perairan lingkungan hutan mangrove di kawasaan pesisir Kelurahan Watumbaka, Kabupaten Sumba Timur. penentuan lokasi pengambilan contoh vegetasi mangrove berdasarkan karakteristik hutan mangrove yang rusak dan hutan mangrove masih baik. Stasiun pengamatan ditentukan sebanyak 2 stasiun yaitu stasiun I berada pada hutan mangrove kondisi baik (bagian Timur Kelurahan Watumbaka) dan stasiun II berada pada hutan mangrove kondisi rusak (bagian Barat Kelurahan Watumbaka). Masing-masing stasiun terdapat 3 transek, setiap transek terdapat 5 petak contoh/plot/kuadran. Perhitungan terhadap kerusakan hutan mangrove diperoleh kerapatan mangrove yang terdapat di lokasi peelitian dengan formula yang diajukan oleh Bengen (2001a) serta tingkat kerusakan menurut: Kepmen-LH No. 201 (2004). Hasil penelitian menunjukkan bahwa stasiun I kerapatan pohon sebesar 0,186 ind/m2; sedangkan stasiun II kerapatan pohon sebesar 0,09333 ind/m2. Rhizopora mucronata merupakan spesies dengan frekuensi tertinggi baik pada stasiun I yaitu sebesar 0,0067 dan pada stasiun II sebesar 0,0093. Sedangkan spesies E. agalloca merupakan frekuensi terendah yaitu pada stasiun I sebesar 0,0013 dan stasiun II sebesar 0,0013. Penutupan jenis pada stasiun I sebesar 85% sedangkan stasiun II sebesar 59%. Nilai INP memperlihatkan pada stasiun I spesies A. alba dan R. mucronata lebih rendah dibandingkan pada stasiun II. Pada stasiun I tingkat kerapatannya sebesar 1873 pohon/ha dengan penutupannya sebesar 85% atau berada pada kriteria baik; pada stasiun II tingkat kerapatan pohon sebesar 739 pohon/ha atau berada pada kondisi rusak karena jumlah pohon 1000 pohon/ha.Suhu perairan di Kelurahan Watumbaka Kecamatan Pandawai pada saat pasang dan surut relatif stabil yaitu 30,50-32,00C. Salinitas perairan di Kelurahan Watumbaka Kecamatan Pandawai mengalami fluktuasi sangat tinggi pada stasiun I. Sebaran pH dari ke dua stasiun lokasi pengamatan berkisar antara 7,27-7,30.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail