Abstrak
Bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah memiliki sejarah pembentukan yang sangat panjang yang dimulai dari pemanggilan Abraham. Dalam catatan Kitab Kejadian, Allah mengikat perjanjian-Nya dengan Abraham dan keturunannya dan pewaris yang sah dari perjanjian itu adalah Ishak, anak Abraham dan Sarai. Selanjutnya, janji itu berlanjut kepada Yakub, anak bungsu Ishak dan Ribka, bukan Esau. Melukai perasaan Esau dan ia ingin membunuh adiknya itu. Meskipun Esau dan Yakub telah berdamai, namun konflik berlanjut pada keturunan mereka, yakni Edom dan Israel. Baik bangsa Israel maupun Edom menjalani relasi yang buruk dengan ingin menguasai satu dengan yang lain. Puncak konflik terjadi saat Edom terlibat dalam kehancuran kota kota Yerusalem. Dalam situasi krisis yang dialami penduduk Yehuda akibat kehancuran itu, Allah mengutus Obaja sebagai nabi Yehuda untuk menghibur mereka dan menyatakan keadilan-Nya. Kitab Obaja 1:12-15 berisi penyesalan Obaja yang mendalam atas perilaku kejam Edom yang menghina dan menindas Yehuda pada saat mereka diserang oleh Babel. Allah adalah Yang Mahakuasa, yang berkuasa dan memberikan ganjaran setimpal kepada umatNya juga dunia bangsa-bangsa. Konflik antara saudara tidak unik hanya pada Edom dan Yehuda, sebab hal yang serupa terjadi antara Jemaat GMIT Efrata Oelmasi dengan komunitas masyarakat dari Timor-Timur di Desa Kuimasi, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Pada tahun 2014 pecah satu konflik besar dan proses perdamaian sudah dilakukan, namun sampai sekarang bentrok sering berulang. Situasi yang terlihat damai, ternyata menyimpan “bom waktu” yang sedang menunggu waktu untuk meledak. Stigma pengungsi kepada masyarakat Timor-Timur, gap sosial-ekonomi, dan pembatasan akses terus menjadi bibit permusuhan. Konflik ini tentu dapat terus terjadi tidak segera dikelola dengan baik. Karena itu, Penulis ingin menafsir teks Obaja 1:12-15 dan menemukan kerygma bagi penyelesaian konflik tersebut. Penulis berharap dengan terkelolanya konflik dengan baik maka masyarakat Timor-Timur dapat diterima sebagai sesama saudara dan hidup dalam damai.