Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Subjek: Berkat
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

FAKTOR PENGHAMBAT PEMBERKATAN NIKAH DI JEMAAT KRISTEN SUMBA (GKS) ANA GALLU MANANG, KLASIS PAREWATANA-SUMBA TENGAH

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK FAKTOR PENGHAMBAT PEMBERKATAN NIKAH DI JEMAAT KRISTEN SUMBA (GKS) ANA GALLU MANANG, KLASIS PAREWATANA-SUMBA TENGAH Merang, N)* Pellu, L)** Metboki, M)** Adat istiadat adalah kebiasaan tradisional masyarakat yang dilakukan secara turun-temurun yang telah menjadi tradisi atau ciri khas dari suatu daerah atau seperangkat nilai atau norma, kaidah dan keyakinan sosial yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat dan atau satuan masyarakat. Dalam penelitian ini tujuannya untuk mengetahui faktor penghambat pemberkatan nikah di Jemaat Kristen Sumba (GKS) Ana Gallu Manang, Klasis Parewatana-Sumba Tengah. Dalam tradisi adat istiadat pulau sumba khususnya di Sumba Tengah ada tiga tahap dalam proses adat, yaitu: (1) Bawa Sirih Pinang, (2) Tendes Sirih Pinang), (3) Angkat Bantal Gulung Tikar. Untuk masuk dalam Proses pemberkatan nikah di Gereja, maka kedua mempelai harus harus menyelesaikan 3 tahapan diatas, karena kedua mempelai melewati proses yang sangat panjang maka, ada beberapa pasangan yang belum menikah di Gereja karena tahap adat istiadat belum diselesaikan sehingga keluarga belum mengizinkan kedua mempelai untuk menikah di Gereja. Faktor penghambat lainnya adalah karena keterbatasan ekonomi, faktor ini dialami bagi mereka yang telah menyelesaikan tahap adat istiadat, namun karena faktor tersebut mereka belum membawa diri untuk diberkati di Gereja. Kata Kunci : Penghambat Pemberkatan Nikah (Adat istiadat dan Ekonomi) Keterangan : * :Penulis ** : Pembimbing ** : Pembimbing

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

RITUAL A'GAM BAHAR: Suatu Tinjauan Teologis tentang Ritual A'gam Bahar bagi Kehidupan Jemaat GMIT Eden Alwor, Klasis Alor Barat Daya

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang ritual A’gam Bahar yang dipraktikkan oleh Jemaat GMIT Eden Alwor, Klasis Alor Barat Daya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh jemaat yang melakukan ritual ini untuk meminta kehidupan yang baik dari arah leluhur, setelah melaksanakan pernikahan kudus. Ritual ini didasarkan pada keyakinan bahwa arwah leluhur masih ada di sekitar mereka, dapat menjaga dan memberikan kehidupan yang baik serta menjauhkan mereka dari berbagai bencana. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemahaman jemaat tentang ritual A’gam Bahar dan pelaksanaan ritual A’gam Bahar, meninjau secara teologis ritual A’gam Bahar dan merumuskan refleksi teologis dari ritual tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskripsi-analisis-reflektif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara untuk memberikan gambaran yang jelas tentang ritual A’gam Bahar. Informan penelitian berjumlah lima belas orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa ritual A’gam Bahar dilakukan dengan keyakinan arwah leluhur dipercaya memiliki kuasa untuk memberikan kehidupan yang baik, dan dapat menjauhkan berbagai bencana dalam kehidupan pernikahan. Ritual A’gam Bahar memperlihatkan adanya dualisme iman antara Allah dan arwah leluhur. Pemahaman ini bertentangan dengan iman Kristen yang menegaskan Allah satu-satunya sumber kehidupan yang baik. Bertolak dari pandangan Emanuel Gerrit Singgih tentang sikap konfirmasi dan konfrontasi, maka penulis menggunakan pandangan ini untuk melihat ritual A’gam Bahar. Penelitian ini menegaskan bahwa ritual A’gam Bahar tidak dapat dikonfirmasi, melainkan harus dikonfrontasi dalam terang iman Kristen. Segala sumber kehidupan yang baik hanya bersumber dari Allah, dan Alkitab dengan tegas melarang agar tidak boleh meminta lagi kepada arwah leluhur.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail