ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
INTISARI Judul: AkibatHukum Dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30/PUU-XX/2022 Terhadap Jumlah Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Permasalahannya adalah: Bagaimanakah akibat hukum putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30/PUU-XX/2022 Terhadap Jumlah Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia?sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui akibat hukum dari putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30/Puu-XX/2022 Terhadap Jumlah Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan kegunaan secara teoretis dan praktis. Sifat dari penelitian ini adalah deskritif kualitatif dengan jenis penelitian normatif. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu akibat hukum dari putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30/PUU-XX/2022 terhadap jumlah anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan variabel terikat yaitu putusan Mahkamah Konstitusi. Sumber bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier dengan studi kepustakaan / dokumen yang dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan pada hasil penelitiam ditemukan akibat hukum dari putusan Mahkamah Konsitusi Nomor: 30/PPU-XX/2022 terhadap Jumlah Anggota Komisi Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yaitu : 1. Kata berjumlah 35 (tiga puluh lima) yang diatur secara imperatif diubah Mahkamah Konstitusi menjadi fakultatif. 2. Jumlah anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia berjumlah 35 (tiga puluh lima) orang. 3. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia harus melakukan penyesuaian terhadap Pasal 83 ayat (1) melalui perubahan Undang Undang. Dari berbagai permasalahan yang muncul, maka saran yang dapat dikemukakan adalah: 1. Mahkamah Konstitusi perlu diberi kewenangan untuk mengingatkan Pemerintah dan DPR mengenai tindak lanjut putusan Mahkamah Konstitusi. 2. Bagi DPR dan Pemerintah berkewajiban memberikan klarifikasi terhadap perkembangan tindak lanjut Putusan Mahkamah Konstitusi sebagai hubungan kerja antara DPR dan Pemerintah disampaikan kepada Presiden belum disahkan menjadi undang-undang
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
TEOLOGI MISI MENURUT ODHA
Meryana Nomlene
Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas teologi, Unversitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia
email. [email protected]
HIV (Human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyerang dan menghancurkan imunitas tubuh manusia, khususnya pada sel darah putih yang disebut sebagai sel CD4. Sedangkan AIDS (Acquired immunedeficiency syndrome) adalah kondisi akibat serangan virus HIV yang disebut juga sebagai HIV stadium 3 dengan kondisi dan gejala yang kompleks. HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian, sehingga penyakit ini memerlukan perhatian serius. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS yang dilaporkan setiap tahunnya. Kota kupang menjadi fokus penelitian penulis, kasus HIV/AIDS di Kota Kupang berkembang pesat dan menyerang hampir semua kelompok usia, dengan jumlah kasus pada tahun 2022 menjadi 2.996. Penelitian dengan menggunakan metode Kualitatif yang dilakukan secara deduktif induktif. Penulis mewawancarai 5 pasien ODHA sebagai keterwakilan dari populasi ODHA dengan variasi sumber sakit yang mereka alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penularan HIV/AIDS terjadi melalui darah, jarum suntik, juga karena aktivitas seksual. ODHA bergulat dengan perasaannya, luka fisik dan batin harus ditanggung akibat berbagai bentuk penolakan yang harus diterima dari keluarga, lingkungan masyarakat juga tempat kerja dan gereja. Berbagai bentuk tindakan stigma dan diskriminasi dilayangkan bagi mereka. Suara mereka menjerit kesakitan, meminta adanya penerimaan dan pengakuan akan keberadaan mereka terlihat jelas dari raut wajah mereka. Kerinduan untuk tidak terkungkung seperti dalam ruang isolasi. Rasa takut akan penolakan, membuat mereka untuk mengurung diri dan niatan untuk terbuka tentang identitas mereka, sehingga dipendam sendiri dan menjadi kepahitan bagi mereka.Dari hasil observasi di lapangan, penulis megusulkan agar keluarga, lingkungan, dan gereja harus menjadi wadah yang ramah terhadap kehadiran ODHA. Gereja perlu meninjau kembali model teologi misi, untuk melihat model misi yang relevan sehingga dapat menjawab kebutuhan ODHA.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul: Deskripsi tentang Pengiriman Anggota Polri dalam Misi Perdamaian PBB di Darfur, Sudan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah : faktor apakah yang menyebabkan anggota Polri yang mengikuti seleksi FPU (Formed Police Unit) dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB ke Darfur, Sudan tidak lulus seleksi ? Tujuan penelitian adalah : mengetahui faktor apakah yang menyebabkan anggota Polri yang mengikuti seleksi FPU dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB ke Darfur, Sudan tidak lulus yang bermanfaat secara teoritis dan praktis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif-empiris. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah anggota Polri sebagai Formed Police Unit (FPU). Sedangkan variable terikat dalam penelitian ini adalah tentang Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB. Pengumpulan bahan hukum yang dilakukan melalui kegiatan studi Kepustakaan dan melakukan wawancara (interview). Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa untuk mencapai Formed Police Unit harus mengikuti beberapa prosedur untuk mengikuti misi perdamaian PBB di Sudan yaitu:1).Tahap seleksi yaitu tahap seleksi administrasi meliputi syarat pendaftaran secara internal oleh Markas Besar Polri melalui pemberitahaun online mengenai persyaratan yang harus dilengkapi oleh anggota Polri seluruh Indonesia yang akan mengikuti misi perdamaian dan tahapan seleksi yaitu: Pemeriksaan Administrasi (Rikmin), tes psikologi dan wawancara psikologi, Assessment untuk jabatan Kasatgas dan Wakasatgas, kesamaptaan Jasmani, menembak, mengemudi, kemampuan bahasa inggris, komputer, test kompetensi bidang mekanik TI/AC/Genset/Ranmor/MTO, simak BMN, bensat/keuangan, manage, kualifikasi medis/paramedis dan water treatment. 2). Tahap pelatihan yang meliputi pelatihan fisik, mental dan pengetahuan. 3). Tahap rencana pengiriman. Dalam rencana pengiriman ini harus menunggu menunggu Assessment dari tim Assessment And Advisory Visit (AVV) PBB untuk memastikan Indonesia siap mengirimkan pasukan dan logistik untuk mendukung perdamaian dunia. Baik menyangkut kesiapan fasilitas, sarana, prasarana, perlengkapan, senjata, maupun performance atau kemampuan, setelah itu menunggu persetujuan DPR dan Presiden yang dituangkan dalam MOU Indonesia dan PBB sesuai dengan jumlah personil yang telah di siapkan berdasarkan permintaan PBB. Berdasarkan pada pembahasan di atas, maka dapat simpulkan bahwa prosedur pengiriman anggota Polri Polda NTT dalam misi PBB harus mengikuti 3 tahapan dalam proses pengirman yaitu: Seleksi administrasi anggota dari masing-masing Polda di seluruh Indonesia yang meliputi syarat pendaftaran dan tahapan seleksi, latihan pra operasi dan rencana keberangkatan yang dituangkan dalam MOU antara Indonesia dan PBB.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian kali ini dengan judul “Analisis Tindak Pidana Komisif yang Digunakan Jokowi dan Prabowo Dalam Debat Presiden Indonesia 2019” ini dilakukan dengan mempertimbangkan rumusan masalah yang terkait dengan jenis-jenis yang terdapat dalam tiga video video debat presiden Indonesia 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi tindak tutur komisif dan jenis tindak tutur komisif yang digunakan Jokowi dan Prabowo dalam debat presiden Indonesia tahun 2019. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penulis menggunakan metode dokumentasi untuk mengumpulkan data yang dianalisis dan video yang digunakan dalam penelitian ini adalah “debat presiden Indonesia 2019”. Ada delapan prosedur yang penulis lakukan untuk mencapai tujuan dari penelitian ini. Pertama, penulis menonton video. Kedua, penulis merekam video. Ketiga, penulis membuat transkripsi dari video tersebut. Keempat, penulis menuliskan daftar tindak tutur komisif. Kelima penulis akan mengidentifikasi ekspresi pada tindak tutur komisif. Keenam penulis mengklasifikasikan data berdasarkan jenis tindak tutur komisif. Ketujuh penulis menganalisis jenis-jenis tindak tutur komisif dan kedelapan yang merupakan langkah terakhir, penulis melaporkan hasilnya. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa semua jenis tindak tutur komisif ditemukan dalam video debat presiden Indonesia 2019 di antara 75 data tindak tutur komisif dalam video tersebut. Promise menempati urutan pertama dengan 54 data, urutan kedua jaminan dengan 7 data, urutan ketiga penolakan dengan 6 data, penawaran menempati urutan keempat dengan 4 data, ancaman di urutan kelim dengan 3 data, dan yang terakhir adalah relawan di urutan kelima dengan 1 data. Pembahasan penelitian ini menyajikan penjelasan rinci tentang bukti-bukti tertentu yang menyebabkan setiap ekspresi dikategorikan ke dalam setiap jenis tindak tutur komisif
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Konsep tato’nu merupakan satu konsep yang telah mempersatukan agama Islam dan Kristen di Desa Aimoi terkhususnya Jemaat GMIT Sei’Eng dan Masjid Attaqwa Wahing, dalam membangun persaudaraaan. Konsep tato'nu mula pertama diperkenalkan oleh Timung Bel sebagai kapal mate atau tamukung (ketua adat) pada saat dilakukan pembagian agama. Konsep ini mengandung kebenaran yang di dalamnya mengisahkan satu keluarga atau turunan dalam masyarakat Desa Aimoli. Oleh karena konsep ini memiliki makna yang sangat dalam saat jemaat maupun jemaah menghadirkannya dalam tindakan kerukunan dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan sejarah terbentuknya budaya kerukunan yang didasarkan pada konsep tato'nu dan untuk mengetahui nilai-nilai teologis dan sejauh mana diimplementasikan dalam membentuk konsep tato'nu sebagai sokok guru bagi kerukunan Jemaat GMIT Sei’Eng dan Jemaah Masjid Ataqwa Wahing, serta merumuskan pokok-pokok teologis sebagai bahan refleksi dari konsep Tatonu yang menjadi dasar kerukunan masyarakat Islam - Kristen Desa Aimoli dan Implikasinya bagi pembangunan jemaat GMIT Sei’Eng. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian ini digunakan untuk mengetahui dan memperoleh nilai dan makna yang mandalam terhadap konsep tato’nu yang dihidupi oleh jemaat GMIT Sei’Eng dan Masjid Attaqwa Wahing. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerukunan ini terbentuk dari pembegian agama yang dilakukan oleh masyarakat desa Aimoli, sampai membentuk konsep tato’nu (satu perut/rahim), yang di dalamnya masyarakat memiliki hubungan darah antara satu dengan yang lain, namun mereka hidup dalam perbedaan agama. Keberagaman ini juga telah dihidupi oleh nabi-nabi terdahulu, seperti Ibrahim (Abraham), Musa, dan Yesus. Di temukan juga bahwa konsep tato’nu memiliki nilai-nilai Kristiani seperti kasih, keadilan dan kebebasan. Nilai-nilai ini merupakan misi yang diberikan Allah kepada Abraham, Musa dan juga Yesus dan sampai kepada Timung Bel yang dirangkum dalam konsep Tatu’nu. Konsep ini dipercaya sebagai misi Allah yang berkelanjutan dan merupakan kehendak dari Allah agar melalui nilai-nilai ini dapat diambil dan dimaknai sebagai sebuah misi yang harus dijalankan masyarakat Aimoli terkhsusunya Jemaat GMIT Sei’Eng dalam melakukan pelayanan, dengan menumbuhkan kasih, keadilan dan kebebasan untuk menciptakan kedamian serta keselamatan di tengah-tengah dunia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji penggunaan dan revitalisasi bahasa lokal dalam pelayanan gereja di Jemaat GMIT Elim Tulleng sebagai bagian dari pelaksanaan misi gereja. Latar belakang penelitian ini muncul dari fenomena menurunnya penggunaan bahasa lokal, khususnya di kalangan generasi muda, akibat dominasi bahasa nasional dan bahasa global dalam pendidikan, media, dan kehidupan sehari-hari. Pergeseran ini tidak hanya memengaruhi aspek budaya, tetapi juga berdampak pada cara jemaat memahami, menghayati, dan meneruskan iman Kristen dalam komunitas mereka. Situasi ini menempatkan gereja pada panggilan untuk menghadirkan Injil secara relevan dengan konteks kehidupan jemaat, sekaligus setia pada ajaran firman Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan, meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta didukung kajian pustaka mengenai teologi misi dan kontekstualisasi Injil. Analisis data dilakukan secara teologis dan misiologis dengan menggunakan kerangka Missio Dei, yang menekankan bahwa misi gereja adalah partisipasi dalam karya Allah yang berlangsung di dunia, dan harus dijalankan secara kontekstual sesuai realitas sosial, budaya, dan bahasa jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa lokal dalam ibadah, pengajaran, doa, dan pelayanan gereja memberikan dampak signifikan terhadap pemahaman dan pengalaman iman jemaat. Bahasa lokal memungkinkan firman Tuhan disampaikan dalam bahasa yang akrab dan mudah dihayati, sehingga iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dialami secara personal, emosional, dan eksistensial. Selain itu, penggunaan bahasa lokal mendorong keterlibatan aktif jemaat dalam kehidupan bergereja, memperkuat rasa memiliki terhadap gereja, dan memperkokoh identitas komunitas iman. Revitalisasi bahasa lokal juga menjadi jembatan antara pesan Kitab Suci dengan pengalaman hidup jemaat, sehingga pewartaan Injil menjadi lebih relevan, bermakna, dan kontekstual. Secara teologis, penelitian ini menegaskan bahwa revitalisasi bahasa lokal merupakan tindakan misiologis yang selaras dengan visi Allah dalam Missio Dei. Landasan biblis seperti peristiwa Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1–13) dan visi Wahyu 7:9 menunjukkan bahwa keberagaman bahasa bukan penghalang, melainkan sarana Allah untuk menyampaikan keselamatan kepada seluruh umat manusia. Dengan demikian, revitalisasi bahasa lokal bukan sekadar upaya pelestarian budaya, tetapi sarana strategis untuk memperdalam iman jemaat, membangun komunitas yang hidup, dan menjamin pewarisan iman antar generasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Lansia merupakan kelompok usia yang semakin bertumbuh secara jumlah dalam masyarakat dan jemaat gereja masa kini. Namun, tidak jarang mereka terpinggirkan dalam program pelayanan gereja karena dianggap kurang produktif atau tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Dalam konteks ini, gereja dipanggil untuk merefleksikan kembali misi dan panggilannya terhadap kelompok usia ini, bukan hanya sebagai bentuk pelayanan sosial, tetapi sebagai bagian dari partisipasi mereka dalam kehidupan iman dan komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana misi gereja bagi lansia dapat dilaksanakan secara kontekstual melalui pendekatan model komunikasi misi menurut Theo Sundermeier. Theo Sundermeier, seorang teolog dan missiolog asal Jerman, menawarkan pendekatan komunikasi misioner yang menekankan pada aspek dialog, relasionalitas, kehadiran bersama, dan saling memahami sebagai landasan dalam menjalin hubungan dengan konteks dan budaya setempat.
Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan wawancara mendalam terhadap pelayan gereja dan lansia di jemaat GMIT Getsemani Tarus Timur, penelitian ini menemukan bahwa adanya masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi, kondisi kesehatan lansia yang membutuhkan perhatian, keadaan lingkungan dan sosial budaya, kondisi psikologis lansia dan penetapan program pelayanan serta anggaran pendapatan dan belanja yang seimbang, adalah realitas pelayanan bagi lansia yang memerlukan penangan serius. Dari fakta ini penulis melihat, model komunikasi Sundermeier sangat relevan untuk diterapkan dalam pelayanan kepada lansia. Pendekatan ini mendorong gereja untuk tidak hanya "berbicara kepada" lansia, tetapi "berdialog dengan" mereka, menghargai pengalaman hidup, spiritualitas, dan kebijaksanaan yang mereka miliki. Lansia tidak lagi diposisikan sebagai objek pelayanan semata, melainkan sebagai subjek iman yang memiliki kontribusi aktif dalam kehidupan bergereja. Oleh karena itu, misi gereja bagi lansia perlu dirancang secara partisipatif, kontekstual, dan berlandaskan pada komunikasi yang empatik dan inklusif. Dengan demikian, gereja dapat benar-benar menjadi ruang yang merangkul, memperhatikan, dan memberdayakan lansia sebagai bagian dari umat Allah yang utuh dan bermakna.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kebudayaan merupakan hasil dari ekspresi sekelompok orang yang diwujudkan dalam nilai-nilai dan kepercayaan yang terus diyakini dari generasi ke generasi. Salah satu unsur kebudayaan adalah bahasa yang merupakan alat komunikasi. Oleh karena banyaknya budaya yang ada, maka bahasa yang adapun berbeda-beda. Seiring berjalannya waktu, Injil pun hadir di tengah-tengah masyarakat yang plural. Oleh karena itu dibutuhkan metode atau cara yang tepat dalam mengkomunikasikan Injil di tengah-tengah kebudayaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kebudayaan dalam pemberitaan firman dan bagaimana langkah yang tepat untuk menyampaikan Injil di tengah kebudayaan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Sampel yang digunakan sebagai objek dalam penelitian berjumlah 20 orang di antaranya adalah Majelis (Pendeta, Penatua, Diaken, dan Pengajar) dan anggota Jemaat. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini ialah purposive sampling. Dari hasil penelitian yang dilakukan di Jemaat GMIT Kefas Nasi, menunjukkan bahwa kebudayaan juga berpengaruh dalam pemberitaan Injil, hingga berpengaruh juga terhadap spiritualitas pendengar. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa budaya tidak dapat dipisahkan dari Injil. Melakukan penginjilan di tengah-tengah kebudayaan tidak akan mengurangi kekuatan Injil tersebut melainkan dapat membawa Injil untuk merangkul orang-orang yang hidup dalam kebudayaan. Untuk menghubungkan Injil dan kebudayaan diperlukan misi yang kontekstual dalam pemberitaan Injil, karena apabila tidak diperhatikan maka pendengar tidak dapat memahami maksud pemberitaan tersebut. Dengan demikian, spiritualitas mereka juga ikut terkikis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada kepekaan para pemberita dalam menyampaikan firman dengan tidak mengabaikan salah satu unsur kebudayaan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Misi yang inklusif sangat penting untuk mengatasi kesenjangan dan masalah yang ada. Misi ini mencakup orang miskin dan orang kaya, orang yang tertindas dan yang menindas, orang berdosa dan orang benar. Peran gereja tidak hanya berfokus pada kebutuhan rohani, tetapi juga pada kebutuhan jasmani, seperti kemiskinan, kekurangan gizi, dan kurangnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Konsep pemberdayaan melibatkan adanya pemberian kekuatan dan otoritas kepada mereka untuk mengembangkan potensi mereka dan menjadi mandiri. Peran gereja adalah memberdayakan mereka yang lemah, miskin, dan tertindas, dan bukan membiarkan sistem patriarki membuat mereka termarjinalkan. Metode yang akan dipakai oleh penulis adalah pendekatan kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang konteks Jemaat Nekamese dan pelaksanaan program Skol Bife serta perspektif misiologi tentang pemberdayaan, dan merumuskan refleksi teologis misiologis berdasarkan perspektif misiologi tentang pemberdayaan berdasarkan pelaksanaan program Skol Bife di jemaat Nekamese Imanuel Postenu, Klasis Amanuban Tengah Utara; Program Skol Bife yang diprakarsai oleh Jemaat Imanuel Postenu Nekamese telah memberikan kontribusi signifikan dalam mentransformasi pemahaman dan peran gereja dalam budaya patriarki. Program ini telah memberdayakan perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan, mempromosikan kesetaraan gender, dan menangani masalah sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga dan diskriminasi. Melalui program ini, gereja telah menjadi katalisator perubahan sosial, mempromosikan nilai-nilai keluarga, dan tanggung jawab sosial. Program ini telah menunjukkan bahwa gereja dapat memainkan peran penting dalam mengatasi masalah sosial keadilan, dan kesetaraan. Pada akhirnya, program Skol Bife adalah bukti kekuatan misi inklusif dalam mengubah individu, komunitas, dan masyarakat secara keseluruhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pelayanan kesehatan di Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua melalui pendekatan misi integral, dengan fokus pada upaya gereja dalam meningkatkan kualitas kesehatan jemaat dan masyarakat sekitar. Gereja memiliki peran penting dalam misi Allah yang holistik, yang mencakup pelayanan fisik, rohani, dan sosial. Misi integral, menurut René Padilla, menyatakan bahwa penginjilan dan aksi sosial tidak dapat dipisahkan dan harus dijalankan secara bersamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang mempelajari fenomena di lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan pendeta, majelis jemaat, anggota jemaat, dan UPP Kesehatan di Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua. Penelitian ini menemukan bahwa Pos Pelayanan Kesehatan yang sudah berjalan sejak tahun 2000 memberikan dampak positif bagi jemaat, meskipun masih ada tantangan dalam pelaksanaannya, seperti kurangnya fasilitas dan keterbatasan dana. Pelayanan kesehatan yang dilakukan gereja dalam bentuk preventif, kuratif, dan rehabilitatif dapat meningkatkan kualitas hidup jemaat jika dikelola secara lebih terintegrasi. Pada akhirnya, pelayanan kesehatan gereja perlu dikembangkan secara holistik, dengan memperhatikan aspek fisik, sosial, dan rohani, serta didukung dengan sumber daya yang memadai untuk menjawab kebutuhan jemaat dan masyarakat sekitar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi ini mengkaji relasi antara Gereja Katolik dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Sikun, Klasis Malaka, dalam konteks pluralisme agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kedua gereja ini dalam menghadapi perbedaan kepercayaan dan sejarah kedatangan masing-masing gereja, serta merefleksikan nilai-nilai teologis yang mendasari hubungan tersebut. Melalui metode kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa meskipun terdapat konflik awal akibat perbedaan keyakinan, kedua gereja mampu membangun keharmonisan melalui kegiatan bersama seperti bakti sosial, proses belajar bersama, dan perayaan keagamaan. Pluralisme agama di Sikun, yang mencakup kehadiran Islam, Katolik, Protestan (GMIT), dan Pentakosta, menjadi latar belakang penting dalam memahami dinamika hubungan ini. Model misi Konvivenz dari Theo Sundermeier, yang menekankan gotong-royong, belajar bersama, dan perayaan hidup, terbukti relevan dalam konteks Sikun. Relasi yang baik antara Gereja Katolik dan GMIT di Sikun dapat menjadi model bagi gereja-gereja lain yang masih mengalami konflik. Gereja perlu terus mempromosikan dialog dan kerjasama lintas agama untuk mewujudkan kasih Allah yang universal dan menciptakan kehidupan yang adil dan damai. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya dialog antaragama, kerjasama dalam kegiatan sosial, dan upaya untuk memahami serta menghargai identitas agama masing-masing. Penelitian ini memberikan saran untuk memperkuat relasi antar gereja melalui forum diskusi rutin dan program-program bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kearifan Lokal merupakan pandangan hidup, ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang terwujud dalam aktivitas masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah guna pemenuhan kebutuhan mereka. kearifan lokal lilifuk adalah proses memanen ikan di dalam satu tempat (kolam) yang telah dipelihara dan dilakukan bersama-sama dengan menggunakan alat tangkap ikan secara tradisional (sorok) setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali. Menghadapi realitas lilifuk dan sikap masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, muncul permasalahan terkait sikap masyarakat terhadap unsur-unsur lingkungan hidup seperti tanah, air, hutan, laut, dan udara yang semakin memburuk pada zaman ini. GMIT, dalam konteks ini, dipanggil untuk menjaga dan merawat alam semesta sebagai ciptaan Allah yang diciptakan-Nya baik bahkan sangat baik. Tujuan penelitian yakni ingin melihat eksistensi GMIT perlu mengembangkan pemikiran teologis yang kontekstual mengenai lingkungan, yang menjadi dasar bagi perhatian jemaat dan masyarakat. Penelitian dilakukan di jemaat GMIT Lahairoi Kuanheum dengan metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi partisipasif, wawancara dan dokumentasi. Berkaitan dengan metode pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling dan metode penulisannya yakni deskriptif, analisis dan reflektif. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa terdapat hubungan manusia dengan alam bertolak dari kearifan lokal lilifuk yakni terdapat hubungan manusia di atas alam. Hal ini dipengaruhi oleh adanya faktor pemahaman dan faktor adat istiadat. Refleksi teologis yang diperoleh dari hasil analisis yakni laut sebagai sumber kehidupan, berdamai dengan lingkungan dan gereja serta pemerintah merupakan kawan sekerja Allah. benar adanya, bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang diciptakan dengan tugas dan tanggung jawabnya sendiri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Misi gereja secara teologis dapat dimaknai sebagai tindakan nyata dari gereja di dalam melayani jemaat Tuhan melalui segala potensi yang ada di dalam diri gereja. Misi ini juga berkaitan dengan bagaimana gereja menyatakan sepenuhnya tanda bahwa Kerajaan Allah itu memang nyata ada di bumi. Banyak cara untuk bisa merealisasikan misi ini, salah satunya dengan memerhatikan sekolah-sekolah yang ada, khususnya dalam naungan Yayasan GMIT. Di GMIT Elim Bolok sendiri upaya membenahi kualitas pendidikan itu sudah mulai dipraktikkan sejak beberapa puluh tahun lalu. Tidak hanya sekadar mendirikan sekolah tetapi juga disertai dengan pemberian diakonia bagi beberapa anak jemaat yanag mengalami kendala ekonomi. Pekerjaan misi ini perlu dikawwal. Karena itu, tulisan ini adalah sebuah kepedulian untuk bagaimana gereja tetap mengawal dan merawat pekerjaan baik ini. Guna menyelesaikan tulisan ini maka metode yang dipakai adalah kombinasi antara penelitian lapangan yang dianalisa dengan teori tentang misi dari beberapa pustaka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
PERAN MAJELIS JEMAAT DALAM URUSAN SENGKETA TANAH
”Suatu Tinjauan Teologis tentang Peran Majelis Jemaat dalam Urusan Sengketa Tanah di Jemaat GMIT Ora Et Labora Kolbano Klasis Amanuban Tengah Selatan”
Henki Aristo Paut
email: [email protected]
Jemaat GMIT Ora et Labora Kolbano berdiri pada tanggal 1 Januari 1912. Latar belakang berdirinya jemaat ini adalah keadaan jemaat yang masih sangat kental dengan kepercayaan terhadap tempat-tempat dan beda-beda yang memiliki kekuatan gaib dan juga arwah-arwah dari para leluhur. Orang-orang yang memiliki kepercayaan seperti ini biasanya dikenal dengan istilah atoni halaik (orang kafir). Pada saat injil mulai dibawa masuk ke dalam kalangan jemaat. Usif dan juga tua-tua masyarakat menolak akan hal tersebut karena Injil dilihat sebagai hal yang tabuh dan sebuah ancaman bagi keyakinan dan kepercayaan orang-orang halaik. Budaya yang berkembang dalam kalangan masyarakat pada waktu itu adalah setiap usaha dan kerja yang dilakukan selalu berhubungan dengan alam. Bagi mereka alam mengabulkan setiap doa melalui arwah-arwah moyang mereka.
Jemaat GMIT Ora et Labora Kolbano berdiri di tengah-tengah jemaat dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda dan dengan watak yang berbeda pula. Dari perbedaan inilah kehadiran Injil atau gereja mempersatukan semua jemaat dalam satu persekutuan sebagai keluarga Allah. Sering kali ada persoalan-persoalan atau konflik-konflik yang timbul dalam kalangan jemaat dan memiliki potensi merusak relasi dalam sebuah persekutuan. Konflik-konflik individu maupun konflik-konflik yang sering kali melibatkan kelompok-kelompok memiliki potensi yang sangat besar terhadap renggangya relasi dalam sebuah persekutuan bahkan bisa mengakibatkan perpecahan dalam suatu persekutuan. Masalah mengenai perampasan tanah atau sengketa tanah memiliki dampak yang sangat besar terhadap renggangya relasi dalam suatu persekutan bahkan dapat mengakibatkan perpecahan dalam suatu persekutuan. Persoalan-persoalan seperti ini dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab seperti tuntutan ekonomi, bahkan faktor sosial dan politik dan juga budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat.
Berdasarkan realita yang ada gereja seolah tidak mendapatkan ruang untuk terlibat secara langsung dalam setiap proses penyelesaian permasalahan tanah yang sering dihadapi di dalam jemaat. Gereja sebagai suatu persekutan yang tumbuh dan selalu berhadapan dengan berbagai macam konflik atau persoalan dalam jemaat memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menyelesaikan persoalan atau konflik tersebut. Gereja tidak dapat menghindarkan diri dari konflik, melainkan gereja harus selalu hadir dalam setiap proses penanganan atau penyelesaian konflik yang terjadi. Pada tahap inilah misi gereja itu harus tampak dan melalui kehadiran gereja, jemaat dapat merasakan syalom Allah. Konflik atau persoalan yang terjadi harus dapat dikelola dengan tepat karena jika tidak diselesaikan dengan tepat maka akan melahirkan konflik baru yang akan berdampak pada persekutuan sebagai keluarga Allah.
.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Misi gereja adalah panggilan dari Allah kepada gereja sebagai perpanjangan tangan Allah untuk menghadirkan kerajaan Allah. Gereja adalah Tubuh Kristus, umat Allah dan persekutuan orang percaya. Gereja juga adalah lembaga yang berperan sebagai sarana penginjilan, pengajaran, pendidikan dan pemuridan. Gereja memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menghadirkan kasih Allah dimuka bumi, salah satunya melalui bidang pendidikan. Dalam misinya di dunia, gereja memiliki tugas panggilan dalam bidang pendidikan. Howard G Hendricks mengatakan gereja mesti melakukan pendidikan. Itu bukanlah sebuah pilihan melainkan suatu yang esensial; bukan hanya sekadar karena baik tetapi juga karena ia amat penting. Gereja yang berhenti melayankan pendidikan, ia telah berhenti sebagai sebuah gereja. Terkait dengan masalah yang terjadi di SD GMIT Fami Tulleng, tentang kurangnya tenaga pendidik, sarana-prasarana yang kurang layak, tunjangan bagi guru-guru honorer yang terbatas dan seadanya, maka melalui penelitian yang dilakukan, penulis ingin mengetahui bagaimana peran Mata Jemaat GMIT Getsemani Kolang terkaitdengan keadaan SD GMIT Fami Tulleng. Berdasarkan hasil penelitian, penulisan menemukan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi masalah yang penulis sebutkan di atas. Faktor-faktor tersebut antara lain: Kepedulian jemaat terhadap guru honorer dan kesadaran jemaat akan pentingnya pendidikan pada anak. Metode yang penulis pakai untuk memperoleh informasi mengenai kajian tersebut adalah metode penelitian kualitatif. Metode ini bertujuan untuk menyediakan alat-alat dalam memahami arti yang mendalam berkaitan dengan fenomena yang kompleks dan prosesnya dalam praktek kehidupan sosial. Dalam teks Kisah Para Rasul 2:41-47, kehidupan jemaat mula-mula hidup dalam kebersamaan sebagai bentuk persekutuan keluarga Allah untuk saling menopang dalam setiap permasalahan yang ada.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian terhadap penggunaan pupuk anorganik dan pestisida untuk menunjang petani dalam peningkatan hasil pertaniannya yang akhirnya meningkatkan ekonomi petani telah dilakukan. Namun tujuan pembangunan ekonomi dengan menggunakan pupuk anorganik dan pestisida (Agrokimia) bagi petani mengakibatkan kerusakan lingkungan dan berakibat buruk bagi kesehatan. Agrokimia sebagai tambahan energi bagi pertanian yang merupakan produk negara maju dipandang sebagai solusi jitu demi pembangunan pertanian, namun pupuk anorganik dan pestisida merusak lingkungan dan mengganggu kesehatan petani di desa Oematnunu. Penelitian ini mendapatkan data dan informasi tentang praktik penggunaan pupuk anorganik dan pestisida dalam pertanian di Desa Oematnunu Kecamatan Kupang Barat. Selanjutnya penelitian ini mendapatkan data dan informasi Misi Gereja di bidang pertanian dalam konteks pemanfaatan pupuk anorganik dan pestisida bagi pembangunan pertanian berkelanjutan di desa Oematnunu kecamatan Kupang Barat. Kemudian berdasarkan data dan informasi yang didapat penulis membuat refleksi teologis misi holistik terhadap pertanian hortikultura di Desa Oematnunu Kecamatan Kupang Barat bagi pembangunan pertanian berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan di atas penulis menggunakan pendekatan gabungan/mixed method yaitu memadukan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan penelaahan dokumen. Teori yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang pertanian, pembangunan pertanian berkelanjutan. Selain itu teori tentang teologi misi konvivens/koeksistensi dari Theo Sundermeier dan teologi misi pemberdayaan dari Mery Kolimon. Hasil yang di dapat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan rekomendasi bagi gereja dan pemerintah dalam melaksanakan misi untuk menolong petani dari kerusakan lingkungan dan penderitaan petani. Kata Kunci : Pertanian, Agrokimia, Misi, Konvivens, Oematnunu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dalam hubungan kerja sama antara Pusat Pelatihan Misi Terpadu (PPMT) dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), dilakukan sebuah pelatihan Pengembangan Swadaya Masyarakat (PSM). Dari pelatihan ini, penulis mencoba untuk memberi perhatian kepada upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh PPMT dengan melihat dampaknya dalam wilayah pelayanan GMIT. PPMT dibangun dengan berlatar belakang kehidupan jemaat dalam menghadapi masalah-masalah seperti kemiskinan, rendahnya pendidikan, tingkat kesehatan yang buruk dan masalah lainnya. Dalam menyatakan visi dan misi mereka, maka PPMT membangun kerja sama dengan GMIT.
Tulisan ini melihat hubungan kerja sama antara PPMT dan GMIT dalam upaya pemberdayaan yang dilakukan. Penulis menggunakan metode deskriptif, analitis hingga reflektif. Metode deskriptif digunakan untuk melihat kehadiran PPMT di wilayah pelayanan GMIT. Kemudian, penulis menggunakan metode analitis guna menganalisis faktor-faktor dan dampak dilakukan pemberdayaan. Metode yang digunakan penulis dalam analisis adalah metode analisis SWOT. Metode ini melihat bagaimana kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari sebuah program yang dilakukan. Lalu, penulis meninjau secara teologis upaya pemberdayaan ini menggunakan tinjauan teologi praktika yaitu pembangunan jemaat.
Penulis menemukan bahwa upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh PPMT dalam kerja sama bersama GMIT memberikan hasil meskipun dalam keberhasilan itu, belum sempurna. Dampak dari pemberdayaan ini turut dirasakan oleh GMIT. Dengan keberhasilan inilah, visi dan misi yang dijalankan oleh PPMT berhasil tetapi dalam upaya perkembangan hasil yang lebih baik, perlu pengawasan dan tindak lanjut yang lebih baik tentang upaya pemberdayaan ini.
Gereja hadir di dunia guna menyatakan visi dan misi Allah termasuk GMIT yang juga berperan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam panca pelayanannya. Bekerja sama dengan PPMT, GMIT berusaha untuk belajar mengembangkan potensi yang dimiliki jemaat guna memberi kesejahteraan bagi mereka. Dalam proses pemberdayaan ini, kehadiran Allah menjadi nyata melalui orang yang dipanggil dan diutus-Nya. Dengan kehadiran dan peran para pelayan, PPMT berhasil menyatakan visi dan misinya bukan saja tentang pelayanan “altar” melainkan tentang peran pelayan di “latar”.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
INTISARI Judul skripsi ini: Judul Skripsi Penulis adalah Kajian Yuridis Pembatan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Oleh Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara. ,rumusan masalah dari skripsi ini adalah: Bagaimana “Pertimbangan Majelis Hakim dalam membatalkan Keputusan Komisi Pemilihan umum tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertimbangan Majelis Hakim dalam membatalkan Keputusan Komisi Pemilihan umum tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. jenis penelitian ini adalah:Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif, sedangkan variable penelitian adalah variable bebas, yakni Pertimbangan Majelis Hakim dalam membatalkan Keputusan Komisi Pemilihan umum tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyimpulkan bahwa alasan atau pertimbangan Majelis Hakim dalam membatalkan surat keputusan Komisi Pemilihan Umum tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah Keputusan Komisi Pemilihan Umum tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bertentangan dengan Peraturan Perundang- undangan, dan Keputusan Komisi Pemilihan Umum tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bertentangan dengan Asas-asas Umum Pemerintah Yang Baik. Sehingga dengannya hasil penelitian yang penulis temukan tersebut, adapub beberapa saran penulis dalam menunjang sebuah keputusan yang nantinya diterbitkan oleh Komisi Pemilihan Umum, yakni diharapkan bagi Komisi Pemilihan Umum baik dari KPU Kabupaten TTU dan Kabupaten Lembata, maupun Kabupaten lainnya, sebelum menerbitkan suatu keputusan tata usaha negara harus memperhatikan bahwa keputusan tersebut tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-Undangan Yang Berlaku, serta Komisi Pemilihan Umum baik dari KPU Kabupaten TTU dan Kabupaten Lembata, maupun Kabupaten lainnya, sebelum menerbitkan suatu keputusan tata usaha negara harus memperhatikan bahwa keputusan tersebut tidak bertentangan dengan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (Good Government). Kata Kunci: Komisi Pemilihan Umum, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Pengadilan Tata Usaha Negara
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sampah merupakan salah satu krisis lingkungan hidup yang menjadi permasalahan hingga saat ini. Akibat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk, tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya maka bertambah pula sampah yang dihasilkan. Sampah dibuang sembarangan dan sering ditemukan di berbagai tempat seperti jalann, pusat pertokoan, sarana milik pemerintah dan lain sebagainya. Salah satu sarana milik pemerintah yang mengelola dan mengolah sampah adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pada TPA terdapat banyak sampah dengan jenis dan karakteristik berbeda. Jika sampah-sampah ini tidak ditanggulangi secara serius, maka akan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan di sekitarnya. Untuk menjawab permasalahan dampak buruk sampah bagi lingkungan maka hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama, termasuk pihak gereja, Gereja khususnya GMIT terpanggil secara aktif untuk melibatkan diri dan memiliki kepekaan dalam usaha peduli terhadap lingkungan hidup dan masalah-masalahnya di dalamnya. Dalam mengkaji masalah ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dalam bentuk studi lapangan. Jemaat GMIT Efata Batukapur memiliki tanggung jawab yang lebih untuk terlibat dalam upaya menjaga lingkungan hidup. Konteks dan keadaan lingkungan Jemaat GMIT Efata Batukapur diperhadapkan dengan masalah krisis lingkungan akibat sampah di TPA Alak yang telah memiliki dampak buruk terhadap kehidupan, baik terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya. Dalam mewujudkan tanggung jawab gereja terhadap lingkungan hidup, maka gereja perlu memiliki misi pelayanan yang bergerak di bidang ekologi. Penulis melihat misi pelayanan Jemaat GMIT Efata Batukapur belum menjawab permasalahan yang sedang terjadi. Maka penulis menawarkan perspektif ekotelogi yang berjudul ecomissiology menurut Ross Langmead. Penulis memilih perspektif ini dengan alasan, perspektif ekoteologi Ross Langmead menggunakan unsur misi yang berfokus pada lingkungan hidup. Tidak hanya teori mengenai ekoteologi, tetapi praktik ekoteologi disampaikan melalui pendekatan ekomisiologi. Hal ini menjadi relevan dengan permasalahan yang diangkat penulis tentang peranan misi gereja yang bergerak pada lingkungan hidup dengan dasar Teologi Ekologis. Penulis memilih teks-teks Alkitab baik dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai landasan Alkitabiah dan kemudian membuat refleksi teologis terhadap masalah yang terjadi. Misi gereja terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui pelayanan-pelayanan yang difokuskan pada krisis lingkungan yang sedang terjadi. Gereja ada di dalam realitas dunia, maka gereja tidak dapat mengabaikan tugas panggilannya di dunia, termasuk terlibat untuk memelihara dan menjaga lingkungan hidup sebagai suatu kesatuan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Konsep tato’nu merupakan satu konsep yang telah mempersatukan agama Islam dan Kristen di Desa Aimoi terkhususnya Jemaat GMIT Sei’Eng dan Masjid Attaqwa Wahing, dalam membangun persaudaraaan. Konsep tato'nu mula pertama diperkenalkan oleh Timung Bel sebagai kapal mate atau tamukung (ketua adat) pada saat dilakukan pembagian agama. Konsep ini mengandung kebenaran yang di dalamnya mengisahkan satu keluarga atau turunan dalam masyarakat Desa Aimoli. Oleh karena konsep ini memiliki makna yang sangat dalam saat jemaat maupun jemaah menghadirkannya dalam tindakan kerukunan dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan sejarah terbentuknya budaya kerukunan yang didasarkan pada konsep tato'nu dan untuk mengetahui nilai-nilai teologis dan sejauh mana diimplementasikan dalam membentuk konsep tato'nu sebagai sokok guru bagi kerukunan Jemaat GMIT Sei’Eng dan Jemaah Masjid Ataqwa Wahing, serta merumuskan pokok-pokok teologis sebagai bahan refleksi dari konsep Tatonu yang menjadi dasar kerukunan masyarakat Islam - Kristen Desa Aimoli dan Implikasinya bagi pembangunan jemaat GMIT Sei’Eng. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian ini digunakan untuk mengetahui dan memperoleh nilai dan makna yang mandalam terhadap konsep tato’nu yang dihidupi oleh jemaat GMIT Sei’Eng dan Masjid Attaqwa Wahing. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerukunan ini terbentuk dari pembegian agama yang dilakukan oleh masyarakat desa Aimoli, sampai membentuk konsep tato’nu (satu perut/rahim), yang di dalamnya masyarakat memiliki hubungan darah antara satu dengan yang lain, namun mereka hidup dalam perbedaan agama. Keberagaman ini juga telah dihidupi oleh nabi-nabi terdahulu, seperti Ibrahim (Abraham), Musa, dan Yesus. Di temukan juga bahwa konsep tato’nu memiliki nilai-nilai Kristiani seperti kasih, keadilan dan kebebasan. Nilai-nilai ini merupakan misi yang diberikan Allah kepada Abraham, Musa dan juga Yesus dan sampai kepada Timung Bel yang dirangkum dalam konsep Tatu’nu. Konsep ini dipercaya sebagai misi Allah yang berkelanjutan dan merupakan kehendak dari Allah agar melalui nilai-nilai ini dapat diambil dan dimaknai sebagai sebuah misi yang harus dijalankan masyarakat Aimoli terkhsusunya Jemaat GMIT Sei’Eng dalam melakukan pelayanan, dengan menumbuhkan kasih, keadilan dan kebebasan untuk menciptakan kedamian serta keselamatan di tengah-tengah dunia.