Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

17 hasil
Subjek: Relasi
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Rumah Sebagai Tempat Beribadah

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelaksanaan ibadah di rumah memang menimbulkan banyak pendapat. Ada yang setuju pada pelaksanaan ibadah rumah dengan alasan bahwa karena pandemik maka ibadah rumah adalah alternatifnya. Tetapi, sedikit juga yang enggan melaksanakan ibadah rumah oleh karena alasan bahwa selama ini ibadah dilakukan bersama, dan karena itu persoalan memimpin ibadah belum fasih mereka lakukan. Berangkat dari paradoks pandangan ini maka tulisan ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana ibadah rumah itu memberi sumbangsih pada pertumbuhan iman jemaat. Untuk bisa menyelesaikan tulisan ini, maka metode yang dipilih untuk dipakai kalah metode kualitatif dengan memadukan antara penelitian pustaka dan penelitian lapangan. Penelitian dimaksudkan untuk mendapatkan data langsung dari jemaat dan setelah itu, data tersebut dielaborasi dengan teori yang dipakai untuk bisa menghasilkan karya tulis ini. Ibadah merupakan suatu wujud ketaatan orang percaya kepada Allah dan syukur orang percaya atas apa yang ditetapkan sebagai suatu keharusan untuk pertumbuhan rohani dan untuk berbakti kepada Allah, sebagai umat kepunyaan-Nya. Pelaksanaan ibadah di rumah dapat dipahami oleh adanya kegiatan peribadahan yang dilakukan oleh anggota keluarga yang ruang ibadahnya itu dipusatkan di rumah. Akhirnya, melalui pelaksanaan ibadah di rumah sangat diharapkan agar ibadah tersebut bisa menumbuhkan relasi yang akrab di antara sesama anggota keluarga dan terutama bersama Allah dalam ibadah. Pelaksanaan ibadah rumah juga sebenarnya sudah ada baik pada masa Israel maupun pada masa pelayanannya Yesus dan murid-murid. Teks-teks yang mendukung hal ini bisa dilihat dalam Ulangan 6:6-7 Kejadian 12:8 dan Kisah Para Rasul 2:41-47.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ICH UND DU (AKU-ENGKAU) Suatu Tinjauan Teologi Sosial terhadap pemikiran Marthin Buber tentang konsep Ich Und Du dan Implikasinya bagi pencegahan kekerasan di GMIT Imanuel Olalain Klasis Rote Tengah

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi konsep relasi dialogis Ich und Du Martin Buber terhadap konteks kekerasan dalam kehidupan jemaat GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) Imanuel Olalain. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dan konflik relasional masih terjadi dalam kehidupan jemaat, yang menunjukkan adanya krisis dalam kualitas relasi antarmanusia. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan wawancara dan refleksi teologis, penelitian ini menemukan bahwa banyak relasi suami-istri dalam jemaat masih dibangun dalam pola dominatif, hierarkis, dan minim dialog, sehingga lebih menyerupai pola relasi Ich-Es (Aku-Itu) daripada Ich-Du (Aku-Engkau). Selain faktor personal, kekerasan juga dipengaruhi oleh faktor kultural, struktural, dan pemahaman teologis yang belum sepenuhnya menekankan kesetaraan martabat manusia. Iman Kristen yang diakui jemaat sering kali belum terintegrasi dalam praktik relasi sehari-hari, sehingga relasi dengan Tuhan tidak selalu tercermin dalam relasi dengan pasangan. Dalam terang pemikiran Martin Buber, relasi yang sehat hanya mungkin terwujud melalui perjumpaan dialogis yang mengakui keutuhan dan martabat pribadi sebagai subjek, bukan objek. Penelitian ini juga menegaskan bahwa kekerasan merupakan pelanggaran terhadap martabat manusia sebagai gambar Allah (Imago Dei). Oleh karena itu, gereja dipanggil untuk membangun spiritualitas relasional yang transformatif, memperbarui pola komunikasi, serta menghadirkan struktur persekutuan yang partisipatif dan adil. Konsep Ich-Du menjadi kerangka teologis yang relevan untuk pemulihan relasi, pencegahan kekerasan, dan pembentukan kehidupan jemaat yang lebih dialogis, manusiawi, dan mencerminkan kasih Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERSAUDARAAN DALAM KEBERAGAMAN Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Makna Tena El Dalam Relasi Islam dan Kristen di Jemaat GMIT Tena El’Ladon Klasis Alor Barat Laut

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertolak dari realitas kehidupan masyarakat Ladon, Klasis Alor Barat Laut, yang hidup dalam konteks keberagaman agama, khususnya relasi antara umat Kristen dan Islam. Di tengah pluralitas tersebut, masyarakat menghidupi nilai budaya lokal Tena’El yang dimaknai sebagai persaudaraan, persahabatan, dan kebersamaan lintas iman. Pokok persoalan dalam penelitian ini adalah bagaimana konteks wilayah dan jemaat GMIT Tena’El Ladon membentuk relasi Islam-Kristen, bagaimana makna dan nilai Tena’El dipahami serta dipraktikkan dalam kehidupan sosial-keagamaan, dan bagaimana nilai tersebut ditinjau secara teologis dalam terang Injil dengan menggunakan perspektif pluralisme agama menurut Paul F. Knitter. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis makna Tena’El sebagai identitas lokal yang berperan dalam membangun relasi persaudaraan antara umat Kristen dan Islam, mengkaji praktik hidup bersama dalam keberagaman melalui pendekatan teologi agama-agama, serta menafsirkan nilai Tena’El sebagai bagian dari kesaksian iman Kristen yang kontekstual dan dialogis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologi agama-agama. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan warga jemaat, tokoh gereja, tokoh masyarakat, serta umat Islam, observasi lapangan, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menafsirkan temuan penelitian dalam kerangka pluralisme agama Paul Knitter dan teologi kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tena’El berfungsi sebagai modal sosial dan teologis yang memperkuat relasi persaudaraan Islam–Kristen di Ladon. Nilai ini tidak bertentangan dengan iman Kristen, melainkan sejalan dengan Injil yang menekankan kasih, penghargaan terhadap martabat manusia, dan hidup berdampingan secara damai. Tena’El menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan gereja hadir sebagai agen perdamaian dan memperteguh kesaksian iman di tengah masyarakat plural.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HOMEMAKING Suatu Tinjauan Teologis terhadap Persekutuan Homemaking menurut Elizabeth F. Caldwell di Jemaat GMIT Pniel Sikumana, Klasis Kota, Kupang Barat.

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan jemaat GMIT Pniel Sikumana yang menghadapi tantangan dalam membangun persekutuan antargenerasi. Pembagian pelayanan ke dalam Unit Pembantu Pelayanan (UPP) dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan kategorial jemaat, namun dalam praktiknya kerap memunculkan jarak relasional, minimnya interaksi lintas generasi, serta kecenderungan pelayanan yang berjalan secara terpisah. Kondisi ini menimbulkan persoalan teologis mengenai sejauh mana gereja sungguh menghidupi koinonia sebagai persekutuan yang mencerminkan identitas gereja sebagai keluarga Allah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman dan pemaknaan warga jemaat GMIT Pniel Sikumana terhadap kehidupan persekutuan antargenerasi, serta merefleksikannya dalam terang teologi gereja sebagai rumah iman (homemaking) guna merumuskan implikasi teologis bagi kehidupan bergereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Metode ini dipilih untuk menaruh perhatian pada pengalaman hidup dan pemaknaan subjek penelitian terhadap realitas persekutuan jemaat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam (in-depth interview), dan studi dokumen terhadap dokumen gereja serta literatur yang relevan. Lokus penelitian adalah Jemaat GMIT Pniel Sikumana, Klasis Kota Kupang Barat. Informan berjumlah delapan orang yang dipilih melalui purposive sampling, terdiri dari pendeta, unsur kategorial jemaat, pengajar PART, dan lansia. Metode penulisan yang digunakan bersifat deskriptif, analitis, dan reflektif, dengan memanfaatkan kerangka teologis homemaking dari Elizabeth Caldwell sebagai alat analisis. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa kehidupan persekutuan jemaat masih menghadapi tantangan relasional antargenerasi, namun sekaligus menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Pendekatan homemaking menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi rumah bersama yang aman, inklusif, dan relasional, di mana setiap generasi hadir sebagai subjek yang saling membangun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa homemaking merupakan pendekatan teologis yang relevan untuk memperkuat koinonia dan memperkaya praksis kehidupan bergereja di GMIT Pniel Sikumana.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SPIRITUALITAS SOSIAL DALAM DOA BAPA KAMI: Tafsir Sosio-Historis terhadap Injil Matius 6:5-15 dan Implikasinya bagi Kehidupan Spiritualitas Pemuda di Jemaat GMIT Imanuel Kalondama, Klasis Pantar Barat

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini berangkat dari persoalan bahwa Doa Bapa Kami dalam Injil Matius 6:5-15 kerap dipahami terutama sebagai praktik spiritual personal, sementara dimensi sosial dan komunal yang melekat pada doa tersebut kurang mendapat perhatian. Situasi ini juga tampak dalam kehidupan pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama, yang meskipun hidup dalam budaya komunal, cenderung memaknai doa sebagai relasi individual dengan Allah dan belum sepenuhnya menghayati implikasi sosialnya. Karena itu, penelitian ini memfokuskan kajian pada pemaknaan Doa Bapa Kami sebagai dasar spiritualitas sosial serta implikasinya bagi kehidupan spiritualitas pemuda dalam konteks jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji latar belakang dan orientasi teologis Injil Matius, merumuskan kerygma teologis Matius 6:5-15, serta menjelaskan implikasi kerygma tersebut bagi kehidupan spiritualitas pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Penelitian ini juga bertujuan menunjukkan bahwa Doa Bapa Kami tidak hanya berfungsi sebagai formula doa, tetapi sebagai ajaran yang membentuk cara hidup beriman dalam relasi dengan Allah dan sesama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Penafsiran teks dilakukan melalui metode tafsir sosio-historis, dengan memperhatikan latar belakang sosial, historis, dan religius komunitas Kristen-Yahudi penerima Injil Matius. Melalui pendekatan ini, teks Injil Matius 6:5-15 dipahami dalam konteks kritik Yesus terhadap kesalehan yang bersifat performatif serta upaya pembentukan identitas komunitas yang setara dan solider. Hasil penafsiran kemudian didialogkan dengan konteks kehidupan pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Doa Bapa Kami mengandung kerygma tentang spiritualitas sosial, yaitu spiritualitas yang mengintegrasikan relasi intim dengan Allah dan tanggung jawab etis dalam kehidupan bersama. Struktur doa yang bersifat komunal, penggunaan kata ganti jamak, serta penekanan pada pengampunan dan kebergantungan bersama menegaskan bahwa doa ini membentuk kesadaran kolektif dan solidaritas komunitas. Dalam konteks pemuda Jemaat GMIT Imanuel Kalondama, Doa Bapa Kami menolong pemuda mengembangkan spiritualitas yang tidak hanya berorientasi personal, tetapi juga peka terhadap kehidupan bersama dalam kehidupan bergereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUS POU HARI “Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Relasi Manusia dan Laut Berdasarkan Ritus Pou Hari dan Implikasinya bagi Pelayanan di Jemaat Imanuel Folbo, Klasis Alor Barat Laut”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji Ritus Pou Hari sebagai warisan budaya religius masyarakat pesisir Jemaat GMIT Imanuel Folbo, Klasis Alor Barat Laut. Ritus ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada penguasa laut yang diyakini sebagai leluhur, dan diwariskan turun-temurun sebagai bagian identitas budaya. Permasalahan teologis muncul karena praktik ini mengandung unsur pemujaan yang berpotensi bertentangan dengan kemurnian pengakuan iman Kristen kepada Kristus sebagai satu-satunya Tuhan. Kerangka teori yang digunakan adalah tipologi Kristus Melawan Kebudayaan dari H. Richard Niebuhr, yang menegaskan sikap tegas terhadap praktik budaya yang tidak sejalan dengan Injil, serta pendekatan teologi kontekstual untuk menafsirkan dan mengarahkan nilai positif budaya lokal agar selaras dengan iman Kristen. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Informan penelitian terdiri dari pemimpin ritus, peserta ritus, majelis jemaat, dan pendeta setempat. Data dianalisis untuk mengidentifikasi makna, fungsi, serta implikasi teologis ritus bagi kehidupan jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ritus Pou Hari memiliki makna religius, sosial, dan ekologis yang penting bagi masyarakat pesisir. Namun, unsur pemujaan kepada penguasa laut menimbulkan risiko sinkretisme. Gereja dipandang perlu mengembangkan pembinaan iman yang kontekstual, mengalihkan nilai positif ritus ke dalam bentuk ibadah syukur atau doa bersama yang berpusat pada Kristus, serta menciptakan liturgi kontekstual yang menjaga kemurnian iman. Refleksi teologi menegaskan panggilan gereja untuk menghargai konteks budaya sekaligus setia pada Injil, menjadi komunitas profetis yang membimbing jemaat menghormati laut sebagai ciptaan Allah tanpa terjebak dalam praktik yang bertentangan dengan iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUTAN MADALA “Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Relasi Manusia Dengan Hutan Madala Di GKS Jemaat Baliloko Klasis Laboya”

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penebangan atau eksploitasi hutan Madala di Desa Welibo, Kecamatan Lamboya, Khususnya GKS Jemaat Baliloko merupakan salah satu hutan adat atau ulayat yang dijaga dan di lindungi oleh jemaat. Namun pada saat ini, hutan Madala tersebut tidak lagi dipelihara dan dijaga. Masyarakat Baliloko dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup tidak terlepas dari ketergantungan terhadap alam semesta. Metode yang digunakan penulis adalah metode penelitian lapangan dengan menggunakan teknik wawancara pihak gereja, dengan menggunakan teori-teori ekologi. Skripsi ini ini bertujuan untuk menganalisis mengenai relasi manusia dengan hutan Madala, serta faktor yang mempengaruhi. Dalam hasil penelitian ditemukan bahwa alasan Masyarakat melakukan penebangan hutan karena pembangunan ekonomi. Penulis mengambil kesimpulan bahwa akibat kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga mengakibatkan masyarakat menggunakan hutan untuk lahan perkebunan tanpa memikirkan akibat yang terjadi. Pada hal hubungan manusia dan alam atau lingkungan hidupnya bagaikan dua sisi mata uang yang mesti dijalani secara seimbang. Kegagalan dalam melaksakan tugas kepemimpinan atas alam juga merupakan kegagalan manusia dalam mengendalikan dirinya khususnya keinginan-keinginannya. Karena itu perlu adanya perubahan pola pikir dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dengan cara memanfaatkan alam dengan baik. sikap solidaritas dalam menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem hutan/alam.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RELASI KRISTEN DAN ISLAM "Studi Teologi Agama-agama Berdasarkan Pemikiran Mordechai Martin Buber Tentang Relasi Antar Agama Dan Relevansinya Bagi Jemaat Sonbubun Oenay Klasis Amanuban Timur Selatan

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Kerenggangan relasi antar umat beragama seringkali terjadi karena faktor politik, kesenjangan ekonomi dan sentiment etnis. Konflik ini dapat mengganggu toleransi dan keributan antar umat beragama dan sulit untuk diselesaikan. Meskipun pemerintah, masyarakat, dan gereja secara konsisten berusaha mengurangi kerenggangan hubungan ini, hasilnya tidak memuaskan. Tulisan ini ditulis untuk menambah diskusi tentang masalah ini dan menunjukkan sejauh mana pemikiran Moderchai Martin Buber tentang hubungan Aku dan Engkau dapat membantu upaya masyarakat Oenay untuk memperkuat hubungan antar umat beragama. Oleh karena itu, tulisan ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan memeriksa sumber pustaka terlebih dahulu, baik karya tulis maupun berita di media sosial. Berdasarkan hasil penelusuran literatur tersebut, maka relasi I and Thou dimaknai sebagai hubungan yang mendalam dan autentik dalam kehidupan manusia, baik dalam konteks sosial maupun spiritual. Konsep ini relevan untuk hubungan antar umat beragama di Oenay, di mana ada kerenggangan dalam hubungan. Beragam cara sudah dilakukan oleh pihak pemerintah maupun gereja, namun hasilnya tetap tidak memuaskan. Karena itu, disamping gereja, pemerintah dan masyarakat bekerja untuk mempererat relasi, makan tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu tawaran untuk dipertimbangkan guna diterapkan dalam konteks di Oenay. Melalui tulisan ini, pada akhirnya diharapkan agar penerapan konsep relasi I and Thou dalam konteks relasi di Oenay harus dilihat secara positif dan kristis. Masyarakat sudah saatnya menyadari bahwa sangat penting untuk menciptakan keharmonisan sosial, di mana saling menghormati, memaknai perbedaan dan bekerja sama dapat memperkuat persatuan dalam kerangaman. Kata Kunci: Martin Buber, I and Thou, Relasi Islam-Kristen, Gereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RELASI GEREJA KATOLIK DAN GMIT Tinjauan Misi Dalam Konteks Pluralisme Terhadap Relasi Gereja Katolik dan GMIT di Sikun Klasis Malaka dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini mengkaji relasi antara Gereja Katolik dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Sikun, Klasis Malaka, dalam konteks pluralisme agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kedua gereja ini dalam menghadapi perbedaan kepercayaan dan sejarah kedatangan masing-masing gereja, serta merefleksikan nilai-nilai teologis yang mendasari hubungan tersebut. Melalui metode kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa meskipun terdapat konflik awal akibat perbedaan keyakinan, kedua gereja mampu membangun keharmonisan melalui kegiatan bersama seperti bakti sosial, proses belajar bersama, dan perayaan keagamaan. Pluralisme agama di Sikun, yang mencakup kehadiran Islam, Katolik, Protestan (GMIT), dan Pentakosta, menjadi latar belakang penting dalam memahami dinamika hubungan ini. Model misi Konvivenz dari Theo Sundermeier, yang menekankan gotong-royong, belajar bersama, dan perayaan hidup, terbukti relevan dalam konteks Sikun. Relasi yang baik antara Gereja Katolik dan GMIT di Sikun dapat menjadi model bagi gereja-gereja lain yang masih mengalami konflik. Gereja perlu terus mempromosikan dialog dan kerjasama lintas agama untuk mewujudkan kasih Allah yang universal dan menciptakan kehidupan yang adil dan damai. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya dialog antaragama, kerjasama dalam kegiatan sosial, dan upaya untuk memahami serta menghargai identitas agama masing-masing. Penelitian ini memberikan saran untuk memperkuat relasi antar gereja melalui forum diskusi rutin dan program-program bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN MAJELIS JEMAAT DALAM URUSAN SENGKETA TANAH

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PERAN MAJELIS JEMAAT DALAM URUSAN SENGKETA TANAH ”Suatu Tinjauan Teologis tentang Peran Majelis Jemaat dalam Urusan Sengketa Tanah di Jemaat GMIT Ora Et Labora Kolbano Klasis Amanuban Tengah Selatan” Henki Aristo Paut email: [email protected] Jemaat GMIT Ora et Labora Kolbano berdiri pada tanggal 1 Januari 1912. Latar belakang berdirinya jemaat ini adalah keadaan jemaat yang masih sangat kental dengan kepercayaan terhadap tempat-tempat dan beda-beda yang memiliki kekuatan gaib dan juga arwah-arwah dari para leluhur. Orang-orang yang memiliki kepercayaan seperti ini biasanya dikenal dengan istilah atoni halaik (orang kafir). Pada saat injil mulai dibawa masuk ke dalam kalangan jemaat. Usif dan juga tua-tua masyarakat menolak akan hal tersebut karena Injil dilihat sebagai hal yang tabuh dan sebuah ancaman bagi keyakinan dan kepercayaan orang-orang halaik. Budaya yang berkembang dalam kalangan masyarakat pada waktu itu adalah setiap usaha dan kerja yang dilakukan selalu berhubungan dengan alam. Bagi mereka alam mengabulkan setiap doa melalui arwah-arwah moyang mereka. Jemaat GMIT Ora et Labora Kolbano berdiri di tengah-tengah jemaat dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda dan dengan watak yang berbeda pula. Dari perbedaan inilah kehadiran Injil atau gereja mempersatukan semua jemaat dalam satu persekutuan sebagai keluarga Allah. Sering kali ada persoalan-persoalan atau konflik-konflik yang timbul dalam kalangan jemaat dan memiliki potensi merusak relasi dalam sebuah persekutuan. Konflik-konflik individu maupun konflik-konflik yang sering kali melibatkan kelompok-kelompok memiliki potensi yang sangat besar terhadap renggangya relasi dalam sebuah persekutuan bahkan bisa mengakibatkan perpecahan dalam suatu persekutuan. Masalah mengenai perampasan tanah atau sengketa tanah memiliki dampak yang sangat besar terhadap renggangya relasi dalam suatu persekutan bahkan dapat mengakibatkan perpecahan dalam suatu persekutuan. Persoalan-persoalan seperti ini dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab seperti tuntutan ekonomi, bahkan faktor sosial dan politik dan juga budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat. Berdasarkan realita yang ada gereja seolah tidak mendapatkan ruang untuk terlibat secara langsung dalam setiap proses penyelesaian permasalahan tanah yang sering dihadapi di dalam jemaat. Gereja sebagai suatu persekutan yang tumbuh dan selalu berhadapan dengan berbagai macam konflik atau persoalan dalam jemaat memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menyelesaikan persoalan atau konflik tersebut. Gereja tidak dapat menghindarkan diri dari konflik, melainkan gereja harus selalu hadir dalam setiap proses penanganan atau penyelesaian konflik yang terjadi. Pada tahap inilah misi gereja itu harus tampak dan melalui kehadiran gereja, jemaat dapat merasakan syalom Allah. Konflik atau persoalan yang terjadi harus dapat dikelola dengan tepat karena jika tidak diselesaikan dengan tepat maka akan melahirkan konflik baru yang akan berdampak pada persekutuan sebagai keluarga Allah. .

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Ibadah Rumah Tangga

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK IBADAH RUMAH TANGGA Dimi Diana Robi Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Indonesia email: [email protected] Ibadah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Melalui orang Kristen dapat berinteraksi dengan Tuhan dan sesama. Ibadah rumah tangga merupakan tindakan dari seluruh anggota secara serempak dimana pun dan secara bersama-sama dalam waktu dan tempat untuk memuji, mendengarkan Firman Tuhan dan berdoa sebagai bukti ketaatan kepada Tuhan. Beribadah adalah ungkapan syukur kepada Allah atas kasih dan anugerah-Nya kepada manusia. Jemaat GMIT Calvari Osiloa-Tarus memiliki pemahaman yang beragam tentang ibadah rumah tangga. Namun dalam pelaksanaannya, kehadiran anggota jemaat dalam ibadah rumah tangga sangatlah minim. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian bagaimana pelaksanaan ibadah rumah tangga di Jemaat GMIT Calvari Osiloa-Tarus. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif sehingga bisa mendalami masalah tersebut, mengambil sampel dan melakukan wawancara sehingga memperoleh informasi dengan lebih akurat. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan tersebut dapat diketahui faktorfaktor ketidakhadiran jemaat dalam ibadah rumah tangga dan menemukan bentuk upaya yang dilakukan gereja faktor-faktor tersebut yaitu: a) Faktor pekerjaan, b) Faktor hubungan sosial, c) Faktor persiapan ibadah, d) Faktor pendampingan pastoral. Melihat dari faktor-faktor yang ditemukan dalam jemaat, penulis kemudian mendialogkannya bagaimana tindakan pastoral yang dilakukan gereja terhadap pemahaman jemaat dalam memahami pelaksanaan ibadah rumah tangga. Oleh sebab itu, maka pelaksanaan ibadah rumah tangga ini perlu diperhatikan sehingga hal ini dapat mengatasi ketidakhadiran jemaat dalam ibadah rumah tangga.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TRADISI KEDDE Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Praktik Tradisi Kedde di Sumba Barat dan Implikasinya bagi GKS Jemaat Sobawawi

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kebudayaan merupakan bagian dari tradisi yang mencakup keseluruhan hidup masyarakat. Tradisi kedde merupakan salah satu unsur budaya yang masih dipelihara dan dipraktekkan hingga saat ini oleh masyarakat Sumba Barat sebagai sebuah identitas. Praktik tradisi kedde awalnya dilakukan dengan tujuan untuk saling membantu atau menolong keluarga yang mengalami kesusahan, akan tetapi sekarang praktik tradisi kedde sudah mengalami pergeseran makna dan nilai dalam pelaksanaannya. Tradisi ini tidak saja dilakukan oleh masyarakat Sumba Barat yang masih menganut kepercayaan Marapu, tetapi juga oleh Jemaat Sobawawi sebagai orang-orang Kristen yang sudah memahami ajaran Alkitab. Perspektif teologis terhadap tradisi kedde ialah, secara terus-menerus memberikan pemahaman yang lebih kepada anggota jemaat, agar dalam melaksanakan tradisi ini mereka perlu untuk melihat dan melakukan hal-hal positif. Penulis mengkaji menggunakan metode deskriptif, analitis, reflektif. Dalam tulisan ini penulis menggunakan metode penelitian lapangan atau wawancara serta penelitian kepustakaan. Melalui pengumpulan data dari buku-buku, artikel, dan tulisan-tulisan untuk mendapatkan konsep-konsep, teori-teori yang berkaitan dengan penelitian ini untuk mendukung dan memperkuat tulisan ini. Pada awalnya praktik tradisi kedde adalah sebuah tradisi yang melibatkan orang-orang dalam ikatan persaudaraan yang memiliki tanggung jawab untuk saling membantu. Akan tetapi, dalam praktiknya masyarakat Sumba Barat menjadikan tradisi kedde sebagai ajang untuk beradu gengsi dalam mencari nama dan menaikkan status sosial dalam masyarakat. Dalam pelaksanaannya tradisi kedde tidak lagi hanya melibatkan keluarga, namun telah meluas ke dalam lingkup sosial tergantung seberapa luas jaringan sosial yang dibangun. Dalam hasil analisis, tradisi kedde memiliki nilai poitif dan nilai yang perlu dikritisi bagi kehidupan masyarakat dan jemaat masa kini. Oleh sebab itu gereja memiliki peranan penting untuk memberikan pemahaman kepada jemaat dalam memahami konteks masa kini serta dampak pelaksanaan tradisi kedde. Refleksi teologis dari tulisan ini adalah untuk menjawab pergumulan gereja pada masa kini, mengenai tanggung jawab adat dan relasi sosial dalam kehidupan jemaat maupun masyarakat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RELASI TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP KESETARAAN GENDER DALAM PRAKTIK BELIS MASYARAKAT ROTE Suatu Tinjauan Etis - Teologis terhadap Tradisi Belis Masyarakat Rote di Jemaat GMIT Pengharapan Dendeng - Klasis Kupang Tengah

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis pandangan dari praktik tradisi belis masyarakat Rote di lingkup Jemaat GMIT Pengharapan Dendeng, yang telah mengalami pergeseran nilai berdasarkan tingkat pendidikan perempuan, dan membuat refleksi etis - teologis. Metode penelitian yang digunakan adalah deksriptif kualitatif. Responden penelitian adalah tokoh – tokoh adat Rote; pasangan suami istri (pasutri) yang berasal dari Rote; kaum milenial dari Rote; dan Presbiter Jemaat GMIT Pengharapan Dendeng. Data yang dikumpulkan dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Jenis data yang dipakai peneliti adalah data kualitatif yaitu data yang tidak berbentuk angka. Penelitian ini akan menggali dari sumber data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukur atau alat pengambil data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Data yang terkumpul akan dibahas dan dianalisis, kemudian membuat kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi belis masyarakat Rote telah mengalami perubahan nilai, yang mana belis ditentukan menurut tingkat pendidikan perempuan, bukan berdasarkan nilai dan tujuan dari belis itu sendiri. Dampak dari Tingkat Pendidikan terhadap kesetaraan gender dalam praktik belis masyarakat Rote di Jemaat GMIT Pengharapan Dendeng yaitu: terjadinya kawin lari, penundaan dan pembatalan pernikahan, kekerasan dalam rumah tangga, dan perempuan diposisikan sebagai komoditas. Refleksi etis-teologis dari penelitian ini, yaitu pemberian belis sebagai kehendak Allah, sikap gereja dalam menyikapi kebudayaan dan kesetaraan gender bahwa laki-laki dan perempuan adalah gambar dan rupa Allah (imago Dei).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Gereja Pasca Konflik

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Jemaat GMIT Semau Tengah Utara merupakan Jemaat yang terdiri dari Mata Jemaat Elim Uitao dan Mata Jemaat Ora et Labora Uitao. Jemaat Ora et Labora Uitao dulunya adalah Jemaat Elim Uitao yang memilih keluar dikarenakan beberpa persoalan di mana masalah politik menjadi puncak dari konflik yang terjadi. Kurangnya pendeta/pelayan pada masa itu menyebabkan ketegangan di antara keduanya seolah-olah tenggelam begitu saja. Di tahun 2019, kedua jemaat ini disatukan menjadi Jemaat GMIT Semau Tengah Utara dalam relasi yang masih bersitegang. Kedua jemaat ini kembali disatukan dalam satu jemaat pelayanan yang akhirnya berdampak pada pelayanan dan juga relasi diantara keduanya. Perpecahan antara dua jemaat ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain situasi politik, kebijakan gereja secara sinodal terkait sikap politik yang belum terlalu jelas. Faktor lainnya ialah model kepemimpinan yang tidak lagi memiliki rasa percaya dan juga cara pengelolaan konflik yang tidak tepat. Adapun akibat dari konflik ini secara langsung berakibat pada perpecahan di dalam jemaat, dan akibat secara tidak langsung pada relasi diantara kedua jemaat yang kurang harmonis pasca konflik. Sebagai gereja kita tidak dapat menghindarkan diri kita dari yang namanya konflik. Upaya yang bisa dilakukan gereja dalam menghadapi konflik ada pada proses pengelolaannya. Sebuah konflik yang dapat dikelolah dengan baik akan mendapatkan hasil yang baik bagi kedua belah pihak yang bertikai. Sedangkan proses pengelolaan konflik yang tidak tepat akan berimbas pada lahirnya konflik baru. Selain proses pengelolaan konflik, hal yang penting dalam sebuah konflik gereja adalah pemulihan relasi pasca konflik. Pemulihan relasi ini tidak hanya berdampak pada psikologis anggota jemaat tetapi juga pada spiritualitas mereka.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

POTRET RELASI ANTARA PEMUDA GEREJA GMIT DAN REMAJA MASJID DALAM MEMBANGUN KERUKUNAN DI DESA MOTONGBANG KECAMATAN TELUK MUTIARA KABUPATEN ALOR

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK POTRET RELASI ANTARA PEMUDA GEREJA GMIT DAN REMAJA MESJID DALAM MEMBANGUN KERUKUNAN DI DESA MOTONGBANG KEC. TELUK MUTIARA. KAB. ALOR. Nanggi Y. (*) Metboki M. (**) Natonis A. D. (**) Potret relasi antara Pemuda Gereja GMIT dan Remaja Masjid dalam membangun kerukunan di Desa Motongbang diwujudkan dengan sikap saling membantu, bukan hanya dalam aktifitas keseharian tetapi juga dalam acara keagamaan dan juga bergotong royong membersihkan tempat ibadah. Contoh ketika hari raya Natal, gotong royong Remaja cukup tinggi dalam menjaga ketentraman beribadah, dan sebaliknya saat hari raya Idul Fitri atau takbiran, Pemuda turut membantu dan juga menjaga ketertiban dalam beribadah, ada juga kegiatan lainnya seperti hari Valentine dimana para Pemuda dan Remaja berkerja sama mencari dana dan mengadakan acara tersebut. Masalah dalam penelitian ini adalah Faktor-faktor apa yang mendukung terciptanya relasi antara Pemuda Gereja GMIT dan Remaja Mesjid dalam membangun kerukunan. Tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mendukung relasi antara Pemuda Gereja GMIT dan Remaja Masjid dalam membangun kerukunan di Desa Motongbang. Kec. Teluk Mutiara Kab. Alor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan yaitu observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjalinnya relasi Pemuda Gereja GMIT dan Remaja Mesjid dalam membangun kerukunan yaitu ada faktor utama yaitu, kerja sama,kerukunan, interaksi sosial, membangun dialog dan merawat relasi sedangkan faktor pendukung yaitu kebebasan beragama, peran pemerintah, tokoh agama dan tokoh adat. Relasi yang di bangun dengan cara saling menghargai, saling menjaga keamanan saat ibadah, tidak menjelek-jelekkan antar sesama, tidak membeda-bedakan suku dan agama, saling membantu membangun fasilitas tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya, seperti pembuatan stapak di beberapa titik lokasi Desa. Berkerja sama mencari dana untuk kegiatan valentine yang di laksanakan setiap tahun dengan tujuan yang di bangun bersama yaitu demi membangun relasi yang harmonis dan damai.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KORELASI KELINCAHAN DENGAN KEMAMPUAN MENENDANG BOLA KE SASARAN DENGAN POSISI BERGERAK PADA SISWA SMP NEGERI 15 KOTA KUPANG

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK KORELASI KELINCAHAN DENGAN KEMAMPUAN MENENDANG BOLA KE SASARAN DENGAN POSISI BERGERAK PADA SISWA SMP NEGERI 15 KOTA KUPANG EgeniusValen Mutin1*, Agustinus JacobNafie2, Pnatmo WelhelminaMasi3 Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia email. [email protected] Latar Belakang: Sepak bola dapatdikatakanpermainanberegu yang setiapreguberanggotakansebelaspemain, dalam proses memainkannyamemerlukankekuatan, keuletan, kecepatan, ketangkasan, dayatahan, keberanian, dankerjasamatimselamadua kali 45 menitmenggunakanteknik yang baikdanbenar. Tujuan Penelitian:Penelitianninibertujuanuntukmengetahuikorelasikelincahandengankemampuanmenendang bola kesasarandenganposisibergerakpadasiswaeksul SMP Negeri 15 Kota Kupang. Metode Penelitian:Penelitianinimenggunakanmetodekuantitatifdeskriptif. Subjek yang digunakandalampenelitianiniadalahsiswa SMP Negeri 15 Kota Kupangdenganjumlah 10 orang siswa.Teknik yang digunakandalampenelitianiniadalah 1)Observasi, 2)Eksperimen, 3)Dokumentasi.Teknikanalisis data yang digunakanadalahteknikanalisisdeskriptifkuantitatifdengandesain quasi eksperimenuntukmengetahuihubungankelincahandengankemampuanmenendang bola kesasarandenganposisibergerak Hasil dan Pembahasan:Hasilpenelitianmenunjukanbahwa: Adanyakorelasi yang signifikannamunantarakelincahandengankemampuanmenendang bola kesasarandenganposisibergerakdenganhasilrhitung sebesar –0,722897sedangkanthitungsebesar2,132809danttabelsebesar1,895, jadinilaithitunglebihbesardarittabelsehinggahubungannyasignifikan. Berdasarkanhasilpenelitian di atas Simpulan:makadapatdisimpulkanadanya hubungan yang signifikan namun negatif antara kelincahan dengan kemampuan menendang bola dengan posisi bergerak pada siswa eksul SMP Negeri 15 kota Kupang. Katakunci: Korelasi; kelincahan; menendang bola

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUS PEMMAU DO MADE

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Kebudayaan merupakan hasil karya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya agar mampu bertahan dalam lingkungan sosial atau lingkungan alam di mana ia hidup. Salah satu warisan kebudayaan itu adalah ritus Pemmau Do Made. Ritus ini adalah ritus yang dilakukan keluarga duka setelah penguburan orang mati dengan tujuan-tujuan tertentu. Namun, kebutuhan hidup masyarakat yang sudah semakin berkembang, menyebabkan banyaknya masyarakat yang memilih untuk tidak lagi melakukan ritus Pemmau Do Made. Pihak gereja (presbiter) dan pemerintah desa pun turut memberi himbauan kepada masyarakat untuk tidak lagi melakukan ritus ini, dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Penulis melihat tindakan gereja (presbiter) dan pemerintah desa merupakan suatu bahaya akan hilangnya warisan budaya. Padahal, ritus ini memiliki nilai baik yang harusnya dilestarikan dalam kehidupan masyarakat. Dalam kajian ini, penulis menawarkan satu metode dialog yakni metode dialog liberal – mencari kebenaran sebagai metode penulisan. Metode ini digunakan sebagai solusi bagi gereja dalam upaya pemberitaan Injil yang kontekstual dan pada saat yang sama tidak menghilangkan warisan-warisan kebudayaan. Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dipakai penulis yaitu teknik triangulasi, yaitu observasi partisipasi dan wawancara. Dalam penelitian, diketahui bahwa ritus Pemmau Do Made memiliki nilai-nilai yang baik. Nilai yang pertama adalah penghargaan kepada leluhur. Kenyataan bahwa leluhur mereka telah banyak mewariskan hal baik untuk tetap menjaga relasi emosional mereka dengan para leluhur (aspek mistik). Nilai yang kedua, berkaitan dengan relasi sosial mereka sebagai upaya untuk menjaga relasi dengan sesama (aspek sosial). Kemudian, nilai-nilai ini dilihat sebagai hal baik yang penting untuk tetap dilestarikan dan juga menjadi perhatian masyarakat, pemerintah dan gereja. Gereja khususnya, sebagai suatu persekutuan (Koinonia), yang tumbuh di tengah masyarakat yang berbudaya dengan konteks seperti ini, gereja bisa belajar dari budaya. Gereja seharusnya mampu melihat hal yang baik dari budaya dan memperkaya teologi. Namun, sikap toleransi ini berlaku sejauh tidak bertentangan dengan ajaran gereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail