Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

9 hasil
Subjek: Makna
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEHERE DJARA PASKAH Tinjauan Teologis terhadap Pemahaman Jemaat mengenai Pehere djara paskah dalam Liturgi dan Implikasinya bagi Jemaat GMIT Bukit Sion Boko, Klasis Sabu Barat-Raijua

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Di Pulau Sabu, salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah pehere djara. Tradisi ini kemudian menginspirasi umat Kristen di Sabu untuk mengadopsinya menjadi pehere djara paskah. Tradisi pehere djara paskah memiliki nilai kearifan lokal yang penting dalam memperkuat solidaritas antarsesama. Di Jemaat GMIT Bukit Sion Boko, Klasis Sabu Barat Raijua, tradisi ini memegang peran penting, terutama dalam kehidupan masyarakat adat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Jemaat GMIT Bukit Sion Boko memaknai pehere djara paskah sebagai bentuk penghormatan terhadap kemenangan Yesus Kristus atas maut. Selain itu, peneliti menggali bagaimana jemaat menerapkan tradisi ini dalam kehidupan bergereja melalui liturgi serta bagaimana tradisi tersebut direfleksikan melalui teologi kontekstual, berdasarkan pandangan Stephen B. Bevans. Pendekatan teologis ini digunakan untuk menghubungkan budaya lokal dengan pemahaman Kristen. Dengan demikian, pehere djara paskah tidak hanya dilaksanakan sebagai ritual semata, melainkan sebagai sarana bagi jemaat untuk merasakan dan memaknai kemenangan Kristus atas maut secara mendalam. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif-analitis-reflektif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tokoh jemaat dan masyarakat adat, serta studi dokumen terkait tradisi dan ibadah Paskah. Teknik analisis data mencakup reduksi data untuk menyaring informasi esensial, triangulasi sumber untuk memastikan keabsahan, serta penarikan kesimpulan yang logis dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pehere djara paskah memberikan kontribusi positif dalam menjaga keharmonisan sosial. Tradisi ini memperkuat hubungan antara iman Kristen, budaya lokal Sabu, dan kehidupan sehari-hari jemaat. Pelaksanaannya menjadi wujud nyata penerapan teologi kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dengan ajaran Kristen. Analisis teologis mengungkapkan bahwa ritual pehere djara paskah mencerminkan nilai-nilai Kristen, seperti kebangkitan Kristus, kasih sesama, dan solidaritas komunal. Gereja didorong untuk melihat tradisi ini sebagai jembatan yang memperkuat iman, budaya, pemahaman teologis jemaat, serta tindakan sosial yang berdampak positif. Oleh karena itu, pelestarian tradisi pehere djara paskah di Jemaat GMIT Bukit Sion Boko menjadi upaya krusial dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkaya kehidupan beriman. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan ilmu teologi kontekstual serta sumbangan praktis bagi jemaat GMIT Bukit Sion Boko dalam mengintegrasikan tradisi lokal ke dalam ibadah Kristen yang relevan dan bermakna.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MENCARI MAKNA HIDUP DI DALAM ALLAH "Suatu Tinjauan Kritik Historis Terhadap Teks Pengkhotbah 2:18-26 dan Relevansinya Bagi Pemuda Jemaat GMIT Ebenhaezer Tarus Barat"

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Pencarian makna hidup di tengah krisis eksistensial yang banyak dialami oleh kaum muda, khususnya dalam periode Quarter Life Crisis, yang ditandai dengan rasa cemas, kehilangan arah, dan ketidakpuasan terhadap pencapaian hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemahaman teologis dari Pengkhotbah 2:18–26 dalam menjawab krisis makna yang dialami generasi muda serta membangun landasan iman bahwa makna hidup sejati hanya ditemukan di dalam Allah. Mencari Makna Hidup di dalam Allah bertujuan untuk mengungkap bagaimana kitab Pengkhotbah, khususnya bagian Pengkhotbah 2:18–26, memandang upaya manusia dalam menemukan makna hidup. Kitab Pengkhotbah merupakan bagian dari sastra hikmat dalam Alkitab Ibrani, dan diyakini ditulis pada masa pasca-pembuangan, ketika umat Israel sedang mengalami tekanan sosial, politik, dan spiritual. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan tafsir kritik historis, dengan menelaah latar belakang sejarah, budaya, serta konteks penulisan kitab Pengkhotbah. Analisis dilakukan secara ayat demi ayat untuk menggali makna teks secara mendalam dan menemukan pesan teologis yang relevan bagi masalah Quarter Life Crisis yang dialami. Hasilnya, makna hidup bukan ditemukan dalam pencapaian pribadi atau kepemilikan materi, tetapi dalam pemberian Allah yang membawa damai dan sukacita. Penelitian ini juga menghubungkan isi kitab Pengkhotbah dengan fenomena Quarter Life Crisis yang dialami oleh banyak pemuda masa kini. Dalam tekanan hidup modern—baik dalam pendidikan, pekerjaan, relasi, maupun masa depan—banyak anak muda bergumul dengan arah dan tujuan hidup mereka. Teks ini memberikan jawaban iman bahwa pengakuan akan keterbatasan manusia dan kebergantungan penuh kepada Allah justru membawa pemulihan dan kedamaian. Maka, hidup yang bermakna bukanlah hasil dari keberhasilan material semata, melainkan relasi yang dalam dan utuh dengan Allah. Dengan demikian, Kitab Pengkhotbah menawarkan perspektif spiritual yang menenangkan bahwa sekalipun segala sesuatu di bawah matahari tampak sia-sia, makna sejati dapat ditemukan dalam hubungan yang intim dengan Allah dan dalam penerimaan akan keterbatasan hidup manusia. Kata kunci: Pengkhotbah 2:18–26, makna hidup, kritik historis, Allah, Quarter Life Crisis.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI MAKAN PATITA

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Makan Patita atau makan bersama merupakan sebuah tradisi yang berasal dari Maluku. Kata Patita lebih dekat artinya dengan beberapa istilah yaitu istilah pa’atita yaitu jamuan makan bersama. Pa’atita mempunyai kata dasar tita yang berarti amanat/didikan/perintah, sehingga pada saat berlangsungnya makan Patita, terdapat proses hamana2 yang berarti proses didikan atau memberikan petuah oleh pemimpin kepada semua yang hadir dan duduk bersama. Proses didikan atau petuah tersebut disampaikan sebelum dan sesudah makan. Makan Patita bukan saja sebagai simbol atau petunjuk identitas tetapi juga dapat memberi makna dan nilai bagi persekutuan kelompok khususnya di kalangan orang-orang muda orang Maluku sebagai sarana rekonsiliasi, yakni berlangsungnya percakapan atau dialog yang bertujuan untuk menyatukan persepsi/pandangan bersama yang mengarah kepada terjadinya kesepakatan damai. Tradisi ini dibawa masuk ke Kupang lewat migrasi orang-orang Maluku di NTTdengan cara yang berbeda-beda yakni lewat jalur pendidikan, perdagangan, pelayanan injil, dan lain sebagainnya.Proses migrasi ini telah memberikan kontribusi yang beragam dalam memperkaya kehidupan masyarakat setempat, dengan membawa serta nilai-nilai dan keunikan budaya Maluku yang kini menjadi bagian penting dari identitas dan warisan budaya di Kupang salah satunya tradisi makan Patita. Perkembangan Makan Patita di daerah NTT membawa kesan teologis yang baik bagi kehidupan orang-orang Kristen. Makan Patita telah mengalami perkembangan makna sehingga tidak lagi menjadi tradisi yang eksklusif bagi orang Maluku saja, namun bisa dirasakan siapa saja yang hadir pada acara-acara tradisi makan patita. Penulis mengamati tradisi makan Patita ini menjadi sarana transformasi dan transportasi nilai-nilai Kristiani kepada setiap jemaat yang didiami oleh orang-orang Maluku khususnya di GMIT Kota Kupang. Oleh karena itu dengan menggunakan pengamatan lapangan dan teoriteori makan Patita, penulis kemudian meneliti perkembangan tradisi ini di tengah jemaat Kota Kupang. Dengan menggunakan metode deskriptif, analisis, dan reflektif, penulis mendeskripsikan Sejarah, makna, tujuan dan manfaat tradisi makan patita. Lalu berdasarkan teori dan realita lapangan, penulis menganalisis sesuai dengan keadaan di lapangan dan mendapatkan respon beragam terkait dengan nilai-nilai yang ditransfer kepada sesama orang Maluku dan yang bukan Maluku baik itu nilai-nilai moral dan etika, maupun nilai-nilai Kristiani. Kemudian penulis merefleksikannya ke dalam implikasi bagi gereja, dan bagi masyarakat kota Kupang lainnya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA PERSEKUTUAN

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Gereja adalah orang-orang beriman yang dipanggil dan dikumpulkan. Panggilan itu dilakukan oleh Allah sendiri. Dalam kaitan dengan bersekutu maka gereja adalah persekutuan orang percaya yang diutus untuk mengantar keselamatan Allah kepada seluruh dunia. sebagai persekutuan orang-orang pilihan Allah yang terpanggil tidak hanya menerima warisan yang sama yaitu hidup yang kekal tetapi juga untuk memasuki persekutuan dengan satu Allah dan satu Kristus. Persekutuan sendiri tidak jauh berbeda dengan gereja namun penulis lebih menggunakan kata persekutuan karena kata persekutuan lebih sering dijumpai dalam suatu tempat yang kita kenal dengan jemaat. Pemahaman mengenai persekutuan juga muncul secara beragama. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yang berorientasi pada penelitian lapangan. Penulis berusaha mencari pemahaman tentang persekutuan dari anggota jemaat dan majelis. Pada prinsipnya persekutuan mengandung makna dan prinsip yaitu sebagai, yaitu persekutuan dengan Allah dan persekutuan dengan sesama manusia. Persekutuan terjadi karena adanya tujuan yang sama, rasa kekeluargaan, membentuk pengalaman berorganisasi, wadah untuk beribadah dan tempat membangun relasi. Adapun faktor yang mempengaruhi pemahaman jemaat yakni faktor budaya, kekeluargaan, pendidikan dan pengalaman serta konflik. Dalam penulisan ditemukan beberapa nilai-nilai yang penulis akan paparkan yakni persekutuan sebagai komunitas berbagi, persekutuan sebagai komunitas yang menyembuhkan dan persekutuan sebagai komunitas persahabatan. Implikasi dari tulisan ini adalah bagi pelayanan jemaat dan relasi dengan masyarakat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA TU’U BELIS SEBAGAI SARANA KEKERABATAN ANTAR KELUARGA DI DESA TEMAS KECAMATAN ROTE BARAT LAUT KABUPATEN ROTE NDAO TAHUN 2022/2023

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK MAKNA TU’U BELIS SEBAGAI SARANA KEKERABATAN ANTAR KELUARGA DI DESA TEMAS KECAMATAN ROTE BARAT LAUT KABUPATEN ROTE NDAO TAHUN 2022 Elimanafe.F (*) Pellu . L (**) Natonis.D (**) Penelitian ini membahas makna Tu’u belis sebagai sarana kekerabatan antar keluarga di Desa Temas Kecamatan Rote Barat Laut Kabupaten Rote Ndao Tahun 2022. Tempat penelitian dilaksanakan di Desa Temas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi makna Tu’u belis sebagai sarana kekerabatan antar keluarga. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Desa Temas yaitu 414 KK. Sampel dalam penelitian ini yaitu kepala desa 1orang, tua adat 1orang dan tokoh masyarakat 1orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tu’u belis merupakan suatu budaya gotong royong atau sistem kerja sama antar anggota masyarakat dalam acara pengumpulan dana untuk proses perkawinan yang ada di pulau Rote. makna Tu’u belis yaitu untuk mempererat hubungan kekerabatan atau keluarga serta meringankan beban laki-laki dalam menyelesaikan biaya belis. Dan suatu bentuk solidaritas yang juga cara untuk mempererat jalinan kasih hubungan persaudaraan dan bentuk nilai gotong royong. Kata kunci: Makna Tu’u Belis, Kekerabatan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA BELIS (WELLINA) DALAM ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT SUMBA (STUDI DI DESA WEE WULLA, KECAMATAN WEWEWA SELATAN, KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA TAHUN 2022)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: Makna apakah yang terkandung dalam belis adat perkawinan masyarakat Sumba khususnya di Desa Wee Wulla, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya. Tujuan dari penelitian ini antara lain: Untuk mendeskripsikan makna belis dalam sistem perkawinan masyarakat Sumba di Desa Wee Wulla, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh-toko adat dan masyarakat yang berjumlah empat orang. Metode yang dipakai yang dipake dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang digunakan sebagai cara atau prosedur untuk memechkan suatu permasalhan yang terjadi dan mencoba menganalisisnya. Sedangkan teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah wawancara. Berdasarkan hasil hasil penelitian di Desa Wee Wulla dimana penelitian ini memaparkan hasil wawancara tentang makna belis dalam adat perkawinan masyarakat sumba. Dari hasil peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa makna-makna yang terkandung pada Belis (Wellina) dalam Adat Perkawinan masyarakat Sumba di Desa Wee Wulla, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya Tahun 2022, adalah Makna Kesetaraan, Makna kebersamaan, Makna menghormati Perempuan, Makna Keabadian, Makna Kepahlawanan, dan Makna Tanggung Jawab. Dengan demikian penulis menyampaikan kepada masyarakat Desa Wee Wulla agar tetap menjaga dan melestarikan kebudayaan sumba dalam adat perkawinan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA ANGKAT BANTAL GULUNG TIKAR ( DADANG NULANG LUNUNG TAPU ) DALAM BUDAYA MASYARAKAT DI DESA UMBU JODU KECAMATAN UMBU RATU NGGAY BARAT KABUPATEN SUMBA TENGAH 2022

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK MAKNA ANGKAT BANTAL GULUNG TIKAR (DADANG NULANG LUNUNG TAPU) DALAM BUDAYA MASYARAKAT DESA UMBU JODU,KEC AMATAN UMBU RATU NGGAY BARAT KABUPATEN SUMBA TENGAH 2022 ASTI H)* LINTJE, P)* MANGGOA, M)** Budaya dan adat-istiadat di asyarakat pada mumnya berbeda. Budaya dan adat-istiadat ini mengacu kepada masyarakat pada umumnya dan cara menjalankannya yang berbeda, seperti: upacara perkawinan, upacara kematian, upacara pernikahan dan lain-lain. Dalam Penelitian ini Tujuan untuk mengetahui Makna Angkat Bantal Gulung Tikar (Dadang Nulang Lunung Tapu ) Dalam budaya masyarakat Di Desa Umbu Jodu,Kecamatan Umbu Ratu Nggay Kabupaten Sumba Tengah dalam tradisi adat sumba Tengah ada tiga tahap dalam proses adat, yaitu 1) Masuk minta, 2) Membawa sirih pinang, 3) Bungkus sirih pinang dengan tahapan di atas harus di selesaikan agar proses adat dapat berjalan dengan lancar. Metode penelitian yang digunakan metode penelitian Deskriftif kualitatif .Teknik. Pengumpulan data yang digunakan adalah Teknik Dokumentasi, dan wawancara . Hasil yang diperoleh dalam menganalisis makna angkat bantal (Dadang nulang lunung tapu ) pada masyarakat desa umbu jodu,kecamatan umbu ratu nggay barat kabupaten sumba tengah yakni fungsi dari makna yang ditemukan adalah makna bertanggung jawab, makna memberi perlindungan, makna kebersamaan, makna sosial, dan makna Religius. Kata kunci : Makna Angkat Bantal Gulung Tikar (Dadang Nulang Lunung Tapu). Keterangan : Mahasiswa : ** Dosen pembimbing

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

YESUS KRISTUS SEBAGAI LAMATUAK “Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Makna Penyebutan Yesus Kristus Sebagai Lamatuak Oleh Jemaat GMIT Ndolusue Fulakmoan Klasis Rote Barat Laut”

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Setiap manusia dibesarkan dalam budaya tertentu, yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi suatu kekhasan ketika terjadi pertemuan dengan budaya lain. Salah satu unsur budaya yang penting yaitu penggunaan bahasa. Jemaat Ndolusue Fulakmoan adalah komunitas persekutuan yang dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Dengka sebagai media komunikasi, termasuk dalam menyebut nama Yesus Kristus sebagai Lamatuak. Penelitian mengenai penyebutan Yesus Kristus sebagai Lamatuak oleh Jemaat Ndolusue Fulakmoan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui makna dari penyebutan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, melakukan observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian mengemukakan bahwa penyebutan Lamatuak dahulu dipakai oleh masyarakat penganut kepercayaan tradisional dinitiu di Nusak Dengka, untuk menyebut dewa teluk aman lai londa sebagai penguasa tertinggi di alam semesta. Dewa teluk aman lai londa berdiam di alam gaib atas (langit), yang kekuasaan dan kekuatannya terletak pada pohon-pohon dan batu-batu besar. Masyarakat penganut kepercayaan tradsional dinitiu percaya bahwa pohon-pohon besar yang menjulang tinggi menunjukkan kebesarannya dan batu-batu besar menunjukkan kekuasaanya. Penyebutan Yesus Kristus sebagai Lamatuak memiliki makna bahwa Lamatuak Yesus adalah Tuhan atas alam semesta, tetapi kekuasaan dan kebesaran-Nya tidak terbatas pohon-pohon dan batu-batu besar. Ia adalah Allah yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Pohon-pohon besar hanyalah ciptaan dan Ia melebihi segala ciptaan tersebut. Ia juga adalah Allah yang oleh karena kasih-Nya, menyelamatkan umat-Nya dari dosa dengan rela menderita dan mati, tetapi Ia bangkit dalam kemuliaan-Nya, untuk membuktikan bahwa Lamatuak Yesus bukan allah yang mistis, melainkan Allah yang hidup yang diimani oleh Jemaat Ndolusue Fulakmoan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TINJAUAN TENTANG MAKNA GERAK TARIAN GAWI PADA RITUAL ADAT MBAMA PU’U LISE TANA TELU WOLONIO DI KABUPATEN ENDE PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK MAKARIUS NARA MBETE. TINJAUAN TENTANG MAKNA GERAK TARIAN GAWI PADA RITUAL ADAT MBAMA PU’U LISE TANAH TELU WOLONIO DI KABUPATEN ENDE PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. Skripsi Program Strata 1 (satu) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi-Olahraga, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Pembimbing (I)Dr. Andreas J.F.Lumba,M.Pd.Pembimbing (II) Erwin S. Neolaka.S.Pd, M.Pd Kata kunci : Makna Gerak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tinjauan tentang makna gerak tarian Gawi pada ritual adat mbama pu’u lise tanah telu wolonio di kabupaten Ende di provinsi Nusa Tenggara Timur. Metode Penelitian yang digunakan adalah jenis kualitatif dengan pengumpulan data penelitian ini diperoleh dengan teknik pengumpulan data : Observasi, Wawancara dan dokumentasi. Langkah menganalisis data adalah dengan data reduction (reduksi data), data display dan kesimpulan. Hasil penelitian ini mengungkapkan enam temuan yaitu : (1). Makna gerakan pertama, kaki diangkat keatas dan kebawah gerakan ini dalam tradisi setempat melambangkan kesiapan para warga setempat dalam melawan para musuh yang akan menyerang saat upacara sukuran panen berlangsung. (2). Gerakan kaki melangkah kedepan, gerakan ini dalam tradisi setempat melambangkan kesiapan dalam menyerang seolah-olah ada musuh di depan kita. Dan sebaliknya melangkah kaki belakang unutk menghindarkan serangan musu dari depan. (3).Gerakan kaki melangkah kesamping Kiri, kita menghindari serangan dari samping kanan. (4). Gerakan kaki melangkah kesamping Kanan artinya kita menghindari serangan dari samping kiri. (5). Gerakan tangan mengayun keatas dan kebawah sambil berpegangan tangan antara penari satu dengan penari lainnya. Menurut kepercayaan setempat gerakan ini melembangkan kekompakan para warga masyarakat setempat. Selain melawan para musuh yang menyerang, gerakan ini juga melambangkan ucapan sukur bersama atas panen. (6). Gerakan kepala dalam tarian gawi merupakan gerakan serta untuk memberi semangat Kepada sesama penari dalam tarian ucapan syukur, dengan mengisaratkan menganggukan kepala kemuka, memalingkan kepala kekiri dan kekanan serta kebersamaan dengan gerakan badan sebagai

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail