Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Subjek: Theo Sundermeier
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

MISI GEREJA BAGI KAUM LANJUT USIA “Suatu Tinjauan Misiologi Dengan Pendekatan Model Komunikasi Menurut Theo Sundermeier Terhadap Pelayanan Gereja Bagi Kaum Lanjut Usia (60 Tahun Ke Atas) Di Jemaat GMIT Getsemani Tarus Timur “

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Lansia merupakan kelompok usia yang semakin bertumbuh secara jumlah dalam masyarakat dan jemaat gereja masa kini. Namun, tidak jarang mereka terpinggirkan dalam program pelayanan gereja karena dianggap kurang produktif atau tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Dalam konteks ini, gereja dipanggil untuk merefleksikan kembali misi dan panggilannya terhadap kelompok usia ini, bukan hanya sebagai bentuk pelayanan sosial, tetapi sebagai bagian dari partisipasi mereka dalam kehidupan iman dan komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana misi gereja bagi lansia dapat dilaksanakan secara kontekstual melalui pendekatan model komunikasi misi menurut Theo Sundermeier. Theo Sundermeier, seorang teolog dan missiolog asal Jerman, menawarkan pendekatan komunikasi misioner yang menekankan pada aspek dialog, relasionalitas, kehadiran bersama, dan saling memahami sebagai landasan dalam menjalin hubungan dengan konteks dan budaya setempat. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan wawancara mendalam terhadap pelayan gereja dan lansia di jemaat GMIT Getsemani Tarus Timur, penelitian ini menemukan bahwa adanya masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi, kondisi kesehatan lansia yang membutuhkan perhatian, keadaan lingkungan dan sosial budaya, kondisi psikologis lansia dan penetapan program pelayanan serta anggaran pendapatan dan belanja yang seimbang, adalah realitas pelayanan bagi lansia yang memerlukan penangan serius. Dari fakta ini penulis melihat, model komunikasi Sundermeier sangat relevan untuk diterapkan dalam pelayanan kepada lansia. Pendekatan ini mendorong gereja untuk tidak hanya "berbicara kepada" lansia, tetapi "berdialog dengan" mereka, menghargai pengalaman hidup, spiritualitas, dan kebijaksanaan yang mereka miliki. Lansia tidak lagi diposisikan sebagai objek pelayanan semata, melainkan sebagai subjek iman yang memiliki kontribusi aktif dalam kehidupan bergereja. Oleh karena itu, misi gereja bagi lansia perlu dirancang secara partisipatif, kontekstual, dan berlandaskan pada komunikasi yang empatik dan inklusif. Dengan demikian, gereja dapat benar-benar menjadi ruang yang merangkul, memperhatikan, dan memberdayakan lansia sebagai bagian dari umat Allah yang utuh dan bermakna.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RELASI GEREJA KATOLIK DAN GMIT Tinjauan Misi Dalam Konteks Pluralisme Terhadap Relasi Gereja Katolik dan GMIT di Sikun Klasis Malaka dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini mengkaji relasi antara Gereja Katolik dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Sikun, Klasis Malaka, dalam konteks pluralisme agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kedua gereja ini dalam menghadapi perbedaan kepercayaan dan sejarah kedatangan masing-masing gereja, serta merefleksikan nilai-nilai teologis yang mendasari hubungan tersebut. Melalui metode kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa meskipun terdapat konflik awal akibat perbedaan keyakinan, kedua gereja mampu membangun keharmonisan melalui kegiatan bersama seperti bakti sosial, proses belajar bersama, dan perayaan keagamaan. Pluralisme agama di Sikun, yang mencakup kehadiran Islam, Katolik, Protestan (GMIT), dan Pentakosta, menjadi latar belakang penting dalam memahami dinamika hubungan ini. Model misi Konvivenz dari Theo Sundermeier, yang menekankan gotong-royong, belajar bersama, dan perayaan hidup, terbukti relevan dalam konteks Sikun. Relasi yang baik antara Gereja Katolik dan GMIT di Sikun dapat menjadi model bagi gereja-gereja lain yang masih mengalami konflik. Gereja perlu terus mempromosikan dialog dan kerjasama lintas agama untuk mewujudkan kasih Allah yang universal dan menciptakan kehidupan yang adil dan damai. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya dialog antaragama, kerjasama dalam kegiatan sosial, dan upaya untuk memahami serta menghargai identitas agama masing-masing. Penelitian ini memberikan saran untuk memperkuat relasi antar gereja melalui forum diskusi rutin dan program-program bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail