Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

20 hasil
Subjek: Ritual
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL, KECERDASAN SPIRITUAL TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA DINAS PARIWISATA KOTA KUPANG

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL, KECERDASAN SPIRITUAL TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA DINAS PARIWISATA KOTA KUPANG Sumber daya manusia adalah kunci pokok yang harus diperhatikan, dengan segala kebutuhannya dalam sebuah organisasi. Sumber daya manusia juga merupakan ujung tombak yang akan menentukan keberhasilan pelaksanaan kegiatan organisasi dan juga merupakan faktor penting yang dapat menentukan maju mundur serta hidup matinya suatu organisasi. Oleh karena itu dalam dunia bisnis yang berkembang semakin pesat saat ini serta perkembangan pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih maka hal itu akan membawa perubahan pola kehidupan pegawai. Sumber daya manusia juga merupakan sumber yang berperan aktif terhadap jalannya suatu organisasi dan proses pengambilan keputusan. Kinerja Pegawai merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang telah diberikan kepadanya Kecerdasan emosional merupakan kemampuan pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Kecerdasan spiritual sebagai rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku yang sejalan dengan pemahaman dan cinta serta kemampuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasannya Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan Kuesioner dengan angket tertutup. Menurut Umar (2011:49) teknik angket merupakan suatu pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan atau pernyataan kepada responden dengan harapan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut. Menurut Riduwan (2007:27) angket tertutup adalah angket yang disajikan sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristiknya dengan cara memberikan tanda silang atau tanda checklist. Kuat-Lemah, baik-buruk, tidak setuju-setuju. Data yang dihasilkan dari pengukuran tersebut bersifat interval. Pernyataan-pernyataan dalam angket tertutup dibuat dengan menggunakan skala 1-10 untuk mendapatkan data yang bersifat interval dan diberi skor atau nilai sebagai berikut :untuk kategori pertanyaan dengan jawaban sangat tidak setuju atau sangat setuju : sangat tidaksetuju 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 sangat setuju. Berdasarkan penyajian data dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti dalam pembahasan ini akan membahas hasil penelitian sesuai dengan permasalahan yang penulis ajukan. Pembahasan ini merupakan jawaban atas permasalahan, sehingga dapat diketahui gambaran tentang ada tidaknya pengaruh antara variabel bebas yaitu Kecerdasan Emosional teterhadap variabel terikat yaitu Kinerja Pegawai, Pengaruh Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Pegawai Dalam penelitian ini, penulis telah melakukan analisis regresi linier berganda dan didapati Koefisien regresi (b1) sebesar 0,586 artinya jika Kecerdasan Emosional (X1) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka Kinerja Pegawai (Y) akan meningkat sebesar 0,586. Koefisien bernilai positif artinya terjadi pengaruh antara Kecerdasan Emosional (X1) dengan Kinerja Pegawai (Y). Selain itu, berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama yaitu adanya pengaruh Kecerdasan Emosional (X1) terhadap Kinerja Pegawai (Y). Hal ini dibuktikan bahwa variabel Kecerdasan Emosional (X1) ditemukan t hitung = 3,098 lebih besar t tabel = 2,039 dan tingkat Sig. = 0,004 lebih kecil dari 0,05. Pengaruh Kecerdasan Spiritual (X2) terhadap Kinerja Pegawai (Y) Dalam penelitian ini, penulis telah melakukan analisis regresi linear berganda dan didapati Koefisien regresi (b2) sebesar 0,455 artinya jika Kecerdasan Spiritual (X2) mengalami kenaikan sebesar 1%, maka komitmen profesi (Y) akan meningkat sebesar 0,455. Koefisien bernilai positif artinya terjadi pengaruh antara Kecerdasan Spiritual (X2) dengan Kinerja Pegawai (Y). Berdasarkan penjelasan tersebut bahwa menunjukan adanya pengaruh antara Kecerdasan Spiritual terhadap Kinerja Pegawai, sehingga apabila Kecerdasan Spiritual dijalankan dengan baik maka semakin meningkatnya Kinerja Pegawai dan begitu pula sebaliknya. Selain itu, berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan terdapat adanya pengaruh Kecerdasan Spiritual (X2) terhadap Kinerja Pegawai (Y). hal ini dibuktikan dengan perolehan t hitung = 2,087 lebih besar t tabel= 2,039 dan tingkat Sig. = 0,045 lebih kecil 0,05. Berdasarkan hasil analisis yang dipaparkan diatas dapat disimpulkan bahwa: Secara parsial Kecerdasan Emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Pada Dinas Pariwisata Kota Kupang. Secaraparsial Kecerdasan Spiritual berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Pada Dinas Pariwisata Kota kupang. Kata Kunci :Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, Kinerja Pegawai.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUS TA'KOLO

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pola hidup Jemaat GMIT Oemathonis Tepas bisa dikatakan masih tradisional, sebab sikap dan cara berpikir serta bertindak mereka yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun. Salah satu contohnya adalah Ritus Ta’kolo yang masih dipraktikan hingga saat ini. Tradisi ini merujuk pada ritual penyucian diri melalui pemercikan darah kepada setiap orang yang melakukan kejahatan misalnya perzinahan atau perkelahian yang menumpahkan darah manusia atau bahkan pada pembunuhan. Orang yang melakukan ritual ta’kolo akan dianggap bebas dari kesalahan yang telah dilakukan. Hal ini menjadi sebuah kegelisahan bagi penulis sebab para pelaku ritus tersebut adalah orang-orang Kristen yang tentu sudah mendapat pengajaran tentang makna pengorbanan Kristus bagi manusia. Dalam mengkaji masalah ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penulis menemukan alasan dari para pelaku ritus ta’kolo yang tetap mempertahankan tradisi ini yakni mereka ingin mempertahankan tradisi yang diwarisi dari nenek moyang. Oleh karena itu, penulis ingin memberikan pemahaman dogmatis mengenai peranan Kristus sebagai “sang korban” satu-satunya yang sudah menjadi penyelamat, penebus dan pendamai bagi manusia. Jika darah korban yang dipercik dalam ritual tersebut dipercikan sebagai tanda penyucian setelah itu adanya makan dan minum bersama sebagai tanda kekeluargaan dan kebersamaan menyambut kembali orang yang telah berdosa sebelumnya, maka sesungguhnya dalam kekristenan sendiri Kristus sudah bertindak sebagai korban satu-satunya dan darah-Nya sudah menebus seluruh umat manusia sehingga tidak perlu ada lagi korban yang harus berikan. Oleh karena itu, ritus ta’kolo semestinya tidak perlu dilakukan sebab Kristus sudah menebus semuannya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SEMIOTIC ANALYSIS OF THE MEKALA- KALAAN RITUAL IN THE BALINESE WEDDING CEREMONY AT PURA AGUNG GIRI KERTHA BHUWANA BY HINDUS IN KUPANG

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

This thesis contains an analysis of signs at the ceremony of the Mekala- Kalaan Ritual on The Balinese Wedding Ceremony. This not a culture that has just been heard, but until now there are still many people who do not understand about it. In this thesis the author explains the signs found in the ceremony of the Mekala-Kalaan Ritual on The Balinese Wedding Ceremony based on the theory of Pierce in Cobley (2001:31), Semiotic is a study that describes a sign in an interpretative process. A sign is something that stands in a well defined kind of relation to two other things are sign, object and interpretant. That the research is focuses on the divided sign becomes icon, index, and symbol. In completing this research, the researchers focused on using qualitative methods which were carried out by grouping picture from YouTube with videos conducting interview with the ceremonial leaders and conducting data processing. The result of the study, there are 10 found of signs. Found of sign in The Mekala-Kalaan Ritual on The Balinese Wedding Ceremony among others: Sanggah Surya ‘Palace bamboo’, Tikeh Dadakan ‘small mat’, Keris ‘ceremonial knife’, Benang putih ‘white thread’, Tegen-tegenan ‘bunder of responsibility,’ Suwun-suwunan ‘portable means’, Dagang-dagangan ‘merchandise’, Sampat Lidi ‘broom stick’, Sambuk Kupakan ‘ coconut husk’, Tetimpung ‘bamboo on fire’. The meaning of the sign in the way of life of the people of the Mekala-Kalaan Ritual on The Balinese Wedding Ceremony is a symbol of strength, love and care, openness, fertility, financial support, strength in the familly, warmth for the soul and modesty, if there is problem that should be discussed or agreed before making the decision. So The Mekala-Kalaan ritual must be carried out before the wedding ceremony , so that the marriage can be pure physically and mentally

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI TENTANG PERSEPSI REMAJA LAHAI-ROI MENGENAI BENTUK-BENTUK KEGIATAN PEMBANGUNAN SPIRITUALITAS ANAK REMAJA JEMAAT LAHAI-ROI MALIANG DI PANTAR TENGAH KABUPATEN ALOR TAHUN 2022

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

STUDI TENTANG PERSEPSI REMAJA LAHAI-ROI MENGENAI BENTUKBENTUK PEMBANGUNAN SPIRITUALITAS ANAK REMAJA JEMAAT LAHAI-ROI MALIANG DI PANTAR TENGAH KABUPATEN ALOR. Weni, S. M.)* Nuban Timo, I E.)* Pabala, P.)** ABSTRAK Kehidupan spiritualitas Remaja Lahai-Roi belum sesuai dengan yang diharapkan, Jemaat sudah melakukan pendampingan bagi remaja dengan kegiatan rohani rutin dan non rutin namun spiritualitas remaja belum seutuhnya meningkat. Miras, tawuran, perkelahian masi saja terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi remaja mengenai bentuk-bentuk kegiatan Pembangunan Spiritualitas Anak Remaja Jemaat Lahai-Roi Maliang di Pantar Tengah Kabupaten Alor. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 24 responden. Pengambilan data menggunakan teknik Observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teori dari Sugiyono (2009:91) yaitu data reduction, data display, dan conclution/ verification. Hasil Penelitian ini menunjukan pemahaman remaja mengenai bentuk-bentuk pembangunan spiritualitas anak remaja jemaat Lahai-Roi di lihat dari kegiatan kerohanian yang ada tidak semuanya berjalan dengan baik, remaja dalam ketaatan ibadah masih rendah, sebagian remaja lainnya menolak dan tidak memiliki kepercayaan diri saat diberikan tugas dalam ibadah. Setelah diterapkan pendekatan dan bimbingan kerohanian, ketaatan ibadah dan kepercayaan memimpin ibadah Remaja Lahai-Roi Maliang meningkat. Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan pada bab pembahasan maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut : Gereja Lahai-Roi Maliang harus melakukan pendekatan, bimbingan kepada setiap anak remaja dalam rasa kepercayaan diri serta membangun kegiatan kerohanian yang baru, dengan kreatif dan inovatif sehingga membuat Remaja di gereja dapat aktif dan tidak ada masa kebosanan dalam beribadah. Kata Kunci : Persepsi , Remaja, Bentuk-bentuk pembangunan Spiritualitas

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Spiritualitas Generasi Sandwich : Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Spiritualitas Generasi Sandwich dan Implikasinya bagi Jemaat Sesawi Oepura

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini menelaah spiritualitas generasi sandwich di Jemaat GMIT Sesawi Oepura serta implikasinya bagi pelayanan gereja melalui tinjauan teologis. Generasi sandwich dipahami sebagai individu usia produktif yang memikul tanggung jawab ganda secara simultan dan berkelanjutan: menopang orang tua lanjut usia sekaligus anak/adik/kerabat yang belum mandiri, sehingga rentan mengalami tekanan ekonomi, kelelahan fisik, dan beban emosional yang dapat memengaruhi kehidupan iman. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana warga jemaat memaknai pergumulan tersebut sebagai pengalaman spiritual, bukan semata persoalan sosial-ekonomi. Penelitian menggunakan metode kualitatif lapangan dengan teknik wawancara semi-terstruktur dan studi dokumen. Partisipan dipilih secara purposive (usia 25–45 tahun, bekerja, memiliki tanggungan lintas generasi, dan merupakan anggota Jemaat GMIT Sesawi Oepura). Analisis menggunakan kerangka spiritualitas Sandra M. Schneiders yang menekankan integrasi dimensi personal-internal, relasional-komunal, praksis keseharian, dan hermeneutik pemaknaan pengalaman. Hasil menunjukkan bahwa spiritualitas generasi sandwich di jemaat ini cenderung berwujud sebagai “spiritualitas resiliensi”: iman yang bertahan di tengah keterbatasan, tampil dalam kesetiaan menjalankan tanggung jawab, doa yang lahir dari situasi krisis, serta pengharapan akan penyertaan Allah meski disertai keluhan, rasa bersalah, bahkan kemarahan kepada Tuhan. Gereja dipandang membantu melalui ibadah rumah tangga dan diakonia, namun dibutuhkan pendampingan pastoral yang lebih peka terhadap ritme kerja, beban psikospiritual, dan kebutuhan batasan diri. Penelitian ini merekomendasikan penguatan komunitas dukungan, konseling pastoral kontekstual, dan praksis gerejawi yang mengafirmasi pengalaman generasi sandwich sebagai ruang perjumpaan dengan Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL A'GAM BAHAR: Suatu Tinjauan Teologis tentang Ritual A'gam Bahar bagi Kehidupan Jemaat GMIT Eden Alwor, Klasis Alor Barat Daya

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang ritual A’gam Bahar yang dipraktikkan oleh Jemaat GMIT Eden Alwor, Klasis Alor Barat Daya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh jemaat yang melakukan ritual ini untuk meminta kehidupan yang baik dari arah leluhur, setelah melaksanakan pernikahan kudus. Ritual ini didasarkan pada keyakinan bahwa arwah leluhur masih ada di sekitar mereka, dapat menjaga dan memberikan kehidupan yang baik serta menjauhkan mereka dari berbagai bencana. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemahaman jemaat tentang ritual A’gam Bahar dan pelaksanaan ritual A’gam Bahar, meninjau secara teologis ritual A’gam Bahar dan merumuskan refleksi teologis dari ritual tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskripsi-analisis-reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara untuk memberikan gambaran yang jelas tentang ritual A’gam Bahar. Informan penelitian berjumlah lima belas orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa ritual A’gam Bahar dilakukan dengan keyakinan arwah leluhur dipercaya memiliki kuasa untuk memberikan kehidupan yang baik, dan dapat menjauhkan berbagai bencana dalam kehidupan pernikahan. Ritual A’gam Bahar memperlihatkan adanya dualisme iman antara Allah dan arwah leluhur. Pemahaman ini bertentangan dengan iman Kristen yang menegaskan Allah satu-satunya sumber kehidupan yang baik. Bertolak dari pandangan Emanuel Gerrit Singgih tentang sikap konfirmasi dan konfrontasi, maka penulis menggunakan pandangan ini untuk melihat ritual A’gam Bahar. Penelitian ini menegaskan bahwa ritual A’gam Bahar tidak dapat dikonfirmasi, melainkan harus dikonfrontasi dalam terang iman Kristen. Segala sumber kehidupan yang baik hanya bersumber dari Allah, dan Alkitab dengan tegas melarang agar tidak boleh meminta lagi kepada arwah leluhur.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL MATE PENNE LANGIT : Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Pemahaman Mati Tidak Wajar dan Implikasinya bagi Gks Jemaat Sobawawi

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji ritual Mate Penne Langit sebagai praktik adat kematian tidak wajar dalam budaya masyarakat Loli dan implikasinya bagi pemahaman iman jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Sobawawi. Pokok persoalan penelitian ini adalah adanya pergumulan iman dan dualisme pemahaman jemaat, di mana ritual adat masih dijalankan dan dipercaya sebagai sarana keselamatan, meskipun jemaat telah beriman kepada Kristus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks budaya dan kehidupan jemaat, menganalisis pemahaman jemaat terhadap ritual Mate Penne Langit, serta merefleksikannya secara teologis kontekstual guna merumuskan implikasinya bagi kehidupan bergereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, serta dianalisis menggunakan pendekatan teologi kontekstual dengan tipologi Kristus melawan budaya menurut H. Richard Niebuhr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Mate Penne Langit masih dipahami sebagai sarana perlindungan dan keselamatan, namun melalui refleksi teologi kontekstual, ritual ini dapat ditransformasi dengan mempertahankan nilai-nilai budaya yang positif dan mengarahkan pemahaman keselamatan sepenuhnya kepada Kristus sebagai sumber keselamatan sejati.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SPIRITUALITAS KOTA Suatu Tinjauan Teologi terhadap Pemikiran Spiritualitas Kota Menurut Philip Sheldrake dan Relevansinya bagi GKS Jemaat Manubara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kehidupan perkotaan ditandai oleh dinamika sosial yang kompleks, keberagaman latar belakang manusia, serta tekanan ekonomi dan budaya yang kuat. Realitas ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi juga dapat membentuk spiritualitas umat beriman yang hidup di dalamnya. Skripsi ini mengkaji pemikiran spiritualitas kota menurut Philip Sheldrake dan penulis merefleksikan relevansinya bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang hidup dalam konteks perkotaan di Kota Waingapu. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana kota dapat dipahami sebagai ruang teologis dan spiritual, serta bagaimana pemikiran Sheldrake dapat menolong gereja membangun spiritualitas jemaat di tengah tantangan kehidupan kota.Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami pemikiran Philip Sheldrake mengenai spiritualitas kota, untuk menganalisis kota sebagai ruang relasional dan ruang publik teologis, serta untuk menemukan relevansi nilai-nilai spiritualitas kota tersebut bagi kehidupan jemaat di GKS Jemaat Manubara yang didominasi oleh jemaat pendatang dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh dan kajian kepustakaan, yang dilengkapi dengan penelitian lapangan melalui wawancara. Kajian kepustakaan digunakan untuk menelaah pemikiran Sheldrake, sementara data lapangan digunakan untuk memahami realitas konkret kehidupan jemaat Manubara dalam konteks perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Philip Sheldrake, kota bukan sekadar ruang geografis atau material, melainkan ruang relasional yang membentuk identitas, iman, dan spiritualitas manusia. Kota memiliki potensi besar sebagai ruang pembentukan komunitas iman yang inklusif, tetapi juga mengandung risiko individualisme dan keterasingan. Dalam konteks GKS Jemaat Manubara, tekanan ekonomi, kesibukan kerja, dan perbedaan latar belakang sering kali melemahkan relasi antarjemaat yang menjadi bentuk dari praktik spiritualitas. Oleh karena itu, pemikiran Sheldrake relevan untuk menolong gereja memaknai kota sebagai ruang panggilan iman, tempat spiritualitas jemaat bertumbuh melalui relasi, solidaritas, dan kesaksian hidup di tengah kehidupan kota.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL MUTU MATEN "Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual terhadap Pemahaman dan Praktik Ritual Mutu Maten di Jemaat Bukit Sion Naininu, Klasis Malaka"

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji praktik Ritual Mutu Maten di Jemaat Bukit Sion Naininu yang menunjukkan adanya fenomena sinkretisme antara iman Kristen dan kepercayaan budaya leluhur terkait kematian. Meskipun jemaat telah mengenal Kekristenan, ritual yang berakar dari Malaka ini masih dipertahankan sebagai cara untuk meyakini bahwa arwah orang meninggal dapat bersatu dengan Tuhan dan membawa keselamatan. Pandangan ini bertentangan dengan ajaran Alkitab yang menegaskan keselamatan datang semata-mata oleh kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus, bukan melalui usaha atau ritual manusia. Dalam tinjauan teologi kontekstual berdasarkan tipologi Richard Niebuhr tentang Kristus dan kebudayaan dalam paradoks ritual ini mencerminkan ketegangan antara injil dan kebudayaan yang sudah jatuh dalam dosa, namun juga membuka peluang bagi injil mengubah kebudayaan tanpa harus melepaskan unsur positifnya. Metode penelitian bersifat kualitatif dengan pendekatan analisis teologi kontekstual. Kajian ini diharapkan memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena sinkretisme serta implikasinya dalam kehidupan iman jemaat, sekaligus memberi bahan penguatan iman Kristen di tengah praktik budaya lokal yang masih terjadi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SPIRITUALITAS PARA JANDA Suatu Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Spiritualitas Para Janda di GMIT Ora Et Labora Oesapa Klasis Kota Kupang Timur

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Spiritualitas Para Janda: Tinjauan Teologi Pastoral Terhadap Spiritualitas Para Janda di GMIT Ora Et Labora Oesapa Klasis Kota Kupang Timur.” Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengungkap realitas kehidupan para janda dalam konteks kehidupan bergereja, khususnya berkaitan dengan pemahaman dan praktik spiritualitas mereka dalam menghadapi tantangan hidup setelah kehilangan suami. Latar belakang penelitian ini berpijak pada kenyataan bahwa wafatnya suami memberikan dampak besar bagi istri yang ditinggalkan, baik secara psikologis, sosial, ekonomi, maupun spiritual, terutama dalam masyarakat yang masih kuat menganut budaya patriarki seperti di Kota Kupang. Dalam kondisi tersebut, spiritualitas dipandang sebagai kekuatan utama yang menopang keteguhan iman dan mental para janda untuk terus melanjutkan hidup. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi. Berdasarkan temuan penelitian, mayoritas janda di GMIT Ora Et Labora Oesapa memiliki pemahaman yang masih terbatas mengenai makna spiritualitas. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti latar belakang pendidikan, pengalaman iman, prioritas hidup, serta minimnya keterlibatan mereka dalam aktivitas pelayanan gereja. Rendahnya pemahaman dan penghayatan akan spiritualitas ini berdampak langsung pada keterlibatan mereka yang minim dalam kegiatan gerejawi, serta berakibat memudarnya nilai-nilai kekristenan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi gereja dalam merancang pelayanan pastoral yang lebih relevan, guna memperkuat dan memberdayakan para janda agar mampu bangkit, mandiri, dan menjalani kehidupan yang berlandaskan spiritualitas Kristen secara utuh.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL HANIK UME Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Ritual Hanik Ume dan Implikasinya bagi Pemahaman Jemaat tentang Keselamatan di Mata Jemaat Imanuel Bimate, Klasis Amanatun Utara

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Ritus diyakini sebagai suatu tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat pada suatu tempat tertentu untuk tetap menjaga identitas dirinya. Pelaksanaan ritus juga diyakini sebagai suatu upaya manusia untuk menjaga hubungannya dengan leluhur atau pendahulunya. Pelaksanaan ritual semacam ini juga masih tetap dilaksanakan oleh Masyarakat Bimate, khususnya anggota Mata Jemaat Imanuel Bimate. Di tempat ini, jemaat masih memelihara ritual hanik ume atau secara harafiah diartikan sebagai mendinginkan rumah. Ritus ini masih tetap dihidupi dengan maksud melibatkan secara penuh eksistensi dari para leluhur dalam rencana kehidupan keturanannya untuk kehidupan yang akan datang. Ritus ini kemudian dianggap menjadi suatu problem iman ketika jemaat yang ada masih tetap mempertahankan budaya ini. Ada dualisme yang muncul dalam praktik budaya ini yakni apakah Kristus masih menjadi pusat iman atau sebaliknya leluhur mengambil alih peran ini. Atas dasar itu maka tulisan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kesenjangan ini dan sejauh mana iman Kristen merespons ritus yang sudah berurat akar dalam kehidupan masyarakat Bimate. Untuk mencapai tujuan ini maka tulisan ini menggunakan metode penelitian lapangan dan diimbangi dengan studi Pustaka. Data yang didapat dari wawancara diolah dan kemudian dielaborasikan dengan teori yang mendukung atau juga mengkritisi budaya yang ada. Tujuan dari hal ini yakni memperlihatkan kesenjangan budaya dan iman dan bagaimana keduanya ada di dalam pertemuan dan ketegangan di waktu pelaksanaan ritual hanik ume di Bimate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan ritual hanik ume pada satu pihak memiliki nilai-nilai positif dan perlu dilestarikan tetapi di pihak lain mengandung unsur sinkretisme yang mengarah kepada penyembahan kepada leluhur sehingga gereja perlu mendidik anggotanya untuk tetap menjadikan Kristus sebagai titik sentral iman Kristen.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL GELAK WAHA- Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritual Gelak Waha (Mencari Kesembuhan) dan Implikasinya bagi Pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja, Klasis Flores

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK RITUAL GELAK WAHA Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritual Gelak Waha (Mencari Kesembuhan) dan Implikasinya bagi Pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja, Klasis Flores Kesehatan merupakan aspek paling berharga dalam kehidupan manusia, namun sakit menjadi tantangan besar yang kerap kali sulit diatasi meski dengan kemajuan pengobatan modern. Sebagai alternatif, pengobatan tradisional yang mengandalkan kepercayaan dan pengalaman turun-temurun tetap relevan di beberapa masyarakat, termasuk dalam konteks ritual Gelak Waha yang dilakukan oleh masyarakat Beloaja di Flores. Ritual ini bertujuan mencari kesembuhan melalui prosedur magis dengan melibatkan dukun serta penggunaan bahan alami, seperti sirih, pinang, dan ayam kampung. Penelitian ini mengkaji makna dan nilai yang terkandung dalam ritual Gelak Waha serta implikasinya terhadap pelayanan gerejawi di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Permasalahan utama yang diangkat meliputi pemahaman jemaat tentang konteks lokal, kesembuhan, dan refleksi teologis terhadap praktik tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian jemaat GMIT telah mengadopsi ajaran Kristen, mereka masih menjalankan ritual Gelak Waha karena kepercayaan turun-temurun kepada Lera Wulan sebagai entitas pelindung dan penyembuh. Hal ini memunculkan tantangan bagi gereja dalam mendampingi jemaat untuk memahami kesembuhan sebagai anugerah Allah yang dapat terjadi melalui berbagai cara, baik secara medis maupun spiritual. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang kesembuhan melalui ritual Gelak Waha serta menyajikan refleksi teologis untuk mendorong pendekatan yang kontekstual dalam pelayanan di Mata Jemaat GMIT Lahairoi Beloaja. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi bagi pengembangan pelayanan gereja dalam menghadapi fenomena sinkretisme budaya dan iman. Kata kunci: Ritual Gelak Waha, teologi kontekstual, kesembuhan, pelayanan gereja.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SPIRITUALITAS PEREMPUAN PENENUN SUMBA Suatu Tinjauan Teologis terhadap Spiritualitas Perempuan Penenun di GKS Jemaat Payeti, Klasis Waingapu.

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Fokus utama penulis adalah melihat spiritualitas kehidupan para perempuan penenun di GKS Jemaat Payeti. Kain tenun Sumba Timur adalah salah satu karya seni yang sangat indah dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, ada makna yang terdapat dalam setiap lembar kain tenun Sumba Timur melalui motif-motif yang digambar oleh para perempuan penenun. Namun dalam kenyataannya, ada berbagai pergumulan dan tantangan yang dihadapi oleh para perempuan penenun, tetapi mereka tetap berjuang untuk tidak meninggalkan pekerjaan menenun yang menjadi warisan budaya nenek moyang. Perjuangan para perempuan penenun inilah yang penulis temukan bahwa ada nilai-nilai spiritualitas dalam diri mereka. Terkait dengan spiritualitas perempuan penenun, penulis memakai pemahaman spiritualitas dari Jacob Daan Engel yaitu 6 tahapan spiritualitas diri seseorang di antaranya kesadaran diri, penerimaan diri, ketegasan diri, tujuan hidup, tanggung jawab diri, dan integritas diri. Adapun metode yang digunakan penulis yaitu studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan yaitu penulis melakukan wawancara kepada beberapa narasumber terkait masalah yang didalami, sedangkan studi pustaka yang di mana penulis menggunakan berbagai sumber buku dan jurnal yang dapat membantu penulisan ini. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, para perempuan penenun GKS Jemaat Payeti memberi diri bahkan mengorbankan diri mereka. Dalam proses menenun, ada pengorbanan, perjuangan, dan kerja keras perempuan demi harapan mereka untuk kebutuhan keluarga. Hal ini menunjukkan nilai-nilai spiritualitas diri mereka. Salah satu tokoh perempuan dalam Alkitab bernama Rut yang terus bertahan dan berjuang di tengah kesulitan dan pada akhirnya Allah menyatakan kuasa-Nya. Begitu halnya dengan perempuan penenun, Allah mengijinkan berbagai situasi sulit terjadi dalam kehidupan para perempuan penenun yang sesungguhnya membuat spiritualitas mereka semakin bertambah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Allah, Aku, dan Sesamaku; Suatu Tinjauan Teologi Terhadap Pemikiran Henri Nouwen Tentang Spiritualitas dan Implikasinya Bagi Pelayanan di GMIT

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Spiritualitas merujuk pada, kesadaran individual atas dimensi ilahi atau keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, dalam perjalanan waktu, terasa menurunnya kesadaran yang berdampak pada tidak autentiknya spiritualitas, terutama di kalangan pendeta dan calon pendeta. Perilaku dan kecenderungan hedonis, materialistis, dan konsumeris spiritualitas. Ketidakautentikan spiritualitas ini merugikan tidak hanya individu secara pribadi, tetapi juga masyarakat dan komunitas keagamaan secara keseluruhan. Tujuan penulisan ini adalah untuk membandingkan ketidaksinambungan antara konsep Spiritualitas Nouwen dengan realitas praktik spiritualitas seorang pelayan GMIT. Melalui metode penulisan deskritif-analisis-reflektif terhadap pemikiran Henri Nouwen tentang spiritualitas, terungkap ketidaksinambungan khususnya dalam Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Nouwen menekankan pentingnya dimensi vertikal spiritualitas melalui hubungan pribadi dengan Tuhan, yang berimplikasi pada kepedulian kepada sesama. Namun, praktik spiritual para pelayan seringkali teralihkan pada urusan duniawi. Dimensi horizontal spiritualitas, yang melibatkan hubungan dengan sesama, juga kurang mendapat perhatian aktif dalam membangun relasi yang sehat. Begitu pula, dalam dimensi interior spiritualitas yang menyoroti hubungan individu dengan diri sendiri, terlihat kurangnya kesadaran diri dan kesiapan menghadapi tantangan pribadi. Data diperoleh dari analisis terhadap karya-karya Nouwen serta praktik spiritual para pelayan dalam konteks GMIT yang tertuang dalam karya-karya pelayan GMIT. Tulisan ini memberikan wawasan yang mendalam kepada para pelayan GMIT mengenai konsep spiritualitas Henri Nouwen dan realitas praktik pelayanan. Melalui pemahaman ini, para pelayan dapat merefleksikan spiritualitas mereka yang memerhatikan keseimbangan antara relasi dengan Allah, sesama dan dirinya sendiri. Tulisan ini diharapkan menjadi panduan motivasional untuk mendorong para pelayan GMIT menuju pencapaian spiritualitas yang lebih autentik dan mendalam.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TUHAN DALAM RITUAL MATE MANU (Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual tentang Tuhan dalam Kepercayaan Asli Orang Ngada)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tulisan ini berisi uraian tentang Tuhan dalam ritual mate manu dalam kepercayaan asli orang Ngada. Pertanyaan penelitian adalah apakah konsep orang Bajawa tentang Tuhan dalam ritual mate manu, kemudian bagaimana tinjauan teologi kontekstual dalam ritual mate manu dan implikasi bagi spiritualitas Jemaat GMIT Ebenhaezer Bajawa. Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, maka tujuan yang dicapai adalah mengetahui dan menganalisis konsep Tuhan menurut orang Bajawa dalam ritual mate manu, kemudian meninjau ritual mate manu menurut teologi kontekstual dan sekaligus menganalisis implikasi bagi spiritualitas Jemaat GMIT Ebenhaezer Bajawa. Deskripsi dan analisa dibangun di atas pandangan orang Bajawa tentang Tuhan dalam ritual mate manu. Suatu tinjauan teologi kontekstual dan implikasi ritual mate manu bagi spiritualitas Jemaat GMIT Ebenhaezer Bajawa menjadi muara dari tesis ini. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian dengan menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap sejumlah responden di Bajawa. Selain itu kajian literatur dilakukan untuk memperkuat analisa dan refleksi teologis. Hasil penelitian membuktikan, bahwa hati dan usus dari ayam/manu menjadi simbol penting dalam pemahaman iman orang Bajawa. Hati dan usus ayam/mamu menjadi tanda bagi orang Bajawa dalam memahami pesan dan maksud Tuhan untuk kehidupan mereka kedepannya. Lebih dari itu, ritual mate manu memberikan implikasi bagi spiritualitas Jemaat GMIT Ebenhaezer Bajawa yang ditunjukan melalui sikap inklusif atau saling menerima perbedaan akan tradisi atau praktik budaya yang dimiliki oleh orang Bajawa. Kata Kunci: Tuhan, Ritual mate manu, Model Antropologis.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMBENTUKAN SPIRITUALITAS MAHASISWA TEOLOGI Suatu Tinjauan Teologis Terhadap Pola Pembentukan Spiritualitas Bagi Mahasiswa Teologi UKAW Kupang Tahun Angkatan 2019-2021 di Luar Asrama

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Mahasiswa Fakultas Teologi merupakan anak-anak yang ada dalam proses pembentukkan diri untuk menjadi pelayan Tuhan (pendeta) kedepannya. Namun dalam proses pembentukkan itu, terdapat beberapa orang mahasiswayang mengalami dampak dari tidak tinggal di asrama yang membuat mereka mengalami krisis dalam spiritual. Dampak yang dialami oleh Mahasiswa Teologi, membawa berbagai dampak negatif bagi kehidupan mereka dan juga orang lain. Persoalan mengenai layak mendapat perhatian serta peran secara Teologis untuk menolong mahasiswa yang mengalami dampak dari tidak terbentuk di dalam pola kehidupan asrama. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan spiritual serta dampak yang dialami Mahasiswa Teologi UKAW Kupang tahun angkatan 2019-2021 yang tidak tinggal di asrama dan merefleksikan persoalan ini secara teologis dan serta bagaimana upaya melalui pola yang dapat menolong dan melengkapi mahasiswa Fakultas Teologi yang tinggal di luar asrama dalam proses pembentukan spiritualitas agar dapat bertumbuh. Tujuan ini dapat dicapai dengan penelitian lapangan dan metode yang akan digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Metode ini dipilih untuk memperoleh data yang akurat dan mengandung kebenaran yang mendalam mengenai dampak dari mahasiswa Teologi yang tidak tinggal di asrama yang mengalami krisis spiritual. Hasil penelitian lapangan menunjukan bahwa, para narasumber, yakni mahasiswa Fakultas Teologi tahun angkatan 2019-2021 ada di usia transisi antara remaja akhir menuju dewasa awal sehingga masih dalam proses pencarian jati diri. Sehingga, mengalami dampak dari tidak mengalami pembentukan spiritual dalam pola kehidupan di asrama, sehingga ada beberapa dampak buruk bagi pembentukan spiritual yakni masalah pada relasi antara satu dengan yang lain atau solidaritas, masalah pada membangun relasi dengan Allah melalui saat Teduh, membaca Alkitab dan ibadah. Secara jelas Alkitab memberitahukan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. Sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:12)”. Berdasarkan bagian Alkitab ini, kata yang paling penting adalah “berubahlah” (transformed). Fakultas Teologi merupakan wadah pembentukan mahasiswa untuk menjadi pelayan Tuhan kedepannya, sehingga peranan dosen dalam pembentukan spiritual dan karakter sangat dibutuhkan. Dalam upaya menolong dan melengkapi mahasiswa fakultas Teologi yang tinggal di luar asrama diperlukan penerapan tipe atau model spiritual agar dapat mengurangi dampak yang dialami. Dalam menjawab kebutuhan demikian, penulis menawarkan beberapa pembentukan spiritual bagi mahasiswa di luar asrama, yakni: Hidup dalam keheningan, hidup dengan hati yang ramah (Hospitaslitas), hidup dalam doa, dan memiliki pergaulan yang teratur dengan Alkitab.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pelatihan Pengembangan Swadaya Masyarakat di Pusat Pelatihan Misi Terpadu “Tinjauan Pembangunan Jemaat Terhadap Pelatihan Pengembangan Swadaya Masyarakat Sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi di Wilayah Pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor”

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam hubungan kerja sama antara Pusat Pelatihan Misi Terpadu (PPMT) dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), dilakukan sebuah pelatihan Pengembangan Swadaya Masyarakat (PSM). Dari pelatihan ini, penulis mencoba untuk memberi perhatian kepada upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh PPMT dengan melihat dampaknya dalam wilayah pelayanan GMIT. PPMT dibangun dengan berlatar belakang kehidupan jemaat dalam menghadapi masalah-masalah seperti kemiskinan, rendahnya pendidikan, tingkat kesehatan yang buruk dan masalah lainnya. Dalam menyatakan visi dan misi mereka, maka PPMT membangun kerja sama dengan GMIT. Tulisan ini melihat hubungan kerja sama antara PPMT dan GMIT dalam upaya pemberdayaan yang dilakukan. Penulis menggunakan metode deskriptif, analitis hingga reflektif. Metode deskriptif digunakan untuk melihat kehadiran PPMT di wilayah pelayanan GMIT. Kemudian, penulis menggunakan metode analitis guna menganalisis faktor-faktor dan dampak dilakukan pemberdayaan. Metode yang digunakan penulis dalam analisis adalah metode analisis SWOT. Metode ini melihat bagaimana kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari sebuah program yang dilakukan. Lalu, penulis meninjau secara teologis upaya pemberdayaan ini menggunakan tinjauan teologi praktika yaitu pembangunan jemaat. Penulis menemukan bahwa upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh PPMT dalam kerja sama bersama GMIT memberikan hasil meskipun dalam keberhasilan itu, belum sempurna. Dampak dari pemberdayaan ini turut dirasakan oleh GMIT. Dengan keberhasilan inilah, visi dan misi yang dijalankan oleh PPMT berhasil tetapi dalam upaya perkembangan hasil yang lebih baik, perlu pengawasan dan tindak lanjut yang lebih baik tentang upaya pemberdayaan ini. Gereja hadir di dunia guna menyatakan visi dan misi Allah termasuk GMIT yang juga berperan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam panca pelayanannya. Bekerja sama dengan PPMT, GMIT berusaha untuk belajar mengembangkan potensi yang dimiliki jemaat guna memberi kesejahteraan bagi mereka. Dalam proses pemberdayaan ini, kehadiran Allah menjadi nyata melalui orang yang dipanggil dan diutus-Nya. Dengan kehadiran dan peran para pelayan, PPMT berhasil menyatakan visi dan misinya bukan saja tentang pelayanan “altar” melainkan tentang peran pelayan di “latar”.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL PASOLA

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ritual Pasola, merupakan sebuah ritus yang dilakukan dalam pelaksanan Pasola di Kodi Wainyapu Kecamatan Kodi Balaghar Kabupaten Sumba Barat Daya. Ritual merupakan ritus atau tindakan dalam kehidupan sosial masyarakat. Sedangkan Pasola dalam bahasa Kodi Payengung yang artinya kayu panjang atau lembing, kemudian Pholong Menunggang Kuda, sambil berlemparan lembing. Dalam pelaksanaan Pasola sering sekali terjadi peselisihan antara kabizu (kelompok) yang terlibat dalam pelaksanaan Pasola. mengakibatkan selisih paham dan berujung mengacaukan Ritual Pasola. Sehingga penulis mengangkat penelitian ini dengan judulRitual Pasola (“Suatu Tinjauan Teologi Kontekstual terhadap Ritual Upacara adat Pasola di Kodi Wainyapu, dan implikasinya bagi pelayanan jemaat GKS Wainyapu”). Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan Ritual Pasola di Jemaat GKS Wainyapu dan menganalisis masalah yang sering terjadi ketika pelaksanaan Pasola di lakukan, serta menemukan nilai-nilai teologis sebagai bahan refleksi dan implikasinya bagi pelayanan Jemaat GKS Wainyapu. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif, untuk mengetahui pemahaman mengenai masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas masalah yang sedang terjadi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam pelaksanaan Pasola, konflik sering terjadi antara Kabizu-kabizu (kelompok-kelompok) yang mengikuti Pasola. Namun ketua adat, pemerintah dan gereja bersatu untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dengan cara perdamaian atau mendamaikan pihak-pihak yang bermasalah, sehingga masalah ini tidak berlarut-larut hingga menjadi dendam yang berkepanjangan. Ritual Pasola memiliki nilai-nilai kristiani seperti persekutuan, kekeluargaan/kebersamaan, perdamaian. Ritual Pasola mengandung nilai yang dijadikan refleksi bagi Jemaat GKS Wainyapu melalui nilai-nilai persekutuan, kekeluargaan, kebersamaan dan perdamaian sebagai bentuk kasih dari Allah bagi Jemaat GKS Wainyapu dan masyarakat Desa Wainyapu, sehingga dapat diambil dan dimaknai dalam kehidupan Jemaat GKS Wainyapu. Agar kasih dari perdamaian itu selalu tercipta di tengah-tengah jemaat dan masyarakat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP MORALITAS SPIRITUAL REMAJA DI JEMAAT GMIT LIDAMANU BATUBAO KLASIS KUPANG BARAT

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Moralitas Spiritual Remaja Di Jemaat GMIT Lidamanu Batubao Klasis Kupang Barat Hun Belandina (*) Manggoa M (**) Natonis D Media sosial merupakan media online yang banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia untuk berkomunikasi, berbagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas. Permasalahan yang dapat diangkat dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh penggunaan media sosial terhadap moralitas spritual remaja di Gereja GMIT Lidamanu Batubao Klasis Kupang Barat. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan media sosial terhadap moralitas spritual remaja di Gereja GMIT Lidamanu Batubao Klasis Kupang Barat.Populasi pada penelitian ini adalah semua anak remaja pengguna media sosial yang terdiri dari 41 orang, sedangkan sampel yang diambil terdiri dari 20 anak remaja pengguna media sosial. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner/ pemnbagian angket terhadap beberapa responden yang telah dipilih, sedangkan untuk menganalisis hasil penelitian ini, digunakan analisis deskriptif dengan menggunakkan rumus uji t. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh penggunaan media sosial terhadap moralitas spiritual remaja. Hal ini ditunjukandari hasil perhitungan dimana t hitung = 6,837074 dan t tabel = 1,729. Dengan demikian t hitung lebih besar dari t tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima H0 Ditolak. Kata kunci : Media Sosial, Moralitas Spiritual Remaja

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

sebuah analisis atas kata seru yang digunakan oleh Aktors atau penatua adat dalam ritual saiso bahasa lisan masyarakat Wewewa

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK SEBUAH ANALISIS ATAS INTERJEKSI YANG DIGUNAKAN OLEH PENATUA ADAT DALAM RITUAL SAISO TEXT LISAN MASYARAKAT WEWEWA Skripsi ini berjudul ” sebuah analisis atas kata seru yang digunakan oleh Aktors atau penatua adat dalam ritual saiso bahasa lisan masyarakat Wewewa”. Tujuannya adalah untuk mengetahui kata seru yang digunakan oleh penatua adat serta jenis kata seru yang digunakan oleh penatua adat dalam saiso bahasa lisan masyarakat Wewewa. Data dikumpulkan dari sosial media Youtube “Yon Rewa channel dan Dewa Dryol channel”. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa interjeksi yang digunakan oleh penatua adat terbagi menjadi tiga bagian yaitu yang pertama adalah interjeksi yang berada di bagian awal kalimat yaitu yaah!,you!,naah!,arrgh!,and hum! Yang Kedua adalah,interjeksi yang berada di bagian pertengahan kalimat yaitu mburru ge ina woo! (come down mother woo!),maiya ge ina woo!(came on mother woo!),malla woo!,and mba mba hinna ko we inna gu niya!( if like that the case), dan yang ketiga adalah interjeksi yang berada di bagian akhir kalimat yaitu pa,ama gee! (a man gee!),wali wu gee! (came on),ta’u (play!), gee!. Dan tipe interjeksi di bagi menjadi dua tipe yaitu interjeksi primer contohnya hah!,eh!,ah!,arrgh!,nahh!,dan masih banyak contoh lainnya, dan interjeksi sekunder contohnya mburru ge inna woo! (come down mother woo!),walli inna woo!( come back mother woo!), woouh ka peiko na! ( woouh..why he?). dari kedua interjeksi tersebut terdapat sub-klasifikasi interjeksi yaitu interjeksi ekspresif yaitu yaa!,ahh!,ouch!,tauwe!,hai!, interjeksi konatif yaitu waii!,hoo!,ah!,ina woo!,nee!,and nyaah!,dan interjeksi phatic yaitu haaw!,mhuum!,naah!,ehh!,yaah! and ahh!. Dan yang terakhir interjeksi juga merupakan salah satu bagian dari Sembilan bagian pidato contohnya adalah kata seru ah!,hum!,wuftt!,nahh!,yeeh!,wuu!,harro gee! dan masih banyak contoh lainnya. setiap kata seru dalam bahasa Wejewa diatas sering ditemukan juga dalam perbincangan sehari-hari oleh masyarat Wewewa. Kata kunci: Analisis,ritual adat, tua adat,interjeksi,masyarakat Wewewa.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail