Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

13 hasil
Subjek: Injil
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

INJIL DAN BAHASA "Suatu Tinjauan Misiologi Terhadap Penggunaan Bahasa Lokal Dalam Penyebaran Injil di Jemaat GMIT Elim Tulleng, Klasis Alor Tengah Utara.

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji penggunaan dan revitalisasi bahasa lokal dalam pelayanan gereja di Jemaat GMIT Elim Tulleng sebagai bagian dari pelaksanaan misi gereja. Latar belakang penelitian ini muncul dari fenomena menurunnya penggunaan bahasa lokal, khususnya di kalangan generasi muda, akibat dominasi bahasa nasional dan bahasa global dalam pendidikan, media, dan kehidupan sehari-hari. Pergeseran ini tidak hanya memengaruhi aspek budaya, tetapi juga berdampak pada cara jemaat memahami, menghayati, dan meneruskan iman Kristen dalam komunitas mereka. Situasi ini menempatkan gereja pada panggilan untuk menghadirkan Injil secara relevan dengan konteks kehidupan jemaat, sekaligus setia pada ajaran firman Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan, meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta didukung kajian pustaka mengenai teologi misi dan kontekstualisasi Injil. Analisis data dilakukan secara teologis dan misiologis dengan menggunakan kerangka Missio Dei, yang menekankan bahwa misi gereja adalah partisipasi dalam karya Allah yang berlangsung di dunia, dan harus dijalankan secara kontekstual sesuai realitas sosial, budaya, dan bahasa jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa lokal dalam ibadah, pengajaran, doa, dan pelayanan gereja memberikan dampak signifikan terhadap pemahaman dan pengalaman iman jemaat. Bahasa lokal memungkinkan firman Tuhan disampaikan dalam bahasa yang akrab dan mudah dihayati, sehingga iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dialami secara personal, emosional, dan eksistensial. Selain itu, penggunaan bahasa lokal mendorong keterlibatan aktif jemaat dalam kehidupan bergereja, memperkuat rasa memiliki terhadap gereja, dan memperkokoh identitas komunitas iman. Revitalisasi bahasa lokal juga menjadi jembatan antara pesan Kitab Suci dengan pengalaman hidup jemaat, sehingga pewartaan Injil menjadi lebih relevan, bermakna, dan kontekstual. Secara teologis, penelitian ini menegaskan bahwa revitalisasi bahasa lokal merupakan tindakan misiologis yang selaras dengan visi Allah dalam Missio Dei. Landasan biblis seperti peristiwa Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1–13) dan visi Wahyu 7:9 menunjukkan bahwa keberagaman bahasa bukan penghalang, melainkan sarana Allah untuk menyampaikan keselamatan kepada seluruh umat manusia. Dengan demikian, revitalisasi bahasa lokal bukan sekadar upaya pelestarian budaya, tetapi sarana strategis untuk memperdalam iman jemaat, membangun komunitas yang hidup, dan menjamin pewarisan iman antar generasi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PELAYANAN KESEMBUHAN YANG HOLISTIK “Suatu Kajian Naratif dari Injil Markus 8:22-26 dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Imanuel Oebitina, Klasis Rote Barat Daya”

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tulisan ini memfokuskan pembahasan pada menafsir teks Injil Markus 8:22-26 untuk memberi makna dan sumbangsih bagi gereja khususnya gereja di GMIT Imanuel Oebitina dalam mengatasi masalah kesehatan. Kesembuhan perlu diberikan perhatian karena merupakan suatu tanggung jawab gereja sebagai persekutuan Kristus. Pelayanan gereja khususnya Jemaat Imanuel Oebitina, belum menerapkan dan memberikan pelayanan bagi mereka yang sakit secara holistik. Pelayanan gereja berfokus pada mendoakan dari mimbar gereja tanpa ada upaya praktis yang dilakukan serta program gereja yang belum menyentuh aspek kesehatan. Tujuan dari penulisan skripsi ini Adalah untuk menyikapi masalah sakit-penyakit dan upaya pelayanan yang dilakukan gereja dengan memaknai tindakan pelayanan Yesus terhadap mereka yang sakit sesuai hasil penafsiran teks Markus 8:22-26. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan metode tafsir naratif. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal penting. Pertama, pelayanan penyembuhkan Yesus bersifat holistik. Kedua, pelayanan aksi nyata yang dilakukan Yesus adalah dengan pendekatan personal dan intim dengan mereka yang sakit. Ketiga, pentingnya komunitas dalam proses penyembuhan. Selain itu Tindakan praktis yang dapat dilakukan gereja adalah memberikan perhatian bagi pelayanan yang telah dirumuskan dalam pokok-pokok eklesiologinya bahwa diakonia tidak hanya diperuntukkan bagi janda, duda dan yatim piatu tapi juga bagi mereka yang sakit. Kata-kata kunci: Injil Markus, Kesembuhan Holistik, Gereja, GMIT Imanuel Oebitina.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AGAMA SIPIL (CIVIL RELIGION) DALAM RUANG PUBLIK : Kajian Sosio-Teologis atas Pemikiran Robert Neelly Bellah dan Implikasinya bagi Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Nusa Tenggara Timur (NTT)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji konsep Civil Religion (agama sipil) dalam pemikiran Robert N. Bellah serta implikasinya bagi refleksi teologi Kristen dan peran Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Agama sipil dipahami sebagai bentuk religiusitas publik yang menampilkan simbol, ritus, dan nilai-nilai transenden dalam ruang kenegaraan tanpa terikat pada agama formal tertentu. Bellah melihat agama sipil bukan sekadar alat legitimasi negara, melainkan juga memiliki fungsi profetis untuk mengoreksi penyimpangan moral dalam kehidupan publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh melalui penelitian kepustakaan terhadap karya-karya utama Robert Bellah serta literatur teologi dan sosiologi agama yang relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dan kritis-reflektif untuk menilai kontribusi dan keterbatasan konsep agama sipil dari perspektif teologi Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama sipil memiliki potensi positif dalam membangun nilai moral bersama dan memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat majemuk. Namun demikian, agama sipil juga mengandung risiko teologis apabila gereja terjebak dalam sakralisasi negara, nasionalisme berlebihan, atau kedekatan yang tidak kritis dengan kekuasaan. Dalam konteks GMIT sebagai gereja mayoritas di Nusa Tenggara Timur, agama sipil tampak dalam keterlibatan gereja di ruang publik, baik melalui ritus kenegaraan maupun peran sosialnya. Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk bersikap kritis dan profetis, menjaga kesetiaan pada pengakuan iman bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, sekaligus menghadirkan nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan kasih dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini menegaskan pentingnya refleksi teologi publik agar gereja mampu berperan secara relevan tanpa kehilangan identitas dan integritas iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

YESUS DAN TRANSFORMASI CARA PANDANG TERHADAP INSAN DENGAN DISABILITAS: SUATU KAJIAN NARATIF TERHADAP INJIL LUKAS 18:35-43 DAN IMPLIKASINYA BAGI PELAYANAN INSAN DENGAN DISABILITAS DI JEMAAT GMIT EFRATA OELMASI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelayanan terhadap Insan dengan Disabilitas (IDD) dalam konteks gereja lokal masih menghadapi persoalan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan struktural. Hambatan akses, stigma, serta praktik pengucilan membatasi partisipasi dan pemulihan martabat IDD, sementara disabilitas kerap dipahami secara sempit dan belum ditempatkan sebagai isu teologis dan eklesiologis yang mendesak. Bertolak dari realitas tersebut, penelitian ini memfokuskan diri pada penafsiran teks Alkitab sebagai kontribusi teologis bagi pengembangan pelayanan gereja yang inklusif terhadap IDD. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana narasi Lukas 18:35–43 merepresentasikan tindakan pemulihan Yesus terhadap IDD serta menghadirkan implikasi teologis dan praksis yang mentransformasi cara pandang gereja terhadap disabilitas, khususnya dalam konteks pelayanan Jemaat GMIT Efrata Oelmasi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode kritik naratif, yang membaca teks sebagai satu kesatuan cerita dengan memperhatikan alur, karakter, latar, dan sudut pandang pencerita dalam konteks sosial dan teologis Injil Lukas. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal utama. Pertama, tindakan Yesus yang berhenti, mendengar, dan berdialog menegaskan bahwa pemulihan dimulai dari pengakuan martabat dan relasi yang memanusiakan, yang menjadi dasar tanggung jawab gereja dalam pelayanan terhadap IDD. Kedua, iman yang melihat bukan iman yang berhenti pada pengakuan, melainkan iman yang menuntut tindakan konkret gereja melalui pelayanan diakonia yang bergerak melampaui pola karitatif menuju diakonia transformatif. Ketiga, pemulihan Yesus bersifat transformasional karena tidak hanya memulihkan individu, tetapi juga mengubah sikap dan struktur komunitas menuju penerimaan dan partisipasi yang setara bagi IDD dalam kehidupan umat Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

INJIL YANG TAK TERSAMPAIKAN Suatu Tinjauan Misiologi Kontekstual Terhadap Pemberitaan Firman Yang Tidak Dipahami Jemaat Dalam Ibadah di Jemaat GMIT Kefas Nasi, Klasis Amanatun Utara

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kebudayaan merupakan hasil dari ekspresi sekelompok orang yang diwujudkan dalam nilai-nilai dan kepercayaan yang terus diyakini dari generasi ke generasi. Salah satu unsur kebudayaan adalah bahasa yang merupakan alat komunikasi. Oleh karena banyaknya budaya yang ada, maka bahasa yang adapun berbeda-beda. Seiring berjalannya waktu, Injil pun hadir di tengah-tengah masyarakat yang plural. Oleh karena itu dibutuhkan metode atau cara yang tepat dalam mengkomunikasikan Injil di tengah-tengah kebudayaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kebudayaan dalam pemberitaan firman dan bagaimana langkah yang tepat untuk menyampaikan Injil di tengah kebudayaan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Sampel yang digunakan sebagai objek dalam penelitian berjumlah 20 orang di antaranya adalah Majelis (Pendeta, Penatua, Diaken, dan Pengajar) dan anggota Jemaat. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini ialah purposive sampling. Dari hasil penelitian yang dilakukan di Jemaat GMIT Kefas Nasi, menunjukkan bahwa kebudayaan juga berpengaruh dalam pemberitaan Injil, hingga berpengaruh juga terhadap spiritualitas pendengar. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa budaya tidak dapat dipisahkan dari Injil. Melakukan penginjilan di tengah-tengah kebudayaan tidak akan mengurangi kekuatan Injil tersebut melainkan dapat membawa Injil untuk merangkul orang-orang yang hidup dalam kebudayaan. Untuk menghubungkan Injil dan kebudayaan diperlukan misi yang kontekstual dalam pemberitaan Injil, karena apabila tidak diperhatikan maka pendengar tidak dapat memahami maksud pemberitaan tersebut. Dengan demikian, spiritualitas mereka juga ikut terkikis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada kepekaan para pemberita dalam menyampaikan firman dengan tidak mengabaikan salah satu unsur kebudayaan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TANGGUNG JAWAB TERHADAP ORANG LAPAR: Suatu Kajian Naratif Terhadap Injil Lukas 9:10-17 dan Implikasinya Bagi Pelayanan Jemaat GMIT Efata Deme, Klasis Sabu Barat Rajiua Dalam Menyikapi Persoalan Stunting

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tulisan ini memfokuskan pembahasan pada menafsir teks untuk memberi sumbangan bagi gereja dalam mengatasi masalah stunting. Stunting adalah persoalan sosial yang mencolok di NTT dan didapati pada anak di usia prasekolah. Stunting disebabkan oleh berbagai hal yang bermuara pada kurangnya asupan makanan yang bergizi sesuai kebutuhan gizi anak. Stunting memiliki dampak buruk yang dapat memengaruhi kehidupan pengidapnya di masa depan. Stunting perlu disikapi oleh berbagai pihak termasuk GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme sebagai persekutuan yang meniru Kristus. Dalam menyikapi stunting dibutuhkan sikap tanggung jawab. Tulisan ini berupaya memaknai sikap tanggung jawab terhadap mereka yang lapar sesuai hasil penafsiran teks Injil Lukas 9:10-17 dengan menggunakan metode tafsir naratif. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap mereka yang lapar sebagaimana yang diperlihatkan dan diajarkan oleh Yesus, dapat dibawa dalam konteks GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme dalam menyikapi stunting. Dalam upaya mengatasi stunting sikap awal yang mesti dilakukan oleh gereja ialah melayankan hospitalitas. Hospitalitas ini akan melahirkan tanggung jawab terhadap penderita stunting baik di dalam maupun luar gereja. Lebih lanjut, tanggung jawab yang lahir dari hospitalitas ini harus diwujudkan dengan memberi makanan yang bergizi sampai kenyang kepada penderita stunting. Perwujudan tanggung jawab terhadap penderita stunting ini dilaksanakan oleh gereja dengan membangun kemitraan atau bekerja sama dengan pemerintah, tenaga kesehatan, agama dan denominasi lain serta lembaga-lembaga masyarakat lainnya. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak GMIT secara khusus Jemaat Efata Deme untuk menyatakan tanggung jawabnya terhadap mereka yang menderita stunting.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MENYELAMI PERJUANGAN IBU TUNGGAL: Kajian Biblis dengan Pendekatan Reader Respons dan Naratif terhadap Teks Injil Markus 7:24-30 dan Implikasinya bagi Pelayanan Jemaat yang Berstatus Ibu Tunggal di GMIT Imanuel Oepura

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Menjalankan peran sebagai seorang ibu tunggal bukanlah hal yang mudah. Tentu ia akan menghadapi berbagai kesulitan baik itu dari segi psikologis, ekonomi dan sosial. Sama halnya dengan apa yang dialami oleh perempuan Siro Fenisia. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran teks Injil Markus 7:24-30 dengan metode tafsir Reader Respons. Metode ini menafsirkan makna teks berdasarkan pengalaman pembaca. Sampel penelitian terdiri dari 12 ibu tunggal sebagai pembaca masa kini sekaligus penafsir teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran teks Injil Markus 7:24-30 menghasilkan kerygma seputar perjuangan seorang ibu. Maka kerygma yang lahir sangat dekat dengan kehidupan pembaca masa kini. Hal ini disebabkan pengalaman yang dibawa oleh pembaca juga mempengaruhi makna yang dihasilkan. Penulis juga menemukan bahwa penggunakan metode tafsir Reader Respons tidak dapat menemukan makna original dari teks. Hal ini penulis temukan ketika melakukan penafsiran dari dalam teks dengan metode naratif. Selain itu, dalam penelitian ini penulis menemukan bahwa kekurangan dalam metode ini dapat dilengkapi oleh metode naratif. Dari kedua metode ini, terdapat dua pesan dari teks Injil Markus 7:24-30 yang lahir oleh pendekatan Reader Respons maupun Naratif yakni “Iman percaya seorang ibu kepada Yesus Kristus membuahkan pertolongan Tuhan dan Yesus tidak diskriminatif dalam pelayanan-Nya”. Berdasarkan berbagai uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa kedua metode pendekatan ini perlu dilakukan atau diperhatikan secara berimbang untuk memperkaya makna penafsiran suatu teks. Gereja harus belajar dari kisah Perempuan Siro Fenisia ini untuk mengupayakan pelayanan yang menyentuh seluruh ibu tunggal yang ada.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PELAYANAN YESUS BAGI ORANG YANG KERASUKAN SETAN Tafsir Naratif Teks Injil Lukas 8:26-39 dan Implikasinya bagi Pelayanan Orang Dengan Gangguan Jiwa di GMIT Imanuel Batukadera

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Realita keberadaan ODGJ merupakan masalah sosial yang terjadi di mana-mana, namun belum sepenuhnya tersentuh dan jarang untuk dibicarakan. Gereja perlu memaknai kehadirannya dan menunjukkan pelayanan yang tepat dengan belajar dari tokoh Yesus yang mengusir roh jahat dari orang Gerasa dalam Injil Lukas 8:26-39. Pembahasan ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna pelayanan Yesus kepada orang yang kerasukan setan dan menyusun kerygmanya. Eksplorasi ini didasari pada realita masalah sosial yang sedang terjadi. Penelitian ini menggunakan metode tafsir naratif. Hasilnya adalah, Injil Lukas memperlihatkan belas kasihan dan kepedulian menjadi motivasi dasar pelayanan Yesus yang inklusif, yakni berjumpa dan berdialog dengan orang bukan Yahudi yang mengalami sakit jiwa akibat belenggu setan. Model Pelayanan Yesus juga dilakukan berdasarkan kuasa Anak Allah Yang Maha Tinggi dan bermuara pada pemulihan kembali manusia sebagai gambar Allah. Pesannya ialah gereja harus menunjukkan pelayanan inklusif yang didasari oleh belas kasihan dan kepedulian yang memperlihatkan kuasa dan kasih-Nya yang mampu memulihkan kembali manusia sebagai gambar Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TALENTA: MENGELOLA ATAU MENYEMBUNYIKAN Suatu Tafsir Perumpamaan Terhadap Teks Injil Matius 25:14-30 Dan Implikasinya Bagi Pengelolaan Talenta Dalam Persekutuan Pemuda di Jemaat GMIT Ebenhaezer Bikium

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Talenta adalah bakat bawaan lahir maupun yang diasah dengan kerja keras. Talenta memiliki dua perspektif yaitu perspektif ekonomis dan perspektif teologis. Talenta yang tidak terbatas pada satu bidang menciptakan keberagaman. Keberagaman talenta dapat menciptakan masalah apabila pada pemahaman dan pengelolaannya tidak diterapkan dengan baik. Keretakan hingga perpecahan dalam komunitas pemuda tercipta dari hal ini. Dalam upaya mengatasi permasalahan keberagaman ini dibutuhkan pemahaman secara benar apa itu potensi, dalam hal ini talenta dan proses pengelolaannya. Penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut secara lebih mendalam melalui karya ilmiah dengan menggunakan metode tafsir perumpamaan dari teks Injil Matius 25:14-30. Injil Matius mencatat bahwa Yesus menekankan pentingnya pengelolaan talenta sebagai bentuk tanggungjawab dan kesediaan dalam menanti kedatangan kembali- Nya. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukkan bagaimana pengelolaan talenta dari dua jenis hamba sebagai bentuk kesetiaan mereka untuk bertanggungjawab mengelola talenta yang dipercayakan tuan mereka, dapat dibawa dalam konteks komunitas pemuda, khususnya Jemaat GMIT Ebenhaezer Bikium. Pemahaman bahwa talenta adalah suatu kepercayaan yang harus dikelola dengan sikap tanggungjawab dan kesetiaan kepada Sang Pemberi talenta. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak pemuda Jemaat GMIT Ebenhaezer Bikium untuk mengelola potensi, talenta yang dimiliki masing-masing pemuda dalam menyiapkan mereka melancarkan pelayanan dalam lingkungan gereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MESIAS YANG MENDERITA

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Song adalah seorang Teolog yang berteologi tentang Teologi Pembebasan. pembebasan ini tumbuh dalam pengalamannya bahwa hanyan Pembebasanlah yang merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan penderitaan yang dialami masyarakat Asia. Song merasa penderitaan yang dialami oleh masyarakat Asia ini tidak akan berakhir kalau masih menggunakan cara berteologi dari Barat, Song juga berpendapat bahwa semua orang bebas berteologi dengan konteks mereka masing-masing tanpa dipengaruhi oleh konteks orang lain. Melalui tulisan ini, akan dibahas secara kritis terhadap nilai yang dapat digali dari pokok pikiran Song mengenai penderitaan. Transposisi juga dapatlah kita maknai sebagai salah satu konsep untuk memerangi penderitaan yang terjadi di lingkup GMIT. Konsep teologi pembebasan ini menjadi relevan dalam konteks GMIT yang sedang mengalami penderitaan kemiskinan dan penderitaan bencana alam. GMIT harus bekerja memerangi penderitaan tersebut, tulisan ini diharapkan juga dapat menjadi salah satu tawaran untuk dipertimbangkan guna diterapkan dalam konteks GMIT.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Suatu Tinjauan Historis Teologis Terhadap Perjumpaan Injil dan Adat Madene di Jemaat Mizpa Tetebudale, Klasis Kupang Timur dan Implikasinya Bagi Pelayanan GMIT

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pada Tahun 1999 Jemaat Mizpa Tetebudale berdiri sendiri dan pisah dari Jemaat Ebenhaezer Pukdale. Semua anggota jemaat dan para tokoh jemaat mulai membangun sebuah gedung yang layak dipakai untuk beribadah. Namun, ketika Injil sudah masuk dan berkembang di Jemaat Mizpa Tetebudale, jemaat masih melakukan adat yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka, salah satu adat yang masih jemaat lakukan ialah adat Madene. Adat Madene ialah adat yang berkaitan dengan sebuah pekerjaan yang sifatnya pribadi. Konsepnya adalah pekerjaan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan keluarga, seperti dalam acara keluarga seperti pesta nikah, jemaat diundang untuk bersama membuat tenda, atau dalam pekerjaan di ladang seperti menanam dan pada saat panen. Berkaitan dengan masalah yang di tulis, maka tujuan skripsi ini untuk mengetahui perjumpaan antara Injil dan Adat Madene. Apakah Injil atau gereja memberi ruang kepada adat atau tidak. Tujuan ini dapat dicapai melalui penelitian lapangan dalam metode penelitian kualitatif untuk mendapatkan data yang akurat, mengandung kebenaran tentang perjumpaan Injil dan Adat Madene. Fakta yang penulis temukan dalam penelitian ialah Injil atau gereja sendiri yang memberi ruang kepada Adat Madene, alasannya karena adat ini dapat mempererat persekutuan Jemaat, hidup saling mengasihi, dan saling menolong atau membantu sesama yang membutuhkan bantuan, sehingga adat ini masih dilakukan sampai saat ini. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian kualitatif. metode penelitian kualitatif bersumber pada pola pikir yang induktif dan pengamatan yang objektif partisipatif terhadap suatu gejala atau fenomena sosial.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

“HOSPITALITAS GEREJA” “Suatu Kajian Naratif Terhadap Injil Lukas 10:25-37 dan Implikasinya Bagi Pelayanan Gereja Masehi Injili Di Timor dalam Mengatasi Masalah Kemiskinan”

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kemiskinan adalah masalah klasik, karena itu banyak orang, organisasi atau negara, berusaha untuk mengatasi persoalan kemiskinan, tetapi kemiskinan tidak pernah berakhir dan masih menjadi kenyataan dunia. Kemiskinan disebabkan dan telah menyebabkan banyak hal. Dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan dibutuhkan hospitalitas. Penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut secara lebih mendalam melalui karya ilmiah dengan menggunakan metode kritik naratif dari teks Injil Lukas 10:25-37. Injil Lukas mencatat kepedulian Yesus terhadap orang-orang miskin, kaum perempuan, anak-anak, orang Samaria dan orang-orang yang paling berdosa. Tulisan ini berupaya memaknai hospitalitas dan makna tanggung jawab sosial yang penulis dapat dari penafsiran teks Injil Lukas 10:25-37. Kerygma teologis yang penulis temukan menunjukkan karakteristik dari orang Samaria dan pemilik penginapan yang berhospitalitas terhadap orang yang terluka, dapat dibawa dalam konteks GMIT. Sikap hospitalitas inilah yang kemudian penulis kaitkan dengan bagaimana pelayanan GMIT dalam mengatasi masalah kemiskinan di NTT dan bagaimana GMIT berkerja sama dengan denominasi lain maupun agama lain dalam pengentasan kemiskinan di NTT. Dalam upaya gereja dalam mengatasi masalah kemiskinan di NTT, maka gereja perlu berkolaborasi dengan denominasi lain maupun agama lain. Cara pandang gereja terhadap sang liyan (yang lain) harus dipandang sebagai sahabat, agar hospitalitas dari gereja dan sang liyan dapat menjadi kepedulian yang utuh dalam mengatasi masalah sosial kemiskinan di NTT. Pada akhirnya, tulisan ini mengajak Gereja Masehi Injili di Timor menghidupi hospitalitas dalam kehidupan bergereja

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TUNAIKAN TUGASMU SUATU TINJAUAN NARATIF TERHADAP LUKAS 22:39-46 DAN IMPLIKASINYA BAGI PELAKSANAAN DOA BERSAMA (MALAM MEDITASI) SEBELUM PENAHBISAN PENATUA, DIAKEN, DAN PENGAJAR DI JEMAAT GMIT IMANUEL BEUMOPU

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Gereja sebagai tempat di mana orang-orang yang percaya kepada Kristus bersekutu, memerlukan orang-orang yang nantinya berjabat gerejawi (Penatua, Diaken, dan Pengajar) untuk membantu dalam pelayanan. Majelis Jemaat itu terdiri dari Pendeta, Penatua, Diaken, dan Pengajar. Kesemuanya ini bekerja sama dalam Kristus untuk melayani jemaat-Nya. Menyadari akan tugas dan tanggung jawab yang akan dilakukan, ada doa bersama yang dilakukan dalam bentuk malam meditasi. Penulis menemukan fakta saat melakukan wawancara bersama calon-calon Penatua, Diaken, dan Pengajar bahwa adanya pemahaman yang kurang dari calon Penatua, Diaken, dan Pengajar GMIT Imanuel Beumopu mengenai malam meditasi yang dilakukan, sehingga bagi sebagian Penatua, Diaken, dan Pengajar malam meditasi itu tidak membawa dampak. Dalam teks Injil Lukas 22:39-46, di Bukit Zaitun, Yesus menunjukkan cara berdoa dan makna doa yang dalam. Yesus berdoa dalam keheningan dan dalam doa tersebut Yesus meminta kekuatan kepada Bapa-Nya untuk penderitaan salib yang akan dialami-Nya. Tugas terakhir Yesus untuk mati di kayu salib, Ia percayakan pada kehendak Bapa dan dalam doa penyerahan-Nya itu membawa kekuatan kepada-Nya. Yesus mau untuk para murid juga terus berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan, tetapi mereka malah tertidur dan tidak melakukan seperti yang Yesus perintahkan. Teks Injil Lukas 22:39-46 memberi makna yang baik bagi malam meditasi. Malam meditasi secara Kristiani dilakukan dengan fokus hanya kepada Kristus. Dalam malam meditasi seseorang diminta untuk melihat dalam keheningan batin apa yang Kristus kehendaki. Sebagai Penatua, Diaken, dan Pengajar doa dalam bentuk malam meditasi menolong agar identitas sebagai kawan sekerja Allah tetap nampak, dan doa dalam bentuk malam meditasi bisa membuat Penatua, Diaken, dan Pengajar melihat secara dalam apa yang menjadi kehendak Kristus dalam diri mereka sebagai pelaku-pelaku pelayanan. Metode penafsiran naratif menolong untuk menghubungkan antara teks dan konteks. Metode penafsiran naratif dengan unsur-unsur naratif yang digunakan untuk menafsir teks, memperlihatkan makna lebih dalam dari setiap kejadian, sikap, dan suasana dalam teks yang menolong dalam memberi makna untuk pelayanan doa bersama dalam bentuk malam meditasi. Dengan teks Lukas 22:39-46 dan metode penafsiran naratif, penulis berusaha untuk menghasilkan makna yang baik bagi pelayanan doa bersama dalam tulisan yang berjudul TUNAIKAN TUGASMU Suatu Tinjauan Naratif Terhadap Lukas 22:39-46 dan Implikasinya bagi Pelaksanaan Doa Bersama (Malam Meditasi) Sebelum Penahbisan Penatua, Diaken, dan Pengajar di Jemaat GMIT Imanuel Beumopu”.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail