Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Subjek: Kristus.
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PUKAI ALU “Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Tradisi Pukai Alu (buka tas) Implikasinya Bagi Jemaat GMIT Arit Bi’Ito, Klasis Amanuban Timur”

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Dewi Jomida Nitiano Program Studi Teologi Agama Kristen, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Indonesia email: [email protected] Salah satu tradisi di Timor ialah pukai alu mama. Alu mama dianggap sangat penting dalam kehidupan seseorang, alu mama sebagai simbol jati diri seseorang. Tradisi ini dilakukan hanya pada saat kedukaan. Dalam mengkaji masalah diatas, penulis memakai Tipologi Richard Niebuhr yakni kristus adalah transformator budaya (Christ the Transformer of Cultura). Tipologi Kristus adalah transformator, pengubah atau pembaharuan kebudayaan adalah tipologi yang menyatakan bahwa didalam setiap kebudayaan Kristus dating sebagai pengubah atau memberi arah baru dari budaya tersebut. Tradisi Pukai Alu merupakan sebuah tradisi yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakat amanuban Timur khususnya daerah Bi’Ito. Dalam penelitian ini penulis menggunakan. Metode Peneltian yang akan Penulis gunakan adalah Penelitian Lapangan (Field Research) yakni pengamatan langsung terhadap subjek dan permasalahan yang diangkat, dan Penelitian Kepustakaan (Library Research) yakni menggunakan dokumen-dokumen atau sumber data berupa bahan puskata yang mendukung penelitian. Data yang diperoleh cenderung data kualitatif, analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif bersifat untuk memahami keunikan, mengkonstruksi fenomena, dan menemkan hipotesis.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nalonip 'na

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Adat istiadat, kebiasaan dan budaya dapat menunjukkan identitas diri seseorang. Masyarakat suku Timor Atoni Pah Meto sampai sekarang masih melakukan ritus nalonip `na atau percik darah. Ritus ini dilakukan sebagai upaya untuk mendinginkan sesuatu agar dijauhkan dari suat (malapetaka) dari kehidupan keluarga. Seiring berjalannya waktu dan karena faktor agama, pelaksanaan ritus ini mengalami pro dan kontra karena dianggap sebagai dualisme dan menyembah berhala. Inilah yang menjadi alasan penulis melakukan penelitian tentang ritus Nalonip `na atau percik darah utnuk mendinginkan rumah. Penelitian yang penulis lakukan bertempat di jemaat GMIT Esa Matsio Nunusunu, dengan tujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan ritus nalonip `na dan melakukan refleksi teologis tentang ritus ini. Penelitian ini menggunakan model penelitian kualitatif dan dilakukan dengan cara wawancara. Hasil penelitian yang didapat penulis ialah, ritus ini telah mengalami pergeseran makna karena faktor agama. Jemaat yang sudah Kristen tetap melakukan ritus ini dengan maksud sebagai bentuk ucapan syukur dan pengakuan kedaulatan Allah Tritunggal yang telah memberkahi mereka dengan berbagai berkat. Khususnya dalam hal mendinginkan rumah, jemaat melakukan ritus ini karena mereka mensyukuri penyertaan Allah dari awal pelaksaan pembangunan rumah hingga selesai. Ritus nalonip `na sebagai upaya jemaat mencari keamanan dan tidak terkena malapetaka kini telah memiliki arti baru setelah jemaat memeluk agama dan menjadi Kristen. Ritus nalonip `na memiliki nilai positif yang berguna bagi pelayanan gereja yaitu usaha mencari keselamatan dan kepasrahan akan kuasa Tuhan. Darah binatang/korban yang dipercik bukanlah pemberi keselamatan melainkan satu-satunya keselamatan ialah bersumber dari Darah Kristus.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail